Anda di halaman 1dari 49
dr. Setiawan Dalimartha ©: o a ATLAS TUMBUHAN OBAT INDONESIA Atlas Tumbuhan Obat Indonesia Jilid 1 Penulis dr. Setiawan Dalimartha Perancang sampul Jumanta Foto sampul dan isi: Dokumentasi dr. Setiawan Dalimartha Penerbit : Trubus Agriwidya, Anggota Ikapi Redaksi » Wisma Hijau JI. Mekarsari Raya No. 15 ‘Telp. (021) 8729060, 87701746 Facs, (021) 8712219, 8729059 wara@cbn.net.id Depok 16952 Pemasaran : JL Gunung Sahari 11/7 Telp. (021) 4204402, 4255354 Faes. (021) 4214821 Jakarta 10610 Cetakan 1 Jakarta, 1999 XI Jakarta, 2008 Buku ini dilindongi undang-undang Buku ini diterbitkan untuk PT Pustaka Pembangunan Swadaya Nusantara FX1/034,99 Perpustakaan Nasional RI: Katalog Dalam Terbitan (KDT) Dalimartha, Setiawan Atlas tambuhan obat indonesia jilid 1/Setiawan Dalimartha --Cet.1--Jakarta: Trubus Agriwidya, 1999, viii + 170 him.; 23 ISBN 979-661-050-7 |. Tanaman obat 1. Judul 633.88 DAFTAR ISI SAMBUTAN KETUA SP3T DKI JAKARTA wee OV SAMBUTAN KEPALA PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN FARMASI DEPKES RI vi PENGANTAR PENULIS . vii DAFTAR ISI . 4 JENIS-JENIS TUMBUHAN OBAT INDONESIA lL. Adas Foeniculum vulgare Mill. 2. Barucina Artemisia vulgaris L. 7 3. Bayam duri Amaranthus spinosus L. 13 4, Beluntas Pluchea indica (L.) Less. 18 5. Beringin Ficus benjamina L. ...... 22 6. Cabe jawa Piper retrofractum Vahl. .. + 25 7. Cakar ayam Selaginella doederleinij Hicron .. 29 8. Ceremai Phyllanthus acidus (L.) Skeel: 32 9. Daun dewa Gynura segetum (Lour.) Mert..... 36 10. Daun duduk Desmodium triquetrum DC. 41 11. Daun encok Plumbago zeylanica L. ... 44 12. Daun madu Barleria Cristata Ly ..essecessessssveeeseseeseeeeees 48 13. Daun sendok Plantago mayor L. ...... 50 14, Daun wungu Graptophyllum pictum (L.) Griff 57 15. Gandarusa Justicia gendarussa Burm. f. .......00.0000 61 16. Gude Cajanus cajan (Linn.) Millsp. 65 17. Inggu Ruta angustifolia (L.) Pers. 68 18. Kemuning Murraya paniculata (L.) Jack....... BB 19. Kompri Symphytum officinale L. 78 20. Landep Barleria prionitis 82 21. Landik Barleria lupulina Lindl 85 22. Mangkokan Nothopanax scutellarium Mert. 87 aoe UMubei _ Morasal@' Lorsawmmnaecnoreun “SO 24. Pacar cina 25. Padi 26. Pandan Wangi 27. Prasman 28. Pulai 29. Pule pandak 30. Sambiloto 31. Sembung 32. Senggani 33. Senggugu 34. Som jawa 35. Sosor bebek 36. Srigading 37. Tapak dara 38. Teh 39. Tembelekan 40. Tempuyung DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN Aglaia odorata Lour. 96 Oryza sativa L... 99 Pandanus amaryllifolius ROXb. ccc. 103 Eupatorium triplinerve- Vahl. 107 Alstonia scholaris R. Br. .... 110 Rauvolfia serpentina (L.) Bentham ex. Kurz. ...... 115 Andrographis paniculata (Burm.f.) Nees Blumea balsamifera (L.) DC. Melastoma candidum D. Don, «1... 130 Clerodendron serratum (L.) Spr. . Talinum paniculatum (Jacq.) Gaertn. Kalanchoe pinnata (Lam.) Pets. ........... 139 Nyctanthes arbor-tristis Le... 143 Catharanthus roseus (L.) G. Don 146 Camellia sinensis (L.) Kuntze ......... 150 Lantana camara Linn, «1... 