Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Maksud dan Tujuan

Mengetahui kekuatan massa batuan berdasarkan klasifikasi Rock Mass


Rating (RMR) sesuai parameternya

Mengetahui nilai Slope Mass Rating (SMR) dari nilai RMRb yang
telah diketahui sebelumnya dan mengklasifikasikannya

Mampu menganalisis parameter pada RMR


Mengetahui nilai SMR
Mampu memberikan rekomendasi berdasarkan hasil perhitungan yang
telah dilakukan

1.2. Waktu Pelaksanaan


Hari, tanggal : Selasa, 22 Oktober 2013
Selasa, 29 Oktober 2013
Waktu

: 15.00-17.00 WIB

Tempat: Ruang Seminar Gedung Pertamina Sukowati

BAB II
DASAR TEORI
2.1. Rock Mass Rating (RMR) System
Metode Rock Mass Rating (RMR) merupakan suatu penilaian atau
valuasi ketahanan massa batuan. Penilaian atau valuasi ini berupa klasifikasi
kualitas suatu massa batuan. Kegunaan dari hasil Rock Mass Rating (RMR) ini
adalah untuk menentukan kemiringan lereng maksimum maupun untuk support
terowongan yang disebut Slope Mass Rating (SMR).
Sistem

klasifikasi

massa

batuan

Rock

Mass

Rating

(RMR)

menggunakan delapan parameter, dimana rating setiap parameter dijumlahkan


untuk memperoleh nilai total dari Rock Mass Rating (RMR).
1. Unconfined Compressive Strength
Unconfined Compressive Strength (UCS) merupakan suatu nilai kekuatan
massa batuan yang bisa ditentukan dengan uji Uniaxial dan dapat diestimasi
dari Point Load Test.
Tabel 2.1 Penentuan kekuatan batuan di lapangan (ISRM, 1981)
Grade

Term

R6

Extremely

Uniaxial

Point

Field estimate

Comp.

Load

of strength

Strength

Index

(MPa)
> 250

(MPa)
> 10

strong

Examples

Specimen can

Fresh basalt, chert, diabase,

only be

gneiss, granite, quarzite

chipped with a
geological
R5

Very
strong

100 250

4 -10

hammer
Specimen

Amphibolite, sandstone,

requires many

basalt, gabbro, gneiss,

blows of a

granodiorite, limestone,

geological

marble, rhyolite, tuff

hammer to
R4

Strong

50 100

24

fracture it
Specimen

Limestone, marble, phyllite,

requires more

sandstone, schist, shale

than one blow


of a geological
hammer to
R3

Medium

25 50

12

strong

fracture it
Cannot be

Claystone, coal, concrete,

scraped or

schist, shale, siltstone

peeled with a
pocket knife,
specimen can
be fractured
with a single
blow from a
geological
R2

Weak

5 25

**

hammer
Can be peeled

Chalk, rocksalt, potash

with a pocket
knife with
difficulty,
shallow
indentation
made by firm
blow with
point of a
geological
R1

Very weak

15

**

hammer
Crumbles

Highly weathered or altered

under firm

rock

blows with
point of a
geological
hammer, can
be peeled by
R0

Extremely

0,25 1

**

weak

pocket knife
Indented by

Stiff fault gouge

thumbnail

* Grade according to Brown (1981).


** Point load tests will give highly ambiguous results on rocks with a uniaxial
compressive strength of less than 25 MPa.
Nilai UCS yang diestimasi dari uji Point Load Test
Is(50) x 24 = UCS
Tabel 2.2 Penilaian Unconfined Compressive Strength (MPa)
(Bieniwaski, 1989)

(UCS (MPa)
<1
15
5 25
25 50
50 100
100 200
> 200
2. Rock Quality Designation (RQD)

Rating
0
1
2
4
7
12
15

Pada tahun 1967 D.U.Deere memperkenalkan Rock Quality Designation


(RQD) sebagai sebuah petunjuk untuk memperkirakan kualitas dari massa
batuan secara kuantitatif. RQD didefinisikan sebagai presentasi dari
perolehan inti bor (core) yang secara tidak langsung didasarkan pada jumlah
bidang lemah dan jumlah bagian yang lunak dari massa batuan yang diamati
dari inti bor (core). Hanya bagian yang utuh dengan panjang lebih besar dari
100 mm (4 inchi) yang dijumlahkan kemudian dibagi panjang total
pengeboran (core run).
4

