Anda di halaman 1dari 30

PROYEKSI STEREOGRAFI

(Laporan Praktikum Geologi Struktur)

Oleh
Egi Ramdhani
1315051018

JURUSAN TEKNIK GEOFISIKA


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS LAMPUNG
2014

LEMBAR PENGESAHAN

Judul Praktikum

: Proyeksi Stereografi

Tanggal Praktikum

: 28 Mei 2014

Tempat Praktikum

: Laboratorium Geofisika

Nama

: Egi Ramdhani

NPM

: 1315051018

Fakultas

: Teknik

Jurusan

: Teknik Geofisika

Kelompok

: 2 (Dua)

Bandar Lampung, 28 Mei 2014


Mengetahui,
Asisten

Achmad Subari
NPM. 1215051001

Proyeksi Stereografi
Oleh
Egi Ramdhani

ABSTRAK
Telah dilakukan praktikum mengenai proyeksi stereografi oleh praktikan Teknik
Geofisika angkatan 2013 pada hari kamis, 28 Mei 2014 lalu. Laporan ini
memaparkan tentang proses dan hasil yang terbentuk dalam proyeksi stereografi
selama praktikan melakukan praktikum. Praktikum ini dilakukan agar praktikan
dapat menggambarkan proyeksi dari bentuk permukaan bumi ini dengan
menggunakan metode yang telah ditetapkan sehingga mampu memperlihatkan
bentuk muka bumi pada sebuah bidang datar yang dibantu dengan menggunakan
proyeksi berbentuk lingkaran, dan berawal dari proyeksi bidang pada permukaan
bola (sphere). Dengan menggunakan jangka, alat tulis, kertas kalkir, penggaris
dan jaring stereografi wulfnet, praktikan dapat membuat proyeksi dengan baik dan
benar yang dipandu oleh pembimbing serta sebuah buku panduan. Sehingga pada
akhir praktikum, praktikan memeroleh berbagai macam gambar yang telah di
proyeksikan dengan arah jurus dan kemiringan yang telah ditentukan. Sehingga
pada proyeksi terdapat sebuah garis yang saling berpotongan dengan garis yang
membentuk sebuah sudut. Mencari sudut inilah yang menjadi tujuan utama dari
proyeksi stereografi ini. Dan sudut kemiringan semu yang diperoleh dalam
praktikum ini adalah 30. Ini berarti praktikum yang dilakukan berhasil dilakukan
karena hanya selisih 1 dengan yang semestinya yakni 31. Kesalahan tersebut
bisa terjadi karena kekurang telitian dalam pengukuran. Untuk gambar lain, yakni
penggambaran bidang dan garis tidak ada angka yang dicari hanya praktikan
diminta menggambarkannya sesuai prosedur yang tertera serta mencocokan hasil
akhirnya dengan gambar yang telah ada di modul praktikum.

ii

DAFTAR ISI
Halaman
LEMBAR PENGESAHAN .............................................................................i i
ii
ABSTRAK.........................................................................................................ii
iii
DAFTAR ISI.....................................................................................................iii
iv
DAFTAR GAMBAR........................................................................................iv
v
DAFTAR TABEL.............................................................................................v
BAB I. PENDAHULUAN
1
1.1. Latar Belakang........................................................................................1
2
1.2. Tujuan ...................................................................................................2
BAB II. TEORI DASAR
2.1. Proyeksi Stereografi................................................................................3
3
2.2. Jenis Proyeksi Stereografi...........................................................................
2.3. Lingkaran Primitif................................................................................ 4
4
2.4. Proyeksi Bola................................................................................................
2.5. Proyeksi Peta......................................................................................... 4
BAB III. PROSEDUR PRAKTIKUM
5
3.1.Alat dan Bahan........................................................................................5
6
3.2.Langkah Kerja........................................................................................6
9
3.3.Diagram Alir...........................................................................................7
BAB IV. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
11
4.1.Hasil Pengamatan........................................................................................1
11
4.2.Pembahasan.................................................................................................
BAB V. KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

iii

DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 3.1. Kertas Gambar .............................................................................. 6
Gambar 3.2. Mistar............................................................................................. 6
Gambar 3.3. Jangka .......................................................................................... 6
Gambar 3.4. Pensil.............. ................................................................................7
Gambar 3.5. Kertas Kalkir................................................................................. 7

iv

DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 4.1. Tabel hasil pengamatan ............................................................. 11

