Anda di halaman 1dari 18

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT. Kami memuji, memohon pertolongan
dan ampunan serta perlindungan kepada-Nya dari kejahatan jiwa dan keburukan amal
perbuatan. Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah SWT, tak seorang pun dapat
menyesatkannya dan barang siapa disesatkan-Nya, tak seorang pun dapat memberinya
petunjuk. Kami bersaksi tiada tuhan selain Allah dan kami bersaksi bahwa
Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.

Shalawat dan salam ke pangkuan alam nabi kita bersama Nabi Muhammad
SAW, yang mana telah mengubah kita dari alam jahiliah ke alam islamiyah, dari alam
kegelapan ke alam yang terang benderang seperti yang kita rasakan sekarang ini.

Demikian pengantar dari kami, untuk lebih sempurnanya makalah ini,


tanggapan serta saran perbaikan dari semua pihak sangat kami harapkan, serta atas
perhatiannya diucapkan terima kasih.

Krueng Geukueh,

Oktober 2015

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................................

DAFTAR ISI .......................................................................................................

ii

BAB I

PENDAHULUAN ............................................................................

1.1 Latar Belakang Surah Adh-Dhuhaa ...........................................

1.2 Pengertian Surah Adh-Dhuhaa ...................................................

1.3 Kandungan Surah Adh-Dhuhaa .................................................

MEMBACA AL-QURAN ..............................................................

2.1 Adab Membaca Al-Quran .........................................................

2.2 Huruf-Huruf Hijaiyah.................................................................

TAJWID ...........................................................................................

11

3.1 Pengertian Tajwid ......................................................................

11

3.2 Tajwid yang Terdapat Dalam Surah Adh-Dhuhaa .....................

12

DAFTAR PUSTAKA .........................................................................................

16

BAB II

BAB III

ii

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Surah Adh-Dhuhaa


Pokok

pembicaraan

surah

ini,

pengungkapannya

dan

pemandangan-

pemandangannya, bayangan-bayangan dan nada-nada pernyataannya merupakan suatu


sentuhan kasih mesra, suatu hembusan rasa sayang, suatu belaian tangan yang belas
kasihan yang menghilangkan sakit derita, suatu tiupan bayu yang membawa kerehatan,
kerelaan dan harapan di samping mencurahkan rasa ketenteraman dan keyakinan.
Semuanya itu adalah dituju kepada Rasulullah s.a.w. untuk menghibur dan
mententeramkan hatinya. Semuanya itu merupakan tiupan bayu rahmat, bisikan kasih,
perdampingan yang mesra, timangan-timangan kepada jiwa yang lesu, fikiran yang
gelabah dan hati yang menderita.
Berbagai-bagai riwayat telah memberikan bahawa penurunan wahyu telah
putus seketika kepada Rasulullah s.a.w. Malaikat Jibril telah terlambat membawa
wahyu Allah kepadanya kerana itu kaum Musyrikin melancarkan kempen bahawa
Muhammad telah ditinggalkan Tuhannya! Lalu Allah turunkan surah ini.
Penerimaan wahyu, pertemuan dengan Jibril dan perhubungan dengan Allah,
merupakan bekalan-bekalan kepada Rasulullah dalam mengharungi jalan dawah yang
sukar, merupakan air minum di panas yang terik dalam menghadapi keingkaran. Dan
merupakan angin sepoi bahasa dalam cuaca panas menghadapi pendustaan kaum
Musyrikin. Dengan inilah Rasulullah s.a.w. dapat hidup dalam panas terik yang
membakar yang dialami beliau ketika menghadapi manusia-manusia yang liar,
penderhaka dan degil, dan ketika menghadapi tipudaya, gangguan dan penindasan
yang ditimpakan ke atas dawah, keimanan dan hidayat oleh pelampau-pelampau
kaum Musyrikin.
Apabila wahyu terputus seketika, maka putuslah bekalannya, keringlah
matairnya dan sepilah hatinya dari kekasih, dan tinggallah beliau seorang diri di
tengah panas terik tanpa bekalan, tanpa air dan tanpa bau kekasih tercinta yang biasa
dinimatinya. Dan ini menjadikan Rasulullah s.a.w. begitu sengsara menanggungnya
dari segala sudut.

