Anda di halaman 1dari 18

PENGERTIAN DAN DEFINISI PELUMAS

1.1 DEFINISI PELUMAS


Pelumas adalah zat kimia, yang umumnya cairan, yang diberikan di antara dua benda
bergerak untuk mengurangi gaya gesek. Zat ini merupakan fraksi hasil destilasi minyak bumi
yang memiliki suhu 105-135 derajat celcius. Pelumas berfungsi sebagai lapisan pelindung
yang memisahkan dua permukaan yang berhubungan. Umumnya pelumas terdiri dari 90%
minyak dasar dan 10% zat tambahan.
1.2 PENGERTIAN PELUMAS
Pelumas (lubricant atau sering disebut lube) adalah suatu bahan (biasanya berbentuk
cairan) yang berfungsi untuk mereduksi keausan antara dua permukaan benda bergerak yang
saling bergesekan. Suatu bahan cairan dapat dikategorikan sebagai pelumas jika mengandung
bahan dasar (bisa berupa oil based atau water/glycol based) dan paket aditif.
Pelumas mempunyai tugas pokok untuk mencegah atau mengurangi keausan sebagai
akibat dari kontak langsung antara dua permukaan logam yang saling bergesekan sehingga
keausan dapat dikurangi, besar tenaga yang diperlukan akibat gesekan dapat dikurangi dan
panas yang ditimbulkan oleh gesekan pun akan berkurang. Pelumas dapat dibedakan
type/jenisnya berdasarkan bahan dasar (base oil), bentuk fisik, dan tujuan penggunaan.
Sistem pelumasan ialah suatu system pemeliharaan atau perawatan pada perangkat mesin
yang selalu menunjukan masalah-masalah gerak, gesekan dan panas yang ketiga proses
tersebut sangat erat berhubungan dan memegang peranan penting dalam masalah kestabilan
mesin. Apabila ketiga hal tersebut tidak diperhatikan maka bisa mengakibatkan keausan dan
suhu yang berlebihan menimbulkan pemuian pada bagian yang bergesekan. Oleh karena itu,
pengetahuan yang cukup terhadap masalah pelumasan sangat bermanfaat bagi perawatan
mesin. Minyak pelumas atau yang biasa disebut oli ialah suatu cairan yang dapat
menetralisir , menstabilkan panas yang berlebihan, dan berfungsi sebagai media penghantar
atau penyerap panas, juga sebagai pelicin atau pelancar gerak.
Sistem pelumasan menggunakan Minyak pelumas , harus mempunyai persyaratan teknis
sebagai mana dapat anda dilihat dibawah :
1. Tahan terhadap panas
2. Bersih dari zat-zt kimi yang dapat mengakibatkan korosi pada bagian-bagian mesin
3. Licin
4. Tidak mengakibatkan keausan ( yang disebabkan oleh pencemaran kimiawi sehingga
menimbulkan koroasi yang berakibat keausan

5. Tidak banyak membebani mesin


6. Dan untuk daerah tropis yang mempunyai suhu lebih dari 20 C keatas, pemakaian jenis
minyak sistem pelumasa dengan kode SAE-30 merupakan suatu persyaratan teknis,
minyak sistem pelumasan selaian kode tersebut diatas tidak dibenarkan.

1.3 Fungsi Bahan Pelumas


Merawat mesin maupun peralatan (equipment) harus dilakukan
dengan perawatan berkala secara teratur salah satunya dengan
memperhatikanpenggunaan minyak pelumas yang tepat dan
berkualitas. Penggunaan minyak pelumas yang tepat merupakan
syarat yang mutlak agar kemampuan mesin ataupun peralatan yang
digunakan tetap prima.
Hal ini sesuai dengan fungsi dari minyak pelumasan antara lain:
1. Mengurangi gesekan dan keausan
Mengurangi gesekan dan keausan dilakukan dengan memberikan lapisan (film) untuk
menghindari kontak langsung bagian-bagian mesin yang saling bergesekan sehingga
melindungi permukaan logam yang bersinggungan baik yang meluncur atau yang
menggelinding dari keausan. Ini merupakan fungsi utama dari bahan pelumas.

