Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH

MANAJEMEN ASUHAN KEPERAWATAN


GINGIVITIS DAN STOMATITIS

DISUSUN OLEH :
1. ANGGA FARID FIRMANSYAH
2. ABILIO BARRETO
3. AFIF TRI ATMOKO
4. DADANG PRADANA
5. ENIK SEPTIANI
6. ERNA EKA PUSPITA
7. IDOLINA ANUNUT
8. IIN OKTA VIANI
9. JOICE DELSRYANI
10. MARSELINA HATI
11. OTAFIANUS MANEK
12. SITI NUR AZIZAH

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
SURYA MITRA HUSADA
KEDIRI
2014

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami ucapkan kehadirat Tuhan, yang mana atas berkat rahmat, nikmat dan
hidayahnya sehingga makalah ini dapat terselesaikan tepat pada waktunya.
Penulis menyusun makalah yang berjudul Manajemen Asuhan Keperawatan Gingivitis dan
Stomatitis ini karena ada sangkut pautnya antara ilmu keperawatan dengan Ilmu Keperawatan
khususnya Sistem Pencernaan. Penulis berharap makalah ini akan berguna dalam menambah
wawasan dan ilmu pengetahuan dalam pembelajaran di bidang Ilmu Keperawatan.
Dalam penyusunan makalah ini penulis menyadari akan segala kekurangan dan
kemampuan yang sangat terbatas dimiliki oleh penulis, sehingga dalam penulisan, penyusunan
kalimat dan dalam mencari sumber buku serta internet masih kurang dan teramat sulit. Namun
penulis sudah berusaha semaksimal mungkin agar makalah ini dapat diselesaikan untuk memenuhi
tugas yang telah diberikan oleh dosen pembimbing dan berusaha untuk menjadikan yang terbaik.
Dengan segala kerendahan hati, penulis sangat mengharapkan kritikan dan saran saran yang
sifatnya membangun demi penyempurnaan makalah ini. Dan penulis berharap semoga makalah ini
dapat memenuhi harapan kita semua.

Kediri, 12 Desember 2014

Penyusun

DAFTAR ISI
Halaman Sampul........................................................................................................
Kata Pengantar...........................................................................................................
Daftar Isi.....................................................................................................................

i
ii
iii

BAB I Pendahuluan
1.1 Latar Belakang Masalah..................................................................................
1.2 Rumusan Masalah...........................................................................................
1.3 Tujuan Penulisan.............................................................................................
1.4 Manfaat Penulisan...........................................................................................
1.5 Luaran yang Diharapkan.................................................................................
BAB II Tinjauan Teori
2.1 Pengertian Penyakit Gingivitis dan Stomatitis...............................................
2.2 Etiologi Penyakit Gingivitis dan Stomatitis...................................................
2.3 Patofisiologi dan Web of Caution Gingivitis dan Stomatitis.........................
2.4 Manifestasi Klinis Penyakit Gingivitis dan Stomatitis..................................
2.5 Klasifikasi Penyakit Gingivitis dan Stomatitis..............................................
2.6 Penatalaksanaan Penyakit Gingivitis dan Stomatitis.....................................
2.7 Pemeriksaan Penunjang Penyakit Gingivitis dan Stomatitis.........................
2.8 Pencegahan Penyakit Gingivitis dan Stomatitis.............................................
2.9 Komplikasi Penyakit Gingivitis dan Stomatitis.............................................
BAB III Skenario Kasus
3.1 Contoh Ilustrasi Kasus Penyakit Stomatitis....................................................
BAB IV Pembahasan
4.1 Pembahasan Ilustrasi Kasus sesuai dengan Konsep Asuhan Keperawatan.....
BAB V Penutup
5.1 Kesimpulan.....................................................................................................
5.2 Saran................................................................................................................
Daftar Pustaka............................................................................................................

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Radang gusi atau gingivitis adalah akibat dari infeksi gingival, dapat terjadi pada anakanak, orang dewasa, dan juga dapat terjadi pada masa remaja. Secara klinis gingivitis ditandai
dengan adanya inflamasi gingival berupa perubahan wama, konsistensi, perubahan tekstur
permukaan, perubahan ukuran, perubahan bentuk, pendarahan pada probing dan perubahan pada
tipe saku. Sedangkan Stomatitis aphtosa atau sariawan adalah radang yang terjadi di daerah
mukosa mulut, biasanya berupa bercak putih kekuningan dengan permukaan yang agak cekung,
bercak itu dapat berupa bercak tunggal maupun kelompok. Stomatitis aphtosa atau sariawan
merupakan penyakit yang dapat diakibatkan oleh jamur pada mulut dan saluran kerongkongan.

Stomatitis sering terjadi di beberapa bagian di dalam rongga mulut seperti pipi, di sekitar bibir,
lidah, atau mungkin juga terjadi di tenggorokan dan langit-langit mulut (Anonim 2010).
Gingivitis adalah suatu inflamasi pada gingiva yang biasanya disebabkan oleh akumulasi
plak. Menurut profil kesehatan Indonesiatahun 2001 kelainan periodontal pada tahun 2001
terjadi sebesar 61%. Penyakit periodontal salah satunya gingivitis yang disebabkan infeksi
bakteri, secara langsung melalui aliran darah (hematogen), maupun tidak langsung dari respon
imun sistemik infeksi melalui peningkatan mediator infeksi (PGE2, IL1, IL6 dan TNF) oleh
pertahanan tubuh. Jaringan periodonsium adalah jaringan penyokong gigi, terdiri atas gingiva,
sementum, ligamentum periodontal dan tulang alveolar. Jaringan ini dapat mengalami kelainan
akibat interaksi faktor pejamu, mikroba dan lingkungan misalnya gingivitis. Pada sariawan atau
stomatitis adalah radang yang terjadi pada mukosa mulut, biasanya berupa bercak putih
kekuningan. Bercak itu dapat berupa bercak tunggal maupun berkelompok. Sariawan dapat
menyerang selaput lendir pipi bagian dalam, bibir bagian dalam, lidah, gusi, serta langit-langit
dalam rongga mulut.
Penatalaksanaan gingivitis dilakukan pengukuran keparahan gingival. Untuk mengetahui
prevalensi dari gingivitis diperlukan indeks gingival, indeks pendarahan papilla, dan indeks titik
pendarahan. Dokter gigi menjalankan profesinya sebagai dokter gigi haras mendiagnosa
gingivitis sedini mungkin dan melakukan perawatan yang adequat. Perawatan inisial merupakan
satu-satunya prosedur perawatan periodontal yang dibutuhkan, perawatan inisial mencakup
prosedur-prosedur yaitu instruksi kontrol plak, penskeleran dan penyerutan akar, perbaikan
restorasi yang cacat, penumpatan lesi karies dan pemolesan. Untuk sariawan sendiri meskipun
tidak tergolong berbahaya, namun sariawan sangat mengganggu. Ada pula yang mengatakan
bahwa sariawan merupakan reaksi imunologik abnormal pada rongga mulut.
Metode perawatan yang baik dan benar merupakan salah satu aspek yang dapat
menentukan kualitas asuhan keperawatan (askep) yang diberikan yang secara langsung
maupun tidak langsung dapat meningkatkan brand kita sebagai perawat profesional dalam
pelayanan pasien gangguan gingivitis dan stomatitis. Pemberian asuhan keperawatan pada
tingkat anak, remaja, dewasa, hingga lanjut usia hingga bagaimana kita menerapkan manajemen
asuhan keperawatan secara tepat dan ilmiah diharapkan mampu meningkatkan kompetensi
perawat khususnya.
1.1 Rumusan Masalah
Dari latar belakang masalah yang telah disampaikan di atas, maka rumusan masalah
dari makalah yang berjudul Manajemen asuhan keperawatan Gingivitis dan Stomatitis
adalah sebagai berikut :

