Anda di halaman 1dari 5

Wasiat Nabi Kepada Ibnu Abbas*

ِ‫ َو َسّيَئات‬،‫سَنا‬ ِ ‫ل ِمْن ُشُروِر َأْنُف‬ ِ ‫ َو َنُعوُذ ِبا‬،‫سَتْغِفُرُه‬


ْ ‫ َو َن‬،‫سَتِعيُنُه‬
ْ ‫ َو َن‬،‫حَمُدُه‬ْ ‫ل َن‬ِ ‫حْمَد‬ َ ‫ِإّن اْل‬
،‫ل‬ ُ ‫ َو َأْشَهُد َأْن َل ِإَلَه ِإَل ا‬،‫ي َلُه‬ َ ‫ل َهاِد‬ َ ‫ضِلْل َف‬
ْ ‫ َو َمْن ُي‬،‫ضّل َلُه‬ ِ ‫ل ُم‬ َ ‫ل َف‬
ُ ‫ َمْن َيْهِدِه ا‬،‫َأْعَماِلَنا‬
‫حّمًدا َعْبُدُه َو َرُسوُلُه‬ َ ‫ َو َأْشَهُد َأّن ُم‬،‫ك َلُه‬ َ ‫َوْحَدُه َل َشِرْي‬
(‫سِلُموَن‬ ْ ‫ل َحّق ُتَقاِتِه َو َل َتُموُتّن ِإّل َو َأْنُتْم ُم‬ َ ‫ )َيا َأّيَها اّلِذيَن آَمُنوا اّتُقوا ا‬:‫َقاَل َتَعاَلى‬
‫س ّوِحَدٍة ّو َخَلَق ِمْنَها َزْوَجَها َو‬ ٍ ‫س اّتُقوا َرّبُكُم اّلِذي َخَلَقُكْم ِمن ّنْف‬ ُ ‫ )َيا َأّيَها الّن‬:‫ضا‬ً ‫َو َقاَل َأْي‬
‫ل َكاَن َعَلْيُكْم‬ َ ‫سآَءُلوَن ِبِه َو اْلَأْرَحاَم ِإّن ا‬ َ ‫ل اّلِذي َت‬ َ ‫ساًء ّو اّتُقوا ا‬َ ‫ث ِمْنُهَما ِرَجاًل َكِثًيا ّو ِن‬ ّ ‫َب‬
(‫َرِقيًبا‬
‫صِلْح َلُكْم َأْعَماَلُكْم َو‬ ْ ‫ل َو ُقوُلوا َقْوًل َسِديًدا ّي‬ َ ‫ ) َيا َأّيَها اّلِذيَن آَمُنوا اّتُقوا ا‬:‫ل َلُه‬ َ ‫َو َقَل َجّل َج‬
(‫ل َو َرُسْوَلُه َفَقْد َفاَز َفْوًزا َعِظيًما‬ َ ‫َيْغِفْر َلُكْم ُذُنوَبُكْم َو َمْن ّيِطِع ا‬
‫ َو‬،‫ل َعَلْيِه َو َسّلَم‬ ُ ‫صّلى ا‬ َ ‫حّمٍد‬ َ ‫ي َهْديُ ُم‬ ِ ‫ َو َخْيَر اْلَهْد‬،‫ل‬ ِ ‫لُم ا‬ َ ‫لِم َك‬َ ‫سَن اْلَك‬ َ ‫ َفِإّن َأْح‬:‫َأّما َبْعُد‬
‫لَلٍة ِفى الّناِر‬َ‫ض‬ َ ‫ َو ُكّل‬،‫ضلََلٌة‬ َ ‫ َو ُكّل ِبْدَعٍة‬،‫ت ِبْدَعٌة‬ ٍ ‫حَدَث‬ ْ ‫ َو ُكّل ُم‬،‫حَدَثاُتَها‬ ْ ‫ّشّر ْاُلُمْوِر ُم‬
Ma'asyiral Muslimin Jama'ah Jum'at Rahimakumullah,
Marilah kita bertakwa kepada Allah dan menghafalkan wasiat Nabi  kepada Ibnu Abbas , anak
paman beliau. Abdullah bin Abbas  berkata, “Suatu hari aku berada (membonceng) di belakang
Rasulullah . Beliau  bersabda kepadaku, 'Wahai bocah, aku akan mengajarimu beberapa
kalimat. Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, pasti kamu akan
mendapati-Nya di hadapanmu. Kenalilah Allah di saat lapang, niscaya Dia akang mengenalimu
ketika sempit. Jika kamu memohon, maka memohonlah kepada Allah. Jika kamu meminta
pertolongan, maka mintalah kepada Allah. Ketahuilah bahwa sekiranya semua makhluk berkumpul
untuk memberikan suatu manfaat kepadamu, niscaya mereka tidak akan bisa memberikan kamu
manfaat kecuali apabila hal itu telah ditakdirkan kepadamu. Dan sekiranya mereka berkumpul
untuk mendatangkan suatu bahaya kepadamu, niscaya mereka tidak kuasa mendatangkan bahaya
itu kepadamu, kecuali apabila hal itu telah ditakdirkan untukmu. Pena-pena telah diangkat dan
lembaran-lembaran telah kering. Maka, apa saja yang ditakdirkan menimpamu, pasti tidak akan
luput darimu, pasti tidak akan menimpamu. Ketahuilah, sesungguhnya bersama kesabaran ada
kemenangan dan bersama musibah ada jalan keluar dan setelah kesulitan ada kemudahan.'”
Wasiat yang agung ini hendaklah dihafal dan diamalkan oleh seorang muslim, karena dengan
mengamalkannya akan mendatangkan kebahagiaan dan keselamatan.

