Anda di halaman 1dari 2

Komplikasi Tifoid

1. Perdarahan Intestinal
Jika plak peyer usus mengalami infeksi (terutama ileum terminalis) maka
dapat terbentuk tukak atau luka dengan bentuk lonjong dan memanjang terhadap
sumbu usus. Jika luka menembus lumen usus dan mengenai pembuluh darah dapat
mengakibatkan perdarahan serta perforasi usus. Perdarahan dapat terjadi akibat dua
faktor, yaitu faktor luka dan gangguan koagulasi darah. Secara klinis perdarahan akut
darurat bedah dapat ditegakkan jika terjadi perdarahan sebanyak 5 ml/KgBB/jam
dengan faktor pembekuan dalam batas normal. Angka kematian cukup tinggi akibat
kondisi ini (Widodo, 2009).
2. Perforasi Usus
Pasien biasanya mengeluhkan nyeri abdomen yang hebat, terutama di daerah
kuadran kanan bawah yang kemudian menyebar ke seluruh perut dan disertai tandatanda ileus. Terdapat tanda-tanda perforasi berupa takikardia, hipotensi, syok,
leukositosis dengan pergeseran ke arah kiri. Pada gambaran foto polos abdomen
(BNO/3 posisi) ditemukan udara pada rongga peritoneum atau subdiafragma kanan.
Faktor yang dapat meningkatkan kecenderungan untuk terjadinya perforasi adalah
usia (biasanya 20-30 tahun), lama demam, modalitas pengobatan, beratnya penyakit,
dan mobilitas penderita.
3. Komplikasi Hematologi
Komplikasi hematologik dapat berupa trombositopenia, peningkatan partial
thrommboplastin time (PTT), peningkatan fibrin degradation products, dan koagulasi
intravaskular diseminata. Trombositopenia dapat terjadi akibat penurunan produksi
trombosit di sumsum tulang selama infeksi atau akibat peningkatan destruksi
trombosit di sistem retikuloendotelial. Sedangkan koagulasi intravaskular diseminata
kemungkinan diakibatkan adanya endotoksin yang menyebabkan aktivasi sistem
biologik, koagulasi, dan fibrinolisis. Adanya pelepasan kinin, prostaglandin, dan
histamin mengakibatkan terjadinya vasokonstriksi dan kerusakan pembuluh darah
yang selanjutnya merangsang mekanisme koagulasi (Widodo, 2009).

4. Hepatitis Tifosa
Terjadi pembengkakan hati ringan pada 50% pasien demam tifoid dan
biasanya diakibatkan infeksi Salmonella typhii. Untuk membedakan apakah hepatitis
diakibatkan tifoid, virus, malaria, atau amuba maka perlu diperhatikan adanya

kelainan fisik, parameter laboratorium, atau bahkan histopatologi hati. Jika


diakibatkan tifoid, terjadi kenaikan enzim transaminase yang tidak relevan dengan
kenaikan serum bilirubin.
5. Pankreatitis Tifosa
Diagnosis peyakit ini dapat ditegakkan melalui pemeriksaan enzim amilase,
lipase, serta dengan menggunakan USG atau CT-Scan. Terapi untuk kondisi ini sama
seperti pankreatitis pada umumnya, yaitu antibiotik (Widodo, 2009).
6. Miokarditis
Kondisi ini terjadi pada 1-5 % penderita demam tifoid Biasanya pasien
mengeluhkan sakit dada, gagal jantung kongestif, aritmia, atau syok kardiogenik
(Widodo, 2009).
7. Manifestasi Neuropsikiatrik/Tifoid Toksik
Manifestasi neuropsikiatrik dapat berupa delirium dengan atau tanpa disertai
kejang, koma atau semi koma, Parkinson rigidity, sindrom otak akut, mioklonus
generalisata,

meningismus,

skizofrenia

sitotoksik,

mania

akut,

hipomania,

ensefalomielitis, meningitis, polineuritis perifer, sindrom Guillain-Barre, dan


psikosis (Widodo, 2009). Terkadang, pasien demam tifoid mengalami sindrom klinis
berupa gangguan atau penurunan kesadaran akut (kesadaran berkabut, apatis,
delirium, somnolen, spoor atau koma) dengan atau tanpa kelainan neurologis
lainnya. Kondisi ini disebut tifoid toksik (Widodo, 2009).
Widodo, Djoko. 2009. Demam Tifoid (dalam : Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam).
Jakarta : Interna Publishing