Anda di halaman 1dari 5

Chapter 33

(EM Griffin)
(Speech Codes Theory of Gerry Philipsen)

Asumsi dari teori ini tentang kemampuan orang asing dalam menyesuaikan suasana
melalui gaya bahasa ketika bersama atau di lingkungan orang asing. Dengan kode bicara,
Philipsen menunjukan kepada sejarah yang ditetapkan, konstruksi secara sosial sistem dari
terminologi, makna, alasan, dan aturan, menyinggung tingkah laku komunikasi. Philipsen
menguraikan inti dari teori kode berbicara dengan mengemukakan enam proposisi yang dapat
menjelaskan tentang teori ini yaitu :

A.

Kekhasan dalam Kode Berbicara


Proposisi 1 : Dimanapun ada perbedaan budaya maka akan ditemukan perbedaan
kode bicara
Dalam kekhasan kode berbicara, Philipsen menegaskan bahwa setiap budaya yang

terbentuk, baik itu budaya yang ada di komunitas tertentu atau lokal maupun komunitas umum,
memiliki kode berbicara tertentu. Ketika memasuki komunitas kalangan pekerja Teamsterville,
Philipsen menemukan adanya kosakata, ungkapan maupun tata bahasa yang sama sekali berbeda
dengan apa yang selama ini dipahaminya bahkan kebiasaan yang berlaku umum. Salah satunya
adalah kebiasaan penduduk di Teamsterville untuk tidak memulai sebuah percakapan tanpa
terlebih dahulu memastikan status dari lawan bicaranya atau latarbelakangnya, etnis, status
sosialnya dan alamatnya.
B.

Keragaman dalam Kode Berbicara


Proposisi 2 : Di dalam komunitas diberikan cara bicara, berbagai kode bicara
digunakan
Pada teori ini, menyatakan bahwa adanya sebuah gaya bicara yang dimiliki dari setiap

komunitas atau lingkungan. Setiap lingkungan atau komunitas memiliki kode-kode bicara
tertentu. Mereka yang berada di lingkungan komunitas biasanya memiliki pola bicara atau kode
bicara yang baik atau teratur dan tersusun sesuai dengan kode-kode di dalam kelompok tersebut

ketimbang mereka yang berada diluar lingkungan komunitas. Sehingga setiap lingkungan atau
komunitas memiliki keragaman gaya bicara atau kode-kode di dalam berkomunikasi.
C.

Hakikat dalam Kode Bicara


Proposisi 3 : Kode berbicara melibatkan perbedaan secara kultural psikologi,
sosiologi, dan retorika
1. Psikologi
Menurut Philipsen, setipa kode berbicara thematizes merupakan sifat dari individu
dalam cara memberikan fakta-fakta. Kode teamsterville menegaskan orang sebagai
bagian dari peran sosial.
2. Sosiologi
Philipsen menulis bahwa sebuah kode berbicara menyediakan sistem dari jawaban
tentang apa yang berhubungan antara diri kita dan yang lainya sehingga dapat dengan
jelas dicari, dan sumber simboliknya pun dapat dengan benar dalam mencari hubungan
tersebut.
3. Retorika
Philipse menggunakan istilah retorika dalam dua pengertian dalam menemukan
kebenaran dan daya tarik persuasif dalam berkomunikasi. Kedua konsep datang secara
bersamaan melalui anak-anak muda Teamsterville dan laki-laki dewasa ketika berbicara
tentang wanita.
Hal ini dapat dijelaskan bahwa perilaku individu dalam komunitas Teamsterville

dibentuk secara unik oleh kebiasaan-kebiasaan yang ada dalam komunitas tersebut. Gambaran
pribadi yang sempurna bagi komunitas Teamsterville apabila ia mengikuti aturan-aturan yang
berlaku di komunitas tersebut, karena ada pembagian kelas yang mencolok di dalam komunitas.
Sedangkan bagi komunitas Nacirema individu memiliki kebiasaan yang unik dan berbeda dari
individu lainnya. Meski secara umum ada aturan-aturan yang berlaku, akan tetapi individuindividu berkembang sesuai dengan caranya sendiri. individu dinilai tidak dari penampakan luar
semata melainkan dari apa yang terpancar dalam individu tersebut. Tapi proposisi ketiga ini
menegaskan bahwa apa pun budayanya, kode bicara mengungkapkan struktur diri, masyarakat,
dan tindakan strategis.

D.