BAB I. PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Geofisika

adalah

disiplin

ilmu

yang

mempelajari

mengenai

bumi

menggunakan kaidah-kaidah yang ada dalam fisika. Sebagai seorang


Geofisikawan, kita tidak akan pernah terlepas dari aspek yang berkaitan erat
dengan bumi. Dimana setiap tindakan yang kita lakukan akan selalu
membahas bagaimana keadaan bumi di suatu wilayah yang kemudian dengan
mengetahui bagaimana tepatnya keadaan tersebut kita dapat menganalisa apa
yang terkandung di dalamnya. Ada banyak hal yang tidak akan mampu
dilakukan untuk mengetahui bagaimana keadaan bumi yang sebenarnya tanpa
melakukan berbagai pendekatan pendekatan yang mengantarkan kepada hal
yang memudahkan untuk pembacaan keadaan yang sebenarnya, salah satunya
yaitu dengan melakukan proyeksi.

Berangkat dari praktikum praktikum terdahaulu, dimana yang selalu dibahas


berkaitan dengan struktur, baik struktur batuan beserta dengan hal hal
pendukungnya, kemudian juga membahas sesar sebagai gejala alam yang
kemudian mempengaruhi bentuk dari struktur yang terbentuk sehingga
mengalami perubahan berupa lipatan lipatan yang kemudian dilanjutkan
dengan praktikum stereografi ini untuk menggambarkan bagaimana garis dan
bidang yang telah dibahas di bab awal yang saling berpotongan yang
kemudian akan membentuk suatu sudut dengan besar sudut yang susah untuk
diketahui tanpa mempelajari bagaimana cara mendapatkan nilai sudut
tersebut.

Selanjutnya

untuk

mempermudah

pencarian

nilai

tersebut

dilakukanlah analisa analisa dan penggambaran dari perpotongan tersebut

yang diproyeksikan pada sebuah jaring wulfnet yang dilengkapi kotak sudut
serta arah. Sehingga mempermudah praktikan menggambarkan sebuah

Bidang ataupun garis dalam bentuk bola (sphere) dan dilihat hasilnya dari
bidang horizontalnya. Untuk lebih memahami dan mengerti mengenai
proyeksi stereografi dalam mata kuliah Geologi Struktur, maka dilakukanlah
praktikum ini.

1.2.

Tujuan
Adapun tujuan dari precobaan ini adalah sebagai berikut

1. Mahasiswa mengetahui dann memahami proyeksi stereografi.


2. Mahasiswa mampu menggambarkan struktur bidang dan garis pada
stereografi.
3. Mahasiswa

mampu

menggunakan

proyeksi

stereografi

untuk

menyelesaikan permasalahan geologi struktur.

BAB II. TEORI DASAR


2.1. Proyeksi Stereografi
Proyeksi stereografi adalah gambaran dua dimensi atau proyeksi dari
permukaan sebuah bola sebagai tempat orientasi geometri bidang dan garis.
Proyeksi ini hanya menggambarkan geometri kedudukan atau orientasibidang
dan garis, sehingga hanya memiliki kemampuan untuk memecahkan masalah
yang

berkaitan

dengan

geometri

(besaran

arah

dan

sudut)

saja.