a. Apa pengertian dari penyakit gingivitis dan stomatitis ?


b. Apa etiologi dari penyakit gingivitis dan stomatitis ?
c. Bagaimana patofisiologi dan WOC dari penyakit gingivitis dan stomatitis ?
d. Bagaimana manifestasi klinis dari penyakit gingivitis dan stomatitis?
e. Apakah klasifikasi dari penyakit gingivitis dan stomatitis ?
f. Bagaimana penatalaksanaan dari penyakit gingivitis dan stomatitis?
g. Pemeriksaan penunjang apa yang digunakan dalam mendeteksi penyakit gingivitis
dan stomatitis?
h. Bagaimana pencegahan penyakit gingivitis dan stomatitis?
i. Komplikasi apa yang bisa terjadi jika pasien menderita penyakit gingivitis dan
stomatitis ?
1.2 Tujuan Penulisan
Dari rumusan masalah yang telah ditulis, maka tujuan penulisan dari makalah yang
berjudul tentang Manajemen Asuhan Keperawatan Gingivitis dan Stomatitis adalah sebagai
berikut :
a. Mengetahui pengertian dari penyakit gingivitis dan stomatitis
b. Mengetahui penyebab penyakit gingivitis dan stomatitis
c. Mengetahui patofisiologi dan web of caution dari penyakit gingivitis dan stomatitis
d. Mengetahui manifestasi klinis dari penyakit gingivitis dan stomatitis
e. Mengetahui klasifikasi penyakit gingivitis dan stomatitis
f. Mengetahui penatalaksanaan dari penyakit gingivitis dan stomatitis
g. Mengetahui pemeriksaan penunjang yang dilakukan pada pasien dengan penyakit
gingivitis dan stomatitis
h. Mengetahui pencegahan penyakit gingivitis dan stomatitis.

i. Mengetahui komplikasi yang dapat disebabkan dari penyakit gingivitis dan


stomatitis

1.3 Manfaat Penulisan

Manfaat secara teoritis yaitu dapat menambah pengetahuan dan keterampilan dalam
memberikan asuhan keperawatan pada pasien dengan dengan penyakit gingivitis dan stomatitis,
sementara manfaat praktis untuk mahasiswa adalah

dapat menambah wawasan dan

pengetahuan bagi semua mahasiswa tentang asuhan keperawatan pada pasien dengan penyakit
gingivitis dan stomatitis.
1.4 Luaran yang Diharapkan
Luaran yang diharapkan pada pembuatan makalah ini adalah mengacu pada Panduan
Pembuatan Makalah yang telah diberikan oleh Dosen Pengampu Mata Kuliah Sistem
Pencernaan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Gingivitis dan Stomatitis

Radang gusi adalah peradangan pada gingiva yang menunjukkan adanya penyakit/ kelainan
pada gingiva (Depkes, R.I., 1996). Radang gusi adalah reaksi gingiva terhadap rangsangan
dari plak, dari sulkus keluar cairan yaitu eksudat yang diperlukan untuk pertumbuhan

bakteri (Konig, dkk., 1982).


Stomatitis merupakan infeksi umum yang bisa meluas ke mukosa bukal, bibir dan palatum

(William dan wilkins, 2008).


Stomatitis adalah kondisi peradangan pada mulut karena kontak dengan pengiritasi seperti
tembakau;defisiensi vitamin; infeksi oleh bakteri, virus atau jamur;atau penggunaan obat
kemoterapi (Potter & Perry,2005).

2.2 Etiologi Gingivitis dan Stomatitis


Etiologi Gingivitis

Secara umum penyebab penyakit gingiva dikelompokkan menjadi dua golongan yaitu:
A. Faktor Lokal
Faktor lokal adalah faktor yang berada di sekitar gigi dan jaringan periodontium :
a. Faktor Pencetus/utama: Plak bakteri
Plak bakteri sering juga disebut sebagai plak dental. Yang di maksudkan dengan plak
dental secara umum adalah bakteri yang berhubungan dengan permukaan gigi.
b. Faktor Pendorong /predisposisi
Beberapa faktor yang berperan sebagai faktor lokal pendorong :
- Materia alba
Materia alba adalah deposit lunak dan transparan, terdiri dari mikroorganisme,
leukosit, protein saliva, sel-sel epitel dan deskuamasi dan partikel-partikel makanan.
Materi ini bisa melekat ke permukaan gigi maupun restorasi dan gingiva,
- Debris Makanan
Debris makanan harus dibedakan dari impaksi makanan. Debris makanan adalah
partikel makanan yang bersisa di mulut akibat tidak tuntas terlarutkan oleh enzim
bakteri atau mekanis lidah, bibir dan pipi.
- Stein Dental
Stein dental adalah deposit berpigmen yang melekat pada permukaan gigi. Beberapa
bakteri kromogenik menyebabkan stein seperti: stein hitam (black stein) stein hijau
(green stein) dan stein jingga (orange stein)
- Kalkulus
Kalkulus atau yang dikenal juga sebagai karang gigi adalah plak bakteri yang telah
mengalami mineralisasi atau kalsifikasi.
- Karies