2. Memindahkan panas
Panas yang timbul akibat pergesekan seperti pada bantalan-bantalan atau roda gigi dapat
dipindahkan oleh minyak pelumas asalkan terjadi aliran minyak yang mencukupi. Demikian
juga panas yang terjadi akibat dari pembakaran. Minyak
pelumas menjadi komponen pendingin dari piston, silinder
liner, dan lainnya dari panas pembakaran Di samping itu,
minyak pelumas juga mendinginkan panas akibat gesekan.
Panas yang diserap akan mengakibatkan turunnya viscositas
minyak pelumas.
3. Menjaga sistem agar tetap bersih
Pelumas juga sebaiknya bisa mencegah terjadinya fouling serpihan-serpihan yang dihasilkan
dari proses mekanis, dari hasil degradasi pelumas itu sendiri maupun dari hasil proses
pembakaran. Apa yang disebut deposit adalah seperti karbon padat, varnish atau endapan. Ini
dapat mengganggu pengoperasian alat. Kasus ekstrem adalah ring piston tidak bisa bergerak,
dan aliran minyak tersumbat. Juga partikel- partikel logam akibat keausan, abu yang berasal
dari luar dan sisa pembakaran yang dapat memasuki sistem dan menghalangi operasi yang
efisien juga harus dapat dibersihkan oleh suatu bahan pelumas. Kotoran ini perlu
disingkirkan dari permukaan komponen yang bersinggungan.
4. Melindungi sistem

Baik dari hasil degradasi pelumas atau akibat kontaminasi hasil pembakaran, pelumas bisa
bersifat asam dan menjadikan korosi pada logam. Adanya uap air dapat juga menyebabkan
karat pada besi. Oleh sebab itu pelumas harus bisa menanggulangi efek-efek tersebut dan
oleh Karena itu bahan pelumas harus direncanakan untuk melindungi sistem terhadap
serangan korosif dan kimiawi. Bahan pelumas juga dapat melindungi sistem dari getaran
yang terjadi dengan cara meredam getaran dan kejutan pada sambungan karena gerakan
tenaga yang selalu berubah. Mengingat arti pentingnya minyak pelumas bagi daya tahan
mesin, maka sebelum memilih minyak pelumas ada baiknya lebih dulu mengetahui kualitas
minyak pelumas tersebut sehingga dapat mencegah penggunaan minyak pelumas yang tidak
sesuai dengan spesifikasi mesin.

JENIS-JENIS DAN SIFAT PELUMAS


2.1 JENIS-JENIS PELUMAS
2.1.1 Berdasarkan bentuk fisiknya :
1. Pelumas cair (liquid lubricants)
umumnya adalah minyak oli mineral (alam), minyak oli dari tumbuhan atau binatang, dan oli
sintetis. Kadang-kadang air juga digunakan pada peralatan dalam lingkungan air. Pelumas
memerlukan additive untuk meningkatkan kualitas pelumasan untuk keperluan tertentu.
Misalnya additive untuk extreme pressure diperlukan pada pelumas untuk roda gigi di
mana pelumas akan mengalami beban tekanan yang tinggi. Aditif anti oksidasi dan tahan
temperatur tinggi diperlukan untuk oli pelumas engine. Oli pelumas diklasifikasikan
berdasarkan viskositasdan kandungan aditifnya. Tabel 11.2 menunjukkan beberapa tipe
pelumas cair termasuk sifat-sifat dan penggunaannya.
2. Pelumas lapisan padat (solid-film lubricants)
Ada dua jenis yaitu : material yang memiliki kekuatan geser yang sangat rendah seperti
graphite dan molybdenum disulfida (MoS 2) yang dapat ditambahkan pada permukaan,
coating seperti misalnya phosfat, oksida, atau sulfida yang dapat terbentuk pada suatu
permukaan. Grafit dan MoS2 biasanya tersedia dalam bentuk bubuk dan dapat dibawa ke
permukaan dengan binder seperti misalnya grease atau material lain. Pelumas padat ini
memiliki kelebihan dalam hal koefisien gesek yang rendah dan tahan temperatur tinggi.
Pelumas padat dalam bentuk coating dapat dibentuk pada permukaan dengan reaksi kimia
atauelektrokimia. Coating ini biasanya sangat tipis dan akan mengalami keausan
dalam jangka waktu tertentu. Beberapa aditif pada oli dapat membentuk coating sulfida pada
permukaan secara terus menerus melalui reaksi kimia.
Tabel 11.3 menunjukkan beberapa tipe pelumas padat termasuk sifat-sifat dan
penggunaannya.
3. Pelumas Semi Padat (Semi solid Lubricant)
Pelumas yang semi padat (Semi solid Lubricant) Pelumas semi padat ciri khasnya adalah,
akan menjadi cair manakala suhu naik, dan sebaliknya akan menjadi kental jika temperatur
turun. Contohnya, Gemuk (Grease).
Grease adalah pelumas padat atau semi padat dan umumnya terbuat dari sabun,
minyak mineral, dan bermacam-macam bahan tambah serta aditif. Pelumas ini melekat kuat
pada permukaan logam dan sangat kental (highly viscous). Viskositasnya tergantung pada
laju geseran antar permukaan logam.

