Anda di halaman 1dari 21

Fraktur Basis Cranii

Abstrak:
Basis cranii adalah bagian dasar tengkorak yang berfungsi untuk menampung otak. Pada basis cranii
terdapat foramen yang merupakan tempat keluarnya saraf dari otak. Otak adalah struktur yang rapuh,
tetapi selain dilindungi oleh tengkorak, otak juga dilindungi oleh meninges dan cairan serebro spinal.
Sistem vaskularisasi memegang peranan penting dalam proses oksigenisasi dan pemberian nutrisi
otak, terutama karena otak tidak mampu menyimpan glikogen, jadi harus terus menerus dilakukan
oksigenisasi ke otak. Otak dapat dikatakan merupakan pusat sistem persarafan. Reseptor dari perifer
menerima rangsang dan membawanya ke otak untuk diproses, efektor kemudian membawa hasil
pemrosesan tersebut untuk menginervasi organ bersangkutan. Bila terjadi fraktur basis cranii dan
mengenai saraf, maka akan terjadi kelumpuhan pada fungsi saraf yang putus.
Kata kunci: meninges, cairan serebrospinal, vaskularisasi, saraf

Abstract
Cranii base is the base of the skull to accommodate brain functioning. On the craniis base there is an
foramen which has a function as an exit for nerves from the brain. The brain is a fragile structure, but
otherwise protected by the skull, the brain is also protected by the meninges and cerebro spinal fluid.
Vascularisation system plays an important role in the process and giving oxygenizations brain
nutrition, especially because the brain can not store glycogen, so it should continue to do
oxygenizations to the brain. The brain can be said to be the center of the nervous system. From
peripheral receptors receiving stimuli and bring it to the brain for processing, the effector nerve then
bring the results to inerv the organ concerned. When a fracture occurs and injured the nerves, there
will be paralysis of the nerve function that is broken.
Keywords: meninges, cerebrospinal fluid, vascularisation, nerve

Pendahuluan
Cedera kepala adalah penyebab utama kematian dan kecacatan. Manfaat dari kepala,
termasuk tengkorak dan wajah adalah untuk melindungi otak terhadap cedera. Selain
perlindungan oleh tulang, otak juga dilindungi oleh lapisan yang disebut meninges fibrosa
dan terdapat cairan yang disebut cairan serebrospinal (CSS). Cedera kepala berpotensi
menyebabkan fraktur tulang tengkorak, perdarahan di ruang sekitar otak, memar pada
jaringan otak, atau kerusakan hubungan antar nerves pada otak.1
1

Basis cranii adalah dasar tengkorak, sedangkan fraktur basis cranii merupakan terputusnya
keutuhan tulang akibat benturan langsung pada daerah dasar tulang tengkorak (oksiput,
mastoid, supraorbita); transmisi energi yang berasal dari benturan pada wajah atau
mandibula, atau dari bagian occipitale kepala.1
Fraktur basis cranii sangat berkaitan dengan meninges (Duramater, Arachnoid, dan Piamater),
Seringkali fraktur juga menyebabkan robekan meninges. Namun, bagian kepala kita memiliki
cairan serebrospinal (CSS) yang berperan penting dalam meredam benturan dan melindungi
dari trauma. Tanpa adanya CSS, benturan sedikit saja dapat melukai jaringan otak kita.
Fraktur basis cranii juga dapat menyebabkan pendarahan dan sering kali menyebabkan pasien
tidak sadar atau bahkan kehilangan ingatan. Pada makalah ini saya akan membahas perihal
struktur makroskopik dan mikroskopik dari basis cranii dan CSS, selain itu akan membahas
perihal meninges, vaskularisasi otak, neurotransmitter, serta mekanisme persyarafan.
Diharapkan makalah ini dapat bermanfaat untuk menambah pengetahuan.

Isi
Struktur Basis Cranii
Seperti yang telah kita ketahui, basis cranii adalah bagian dasar tengkorak. Kita bisa melihat
basis cranii dari dua sisi, yaitu dari interna dan externa. Pada basis cranii, terdapat foramen
yang berfungsi sebagai tempat keluarnya syaraf dan pembuluh darah. Basis cranii interna
dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu fossa cranii anterior, media, dan posterior.2 Kita akan
membahas satu persatu mulai dari anterior.
Fossa cranii anterior dibentuk oleh pars orbita os frontale yang membentuk atap orbita, crista
galli dan lamina cribosa yang berada diantara pars orbita os frontale dan ala minor os
sphenoidale. Terdapat foramen opticum yang dilalui nervus opticum dari orbita menuju otak,
dan terdapat foramina cribosa yang berfungsi sebagai tempat jalannya nervus olfaktorius dan
arteri opthalmicus.3 Fossa ini terletak diatas pars orbita os frontale serta mengandung foramen
2