1.2 Pengertian Surah Adh-Dhuhaa


Surat Ad-Dhuha termasuk surat Makkiyah. Surat ini terdiri atas 11 ayat
diturunkan sesudah surat Al-Fajr. Nama Adh-Dhuhaa diambil dari kata yang terdapat
pada ayat pertama, artinya : waktu matahari sepenggalahan naik.
Kata Ad-Dhuha secara umum digunakan untuk sesuatu yang nampak yang
jelas. Langit, karena terbuka dan tampak jelas dinamai dhahiyyah. Matahari ketika
naik sepenggalah, cahayanya memancar menerangi keseluruh penjuru dunia. Namun,
ia tidak terlalu terik, sehingga tidak mengakibatkan gangguan sedikitpun. Bahkan,
panasnya memberikan kesegaran, kenyamanan dan kesehatan. Matahari tidak
membedakan antara lokasi satu dengan yang lainnya ia akan menyinari semuanya.
Kalaupun ada sesuatu yang tidak disentuh oleh cahayannya, maka itu bukan
disebabkan oleh matahari, tetapi karena posisi lokasi itu sendiri yang terhalangi oleh
sesuatu. Di sini Allah mengambarkan kehadiran wahyu yang selama ini diterima oleh
Nabi SAW sebagai kehadiran cahaya matahari yang sinarnya terang dan jelas,
menyegarkan dan menyenangkan, dan menyegarkan.
Tema surat ini adalah tentang sanggahan terhadap dugaan yang menyatakan
bahwa Allah telah meningalkan Rasulullah SAW akibat terhentinya wahyu beberapa
lama. Ketidakhadiran wahyu al-Quran ini melahirkan berbagai tanggapan masyarakat
bahkan dampak negatif dalam jiwa nabi sendiri, beliau menjadi gelisah. Betapapun
banyaknya perbedaan riwayat, namun yang dapat dipastikan adalah bahwa surat itu
turun sebagai bantahan terhadap dugaan tersebut, sekaligus hiburan kepada Nabi saw,
menyangkut masa depan yang diembannya.
Ada beberapa pendapat tentang berapa lama nabi menanti kehadiran wahyu.
Imam Bukhori menyatakan 2 atau 3hari, sedang Ibnu Jarir ath-Thobari mendukung
riwayat yang menyatakan 12 hari. Ada juga riwayat yang menyatakan 15 sampai 40
hari tentu semakin lama jarak keduanya semakin besar kegelisahan dan tanggapan
negatif.
Surat ini merupakan awal surat-surat yang dinamai Qishar al-Mufahshal
(surat-surat pendek). Pada saat surat ini turun, Nabi Muhammmad SAW, bertakbir.
Karena itulah, para ulama menganjurkan agar setiap selesai membaca surat ini dan
surat-surat yang tercantum dalam mushaf sesudah Adhuha (sampai an-Naas) agar
terlebih dahulu bertakbir, baik ketika di dalam sholat maupan di luar sholat.

1.3 Kandungan Surah Adh-Dhuhaa

Allah SWT sekali-kali tidak akan meninggalkan Nabi Muhammad SAW.

Isyarat dari Allah SWT bahawa kehidupan Nabi Muhammad SAW dan
dakwahnya akan bertambah baik dan berkembang.

Larangan menghina anak yatim dan mengherdik orang-orang yang mintaminta.

Perintah menyebut-nyebut nikmat yang diberikan Allah sebagai tanda


bersyukur.

Isi kandungan surah ad-duha

Dalam surah ini, Allah swt. Menurunkan kasih sayang dan melimpahkan
rahmat-Nya kepada Nabi Muhammad saw. sekaligus memberikan ketenangan
dan keyakinan kepadanya.