Wasiat yang pertama, adalah menjaga Allah , sebagaimana sabda beliau, “Jagalah Allah.”
Maksudnya adalah menjaga agama dan ketentuan-ketentuannya, dengan cara menjaga ketaatan dan
menegakkan hukum-hukumnya. Jika hukum-hukum tersebut berupa kewajiban, dia tidak
melanggarnya dan jika hukum-hukum itu berupa hal-hal yang diharamkan, dia meninggalkan dan
menjauhinya. Maka, siapa yang menjaga Allah , Allah  akan menjaganya, menjaga agama,
keluarga dan hartanya.
Menegakkan ketaatan kepada Allah  adalah salah satu sebab agama seorang hamba akan terjaga
hingga meninggal dunia, juga merupakan sebab keluarga seorang hamba terjaga saat mereka hidup
dan setelah meninggal dunia. Sehingga, hal-hal yang tidak dikehendaki pun tidak terjadi pada
mereka. Sebagaimana firman Allah ,

ً ‫كان أ َبوهما صٰـِل‬


‫حا ۝‬ ‫و‬
َ َ ُ ُ َ َ َ
“sedang ayahnya adalah seorang yang shaleh.” (QS. al-Kahfi:82)

Keduanya dijaga oleh Allah karena ayahnya. Dan menjaga hukum-hukum Allah menjadi sebab

ْ ْ ْ
seorang hamba terjaga. Allah berfirman,
ْ ْ ْ ً ْ ْ ‫وم‬
‫ل يحت َِسب‬ ‫ث‬ ‫ي‬ ‫ح‬ ‫ن‬ ‫م‬
ِ ‫ه‬ ‫ق‬‫ز‬‫ر‬ ‫ي‬ ‫و‬ ‫۝‬ ‫جا‬ ‫ر‬ ‫خ‬ ‫م‬ ‫لۥ‬َ ّ ‫عل‬‫ج‬ ‫ي‬ ‫ل‬ ‫ٱ‬ ‫ق‬ ‫ت‬‫ي‬ ‫ن‬
ُ ََ ُ َ ُ ُ َ َ َ َ ُ َ َ َ َّ ِ َّ َ َ َ
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan
memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangka.” (QS. ath-Thalaq: 2-3)

Berapa banyak seseorang yang diberkahi hartanya dan diselamatkan dari berbagai macam musibah
karena dia menjaga hukum-hukum Allah .

Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,


Wasiat kedua, menjaga Allah  menyebabkan datangnya hidayah, sebagaimana sabda beliau,
“Jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu.” Ini juga termasuk di antara
faidah menjaga hukum-hukum Allah  bagi seorang hamba. Dia akan mendapati Allah  di
hadapannya, memberinya hidayah kepada kebaikan dan memudahkan semua urusannya. Sehingga,
semua urusannya menjadi mudah.

Wasiat ketiga, adalah menjaga Allah  di saat lapang. Sebagaimana sabda Nabi , “Kenalilah
Allah di saat lapang, kelak Allah akan mengenalimu di saat sempit.” Biasanya seseorang yang
berada di saat lapang merasa gembira dan lupa dengan hukum-hukum Allah . Ini yang biasanya
terjadi pada kebanyakan orang. Sebaaimana sabda beliau ,
ُ ‫حُة َو اْلَفَرا‬
‫غ‬ َ‫ص‬
ّ ‫س ال‬
ِ ‫ِنْعَمَتانِ َمْغُبوُنوٌن ِفيِهَما َكِثْيٌر ِمْن الّنا‬
“Dua nikmat yang sering menipu kebanyakan orang, yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR. al-
Bukhari)

Adapun orang-orang yang diberi taufik oleh Allah , mereka mengetahui bahwa keadaan seseorang
tidak selamanya lapang. Setiap manusia pasti merasakan kesempitan baik kesempitan itu berupa
kematian, meninggalkan harta, keluarga dan anak. Di saat lapang, mereka mengerjakan sesuatu
yang kelak bisa mereka mintai pertolongan kepada Allah  di waktu sempit. Mereka mengenal
Allah  dengan mengerjakan berbagai ketaatan.

Jadi, siapa yang mengenal Allah  di saat lapang, maka Allah  akan mengenalnya di saat sempit,
dan kesempitan itu bisa berupa kekurangan, sakit atau ketakutan. Dan kesempitan yang paling berat
bagi seorang hamba adalah kematian. Dalam keadaan ini, dia lebih membutuhkan kasih sayang
Allah  dan rahmat-Nya. Pada keadaan ini terkumpul dua kesempitan. Pertama, sakitnya
meninggal dunia, meninggalkan keluarga, anak dan harta benda. Dan kedua, sakitnya sempitnya
rasa sakit yang dia alami pada waktu itu, beratnya ujian dan mempertahankan iman. Sesungguhnya
setan sangat bersemangat untuk menggelincirkan hamba pada saat ini. Karena, itu adalah saat yang
menentukan kebahagiaan dan kecelakaan seseorang. Terkadang ditawarkan kepada seorang hamba
agama Yahudi, Nasrani atau lainnya dan pada saat itu sebagai fitnah baginya. Jika dia telah
mengenal Allah  di saat lapang, maka Allah  akan mengenalnya di saat sempit. Allah  akan
memberikan keteguhan kepadanya dan memberikan husnul khatimah, akhir hidup yang baik
baginya. Ya Allah, jadikan akhir hidup kami husnul khatimah.
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Wasiat yang keempat dan kelima, memohon dan meminta pertolongan hanya kepada Allah,
sebagaimana sabda beliau, “Apabila kamu memohon, memohonlah kepada Alah, dan apabila kamu
meminta pertolongan, minta pertolonganlah kepada Allah.” Barangsiapa yang ingin dipenuhi
hajatnya hendaknya dia meminta kepada Allah. Dalam hadits disebutkan, “Mintalah karunia dari
Allah. Sesungguhnya Allah senang dimintai doa.” Rasulullah membaiat sejumlah para sahabat agar
mereka tidak meminta-minta kepada manusia sedikit pun. Di antara mereka ada yang cemetinya
atau tali untanya jatuh dan dia tidak minta seorang pun mengambilnya.