Analisisgeometri struktur geologi atau bidang-bidang diskontinu menerapkan


prinsip-prinsip proyeksi stereografi menggunakan bantuan stereonet , berupa
Wulf Net,Schmidt Net, Equal Area Net, Polar Net dan Karlbeek Counting Net.
(Asikin, 1978).
2.2. Jenis Proyeksi Stereografi
Proyeksi Stereografis merupakan proyeksi yang didasarkan pada perpotongan
bidang dengan suatu permukaan bola (sphere). Yang di pakai sebagai
gambaran posisi struktur di bawah permukaan adalah belahan bola bagian
bawah (bidang horizontal bola). Adapun macammacam proyeksi strereografi
adalah :
1. Equal angle projection net atau wulfnet.
2. Equal area net atau schmidt net.
3. Orthographic net.
4. Polar Projection.
Polar Projection atau Proyeksi kutub pada dasarnya sama dengan proyeksi
strereografi di mana unsur struktur bumi di gambar pada permukaan bola
bagian bawah dan akan dilihat nantinya pada bagian belahan tengan bola
(horizontalnya) bagian inilah yang memproyeksikan suatu bidang atau garis
(Noor, 2006).

2.3. Lingkaran Primitif


Proyeksi stereografi merupakan proyeksi yang didasarkan padaperpotongan
bidang atau garis dengan suatu bidang proyeksi yang berupa bidang
horizontal yang melalui sebuah bola. Bidang ini akan berbentuk lingkaran,
disebut lingkaran primitif. Lingkaran primitif merupakan proyeksi yang
kedudukannya (dip = 0). Oleh sebab itu, penentuan proyeksi dip untuk bidang
dimulai pada lingkaran luar, dandip 90 terletak pada pusat lingkaran (Selley,
1999).
2.4. Proyeksi Bola
Dalam proyeksi stereografi, yang memproyeksikan bola ke sebuah bidang
datar Proyeksi didefinisikan pada seluruh wilayah, kecuali pada satu titik
titik proyeksi. Apabila didefinisikan, pemetaan yang halus dan bijektif . Hal
ini konformal , artinya mempertahankan sudut . Hal ini tidak isometrik:
artinya, tidak menjaga jarak atau bidang angka. Secara intuitif, proyeksi
stereografik adalah cara membayangkan bola sebagai Bidang datar, dengan
beberapa aturan yang harus diikuti. Dalam prakteknya, proyeksi dilakukan
oleh komputer atau dengan tangan menggunakan jenis khusus dari kertas
grafik disebut stereonet atau Wulff net dan Schmidtt Net (Yani, 2007).

2.5. Proyeksi Peta


Proyeksi Peta secara Umumnya berdasarkan bidangnya, dibagi menjadi 3
yaitu proyeksi Azimut atau Zenithal, proyeksi silinder, dan proyeksi kerucut.
a. Proyeksi azimut / zenithal adalah bidang proyeksi yang menyinggung bola
pada kutub. proyeksi azimuth normal adalah proyeksi menyinggung bola
bumi bagian kutub apabila menyinggung bola bumi diantara equator dan
kutub proyeksi disebut proyeksi oblique. Dan yang menyinggung bola
bumi bagian equator disebut proyeksi azimut transversal.

b. Proyeksi sillinder adalah bidang proyeksi yang menyinggung bola bumi


pada lingkaran tertentu.proyeksi sillinder transversal adalah sillindernya

menyinggung bola bumi dikutub apabila sillindernya menyinggung bola


bumi diantara ekuator dan kutubdisebut proyeksi oblique. jika sillindernya
menyinggung bola bumi ekuator disebut proyeksi normal.
Proyeksi

kerucut

adalah

kerucut

yang

menyinggung

lingkaran

paralel.Proyeksi kerucut normal adalah sumbu kerucut berimpit dengan


sumbu bumi apabila sumbu kerucut tegak lurus dengan sumbu bumi disebut
proyeksi kerucut transversal. dan proyeksi kerucut oblique jika menyinggung
bola bumi antara kutub dan equator (Polo,1993).