Karies terutama yang berada dekat margin gingiva, karena daerah ini mudah terjadi
penumpukan plak bakteri dan deposit lunak lainnya.
-

Merokok
Beberapa ahli mengatakan dampak merokok terhadap periodontal beragam, terdiri
dari: stein, panas dan asap yang timbul pada waktu menghisap rokok. Stein tembakau
akibat merokok dianggap mempermudah penumpukan plak.
- Impaksi makanan (food impaction)
Peranan impaksi makanan karena partikel makanan yang terjepit tersebut merupakan
suatu lingkungan yang menguntungkan bagi perkembangbiakan plak dan merupakan
iritasi mekanis terhadap periodontium
- Kesalahan prosedur kedokteran gigi (faulty dentistry)
Bentuk kesalahan yang sering dijumpai adalah seperti : tambalan yang terlalu tinggi
(over hanging). Restorasi dengan kontak proksimal yang terbuka, tepi mahkota tiruan
yang tidak baik, restorasi yang overkontur, gigi tiruan lepasan atau cekat yang tidak
baik kedudukannya, dan piranti orthodonti.
- Kontrol plak inadequat
Kontrol plak yang dilakukan secara inadequat menyebabkan plak dan deposit lunak
lainnya lebih mudah menumpuk dan tidak tersingkirkan dari perlekatannya.
- Makanan berkonsistensi lunak dan mudah melekat
Makanan yang lunak dan melekat dipermukaan gigi merupakan lingkungan yang
menguntungkan bagi perkembangbiakan bakteri plak. Sebaliknya makanan yang
kenyal dan berserat menghalangi penumpukan plak.
- Trauma mekanis
Trauma mekanis menyebabkan cedera pada ginggiva sehingga lebih mempermudah
timbulnya inflamasi akibat serangan bakteri plak. Trauma mekanis ini bisa disebabkan
oleh cara menyikat gigi yang salah atau kebiasaan menggaruk-garuk gingiva dengan
kuku.

Trauma kimiawi
Tablet aspirin atau obat puyer yang sering diaplikasikan secara lokal pada gusi sebagai
usaha pasien menghilangkan nyeri sakit gigi maupun obat kumur yang keras serta
obat-obatan yang bersifat bisa menyebabkan trauma kimiawi pada gingiva.
Faktor lokal fungsional:
Gigi yang hilang tanpa diganti, mal oklusi /mal posisi, kebiasaan bemapas dari mulut
dan mendorong-dorong dengan lidah, kebiasaan para fungsional serta oklusi yang
traumatik

B. Faktor Sistemik
Faktor sistemik adalah faktor yang dihubungkan dengan kondisi tubuh, yang dapat
mempengaruhi respon periodontium terhadap penyebab lokal. Faktor-faktor sistemik
tersebut adalah : Faktor-faktor endokrin (hormonal) meliputi : pubertas, kehamilan dan
menopouse, gangguan dan defisiensi nutrisi meliputi: defisiensi vitamin dan defisiensi
protein serta obat-obatan meliputi : Obat-obat yang dapat menyebabkan hiperplasia
gingiva non inflamatoris dan kontrasepsi hormonal. Faktor-faktor psikologis
(emosional), penyakit metabolisme : Diabetes Melitus, gangguan penyakit hematologis :
leukimia dan anemia, Penyakit-penyakit yang melemahkan (debilatating disease)
Etiologi Stomatitis
Etiologi yang berasal dari keadaan dalam mulut seperti :
a. Kebersihan mulut yang kurang
Kebersihan mulut berhubungan dengan keadaan gigi pasien. Apabila higiene gigi pasien
buruk, sering dapat menjadi penyebab timbulnya sariawan yang berulang.
b. Makanan atau minuman yang panas dan pedas
Makanan atau minuman yang pedas atau panas dapat berpengaruh terhadap mukosa yang
ada didalam mulut yang berfungsi sebagai alat pertahanan dalam melawan infrksi. Selain
itu, juga bserpengaruh terhadap bermacam-macam kuman yang merupakan bagian
daripada flora mulut dan tidak menimbulkan gangguan apapun dan disebut apatogen.
Daya tahan mulut dapat menurun karena termik. Jika daya tahan mulut atau tubuh
menurun, maka kuman-kuman yang apatogen itu menjadi patogen dan menimbulkan
gangguan atau menyebabkan berbagai penyakit/infeksi.
c. Luka pada bibir akibat tergigit/benturan.
Bisa terjadi karena bekas dari tergigit itu bisa menimbulkan ulsersehingga dapat
mengakibatkan stomatitis aphtosa.
d. Infeksi jamur
Namun biasanya hal ini dihubungkan dengan penurunan sistem pertahanan tubuh
(imuno). Berasal dari kadar imunoglobin abnormal.
e. Infeksi virus
Stomatitis karena herpes simplex stomatitis (HSV) terjadi sebagai utama atau infeksi
tambahan; infeksi tambahan ini adalah sering banyak terjadi. dua tipe HSV dapat
diidentifikasikan : HSV tipe 2 dengan penyebab lesi genital dan HSV tipe 1 dengan
respon dari lesi nongenital. awal terjadinya virus merupakan hasil utama dari infeksi
HSV biasa disebut stomatitis Herpes Akut. keseragaman ukuran gelembung frekuensinya
lebih banyak terjadi dilidah, palatum dan mukosa bucal dan labial. gelembung burut
terjadi setelah nyeri luka meninggalkan areanya yang mengelilingi sekitar garis tepi
erythematous. lesi ditingkat ini biasa terjadi di luka aphathous. area yang terkena luka 10
sampai 14 hari. Gelembung mukosa umumnya disertai dengan inflamasi akut gingiva,
saat dengan lesi herpes. Karakteristik lidah dengan keputih-putihan dan klien mengatakan

adanya bau busuk di pernafasannya. infeksi HSV utama dikarakteristikkan dari gejala
yang timbul dari infeksi termasuk kelemasan, panas dan pembesaran dalam limpa.
f. Letak susunan gigi atau kawat gigi
Letak dan susunan gigi yang tidak teratur akan sanagt berpengaruh terhadap kebersihan
gigi. Dimana terjadi kesulitan dalam proses membersihkan kotoran yang tersangkut atau
melekat pada baian yang sulit dijangkau oleh sikat gigi.
Etiologi yang berasal dari keadaan luar mulut seperti :
a. Rokok
Asap rokok banyak mengandung zat-zat berbahaya yang dapat menyebabkan berbagai
macam penyakit terutama pada stomatitis. Pada penyakit ini, asap rokok yang
mengandung zat-zat yang berbahaya masuk ke dalam tubuh melalui mulut yang banyak
terdapat mukosa sebagai alat perlindungan tubuh terhadap infeksi. Zat-zat adaptif
tersebut yang berasal dari asap rokok menyebabkan kerusakan pada mukosa-mukosa
didalam mulut. Sehingga terjadi penurunan imun terutama pada bagian mulut yang
menyebabkan mulut rentan terhadap penyakit.
b. Pada penggunaan obat kumur
Obat kumur yang mengandung bahan-bahan

pengering

(misalnya

alkohol,

lemon/gliserin) harus dihindari. Zat-zat seperti alkohol di atas dapat menyebabkan


kerusakan yang pada sel-sel mukosa dalam mulut yang bertugas dalam menghasilkan
sekret sebagai bentuk pertahanan tubuh.
c. Reaksi alergi
Sariawan
timbul
setelah
makan

jenis

makanan

tertentu.

