Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PRAKTIKUM

FISIKA DASAR
Kalorimeter

Nama

: Venitha Dwi Hertanti

NPM

: 240210120028

Kelompok/Shift

: 4/A1

Hari/Tanggal

: Kamis, 6 Desember 2012

Waktu

: 10.00-12.00 WIB

Asisten

: Norman Fajar R

LABORATORIUM FISIKA DASAR


JURUSAN TEKNOLOGI INDUSTRI PANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN
UNIVERSITAS PADJAJARAN
JATINANGOR
2012

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Hukum kekekalan energi menyatakan bahwa energi tidak dapat
dimusnahkan dan diciptakan melainkan hanya dapat diubah dari satu
bentuk energi kebentuk energi yang lain. Di alam ini banyak terdapat jenis
energi, antara lain : energi kimia, energi listrik, energi kalor, energi
potensial gravitasi, energi kinetik dan lain-lain. Kalor merupakan salah
satu bentuk dari energi yang mempunyai satuan kalori, sementara energi
itu sendiri memiliki satuan joule. Dengan demikian, dibutuhkan faktor
pembanding dalam dua satuan tersebut. Faktor pembanding tersebut
dikenal dengan sebutan tara panas listrik. Salah satu bentuk penerapan
hukum kekekalan energi tersebut dapat dilihat pada saat pengkonversian
energi dari energi listrik menjadi energi panas dengan menggunakan
kalorimeter.
Kalorimeter adalah alat yang digunakan untuk mengukur jumlah
kalor yang terlibat dalam suatu perubahan atau reaksi kimia. Dari
pengukuran jumlah kalor, maka nilai kalor jenis sustu zat juga dapat dicari.
Penentuan nilai kalor jenis suatu zat berhubungan dengan kegiatankegiatan yang berhubungan dengan fisika.

1.2

Tujuan
1. Memahami sistem kerja kalorimeter
2. Mengetahui arti fisis dari tara panas listrik

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Kalorimeter adalah alat untuk mengukur kalor jenis suatu zat. Salah satu
bentuk kalorimeter adalah kalorimeter campuran. Kalorimeter ini terdiri dari
sebuah bejana logam yang kalor jenisnya diketahui. Bejana ini biasanya
ditempatkan didalam bejana lain yang agak lebih besar.kedua bejana dipisahkan
oleh bahan penyekat misalkan gabus atau wol. Kegunaan bejana luar adalah
sebagai isolator agar perukaran kalor dengan sekitar kalori meter dapat dikurangi.
Kalorimeter juga dilengkapi dengan batang pengaduk. Pada waktu zat
dicampurkan didalam kalori meter, air dalam kalori meter perlu diaduk agar
diperoleh suhu merata sebagai akibat percampuran dua zat yang suhunya berbeda.
Asas penggunaan kalori meter adalah asas black. Setiap dua benda atau lebih
dengan suhu berbeda dicampurkan maka benda yang bersuhu lebih tinggi akan
melepaskan kalornya, sedangkan benda yang bersuhu lebih rendah akan menyerap
kalor hingga mencapai keseim- bangan yaitu suhunya sama. Pelepasan dan
penyerapan kalor ini besarnya harus imbang. Kalor yang dilepaskan sama dengan
kalor yang diserap sehingga berlaku hukum kekekalan energi. Pada sistem
tertutup, kekekalan energi panas (kalor) ini dapat dituliskan sebagai berikut.
Qlepas = Qterima
Dengan Q = m . c . t
dengan:
Q = banyaknya kalor yang diperlukan (J)
m = massa suatu zat yang d iberi kalor (kg)
c = kalor jenis zat (J/kgoC)
t = kenaikan/perubahan suhu zat (oC)
C = kapasitas kalor suatu zat (J/oC)

