Anda di halaman 1dari 10

MAKALAH MANAJEMEN OPERASIONAL

dengan materi
KUALITAS PEMBUATAN SURAT IZIN MENGEMUDI (DRIVING
LICENSE) KENDARAAN
di POLTABES BANJARMASIN

Disusun oleh :

Al’vina Retma Sari Nata C1B106014


Dicky Rahman C1B1
Fandy Reza C1B1
Kunti C1B106016
Norlaila C1B106054
Nur Winda Wardhani C1B106126
Rehan Indah Sekar Wangi C1B06018
Riqi Akbari C1B106008
Riska Rusady C1B106058
Ratih Purnama Sari C1B1

FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT BANJARMASIN
2007-2008
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, kami panjatkan puji dan syukur kehadirat Tuhan YME, karena atas

pertolongan-Nya lah kami dapat menyelesaikan penyusunan Makalah Manajemen


Operasional dengan materi Mutu Pembuatan Surat Izin Mengemudi (Driving License)

Kendaraan di POLTABES Banjarmasin.

Makalah ini kami susun dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Manajemen

Operasional. Terdorong akan rasa tanggung jawab yang diberikan oleh dosen

pembimbing, maka kami berusaha sebisa mungkin untuk melaksanakan tugas ini dengan

baik.

Pada kesempatan ini, kami penyusun makalah ingin mengucapkan terimakasih

kepada :

1. Dosen Pembimbing Mata Kuliah Manajemen Pemasaran, Tim Dosen yaitu Bp.

Suyatno,M.Si., Bp. Akhid Yulianto, SE,M.Sc(Log)., dan Bp. Akhmad

Supriyanto,SE,MM.

2. Rekan-rekan yang telah membantu dalam penyusunan tugas ini yang tidak dapat

kami sebutkan satu per satu.

Kami sadar bahwa penyusunan makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu

kami mengharapkan saran serta kritik yang membangun agar dapat lebih bermanfaat bagi

kita semua. Terimakasih.

Banjarmasin, Desember 2007

Penyusun

DAFTAR ISI
Halaman
Kata Pengantar
Daftar Isi

BAB I . PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Tujuan Penulisan
1.3 Metode Penulisan
1.4 Rumusan Masalah
1.5 Batasan Masalah

BAB II .PEMBAHASAN
BAB III. PENUTUP
3.1 Kesimpulan
3.2 Saran

LAMPIRAN

DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Semenjak masa pemerintahan Presiden Pertama hingga sekarang, persoalan
kinerja birokrasi dituduhkan oleh banyak pihak sebagai musabab keterpurukan bangsa
ini. Akarnya jelas: birokrasi lambat, tidak efisien, tidak efektif, tidak tanggap, dan
ditengarai banyak diwarnai dengan praktik korupsi. Birokrasi juga dituding menjadi
salah satu penyebab praktik penyalahgunaan kewenangan.
Buruknya kinerja birokrasi sebagai perpanjangan tangan penerapan kebijakan
publik pemerintah justru menjadi faktor penghambat efektivitas dan efisiensi bagi
pelaksanaan kebijakan pemerintah di lapangan. Melihat kenyataan tersebut, sudah
selayaknya dilakukan reformasi besar-besaran yang mencakup keseluruhan sistem
birokrasi untuk menyelamatkan bangsa ini dari keterpurukan.
Agaknya upaya reformasi birokrasi harus dilakukan secara menyeluruh tidak
hanya melalui perbaikan dan pengawasan pada mekanisme perekrutan yang harus
transparan tetapi juga meliputi keseluruhan sistem birokrasi. Upaya perbaikan
menyeluruh tersebut juga meliputi perbaikan berbagai hal yang memberikan peluang
pada praktik-praktik penyimpangan birokrasi oleh aparatur negara.
Misalnya saja, proses pembuatan Kartu Tanda Pendudukan (KTP), Surat Izin
Mengemudi (SIM), dan berbagai proses permohonan izin lainnya, masyarakat kerap
kali harus menempuh kesulitan proses birokrasi yang tidak jelas, panjang, dan juga
biaya ekstra.
Hal-hal semacam inilah yang tidak hanya menggangu jalannya roda aktivitas
masyarakat sehari-hari, akan tetapi juga mengganggu berbagai kegiatan ekonomi yang
dilakukan oleh masyarakat. Bagi para investor, hal tersebut merupakan salah satu
gangguan besar yang dapat mengurangi daya kompetitif dari kegiatan ivestasi tersebut.
Salah satu dari Sepuluh Keputusan Strategi Manajemen Operasi adalah
mengelola kualitas. Kualitas merupakan obat kuat untuk mempebaiki operasi dalam
birokrasi. Mengelola kualitas membangun strategi yang sukses akan diferensiasi, biaya
rendah, dan respon cepat.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kualitas adalah tingkat baik buruknya
sesuatu, kadar, derajat atau taraf, mutu. ( KBBI : 467 ). Menurut American Society for
Quality, kualitas adalah keseluruhan fitur dan karakteristik produk atau jasa yang
mampu memuaskan kebutuhan yang terlihat atau tersamar. Kualitas, atau kualitas
rendah memberikan pengaruh pada organisasi keseluruhan. Walaupun demikian,
mungkin hal yang lebih penting adalah membangun sebuah organisasi yang dapat
mencapai kualitas dan juga mempengaruhi organisasi secara keseluruhan yang mana
merupakan tugas yang memang dibutuhkan.
Salah satunya yaitu Kepolisian sebagai badan birokrasi dan aparatur negara
memerlukan kualitas yang dapat selalu ditingkatkan dalam memberikan pelayanan dan
memuaskan kebutuhan pelanggan yaitu masyarakat. Namun, pada kenyataannya masih
banyak pihak Kepolisian yang memberikan pelayanan yang kurang memuaskan kepada
masyarakat, bahkan semakin tinggi praktik-praktik penyimpangan birokrasi yang
dilakukan.
Seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk dan permintaan layanan
pembuatan SIM dari masyarakat setempat, maka perlu dipertanyakan bagaimana
kualitas atau mutu pembuatan SIM yang sebenarnya dengan semakin meningkatnya isu-
isu miring oleh pihak Kepolisian sebagai pemberi jasa pelayanan pembuatan SIM. Oleh
karena itu, Penyusun mengangkat tema Pembuatan SIM sebagai salah satu pelayanan
jasa yang ditawarkan oleh pihak Kepolisian yang perlu ditinjau kembali tingkat kualitas
atau mutunya.