Jenis

makanan ini berbeda untuk tiap-tiap penderita.


d. Alergi
Bisa terjadi karena kenaikan kadar IgE dan keterkaitan antara beberapa jenis makanan
dan timbulnya ulser. Gejala timbul biasanya segera setelah penderita mengkonsumsi
makanan tersebut.
e. Faktor psikologis (stress)
Kortison merupakan salah satu hormon utama yang dikeluarkan oleh tubuh sebagai reaksi
terhadap stres. Hormon ini menigngkatkan tekanan darah dan mempersiapkan tubuh
untuk respon melawan. Akan tetapi apabila stres berlebih akan menyebabkan hormon ini
juga dihasilkan berlebih sehingga respon tubuh dalam melawan bakteri berlebih (ada
tidaknya bakteri akan bekerja sehingga akan merusak sel-sel yang sehat).
f. Gangguan hormonal (seperti sebelum atau sesudah menstruasi).
Terbentuknya stomatitis aphtosa ini pada fase luteal dari siklus haid pada beberapa
penderita wanita.
g. Kekurangan vitamin C
Mengakibatkan jaringan dimukosa mulut dan jaringan penghubung antara gusi dan gigi
mudah robek yang akhirnya mengakibatkan sariawan.
h. Kekurangan vitamin B dan zat besi juga dapat menimbulkan sariawan..
i. Kelainan pencernaan Gangguan saluran pencernaan

Seperti Chorn disease, kolitis ulserativ, dan celiac disease sering disertai timbulnya
stomatitis apthosa.
2.3 WOC Gingivitis dan Stomatitis
WOC Stomatitis
Eksternal

Internal

trauma

ulser

Kebersihan mulut
berkurang
Makan dan minum yang
panas dan pedas
Luka pada bibir akibat
gigitan atau benturan
Infeksi jamur
Infeksi virus
Letak susunan gigi /
kawat gigi

Defisien
si nutrisi

Kerusakan
pada
mukosa
mulut

Penuruna
n kadar
vitamin

Alergi dan
sensitifitas
Allerge
n
Kerusaka
n
jaringan
kulit

Mukosa meradang
dan edematosis

Zat
berbahaya
dalam
rokok

Obatobata

Pengguna
an obat
nonsteroid
al
Lebih
beresik
o

Mukosa
mulut
rusak
Penuru
nan
imun
pada
bagian
mulut

Rokok
Penggunaan obat kumur
Alergi
Reaksi alergi
Stress
Gangguan hormonal
Kekurangan vitamin C
dan vitamin B
Kelainan pencernaan

stres
s
Respo
n
tubuh

Imun
Berpen
garuh
pada
fisik
dan

Ganggu
an
hormon

Ganggu
an

Pra
menstr
uasi

imun

Penuruna
n
estrogen
dan
progester
on

Penurunan
system imun
Kekurangan
vitamin

saliva

Jaringan mukosa dan jaringan


penghubung antara gusi dan
gigi robek

Terjadiny
a infeksi
Adanya
alergen

Di respon
oleh tubuh

Secara
local
Secara
sistemi
k
Secara

Menguran
gi
peradang

Resiko
terjadi
SAR

Adanya
ulser
pada
mukosa
Peningkata
n jumlah
HLA

Terjadinya stomatitis
(SAR )
System lakto
peroksidase rusak

geneti
k

Timbul rasa
gatal dan
terbakar

Mukosa
mulut
rusak
Melakukan
aksi
fagositosis

Ulserasi
lokal

MK:
perubah
an
mukosa
oral

Adanya reaksi
jaringan
berlebih
Reaksi
pertahanan
abnormal
Rusak pada
jaringan
mukosa mulut

Masa
prodromal
atau
penyakit 124 jam
hipersentifitas

rasa terbakar

Stadium pre
ulcerasi
edema

Peninggian
1-3 hari
pada ulser

MK: resiko
kekambuhan
tidak adekuat

Stadium
ulserasi
Rasa sakit

Terjadi
nekrosis di
tengah ulser

Melepuh di
jaringan
mulut

Adanya pecah
dan berwarna
putih

Reaksi
ulser

MK: nyeri

2.4 Manifestasi Klinis Gingivitis dan Stomatitis


Manifestasi Klinis Gingivitis
Keradangan pada gusi dapat disebabkan oleh beberapa hal, keradangan tersebut dapat

terlihat dengan tanda-tanda klinis sebagai berikut:


a. Gusi berwarna merah terang dan mudah berdarah.
b. Perabaan lunak.
c. Mudah berdarah pada waktu menggosok gigi dan pada tingkatan tertentu.
d. Terdapat luka pada gusi.
e. bau tidak sedap
Manifestasi klinis dari stomatitis secara umum yaitu:
a. Masa prodromal atau penyakit 1 24 jam
Hipersensitive dan perasaan seperti terbakar
b. Stadium Pre Ulcerasi
Adanya udema / pembengkangkan setempat dengan terbentuknya makula pavula serta
terjadi peninggian 1- 3 hari
c. Stadium Ulcerasi
Pada stadium ini timbul rasa sakit terjadi nekrosis ditengah-tengahnya, batas sisinya
merah dan udema tonsilasi ini bertahan lama 1 16 hari. Masa penyembuhan ini untuk
tiap-tiap individu berbeda yaitu 1 5 minggu.