Pertukaran energi kalor merupakan dasar teknik yang dikenal dengan nama
kalorimetri, yang merupakan pengukuran kuantitatif dari pertukaran kalor. Untuk
melakukan pengukuran kalor yang diperlukan untuk menaikkan suhu suatu zat
digunakan kalorimeter. Gambar 6.17 menunjukkan skema kalorimeter air
sederhana. Salah satu kegunaan yang penting dari kalorimeter adalah dalam
penentuan kalor jenis suatu zat. Pada teknik yang dikenal sebagai metode
campuran, satu sampel zat dipanaskan sampai temperatur tinggi yang diukur
dengan akurat, dan dengan cepat ditempatkan pada air dingin kalorimeter. Kalor
yang hilang pada sampel tersebut akan diterima oleh air dan kalorimeter. Dengan
mengukur suhu akhir campuran tersebut, maka dapat dihitung kalor jenis zat
tersebut.
Zat yang ditentukan kalor jenisnya dipanasi sampai suhu tertentu. Dengan
cepat zat itu dimasukkan kedalam kalori meter yang berisi air dengan suhu dan
massanya sudah diketahui. Kalori meter diaduk sampai suhunya tidak berubah
lagi. Dengan menggunakan hukum kekekalan energy, kalor jenis yang
dimasukkan dapat dihitung.
Kalorimeter ada berbagai jenis, beberapa contohnya adalah :
1. Kalorimeter aluminium

Pada dasarnya kalorimeter didesain agar pertukaran kalor hanya terjadi di


dalam bejana calorimeter dan menghindari pertukaran kalor ke lingkungan
sekitarnya. Kalorimeter aluminium dibuat mengkilat pada dinding bagian dalam
dari kedua bejana untuk mengurangi radiasi kalor dan kehilangan kalor karena
penyerapan dinding bejana. Cincin serat (fiber) yang memisahkan kedua bejana
dengan tutup kayu adalah penghantar kayu yang jelek. Ruang antara kedua
dinding bejana berisi udara yang berfungsi sebagai isolator kalor, sebab udara
adalah penghantar kalor yang jelek.
2. Kalorimeter elektrik
Kalorimeter elektrik digunakan untuk mengukur kalor jenis zat cair.
Prinsip kerja calorimeter elektrik adalah, sejumlah zat cair contoh (m kg)
dimasukan kedalam bejana tembaga yang kapasitas kalornya diketahui (J/K).
Kemudian zat cair tersebut dipanaskan selama selang waktu t sekn secara elektrik
oleh pemanas listrik yang memiliki elemen pemanas yang beda potensialnya V
volt dan dilalui arus listrik dnegan kuat arus I ampere. Kenaikan suhu (T C)
selama selang waktu t diukur dengan thermometer. Energi listrik yang diberikan
kepada zat cair dalam selang waktu t adalah V I t (joule)
V I t = (mc + C) T
3. Kalorimeter bom
Kalorimeter bom digunakan khusus untuk menentukan kandungan
energy dalam makanan dan lemak. Makanan yang akan ditentukan kandungan
energinya diletakan dalam cangkir platina, kemudian makanan akan dibakar
secara elektrik. Kalor yang diserap oleh bejana dalam, cangkir, dan air diukur
secara cermat sehingga kandungan energy atau kalor pembakaran suatu jenis
makanan dapat dihitung secara teliti.
Hukum lain yang mempunyai kaitan erat dengan kalor adalah hukum
Joule. Hukum Joule merupakan hukum yang menyatakan bahwa perubahan energi
dalam dari gas sempurna berbanding langsung dengan temperatur.