caecum.2 Fraktur yang mengenai pars orbita os frontale mengakibatkan perdarahan


subkonjungtiva (raccoon eyes atau periorbital ekimosis) yang merupakan salah satu tanda
klinis dari fraktur basis cranii fossa anterior.4
Fossa cranii media dibentuk oleh os sphenoidale di bagian depan, os temporale di bagian
tengah, bagian depan pars petrosa os temporale di bagian belakang. Pada bagian ini, terdapat
fossa hypophysialis yang merupakan cekungan di bagian tengah os sphenoidale yang
merupakan bagian yang melindungi kelenjar hipofisis. Processus clinoideus anterior dan
posterior merupakan penonjolan tulang yang sangat kecil, dua di depan dan segaris di
belakang fossa hypophysialis. Arteria carotis interna memasuki tengkorak melalui lubang di
bagian posterolateral fossa, dibawah processus clinoideus. Terdapat fissura orbitalis superior
yang akan dilalui oleh n. lacrimalis, n.frontale, n.trochlearis, n, occulomotorius dan n.
abducens. Dasarnya meninggi di garis tengah, dan di titik ini menjadi bagian dari corpus os
sphenoidale. Bagian-bagian lateral yang berbentuk lubang kecil adalah bagian dari Ala major
os sphenoidale dan pars squamosa os temporale. Di Fossa cranii media terdapat Sella turcica
yang berbentuk pelana dengan Fossa hypophysialis, serta Canalis opticus yang merupakan
tempat berjalannya N.II, dan a.opthalmica, Fissura orbitalis superior yang merupakan tempat
berjalannya N. V opthalmicus, N.III, N.VI pada daerah medial dan N.IV, a. meningea media,
v. opthalmica superior di bagian lateral. Kemudian terdapat foramen rotundum yang dilalui
oleh N.V maxilla, foramen ovale yang dilalui oleh N.V. mandibulae, foramen spinosum yang
dilalui R. meningeus dan a. meningea media, dan foramen lacerum di kedua sisi. 2 Facies
anterior patris petrosae os temporal membatasi aspek posterior fossa cranii media. Bocornya
CSS dan keluarnya darah dari canalis acusticus externus (otorrhea) sering terjadi apabila
terjadi fraktur pada basis cranii bagian ini dan membahayakan N. cranials VII dan nervus
VIII. N. cranialis III, IV dan VI dapat cedera bila dinding lateral sinus cavernosus robek.4
Fossa cranii posterior, merupakan fossa yang terbesar dan terdalam, dibentuk dari bagian
belakang pars petrosa os temporale dan os occipital dan berfungsi untuk menampung otak
otak belakang, yaitu cerebellum, pons dan medulla oblongata. Fossa ini terbentuk dari os
temporale, os occipitale serta, os sphenoidale dan ossa parietale dengan tingkat yang lebih
kecil. Di garis tengah, batas-batas anteriornya dibentuk oleh Dorsum sellae dan Clivus,
Clivus adalah suatu batas tulang obliq, yang melandai dari dorsum sellae ke Foramen
magnum.3 Foramen magnum menempati daerah pusat dari dasar fossa dan dilalui oleh
medulla oblongata dengan meningens yang meliputinya, pars spinalis assendens n.
accessories dan kedua a.vertebralis.2 Terdapat foramen jugulare yang terdapat di sebelah
3

lateral dari foramen magnum. Jika foramen jugulare terkena fraktur, maka akan menyebabkan
rusaknya nervus cranial IX, X, dan XI. Terdapat canalis nervi hipoglossi yang menjadi tempat
lewatnya nervus XII. Aspek posterior Fossa cranii posterior terutama terdiri dari Sulcus sinus
transverse. Pada fraktur fossa cranii posterior darah dapat merembes ke tengkuk.4

Gambar 1. Basis crania interna.5

Basis cranii externa memperlihatkan basis crania dari luar, akan memperlihatkan maxilla, os
palatinum, os temporal, vomer, os occipital, os sphenoidale, dan os zygomaticum. 2 Terdapat
beberapa bagian dan foramina yang penting dari basis crania externa. Kita akan membahas
per bagian tulang mulai dari anterior.
Maxilla adalah tulang yang menyusun rongga mulut tempat berada gigi bagian atas. Terdapat
foramen incisivum, dan di bagian posterior, os maxilla bersatu dengan os palatinum. Pada os
palatinum, terdapat foramen palatinum majus. Os zygomaticus menyambungkan maxilla
dengan os temporal processus zygomaticus. Dan pada bagian posterolateral, maxilla akan
menyambung dengan os sphenoidale dan membentuk fissure orbitalis inferior.2
Pada os sphenoidale akan terdapat processus pterygoideus, foramen ovale, foramen
spinosum, dan foramen lacerum. Kemudian bagian posterior os sphenoidale akan
menyambung dengan os temporal. Pada os temporal membentuk canalis caroticus dan
foramen jugulare. Dan juga terdapat foramen stylomastoideus di posterolateral processus
4

styloid yang merupaka tempat berjalannya cabang dari nervus VII. Terlihat pula maetus
acusticus externus di bagian lateral posterior dari processus mastoideus. Beralih ke os paling
posterior, yaitu os occipital, terdapat foramen magnum dan condylus occipitalis di bagian
lateralnya yang merupakan tempat bersendinya occipital dengan vertebrae cervical 1. Di
bagian superior condylus terdapat canalis nervi hipoglossi yang merupakan tempat
berjalannya nervus XII.2

Gambar 2. Basis crania externa. 5

Meninges
Meninges adalah jaringan ikat yang berfungsi untuk melindungi jaringan otak serta medulla
spinalis dan merupakan tempat beradanya pembuluh darah. Meninges juga merupakan tempat
adanya cairan cerebrospinal yang menyediakan nutrisi dan oksigen untuk otak dan medulla
spinalis, serta membuang zat sisa metabolisme. Dipisahkan menjadi tiga lapisan yaitu
duramater, arachnoidmater, dan piamater.6