Surah ad-Duha di turunkan secara khusus untuk Nabi Muhammad saw. dan
menenangkan hati hati beliau yang sedang je susahan karena ejek-ejekan dari
kaum kafir Quraisy.

Dalam beberapa riwayat, diceritakan bahwa Nabi Muhammad saw. sakit


hingga membuatnya susah bangun. Kemudian dating seorang wanita musyrik
dan berkata, Wahai Muhammad, aku melihat setanmu telah pergi
meninggalkanmu.

Sufyan Ibnu Uyainah meriwayatkan bahwa malaikat jibril tidak datang


membawa

wahyu

kepada

Nabi

Muhammad

saw.orang-orang

kafir

mengatakan, Muhammad telah ditinggal oleh tuhannya.

BAB II
MEMBACA AL-QURAN

2. 1 Adab Membaca Al-Quran


Bagi seorang Muslim yang membaca Al-Quran hendaknya melazimi adabadab membaca Al-Quran yang diajarkan Islam di dalam Al-Quran maupun asSunnah. Dengan melazimi adab berikut ini Insya Allah bacaan Al-Quran kita akan
menjadi ibadah yang diterima Allah. Di antara adab mulia tersebut yaitu:
1. Membaca Al-Quran dengan niat ikhlas untuk beribadah kepada Allah
Orang yang tidak ikhlas di dalam membaca Al-Quran maka mereka termasuk dalam
tiga golongan yang pertama kali diseret dan dilempar ke nereka.
Sesungguhnya manusia pertama yang diadili pada hari kiamat adalah orang yang
mati syahid di jalan Allah. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatankenikmatan (yang diberikan di dunia), lalu ia pun mengenalinya. Allah bertanya
kepadanya : Amal apakah yang engkau lakukan dengan nikmat-nikmat itu? Ia
menjawab : Aku berperang semata-mata karena Engkau sehingga aku mati syahid.
Allah berfirman : Engkau dusta! Engkau berperang supaya dikatakan seorang yang
gagah berani. Memang demikianlah yang telah dikatakan (tentang dirimu).
Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret orang itu atas mukanya
(tertelungkup), lalu dilemparkan ke dalam neraka. Berikutnya orang (yang diadili)
adalah seorang yang menuntut ilmu dan mengajarkannya serta membaca al-Qur-an.
Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun
mengakuinya. Kemudian Allah menanyakannya: Amal apakah yang telah engkau
lakukan dengan kenikmatan-kenikmatan itu? Ia menjawab: Aku menuntut ilmu dan
mengajarkannya serta aku membaca al-Qur-an hanyalah karena engkau. Allah
berkata : Engkau dusta! Engkau menuntut ilmu agar dikatakan seorang alim (yang
berilmu) dan engkau membaca al-Qur-an supaya dikatakan seorang qari (pembaca
al-Qur-an yang baik). Memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu). Kemudian
diperintahkan (malaikat) agar menyeret atas mukanya dan melemparkannya ke dalam
neraka. Berikutnya (yang diadili) adalah orang yang diberikan kelapangan rezeki dan
berbagai macam harta benda. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya

kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengenalinya (mengakuinya). Allah


bertanya : Apa yang engkau telah lakukan dengan nikmat-nikmat itu? Dia menjawab
: Aku tidak pernah meninggalkan shadaqah dan infaq pada jalan yang Engkau cintai,
melainkan pasti aku melakukannya semata-mata karena Engkau. Allah berfirman :
Engkau dusta! Engkau berbuat yang demikian itu supaya dikatakan seorang
dermawan (murah hati) dan memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).
Kemudian

diperintahkan

(malaikat)

agar

menyeretnya

atas

mukanya

dan

melemparkannya ke dalam neraka. (HR. Muslim)


2. Membaca Al-Quran dalam keadaan suci dari hadats dan najis
Allah taala berfirman: Sesungguhnya Al-Quran Ini adalah bacaan yang sangat
mulia. Pada Kitab yang terpelihara (Lauhul Mahfuzh). Tidak menyentuhnya kecuali
orang-orang yang disucikan. (QS. Al-Waqiah [56]: 77-79)
Meskipun yang dimaksud oleh banyak ahli tafsir makna al Muthoharun di dalam
ayat ini adalah para malaikat. Namun banyak juga ulama yang berdalil dengan ayat
tersebut dan keterangan lain bahwa hendaknya tidak menyentuh mushaf atau membaca
Al-Quran kecuali dalam keadaan suci. Inilah pendapat yang lebih selamat dan
mendekati kebenaran.