2.1.2 Berdasarkan Bahan Dasarnya

a. Pelumas dengan bahan dasar nanati


b. Pelumas dengan bahan dasar mineral
c. Pelumas dengan bahan sintetis
A. Pelumas nabati
Pelumas nabati, yaitu yang terbuat dari bahan lemak binatang atau tumbuh-tumbuhan. Sifat
penting yang dipunyai pelumas nabati ini ialah bebas sulfur atau belerang, tetapi tidak tahan
suhu tinggi, sehingga untuk mendapatkan sifat gabungan yang baik biasanya sering dicampur
dengan bahan pelumas yang berasal dari bahan minyak mineral, biasa disebut juga compound
oil.
pelumas Nabati biasanya di gunakan untuk melumasi mesin-mesin yang di pakai pabrik
pengolahan makanan (food grade lubricant). The National Sanitation Foundation (NSF) di
negara Paman Sam telah membuat dan mengembangkan suatu sistim klasifikasi untuk
pelumas yang aman digunakan dalam industri makanan.
Klasifikasi pelumas nabati
Klasifikasi umum NSF H-1 :
Secara Umum pelumas tersebut mempunyai sifat : Tidak berwarna, Tidak berbau, tidak
berasa, dapat larut dalam air atau alkohol, tidak berpijar/ mengeluarkan cahaya, netral
(pH=7), dan tidak mengandung paraffin pada suhu 0 derajat celcius.
Klasifikasi Gemuk H-1 yang di perbolehkan hanya yang mengandung Aluminum stearate,
Aluminum Complex, Organo clay dan poly urea. (dengan syarat dan ketentuan yang berlaku
oleh FDA)

Klasifikasi H-1 artinya pelumas dapat di pakai dalam proses/ aplikasi , sebaiknya jangan
menyentuh makanan. tetapi kalaupun itu mengenai makanan additive yang dipakai harus
dalam daftar FDA ( Food and Drug Administration ) titel 21 mengenai approved ingredients
list). kalau di Indonesia BPOM. !!!!
Klasifikasi H-2 artinya pelumas tidak dapat/tdak boleh bersentuhan dengan makanan, tetapi
kontak / bersentuhan dengan mesin produksi. (dibutuhkan spesial pelumas yang dipakai).
Klasifikasi H-3 artinya pelumas dapat di makan, contohnya untuk melumasi kait dading sapi /
ayam di RPH (tapi dengan syarat dan ketentuan yang sangat ketat)

B. Pelumas Mineral
Oli mineral terbuat dari oli dasar (base oil) yang diambil dari minyak bumi yang telah diolah
dan disempurnakan dan ditambah dengan zat - zat aditif untuk meningkatkan kemampuan
dan fungsinya. Beberapa pakar mesin memberikan saran agar jika telah biasa menggunakan
oli mineral selama bertahun-tahun maka jangan langsung menggantinya dengan oli sintetis
dikarenakan oli sintetis umumnya mengikis deposit (sisa) yang ditinggalkan oli mineral
sehingga deposit tadi terangkat dari tempatnya dan mengalir ke celah-celah mesin sehingga
mengganggu pemakaian mesin.

