Anda di halaman 1dari 7

PEMBUATAN ETANOL DARI SAMPAH PASAR MELALUI

PROSES PEMANASAN DAN FERMENTASI BAKTERI Zymomonas


mobilis

ETHANOL MAKING FROM GREENGROCER’S SOLID WASTE


THROUGH HEATING PROCESS AND FERMENTATION USING
Zymomonas mobilis

Ghani Arasyid* dan Wahyono Hadi**


Jurusan Teknik Lingkungan-FTSP-ITS
*email: arasyid@enviro.its.ac.id
**email: wahyonohadi@yahoo.com

Abstrak

Berdasarkan hasil yang didapatkan, dari hasi uji kadar etanol dapat disimpulkan bahwa variasi sampah dengan air

75:25 mempunyai kadar etanol yang lebih tinggi daripada variasi sampah dengan air 50:50. Pemanasan biasa dengan

variasi sampah dengan air 75:25 setelah 5, 7, 9 dan 12 hari fermentasi adalah 6,30%; 8,43%; 9,51%; 10,21%.

Pemanasan biasa dengan variasi sampah dengan air 50:50 setelah 5, 7, 9 dan 12 hari fermentasi adalah 6,15%;

8,05%; 10,05%; 10,13%. Pemanasan Autoclave dengan variasi sampah dengan air 75:25 setelah 5, 7, 9 dan 12 hari

fermentasi adalah 7,05%; 9,20%; 9,57%; 10,35%. Pemanasan Autoclave dengan variasi sampah dengan air 50:50

setelah 5, 7, 9 dan 12 hari fermentasi adalah 6,92%; 8,97%; 9,56%; 10,17%.

Kata kunci: Etanol, Fermentasi, Sampah, Zymomonas mobilis

Abstract
Based on the research result from ethanol grade analysis, composition of solid waste blends with water 75:25 have

ethanol grade which higher than 50:50. Heating/boiling with composition of solid waste blends with water 75:25 after

5, 7, 9 and 12 fermentation days are 6,30%; 8,43%; 9,51%; 10,21%. Heating/boiling with composition of solid waste

blends with water 50:50 after 5, 7, 9 and 12 fermentation days are 6,15%; 8,05%; 10,05%; 10,13%. Autoclave

heating/boiling with composition of solid waste blends with water 75:25 after 5, 7, 9 and 12 fermentation days are

7,05%; 9,20%; 9,57%; 10,35%. Autoclave heating/boiling with composition of solid waste blends with water 50:50

after 5, 7, 9 and 12 fermentation days are 6,92%; 8,97%; 9,56%; 10,17%.

Key words : Ethanol, Fermentation, Solid waste, Zymomonas mobilis

1
1. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Kelangkaan yang disertai tingginya harga bahan bakar minyak secara global beberapa tahun

terakhir membuat banyak negara di dunia meningkatkan upayanya untuk menggunakan biofuel

sebagai bahan bakar alternatif. Salah satu dari biofuel yang paling banyak digunakan adalah etanol,

zat ini diekstrak antara lain dari tebu dan singkong (Prihandana et al., 2007)

Berdasarkan fakta-fakta yang terdapat di atas, muncul sebuah gagasan dalam memanfaatkan

sampah organik yang berasal dari pasar sayur dan buah untuk diekstrak menjadi sumber energi

alternatif yaitu etanol. Konversi ini dilakukan melalui proses pemanasan yang kemudian

difermentasikan dengan bakteri yang dipilih dengan studi literatur tentang efektifitas fermentasi

etanol menggunakan bakteri. (Arasyid, 2010)

1.2. Perumusan Masalah

Dari latar belakang masalah di atas, dapat dirumuskan beberapa permasalahan, sebagai berikut:

1. Apakah etanol terkandung pada sampel sampah dari Pasar Keputran Surabaya setelah

melalui proses fermentasi menggunakan bakteri Zymomonas mobilis dan sebelumnya

dilakukan pemanasan?

2. Berapa kadar etanol yang dihasilkan dan variasi dengan kadar etanol tertinggi dari

fermentasi sampel sampah Pasar Keputran Surabaya?

3. Adakah perbedaan kandungan etanol pada sampel sampah Pasar Keputran Surabaya pada

variasi komposisi sampah dengan air serta lama fermentasi?

1.3. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Mengetahui apakah ada etanol yang terkandung dari sampel sampah Pasar Keputran

Surabaya setelah pemanasan dan fermentasi menggunakan bakteri Zymomonas mobilis

2
2. Mengetahui kadar etanol dan variasi yang menghasilkan kadar etanol tertinggi dari

pemanasan dan fermentasi sampel sampah Pasar Keputran Surabaya

3. Mengetahui perbedaan kandungan etanol pada sampel sampah Pasar Keputran Surabaya

pada variasi komposisi sampah dengan air serta lama fermentasi

2. METODOLOGI

Pada penelitian ini, sampel sampah diberi perlakuan pemanasan biasa dengan merebusnya dan

pemanasan bertekanan-centrifuge dengan menggunakan Autoclave.