Gambar 3. Meninges dan lapisannya. 7

Duramater merupakan lapisan meninges terluar, mengandung lapisan fibrosa. Lapisan


luarnya menempel pada periosteum tulang. Lapisan terluar duramater dinamakan endosteal,
dan lapisan terdalamnya dinamakan meningeal. Kedua lapisan ini terpisah oleh pembuluh
balik dan cairan jaringan yang disebut sinus duramatris.8 Duramater bersifat padat, keras, dan
tidak elastic. Dibawah duramater menuju arachnoid juga seharusnya tidak terdapat ruangan ,
tetapi juka terbentur dan melukai pembuluh superficial, akan terjadi subdural haemmoragik.
Membentuk lipatan berupa falx cerebri, falx cerebelli, dan tentorium cerebelli. Falx cerebri
memisahkan hemisfer kiri dan kanan dan terdapat sinus sagitalis superior dan inferior,
Tentorium cerebella memisahkan cerebrum dari cerebellum dan merupakan tempat
melekatnya sinus transverses dan sinus sigmoideus di ujung sinus transversus, falx cerebella
memisahkan cerebellum kanan dan kiri.8 Sejajar dengan tentorium cerebella ke arah anterior,
terdapat sinus rectus yang merupaka tempat berjalannya vena cerebri magna, kemudian di
bagian anterior dari sinus rectus, akan terdapat diaphragm sellae yang merupakan atap dari
sella tursica.
Persatuan dari sinus rectus, sinus sagitalis superior, dan sinus transversus akan membentuk
muara yang disebut confluens sinum yang menempel pada protuberantia occipitalis interna.
Vena superficial akan berkumpul dalam sinus sagitalis superior, darah dari sinus sagitalis
inferior bersama dengan vena cerebri magna disalurkan melalui sinus rectus, bergabung di
confluens sinuum, kemudian dari confluens sinuum baru akan disalurkan ke sinus
6

transversus, sinus sigmoideus, kemudian ke vena jugularis interna. Sistem ini disebut juga
system sinus duramatris. 9
Arachnoidmater terdiri atas membrane arachnoid yang tidak terlalu melekat erat pada
duramater, dan terdapat trabekula arachnoid yang menyambungkan membrane arachnoid
dengan piamater. Di trabekula inilah terdapat ruang subarachnoid yang berisi CSS dan
membentuk cisterna. Juga terdapat tonjolan yang mengarah ke luar atau duramater disebut
granulation arachnoid. Tidak mengikuti bentuk lipatan otak, kecuali pada fissure
longitudinalis saja dan berfungsi sebagai klep 1 arah yang mengalirkan CSS ke sinus
venosus. 8,10
Piamater menyatu lekat dengan otak, mengikuti setiap gyrus dan sulcus yang ada, dilekatkan
dengan processus astrosit. Mengikuti cabang pembuluh darah yang berpenetrasi ke lapisan
otak untuk member nutrisi ke lapisan otak. Laptomeninges adalah gabungan piamater dan
arachnoid.8,10

Cairan Serebro Spinal


Cairan Serebro Spinal adalah cairan jernih yang mengelilingi otak dan medulla spinalis. 11
CSS bersirkulasi di ruangan subarachnoid dan memberi perlindungan otak terhadap getaran
fisik. Antara CSS dan jaringan syaraf terjadi pertukaran zat gizi dan zat sisa. CSS dibentuk
dari plasma yang mengalir melalui otak, konsenterasi elektrolit dan glukosanya berbeda dari
konsenterasi plasma.11 Dibentuk dari hasil proses filtrasi, difusi, dan transport aktif yang
melintasi kapiler khusus ke dalam ventrikel otak, terutama ventrikel lateral. Jaringan kapiler
yang berperan dalam pembentukan CSS adalah plexsus choroideus. CSS mengandung
beberapa limfosit dan mungkin berfungsi serupa dengan cairan limfa di bagian tubuh lainnya.
(sistem saraf tidak mengandung pembuluh limfa). SSP dewasa mengandung sekitar 1500 ml
CSS, yang dihasilkan dengan kecepatan 500 ml/hari.11
Saat berada dalam ventrikel, CSS mengalir kearah batang otak, melalui lubang kecil di
batang otak, CSS bersirkulasi ke permukaan otak dan medulla spinalis. Dipermukaan otak,
CSS masuk ke vena dan kembali ke jantung kemudian berresirkulasi. Volume total dari CSS
adalah 80-150 mm pada orang dewasa.
Sistem CSS mempunyai struktur histology penting yaitu sistem sawar darah otak yang
berfungsi untuk mencegah material dari darah masuk ke CSS. Sawar darah terbentuk dari sel
7

endotel yang berikatan erat di kapiler otak dan dari sel yang melapisi difusi dan filtrasi ke
ventrikel. Sawar darah otak melindungi sel otak yang halus terhadap pajanan terhadap zat
yang berpotensi membahayakan. Sawar darah otak dibentuk oleh tiga komponen, yaitu
dinding sel endotel, lamina basal sel endotel, dan kaki perivaskular astrosit.11
Sirkulasi cairan CSS sangat berhubungan erat dengan system ventrikel yang berfungsi untuk
mengalirkan cairan CSS di rongga otak. Terdapat tiga ventrikel yang penting yaitu ventrikel
lateral, ventrikel tertius dan ventrikel quartus. 2,12
Ventrikel lateral berjumlah sepasang dan berada di dalam hemisferium cerebri, berbatasan
dengan fornix di bagian medial, nucleus caudatus di bagian lateral dan anterior, hippocampus
di bagian posterior dan corpus callosum di bagian superior.2 Tersusun atas cornu frontale,
corpus yang berada di area parietal dan posterior foramen interventriculare, cornu occipital
dan cornu temporal.2 Terdapat foramen interventriculare (Monro) yang merupakan tempat
menyambungnya ventrikel lateral dengan ventrikel tertius. 12
Ventrikulus tertius yang berada diantara kedua ventriculus lateralis, dan menyambung dengan
ventrikel quartus lewat saluran aquaductus mesensefali atau foramen sylvius. Ventrikel
quartus yang berbentuk menyerupai belah ketupat, terletak diatas pons dan medulla
oblongata, didepan cerebellum dan vellum medulare. Ke arah inferior berlanjut membentuk
canalis centralis medulla spinalis dan ke lateral berhubungan dengan spatium subarachnoid
lewat foramen luschka dan ke posterior membentuk foramen magendie.12