154 Sonchus arvensis Ly secs 158 z 2 3S Supt Sy Gy Pe ee NAMA LATIN Aglaia odorata Lout. Alstonia scholaris R. Br. Amaranthus spinosus L. Andrographis paniculata (Burm.f.) Nees. Artemisia vulgaris L. Barleria cristata L. Barleria lupulina Lindl. Barleria prionitis L. Blumea balsamifera (L.) DC. Cajanus cajan (Linn.) Millsp. Camellia sinensis (L.) Kuntze Catharanthus roseus (L.) G. Don Clerodendron serratum (L.) Spr. Desmodium triquetrum DC. Eupatorium triplinerve Vahl. Ficus benjamina L. Foeniculum vulgare Mill. Graptophyllum pictum (L.) Griff. Gynura segetum (Lour.) Merr. Justicia gendarussa Burm. f. Kalanchoe pinnata (Lam.) Pers. Lantana camara Linn. Melastoma candidum D. Don. Morus alba L. Murraya paniculata (L.) Jack Nothopanax scutellarium Mert. Nyctanthes arbor-tristis L. xi Oryza sativa L. Pandanus amaryllifolius Roxb. Phyllanthus acidus (L.) Skeels. Piper retrofractum Vahl. Plantago mayor L. Pluchea indica (L.) Less. Plumbago zeylanica L. Rauvolfia serpentina (L.) Bentham ex. Kurz. Ruta angustifolia (L.) Pers. Selaginella doederleinii Hieron Sonchus arvensis L. Symphytum officinale L. Talinum paniculatum (Jacq.) Gaertn. xii PETUNJUK SEPUTAR PENGGUNAAN TUMBUHAN OBAT alam menggunakan tumbuhan obat, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sehingga didapat hasil pengobatan yang maksimal. Bacalah dengan seksama semua petunjuk seputar penggunaan tumbuhan obat di bawah ini. A. Identifikasi Dalam buku ini terdapat ilustrasi tumbuhan obat dengan foto berwarna disertai uraiannya yang cukup jelas sehingga pembaca dapat mengetahui ciri-ciri tumbuhan obat yang dimaksud. Hal ini perlu diperhatikan karena banyak tumbuhan yang mirip tetapi tidak berkhasiat atau mempunyai khasiat yang berbeda. B. Nama Beberapa hal perlu dijelaskan tentang nama tumbuhan obat yang dipakai dalam buku ini. 1) Nama pada judul: menggunakan nama yang paling umum digunakan pada kepustakaan yang ada. 2) Nama ilmiah: menggunakan nama latin yang paling umum dipakai. 3) Sinonim: nama latin lain untuk tumbuhan obat yang sama, atau tumbuhan obat yang berbeda namun mempunyai khasiat yang sama. 4) Nama asing: menggunakan nama yang paling umum dipakai pada buku-buku kepustakaan luar negeri. C. Waktu Pengumpulan Guna mendapatkan bahan yang terbaik dari tumbuhan obat, perlu diperhatikan saat-saat pengumpulan atau pemetikan bahan berkhasiat. xiii Berikut ini pedoman waktu pengumpulan bahan obat secara umum, bila tidak dinyatakan lain. }) Daun dikumpulkan sewaktu tanaman berbunga dan sebelum buah menjadi masak. 2) Bunga dikumpulkan sebelum atau segera setelah mekar. 3) Buah dipetik dalam keadaan masak. 4) Biji dikumpulkan dari buah yang masak sempurna. 5) Akar, rimpang (rhizoma), umbi (tuber), dan umbi lapis (bulbus) dikumpulkan sewaktu proses pertumbuhannya terhenti. D. Pencucian dan Pengeringan Bahan obat yang sudah dikumpulkan segera dicuci bersih, sebaiknya.dengan air yang mengalir. Setelah bersih, dapat segera dimanfaatkan bila diperlukan pemakaian bahan segar. Namun, bisa pula dikeringkan untuk disimpan dan digunakan bila sewaktu-waktu dibutuhkan. Pengeringan bertujuan untuk mengurangi kadar air dan mencegah pembusukan oleh cendawan atau bakteri. Dengan demikian, bahan dapat disimpan lebih lama dalam stoples atau wadah yang tertutup rapat. Bahan kering juga mudah dihaluskan bila ingin dibuat serbuk. Berikut ini cara mengeringkan bahan obat. 1) Bahan berukuran besar atau banyak mengandung air dapat dipotong-potong seperlunya terlebih dahulu. 