Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PRAKTIKUM

FISIOLOGI VETERINER DAN SATWA AKUATIK I

NAMA

: ANDI NASTITI RUSMAN

NIM

: O11114014

PROGRAM STUDI KEDOKTERAN HEWAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
TAHUN 2015
LEMBAR PENGESAHAN

Nama Mahasiswa

: Andi Nastiti Rusman

NIM

: O11114014

Nama Asisten

: Wahyuni

Waktu Asistensi
No.

Jadwal Asistensi

Saran Perbaikan

Paraf
Asisten

Makassar,

2015

Asisten

Praktikan

Wahyuni

Andi Nastiti Rusman

JUDUL PRAKTIKUM
SISTEM SARAF

TUJUAN PRAKTIKUM
Adapun tujuan pratikum yaitu:
1. Untuk melihat fungsi bagian katak normal
2. Untuk melihat aksi integrasi susunan saraf katak
3. Untuk mengetahui hambatan refleks pada katak normal
tersusun
darideserebrasi
satu alat komunikasi dan integrasi untuk
4.Sistem
Untuksaraf
melihat
pengaruh
organisme,
yang
dicirikan
oleh
cepatnya
reaksi dan lokalisasi yang tepat dari
5. Untuk melihat refleks pada katak spinal
tempat kerjanya. Fungsinya didasarkan atas suatu infrastruktur selular sangat
sempurna, hubungan bercabang, yang menghasilkan kerja dengan kecepatan
tinggi dan cepat (Sonjaya, 2013).
Sistem
saraf mempunyai
tiga fungsi yang saling tumpang-tindih, yaitu
RUANG
LINGKUP
PRAKTIKUM
inputsensoris, integrasi, dan output motoris. Input adalah penghantaran atau
konduksisinyal dari reseptor sensoris, misalnya sel-sel pendeteksi cahaya di
Adapun ruang lingkup pratikum :
mata ke pusatintegrasi. Integrasi adalah penerjemahan informasi yang berasal
dari 1.stimulasireseptor
ke lingkungan,
dihubungkan
respon
Fungsi bagian-bagian
otak katakkemudian
normal, katak
desebrasidengan
dan katak
tubuh yang sesuai.Sebagian integrasi dilakukan dalam system saraf pusat, yaitu
spinal
otak dan sumsumtulang belakang (pada vertebrata). Output motoris adalah
2. Aksi integrasi sususnan saraf katak
penghantaran sinyal dari pusat integrasi ke sel-sel efektor, sel sel otot atau sel
3. Hambatan reflex pada katak normal
kelenjar yangmengaktualisasikan respon tubuh terhadap stimulus tersebut.
4. Pengaruh desebrasi
Sinyal tersebutdihantarkan oleh saraf yang berasal dari penjuluran neuron yang
5. Reflex pada katak spinal
terbungkus denganketat dalam jaringan ikat. Saraf yang menghubungkan sinyal
motoris dan sensorisantara system saraf pusat dan bagian tubuh lain secara
bersamaan disebut systemsaraf tepi (Campbell, 2004)
Sistem saraf berfungsi menyelenggarakan kerjasama dalam
koordinasikegiatan
tubuh.Susunan
saraf adalah
susunan
saraf yang
mempunyai peranan spesifik untuk mengaturaktivitas otot serat atau serat
lintang.Sistem saraf terbagi menjadi 2 bagian, yaitu sistemsaraf pusat dan
sistemsaraf tepi (system saraf perifer). Sistem sarafperifer adalah bagiandari
sistem sarafyang terdiri dari sel-sel yang membawa informasi ke sel
sarafsensorik dandari sel saraf motoriksistem saraf pusat(SSP). Sel-sel sistem
saraf sensorik mengirim informasi ke SSP dari organ-organ internal atau dari
rangsangan eksternal. Sel-sel sistem saraf motorik membawa informasi dari
SSP ke organ, otot dan kelenjar (Prayogo,2013).
Sistem saraf pusat (SSP) meliputiotak(bahasa Latin: ensephalon)
dansumsum tulang belakang(bahasa Latin: medulla spinalis). Keduanya
merupakan organ yang sangat lunak, dengan fungsi yang sangat penting maka
perlu perlindungan (Ardikal.dkk,2013)
1. Otak
TINJAUAN PUSTAKA
Otak terdiri dari dua belahan, belahan kiri mengendalikan
tubuh bagian kanan,belahan kanan mengendalikan belahan kiri. Mempunyai
permukaan yang berlipat-lipat untuk memperluas permukaan sehingga dapat
ditempati oleh banyak saraf. Otak juga sebagai pusat penglihatan,
pendengaran, kecerdasan, ingatan, kesadaran, dan kemauan. Bagian
dalamnya berwarna putih berisi serabut saraf, bagian luarnya
berwarnakelabu berisi banyak badan sel saraf. Otak besar mempunyai
fungsi dalam pengaturan semua aktivitas mental, yaitu yang berkaitan
dengan kepandaian (intelegensi), ingatan(memori), kesadaran, dan
pertimbangan (Ardikal.dkk,2013).
Tiga bagian utama otak yaitu otak depan, otak tengah , dan otak
belakang. Otak depan terdiri atas cerebrum, thalamus,dan hypothalamus.
Otak tengah terdiri atas tectum dan tegmentum. Otak belakang terdiri atas