RQD = Length of core pieces > 10 cm length X 100%


Total length of core run
Metode RQD menurut Deere digunakan untuk menghitung RQD dari hasil
pemboran inti (coring). Untuk menentukan RQD pada singkapan langsung di
lapangan menggunakan dihitung dengan menggunakan rumus RQD menurut
Priest dan Hudson. Menurut Priest dan Hudson (1967), hubungan (dengan
kesalahan 5%) antara RQD dan frekuensi discontinuity per-meter adalah :
Rumus RQD menurut Priest dan Hudson (1967)

dimana = frekuensi discontinuity per-meter


Tabel 2.3 Penilaian Rock Quality Design (RQD)
(Bieniawski, 1989)

RQD (%)
Rating
25
3
25 50
8
50 75
13
75 90
17
90 100
20
3. Joint Spacing (m/joint atau cm/joint)

Rock Quality
Very Poor
Poor
Fair
Good
Excellent

Pengukuran spasi kekar dilakukan secara tegak lurus seperti Prosedur


Pengukuran Kekar (Kramadibrata, 1997) di bawah ini

Gambar 2.1. Prosedur pengukuran kekar (Kramadibrata, 1997)

Keterangan :
5

d14 = jarak sebenarnya antara dua kekar yang berukuran dalam satu set
j14 = jarak semu antara dua kekar yang berurutan dalam satu set
Joint Spacing = Spasi kekar set a + spasi kekar set b
2
Untuk penilaian atau pembobotan Joint Spacing dilihat pada tabel di bawah
ini :
Tabel 2.4 Penilaian Joint Spacing (Bieniawski, 1989)

Joint Spacing (m)


<6
6 20
20 60
60 200
> 200
4. Joint Condition

Rating
5
8
13
15
20

Kondisi kekar pada unit satuan yag diperleh dilapangan. Untuk penilaian
atau pembobotan Joint Condition dilihat pada tabel di bawah ini :
Tabel 2.5 Joint Condition (Bieniawski, 1989)
Kondisi
Gouge Lemah, tebal >5mm, atau renggangan >5mm,

Rating
0

menerus
Slickenside/gouge < 5 mm atau renggangan 1-5 mm,

10

menerus
Permukaan agak kasar, rennggangan < 1 mm, sangat

20

lapuk (soft wall)


Permukaan kasar, renggangan < 1 mm, agak lapuk (hard

25

wall)
Permukaan sangat kasar, tak menerus, tak renggang, tidak

30

lapuk (hard wall)

Seberapa besar tingkat pelapukan yang dialami oleh batuan dapat


ditentukan dengan melihat perubahan warna butir batuan dengan bantuan alat
palu geologi. Deskripsi tingkat pelapukan dapat dilihat pada tabel.
Tabel 2.6 Pemerian Tingkat Pelapukan Batuan (ISRM, 1981 )

Istilah
Segar

Keterangan
Tidak ada perubahan warna pada batuan atau sedikit

Kelas
I

Sedikit

perubahan warna pada permukaan diskontinyuitas.


Terjadi perubahan warna pada butiran batuan dan

II

Lapuk

permukaan diskontinyuitas. Batuan terdekomposisi


dan atau terintegrasi menjadi tanah. Batuan segar atau
yang hanya mengalami perubahan warna masih tetap

Pelapukan

ada.
Kurang

Menengah

terdekomposisi dan atau terintegrasi menjadi tanah.

dari

setengah

pada

butiran

batuan

III

Batuan segar dan atau yang hanya mengalami


Pelapukan

perubahan warna masih tetap ada.


Lebih dari setengah pada

material

batuan

Tinggi

terdekomposisi dan atau terintegrasi menjadi tanah.

Lebih

Batuan segar atau yang mengalami perubahan warna

Pelapukan

masih tetap ada.