2) Pengeringan bisa langsung di bawah sinar matahari, atau memakai pelindung seperti kawat halus jika menghendaki pengeringan yang tidak terlalu cepat. 3) Pengeringan bisa juga dilakukan dengan mengangin-anginkan bahan di tempat yang teduh atau di dalam ruang pengering yang aliran udaranya baik. E. Sifat dan Cita Rasa Di dalam Traditional Chinese Pharmacology dikenal 4 macam sifat dan 5 macam cita rasa tumbuhan obat, yang merupakan bagian dari cara pengobatan tradisional timur. Adapun keempat macam sifat tumbuhan obat itu ialah dingin, panas, hangat, dan sejuk. Tumbuhan xiv obat-yang sifatnya panas dan hangat dipakai untuk pengobatan sindroma dingin, seperti pasien yang takut dingin, tangan dan kaki dingin, lidah pucat, atau nadi lambat. Tumbuhan obat. yang bersifat dingin dan sejuk digunakan untuk pengobatan sindroma panas, seperti demam, rasa haus, warna kencing kuning tua, lidah merah, atau denyut nadi cepat. Lima macam cita rasa dari tumbuhan obat ialah pedas, manis, asam, pahit, dan asin. Cita rasa ini digunakan untuk tujuan tertentu karena selain berhubungan dengan organ tubuh, juga mempunyai khasiat dan kegunaan tersendiri. Misalnya rasa pedas mempunyai sifat menyebar dan merangsang. Rasa manis berkhasiat tonik dan menyejukkan. Rasa asam berkhasiat mengawetkan dan pengelat. Rasa pahit dapat menghilangkan panas dan lembap. Sementara rasa asin melunakkan dan sebagai pencahar. Kadang-kadang ada penulis yang menambahkan cita rasa yang keenam, yaitu netral atau tawar yang berkhasiat sebagai peluruh kencing. F. Cara Merebus Ramuan Obat Perebusan umumnya dilakukan dalam pot tanah, pot keramik, atau panci email. Pot keramik dapat dibeli di toko obat tradisional Tionghoa. Panci dari bahan besi, aluminium, atau kuningan sebaiknya tidak digunakan untuk merebus. Hal ini perlu diingat karena bahan tersebut dapat menimbulkan endapan, konsentrasi larutan obat yang rendah, terbentuknya racun, atau menimbulkan efek samping akibat terjadinya reaksi kimia dengan bahan obat Gunakan air yang bersih untuk merebus. Sebaiknya digunakan air tawar, kecuali ditentukan lain. Cara merebus bahan sebagai berikut. Bahan obat dimasukkan ke dalam pot tanah. Masukkan air sampai bahan terendam seluruhnya dan permukaan air berada sekitar 30 mm di atasnya. Perebusan dimulai bila air telah meresap ke dalam bahan ramuan obat. Lakukan perebusan dengan api sesuai petunjuk pembuatan. Apabila nyala api tidak ditentukan, biasanya perebusan dilakukan dengan api besar sampai airnya mendidih. Selanjutnya api dikecilkan untuk mencegah air rebusan meluap atau terlalu cepat kering. Meski xy demikian, adakalanya api besar dan api kecil digunakan sendiri- sendiri sewaktu merebus bahan obat. Sebagai contoh, obat yang berkhasiat tonik umumnya direbus dengan api kecil sehingga zat berkhasiatnya dapat secara lengkap dikeluarkan dalam air rebusan. Demikian pula tumbuhan obat yang mengandung racun perlu direbus dengan api kecil dalam waktu yang agak lama, sekitar 3-5 jam untuk mengurangi kadar racunnya. Nyala api yang besar