Gambar 4. Sistem Ventrikel.13

CSS dibentuk di plexsus choroideus, mengalir ke ventrikel lateral, foramen monro, ventrikel
tertius, aqueductus cerebri, ventrikel quartus, dari ventrikel quartus akan mengarah ke dua
arah yaitu canalis centralis dan foramen magendie dan luschka. Dari foramen magendie dan
luschka kemudian akan mengarah ke cisterna magna, kemudian ke spatium subarachnoidea,
ke grabulatio arachnoidea, kemudian ke sinus sagitalis superior.12 CSS mengandung air,
glukosa, asam amino, vitamin C dan B dan Asam Folat.

Vaskularisasi cerebri
Darah merupakan sarana transportasi oksigen, nutrisi dan bahan-bahan lain yang sangat
diperlukan untuk mempertahankan fungsi penting jaringan otak dan mengangkut sisa
metabolisme.12 Vaskularisasi otak dilakukan oleh sistem carotis. Arteri carotis communis
merupakan arteri yang penting untuk vaskularisasi otak. Dari arcus aorta mempercabangkan
a.brachiocephalica atau trunctus brachiocephalica pada sebelah kanan, kemudian menjadi a.
carotis externa dan a. carotis interna.2,14
Arteri carotis externa terbagi menjadi dua, a. maxilaris dan a.temporalis superficialis, dalam
glandula parotis. Mempercabangkan a. tiroidea superior, a.lingualis, a.facialis, a. oksipitalis, a
temporalis profunda, a.alveolaris inferior, dan a. meningea media. 2,14
Kemudian arteri carotis interna pada kedua sisi menghantarkan darah ke otak melalui
percabangan utamanya, arteri serebri media dan arteri serebri anterior. Arteri serebri anterior
dipersatukan oleh a. communicans anterior. Arteri serebri media akan mempercabangkan
arteri choroidea anterior (sirkulasi anterior). 2,14
Kedua arteri vertebralis bergabung di garis tengah pada batas kaudal pons untuk membentuk
arteri basilaris, yang menghantarkan darah ke batang otak dan serebelum, serta sebagian
hemisfer serebri bagian inferior dan medial lobus temporal dan occipital melalui cabang
terminalnya, arteri serebri posterior (sirkulasi posterior). Dari a. vertebralis, akan bercabang
kearah medial dan membentuk arteri spinalis anterior, kea rah lateral bercabang membentuk
a.inferior posterior cerebella. A.basilaris akan bercabang banyak, mulai dari bagian posterior
aka nada a.inferior anterior cerebella, a. labirynthi, aa. Pontis, aa. Mesensephalicae, a.
superior cerebella, dan a cerebri posterior. 2,14
Arteri cerebri posterior akan bersatu dengan a cerebri media lewat a. communicans posterior.
Sirkulasi anterior dan posterior berhubungan satu dengan lainnya melalui sirkulus Wilisi.
9

Terdapat pula banyak hubungan anastomosis lain di antara arteri-arteri yang mendarahi otak,
dan antara sirkulasi intrakranial dan ekstrakranial; sehingga oklusi pada sebuah pembuluh
darah besar tidak selalu menimbulkan stroke karena jaringan otak di bagian distal oklusi
mungkin mendapatkan perfusi yang adekuat dari pembuluh darah kolateral.2,12,14
Darah vena otak mengalir dari vena profunda serebri
yang terbagi menjadi vena cerebri interna, vena basalis,
vena profundus, dan vena batang otak dan cerebellum;
dan vena superfisialis serebri yang terbagi menjadi vena
cerebri superior, vena cerebri media, dan vena cerebri
inferior, kedua vena tersebut menuju sinus venosus dura
mater, dan dari sini menuju ke vena jugularis interna
kedua sisi.
Seperti kebanyakan daerah vaskular dalam tubuh, aliran
darah

otak

sangat

penting

untuk

pengangkutan

karbondioksida, ion hidrogen, nutrisi, dan oksigen.


Peningkatan pada konsentrasi karbondioksida atau ion
hidrogen dan penurunan konsentrasi oksigen akan
meningkatkan aliran darah otak. 14
Gambar 5. Circulus willisi.

15

Sistem Saraf Pusat


Susunan sistem syaraf pusat terdiri atas otak dan medulla spinalis. Dibentuk oleh substansia
alba dan substansia grisea (substansia kelabu). Pada substansia grisea terletak terletak
perikarion dan serat saraf tak bermielin. Dalam keadaan segar bagian ini bewarna abu-abu.
Sedangkan substansia alba terdiri atas akson bermielin yang dalam keadaan segar bewarna
putih karena adanya myelin dan dendrite. 16,17
Susunan saraf pusat berfungsi untuk menerima dan mengintegrasikan semua rangsang yang
diterima dari luar tubuh (eksteroseptif) dan dari dalam tubuh (interoseptif) melalui reseptorreseptor tertentu. Rangsang yang diterima oleh reseptor diubah menjadi impuls saraf dan
diteruskan ke Sistem saraf perifer (SSP). Oleh SSP impuls saraf ini kemudian diterima,
diolah dan diintegrasikan. SSP kemudian menjawab impuls yang diterima tersebut dan akan
mengirim impuls jawaban ke organ-organ efektor seperti otot, kelenjar, dan sebagainya.
Impuls yang diterima juga dapat disimpan sebagai memori untuk waktu selanjutnya dan dapat
dipanggil kembali sewaktu diperlukan.16
10