BAB III. PROSEDUR PRAKTIKUM


3.1. Alat dan Bahan
Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah :
1. Kertas gambar

Gambar 3.1. Kertas Gambar


2. Mistar

Gambar 3.2. Mistar


3. Jangka

Gambar 3.3. Jangka

4. Pensil

Gambar 3.4. Pensil


5. Kertas Kalkir

Gambar 3.5. Kertas Kalkir

3.2. Langkah Kerja


Adapun langkah kerja yang dilakukan dalam percobaan proyeksi stereografi
kali ini adalah :
A. Cara penggambaran unsur struktur dengan Wulf Net.
1. Meletakan kertas kalkir diatas jaringg wulf net, menggambar
lingkaran luarnya dan memberi tanda mata angin.
2. Menggambar garis jurus melalui pusat lingkaran sesuai dengan harga
jurusnya.
3. Memutar kalkir hingga jurus berimpit dengan garis utara-selatan,
dimana titik utara jaring berimpit harga jurus.
4. Menggambar garis lengkung stereogram sesuai dengan besarnya
kemiringan, dengan besaran 0 dipinggir dan 90 dipusat lingkaran, dan
mengikuti lengkung lingkaran besar pada jaring.
5. Apabila stereogram bidang telah tergambar, memposisikan kembali
kalkir pada posisi semula.

B. Penggambaran Struktur Bidang N40W/30SW


1. Meletakan kalkir diatas jaring wulf net.
2. Menggambar lingkaran luar wulfnet pada kalkir dan memberi tanda
mata angin (N,E,S,W).
3. Mengukurkan besaran jurus 40 ke arah barat (W) dari utara (N)
4. Menggambar garis jurus.
5. Mengukur sudut kemiringan 30 sepanjang garis barat-timur pada sisi
W.
6. Mengembalikan kalkir pada posisi semula.
6.
C. Penggambaran Struktur Garis 26, N40E
1. Meletakan kalkir diatas jaring wulf net.
2. Menggambar lingkaran luar wulfnet pada kalkir dan memberi tanda
mata angin (N,E,S,W).
3. Mengukurkan besaran trend 40 ke timur (E) dari utara (N) tandai
arah garis trend.
4. Memutar garis trend kearah garis barat-timur, mengukur sudut
penujaman 26.
5. Mengembalikan pada posisi semula, proyeksi digambarkan dalam titik
atau garis.
7.
D. Menentukan Besar Kemiringan Semu Pada Arah N80E dari Suatu
Bidang N50E/50SE.
1. Meletakan kalkir diatas jaring wulf net.
2. Menggambar lingkaran luar wulfnet pada kalkir dan memberi tanda
mata angin (N,E,S,W).
3. Memutar posisi kalkir ke arah 50 arah barat-timur.
4. Menggambarkan kedudukan bidang putar transparan 50 searah garis
barat-timur pada sisi E, menggambar stereogramnya.
5. Mengembalikan posisi kalkir pada posisi awal, menandai arah N80E.
6. Memutar arah pada sisi E, membaca besaran sudut.
7. Mendapatkan kemiringann semu 31.

8. 3.3. Diagram Alir


9.

10.

Adapun diagram alir pada praktikum kami kali ini adalah :

A. Cara Penggambaran Unsur Struktur dengan Wulf Net.


11.
Kalkir diletakan diatas
12.
wulf net, diberi tanda
13.
mata angin.
14.
Garis jurus digambar
15.
melalui pusat lingkaran.
16.
17.
Kalkir diputar hingga
jurus berimpit N-S.
18.
19.
Garis lengkung
20.
stereogram digambar
21.
sesuai besar kemiringan
22.
Posisi Kalkir
23.
dikembalikan ke posisi
24.
awal.
25.
26.