digunakan untuk ramuan obat yang berkhasiat mengeluarkan keringat, seperti ramuan obat untuk influenza atau demam. Hal ini dimaksudkan agar pendidihan mejadi cepat dan penguapan berlebihan dari zat yang merupakan komponen aktif tumbuhan dapat dicegah. Apabila tidak ditentukan khusus, perebusan dianggap selesai ketika air rebusan tersisa setengah dari jumlah air semula. Namun, jika bahan obat yang direbus banyak yang keras seperti biji, batang, dan kulit kayu maka perebusan selesai setelah air tersisa sepertiganya. Berikut ini cara perebusan yang sedikit berbeda dari cara konvensional yang telah diuraikan di atas karena adanya bahan- bahan yang memerlukan perlakuan khusus. 1) Direbus terlebih dahulu. Dilakukan bila ada bahan obat yang besar atau keras dan sukar diekstrak seperti kulit kerang atau bahan mineral. Bahan tersebut perlu dihancurkan dan direbus terlebih dahulu 10 menit sebelum bahan lainnya dimasukkan. 2) Direbus paling akhir. Dilaksanakan bila ada bahan obat yang mudah menguap atau bahan aktifnya mudah terurai. Contohnya pepermint, akar costus atau bahan pewangi. Bahan tersebut biasa dimasukkan paling akhir, kira-kira 4-5 menit menjelang rebusan obat siap diangkat. 3) Direbus dalam bungkusan. Beberapa bahan obat harus dibungkus terlebih dahulu dengan kain sebelum direbus untuk mencegah timbulnya kekeruhan, lengket, dan terbentuknya bahan yang dapat menimbulkan iritasi pada tenggorokan. 4) Dididihkan perlahan-lahan atau direbus terpisah. Maksudnya untuk menghindari rusaknya zat berkhasiat atau terserapnya zat tersebut bila direbus dengan bahan lain. Contohnya ginseng. Bahan ini perlu diiris tipis-tipis kemudian direbus terpisah dalam pot tertutup dengan api kecil selama 2-3 jam. 5) Dilarutkan dengan penyeduhan. Dilakukan bila ada obat yang lengket, kental, atau mudah terurai bila direbus terlalu lama dengan bahan obat lainnya, atau mudah melckat di dinding pot maupun di bahan obat lain sehingga keluarnya zat aktif obat lain terhambat. Contohnya gelatin kulit keledai. Bahan tersebut dimasukkan ke dalam cangkir terpisah, lalu diseduh dengan air rebusan obat. G. Waktu Minum Obat Bila tidak terdapat petunjuk pemakaian, biasanya obat diminum sebelum makan kecuali obat tersebut merangsang lambung maka diminum setelah makan. Obat berkhasiat tonik diminum sewaktu perut kosong, dan obat berkhasiat sedatif diminum sewaktu ingin tidur. Pada penyakit akut obat diminum setiap saat, pada penyakit kronis diminum sesuai jadwal secara teratur. Rebusan obat bisa diminum sesering mungkin sesuai kebutuhan atau diminum sebagai pengganti teh. H. Cara Minum Obat Obat biasanya diminum satu dosis sehari yang dibagi untuk 2-3 kali minum. Umumnya obat diminum selagi hangat, terutama untuk _ pengobatan sindroma luar. Setelah minum obat, pakailah baju tebal atau tidur berselimut supaya tubuh tetap hangat dan mudah mengeluarkan keringat. Untuk pengobatan sindroma panas, obat diminum dalam keadaan dingin. Sebaliknya untuk pengobatan sindroma dingin obat diminum dalam keadaan hangat. Obat yang sedikit toksik, diminum sedikit demi sedikit tetapi sering. Tambahkan dosisnya secara bertahap sehingga efek pengobatan tercapai. I. Lama Pengobatan