2.5 Klasifikasi Gingivitis dan Stomatitis

Secara garis besar gingivitis diklasifikasikan menjadi:


1. Gingivitis Akut
Gingivitis akut dibagi menjadi :
a. Gingivitis Ulseratif Nekrosis Akut / GUNA (Acute Necrotizing Ulcerative Gingivitis
IANUG). GUNA terbagi lagi menjadi:
- GUNA dengan fajctor sistemik tidak dikenal
- GUNA yang berkaitan dengan H.I.V
b. Gingivostomatitis herpetis akut (Acute Herpetic Gingivostomatitis)
2. Gingivitis kronis
Gingivitis kronis terbagi lagi menjadi:
a. Gingivitis simpel / tidak berkomplikasi (Simple unicomplicated gingivitis)
b. Gingivitis berkomplikasi (complicatedgingivitis)
c. Gingivitis deskuamatif (descuamative gingivitis)
3. Gingivitis yang tidak berkaitan dengan plak bakteri.
Klasifikasi Gingivitis menurut lokasinya :
a. Gingivitis Lokalisata
Gingivitis yang hanya terdapat pada satu gigi.
b. Gingivitis Generalisata
Gingivitis yang hampir menyeluruh pada semua gigi rahang atas atau rahang bawah.
c. Gingivitis Marginalis
Gingivitis yang terdapat pada daerah margin dan bisa mencapai daerah attached
gingiva
d. Gingivitis Dims
Gingivitis yang melibatkan gingiva margin dan attached gingiva serta papila
interdental
e. Gingivitis Papilaris
Gingivitis yang melibatkan papila interdental dan meluas ke marginal gingiva yang

berbatasan.
Ada beberapa klasifikasi stomatitis, yaitu:
a. Mycotic stomatitis
Mycotic stomatitis adalah stomatitis yang disebabkan oleh adanya infeksi mulut atau
rongga mulut oleh jamur Candida. Mycotic stomatitis, disebabkan oleh pertumbuhan
Candida albicans , yang merupakan penyebab stomatitis yang luar biasa pada anjing dan
kucing. Hal ini ditandai dengan adanya bercak putih kekuningan pada lidah atau
membran mukosa. Mycotic stomatitis biasanya dihubungkan dengan penyakit mulut
yang lain, penggunaan terapi antibiotik yang lama, atau pemberian immunosuppression.

Pada mycotic stomatitis sering kali pada jaringan terjadi kemerahan dan timbul ulsor di
bagian rongga mulut.
b. Gingivostomatitis
Gingivostomatitis merupakan infeksi virus pada gusi dan bagian mulut lainnya, yang
menimbulkan nyeri. Gusi tampak berwarna merah terang dan terdapat banyak luka
terbuka yang berwarna putih atau kuning di dalam mulut.
c. Denture stomatitis atau Chronic stomatitis
Denture stomatitis adalah suatu istilah yang digunakan untuk menjelaskan perubahanperubahan patologik pada mukosa penyangga gigi tiruan di dalam rongga mulut.
Perubahan-perubahan tersebut ditandai dengan adanya eritema di bawah gigi tiruan
lengkap atau sebagian baik di rahang atas maupun di rahang bawah. Budtz-Jorgensenl
mengemukakan bahwa denture stomatitis dapat disebabkan oleh bermacam- macam
faktor yaitu: trauma, infeksi, pemakaian gigi tiruan yang terus-menerus, oral hygiene
jelek, alergi, dan gangguan faktor sistemik. Oleh karena itu, gambaran klinis maupun
gambaran histopatologis juga bervariasi, sehingga perawatannyapun perlu dilakukan
dengan berbagai cara sesuai dengan kemungkinan penyebabnya.
d. Aphthous stomatitis
Apthous stomatitis (sariawan) adalah stomatitis yang paling umum sering terjadi.
Sariawan ini adalah jenis ulkus yang sangat nyeri pada jaringan lunak mulut, bibir, lidah,
pipi bagian dalam, pharing, dan langit-langit mulut halus. Tipe sariawan ini tidak
menular.
Stomatitis aphtosa ini mempunyai 2 jenis tipe penyakit, diantaranya:
1. Sariawan akut bisa disebabkan oleh trauma sikat gigi, tergigit, dan sebagainya. Pada
sariawan akut ini bila dibiarkan saja akan sembuh dengan sendirinya dalam beberapa
2.

hari.
Sariawan kronis akan sulit sembuh jika dibiarkan tanpa diberi tindakan apa-apa.
Sariawan jenis ini disebabkan oleh xerostomia (mulut kering). Pada keadaan mulut
kering, kuantitas saliva atau air ludah berkurang. Akibatnya kualitasnya pun juga
akan berkurang. Penyebab dari xerostomia ini bisa disebabkan gangguan psikologis
(stress), perubahan hormonal, gangguan pencernaan, sensitif terhadap makanan

tertantu dan terlalu banyak mengonsumsi antihistamin atau sedatif.


Adapun secara klinis stomatitis aphtosa ini dapat dibagi menjadi 3 subtipe,
diantaranya:
1. Stomatitis aphtosa minor (MiRAS)
Sebagian besar pasien menderita stomatitis aphtosa bentuk minor ini. Yang ditandai
oleh luka (ulser) bulat atau oval, dangkal, dengan diameter kurang dari 5mm, dan
dikelilingi oleh pinggiran yang eritematus. Ulserasi pada MiRAS cenderung
mengenai daerah-daerah non-keratin, seperti mukosa labial, mukosa bukal dan dasar
mulut. Ulserasi bisa tunggal atau merupakan kelompok yang terdiri atas empat atau
lima dan akan sembuh dalam jangka waktu 10-14 hari tanpa meninggal bekas.

2. Stomatitis aphtosa major (MaRAS)


Hanya sebagian kecil dari pasien yang terjangkit stomatitis aphtosa jenis ini. Namun
jenis stomatitis aphtosa pada jenis ini lebih hebat daripada stomatitis jenis minor
(MiRAS). Secara klasik, ulser ini berdiameter kira-kira 1-3 cm, dan berlangsung
selama 4minggu atau lebih dan dapat terjadi pada bagian mana saja dari mukosa
mulut,

termasuk

daerah-daerah

berkeratin.