3. Dianjurkan

menghadap

kiblat

ketika

membaca

Al-Quran

jika

memungkinkan

4. Mengawali

bacaan

Al-Quran

dengan

membaca

istiadzah

(perlindungan terhadap gangguan setan yang terkutuk.)


Allah taala berfirman:
Apabila kamu membaca Al-Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada
Allah dari setan yang terkutuk. (QS. An Nahl [16]: 98)
Menurut jumhur ulama membaca Istiadzah saat membaca Al-Quran di luar sholat
hukumnya sunnah. Adapun lafadz istiadzah menurut jumhur ulama adalah sebagai
berikut:



Audzubillahi minasy Syaithoni Rojim / Aku berlindung kepada Allah dari godaan
setan yang terkutuk.
5. Membaca basmalah yaitu bacaan Bismillahirohmanirrohim di awal
setiap surat kecuali surat at-Taubah.
Dijelaskan oleh sebagian ulama mengapa basmalah tidak dicantumkan di awal surat,
karena surat tersebut berisikan baroah (pemutusan hubungan) antara kaum muslimin
dengan orang kafir serta berisi tentang jihad dan perang terhadap orang kafir.
6. Membaca al-Quran dengan penuh kekhusyuan, tidak bersenda gurau
dan tertawa-tawa.
7. Membaca Al-Quran dengan cara tartil.
Allah berfirman: dan bacalah Al-Quran itu dengan cara tartil. (QS. AlMuzzammil [73]: 4)
Maksud membaca dengan tartil adalah dengan seksama (perlahan-lahan) seraya
memperhatikan hukum tajwid yang benar.

8. Berusaha memperbagus bacaan Al-Quran.




Hiasilah Al-Quran dengan suara-suara kalian (HR. al-Baihaqi)



Bukan golongan kami orang yang tidak melagukan Al-Quran (HR. alBaihaqi)
Adapun maksud dari melagukan Al-Quran adalah memperjelas dan memperbagus
suara ketika membaca Al-Quran. Sehingga bisa meraih kekhusyuan dan menggugah
jiwa yang mendengarkan.

9. Memilih waktu dan tempat yang tepat dalam membaca Al-Quran.


Diantara waktu yang tepat untuk membaca Al-Quran ketika dalam sholat di malam
hari. Semakin mendekati sepertiga malam semakin baik. Adapun tempat yang paling
bagus yaitu di masjid-masjid Allah.
Allah berfirman:
Hai orang yang berselimut (Muhammad). Bangunlah (untuk sembahyang) di malam
hari, kecuali sedikit (daripadanya). (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari
seperdua itu sedikit. Atau lebih dari seperdua itu. dan bacalah Al-Quran itu dengan
cara tartil (perlahan-lahan). (QS. Al Muzzammil [73]: 4)

10. Melakukan sujud tilawah jika membaca ayat-ayat sajdah.


Sujud tilawah adalah sujud setelah membaca ayat-ayat sajdah (ayat-ayat yang
diperintahkan bagi pembacanya untuk sujud). Nabi bersabda:




:






Jika anak Adam membaca ayat sajadah, lalu dia sujud, maka setan akan
menjauhinya sambil menangis. Setan pun akan berkata-kata: Celaka aku. Anak
Adam disuruh sujud, dia pun bersujud, maka baginya surga. Sedangkan aku sendiri
diperintahkan untuk sujud, namun aku enggan, sehingga aku pantas mendapatkan
neraka. (HR. Muslim)
Sujud tilawah dilakukan dengan sekali sujud . Adapun bacaan sujud tilawah adalah
bacaan ketika sujud biasa di dalam sholat

() . Atau membaca doa.