Secara histologi susunan saraf pusat terdiri atas komponen-komponen yaitu,


Neuron yang pada medulla spinalis terletak di substansia grisea, sedangkan didalam otak
letaknya di lapisan permukaan korteks serebri (juga daearah substansia grisea) dan dibagian
dalam otak yaitu di nukleus (kumpulan neuron dengan fungsi khusus). Neuroglia yang
merupakan sel-sel penyokong sel-sel saraf. Serat saraf yang merupakan akson yang panjang
dengan atau tanpa mielin. Dan struktur tambahan yang membantu atau memelihara,
melindungi sel saraf yang terdapat di dalam SSP seperti pembuluh darah, cairan serebrospinal, selaput otak, dan sebagainya.17
Cerebrum
Cerebrum dibagi oleh falx serebri menjadi 2 bagian yang serupa disebut hemisfer serebri kiri
dan kanan. Didalam hemisfer serebri substansia grisea terdapat dipermukaan (terbalik dengan
medula spinalis), berupa korteks serebri dan dibawahnya terdapat substansia alba dan lebih
kedalam lagi terdapat nukleus. Secara histologis, serebrum terdiri atas 6 lapisan yaitu :16,17
Lapisan Molekular, terutama terdiri atas serat-serat yang berasal dari sel-sel lapis lebih
dalam, yang berjalan paralel terhadap permukaan dan sedikit badan sel saraf yang dikenal
sebagai sel horisontal (Cajal). Sel ini berukuran kecil dengan bentuk pipih dengan akson dan
dendritnya berjalan sejajar permukaan dan berkontak dengan dendrit sel piramid dan fusiform
serta akson sel stellate.
Lapis granular luar, terdiri terdiri atas badan-badan sel saraf kecil berbentuk
segitiga/piramid. Dendritnya mengarah ke lapisan molekular dan bercabang-cabang,
sementara aksonnya mengarah ke lapisan di bawahnya dan substansia alba. Sel lainnya yang
terdapat pada lapisan ini adalah sel stellate (sel granular) yang berukuran kecil dan poligonal.
Lapis sel-sel pyramid luar, terdiri atas sel-sel piramid yang ukurannya makin ke dalam
semakin bertambah besar. Dendritnya mengarah ke lapisan molekular sementara aksonnya
menuju ke arah substansia alba.
Lapis granular dalam, terdiri atas sel-sel granula bercabang (stelata) halus dan sel-sel
pyramid.
Lapis pyramid dalam atau lapis ganglion terdiri atas sel-sel piramid besar dan sedang.
Disamping itu juga terdapat sel stellate dan sel Martinotti. Sel Martinotti merupakan sel saraf

11

multipolar berukuran kecil, dengan dendrit yang pendek mengarah ke lapisan di atasnya,
sedangkan aksonnya berjalan ke arah lateral.
Lapis sel-sel multiform atau polimorf, terdiri atas sel-sel dengan macam-macam bentuk.
Kebanyakan sel yang terdapat disini adalah sel fusiform dengan dendritnya yang panjang
mengarah ke arah lapisan di atasnya.

Gambar 6. Sel Cerebrum.16

Semua lapis ini tidak mempunyai batas yang tegas dan semuanya juga berisi neuroglia.
Substansia alba terdiri atas gabungan serat saraf bermielin yang menyebar kesegala arah.
Serat-serat ini ditunjang oleh neuroglia dan secara fungsional terdiri atas 3 kelompok:
1. Serat menghubungkan bagian korteks pada satu hemisfer disebut serat asosiasi.
2. Serat yang menghubungkan korteks hemisfer kiri dan kanan disebut serat komisural.
3. Serat yang menghubungkan korteks serebri dengan nukleus dibawahnya disebut serat
proyeksi.
Cerebellum
Serebelum terbagi dua kiri dan kanan oleh bangunan seperti cacing bewarna abu-abu yang
disebut vermis. Permukaannya berlipat-lipat disebut folia (=daun) yang tersusun paralel
terhadap fissura. Substansia grisea serebelum terdapat di permukaan berupa korteks tipis. Di
bawahnya terdapat substansia alba yang juga berisi kelompokan kecil perikarion membentuk
pusat-pusat (nukleus).
Korteks serebellum terdiri atas 3 lapisan, yaitu dari luar ke dalam:

12

Lapisan Molekular yang merupakan lapisan terluar. Lapisan ini berisi sedikit sel saraf kecil
dan banyak serat saraf tidak bermielin. Lapisan sel Purkinje atau disebut juga lapisan
ganglioner, berisi sel Purkinje yang tampak besar, dengan dendritnya bercabang seperti
tanduk dan letaknya dalam satu bidang masuk kedalam lapisan molekular, dengan satu akson
yang masuk kedalam lapis dibawahnya.16,17
Lapisan Granular, berisi banyak perikarion kecil. Sel saraf dari lapisan granular ini kecilkecil dengan 3-6 dendrit yang naik kedalam lapisan molecular.