Stomatitis

aphtosa

major

ini

meninggalkan bekas, bekas pernah adanya ulser seringkali dapat dilihat penderita
MaRAS; jaringan parut terjadi karena keseriusan dan lamanya lesi.
3. Ulserasi herpetiformis (HU)
Istilah herpetiformis digunakan karena bentuk klinis dari HU (yang dapat terdiri
atas 100 ulser kecil-kecil pada satu waktu) mirip dengan gingivostomatitis herpetik
primer, tetapi virus-virus herpes initidak mempunyai peran etiologi pada HU atau
dalam setiap bentuk ulserasi aphtosa.
2.6 Penatalaksanaan Gingivitis dan Stomatitis
Perawatan inisial Gingivitis mencakup prosedur-prosedur:
a. Instruksi Kontrol Plak
Pada sesi pertama dapat diajarkan cara menyikat gigi yang benar. Penggunaan alat
pembersih interdental belum dapat dilakukan karena penggunaannya masih terhalang
oleh deposit dan cacat interproksimal yang belum tersingkirkan.
b. Penskeleran dan penyerutan akar
Apabila pada pasien dijumpai gingiva yang getas dan terinflamasi di sekitar saku
periodontal yang dalam, prosedur penskeleran supragingiva untuk menyirigkirkan
kalkulus subgihgiva harus didahulukan. Dengan pefskeleran supragingiva, gingivitis
akan mereda dan dilanjutkan perskeleran subgingiva pada sesi selanjutnya. Pada
permukaan akar dengan gingival yang tersingkap terdapat sisa toksin bakteri, pada
daerah ini harus dilakukan penyerutan akar agar jaringan nekrose tersingkap.
c. Perbaikan restorasi yang cacat
Tepi restorasi yang cacat, dapat dideteksi dengan ujung eksplorer yang halus, yaitu
dengan menggeserkan eksplorer naik turun sepanjang tepi restorasi. Apabila terdapat
tepi restorasi yang mengeper terdengar bunyi klik saat eksplorer digeser dari restorasi ke
arah gigi dan terasa ada hambatan. Penyingkiran restorasi yang mengeper sedapat
mungkin digantikan dengan restorasi yang baru. Apabila restorasinya ingin tetap
dipertahankan agar perawatan inisal bisa cepat diselesaikan, bagian yang mengeper
harus disingkirkan. Bagian restorasi alloy dan resin yang mengeper dapat disingkirkan
dengan skeler, kikir periodontal atau finishing bur. Bila menggunakan bur arahnya
adalah dari bagian restorasi yang mengeper ke arah gigi.
d. Penumpatan Lesi Karies

Karies yang lokasinya dekat ke gingiva dapat mengganggu kesehatan periodontal,


meskipun tanpa adanya kalkulus ataupun restorasi yang eacat disekitarnya. Penumpatan
sebaiknya berupa penumpatan tetap (permanen), namun pada keadaan tertentu
penumpatan sementarapun sudah memadai karena telah dapat menyingkirkan tempat
persembunyian bakteri.
e. Pemolesan
Setelah dilakukan penskeleran, perbaikan restorasi, penumpatan lesi karies, lakukan
pemolesan. Pemolesan dilakukan untuk mengkilapkan mahkota gigi dengan aberasif
yang dioles dengan brush atau rubber cup yang diputar dengan mesin.

Penatalaksanaan medis untuk mengatasi stomatitis adalah sebagai berikut:


a. Hindari makanan yang semakin memperburuk kondisi seperti cabai
b. Sembuhkan penyakit atau keadaan yang mendasarinya
c. Pelihara kebersihan mulut dan gigi serta mengkonsumsi nutrisi yang cukup, terutama
makanan yang mengandung vitamin 12 dan zat besi
d. Hindari stress
e. Pemberian Atibiotik
Harus disertai dengan terapi penyakit penyebabnya, selain diberikan emolien topikal,
seperti orabase, pada kasus yang ringan dengan 2 3 ulcersi minor. Pada kasus yang
lebih berat dapat diberikan kortikosteroid, seperti triamsinolon atau fluosinolon topikal,
sebanyak 3 atau 4 kali sehari setelah makan dan menjelang tidur. Pemberian tetraciclin
dapat diberikan untuk mengurangi rasa nyeri dan jumlah ulcerasi. Bila tidak ada
responsif terhadap kortikosteroid atau tetrasiklin, dapat diberikan dakson dan bila gagal
juga maka di berikan talidomid.
f. Terapi
Pengobatan stomatitis karena herpes adalah konservatif. Pada beberapa kasus diperlukan
antivirus. Untuk gejala lokal dengan kumur air hangat dicampur garam (jangan
menggunakan antiseptik karena menyebabkan iritasi) dan penghilang rasa sakit topikal.
Pengobatan stomatitis aphtosa terutama penghilang rasa sakit topikal. Pengobatan
jangka panjang yang efektif adalah menghindari faktor pencetus. Terapi yang dianjurkan
yaitu:
1. Injeksi vitamin B12 IM (1000 mcg per minggu untuk bulan pertama dan kemudian
1000 mcg per bulan) untuk pasien dengan level serum vitamin B12 dibawah 100
pg/ml, pasien dengan neuropathy peripheral atau anemia makrocytik, dan pasien
berasal dari golongan sosioekonomi bawah.
2. Tablet vitamin B12 sublingual (1000 mcg) per hari. Tidak ada perawatan lain yang
diberikan untuk penderita RAS selama perawatan dan pada waktu follow-up. Periode
follow-up mulai dari 3 bulan sampai 4 tahun.

2.7 Pemeriksaan Penunjang Gingivitis dan Stomatitis


Pemeriksaan Penunjang pada Stomatitis yang digunakan adalah sebagai berikut:
1. Dilakukan pengolesan lesi dengan toluidin biru 1% topikal dengan swab atau kumur
sedangkan diagnosis pasti dengan menggunakan biopsi.
2. Pemeriksaan laboratorium :
a. WBC menurun pada stomatitis sekunder
b. Pemeriksaan kultur virus: cairan vesikel dari herpes simplek stomatitis
c. Pemeriksaan cultur bakteri: eksudat untuk membentuk vincents stomatitis
2.8 Pencegahan Gingivitis dan Stomatitis
Usaha untuk mencegah radang gusi atau Gingivitis, antara lain:
a. Memelihara kebersihan mulut
Yang dimaksud memelihara kebersihan mulut adalah menghilangkan plak dari
permukaan gigi dengan cara menggunakan sikat gigi yang baik, dengan syarat:
kepala sika cukup kecil, tangkainya berbentuk lurus, dan bulu sikat halus, rata.
Tujuannya adalah untuk mencegah penumpukan plak, karena hal ini terutama
menimbulkan radang gusi.
b. Membangun kebiasaan sehat
Membangun kebiasaan sehat terkadang berat untuk dilaakukan, terutama bagi orang
yang belum bisa melaksanakannya. Namun dangan niat yang kuat senantiasa
menyadari pentingnya kesehatan dan manfaatnya bagi kita.Kebiasaan sehat yang
dianjurkan yaitu biasakan berkumur sebelum dan sesudah makan hal itu akan
mencegah kuman penyakit yang dapat masuk ke rongga mulut, sehingga radang gusi
yang disebabkan oleh kuman tersebut tidak terjadi, selain itu tidak mengkonsumsi
makanan yang manis secara berlebihan.
c. Ceck- up ke dokter gigi
Cara mengatasi radang gusi yaitu hendaknya kita memiliki jadwal untuk memeriksa,
mengontrol, dan mengawasi kesehatan mulut secara rutin. Berdasarkan kondisi gigi
dan gusi, dokter gigi akan menjadwalkan program kesehatan mulut kita dan akan
memberikan saran-saran yang berkaitan dengan kesehatan mulut kita, seperti

mengurangi makanan yang manis-manis (Ummusalma, 2007).