C. Pelumas Sintetis
Bahan dasar pembuatan pelumas oli sintetik antara lain poly-alpha-olefin (PAO),
polyalkylene glycols (PAG), alkylated napthalenes (AN), alkyklated benzenes, dan synthetic
esters (misalnya: diesters, polyolesters, silicate esters, phospate esters) Miller (dalam
Justiana dan Hardanie, 2007) menemukan bahan dasar baru untuk membuat pelumas sintetis
yaitu dari limbah plastik jenis polietilena.
6

Keunggulan dan Kelemahan yang Dimiliki Pelumas Sintetik


Berikut beberapa keunggulan oli sintetik dibandingkan oli mineral :
1. Lebih stabil pada temperatur tinggi.
2. Mengontrol/Mencegah terjadinya endapan karbon pada mesin
3. Sirkulasi lebih lancar pada waktu start pagi hari/cuaca dingin.
4. Melumasi dan melapisi metal lebih baik dan mencegah terjadi gesekan antar logam yang
berakibat kerusakan mesin.
5. Tahan terhadapan perubahan/oksidasi sehingga lebih tahan lama sehingga lebih ekonomis
dan efisien.
6. Mengurangi terjadinya gesekan, meningkatkan tenaga dan mesin lebih dingin.
7. Mengandung detergen yang lebih baik untuk membersihkan mesin dari kerak
Selain memiliki beberapa keunggulan pelumas sintetik juga memiliki kelemahan,
adapun kelemahannya adalah sebagai berikut:
1. Harga jual pelumas sintetik lebih mahal dibandingkan pelumas mineral. Hal ini dikarenakan
proses pembuatan pelumas sintetik lebih mahal dibandingkan pelumas mineral.
2. Pelumas sintetik kurang cocok digunakan pada mesin berteknologi lama (mesin tua), dan
mesin sepeda motor. Gufron (2006) menyatakan penggunaan pelumas sintetik pada mesin
berteknologi lama menjadi boros dan mesin menjadi kasar karena pada mesin tersebut celah
antar komponen biasanya sangat besar/renggang sehingga pelumas dapat ikut masuk ke ruang
pembakaran dan ikut terbakar sehingga pelumas cepat habis dan knalpot berasap. Bila
mengisi pelumas full syntetic yang khusus bukan untuk sepeda motor, bisa menyebabkan
pelat kupling slip karena terlalu licinnya pelumas sintetis. Dampaknya, tenaga mesin menjadi
berkurang karena cengkeraman antara pelat kupling berkurang, tenaga mesin akan terasa
berat. Bila kondisi ini dibiarkan terus-menerus, kupling pun dapat terbakar
3. Berpotensi dalam masalah dekomposisi kimiawinya pada lingkungan
Pelumas sintetik ini sangat baik digunakan untuk pelumas racing. Pelumas racing biasanya
diformulasi khusus dengan menggunakan bahan dasar pelumas (base oil) sintetik bermutu
tinggi dan paket additif khusus yang memberikan daya detergency, despersancy, anti-oxidant,
anti rust, dan anti-wearyang amat tinggi guna memberikan perlindungan prima terhadap
wear(keausan), scuffing(baret) dan seizuredan menjaga mesin selalu prima meskipun dalam
kondisi berat

2.1.3 BERDASARKAN SEGI PENGATURANNYA:


1. Pelumas kendaraan bermotor;
a. Minyak pelumas motor kendaraan: bensin dan diesel
b. Minyak pelumas untuk transmisi/final drive gear oil
c. Automatic Transmission Fluid dan Hydraulic Fluids.
2. Pelumas Motor Diesel untuk indusri.
a. Motor Diesel putaran cepat
b. Motor Diesel putaran sedang
c. Motor Diesel putaran lambat
3. Pelumas Motor Bensin Dua Langkah
a. Untuk kendaraan bermotor
b. Untuk perahu motor
c. lain-lain misalnya gergaji rantai, mesin pemotong rumput
7