Gambar 7. Sel Cerebellum. 16

Mekanisme persyarafan dan penyaluran impuls


Cerebrum atau otak besar mempunyai fungsi untuk menyimpan memori, berperan penting
dalam proses berpikir, belajar, rasa bertanggung jawab, analisa sintesa dan berperan dalam
proses moral. Cerebrum juga berperan untuk menerima, mengolah dan memberikan respon
jawaban terhadap rangsangan sensoris seperti pengaturan temperatur tubuh, rasa rabaan,
penglihatan, pendengaran, penghidu, rasa / kecap. Disamping itu bagian otak ini berfungsi
untuk mengontrol kontraksi otot-otot sadar. Bagaimana mekanisme tubuh sehingga otak
dapat mengontrol semua fungsi tersebut?
Susunan saraf dibagi atas dua bagian penting, yaitu susunan saraf pusat (SSP) dan susunan
saraf tepi (SST), yang terdiri dari serat-serat saraf yang membawa informasi antara SSP dan
bagian tubuh lain (perifer).18
Susunan saraf pusat terdiri atas otak dan medulla spinalis. Sedangkan susunan saraf tepi
dibagi menjadi divisi aferen dan eferen. Divisi aferen biasanya memiliki ujung berupa
13

reseptor sensorik yang terdiferensiasi menurut fungsinya. Reseptor sensorik akan


menghasilkan potensial aksi sebagai respon terhadap jenis ransangan spesifik. Divisi aferen
berfungsi untuk membawa informasi ke SSP dan memberi tahu tentang lingkungan eksternal
dan aktivitas internal yang sedang diatur oleh susunan saraf. Informasi dari SSP ini nanti akan
disalurkan melalui divisi eferen ke organ efektor seperti otot atau kelenjar yang
melaksanakan perintah agar dihasilkan efek yang sesuai. Sistem saraf eferen ini dibagi
menjadi dua yaitu sistem saraf somatik dan sistem saraf otonom.18
Sistem saraf somatik terdiri dari serat-serat neuron motorik yang mempersyarafi otot rangka.
Badan sel dari hampir semua neuron motorik berada pada cornu ventral medulla spinalis.
Satu-satunya pengecualian, badan sel neuron motorik yang mempersarafi otot di kepala
berada di batang otak. Akson neuron motorik berjalan dari awalnya di SSP hingga ujungnya
di otot rangka. Terminal akson neuron motorik mengeluarkan asetilkolin, yang menimbulkan
eksitasi dan kontraksi otot yang di sarafi. Neuron motorik hanya dapat merangsang otot
rangka. Sewaktu mendekati otot, akson membentuk banyak cabang terminal dan kehilangan
selubung myelin. Ujung dari saraf terminal inilah yang akan bertemu dengan otot dan
membentuk taut neuromuscular.18,19
Ada beberapa cara kerja dari taut neuromuscular ini, pertama, dengan perangsangan atau
menghambat sel efektor oleh perubahan permeabilitas membrane, yaitu dengan membuka
dan menutup kanal ion. Yang kedua, dengan mengaktifkan atau mematikan aktifitas enzim
yang melekat pada ujung protein reseptor lain di dalam sel. Seperti pengikatan norepinefrin
dengan reseptornya pada bagian luar sel yang akan meningkatkan aktifitas enzim adenilil
siklase pada bagian dalam sel, yang menyebabkan terbentuknya CAMP.19 Secara umum,
mekanisme kerja neurotransmitter yaitu bermula dari disimpannya neurotransmitter di
presinaps dalam vesikel, kemudian saat diperlukan, maka akan di sekresi secara eksositosis
ke sela sinaps, neurotransmitter diikat oleh reseptor di ujung sinaps dan menyebabkan
perubahan kanal ion, sehingga terjadi depolarisasi atau hiperpolarisasi membrane, dan
terjadilah penyaluran impuls.18,19

14

Gambar 8. Mekanisme neurotransmitter.20

Sistem saraf otonom terdiri dari serat-serat yang mempersyarafi otot polos, otot jantung dan
kelenjar. Sistem saraf otonom ini terbagi lagi menjadi sistem saraf simpatis dan sistem saraf
parasimpatis, dimana keduanya mempersyarafi sebagian besar organ-organ yang disarafi oleh
sistem saraf otonom.18 Terdapat neuron yang berfungsi menyambungkan impuls dari divisi
aferen ke divisi eferen, disebut antarneuron. Semakin kompleks tindakan, maka semakin
banyak antarneuron yang dilewati.
Untuk bagian otak, CSS berperan penting dalam perambatan impuls saraf karena CSS
mengandung lebih sedikit K+ dan lebih banyak Na+ sehingga cairan intersitium otak
merupakan lingkungan ideal bagi perpindahan ion ion ini mengikuti penurunan gradiennya. 18
Penyaluran impuls saraf di otak meliputi cerebellum, batang otak yang terdiri dari medulla,
pons, dan otak tengah.
Khususnya pada scenario ini, kita akan membahas mengenai batang otak. Batang otak adalah
bagian yang termasuk penting, terdapat 12 saraf cranial, kelompok neuron pengatur fungsi
otonom, reflek dan postur, serta RAS yang mengontrol tidur dan kesadaran. RAS penting
untuk perubahan modulasi korteks, gangguan RAS menghasilkan perubahan dari siklus tidurbangun dan ganguan kesadaran. Salah satu gangguan yang akan dihadapi pada fungsi RAS
ini ialah ketika hilangnya kesaran akibat fraktur.18

15

Medulla spinalis juga mengandung peran bagi penyaluran impuls syaraf karena pada bagian
dalam medulla spinalis terdapat cornu anterior yang mengandung serat eferen untuk
mempersarafi otot rangka dan cornu posterior yang mengandung antarneuron tanda
berakhirnya serat aferen. Saraf otonom yang mempersarafi otot jantung dan otot polos serta
kelenjar eksokrin berasal dari badan sel yang terletak di cornu lateral.18
Setiap jalur saraf otonom terdiri dari rangkaian dua neuron. Badan sel neuron pertama
terletak di SSP. Aksonnya, serat praganglion bersinaps dengan badan sel neuron kedua yang
badan sel nya terletak dalam suatu ganglion otonom. Akson neuron kedua, serat
pascaganglion menyarafi organ efektor. Sistem saraf otonom memiliki dua subdivisi, yaitu
system saraf simpatis dan system saraf parasimpatis.
Serat-serat saraf simpatis berasal dari daerah torakal dan lumbal korda spinalis. Sebagian
serat terdiri dari serat praganglion simpatis berukuran sangat pendek, bersinaps dengan badan
sel neuron pascaganglion didalam ganglion yang terdapat di rantai ganglion simpatis yang
terletak di kedua sisi korda spinalis dan sebagian serat lainnya adalah serat pascaganglion
panjang yang berasal dari rantai ganglion itu berakhir pada organ-oragn efektor. Sebagian
serat praganglion melewati rantai ganglion tanpa membentuk sinaps dan kemudian berakhir
di ganglion kolateral simpatis yang terletak sekitar separuh jalan antara SSP dan organ-organ
yang dipersarafi, dengan saraf pascaganglion menjalani jarak sisanya.18,19