otak kecil, pons, danmedula. Cerebrum (korteks) berhubungan dengan fungsi


berpikir dan tindakan.Otak kecil (Cerebellum) berhubungan dengan pengaturan
dan koordinasi gerakan, postur , dan keseimbangan(Guyton 2008).
2. Sumsung Tulang Belakang
Pada penampang melintang sumsum tulang belakang tampak
bagianluar berwarna putih, sedangkan bagian dalam berbentuk kupu-kupu
dan berwarna kelabu. Pada penampang melintang sumsum tulang belakang
ada bagian seperti sayap yang terbagi atas sayap atas disebut tanduk
dorsal dan sayap bawah disebut tanduk ventral. Impuls sensori dari reseptor
dihantarmasuk ke sumsum tulang belakang melalui tanduk dorsal dan
impuls motorkeluar dari sumsum tulang belakang melalui tanduk ventral
menuju efektor. Pada tanduk dorsal terdapat badan sel saraf penghubung
(asosiasi konektor) yang akan menerima impuls dari sel saraf sensori dan
akan menghantarkannya ke saraf motorik (Ardikal.dkk,2013).
Sumsum tulang belakang adalah bagian SSP yang terletak di
dalamcanalis cervikalis bersam ganglion radix pos yang terdapat pada
setiaptoramen intervertebralis terletak berpasangan kiri dan kananFungsi
sumsum tulang belakang adalah (Ardikal.dkk,2013):
a. Penghubung impuls dari dan ke otak
b. Memungkinkan jalan terpendek pada gerak reflex
c. Organ ini mengurus persyarafan tubuh,anggota badan dan bagian kepala
Sistem Saraf Tepi Sistem saraf tepi tersusun dari semua saraf yang
membawa pesan dari dan kesistem saraf pusat. Sistem saraf ini dibedakan
menjadi sistem saraf somatis dan sistemsaraf otonom (Sonjaya, 2013)
1. Sistem saraf somatik
Merupakan saraf sadar yang dapat dikontrol sesuai kesadaran kita.
Saraf ini menginervasi (mempersarafi) otot rangka melalui suatu jalur
eferen yaituneuron motoris. Badan sel neuron ini terletak di dalam tanduk
ventral kordaspinalis sedangkan aksonnya dimulai dari korda spinalis
sampai tempatakhirnya pada otot rangka. Bagian terminal akson neuron
motoris inimengeluarkan neurotransmitter berupa asetilkoloin yang
menimbulkan eksitasi(kontraksi) serabut otot. Daerah-daerah di otak yang
mengatur aktivitas motorik otot rangka di antaranya adalah: nukleus basal,
cerebellum, daerah motoris otak dan batang otak (Ayuningtyas,2012).
2. Sistem saraf otonom
Sistem saraf otonom terdiri atas sistem saraf simpatik dan system
saraf parasimpatik.Fungsi dari sistem saraf simpatik adalah sebagai berikut
(Isnaeni, 2006):
a. Mempercepat denyut jantung
b. Memperlebar pembuluh darah
c. Memperlebar bronkus
d. Mempertinggi tekanan darah
e. Memperlambat gerak peristaltis
f. Memperlebar pupil
g. Menghambat sekresi empedu
h. Menurunkan sekresi ludah
Meningkatkan sekresi adrenalinSistem saraf parasimpatik disebut juga