Seluruh material batuan terdekomposisi dan atau

Lengkap

terintegrasi menjadi tanah. Struktur massa batuan yang

Tanah

asli maish ada.


Seluruh material batuan berubah menjadi tanah. Ada

Residu

perubahan volume tetapi tanah tidak tertransport.

IV

5. Groundwater Condition
Pada unit satuan batuan dilapangan diperhatikan kondisi airtanahnya . Untuk
penilaian atau pembobotan Groundwater Condition dilihat pada tabel di
bawah ini :
Tabel 2.7 Penilaian Groundwater Condition (Bieniawski, 1989)

Groundwater Condition
Mengalir
Menetes
Basah
Lembab
Kering
6. Total Rating

Rating
0
4
7
10
15

Total rating merupakan jumlah total hasil pembobotan parameter RMR. Total
rating inilah yang disebut sebagai RMR. Total rating pada unit satuan batuan
yang ada dilapangan adalah sebagai berikut :
Tabel 2.8 Parameter dan Pembobotan RMR A (Bieniwaski, 1989)

2.2 Slope Mass Rating


Slope Mass Rating (SMR) adalah nilai sudut kemiringan lereng
maksimum suatu massa batuan dalam kondisi stabil, yang ditentukan berdasarkan
nilai Rock Mass Rating (RMR) batuan tersebut. Karena lereng tersusun atas
beberapa unit satuan batuan, maka SMR dihitug dari nilai RMR total. Nilai Slope
Mass Rating (SMR) berdasarkan nilai Rock Mass Rating (RMR) dapat dihitung
dengan menggunakan beberapa rumus, yaitu :
RMR Total = (RMR 1 x Tebal 1) + (RMR 2 x Tebal 2) + (RMR n x Tebal n)
Tebal (1 n)

Prosedur perhitungan SMR berdasarkan RMR dengan menggunakan


beberapa rumus berikut:
1. Laubscher (1975)
Tabel 2.9 Klasifikasi SMR (Laubscher, 1975)

SMR ( 0)
75
65
55
45
35

RMR
80 100
60 80
40 60
20 40
0 -20
2. Hall (1985) : SMR = 0.65 . RMR + 25
3. Orr (1992) : SMR = 35.ln.RMR - 71

Tabel 2.10. Klasifikasi SMR (Romana, 1980)

CLASS

IV

III

II

NO.
SMR
Descriptio

0-20
Very bad

21-40
Bad

41-60
Normal

61-80
Good

81-100
Very Good

n
Stabillity

Fully

Instable

Partially

Stable

Fully

Failures

Instable
Big planar

Planar or

stable
Some joint

Some block

stable
None

or soil

big wedges

or many

like
Re-

Important

wedges
Systematic

Occasional

None

excavation

correction

Support

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1. Diagram Alir RMR
3.1.1. Diagram Alir RQD
Mulai

Membuat garis lurus yang mengenai


seluruh kekar di tiap unit nya
Hitung sudut, yaitu sudut kecil
antara garis tegak lurus kekar
dengan garis lurus yang dibuat

Ukur jarak semu antar kekar


(dilakukan per set kekar)

Hitung jarak sebenarnya dengan


rumus: jarak semu x cos (
sudut a+sudut b
)
2
Hitung rata-rata jarak
sebenarnya dengan rumus:
jumlah jarak sebenarnya
total kekar per set

Hitung nilai RQD unit batuan


dengan rumus:
RQD= 100e-0,1x x (0,1 x + 1)
Dimana
=
1
ratarataspasi kekar sebenarnya

10

3.1.2. Diagram Alir RMR basic


Mulai
Selesa

Tentukan nilai
UCS dan

Masukan nilai perhitungan


RQD dan peringkatnya

Masukan kondisi bidang diskontinyu meliputi aspek kekasaran


permukaan, kemenerusan, spasi dan tingkat pelapukan

Masukan jarak antar bidang


diskontinyu dan tentukan peringkatnya
Masukan kondisi airtanah unit
batuan dan tentukan peringkatnya

Jumlahkan peringkat tiap aspek


tadi, lalu tentukan kelas unit
batuan menurut After Bienawski,
1989
Selesai

11

3.2. Diagram Alir SMR


Mulai
Cari nilai F1 dengan rumus
[1- sin (s- j)]2
Cari nilai F2 dengan rumus tan2 j