4. Pelumas Khusus
- Pelumas untuk senjata
- Pelumas untuk penerbangan (Aviation Lubrications)
- Pelumas untuk saran mesin balap (Racing Oil)
- Pelumas untuk peredam kejut (Shock Absorber Oil)
- Minyak rem
- Pelumas turbin
- Pelumas silinder mesin Diesel dengan bahan bakar berkadar belereang tinggi
- Pelumas silinder mesin uap
- Pelumas untuk mesin berbahan bakar gas (Gas Engine Oils)
- Pelumas untuk mesin kompresor (Compressor Lubricants)
- Pneumatic Lubricants
- Circulating Oils/Heat transfer oils/Hydraulic oils.
- Cutting oil
- Metal Rolling/Heat treatment of steel lubricant
- Slideway oils/non drip
- Textile oils
- Transformer and insulating oils
- Stern-tube lubricants, bantalan sumbu baling-baling kapal
- White Oils, untuk mesin perajut
- Industrial and Automotive Greases/compounds
- Industrial Gear Lubricants
- General Machinery Oils/Axle Oils
- Minyak anti karat

2.2
KARAKTERISTIK
PELUMAS
Minyak pelumas memiliki ciri-ciri
fisik yang penting, antara lain:

Viscosity

Viscosity atau kekentalan suatu


minyak pelumas adalah pengukuran
dari mengalirnya bahan cair dari
minyak pelumas, dihitung dalam
ukuran standard. Makin besar
perlawanannya untuk mengalir, berarti makin tinggi viscosity-nya, begitu juga sebaliknya.

Viscosity Index

Tinggi rendahnya indeks ini menunjukkan


ketahanan kekentalan minyak pelumas terhadap
perubahan suhu. Makin tinggi angka indeks
minyak pelumas, makin kecil perubahan
viscosity-nya pada penurunan atau kenaikan
suhu. Nilai viscosity index ini dibagi dalam 3
golongan, yaitu:
HVI (High Viscosity Index) di atas 80.
MVI (Medium Viscosity Index) 40 80.
LVI (Low Viscosity Index) di bawah 40.

Flash Point
Flash point atau titik nyala merupakan suhu terendah pada waktu minyak pelumas menyala
seketika. Pengukuran titik nyala ini menggunakan alat-alat yang standard, tetapi metodenya
berlainan tergantung dari produk yang diukur titik nyalanya.
Pour Point
Merupakan suhu terendah dimana suatu cairan mulai tidak bisa mengalir dan kemudian
menjadi beku. Pour point perlu diketahui untuk minyak pelumas yang dalam pemakaiannya
mencapai suhu yang dingin atau bekerja pada lingkungan udara yang dingin.

Total Base Number (TBN)

Menunjukkan tinggi rendahnya ketahanan minyak pelumas terhadap pengaruh pengasaman,


biasanya pada minyak pelumas baru (fresh oil). Setelah minyak pelumas tersebut dipakai
dalam jangka waktu tertentu, maka nilai TBN ini akan menurun. Untuk mesin bensin atau
diesel, penurunan TBN ini tidak boleh sedemikian rupa hingga kurang dari 1, lebih baik
diganti dengan minyak pelumas baru, karena ketahanan dari minyak pelumas tersebut sudah
tidak ada.
Carbon Residue
Merupakan jenis persentasi karbon yang mengendap apabila oli diuapkan pada suatu tes
khusus.
Density
Menyatakan berat jenis oli pelumas pada kondisi dan temperatur tertentu.
Emulsification dan Demulsibility
Sifat pemisahan oli dengan air. Sifat ini perlu diperhatikan terhadap oli yang kemungkinan
bersentuhan dengan air.
Selain ciri-ciri fisik yang penting seperti telah dijelaskan sebelumnya, minyak pelumas juga
memiliki sifat-sifat penting, yaitu:
Sifat kebasaan (alkalinity)
Untuk menetralisir asam-asam yang terbentuk karena pengaruh dari luar (gas buang) dan
asam-asam yang terbentuk karena terjadinya oksidasi.
Sifat detergency dan dispersancy
Sifat detergency Untuk membersihkan saluran-saluran maupun bagian-bagian dari mesin
yang dilalui minyak pelumas, sehingga tidak terjadi penyumbatan.
Sifat dispersancy Untuk menjadikan kotoran-kotoran yang dibawa oleh minyak pelumas
tidak menjadi mengendap, yang lama-kelamaan dapat menjadi semacam lumpur (sludge).
Dengan sifat dispersancy ini, kotoran-kotoran tadi dipecah menjadi partikel-partikel yang
cukup halus serta diikat sedemikian rupa sehingga partikel-partikel tadi tetap mengembang di
dalam minyak pelumas dan dapat dibawa di dalam peredarannya melalui sistem penyaringan.
Partikel yang bisa tersaring oleh filter, akan tertahan dan dapat dibuang sewaktu diadakan
pembersihan atau penggantian filter elemennya.