dengan sistem saraf kraniosakral, Sistem saraf parasimpatik memiliki fungsi


yang berkebalikan dengan fungsi system saraf simpatik yaitu: (Isnaeni, 2006)
a. Memperkecil bronkus
b. Memperlambat denyut jantung
c. Memperkecil pembuluh darah
d. Memperendah tekanan darah
e. Mempercepat gerak peristaltis
f. Memperkecil pupil
g. Menstimulasi sekresi empedu
h. Menaikkan sekresi ludah
i. Menurunkankan sekresi adrenalin
Refleks merupakan sebagian kecil dari perilaku hewan tingkat tinggi,
tetapimemegang peranan penting dalam perilaku hewan tingkat tinggi. Refleks
biasanyamenghasilkan respon jika bagian distal sumsum tulang belakang
memiliki bagian yanglengkap dan mengisolasi ke bagian pusat yang lebih
tinggi. Tetapi kekuatan dan jangkawaktu menunjukan keadaan sifat involuntari
yang meningkat bersama dengan waktu (Idel, 2000).
Serebelum berkembang dari bagian metensefalon. Fungsi primernya
adalah mengkoordinasikan pergerakan. Serebelum menerima informasi
sensoris mengenai posisi persendian dan panjang otot, juga informasi dan
sistem audiotoris (pendenganran) dan visual (penglihatan). Serebelum juga
menerima input dari jalur motoris, yang memberitahunya tindakan mana yang
diperintahkan oleh serebrum. Serebelum menggunakan informasi ini untuk
menghasilkan koordinasi otomatis atas pergerakan dan kesetimbangan. Jika
salah satu bagian tubuh digerakkan , serebelum akan mengkoordinasikan
bagian tubuh lainnya untuk pergerakan yang mulus dan pemeliharaan
keseimbangan. Serebelum juga memainkan peranan dalam pembelajaran dan
pengingatan respon motoris. Koordinasi tangan-mata merupakan salah satu
contoh fungsi serebelum. Jika serebelum rusak, mata dapat mengikuti objek
yang bergerak, akan tetapi mata tidak akan berhenti bergerak pada tempat yang
sama ketika objek tersebut berhenti . (Cambell, 2004).
Serebrum, pusat integratif yang paling kompleks di SSP, berkembang
dari telensefalon embrionik. Serebrum dibagi menjadi belahan serebral.
Masing-masing belahan terdiri atas penutup bagian luar yang terbuat dari
bahan abu-abu, yang disebut korteks serebral, bahan putih di bagian dalam,
dan kelompok nukleus yang berada di dalam bahan putih, yang disebut
nukleus nasal juga disebut ganglia basal adalah pusat yang penting untuk
koordinasi motoris dan bertindak sebagai saklar untuk impuls dari sistem
motoris lain. Jika nukleus basal rusak, seseorang bisa menjadi pasif dan tidak
mampu bergerak karena nukleus itu tidak lagi mengirimkan impuls motoris ke
otot (Cambell, 2004).

MATERI DAN METODE


A. Materi
1. Alat
a. Gunting
b. Piset
c. Jarum
d. Baskom
e. Nampan
2. Bahan
a. Benang/tali,
b. Larutan asam sulfat/Air
c. Katak
B. Metode
1. Melihat fungsi bagian katak normal:
a. Letakkan katak pada meja kemudian lihat sikap badan dan posisi
tubuh. Amati dan hitunglah frekuensi napas, frekuensi denyut
jantung/denyut nadi.
b. Gerakan spontan
c. Keseimbangan (Kemampuan katak mencoba untuk bangkit
kembali setelah ditelentangkan dengan cepat)
d. Simpan katak didalam baskom berisi air, perhatikan gerakan katak
saat berenang.
e. Lalu angkat katak dan letakkan kembali di meja, perhatikan
frekuensi napas, frekuensi denyut jantung/denyut nadi.
2. Melihat aksi integrasi susunan saraf katak:
a. Lakukan pengangkatan pada katak secara tiba-tiba. Atau
dengan meletakkan katak pada papan pengalas. Kemudian angkatlah
katak beserta papan pengalas dengan gerakan tiba-tiba. Amati
keseimbangan katak saat diangkat dengan gerakan tiba-tiba.
b. Putarlah katak tersebut beserta papannya, amati kondisi
kelopak mata, posisi tubuh normal, dan gerakan spontan.
3. Hambatan refleks pada katak normal:
a. Ikatlah kedua kaki depan katak dengan tali
b. Lepaskanlah tali dan biarkanlah katak kembali pada keadaan normal
c. Amati, apakah terdapat kelainan pergerakan pada katak?
4. Melihat pengaruh deserebrasi:
b. Katak tersebut dibuka mulutnya dengan menggunakan gunting,
kaki gunting yang satu dimasukkan kedalam mulut tepatnya pada
rahang atas, dan yang satunya pada membran timpani bagian depan,
kemudian guntinglah sampai lepas dari tubuhnya, dengan demikian
katak tidak akan memiliki otak lagi (mengalami deserebrasi)
c. Biarkan katak shock setelah pemotongan rahang atas, berapa menit
lamanya keadaan shock akan hilang. Lalu letakkan pada meja.
d. Katak diletakkan diatas meja, dengan posisi ditelentangkan
kemudian amati apakah katak masih dapat membalikkan tubuhnya.