Cari nilai F3 dengan rumus


(j- s)/ (j + s)
Tentukan nilai SMR dengan rumus
RMRb (F1.F2.F3)+F4
Untuk perbandingan, gunakan
perhitungan SMR Hall dengan
rumus 0,65.RMRb+25 dan
perhitungan SMR Orr dengan
rumus 35 lnRMRb - 71
Klasifikasikan
berdasarkan klasifikasi
Romana 1980
Selesai

12

BAB IV
DATA DAN PENGOLAHAN DATA
4.1 RQD (perhitungan joint spacing)
4.1.1 Lapisan bawah
Set
1

Jarak Semu (Ji)


2m
1,8 m
1,95 m
1,7 m
3,65 m
Rata-rata (d1)
4,1 m
2,1 m
1,15 m
2,3 m
2,5 m

Rata-rata (d2)
2,45 m
3,45 m
3,3 m

Sudut ()
44o
44 o
43 o
43 o
44 o
43 o

7,93/6 = 1,3
4,09
2,09
1,14
2,29
2,49

2
2o
1o
2o
2o
2o

12,1/6 = 2,01
2,12
2,98
2,85

30
30 o
30 o
31 o

Rata-rata (d3)

1/ =

d 1+d 2+d 3
3

Di = Ji (cos 2+cos 1/2)


1,43
1,3
1,4
1,2
2,6

7,95/4 = 1,9
=

3,3374 +4,91978+5,32
3

1,3+ 2,01+1,9
3

1,73

1
= 0,57
1,73
RQD = 100. e0,1 (0,1 +1)
=

13

= 100. e0,057 (1,057) = 99,8 % (Excellent)


4.1.2 Lapisan atas
Set
1

Jarak Semu (Ji)


2,95 m
1m
1,6 m
2,1 m
1,55 m
1,5 m
1,7 m
Rata-rata (d1)
2,95 m
1,3 m
3,05 m
3,2 m
3,9 m

Rata-rata (d2)
5,15 m
3,45 m

Sudut ()
15o
15 o
15 o
15 o
15 o
16 o
15 o
15 o
30 o
30 o
30 o
30 o
30 o
30 o
48 o
48 o
48 o

Rata-rata (d3)

Di = Ji (cos 2+cos 1/2)


2,84
0,96
1,54
2,02
1,49
1,44
1,64
11,93/8 = 1,49125
2,55
1,12
2,64
2,77
3,37
12,45/6 = 2,075
3,44
2,3
5,74/3 = 1,91

d 1+d 2+d 3
1,49125+2,075+ 1,91
=
3
3
1
=
= 0,55
1,8
RQD = 100. e0,1 (0,1 +1)
1/ =

= 1,8

= 100. e0,055 (1,055) = 99,8 % (Excellent)


4.2 RMRbasic
Parameter
Kekuatan Batuan
Nilai (Mpa)
Peringkat
Utuh (UCS)
Nilai %
RQD
Peringkat

Tipe 1
50-100
7

Tipe 2
50-100
7

90-100 %
20

90-100 %
20

14

Joint spacing

Kondisi Bidang

Jarak m
Over 2m
Peringkat
20
Smooth surface,
Kekasaran
Permukaan,
low presistance,
kemenerusan, spasi,
tight joint, kalsit
dan tingkat
pelapukan
setebal
2mm,

Diskontinu

tidak

Over 2m
20
Smoothsurface
,lowpresistance
,

tight

kalsit

joint,
setebal

ada 2mm, tidak ada

rembesan, lapuk rembesan,


sedang
Kondisi Airtanah
RMR

Peringkat
Aliran
Peringkat
Peringkat
Kelas
Deskripsi

10
Damp / lembab
10
67
2
Baik

lapuk sedang
10
Damp / lembab
10
67
2
Baik

4.2 SMR
4.2.1 Perhitungan SMR
Strike joint = 240,6o ......... j (joint dip direction) = 240,6 o +90o = 330,6o
Strike slope = 250o ............... s (slope dip direction) = 250 o+90 o = 340 o
Sudut slope (j) = 59,13o
Dip joint (s) = 70o