،‫حِكْيِم‬ َ ‫ت َو الّذْكِر اْل‬ ِ ‫ َو َنَفَعِنْي َو ِإّيُكْم ِبَما ِفْيِه ِمَن ْاَلَيا‬،‫ل ِلْي َو َلُكْم ِفي اْلُقْرَأِن اْلَعِظْيِم‬ ُ ‫َباَرَك ا‬
‫ت َفاْسَتْغِفُروهُ ِإّنُه ُهَو‬
ِ ‫سِلَما‬ ْ ‫ي َو اْلُم‬ َ ‫سِلِم‬
ْ ‫ساِئِر اْلُم‬َ ‫ل ِلي َو َلُكْم َو ِل‬ َ ‫َأُقْوُل َقْوِلي َهَذا َأْسَتْغِفُر ا‬
‫اْلَغُفوُر الّرِحْيُم‬
Khutbah Kedua

ُ‫حّمًدا َخاَتم‬ َ ‫ َو َأْشَهُد َأّن ُم‬،‫ي‬َ ‫ح‬ ِ ‫صاِل‬ّ ‫ل َوِلّي ال‬ُ ‫ َو َأْشَهُد َأْن َل ِإَلَه ِإّل ا‬،‫ي‬
َ ‫ب اْلَعاَلِم‬
ّ ‫ل َر‬ِ ُ‫حْمد‬ َ ‫َاْل‬
‫ت َعَلى آِل ِإْبَراِهيَم َو‬ َ ‫صّلْي‬
َ ‫حّمٍد َكَما‬ َ ُ‫حّمٍد َو َعَلى آِلِه م‬ َ ‫صّل َعَلى ُم‬ َ ‫ الّلُهّم‬،‫ي‬َ ‫ْاَلْنِبَياِء َو اْلُمْرَسِل‬
،‫جيٌد‬ِ ‫ك َحِميٌد َم‬ َ ‫ت َعَلى آِل ِإْبَراِهيَم ِإّن‬ َ ‫حّمٍد َكَما َباَرْك‬ َ ‫حّمٍد َو َعِلى آِل ُم‬ َ ‫َباِرْك َعَلى ُم‬
‫َأّما َبْعُد‬
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Setelah menyampaikan wasiatnya, selanjutnya beliau menjelaskan bahwa seluruh manusia tidak
akan mampu memberikan manfaat dan madharat kecuali apabila telah ditakdirkan oleh Allah  dan
semua yang telah ditakdirkan oleh Allah  pasti akan terjadi karena semua urusan telah selesai.

Beliau  juga memberikan wasiat bahwa setelah kesabaran ada kemenangan. Siapa yang sabar, dia
akan menang dan memperoleh harapannya. Sesungguhnya setelah musibah itu ada jalan keluar.
Apabila musibah menimpa kita dan kita merasakan kesempitan, maka ingatlah Allah  dan
tunggulah jalan keluarnya. Sesungguhnya pertolongan Allah  itu dekat. Dan setelah kesulitan itu
ada kemudahan.

Wahai kaum muslimin rahimakumullah, inilah wasiat Nabi  kepada anak pamannya. Marilah kita

ْ ْ
hafal dan kita laksanakan agar ktia mendapat keberuntungan. Allah  berfirman,