4. Katak spinal :
a. Katak deserebrasi kemudian dirusak serebelum dan
medula oblongatanya dengan jarum.
b. Kemudian jarum ditusukkan ke ventrikel otak dan
diputar-putarkan sehingga serebelum dan medula oblongatanya
rusak.
c. Didapatkan katak spinal. Letakkan katak pada meja,
amati sampai berapa lama (detik/menit) sampai timbulnya
aktivitas (hilangnya fase spinal shock).
5. Melihat refleks pada katak spinal :
a. Gantung katak spinal dengan cara menjepit rahangnya.
b. Jepitlah kaki belakang katak pakai pinset. Bila shock
belum hilang, katak tidak bereaksi. Tetapi jika shock telah
hilang, katak akan menarik kaki saat dijepit.
c. Jepitlah kaki depannya, sehingga katak akan menurunkan
kakinya kembali(penghambatan reflektorik).
d. Jepitlah lagi kaki belakang dengan lebih kuat. Katak akan
menarik kedua kakinya, bahkan kedua kaki depannya (iridiasi
refleks).
e. Hitung berapa detik waktu yang diperlukan saat dijepit
sampai saat menarik kakinya (waktu refleks).

HASIL DAN PEMBAHASAN


Adapun hasil dan pembahasan dari praktikum ini antara lain:
1. Melihat fungsi katak normal
Hasil pengamatan
a. Sikap badan : aktif dan
b. Posisi tubuh : normal
c. Gerakan spontan
: Lincah dan cepat
d. Frekuensi nafas (15 detik) : 45 x 4 = 180 kali/menit
e. Frekuensi jantung (15 detik) : 38 x 4 = 152 kali/menit
f. Gerak spontan saat membalikkan badan : 1 detik
Setelah berenang
a. Frekuensit nafas (15 detik) : 54 x 4 = 216 kali/menit
b. Frekuensi jantung (15 detik) : 26 x 4 = 86 kali/menit

Pemeriksaan gerak spontan

Pemeriksaan frekuensi napas

Pemeriksaan frekuensi denyut


jantung

Katak saat berenang

Untuk melihat fungsi bagian katak normal, katak diletakkan di atas meja.
Dalam keadaan normal, posisi katak yang tertelungkup, menunjukkan posisi
tubuh katak dengan kepala yang tegak, posisi tubuh sempurna dan seringkali
melompat-lompat, serta gerakan yang sangat cepat dan juga lincah. Pada saat
tubuh di balikkan atau dalam posisi terlentang, katak segera membalikkan
tubuhnya dengan cepat. Hal ini terjadi karena, katak masih dalam keadaan
normal atau belum diberikan perlakuan.
Pemeriksaan frekuensi nafas, pemeriksaan ini dilakukan untuk
memeriksa frekuensi nafas pada katak permenit pada katak normal.
Pemeriksaan frekuensi jantung, pemeriksaan ini dilakukan untuk memeriksa
denyut jantung pada katak permenit pada katak normal. Pemeriksaan gerak

spontan, pemeriksaan ini dilakukan untuk melihatgerakan spontan katak saat


ditelentangkan untuk membalikkan badannya ke keadaan normal. Pada saat
katak dimasukkan kedalam baskom berisi air, diamati gaya katak saat
berenang. Dimana gaya normal katak saat berenang itu dengan kaki
belakangnya bersamaan dan sejajar. Setelah katak dikeluarkan dari air
dan kembali diperiksa frekuensi nafasnya, diperoleh hasil bahwa Frekuensi
nafas katak yang habis berenang lebih cepat dibandingkan pada keadaan
normal. Hal ini disebabkan karena katak tersebut mengalami stress. Akan
tetapi diperoleh frekuensi denyut jantung setelah berenang lebih lambat
dibandingkan sebelum dimasukkan kedalam air. Namun seharusnya denyut
jantung nya lebih cepat setelah berenang karena katak dalam keadaan stress,
hal ini terjadi karena adanya kesalahan dalam pratikum.
2. Aksi integrasi susunan saraf katak
Hasil pengamatan:
a. Gerakan spontan
: Lebih aktif setelah dilakukan pengangkatan
secara tiba-tiba
b. Keseimbangan
: Normal
c. Kelopak mata
: membesar
d. Posisi tubuh normal
: Oleng