Hasil

27.
B. Penggambaran Struktur bidang N40W/30SW.
28.
Kalkir diletakan diatas
29.
wulf net, diberi tanda
mata angin.
30.
Besaran jurus diukur 40
ke arah W dari arah N.
Garis jurus digambarkan
Sudut kemiringan diukur
30 sepanjang garis W-E
di sisi W.
Hasil

C. Penggambaran Struktur Garis 26, N40E.


31.
Kalkir diletakan diatas
32.
wulf net, diberi tanda
mata angin.
33.
34.
Besaran trend diukur 40
35.
ke arah timur dari utara.
36.
Trend diputar ke garis
37.
batar-timur dan diukur
38.
sudut 26.
39.
Posisi kalkir dikembalikan
40.
ke posisi semula. Proyeksi
41.
digambarkan titik atau
garis.
42.
43.
44.

Hasil

D. Menentukan Besar Kemiringan Semu Pada Arah N80E dari Suatu Bidang
N50E/50SE.
45.
Kalkir diletakan diatas
wulf net, diberi tanda
46.
mata angin.
47.
48.
Memutar kalkir 50
searah barat-timur.
Kedudukan bidang
digambar pada kalkir 50
searah garis barat-timur
pada sisi E, stereogram
digambar.
Mengembalikan kalkir di
posisi semula, arah N80E
ditandai.
Arah tanda diputar sisi E.
Hasil

10

49. BAB IV. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN


4.1.

50.
Hasil Pengamatan
51.
52.
Adapun hasil pengamatan yang didapatkan dari praktikum ini
adalah sebagai berikut :
54. Kedudukan

53. Proyeksi

72.

56. Ju
ru
s

60. N
40
59. Bidang

W
64. N
40
63. Garis

E
68. N
80

67. Bidang
E
kemiringa
69. N
n semu.
50

E
Tabel 4.1. Tabel hasil Pengamatan.

73.
74.
4.2. Pembahasan
75.
76.
Setelah

mendapatkan

pengarahan

57. Ke
miri
nga
n
Sebe
nar
nya

58. K
e
m
ir
i
n
g
a
n
S
e
m
u

61. 30
SW

62. -

65. 26

66. -

70. 50S
E

71. 3
1

dari

pembimbing

dan

mengetahui apa yang dimaksud dengan proyeksi stereografi serta memahami


fungsinya, dengan disertai sebuah buku panduan yang berisi pengantar

paraktikan dapat membuat gambar proyeksi stereografi sesuai dengan data


yang dimiliki berupa data arah dan penunjaman dari sebuah struktur bidang
dan sebuah data dari struktur garis. Dengan berbekalkan ilmu pengetahuan
serta alat alat yang telah dipersiapkan praktikan dapat membuat gambar
proyeksi stereografi diatas secari kertas kalkir.
77.
78.

Pada awal praktikum, asisten menjelaskan terlebih dahulu secara

ringkas terkait mengenai proyeksi stereograsi, beik itu pengertian, fungsi dan
lain sebagainya. Lalu, asisten menjelaskan praktikum secara umum dan
jalannya praktikum nanti akan seperti apa. Setelah pemaparan dari asisten
selesai, praktikum dimulai. Praktikan diminta menyiapkan alat dan bahan
untuk praktikum dan memotong kalkir A3 ke ukuran A4 agar mudak diputar
untuk memproyeksikan bidang atau garis. sebelumnya, asisten membagikann
jaring wulf net ke praktikan. Jaring yang dibagikan terdapat jaring berkotak
besar dan jaring berkotak kecil.

79.

Praktikumm dimulai dengan terlebih dahulu menggambarkan

proyeksi bidang pada jaring wulf net berkotak besar yakni penggambaran
struktur bidang dengan kedudukan N40W/30SW. Lalu Praktikum
dilanjutkan dengan memproyeksikan struktur garis 26, N40E pada proyeksi
stereografi dan diakhiri dengan penggambaran struktur bidang untuk
menentukan kemiringan semu pada suatu bidang dengan arah kedudukan
N80E dari suatu bidang N50E/50SE. Saya mendapatkan hasil kemiringan
semu sebesar 30 disini, ini berarti meleset 1 dari referensi yang diberikan
pada buku panduan praktikum. Ketidak tepatan ini dimungkinkan terjadi
karena kesalahan mata pengamat dalam menjalankan praktikum atau pula
kesalahan pembacaan drajat pada jaring wulf net mengingat jaring wulf net
berkotak kecil yang kami gunakan berukuran kecil.
80.
81.