Tumbuhan obat yang masih berupa simplisia, hasil pengobatannya tampak lambat, namun sifatnya konstruktif atau membangun. Hal ini xvii berbeda dengan obat kimiawi yang hasil pengobatannya terlihat cepat namun destruktif. Oleh karena itu, obat yang berasal dari tumbuhan tidak dianjurkan penggunaannya untuk penyakit-penyakit infeksi akut. Tumbuhan obat lebih diutamakan untuk memelihara kesehatan dan pengobatan penyakit kronis yang tidak dapat disembuhkan dengan obat kimiawi, atau memerlukan kombinasi pengobatan antara obat kimiawi dengan obat dari tumbuhan berkhasiat. se xviii ADAS (Foeniculum vulgare Mill.) Suku: Apiaceae (Umbelliferae) Nama a. Sinonim EF. officinale All., Anethum foeniculum L. b. Nama daerah Sumatera: das pedas (Aceh), adas, adas pedas (Melayu), adeh, manih (Minangkabau). Jawa: hades (Sunda), adas, adas londa, adas landi (Jawa), adhas (Madura). Sulawesi: paapang, paampas (Menado), popaas (Alfuru), denggu- denggu (Gorontalo), papaato (Buol), porotomo (Baree), adasa, rempasu (Makasar), adase (Bugis), kumpasi (Sangir Vilawd, Nusa Tenggara: Adas (Bali), wala wunga (Sumba). c. Nama asing Hsiao hui (C), phong karee, mellet karee (Thai), jintan manis (Malaysia), barisaunf, madhurika (IP), fennel, common fennel, sweet fennel, fenkel, spigel (I). d. Nama simplisia Foeniculi Fructus (buah adas). Uraian Tumbuhan Adas merupakan satu dari sembilan tumbuhan obat yang dianggap bermukjizat di Anglo-Saxon. Di Indonesia telah dibudidayakan dan kadang sebagai tanaman bumbu atau tanaman obat. Tumbuhan ini ATLAS TUMBUHAN OBAT INDONESIA — JILID | 1 dapat hidup dari dataran rendah sampai ketinggian 1.800 m di atas permukaan laut, namun akan tumbuh lebih baik pada dataran tinggi Asalnya dari Eropa Selatan dan Asia, dan karena manfaatnya kemudian banyak ditanam di Indonesia, India, Argentina, Eropa, dan Jepang. Terna berumur panjang, tinggi 50 cm - 2 m, tumbuh merumpun. Satu rumpun biasanya terdiri dari 3 - 5 batang. Batang hijau kebiru- biruan, beralur, beruas, berlubang, bila memar baunya wangi. Letak daun berseling, majemuk menyirip ganda dua dengan sirip-sirip yang sempit, bentuk jarum, ujung dan pangkal runcing, tepi rata, berseludang warna putih, seludang berselaput dengan bagian atasnya berbentuk topi. Perbungaan tersusun sebagai bunga payung majemuk dengan 6 - 40 gagang bunga, panjang ibu gagang bunga 5 - 10cm, panjang gagang bunga 2 - 5S mm, mahkota berwarna kuning, keluar dari ujung batang. Buah lonjong, berusuk, panjang 6 - 10 mm, lebar 3 - 4 mm, masih muda hijau setelah tua cokelat agak hijau atau cokelat agak kuning sampai sepenuhnya cokelat. Namun, warna buahnya ini berbeda-beda tergantung negara asalnya. Buah masak mempunyai bau khas aromatik, bila dicicipi rasanya relatif seperti kamfer. Adas menghasilkan minyak adas, yang merupakan hasil sulingan serbuk buah adas yang masak dan kering. Ada dua macam minyak adas, manis dan pahit. Keduanya, digunakan dalam industri obat-obatan. Adas juga dipakai untuk bumbu, atau digunakan sebagai bahan yang memperbaiki rasa (corrigentia saporis) dan mengharumkan ramuan obat. Biasanya adas digunakan bersama-sama dengan kulit batang pulosari. Daunnya bisa dimakan sebagai