Penelitian inti menggunakan variabel komposisi sampah dengan air 75:25 (750 gram sampah

dengan 250 ml air) dan komposisi sampah dengan air 50:50 (500 gram sampah dengan 500 ml air).

Variasi komposisi bubur sampah ini disilangkan dengan waktu pengamatan kadar etanol. Lama

pengamatan masing-masing variasi adalah 5, 7, 9 dan 12 hari.

Setelah melalui proses yang disebut dengan Simultaneous Saccharification and Fermentation

(SSF), kadar etanol terbentuk. Kemudian dilakukan destilasi untuk mengetahui kadar etanol yang

sesungguhnya setelah proses pemisahan etanol dengan campuran bubur sampah.

3. HASIL DAN PEMBAHASAN

Sampah yang sudah menjalani proses pemanasan dengan dipanaskan dalam panci berisi air

1L dan Autoclave kemudian didinginkan. Langkah selanjutnya adalah penghalusan dengan

menggunakan alat blender listrik. Maksud dari penghalusan sampah ini adalah agar media

fermentasi hasil pemanasan yang masih terdapat padatan menjadi lunak sehingga proses fermentasi

oleh bakteri Zymomonas mobilis nantinya lebih mudah. Selain itu juga bertujuan untuk

mendapatkan variasi antara sampah dengan air.

Bubur sampah yang diperoleh dari proses penghalusan sampah kemudian disaring untuk

memisahkan antara padatan dengan cairannya, yang kemudian akan dilanjutkan pada proses

3
fermentasi. Hasil dari pemisahan cairan dari bubur sampah yang telah dihaluskan ini adalah cairan

yang berwarna keruh kecoklatan. Ditampung ke dalam gentong plastik dengan ukuran 5 liter.

Kemudian hasil saringan tadi dibagikan ke dalam 4 buah erlenmeyer untuk masing-masing variasi

komposisi sampah dan pemanasan, dengan total erlenmeyer yang digunakan adalah 16 buah.

Volume hasil saringan untuk setiap erlenmeyer adalah 150ml.

Setiap erlenmeyer yang berisi cairan sampel di inokulasikan sebanyak lima kali jarum ose yang berisi

biakan koloni bakteri Zymomonas mobilis. Dipilih sebanyak lima kali karena disesuaikan dengan volume

sample dan pertimbangan bila terlalu banyak inokulan, hasil fermentasi akan terlalu cepat menjadi Asam

Asetat (melewati masa terbentuknya etanol).

Untuk variasi komposisi sampah dengan air 75:25 pemanasan biasa, kadar gula reduksi

sebelum proses fermentasi adalah 11,21% dengan pH 4,76 dan kadar gula reduksi 11,97% dengan

pH 5,07 untuk pemanasan dengan Autoclave. Sedangkan variasi komposisi sampah dengan air

50:50 pemanasan biasa, kadar gula reduksi sebelum proses fermentasi adalah 9,98% dengan pH

4,68 dan kadar gula reduksi 10,15% dengan pH 4,97 untuk pemanasan dengan Autoclave.

Setelah melakukan proses inokulasi, tahap berikutnya adalah fermentasi. Fermentasi yang

dilakukan dalam penelitian ini dilakukan di dalam inkubator untuk memperoleh pertumbuhan

bakteri Zymomonas mobilis yang optimal sehingga proses fermentasi dapat berjalan dengan

optimal pula. Setiap erlenmeyer diletakkan dalam inkubator dengan pengaturan suhu 30oC selama

proses fermentasi hingga masing-masing waktu pengambilan untuk diuji dan dianalisa; yaitu pada

saat 5 hari, 7 hari, 9 hari dan 12 hari.

Dari hasil pengukuran pH, didapatkan pH pada kisaran 2-4. Hal ini yang menyebabkan kadar

etanol hasil fermentasi setelah diukur pada tahap selanjutnya tidak bisa tinggi, baik di pengukuran

sebelum destilasi dan setelah destilasi akibat tidak optimumnya proses fermentasi yang pada

Zymomonas mobilis adalah pada kisaran pH 4-7 (Gunasekaran et al., 1986). Hal ini disebabkan

4
karena hanya dilakukan sakarifikasi dalam proses pemanasan dan SSF pada tahap fermentasi tanpa

adanya hidrolisis menggunakan asam kuat.

Cairan sampel hasil fermentasi masih dalam keadaan keruh akibat tidak dilakukannya proses

centrifuge sebelum fermentasi. Sehingga untuk mengetahui kandungan etanol secara lebih akurat,

etanol dipisahkan dari campuran-campurannya yang terdapat dalam sampel. Prinsip destilasi

sendiri adalah memisahkan zat-zat tertentu, dalam hal ini etanol/alkohol, melalui perbedaan titik

didih.

Proses destilasi ini menggunakan tipe Fractional Distillation. Peralatan destilasi sudah

tersedia di Laboratorium Pengolahan Air Jurusan Teknik Lingkungan ITS dengan labu destilasi

sebagai destilator, kompor listrik sebagai pemanas, panci Alumunium sebagai water bath dan

erlenmeyer sebagai tempat sampel (berada pada panci Alumunium) dan hasil destilasi atau destilat.