Penafsiran dalam kode bicara


Proposisi 4 : Makna dari pembicara tergatung dari kode bicara yang digunakan
oleh

komunikator

dan

komunikan

untuk

menginpretasikan

komunikasi mereka
Jika kita ingin mengerti arti penting dari latihan berbicara yang mencolok dengan budaya,
kita harus mendengar melalui orang berbicara tentang itu dan orang yang merespon juga. Kode
bicara ini akan muncul apabila ada interaksi yang sangat efektif antara komunikan dan
komunikator. Artinya bahwa philipsen menegaskan bahwa interpretasi dari kekhasan kode bicara
itu tergantung dari hubungan diantara dua individu atau lebih yang didukung dengan adanya
kedekatan, keterbukaan, dan dukungan pembicaraan. Sehingga kode bicara akan berlaku ketika
apa yang disampaikan sudah dipahami oleh individu-individu yang saling berinteraksi tersebut
yang berasal dari lingkungan sosial maupun budaya yang sama.
E.

Lokasi dalam Kode Bicara


Proposisi 5 : Istilah, aturan dan pendapat suatu kode berbicara ada dalam
pembicaraan pada diri sendiri
Philipse meyakinkan bahwa kode berbicara merupakan tampilan umum sebagai

seseorang yang berbicara. Hal ini tentu sulit jika kita dihadapkan pada suatu masalah yang juga
melibatkan orang lain. Untuk itu, komunikasi harus mengikuti suatu urutan yang khas yaitu,
Ritual komunikasi mengikuti tipe rangkaian:
1. Permulaan
Seorang teman menyatakan suatu kebutuhan untuk membahas suatu masalah hubungan
antar pribadi
2. Pengakuan
Orang kepercayaan menyatakan pentingnya isu oleh suatu kesediaan untuk duduk dan
berbicara.
3. Perundingan

Diri teman menyingkapkan, orang kepercayaan mendengarkan sesuatu yang empati


dengan cara tidak menghakimi, yang pada gilirannya menunjukkan keterbukaan dengan
umpan balik dan perubahan sikap.
4. Penetapan
Teman dan orang kepercayaan mencoba untuk memperkecil perbedaan pandangan, dan
mengulangi pengertian pertanyaan dan berjanji satu sama lain.

F.

Kekuatan Kode Berbicara di dalam Berdiskusi


Proposisi 6 : Penggunaan seni di dalam kode berbicara merupakan kondisi yang
cukup untuk memprediksi, menjelaskan, dan mengendalikan bentuk
wacana tentang kejelasan, kehati-hatian, dan moralitas perilaku
komunikasi.
Teori ini lebih menjelaskan bahwa kode bicara dengan segala yang dimaknainya dalam

kondisi tertentu akan mampu memprediksi, menjelaskan, dan mengendalikan bentuk wacana
tentang kejelasan, kehati-hatian, dan moralitas perilaku komunikasi. Dengan demikian dapat
dikatakan bahwa kode bicara yang membudaya diantara komunitas Teamsterville dan Nacirema
yang menekankan pada kejelasan, kepantasan serta etika komunikasi individu adalah hal yang
sangat penting dalam kehidupan sehari-hari.

G.

Penampilan Etnografi
Lingkungan kerja merupakan bentuk dari etnografi, karena melibatkan pengasingan pada

pihak peninjau dan kultur/budaya dari tuan rumah. etnografi merupakan sebuah ilmu yang
membahas mengenai cara seseorang berkomunikasi dengan orang lain, meskipun mereka
memiliki latar belakang kebudayaan yang berbeda. Dalam tindakan yang berbentuk pelajaran,
peneliti mengenali bahwa mereka sedang melakukan etnografi dengan membandingkan
kelompok mereka dengan kelompok lain. Bentuk etnografi hampir selalu berlangsung antar
kelompok marginal. Dasar pemikiran yang teoritis mendasari fakta ini adalah bahwa orang-orang
yang terhimpit, tidaklah pasif, tetapi mereka menciptakan dan mendukung martabat dan budaya
mereka.

H.

Kritik : Perbedaan Kode Berbicara di dalam Teori Komunikasi

Walaupun Philipsen melakukan penelitian dengan waktu yang cukup lama dan dengan
metode partisipan, akan tetapi sangatlah kurang bijak apabila Philipsen menyimpulkan secara
umum dua hal tersebut yakni tentang perbedaan yang sangat mencolok antara keluarga
Teamsterville dan keluarga di komunitas Nacirema. Yang dianggap sebagai perbedaan
kebudayaan. Selain itu juga Philipsen tidak memberikan suatu pemaknaan yang benar dan
cenderung menimbulkan keberpihakan. Konteks yang bisa menggambarkan ini adalah isu
koloketivitas adalah lebih baik dibandingkan individual.