F1 = (1-sin(s- j))2
= (1-sin (340 o -330,6 o)2 = 0,70 (Tak menguntungkan, Romana 1980)

F2 = tan2 j
= tan2 59,13o = 2,798 (Sangat tak menguntungkan, Romana 1980)

F3 = j s
= 59,13o - 70o = -10,87 (Sangat menguntungkan, Romana 1980)

Tipe 1
SMR = RMRb - (F1xF2xF3) + F4
15

= 67 + (0,70x 2,798 x-10,87) + 0


= 88,29
Tipe 2
SMR = RMRb - (F1xF2xF3) + F4
= 67 + (0,70x 2,798 x-10,87) + 0
= 88,29
4.2.2

RMR Total dan SMR

RMR total = (RMR b 1 x tebal 1)+(RMR b 2 x tebal 2)


Total Tebal
= (67 x 4,5) + (67 x 2,1)
6,08
= 72,7 (Good rock)

SMR

= RMRb (F1 x F2 x F3)+F4

= 72,7 (0,70x 2,798 x-10,87)+0


= 51,42

SMR Hall = 0,65 x 51,42 + 25


= 58,423

SMR Orr = 35 x ln RMRb -71


= 35 x ln 51,42 71
= 66,9

4.3 Kesimpulan Hasil SMR

16

Tabel 1. Kelas Stabilitas Per Nilai SMR (Romana,1985)

BAB V
PEMBAHASAN
5.1. RMR basic
Rock Mass Rating adalah metode untuk menilai atau mengevaluasi
ketahanan suatu massa batuan. Rock Mass Rating atau RMR berupa suatu
klasifikasi tentang kualitas suatu massa batuan. Klasifikasi ini dibuat oleh
Bieniawski (1976), pengklasifikasian Rock Mass Rating basic menggunakan

17

parameter Unconfined Compressed Strength (UCS), Rock Quality Designation


(RQD), Joint spacing, kondisi bidang diskontinyu, dan kondisi airtanah
(groundwater). Maka untuk mengetahui nilai RMR suatu massa batuan,
pengamat harus terlebih dahulu menentukan peringkat dari tiap-tiap aspek
tersebut untuk dijumlahkan sehingga didapat kelas massa batuan.
Pada RMRbasic dalam pengklasifikasian memiliki perbedaan dengan RMR
dimana parameter air tanah (groundwater) dan orientasi kekat tidak dimasukkan.
Oleh karena itu nilai RMRb diperoleh dari parameter UCS, RQD, Joint Spacing
dan kondisi bidang diskontinu. Terdapat 2 tipe litologi pada pengamatan ini
dengan nilai RMRb yang sama. Nilainya sebagai berikut :
Parameter
Tipe 1
Kekuatan Batuan
Nilai (Mpa)
50-100
Peringkat
7
Utuh (UCS)
Nilai %
90-100 %
RQD
Peringkat
20
Jarak m
Over 2m
Joint spacing
Peringkat
20
Smooth surface,
Kekasaran
Permukaan,
low presistance,
kemenerusan, spasi,
tight joint, kalsit
dan tingkat
pelapukan
Kondisi Bidang
setebal
2mm,
Diskontinu
tidak
ada