1.2 Tujuan Penulisan


Tujuan penulisan makalah Manajemen Operasional ini adalah
1. untuk mengetahui kualitas atau mutu pembuatan SIM di POLTABES
Banjarmasin.
2. untuk menambah wawasan masyarakat mengenai tata cara pembuatan SIM di
Banjarmasin.
3. untuk menambah pengetahuan mengenai pembuatan makalah atau karya tulis.
4. untuk memenuhi tugas mata kuliah Manajemen Operasional.
1.3 Metode Penulisan
Metode yang dipakai oleh penulis dalam menyusun makalah Manajemen
Operasional ini adalah
1. Metode Kepustakaan atau Studi Dokumenter yaitu
metode yang digunakan penulis dengan cara mengambil dari pustaka atau
buku yang relevan dengan objek penelitian.
2. Metode Deskriptif yaitu metode yang digunakan
penulis dengan cara menggambarkan atau melukiskan keadaan subyek atau
obyek penelitian berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau sebagaimana
adanya.
3. Metode Observasi yaitu metode yang digunakan
penulis dengan cara mengumpulkan data melalui pengamatan dan pencatatan
gejala-gejala yang tampak pada obyek penelitian, langsung pada saat situasi
sedang terjadi.
4. Metode Komunikasi yaitu metode yang digunakan
penulis dengan cara kontak langsung secara lisan atau tatap muka (face to
face) dengan sumber data, baik dalam situasi yang sebenarnya maupun dalam
situasi yang sengaja dibuat untuk keperluan tersebut.

1.4 Rumusan Masalah


Rumusan masalah yang diajukan dalam makalah Manajemen Operasinal ini
adalah
1. bagaimana tata cara pembuatan SIM di POLTABES Banjarmasin?
2. apa saja permasalahan yang ditemui oleh masyarakat dalam proses
pembuatan SIM di POLTABES Banjarmasin?
3. bagaimana mutu atau kualitas pembuatan SIM di POLTABES
Banjarmasin?
4.

1.5 Batasan Masalah


Penulis membatasi permasalahan yang dibahas pada makalah ini yaitu pada
SURAT IZIN MENGEMUDI
(SIM)

a. Dasar Hukum
1. UU Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian.
2. PP Nomor 44 Tahun 1993 tentang Kendaraan dan Pengemudi
3. PP Nomor 14 Tahun 1992 Pasal 18 (1) "Setiap pengemudi kendaraan bermotor
wajib memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM)"