Proses destilasi ini membutuhkan waktu 4 jam dan dengan suhu di kisaran 810C yang dijaga

secara konstan. Berikut adalah hasil pengukuran kadar etanol pada cairan sampel setelah melalui

proses destilasi yang juga dijelaskan secara visual dengan grafik (Arasyid, 2010).

Grafik Waktu vs Kadar Etanol

51
50,5
50
49,5
Etanol (%)

Pemanasan 75:25
49
Pemanasan 50:50
48,5
Autoclave 75:25
48
47,5 Autoclave 50:50
47
46,5
46
5 7 9 11 13
Pengamatan (hari)

Gambar 1. Grafik Waktu vs Kadar Etanol Setelah Destilasi Untuk Setiap Variasi

5
Dari grafik di atas, dapat disimpulkan bahwa peningkatan kadar etanol untuk pemanasan

biasa maupun pemanasan Autoclave setelah destilasi ini adalah hasil dari fermentasi yang

menyebabkan adanya penurunan pada kadar gula dalam penelitian ini.

Sedangkan penurunan kadar etanol khusus untuk Pemanasan pemanasan pada hari ke-12

pada variasi sampah dengan air 50:50 disebabkan oleh sudah terjadinya proses perubahan dari

etanol menjadi Asam Asetat akibat reaksi etanol dengan oksigen (O2) saat proses destilasi

berlangsung, yang menyebaban kadar etanol turun (Gunasekaran and Raj, 1999).

4. KESIMPULAN

1. Sampel dari Sampah Pasar Keputran mengandung etanol setelah melalui proses pemanasan dan

fermentasi oleh bakteri Zymomonas mobilis

2. Kadar etanol setelah fermentasi untuk variasi hidrolisis dan komposisi sampah dengan air

adalah sebagai berikut:

a. Pemanasan biasa dengan variasi sampah dengan air 75:25 setelah 5, 7, 9 dan 12 hari

fermentasi adalah 6,30%; 8,43%; 9,51%; 10,21%.

b. Pemanasan biasa dengan variasi sampah dengan air 50:50 setelah 5, 7, 9 dan 12 hari

fermentasi adalah 6,15%; 8,05%; 10,05%; 10,13%

c. Pemanasan Autoclave dengan variasi sampah dengan air 75:25 setelah 5, 7, 9 dan 12

hari fermentasi adalah 7,05%; 9,20%; 9,57%; 10,35%

d. Pemanasan Autoclave dengan variasi sampah dengan air 50:50 setelah 5, 7, 9 dan 12

hari fermentasi adalah 6,92%; 8,97%; 9,56%; 10,17%

3. Dari hasi uji kadar etanol, dapat disimpulkan bahwa variasi sampah dengan air 75:25

mempunyai kadar etanol yang lebih tinggi daripada variasi sampah dengan air 50:50.

Sedangkan kadar etanol dari variasi hidrolisis tertinggi adalah dari pemanasan Autoclave yang

disebabkan pemanasan biasa kurang sempurna akibat tidak adanya proses centrifuge yang

6
menyebabkan terjadi pemisahan antara kandungan air dengan sampah. Kadar etanol tertinggi

pada masing-masing variasi didapatkan setelah hari ke-12 pengamatan kadar etanol secara batch

DAFTAR PUSTAKA

Arasyid, G. 2010. Pembuatan Etanol Dari Sampah Pasar Melalui Proses Pemanasan dan

Fermentasi Bakteri Zymomonas mobilis. Tugas Akhir Jurusan Teknik Lingkungan

FTSP-ITS, Surabaya

Gunasekaran, P., Karunakaran, T., Kasthuribai, M.. 1986. Fermentation Pattern of Zymomonas

mobilis strains of different substrate-a comparative study. Department of Microbial

Technology, School of Biological Sciences, Madurai Kamaraj University, India

Gunasekaran, P. and Raj, K. C. 1999. Ethanol Fermentation Technology – Zymomonas mobilis.

Current Science. Vol. 77, #1, 56-68

Najafpour, G. D., Lim, J. K. 2002. Fermentation of Ethanol, School of Chemical Engineering,

Universiti Sains Malaysia

Park, I et al. 2009. Cellulose Ethanol Production From Waste Newsprint by Simultaneous

Saccharification and Fermentation Using Saccharomyces cerevisiae KNU5377.

Didownload pada 5 Februari 2010; 14.36 WIB. URL:

http://www.sciencedirect.com/science/journal/13595113

Senthilkumar, V. and Gunasekaran, P. 2005. Influence of Fermentation on Levan Production by

Zymomonas mobilis CT2. Indian Journal of Biotechnology Vol. 4, Oct 2005, pp. 491-

496

Taherzadeh, M. and Karimi, K. 2007. Acid-based Hydrolysis Processes for Ethanol from

Lignosellulosic Material : A Review, Bioresources 2 (3), 472-499

Trihadiningrum, Y. Pandebesie, E.S., Masduqi, A. dan Warmadewanthi, IDAA. 2002. Program

Pelatihan Sistem Pengolahan Sampah, Jurusan Teknik Lingkungan ITS, Surabaya