Serat-serat praganglion parasimpatis berasal dari daerah cranial dan sacral (sebagian saraf
kranialis mengandung serat parasimpatis). Serat-serat ini berukuran lebih panjang
dibandingkan dengan serat praganglion simpatis karena serat-serat itu tidak terputus sampai
mencapai ganglion terminal yang terletak didalam atau dekat organ efektor. Serat-serat
pascaganglion yang sangat pendek berakhir di sel-sel organ yang bersangkutan itu sendiri.
Serat-serat praganglion simpatis dan parasimpatis mengeluarkan neurotransmitter yang sama
yaitu, asetilkolin, tetapi ujung-ujung pascaganglion kedua system ini mengeluarkan
neurotransmitter yang berlainan (neurotransmitter yang mempengaruhi organ efektor). Seratserat pascaganglion parasimpatis mengeluarkan asetilkolin. Dengan demikian, serat-serat itu
bersama dengan semua serat praganglion otonom disebut sebagai kolinergik. Sebaliknya,
sebagian serat pascaganglion simpatis disebut serat adrenergik karena mengeluarkan

16

noreadrenalin
asetilkolin

maupun

berfungsi sebagai zat

(norepinefrin).

Baik

norepinefrin

juga

perantara kimiawi di

bagian tubuh lainnya.


Medulla

adrenal

merupakan

bagian

system saraf simpatis

yang

mengalami

modifikasi

tidak

membentuk

sehingga

pascaganglion. Bagian

ini

hormone

darah. Hormone yang

ke

dikeluarkan

dalam
tersebut

sama

neurotransmitter
pascaganglion,

mengeluarkan
dengan

simpatik
yaitu

norepinefrin

dan

sedikit epinefrin.18,19
Terdapat beberapa jenis reseptor yang berbeda juga pada organ sasaran. Untuk reseptor
kolinergik, terdapat reseptor nikotonik dan muskarinik. Untuk reseptor adenergik, terdapat
reseptor alfa 1 dan 2, beta 1 dan beta 2. 18,19
Reseptor muskarinik ditemukan di membrane sel efektor yaitu otot polos, otot jantung, dan
kelenjar. Berespon terhadap asetilkolin dari serat pascaganglion parasimpatis. Reseptor
nikotinik ditemukan di badan sel pascaganglion di semua ganglion otonom dan berespon
terhadap asetilkolin yang dibebaskan dari serat praganglion simpatis dan parasimpatis.18,19
Reseptor adenergik untuk epinefrin dan norepinefrin. Reseptor tipe beta 2 terutama berikatan
dengan epinefrin, beta 1 mengikat norepinefrin. Semua reseptor adenergik berikatan dengan
protein G. Pengaktifan reseptor beta memicu respon sel sasaran melalui pembawa pesan
kedua C AMP siklik. Simulasi alfa 1 menyebabkan simulasi eksitatorik dan simulasi alfa 2
menyebabkan simulasi inhibitorik.19

17

Gambar 8. Sistem Saraf otonom. 18

Pembahasan
Skenario 9 : Seorang pengendara mobil dibawa ke UGD RS karena mengalami kecelakaan
beruntun. Hasil pemeriksaan fisik pasien tidak sadar, mata echymosis dan exopthalmus, hasil
pemeriksaan rontgen didapati fraktur pada basis cranii.
Sebelumnya kita harus mengetahui apa itu ecchymosis dan exopthalmus. Ecchymosis adalah
apa yang orang-orang paling mengenali sebagai memar, atau darah yang telah bocor dari
pembuluh darah yang pecah dibawah kulit yang disebabkan oleh luka. Kata lain untuk luka
ini adalah contusion (luka memar).21Sedangkan exophthalmos, atau exophthalmia, adalah
menonjolnya bolamata kearah luar dari orbita.22
Dikatakan dalam scenario bahwa seorang pengendara mobil mengalami kecelakaan, tidak
sadar, dan didapati fraktur pada basis crania. Basis crania berfungsi untuk menampung otak,
didalamnya terkandung banyak foramen yang menjadi tempat keluarnya saraf dan pembuluh
darah. Tentu akan sangat berbahaya jika terjadi benturan yang menyebabkan rusaknya
jaringan otak atau merusak jaringan saraf. Akan tetapi otak dan saraf kita dilindungi oleh
lapisan meninges dan juga CSS. Lapisan meninges berfungsi sebagai pengikat otak, sehingga
otak tidak mudah bergeser dari tempatnya. Kemudian juga terdapat CSS, otak mengapung
pada CSS sehingga saat terjadi benturan, otak mengikuti arah alir CSS dan tidak terjadi
kontak dengan tulang tengkorak. Bila sampai terjadi fraktur basis crania dan mengenai saraf
18