b. Persyaratan Permohonan
Bagi WNI
I. Permohonan SIM Baru
♦ Fotocopy KTP
♦ Pemeriksan Kesehatan
♦ Bukti Pembayaran dari Bank
II. Perpanjangan SIM
♦ Fotocopy KTP
♦ Fotocopy SIM
♦ Pemeriksaan Kesehatan
♦ Bukti Pembayaran dari Bank
Bagi WNA
I. Permohonan SIM Baru
♦ Fotocopy Paspor
♦ Fotocopy Kitap/Kitas
♦ Surat Keterangan Domisili
♦ Pemeriksaan Kesehatan
♦ Bukti pembayaran dari Bank
II. Perpanjangan SIM
♦ Fotocopy Paspor
♦ Fotocopy Kitap/Kitas
♦ Fotocopy SIM
♦ Surat Keterangan Domisili
♦ Pemeriksaan Kesehatan
♦ Bukti pembayaran dari Bank

c. Prosedur / Mekanisme
1. Pengajuan berkas permohonan di loket pelayanan
2. Pemeriksaan berkas
3. Proses rekomendasi
4. Pemeriksaan kesehatan
5. Ujian teori
6. Ujian praktek 1 dan 2
7. Proses pembuatan SIM
8. Penyerahan SIM

d. Waktu Penyelesaian,

Maksimal 14 hari

e. Biaya,

Dasar : PP No 31 Tahun 2004 tentang Biaya Administrasi SIM

Untuk Pembuatan SIM Baru Rp 75.000,00


Untuk Perpanjangan SIM Rp 60.000,00

Klinik Pengemudi Rp 50.000,00


Bagi proses pemerintahan yang baik, birokrasi bisa diibaratkan sebagai aliran darah
dalam sistem anatomi tubuh manusia. Jika terjadi ketidakpatutan dalam sistem
birokrasi, sudah dapat dipastikan itikad sebaik apapun tidak akan pernah terwujud.

Ini artinya, bangsa ini akan selalu berkutat pada kubangan lumpur yang sama dan tidak
akan pernah dapat keluar tanpa adanya perubahan dan perbaikan birokrasi. Meski
banyak orang mengakui buruknya kinerja birokrasi tetapi tidak banyak perubahan
berarti yang dapat dirasakan masyarakat.

Pertanyaan besar yang harus segera dijawab adalah di mana letak kesalahan upaya-
upaya pembenahan birokrasi yang telah dilakukan tersebut. Semenjak isu reformasi
dicetuskan, ternyata agenda reformasi belum banyak membawa perubahan signifikan
pada reformasi di bidang birokrasi.

Agaknya upaya reformasi birokrasi harus dilakukan secara menyeluruh tidak hanya
melalui perbaikan dan pengawasan pada mekanisme perekrutan yang harus transparan
tetapi juga meliputi keseluruhan sistem birokrasi. Upaya perbaikan menyeluruh tersebut
juga meliputi perbaikan berbagai hal yang memberikan peluang pada praktik-praktik
penyimpangan birokrasi oleh aparatur negara.

Misalnya saja, proses pembuatan Kartu Tanda Pendudukan (KTP), Surat Izin
Mengemudi (SIM), dan perbagai proses permohonan izin lainnya, masyarakat kerap
kali harus menempuh kesulitan proses birokrasi yang tidak jelas, panjang, dan juga
biaya ekstra.

Hal-hal semacam inilah yang tidak hanya menggangu jalannya roda aktivitas
masyarakat sehari-hari, akan tetapi juga mengganggu berbagai kegiatan ekonomi yang
dilakukan oleh masyarakat. Bagi para investor, hal tersebut merupakan salah satu
gangguan besar yang dapat mengurangi daya kompetitif dari kegiatan ivestasi tersebut.
Bila berlanjut, yang terjadi adalah keengganan investor untuk melakukan kegiatan
usaha di Indonesia. Ini artinya hal tersebut akan merusak prospek ekonomi makro
Indonesia dan memperpanjang keterpurunan negeri ini.

Pendek kata, praktik birokrasi Indonesia akan semakin membuat bangsa ini semakin
sulit keluar dari kubangan kesulitan dan keterpurukan, kecuali jika berbagai pihak
secara sadar dan benar-benar serius berkomitmen untuk melakukan perubahan
signifikan bagi kemajuan bangsa ini.

TQM (Total Quality Mangement) merupakan manajemen organisasi keseluruhan


yang menjadikannya unggul dalam semuaaspek produk dan jasa yang penting bagi
pelanggan. TQM penting karena keputusan kualitas mempengaruhi setiap dari 10
keputusan yang dibuat oleh manajer operasi. Tiap 10 keputusan berhadapan dengan aspek
pengidentifikasian dan pemenuhan harapan pelanggan. Pakar kualitas W.Edwards
Deming menggunakan 14 poin untuk menandai penerapan TQM. Hal ini dikembangkan
menjadi 6 konsep program TQM ang efektif : (1) perbaikan yang terus menerus, (2)
pemberdayaan karyawan, (3) benchmarking, (4) just in time (JIT), (5) konsep Taguchi
dan (6) pengetahuan alat TQM.