Tipe 2
50-100
7
90-100 %
20
Over 2m
20
Smoothsurface
,lowpresistance
,

tight

kalsit

joint,
setebal

2mm, tidak ada

rembesan, lapuk rembesan,


sedang
Kondisi Airtanah
RMR

Peringkat
Aliran
Peringkat
Peringkat
Kelas
Deskripsi

10
Damp / lembab
10
67
2
Baik

lapuk sedang
10
Damp / lembab
10
67
2
Baik

18

Unconfined Compressed Strength (UCS) adalah nilai kekuatan massa batuan


yang bisa ditentukan dengan uji uniaxial dari point load test. Metode ujinya
adalah dengan memukulkan spesimen dengan alat pemukul (palu geologi sampai
kuku) untuk membuatnya terlepas atau membuat rekahan pada permukaannya.
Nilai UCS kali ini diperoleh pada praktikum sebelumnya dengan nilai 50-100
Mpa dengan peringkat 7 pada Tipe 1 dan dengan nilai 50-100 Mpa dengan
peringkat 7 pada tipe 2.
Rock Quality Designation (RQD) merupakan presentasi dari perolehan inti
bor (core) yang secara tidak langsung didasarkan pada jumlah bidang lemah dan
jumlah bagian yang lunak dari massa batuan yang diamati dari inti bor (core).
Hanya bagian yang utuh dengan panjang lebih besar dari 100 mm (4 inchi) yang
dijumlahkan kemudian dibagi panjang total pengeboran (core run). Dalam
praktikum kali ini menggunakan metode dari Priest dan Hudson (1967) yang
didasarkan pada perhitungan sudut kekar dan jarak antar kekar pada singkapan
langsung. Berdasarkan perhitungan diatas diperoleh nilai RQD pada tipe 1 adalah
99,8% dan pada tipe 2 adalah 99,8%.
Joint Spacing atau jarak kekar dapat diperoleh dari jarak dari tiap kekar yang
ada kemudian dicari nilai rata-ratanya. Pada tipe 1 diperoleh jarak antar kekar
sebesar 2,212 m (Over 2m) sehingga masuk dalam peringkat ke 20 dan pada tipe
2 diperoleh jarak antar kekar sebesar 2,35 m (Over 2m) sehingga masuk dalam
peringkat ke 20.
Kondisi bidang diskontinyu dilihat berdasarkan kondisi kekasaran
permukaan batuan, kemenerusan, spasi bidang diskontinyu, dan tingkat
pelapukan. Untuk unit 1 kondisi permukaannya kasar, dan telah terlapukkan
sedang sehingga memiliki peringkat 67 pada RMR. Begitu pula dengan unit 2
kondisi permukaannya kasar,dengan terlapukkan sedang memiliki peringkat 67
pada RMR.

19

Dari hasil RMR yang diketahui tersebut, dapat dimasukkan dalam jenis-jenis
kelas. Tipe 1 yang memiliki nilai RMRb 67 masuk dalam kelas III (fair rock) dan
pada tipe 2 yang memiliki nilai RMRb 67 masuk dalam kelas III (fair rock)
5.2. SMR
Slope Mass Rating (SMR) adalah nilai sudut kemiringan lereng maksimum
suatu massa batuan dalam kondisi stabil, yang ditentukan berdasarkan nilai Rock
Mass Rating basic (RMRb) batuan tersebut. Dimana Rock Mass Rating basic
(RMRb) ini merupakan jumlah rating dari setiap parameter diantaranya
Unconfined Compressive Strength (UCS), Rock Quality Designation (RQD),
Joint Spacing, dan Joint Condition.
Pada penentuan SMR diketahui joint dip direction, slope dip direction, sudut
slope dan dip joint untuk memperoleh nilai F1, F2 dan F3. Setelah mendapat
nilai F1, F2 dan F3 maka dapat dicari SMR dari nilai RMRb yang ada di tiap
tipe. Setelah perhitungan, diperoleh SMR pada tipe 1 sebesar 88,29 dan pada tipe
2 sebesar 88,29.
Berdasarkan hasil perhitungan SMR tersebut didapatkan nilai 88,29, angka
tersebut apabila dimasukkan dalam klasifikasi SMR menurut Romana, 1985
termasuk ke dalam interval kelas nomor II, dimana pada kelas ini batuan
tergolong ke dalam cukup baik (good)

20

Tabel 1. Kelas Stabilitas Per Nilai SMR (Romana,1985)