sayuran. Perbanyakan dengan biji atau dengan memisahkan anak tanaman. Sifat dan Khasiat Buah masak mengandung bau aromatik, rasa sedikit manis, pedas, hangat, masuk meridian hati, ginjal, limpa, dan lambung. Berkhasiat menghilangkan dingin, melancarkan “chi” , penghilang nyeri (analgesik), menychatkan lambung, meningkatkan nafsu makan (stomakik), peluruh dahak, peluruh kentut (karminatif), dan merangsang produksi ASI (laktagoga). Daun berbau aromatik dan berkhasiat sebagai stimulan, peluruh kencing (diuretik), laktagoga, stomakik, dan menerangkan penglihatan. 9 ATLAS TUMBUHAN OBAT INDONESIA — JILID | Herba berkhasiat sebagai anti-emetik. Akar sebagai pencahar dan diuretik. Sedangkan minyak dari buah (minyak adas, fennel oil) berkhasiat sebagai stimulan, karminatif, antibakteri, dan antelmintik. Kandungan Kimia Adas mengandung minyak asiri (Oleum Foeniculi) | - 6%, mengandung 50 - 60% anetol, lebih kurang 20% fenkon, pinen, limonen, dipenten, felandren, metilchavikol, anisaldehid, asam anisat, dan 12% minyak lemak. Kandungan anetol yang menyebabkan adas mengeluarkan aroma yang khas dan berkhasiat karminatif. Akar mengandung bergapten. Akar dan biji mengandung stigmasterin (serposterin). Bagian yang Digunakan Buah masak (Xiaohuixiang, hui-hsiang). Buah yang telah masak dikumpulkan, lalu dijemur sampai kering. Indikasi > Buah bermanfaat untuk mengatasi: O - sakit perut (mulas), perut kembung, rasa penuh di lambung, mual, muntah, diare, sakit kuning (jaundice), kurang nafsu makan, batuk berdahak, sesak napas (asma), haid: nyeri haid, haid tidak teratur, air susu ibu (ASI) sedikit, putih telur dalam kencing (proteinuria), susah tidur (insomnia), buah pelir turun (orchidoptosis), usus turun ke lipat paha (hernia inguinalis), pembengkakan saluran sperma (epididimis), penimbunan cairan di dalam kantung buah zakar (hidrokel testis), mengurangi rasa sakit akibat batu dan membantu menghancurkannya, rematik gout, dan QO keracunan tumbuhan obat atau jamur. 4 Daun berkhasiat mengatasi: O batuk, OQ perut kembung, kolik, O rasa haus, dan QO meningkatkan penglihatan. 20000000 COo000 ATLAS TUMBUHAN OBAT INDONESIA — JILID | 3 aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. ATLAS TUMBUHAN OBAT INDONESIA Sesungguhnya Indonesia kaya dengan tumbuhan berkhasiat obat. Hampir semua daerah mempunyai tanaman obat yang telah dibuktikan kemanjurannya secara tunun-temurun. Setelah bertahun-tahun mendewakan obat modem yang memang bereaksi cepat, kini orang kembali melirik obat alami. Selain karena kesadaran akan tisiko efek samping, juga karena krisis ekonomi yang tak terelakkan, Untuk: itulah, kami hadirkan buku ini untuk Anda, isinya yang lengkap dan infommatif, meliputi berbagai jenis tumbuban obat. Setiap tumbuhan dijelaskan_secara detail mulai dari nama, uraian tumbuhan, sifat, khasiat, kandungan kimia, bagian yang digunakan, inclikasi, cara pemakaian, efek farmakologis, contoh_ pemakaian, dan efek samping yang mungkin timbul. Bacalah informasi penting ini dan mari kita kembangkan kekayaan obat alam Indonesia untuk keluarga dan kemajuan bangsa. Merentas Generasi Sehat Ji. Gunung Sahari ITI/7 Jakarta 10610 Telp. 4204402, 4255354 Faks. 4214821