saat katak diangkat ke atas

saat katak diputar-putar

Dalam pengujian aksi integrasi susunan saraf katak, katak tersebut


diangkat secara spontan. Katak diletakkan diatas nampan, kemudian kita
lakukan pengangkatan tiba-tiba pada katak beserta nampang tersebut. Gerakan
katak menjadi semakin aktif setelah dilakukan pengankatan secara tiba-tiba.
Kemudian diletakkan kembali dalam keadaan normal. Dari hasil pengamatan
menunjukkan bahwa saat katak tersebut diangkat, ia berusaha
menyeimbangkan posisi tubuhnya (akibat dari gerakan refleks).
Katak tersebut juga diputar beserta nampanya, untuk melihat kelopak
mata dan juga posisi tubuh katak tersebut. Setelah diputar kelopak mata katak
semakin membesar, yang bertujuan agar katak tersebut memperoleh cahaya
lebih banyak. Tetapi posisi tubuh normal pada katak yaitu oleng.
3. Hambatan refleks pada katak normal
Hasil pengamatan:
Setelah ikatan pada kaki depan katak di buka terjadi kelainanan pergerakan
yaitu tidak seimbang sewaktu sampai di lantai dan melompat seakan berjalan.
Katak tidak seaktif sebelum diikat.

Saat kaki depan katak diikat

Pembahasan:
Untuk melihat hambatan refleks pada katak normal, kaki depan katak diikat
dengan menggunakan benang, kemudian dilakukan pengangkatan beberapa
kali serta dilakukan juga pengayunan. Setelah itu, ikatan pada kaki katak
dilepas, agar katak bisa kembali pada keadaan normal. Ketika benang dilepas
terdapat kelainan pada pergerakan katak. Yaitu kaki belakang katak sebelah kiri
tidak pada posisi normal saat melompat katak seakan berjalan, tubuh katak
tidak seimbang (oleng). Adanya hambatan pergerakan disebabkan karena alat
gerak katak yang dihambat dengan mengikatnya menggunakan benang.
4. Pengaruh deserebrasi
Hasil pengamatan:
a. Katak dihilangkan otaknya (deserebrasi), masa shock katak hilang setelah
3 menit 17 detik
b. Katak deserebrasi ditelentangkan, dan katak tersebut tidak dapat
membalikkan tubuhnya ke posisi semula

Saat rahang atas katak dilepas

Katak desebrasi

Pembahasan:
Katak normal tadi dideserebrasi dengan memotong bagian rahang atasnya.
Setelah deserebrasi, katak tersebut mengalami shock selama 3 menit 17 detik.
Setelah itu katak kembali menggerakkan organ tubuhnya yang menandakan
katak tersebut mulai kembali normal.
Untuk mengamati gerakan spontan pada katak deserebrasi, katak tersebut
ditelentangkan, dan waktu yang diperlukan katak untuk membalikkan tubuhnya
cukup lama dibandingkan dengan katak yang belum di deserebrasi. Ada
beberapa faktor yang menyebabkan hal tersebut terjadi, yang pertama yaitu
karena katak tersebut sudah tidak memiliki otak, dimana otak merupakan pusat
sistem koordinasi, kedua yaitu waktu yang dibutuhkan katak untuk membalik
tubuhnya cukup lama karena shock pada katak belum hilang ketika
ditelentangkan. Juga karena pengaruh ketika katak diangkat dan diayunakan
dimana shocknya belum hilang.

5. Katak spinal
Setelah katak dirusak serebelum dan medula oblongatanya, katak shock, dan
tidak menimbulkan/ tidak ada pergerakan yang terjadi.