>100, dapat dimasukkan dalam klasifikasi SMR (Romana,1985) masuk


dalam kelas nomor 1 dimana batuan ini sangat bagus, sangat stabil dan hanya
memerlukan peninjauan kembali saat akan dilakukan pengeprasan lerenganya
agar tidak terjadi kesalahan dalam perencanaan geologi tekniknya.
Untuk lapisan bawah, dilakukan perhitungan SMR Hall dengan rumus
0.65 dikalikan RMR total, kemudian dijumlah 25. Kemudian didapatkan nilai
SMR sebesar 51,42. Sedangkan menurut rumus SMR Orr dengan rumus 35
dikalikan ln dari RMR 75, kemudian didapat nilai SMR sebesar 66,9.
Sedangkan menurut rumus Laubscher (1975), dengan rumus RMRb dikurangi
perkalian F1,F2 dan F3, lalu dijumlah F4 dan didapat nilai SMR sebesar 88,29.
Menurut klasifikasi SMR dari Romana (1980), ketiganya termasuk dalam kelas
II-III dengan karakteristik baik dan kelerengan yang cukup stabil.
5.3. Rekomendasi
Berdasarkan hasil perhitungan, maka dapat disimpulkan massa batuan
keseluruhan tergolong dalam kelas II dengan deskripsi good rock yang
didasarkan pada perhitungan RMR basic. Sedangkan untuk nilai SMR secara

21

keseluruhan, lereng massa batuan tergolong ke dalam kategori II dimana lereng


dapat dikatakan cukup stabil pada seluruh bidangnya.
Berdasarkan analisis diatas, litologi pada daerah ini masih bagus dan stabil
walaupun dalam klasifikasi RMR masih masuk normal. Apabila faktor orientasi
kekar dan airtanah dimasukkan maka batuan semakin bagus dalam kualitas dan
ketahananya.
Karena

sifatnya

tersebut,

daerah

tersebut

aman

untuk

dilakukan

pembangunan dengan memperhatikan perencanaan geologi tekniknya jika


memerlukan pengeprasan lereng. Jika diperlukan pengeprasan lereng maka
sudut vertikal lerengnya masih dapat dibuat sekitar 60 0 dan pondasi yang dibuat
hanya pada bagian bawah lereng sudah mampu mengurangi adanya longsoran.
Hal ini didasarkan oleh hasil analisa dari dip kekar dan lereng yang
didapatkan. Data yang ada menunjukkan hasil yang positif dan aman dari
longsoran, karena topling dan bidang (mengacu kepada F3), maka daerah ini
direkomendasikan

bahwa daerah yang aman untuk dilakukannya proyek

pembuatan terowongan dan fondasi .

BAB VI
PENUTUP

22

6.1. Kesimpulan

Lapisan unit 1 memiliki nilai RMR basic 67 dan setelah dikorelasikan


terhadap klasifikasi Bieniawski (1980) tergolong ke dalam kelas II dengan
deskripsi massa batuan yang cukup baik, begitu pula dengan lapisan unit 2
memiliki nilai RMR basic 67 dan setelah dikorelasikan terhadap klasifikasi
Bieniawski,1980 tergolong ke dalam kelas II dengan deskripsi massa batuan
yang cukup baik. Nilai SMR menurut Hall adalah 51,42 dan SMR menurut
Orr adalah 66,9. Sedangkan menurut rumus SMR Laubscher didapat nilai
sebesar 88,29. Kemudian hasil SMR tersebut dikorelasikan terhadap
klasifikasi Romana (1985), dan didapatkan hasil bahwa daerah ini tergolong
ke dalam kelas II dengan keadaan yang cukup baik dengan kestabilan
lerengnya yang cukup stabil pula. Berdasarkan hasil perhitungan, maka dapat
disimpulkan massa batuan keseluruhan tergolong dalam kelas II dengan
deskripsi good rock yang didasarkan pada perhitungan RMR basic.
Sedangkan untuk nilai SMR secara keseluruhan, lereng massa batuan
tergolong ke dalam kategori I dimana lereng dinilai sangat stabil pada seluruh
bidangnya. Dikarenakan hasil analisa dari dip kekar dan lereng menunjukkan
hasil yang positif dan aman dari longsoran topling dan bidang (mengacu
kepada F3), maka daerah ini direkomendasikan aman untuk pembuatan
terowongan dan fondasi (mengacu kepada RMR-B Peubah Bobot Orientasi
Diskontinu)

6.2 Saran

Asisten tidak terburu buru menjelaskan, terapkan pemahaman konsep dasar


yang cukup kompleks agar praktikan mengerti dasar dari praktikum ini.

23