Banyak doa yang beredar tentang doa sujud tilawah namun yang jelas-jelas shohih
adalah sebagai berikut:









Ya Allah untuk-Mu aku bersujud. Dan kepada-Mu aku beriman. Dan untuk-Mu aku
berserah diri. Bersujud wajahku kepada yang menciptakan Wajahku bersujud kepada
Penciptanya,

yang

Membentuknya,

yang

Membentuk

pendengaran

dan

penglihatannya. Maha Suci Allah Sebaik-baik Pencipta) (HR. Muslim)

11. Bertadabbur terhadap ayat-ayat Al-Quran yang sedang dibaca.


Allah taala berfirman: Ini adalah sebuah Kitab yang kami turunkan kepadamu
penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatNya dan supaya
mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran. (QS. Shod [38]: 29)
12. Berusaha menangis ketika membaca Al-Quran adalah terutama ketika
membaca ayat-ayat tentang dahsyatnya adzab neraka.
13. Tidak mengeraskan bacaan Al-Quran ketika didapati di sekitarnya ada
orang yang berdoa atau sholat.
Hal ini sebagaimana hadits berikut ini:

Bahwasanya Rosululloh keluar menemui manusia sementara mereka sedang sholat


(di masjid) dan suara bacaan Al-Quran mereka meninggi. Maka nabi berabda:
Sesungguhnya orang yang sholat sedang berunajat kepada Robbya Yang Maha
Mulia dan Maha Tinggi maka hendaknya masing-masing memperhatikan munajatnya
dan janganlah sebagian mengeraskan suara di atas yang lain dalam membaca AlQuran. (HR.Ahmad)
14. Menutup bacaan Al-Quran cukup dengan berhenti atau diam saja.
Tidak menjadikan bacaan shodaqollahul adzim/Maha Benar Allah (dengan segala
firman-Nya) sebagai bacaan yang senantiasa dibaca setiap kali selesai membaca AlQuran. Sehingga terkesan bahwa bacaan tersebut merupakan bacaan khusus dalam
mengakhiri bacaan Al-Quran

15. Disunnahkan berdoa ketika menghatamkan Al-Quran dengan doa-doa


kebaikan.
Hal ini sebagaimana atsar/riwayat shohih dari Anas bin Malik yang diriwayatkan
Imam Ad Darimi bahwa Anas ketika ia menghatamkan Al-Quran maka ia
mengumpulkan keluarganya dan berdoa.

16. Meletakkan Al-Quran di tempat yang layak dalam keadaan tertutup.


Sebaiknya di letakkan di tempat yang bersih, rapid an lebih tinggi. Jangan sampai
meletakkan al-Quran berceceran di lantai. Hal tersebut demi memuliakan kitabullah.
Jika buku kesayangan kita saja kita simpan dan letakan di tempat yang layak. Tentu
kitabllah jauh lebih dari itu.

2. 2 Huruf-Huruf Hijaiyah
Dalam bahasa arab, kita kenal dengan Huruf Hijaiyyah, yaitu huruf-huruf yang di
gunakan dalam pembentukan kata dalam bahasa Arab. Di bawah ini, kita akan
mencoba mengenal huruf Hijaiyyah yang berjumlah 29 huruf, yaitu :
Keterangan Huruf
No

Huruf Arab

Huruf Latin

Nama Huruf

a,i,u

alif

ba

ta

ts

tsa

jim

Ha

kh

kha

dal

dz

dzal

10

ra

11

Zai

12

sin

13

sy

syin

14

sh

shad

15

dh

dhad

16

th

tha

17

dzh

dza

18

a,i,u

ain

19

gh

ghain

fa

21

qaf

22

kaf

23

lam

24

min

25

nun

26

wau

27

ha

28

hamzah

29

ya

20

10

BAB III
TAJWID

3.1 Pengertian Tajwid


Secara lughat (bahasa) kata "Tajwid" berarti "Tahsin" (memperbaiki),
sedangkan menurut istilah adalah: "Mengeluarkan setiap huruf dari tempat keluarnya,
serta memberi hak-haknya, seperti: jelas kuat, lemah dan sifat-sifat huruf, seperti:
tebal, tipis, al-jahr, isti'la, istifal dan lain-lain. Haq huruf yaitu sifat asli yang
senantiasa ada pada setiap huruf atau seperti sifat Al-jahr, Istila, dan lain sebagainya.
Hak

huruf

meliputi

sifat-sifat

huruf

dan

tempat-tempat

keluar

huruf.