Sifat tahan terhadap oksidasi


10

Untuk mencegah minyak pelumas cepat beroksidasi dengan uap air yang pasti ada di dalam
karter, yang pada waktu suhu mesin menjadi dingin akan berubah menjadi embun dan
bercampur dengan minyak pelumas. Oksidasi ini akan mengakibatkan minyak pelumas
menjadi lebih kental dari yang diharapkan, serta dengan adanya air dan belerang sisa
pembakaran maka akan bereaksi menjadi H2SO4 yang sifatnya sangat korosif.

2.3 MACAM MACAM CARA PELUMASAN


1

Pelumasan celup

Pelumas jenis ini hanya efiesien untuk kecepatan rendah dan sering kali digunakan untuk
pelumasan pada kotak roda gigi.
Penutup bak oli harus betul-betul baik, sehingga tidak terjadi kebocoran.

2
2. Pelumasan percikan

Komponen bergerak yang ada di dalam gearbox tertutup.

11

Selama berputar, komponen ada saat tercelup ke dalam oli sehingga timbul percikan oli
sehingga melumasi komponen lainnya.
Permukaan oli dapat diperiksa dengan melihat pada glass indicator-nya.

Pelumasan sirkulasi

Komponen yang bergerak terletak di dalam gearbox tertutup.


Sejumlah oli dimasukkan ke dalam suatu tangki khusus yang disirkulasikan oleh sebuah
pompa oli.
Sirkulasi oli dapat dikontrol melalui indicator

Pelumasan tetesan

12

Pelumasan ini menggunakan pemberian oli secara periodik pada bantalan. Mangkuk tertutup
berisi oli dihubungkan dengan pipa yang menuju bantalan. Klep jarum dipergunakan untuk
mengatur aliran oli.

Pelumasan kabut

Aliran pelumas ke komponen yang bergerak diperoleh dari udara kompresor kering yang
dihembuskan sehingga terjadi pengabutan.
6

6.

Pelumasan mangkok grease

Salah satu contoh pelumasan bantalan dengan grease/gemuk. Sebuah mangkuk diisi grease,
lalu ditekan dengan handle pemutar ulir.

Pelumasan pistol

13

Grease gun digunakan untuk memompakan grease melalui nipple.


Perlu diperhatikan penggunaan pelumas ini, tidak semua nipple diberi grease.

Pelumasan sendiri (langsung, via kapiler)

Pelumasan sendiri terbagi menjadi dua :


1. Langsung, metode pelumasan ini digunakan untuk mesin-mesin kecepatan rendah dimana
beban bantalan ringan. Grease diberikan langsung pada bantalan.
2. Via Kapiler, bantalan dibuat dari bahan yang berpori yang dapat diresapi oli hingga masuk ke
dalam. Apabila bantalan berputar, oli akan merembes keluar dan melumasi permukaan