Pembelajaran mengenai proyeksi stereografi ini sangat penting

dipelajari bagi seorang mahasiswa geofisika ataupun geologi. Karena


proyeksi ini nantinya akan sangat membantu daslam kasus tertentu yang
terjadi di lapangan. Seperti mengetahui posisi kedudukan sumur bot yang
diproyeksikan ataupun kedudukan batubara pada suatu bidang lapisan. Di sisi
lain, inti dari pembelajaran proyeksi stereografi ini sendiri sesuai dengan
tujuan praktikum yakni agar mahasiswa nantinya mampu memahami
mengenai

proyeksi

menggunakan

dan

stereografi,
membaca

mahasiswa
struktur

mampu

bidang

menggambarkan,

ataupun

garis

yang

diproyeksikan di dalam proyeksi stereografi, serta mahasiswa nantinya


diharapkan mampu menggunakan proyeksi stereografi dalam menyelesaikan
permasalahan yang terdapat dalam geologi struktur. Seutuhnya, mahasiswa
diharapkan mampu memahami, menggunakan dan membaca proyeksi
stereografi sebagai bekal bekerja nantinya setelah lulus dari studi teknik
geofisikanya dan menjadi seorang geofisis.
82.
83.

Sejarah proyeksi stereografi ini sangatlah panjang Proyeksi

stereografi dikenalken oleh Hipparchus, Ptolemy dan kemungkinan tercipta di

12

Mesir.

Ini

pada

awalnya

dikenal

sebagai

proyeksi

planisphere.

Planisphaerium di

12

84.

kenalkan Ptolemy adalah yang tertua yang masih tersimpan di

dokumen yang menjelaskan hal tersebut. Salah satu kegunaan yang paling
penting adalah representasi grafik ini adalah dalam pemetaan langit di bidang
astronomi. The planisphere Istilah ini masih digunakan untuk merujuk pada
grafik

tersebut.

Hal ini diyakini bahwa awal peta dunia yang ada dibuat oleh Gualterious Lud
of St DIE dan Lorraine pada tahun 1507 didasarkan pada proyeksi
stereografis, pemetaan masing-masing belahan sebagai disk melingkar.
Franois d' Aiguillon yang memberikan nama untuk proyeksi stereographic
saat ini dalam bukunya 1613 Work Opticorum libri sex philosophis juxta ac
mathematicis utiles ( Enam Kitab Optik , berguna untuk filsuf dan
matematikawan) Pada 1695, Edmond Halley , dimotivasi oleh minatnya
dalam grafik bintang, menerbitkan bukti matematis pertama yang peta ini
adalah konformal. Aplikasi dari penggunaan proyeksi stereografi ini adalah
untuk pembelajaran proyeksi stereografi, selain itu juga diguknakan untuk
pendeskripsian geometri dan juga pemetaan langit.

13

85. BAB V. KESIMPULAN


86.
87.
88.

Adapun kesimpulan yang dapat saya tarik dari pelaksanaan praktikum saya

adalah sebagai berikut :


1. Dengan

melakukan

penggambaran

bentuk

muka

bumi

dengan

memanfaatkan proyeksi stereografi, dapat mempermudah kita dalam


memahami dan menganalisa bagaimana bentuk yang sebenarnya pada
bidang perlapisan atau garis geologi di bumi ini.
2. Proyeksi ini hanya menggambarkan geometri kedudukan atau orientasi
bidang

dan

garis,

sehinggahanya

memiliki

kemampuan

untuk

memecahkan masalah yang berkaitan dengan geometri (besaran arah dan


sudut) saja.
3. Proyeksi stereografi merupakan cara pendekatan deskripsi yang efisien
untuk menggambarkan hubungan sudut antara garis dan bidang secara
langsung.
4. Proyeksi

Stereografi

digunakan

untuk

menggambarkan

geometri

kedudukan atau orientasi bidang dan garis.