Cara mencegah penyakit ini dengan mengetahui penyebabnya, apabila kita mengetahui
penyebabnya diharapkan kepada kita untuk menghindari timbulnya sariawan ini diantaranya
dengan :
1. Menjaga kebersihan mulut
2. Mengkonsumsi nutrisi yang cukup, terutama yang mengandung vitamin B12,
3.
4.

vitamin C dan zat besi


Menghadapi stress dengan efektif
Menghindari luka pada mulut saat menggosok gigi atau saat menggigit

makananMenghindari makanan yang terlalu panas atau terlalu dingin


5. Menghindari makanan dan obat-obatan atau zat yang dapat menimbulkan reaksi
alergi pada rongga mulut.
2.9 Komplikasi Gingivitis dan Stomatitis

Dampak gangguan stomatitis pada kebutuhan dasar manusia :


- Pola nutrisi : nafsu makan menjadi berkurang, pola makan menjadi tidak teratur
- Pola aktivitas : kemampuan untuk berkomunikasi menjadi sulit
- Pola Hygiene : kurang menjaga kebersihan mulut

- Terganggunya rasa nyaman : biasanya yang sering dijumpai adalah perih


Stomatitis memunculkan berbagai macam komplikasi bagi tubuh kita diantaranya:
1. Komplikasi akibat kemoterapi
Karena sel lapisan epitel gastrointestinal mempunyai waktu pergantian yang mirip
dengan leukosit, periode kerusakan terparah pada mukosa oral frekuensinya berhubungan
dengan titik terendah dari sel darah putih. Mekanisme dari toksisitas oral bertepatan
dengan pulihnya granulosit. Bibir, lidah, dasar mulut, mukosa bukal, dan palatum lunak
lebih sering dan rentan terkena komplikasi dibanding palatum keras dan gingiva; hal ini
tergantung pada cepat atau tidaknya pergantian sel epithelial. Mukosa mulut akan
menjadi tereksaserbasi ketika agen kemoterapeutik yang menghasilkan toksisitas mukosa
diberikan dalam dosis tinggi atau berkombinasi dengan ionisasi penyinaran radiasi.
2.Komplikasi Akibat Radiasi
Penyinaran lokal pada kepala dan leher tidak hanya menyebabkan perubahan histologis
dan fisiologis pada mukosa oral yang disebabkan oleh terapi sitotoksik, tapi juga
menghasilkan gangguan struktural dan fungsional pada jaringan pendukung, termasuk
glandula saliva dan tulang. Dosis tinggi radiasi pada tulang yang berhubungan dengan
gigi menyebabkan hypoxia, berkurangnya supplai darah ke tulang, hancurnya tulang
bersamaan dengan terbukanya tulang, infeksi, dan nekrosis. Radiasi pada daerah kepala
dan leher serta agen antineoplastik merusak divisi sel, mengganggu mekanisme normal
pergantian mukosa oral. Kerusakan akibat radiasi berbeda dari kerusakan akibat
kemoterapi, pada volume jaringan yang terus teradiasi terus-menerus akan berbahaya
bagi pasien sepanjang hidupnya. Jaringan ini sangat mudah rusak oleh obat-obatan toksik
atau penyinaran radiasi lanjutan, Mekanisme perbaikan fisiologis normal dapat
mengurangi efek ini sebagai hasil dari depopulasi permanen seluler.
3. Komplikasi Akibat Pembedahan
Pada pasien dengan osteoradionekrosis yang melibatkan mandibula dan tulang wajah,
maka debridemen sisa pembedahan dapat merusak. Usaha rekonstruksi akan menjadi siasia, kecuali jaringan oksigenasi berkembang pada pembedahan. Terapi hiperbarik oksigen
telah berhasil menunjukkan rangsangan terhadap formasi kapiler baru terhadap jaringan
yang rusak dan telah digunakan sebagai tambahan pada debridemen pembedahan.
4. Komplikasi Oral
1.Mucositis/Stomatitis

Defenisi mucositis dan stomatitis sering tertukar dalam penggunaannya tetapi terdapat
perbedaan yang besar diantara keduanya. Mucositis dijelaskan sebagai suatu
inflammatory toksik yang mempengaruhi traktus gastrointestinal dari mulut sampai
anus, yang dapat dihasilkan akibat dari pennyorotan radiasi sampai agen
kemoterapeutik atau radiasi ionisasi. Tipikal mucositis termanifestasi sebagai suatu
eritematous, lesi seperti terbakar atau acak, focal to diffuse, dan lesi ulseratif.
Mucositis dapat tereksaserbasi dengan factor lokal. Stomatitis merujuk pada suatu
reaksi inflamasi yang terjadi pada mukosa oral, dengan atau tanpa ulserasi dan dapat
berkembang oleh faktor lokal seperti yang teridentifikasi pada etiologi/patofisiologi
pada pembahasan ini. Stomatitis dapat menjadi berkadar ringan atau parah. Pasien
dengan stomatitis yang parah tidak akan mampu memasukkan apapun kedalam
mulutnya. Mucositis eritematous dapat terjadi 3 hari setelah pemaparan kemoterapi,
tapi secara umum berkisar 3-7 hari. Perkembangan menuju mucositis ulseratif
umumnya berlangsung 7 hari setelah kemoterapi. Dokter gigi harus waspada terhadap
potensi berkembangnya toksisitas akibat peningkatan dosis atau lamanya perawatan
pada percobaan klinik yang menunjukkan toksisitas gastrointestinal. Dosis tinggi
kemoterapi seperti yang dilakukan pada perawatan leukemia dan pengaturan jadwal
obat dengan infus berlanjut, berulang dan tidak terputus (seperti bleomycin,
cytarabine, methotrexate dan fluororacil) sepertinya merupakan penyebab mucositis
dibanding obat infus satu bolus dengan dosis yang setara. Mucositis tidak akan
bertambah parah jika tidak terkomplikasi oleh infeksi dan secara normal dapat sembuh
total dalam waktu 2-4 minggu. Beberapa garis panduan untuk perawatan mulut
termasuk penilaian sebanyak dua kali sehari untuk pasien dirumah sakit dan perawatan
mulut yang sering (minimal 4 jam dan sewaktu akan tidur) malahan meningkatkan
keparahan dari mucositis.