14

ANALISIS GANGGUAN PADA PELUMAS


3.1 Cara Menganalisis Gangguan
Analisis Keausan
Analisis keausan dilakukan dengan spectrophotometer penyerapan atom. Prinsip kerja test ini
memantau tingkat keausan pada komponen tertentu dengan mengidentifikasikan dan
mengukur kada konsentrasi keausan elemen tertentu dalam oli. Dari data konsentrasi normal
yang berlaku dapat ditetapkan batas maksimum keausan elemen. Setelah 3 kali contoh oli
diambil, dapat dilihat garis kecenderungan keausan element untuk suatu motor penggerak
tertentu. Ancaman kerusakan bisa diidentifikasi manakala garis kecenderungan menyimpang
dari norma yang ditetapkan. Tetapi analisa keausan ini fungsinya terbatas hanya melacak
keausan komponen serta kontaminasi kotoran secara bertahap. Jika kerusakan timbul akibat
kelelahan komponen, kekurangan pelumasan secara mendadak atau terjadi pemasukan
kotoran secara serentak, maka kondisi demikian tidak dapat dilacak melalui test jenis ini.
Test Kimia dan Fisika
Pengujian kimiawi dan fisika melacak kandungan air, bahan bakar serta antibeku didalam oli
dan untuk menentukan apakah kosentrasinya melebihi atau tidak dari batas maksimum yang
ditetapkan.
Terdapatnya kandungan air dan dalam jumlah kadar berapa dapat dilacak melalui uji percikan
Sputter Test. Setetes oli ditempatkan diatas cawan pana bersuhu antara 230 sampai 250 oF.
Jika timbul gelembunggelembung menunjukan gejala positif (batas kelayakan 0.1 % ke
0.5%)
15

Adanya kandngan bahan bakar dapat diamati melalui Setaflash Tester. Alat pengetest ini
dikalibrasi untuk menentukan jumlah persentase dilusi bahan bakar ( konsentrasi yang
dibolehkan maksimum 3%)
Kandungan bahan anti beku juga dapat dihitung dengan test kimiawi (indikasi yang
menunjukan ke positif berarti tidak dapat diterima).
Analisis Kondisi Oli
Penganalisaan kondisi oli dilakukan melalui analisis inframerah. Test ini untuk menentukan
dan mengukur jumlah partikel pencemar seperti jelaga dan belerang, produk-produk oksidasi
dan nitrasi. Walaupun tes dapat pula untuk melacak kandungan air dan anti beku di dalam oli,
analisis inframerah harus selalu disertai dengan analisis keausan dan test kimia serta fisika
guna meyakinkan diagnosis yang tepat. Begitupun analisis inframerah pada kondisi dan
aplikasi tertentu dapat pula dipakai untuk customize (mengurangi , menahan atau
menambah ) interval penggantian oli.

Mengenali Sebab dan Akibat Kontaminasi & Degradasi


Penyebab :Silikon
Akibat : ukuran silicon diatas normal menunjukan adanya problerm besar. Oli yang
mengandung silicon dapat mengakibatkan timbul gumpalan pengikis yang akan mengikis
permukaan logam sejumlah komponen selama mesin beroperasi.
Penyebab :Sodium
Akibat : Peningkatan sodium secara tiba-tiba dapat mengakibatkan kebocoran pada inhibitor
dari system pendinginan. Inhibitor mungkin menunjukan antibeku didalam system yang akan
menyebabkan oli menjadi encer dan berlumpur dan selanjutnya menimbulkan regangan pada
ring piston serta sumbatan pada filter.
Penyebab :Silikon,Chromium,Besi
Akibat : Perpaduan dari masuknya gejala-gejala kotoran ini melewati system iduksi, dapat
dipakai sebagai petunjuk adanya keausan pada ring dan liner.
Penyebab :Silikon,Besi,Head,Aluminium
Akibat : Kombinasi partikel ini menunjukan terjadinya pengotoran dalam porsi rendah pada
mesin dan dapat dipakai sebagai petunjuk adanya keausan pada poros engkol (crankshaft) dan
bearing.
Penyebab : Alumunium
Akibat : Boleh jadi kritis. Konsentrasi kandungan aluminium mengarah ke keausan bearing.
Meskipun relative kecil peningkatan kandungan elemen ini harus segera diperhatikan, sebab
16