5. Dengan menggunakan proyeksi ini kita dapat mengetahui sudut yang
terbentuk antara struktur garis dan struktur bidang yang diproyeksikan.
6. Hasil pengamatan kemiringan semu pada suatu bidang menghasilkan
pembacaan sebesar 30, meleset 1 dari referensi yang dimuat pada buku
panduan. Ini kemungkinan disebabkan dari kesalahan pengamatan ataupun
kesalahan pembacaan.

7.

DAFTAR PUSTAKA

8.
Asikin, Sukandar. 1978. Dasar-dasar Geologi Struktur . Bandung. Institut
Teknologi Bandung.
10.
11. Noor, Djauhari. 2006. Geologi Lingkungan. Yogyakarta: Graha Ilmu.
12.
13.
Polo, L., dkk.. 1993. Analisis pola & karakter kekar untuk
menentukan struktur geologi sesar dan kondisi fisik batuan.
Bandung : UNPAD.
14.
15.
Selley, Richard C. 1999. Unsur Geologi Petroleum (diterjemahkan oleh
Arrifin samsuri). Universitas Teknologi Malaysia : Skudai.
16.
17.
Yani, Ahmad dan Mamat Ruhimat. 2007. Geologi Struktur : Analisis
Proyeksi Stereografi. Jakarta: Grafindo Media Pratama.
18.
9.

19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.
28.
29.
30.
31.

32.
33.
34.
35.
36.
37.
38.
39.
40.
41.

42. LAMPIRAN
43.
44.
45.
46.
47.
48.
49.
50.
51.
52.
53.

54. TUGAS 4

55.

Focal Mechanism Diagrams in a


Nutshell
56. By
57. Andrew Alden : U.S. Geological Survey
58.

59.

U.S. Geological Survey image

60. The focal mechanism of an earthquake sums up (1) the slip motion of the
rocks underground and (2) the orientation of the fault that the slip occurred
on. (See Fault Types in a Nutshell for a quick explanation of the three
basic fault types.)
61. The "beachball" diagram is built from seismograms recorded around an
earthquake. The first motion of the arriving P-waves is checked for each
seismograph station, to see if it's a pushing (upward/away from the source)
or a pulling (downward/toward the source) motion. Pushing is
compression; pulling is tension. This first-motion information is plotted as
it would appear on a hollow half-sphere sunk in the ground, showing what
directionboth compass direction and vertical anglethe seismic waves
left the quake focus to reach each station. (The half-sphere is represented
on flat paper as an equal-area projection.) Compressions are marked black,
tensions are marked white, that is, as circles. In a well-behaved earthquake
with well-recorded data, all the compressions cluster in two opposite
quadrants. Same with the tensionsthey occupy the other two quadrants.
62. The fault that created the compression and tension runs exactly between
black and white, where tension and compression balance. That's what the
top diagrams (A) show, with the compressive areas shown black and
tension areas shown white. The motion of the rocks at the source of the
earthquake goes from white toward the black. (The P and T axes, shown
by dots marking one end, are part of the moment tensor, which is the
ultimate boiled-down mathematical description of the quake motions. You
can ignore them.)
63. The trouble is that there are two solutions to the diagram, two planes along
which earthquake motions could yield the same seismographic results.
One is the real fault plane, therefore the other, called the auxiliary plane,
has no physical meaning. Seismographic evidence alone isn't enough to
choose the right one. That's why in (B) there are two different slip

diagrams shown for each focal mechanism. Usually there are enough clues
in the local geology or aftershock patterns to pick the right solution.
64. They teach this material to geology majors, but not every student retains it.
I'm one of those guys that has to consult this diagram several times a year.
For a much more thorough treatment of the subject including exercises,
see this PDF by Vince Cronin of Baylor University, "A Draft Primer on
Focal Mechanism Solutions for Geologists."
65.