Katak spinal

Pembahasan:
Katak deserebrasi kemudian dirusak serebelum dan medulla oblongatanya
dengan cara serebelum dan medulla oblongatanya di tusuk jarum. Maka
didapatkanlah katak spinal. Katak spinal tidak menunjukkan respon berupa
gerakan setelah sistem saraf pusat pada katak sudah dirusak.
6. Refleks pada katak spinal
Hasil pengamatan:
Ketika kaki belakang katak dijepit, tidak ada pergerakan yang terjadi,
dan denyut jantung semakin melemah

Katak spinal di gantung

Pembahasan :
Katak spinal yaitu katak yang telah dirusak serebelum dan medulla
oblongatanya. Ketika kaki belakang katak dijepit, tidak ada respon yang
ditunjukkan. Tapi pada umumnya, kaki depan katak serta kaki belakang
sebelahnya akan menunjukan respon/ mengangkat kakinya. Katak tidak
menunjukkkan respon karena katak masih mengalami shock setelah dirusak
serebelum dan medulla oblongatanya, sehingga tidak ada respon yang
terjadi. Shock yang terjadi sangat lama, butuh beberapa menit untuk
mendapat respon kembali.
Selain itu denyut jantung semakin melemah, hal ini dikarenakan medulla
oblongatanya yang telah rusak. Medulla oblongata berfungsi sebagai pusat
pengatur alat-alat visceral yang esensial seperti respirasi dan sirkulasi
jantung. Sedangkan serebelum berfungsi sebagai pusat keseimbagan dan
koordinasi motorik.

RANGKUMAN
Dari percobaan yang telah kami lakukan, didapatkan kesimpulan bahwa :
1. Pada percobaan untuk melihat fungsi kata normal, diperoleh hasil
bahwa Frekuensi nafas dan denyut jantung antara katak pada keadaan
normal dan setelah dimasukkankedalam air (berenang) terdapat perbedaan
dimana setelah berenang frekuensinafas dan denyut jantung katak lebih
cepat dibandingkan dengan katak normal.
2. Pada percobaan aksi integrasi susunan saraf katak diperoleh hasil
bahwa Katak normal yang diangkat lalu diputar-putar membuat pupil
katak membesar dan mengalami shock. Refleks kaki katak saat diikat
dengan tali yaitu kaki katak menjadi tidak normal (terjadi kelainan
pergerakan).
3. Pada percobaan untuk melihat pengaruh deserebrasi pada
katak,
diperoleh hasil bahwa, Akibat pengaruh deserebasi tersebut katak
mengalami penurunan fisiologis tubuh. Frekuensi nafas, denyut jantung dan
refleks untuk membalikkan badannyamenjadi lebih lama.
4. Pada percobaan untuk melihat reflek s pada katak spinal, diperoleh
hasil bahwa katak tersebut mengalami penurunan fungsi fisiologis yakni
kerusakan pada sistemsaraf pusat yang menyebabkan responnya terhambat
5. Jadi, sistem saraf pusat pada katak terdiri dari beberapa bagian yaitu
cerebrum (otak besar), cerebellum (otak kecil), medula oblongata, dan
medula spinalis. Cerebrum berfungsi sebagai pusat kesadaran dan pusat
kemauan, cerebellum sebagai pusat keseimbangan, medula oblongata
sebagai pengatur respirasi, ritmis jantung, dan aliran darah, sedangkan
medula spinalis sebagai pusat refleks

DAFTAR PUSTAKA
Ardikal.dkk.2013. Anatomi Fisiologi Sistem Saraf Pusat.
https://www.scribd.com/doc/187780238/Anatomi-Fisiologi-Sistem-Saraf-Pusat
(Diakses 19 Oktober 2015)
Ayuningtyas.2012. Sistem Saraf Somatik.
https://www.scribd.com/doc/96314849/Sistem-Saraf-Somatik (Diakses 19
Oktober 2015)
Campbell, N.A. 2004. Biologi Edisi Kelima Jilid III. Jakarta. Erlangga.
Guyton, A. C. dan Hall, J. E. 1997. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran.
PenerbitBuku Kedokteran. EGC :Jakarta.
Idel,Antoni.2000.Biologi Dalam Kehidupan Sehari-hari. Gitamedia
Press:Jakarta.
Isnaeni, wiwi. 2006. Fisiologi hewan. Kanisius: Yogyakarta
Prayogo, Yani Trie.2013. Sistem Saraf Perifer.
https://www.scribd.com/doc/191486145/Makalah-Sistem-Saraf-Perifer
(Diakses 19 Oktober 2015)
Sonjaya, Herry. 2013. Dasar Fisiologi Ternak . IPB Press : Bogor.