Mustahaq huruf yaitu sifat yang sewaktu-waktu timbul oleh sebab-sebab tertentu
,seperti; idh-har, ikhfa, iqlab, idgham, qalqalah, ghunnah, tafkhim, tarqiq, mad, waqaf,
dan lain-lain.
Imam Ali bin Tholib mengatakan bahwa Tajwid adalah mengeluarkan setiap
huruf dari makhrajnya dan memberikan hak setiap huruf (yaitu sifat yang melekat
pada huruf tersebut seperti qolqolah, Hams, dll) dan mustahaq huruf (yaitu sifat-sifat
huruf yang terjadi karena sebab-sebab tertentu, seperti izhar, idghom, dll.)
Pengertian lain dari ilmu tajwid ialah menyampaikan dengan sebaik-baiknya dan
sempurna dari tiap-tiap bacaan ayat al-Quran.
Pengertian tahsin ( )secara bahasa sama seperti pengertian tajwid yang
berasal dari kata

yang berarti membaguskan atau memperbaiki.


-

Adapun masalah-masalah yang dikemukakan dalam ilmu ini adalah makharijul huruf
(tempat keluar-masuk huruf), shifatul huruf (cara pengucapan huruf), ahkamul huruf
(hubungan antar huruf), ahkamul maddi wal qasr (panjang dan pendek ucapan),
ahkamul waqaf wal ibtida (memulai dan menghentikan bacaan) dan al-Khat alUtsmani.
Maka dapat dikatakan Ilmu Tajwid adalah pengetahuan tentang kaidah serta
cara-cara membaca Al-Quran dengan mengeluarkan huruf dari makhrojnya serta
memberi hak dan mustahaknya



Sebaik-baik

kamu

adalah

orang

yang

belajar

Al

Quran

dan

mengajarkannya(HR.Muslim).

11

3.2 Tajwid yang Terdapat Dalam Surah Adh-Dhuhaa

Ayat 1
idgham syamsiyah dan mad arid

ayat 2
idgham syamsiyah , mad layin , mad thobie dan mad aridl

ayat 3
mad thobie dan mad aridl

ayat 4
mad badal , idgham bilagunnah , idhar qomariyah , mad thobie dan mad aridl

ayat 5
mad layin , mad thobie dan mad aridl

ayat 6
idhar syafawi , qolqolah sugro , mad thobie , ikhfa' , mad badal , mad aridl

ayat 7
mad aridl

ayat 8
mad wajib muttashil , ikfa' , mad aridl

ayat 9
ghunnah , idhar qomariyah , qolqolah sugro

ayat 10
ghunnah , idgam syamsiyah , mad wajib muttashil , idhar halqi

ayat 11
ghunnah


Demi waktu matahari sepenggalahan naik, Waktu dhuha permulaan siang tatkala
matahari sepenggalah. Dimana kita melaksnakan sholat dhuha karena pada waktu itu,
Allah memberikan cahaya, kesempatan untuk mencari nafkah, keberkahan dunia dan
akhirat.