atau medulla spinalis, dapat menyebabkan kelumpuhan atau kecacatan pada bagian yang
dipersarafi oleh saraf yang rusak.
Pada scenario dikatakan terjadi exopthalmus dan ecchymosis. Yang menandakan bahwa telah
terjadinya pendarahan pada orbita. Pendarahan adalah pecahnya pembuluh darah sehingga
system, vaskularisasi akan terganggu. System vaskularisasi otak menyalurkan oksigen dan
nutrisi ke otak. System ini sangatlah penting karena otak tidak dapat menyimpan glikogen. 11
Deprivasi oksigen selama 5 menit atau deprivasi glukosa selama 15 menit akan menyebabkan
kerusakan otak yang signifikan. 11
Selain itu, rusaknya jaringan otak dan saraf akan sangat mempengaruhi organ tubuh yang
lain. Karena otak meregulasi pengaturan terhadap setiap kegiatan, baik sensorik, maupun
motorik, somatic, maupun otonom kita. Pada otak, terdapat saraf yang memiliki fungsi
masing masing. Sebagai contoh, bila fraktur basis crania menyebabkan terputusnya saraf
nomor II yang berperan dalam penglihatan, maka kita akan kehilangan kemampuan melihat
kita. Selain di otak, saraf dari basis crania akan turun ke medulla spinalis dan akan bercabang
dari medulla spinalis membentuk plexsus dan mempersarafi ekstremitas. Otak dapat
menginervasi otot yang jauh dari otak oleh perantara dari neurotransmitter dan juga melalui
mekanisme penyaluran impuls saraf yang melibatkan proses proses fisiologi seperti
depolarisasi dan repolarisasi.
Kesimpulan
Otak kita merupakan bagian yang sangat penting. Otak dilindungi oleh meninges dan cairan
serebrospinal. Otak dan system saraf merupakan salah satu sarana komunikasi sel sel tubuh.
Otak merupakan organ yang sangat membutuhkan oksigen, kekurangan oksigen sebentar saja
dapat membuat otak mengalami hypoxia kemudian mengalami kerusakan jaringan. Bila basis
crania atau jaringan otak terluka dan kebetulan mengenai saraf cranial atau bagian vital
lainnya, maka dapat menyebabkan kerusakan atau kelumpuhan fungsi tubuh. Oleh karena itu,
kita harus menjaga dan berhati hati dalam beraktivitas.

DAFTAR PUSTAKA

19

1. Khalillulah SA. Fraktur basis cranii. Banda Aceh: Fakultas Kedokteran Universitas
Syiah Kuala; 2011.H.1.
2. Putz R, Pabst R. Sobotta atlas anatomi manusia. 22th Ed. Jakarta: EGC; 2007.H.
258-351.
3. Gibson J. Fisiologi dan anatomi modern. 2nd Ed. Jakarta; EGC; 2003. H. 187-8.
4. Snell RS. Clinical Anatomy for Medical Student. 6th ed. Sugiharto L, Hartanto H,
Listiawati E, Susilawati, Suyono J, Mahatmi T, dkk, penerjemah. Anatomi Klinik
Untuk Mahasiswa Kedokteran. Edisi 6. Jakarta: EGC: 2006.H.740-59.
5. Gambar diunduh dari web. http://www.likar.info/atlas/Osnovanie_cherepa/
6. Martini FH. Anatomy and Physiology. 1st Ed. Singapore: Pearson Education; 2007.
7. Image from Blumenfeld Neuroanatomy through Clinial Cases, Sinauer Assoc. Inc,
2002.P.122.
8. Singh I. Textbook of anatomy with colour atlas. New Delhi: Jaypee brothers medical
publishers; 2007.p.773-6.
9. Kiernan JA, Rajakumar N. Barrs the human nervous system.10 th Ed. Canada:
Lippincott William and Wilkins; 2014. P.382-97.
10. Fawcett DW, Bloom. Buku ajar histologi. Jakarta: EGC; 2002. H.320-2.
11. Corwin EJ. Patofisiologi. 3rd Ed. Jakarta: ECG;2009. H.224-6.
12. Sloane E. Anatomi dan fisiologi untuk pemula. Jakarta; EGC; 2004.h.166-9.
13. Micheau A. E-anatomy: neuroanatomical atlas. Post at 09 September 2009. Diunduh
dari http://www.imaios.com/en/e-Anatomy/Head-and-Neck/Brain-diagrams, 20 April
2014.
14. Moffat D, Faiz O. At a glance anatomy. Jakarta: erlangga; 2004. H.129.
15. Antwerpes F. Circulus arteriosus cerebri. Diunduh dari
http://flexikon.doccheck.com/de/Circulus_arteriosus_cerebri, tanggal 20 april 2014.
16. Jusuf AA, Antarianto RD. Aspek Histologis dalam Neurosains. FKUI; Departemen
Histologi: 2009. H.19-26.
17. Junquiera LC, Carneiro C. Basic histology text and atlas. 11th ed. Mcgraw-hill; 2005.
20

18. Yesdelita N, editor. Fisiologi manusia: dari sel ke sistem. Dalam: L Sherwood. 6th Ed.
Jakarta: EGC, 2009.H.145-275.
19. Rachman LY, Hartanto H, Novriyanti A, Wulandari N, editor. Buku ajar fisiologi
kedokteran. Dalam : Guyton AC, Hall JE. Textbook of medical physiology. 11th
ed.Jakarta: EGC; 2007. H.788-93.
20. Gambar diunduh dari http://www.unc.edu/~ejw/synapse.html, 21 April 2014.
21. Informasi dari national institute of health. Post at April,14 2013. URL :
http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/003235.htm, 21 April 2014.
22. Medical

News

Today.

Post

at

Nov

5,

2009.

http://www.medicalnewstoday.com/articles/169869.php, 21 April 2014.

21

URL