‫لِمرن‬ ‫ٱلتـئبون ٱلعـبدون ٱلحـمدون ٱلسـئحون ٱلر ٰكعون ٱلسـجدون ٱ‬


َ ُ َ َ ُ ِ ٰ َّ َ ُ ِ َّ َ ُ ِ ٰ َّ َ ُ ِ ٰ َ َ ُ ِ ٰ َ َ ُ ِ ٰ َّ
ْ ْ ْ ْ ْ
‫ش‬
ِ ّ ِ َ ‫دوِد ٱَّلِ ۗ َو ب‬
ُ ‫ح‬
ُ ِ‫ظوَن ل‬
ُ ‫كِر و ٱلَحٰـِف‬ ‫بٱلمعوف وٱلناهون عن ٱلمن‬
َ َ ُ ِ َ َ ُ َّ َ ِ ُ َ ِ
ْ ْ
‫ٱلُمؤِمنِيَ ۝‬
“Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji, yang melawat,
yang ruku', yang sujud, yang menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah berbuat munkar dan yang
memelihara hukum-hukum Allah dan gembirakanlah orang-orang Mukmin itu.”
‫ت َعَلى ِإْبَراِهيَم َو َعَلى آِل ِإْبَراِهْيَم ِإّنكَ‬ ‫صَلْي َ‬‫حّمٍد َكَما َ‬ ‫حّمٍد َو َعَلى آِل ُم َ‬ ‫صّل َعَلى ُم َ‬ ‫الّلُهّم َ‬
‫ت َعَلى ِإْبَراِهيَم َو َعَلى آِل‬ ‫حّمٍد َكَما َبَرْك َ‬ ‫حّمٍد َو َعَلى آِل ُم َ‬ ‫جيٌد‪ ،‬الّلُهّم َبِرْك َعَلى ُم َ‬ ‫َحِميٌد َم ِ‬
‫جيٌد‪.‬‬‫ك َحِميٌد َم ِ‬ ‫ِإْبَراِهْيَم ِإّن َ‬
‫جَعْل ِفْي ُقُلوِبَنا ِغلّ ِلّلِذْيَن آَمُنوا َرّبَنا ِإّن َ‬
‫ك‬ ‫َرّبَنا اْغِفْرَلَنا َوِلِإْخَواِنَنا اّلِذْيَن َسَبُقْوَن ِباْلِإْيَماِن َو َل َت ْ‬
‫َرُؤوفٌ َرِحْيٌم‬
‫صِلْح ُوَلَة ُأُموِرَنا َو َأْعِطِهْم اِلْسِتَقاَمَة ِفى ِديِنِهْم َو اْهِدِهْم ِإَلى ُكّل َخْيٍر َو‬ ‫حَنا َو َأ ْ‬‫صِل ْ‬‫الّلُهّم َأ ْ‬
‫ب الّدْعَوِة‬ ‫جي ُ‬ ‫ك ُم ِ‬‫ي ِلُوَلِة ُأُموِرَنا ِإّن َ‬‫اْجَعْلَنا ُمِطيِع َ‬
‫ف َو اْلِغَنى‬‫ك اْلُهَدى َو الّتَقى َو اْلَعَفا َ‬ ‫سَأُل َ‬‫الّلُهّم ِإّنا َن ْ‬
‫ت اْلَوّهاب‬ ‫ك َأْن َ‬
‫ك َرحَْمًة ِإّن َ‬‫ب َلَنا ِمْن َلُدْن َ‬ ‫غ ُقُلوَبَنا َبْعَد ِإْذَهَدْيَتَنا َو َه ْ‬‫الّلُهّم َل ُتِز ْ‬
‫حِكيُم‬‫ت اْلَعِزيُز اْل َ‬
‫ك َأْن َ‬
‫جَعْلَنا ِفْتَنًة ّلّلِذيَن َكَفُروا َواْغِفْر َلَنا َرّبَنا ِإّن َ‬
‫َرّبَنا َل َت ْ‬
‫ي‪.‬‬
‫ب اْلَعاَلِم َ‬ ‫ل َر ِ‬ ‫حْمُد ِ‬ ‫ب الّناِر‪َ ،‬و اْل َ‬ ‫سَنًة َو ِقَنا َعَذا َ‬ ‫سَنًة َو ِفى ْاَلِخَرِة َح َ‬ ‫َرّبَنآ َءاِتَنا ِفى الّدْنَي َح َ‬
* Dikutip dari Rubrik Khutbah Jum'at, Majalah As-Sunnah, No. 10/Thn. XIII Muharram 1431 H / Januri 2010 M, hal
62-64; dengan beberapa perubahan redaksi kalimat.