2.Infeksi
Mucositis oral dapat berkomplikasi dengan infeksi pada pasien dengan sistim imun
yang menurun. Tidak hanya mulut itu sendiri yang dapat terinfeksi, tetapi hilangnya
epitel oral sebagai suatu protektif barrier terjadi pada infeksi lokal dan menghasilkan
jalan masuk buat mikroorganisme pada sirkulasi sistemik. Ketika ketahanan mukosa
terganggu, infeksi lokal dan sistemik dapat dihasilkan oleh indigenous flora seperti
mikroorganisme nosokomial dan oportunistik. Ketika jumlah netrofil menurun
sampai 1000/kubik/mm, insiden dan keparahan infeksi semakin meningkat. Pasien

dengan neutropenia berkepanjangan berada pada resiko tinggi buat perkembangan


komplikasi infeksi yang serius.Penggunaan antibiotik berkepenjangan pada penyakit
neutropenia mengganggu flora mulut, menciptakan suatu lingkungan favorit buat
jamur untuk berkembang yang dapat bereksaserbasi oleh terapi steroid secara
bersamaan. Dreizen dan kawan-kawan melaporkan bahwa sekitar 70 % infeksi oral
pada pasien dengan tumor solid disebabkan oleh Candida Albicans dan jamur
lainnya, 20 % disusun oleh Herpex Simplex Virus (HSV) dan sisanya disusun oleh
bakteri bacillus gram negatif. Pada pasien dengan keganasan hematologik, 50 %
infeksi oral akibat bakteri Candida Albicans, 25 % akibat HSV, dan 15 % oleh
bakteri bacillus gram negatif. HSV merupakan gejala paling umum pada infeksi oral
viral.
3. Hemorrhage
Hemorrhage dapat terjadi sepanjang perawatan akibat trombositopenia dan atau
koagulasipati. Pada lokasi terjadinya penyakit periodontal dapat terjadi perdarahan
secara spontan atau dari trauma minimal. Perdarahan oral dapat berbentuk minimal,
dengan ptekiae berlokasi pada bibir, palatum lunak, atau lantai mulut atau dapat
menjadi lebih parah dengan hemorrhage mulut , terutama pada krevikular gingival.
Perdarahan gingiva spontan dapat terjadi ketika jumlah platelet mencapai paling
kurang 50.000/kubik/mm.
4. Xerostomia
Xerostomia dapat dikenali sebagai berkurangnya sekresi dari glandula saliva. Gejala
klinik tanda xerostomia termasuk diantaranya : rasa kering, suatu sensasi rasa luka
atau terbakar (khususnya melibatkan lidah), bibir retak-retak, celah atau fissura pada
sudut mulut, perubahan pada permukaan lidah, kesulitan untuk memakai gigi palsu,
dan peningkatan frekuensi dan atau volume dari kebutuhan cairan. Pengaturan
perawatan preventif oral, termasuk applikasi topikal flour harus segera dimulai untuk
mencegah kerusakan lebih lanjut. Xerostomia dapat dihasilkan melalui reaksi
inflammatory dan efek degeneratif radiasi ionisasi pada glandula saliva parenkim,
khususnya pada serous acinar. Perubahan ini biasanya sangat pesat dan bersifat
irreversible, khususnya ketika glandula saliva termasuk daerah penyorotan radiasi.
Aliran saliva mengalami penurunan 1 minggu setelah perawatan dan berkurang
secara progresif ketika perawatan terus dilanjutkan, Derajat dari disfungsi tersebut
sangat berhubungan dengan dosis radiasi dan volume jaringan glandula pada
lapangan radiasi. Glandula parotid dapat menjadi lebih rentan terhadap efek radiasi
daripada glandula submandibular, sublingual, dan jaringan glandula saliva minor.
Xerostomia mengganggu kapasitas buffer mulut dan kemampuan pembersihan
mekanis, sering berkonstribusi pada dental karies dan penyakit periodontal yang

progresif. Perkembangan dental karies berakselerasi dengan sangat cepat pada


terjadinya xerostomia akibat hilangnya immunoprotein protektif yang merupakan
komponen dari saliva. Saliva dibutuhkan untuk eksekusi normal dari fungsi mulut
seperti mengecap, mengunyah, dan berbicara. Keseluruhan kecepatan aliran saliva
yang kurang dari 0,1 ml/menit dianggap sebagai indikasi xerostomia (normal = 0,30,5 ml/menit).Xerostomia menghasilkan perubahan didalam rongga mulut antara
lain:
1. Saliva tidak melakukan lubrikasi dan menjadi menebal dan atrofi, yang akan
mengganggu

kenyamanan

pasien.

2. Kapasitas buffer menjadi tereliminasi, pada mulut kering yang bersih pH


3.

umumnya 4,5 dan demineralisasi dapat terjadi.


Flora oral menjadi patogenik.

4. Plak menjadi tebal dan berat, debris tetap bertahan akibat ketidakmampuan
pasien untuk membersihkan mulut.
5. Tidak ada mineral (kalsium, fosfor, fluor) yang tersimpan pada permukaan gigi.
6. Produksi asam setelah terpapar oleh gula dihasilkan oleh demineralisasi
selanjutnya pada gigi dan kemudian dapat menimbulkan kerusakan gigi
5.Nekrosis Akibat Radiasis
Nekrosis dan infeksi pada jaringan yang telah dilakukan penyorotan radiasi
sebelumnya (osteoradionekrosis) merupakan suatu komplikasi yang serius bagi
pasien yang menjalani terapi radiasi pada tumor kepala dan leher. Komplikasi
oral akibat terapi radiasi memerlukan terapi dental yang agresif sebelum, selama
dan setelah terapi radiasi untuk meminimalisasi tingkat keparahan (xerostomia
permanent, karies ulseratif, osteomyelitis akibat radiasi dan osteoradionekrosis).