12


dan demi malam apabila telah sunyi, Tatkala siang ditutup dengan kegelapan malam


Tuhanmu

tiada

meninggalkan

kamu

dan

tiada

pula

benci

kepadamu,

Empat sabab turunnya ayat ini adalah : Riwayat dari Bukhori dan Muslim : sahabat
bertanya Nabi mengadu tidak bangun 3 hari 3 malam, maka dating istri abu lahab yang
membenci beliau, berkata : hai Muhammad, Aku beberapa hari ini tidak melihat
syaitanMu. Setiap para Nabi disediakan musuh oleh Allah, seperti Firaun di zaman
Nabi Musa, Tetapi lebih dahsyat Firaun Nabi Muhammad. Abu Lahab berkata :
tolong penggal leherku supaya terlihat gagah. Allah menyatakan syaiton sehingga
turun ayat ketiga yang diawali dengan sumpah.


dan

sesungguhnya

akhir

itu

lebih

baik

bagimu

dari

permulaan.

Lebih baik bagi dibandingkan kehidupan di dunia (permulaan) ada banyak cobaan di
dunia dan di akhirat tempat tertinggi atau mulia adalah Al Wasilah

Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu
menjadi puas.
Tuhan memberikan kebaikan-kebaikan, pemberian yang banyak hingga kamu puas.
Nabi bersabda : Benar ya Allah, kalau Allah beri pemberian. Demi Allah, Aku akan
menyelamatkan ummatKu walau seberat biji zarrah pun keimanan, kebaikan dihati,
maka aku akan berikan kehidupan yang lebih mulia di akhirat. Hadist lain mengatakan
: Keluarkan semua umat Nabi Muhammad dari api neraka walau dengan seberat biji
zarrah pun keimanan, kebaikan dihati seseorang maka aku akan berikan kehidupan
yang lebih mulia di akhirat.

13

Nabi bersabda : Manusia itu memiliki empat golongan


1) Manusia itu bahagia, senang di dunia dan di akhirat. Orang-orang yang
kaya melaksanakan ketaatan dan mendekatkan diri kepada Allah
2) Manusia itu susah di dunia dan di akhirat. Orang-orang fakir tetapi kafir
3) Manusia itu bahagia di dunia dan diakhirat mendapatkan kenikmatan
surge. Orang-orang yang kaya tetapi kafir
4) Manusia itu susah di dunia dan di akhirat menjadi orang-orang yang
bahagia. Orang-orang yang al fuqoro dan fakir, serta orang yang
meminta belas kasih orang yang mampu. Mereka orang-orang yang
istimewa oleh Allah, sahabat adalah yang terkaya. Rasulallah akan
mendoakan orang-orang kafir. Maka digambarkan di akhirat orang
kaya meminta syafaat kepada orang miskin.

Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu.
Rasulallah adalah anak yatim, tidak punya orang tua. Allah sangat melindungi
Rasulallah, tidak ada campur tangan manusia. Perihal akhlak rasul benar-benar Allah
mendidik maka bagus budi pekertinya.

Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk.

Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan
kecukupan.
Memberikan kecukupan, bukanlah orang kaya itu bukan dari material saja tetapi orang
kaya itu adalah orang yang hanya kaya hatinya

Adapun terhadap anak yatim maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang.
Nabi menjamin orang yang menafkahi anak-anak yatim

14


Dan terhadap orang yang meminta-minta maka janganlah kamu menghardiknya.
Rasul bersabda : kalau kamu menjumpai orang yang meminta-minta, berilah. Jika
tidak, tolaklah dengan lemah lembut

Dan terhadap nikmat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan
bersyukur).
Nabi mendapatkan kesusahan tetap bersyukur kebahagiaan tetap bersyukur.

15

DAFTAR PUSTAKA

http://arjonson-abd.blogspot.co.id/2009/08/tafsir-surah-adh-dhuha.html
https://ms.wikipedia.org/wiki/Surah_Adh-Dhuha
http://tresnaauliasari.blogspot.co.id/2012/10/kandungan-surat-ad-duha.html
https://pandipratama.wordpress.com/2012/05/05/isi-kandungan-surah-ad-duha/
http://www.alquran.gov.my/index.php/ms/al-quran/adab-membaca-al-quran
http://dainusantara.com/adab-adab-membaca-al-quran/
http://belajaralquan.blogspot.co.id/2012/09/mengenal-huruf-hijaiyyah.html
http://brainly.co.id/tugas/1126307

16