Energi panas atau kalor juga berhubungan dengan energi listrik. Karena,
jika dianalogikan dengan logam, pembawa muatan yang kehilangan energi karena
bertumbukan dengan logam, mempunyai kecepatan konstan yang sebanding
dengan kuat medan listriknya dan pembawa muatan tersebut akan menyebabkan
logam yang dialiri arus listrik memperoleh energi yaitu energi panas. Hal ini
terdapat dalam hukum Ohm, yang berbunyi besar arus yang mengalir pada suatu
konduktor pada suhu tetap sebanding dengan beda potensial antara kedua ujungujung konduktor.
Karena berhubungan dengan energi listrik, maka tentulah terdapat rumus
untuk mencari beda potensial dan besar arus:
V=IxR
V = Beda potensial (Volt)
I = Kuat arus (Ampere)
R = Hambatan (Ohm)
Dan juga rumus untuk menghitung daya listrik:
P=VxI
P = Daya (Watt)
V = Beda potensial (Volt)
I = Kuat arus (Ampere)
Sebagai pembanding kalori dan energi, digunakan faktor pembanding yang
dikenal sebagai tara panas listrik. Untuk menentukan tara panas listrik, penghantar
yang terdapat pada kalorimeter akan dilalui arus listrik, yang akan menimbulkan
perubahan suhu atau timbul panas Q, yang sebanding dengan kuadrat arus I,
tahanan penghantar R, dan lamanya arus mengalir t. Rumus yang digunakan
adalah sebagai berikut:
Q = a I2 R t

BAB III
METODOLOGI
3.1

Alat dan Bahan


1. Amperemeter
2. Gelas ukur
3. Kalorimeter dilengkapi dengan kumparan pemanas dan pengaduk
4. Termometer
5. Termometer
6. Stopwatch
7. 5 kabel penghubung

3.2

Prosedur Praktikum
1. Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
2. Merangkai sistem pada percobaan kalorimeter
3. Mengukur 100 ml air suling menggunakan gelas ukur kemudian
dimasukan kedalam kalorimeter
4. Menghubungkan arus listrik dan sistem
5. Mengatur arus sebesar 2 ampere (ditunjukkan oleh amperemeter)
6. Mencatat nilai tegangan pada voltmeter
7. Mencatat nilai kenaikan suhu yang ditunjukkan termometer setiap
3 menit sekali selama 15 menit menggunakan stopwatch
8. Mengulangi prosedur diatas dengan arus listrik sebesar 4 ampere.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1

Hasil Percobaan
Massa air suling

= 100 gram

= 4,2 Kj/kg.k

aair

= 1/c = ,2 = 0,238

Tabel hasil pengamatan


I (A)

0,3

0,5

I.

V(V)

0,2

0,3

t (s)

T2

180

(C)
30

(C)
1

0,038

360

35

0,117

35

0,078

720

35

0,058

900

36

0,054

180

36

0,0466

360

37

0,031

38

0,026

720

38,25

5,25

0,02

900

39,75

6,75

0,021

540

540

T1 (

29

33

R1 = V1/I1 = 0,2/0,3 = 0,667

R2 = V2/I2 = 0,3/0,5 = 0,6


Q = m. c.
Q1 = 0,1 . 4,2 . 1 = 0,42 J
Q2 = 0,1 . 4,2 . 6 = 2,52 J
Q3 = 0,1 . 4,2 . 6 = 2,52 J
Q4 = 0,1 . 4,2 . 6 = 2,52 J
Q5 = 0,1 . 4,2 . 7 = 2,94 J

0,069

0,029

II.

Q1 = 0,1 . 4,2 . 3 = 1,2 J


Q2 = 0,1 . 4,2 . 4 = 1,6 J
Q3 = 0,1 . 4,2 . 5 = 2,1 J
Q4 = 0,1 . 4,2 . 5,25 = 2,2 J
Q5 = 0,1 . 4,2 . 6,75 = 2,8 J

a1 = Q/Ivt = 0,42/ 0,06.180 = 0,038


a2 = Q/Ivt = 2,52/ 0,06.360 = 0,1167
a3 = Q/Ivt = 2,52/ 0,06.540 = 0,078
a4 = Q/Ivt = 2,52/ 0,06.720 = 0,058
a5 = Q/Ivt = 2,94/ 0,06. 900 = 0,054
a6 = Q/Ivt = 1,26/ 0,15.180 = 0,0466
a7 = Q/Ivt = 1,68/ 0,15. 360 = 0,031
a8 = Q/Ivt = 2,1/ 0,15. 540 = 0,026
a9 = Q/Ivt = 2,205/ 0,15. 720 = 0,02
a10 = Q/Ivt = 2,835/ 0,15. 900 = 0,021