sekali keausan menggerogoti crankshaft akan menimbulkan partikel logam dalam jumlah
besar yang terperangkap pada filter oli.
Penyebab : besi
Akibat : Besi dapat berasal dari berbagai sumber. Besi bisa berubah menjadi karat begitu
mesin disimpan. Seringkali apabila diikuti dengan kelalaian mengontrol oli, peningkatan
kontaminasi besi akan memperburuk keausan liner.
Penyebab:Jelaga
Akibat : Kandungan jelaga dalam kadar tinggi biasanya tidak langsung menyebabkan
kerusakan mesin, tetapi partikel ini tidak mudah terurai, sehingga dapat menyumbat filter oli
dan menyusutkan bahan additive dispersant. Jelaga terlihat pada terjadinya akselerasi kotoran
dari gumpalan asap akibat penyetelan kurang pas. Hal ini juga menunjukan pemakaian bahan
bakar berkualitas rendah.
Penyebab :Air
Akibat : Air yang tercemar dengan oli akan membentuk emulsi yang akan menyumbat filter.
Air dan oli dapat pula membentuk asam penggerogot logam yang berbahaya. Pada
kebanyakan kontaminasi air mengakibatkan pemampatan di dalam bak engkol. Kontaminasi
lebih gawat lagi terjadi jika ada kebocoran pada system pendinginan yang mengakibatkan air
masuk kebagian luar system oli mesin.
Penyebab:BahanBakar
Akibat : Kontaminasi bahan bakar menurunkan kadar kandungan pelumasan oli. Oli tidak
lagi memiliki lapisan penguat yang dibutuhkan untuk memperkuat ketahanan gesekan logam
ke logam. Akibatnya dapat merusakan bearing dan melonggarkan piston.
Penyebab :Belerang
Akibat : Adanya belerang menandakan bahaya terhadap semua komponen mesin. Jenis
keausan korosif akibat kandungan belerang yang tinggi dapat menyebabkan pemakaian oli
yang boros. Juga lebih banyak pemakaian bahan bakar selama interval penggantian oli, lebih
besar jumlah kandungan belerang yang membentuk asam. Karena itu, jika mesin beroperasi
dengan beban berat harus lebih sering diperiksa. Begitupun TBN nya harus seseringmungkin
di check. Pencemaran belerang bahan bakar dapat menimbulkan regangan pada ring piston,
dan keausan korosif pada permukaan logam dari tankai katup, ring piston serta liner.

Penyebab :Rendahnya TemperatureJacketAir


Akibat : Suhu udara diluar jacket air mempengaruhi pembentukan asam korosif pada mesin.
Pertama, meskipun kadar belerang bahan bakar kurang dari 0.5%, tetapi suhu udara di bawah
79oC ( 175oF ), memudahkan terbentuknya asam vapor dan terjadi serangan korosif. Kedua,
rendahnya suhu udara bereaksi dengan bahan additive, melemahkan fungsi additive dan
mengurangi daya lindung pada oli. Ini bisa mengakibatkan penumpukan deposit,
pembentukan lumpur, pelapisan serta pengkarbonan yang pada gilirannya berakibat
meningkatkan letupan, pelapisan lubang liner dan peregangan pada ring.
Penyebab :TingginyaKelembabanUdara
Akibat : Pada saat kondisi pengoperasian pada tingkat kelembaban 85% atau lebih, besar
17

kemungkinan terbentuknya gas asam akibat besarnya kadar kandungan air di udara. Ini
sangat memungkinkan terjadinya serangan kororsif.
Penyebab :PemakaianOli
Akibat : Batas kapasitas konsumsi oli bisa memberikan informasi tentang mesin.
Penggantian oli, baik bertahap maupun sekaligus merupakan gejala adanya keausan pada ring
dan liner atau terjadinya regangan pada ring. Penting diperhatikan bahwa jumlah oli yang
cukup (dengan tingkat TBN yang memadai atau cadangan alkalin yang sesuai) akan terpompa
kearah sabuk ring untuk menetralkan asam.
Penyebab :RasioBeban/KecepatanyangTidakTepat
Akibat : beban mesin menempati peranan yang sangat penting dalam degradasi oli. Mesin
yang dijalankan dengan kecepatan normal berbeban tinggi akan mencapai efisiensi optimal
baik bagi system pelumasan maupun pendinginannya, beban dikurangi dengan mesin
beroperasi tetap pada kecepatan bahkan jika normal, maka pelumasan dan system
pendinginan akan juga tetap berfungsi secara efisien, hanya mesin yang terlampau dingin
dapat mengakibatkan kondensasi. Kodisi demikian berpengaruh terhadap liner, ring dan
meningkatkan kepulan asap.

18