Ketelitian percobaan 1

Kesalahan relatif 1
Kr = 100%-Kp = 100% - 71 % = 29%
Ketelitian percobaan 2

Kesalahan relatif 2
Kr = 100%-Kp = 100% -87.8% = 12.2%

4.2

Pembahasan

Dalam melakukan percobaan ini menggunakan kalorimeter ,


namun karena tidak adanya ketersediaan alat, percobaan kali ini langsung pada
penghitungan data yang telah ada.
Kalor merupakan salah satu bentuk energi dan memiliki satuan kalori.
Sedangkan energi sendiri memiliki satuan Joule (joule/kalori) sehingga kita perlu
suatu faktor pembanding antara dua satuan tersebut, dimana faktor pembanding
tersebut dikenal dengan tara panas listrik (a). Untuk tujuan penentuan tara panas
listrik, pengahantar yang terdapat pada calorimeter akan dilalui arus listrik, yang
akan menimbulkan perubahan suhu atau timbul panas Q yang sebanding dengan
kuadrat arus I, tahanan penghantar listrik R dan lamanya arus listrik yang
mengalir t.
Percobaan yang dilakukan pada praktikum kali ini yaitu menghitung
waktu kenaikan suhu yang dihasilkan dari pemberian arus listrik sebesar 0,3 dan
0,5 ampere pada suatu sistem kerja kalorimeter sehingga dari data hasil yang di
peroleh tersebut praktikkan akan dapat mengetahui seberapa besar nilai tara panas
listrik rata-rata dari suatu kenaikan suhu tersebut. Selain dapat menentukan nilai
rata-rata, praktikkan juga dapat mengetahui nilai kesalahan relatif yang dilakukan
pada saat praktikkum berlangsung.
Dalam percobaan ini didapatkan hasil akhir yang diperoleh cukup jauh
dari nilai yang tertera pada literatur yaitu sebesar 0,238 KJ.0C/avs. Terdapat
beberapa faktor yang dapat memicu timbulnya penyimpangan pada hasil yang
didapat seperti tidak tepatnya dalam memulai dan mengakhiri stopwatch pada saat
menghitung waktu saat termometer menunjukan nilai suhu, tidak tepatnya volume
air yang digunakan dalam sistem, sistem terkena sentuhan atau pun adanya
kekeliruan atau kurang telitinya pada saat pengolahan data hasil baik dengan
menggunakan kalkulator ataupun dengan cara manual.

BAB V

PENUTUP
5.1

Kesimpulan

Kalorimeter merupakan salah satu alat yang dapat digunakan untuk


membuktikan kebenaran dari hukum kekekalan energi dengan dapat
ditentukannya nilai dari tara panas listrik yang dihasilkan.

Kalorimeter digunakan untuk menentukan tara listrik suatu cairan

Penghitungan ketelitian percobaan dan kesalahan relative menunjukan


adanya keberhasilan percobaan, karena hasil yang didapat sesuai dengan
batas hasil yang dituju, meskipun masih adanya ketidakpastian.

5.2

Saran
Praktikan hendaknya memahami prosedur praktikum dengan baik
sebelum praktikum dilakukan

Hendaknya alat dan bahan yang harus digunakan pada saat praktikum
memadai sehingga praktikum dapat dilakukan dengan lancar

Hendaknya penghitungan dilakukan lebih teliti

DAFTAR PUSTAKA

Cintafisika. 2012. Kalorimeter. Terdapat pada:


http://informasifisika.blogspot.com/2011/02/kalori-meter.html (Diakses
pada 10 Desember 2012 pukul 08.15 WIB)
Mariano. 2009.Praktikum Fisika Kelas X: Kalorimeter.
http://www.scribd.com/doc/21115923/Praktikum-Fisika-Kelas-XKalorimeter (Diakses pada 10 Desember 2012, pukul 10.26)
Zaida, Drs. M.Si. Petunjuk Praktikum Fisika Dasar. Jatinangor: Universitas
Padjadjaran