Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PRAKTIKUM

POLARIMETRI
Pembimbing: Dra. Hj. Mentik Hulupi, MS

Oleh
Abdul Kholik

: 141411001

Aldi Muhamad R.

: 141411002

Arif Imanuddin

: 141411003

Kelas 1A

Tanggal Praktikum

: 07 April 2015

Tanggal Penyerahan Laporan : 21 April 2015

PROGRAM STUDI D3-TEKNIK KIMIA


DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
2015

A.
TUJUAN PRAKTIKUM
Setelah melakukan praktikum ini diharapkan mahasiswa mampu
1. Mengenal metode penentuan sudut putar untuk penentuan konsentrasi suatu senyawa
yang bersifat optik aktif
2. Mengukur sudut putar bidang polarisasi larutan gula
3. Menentukan kadar gula dalam larutan sampel

B.

LANDASAN TEORI
Polarimetri adalah suatu metode analisis yang didasarkan pada pengukuran rotasi

optik (optical rotation) cahaya terpolarisasi. Rotasi optik adalah besarnya sudut pemutaran
bidang polarisasi yang terjadi apabila cahaya terpolarisasi dilewatkan melalui suatu
senyawa optis aktif. Pemutaran bidang polarisasi tersebut dapat berupa dextro-rotatory (+)
bila arahnya sesuai dengan arah jarum jam ataupun levo-rotatory (-) bila arahnya
berlawanan dengan jarum jam (Dextrorotation and levorotation, 2015).
.Rotasi optis yang diamati/diukur dari suatu larutan bergantung kepada jumlah
senyawa dalam tabung sampel, panjang jalan/larutan yang dilalui cahaya, temperatur
pengukuran, dan panjang gelombang cahaya yang digunakan. Untuk mengukur rotasi
optik, diperlukan suatu besaran yang disebut rotasi spesifik yang diartikan suatu rotasi
optik yang terjadi bila cahaya terpolarisasi melewati larutan dengan konsentrasi 1 gram per
mililiter sepanjang 1 desimeter. Rotasi spesifik dapat dihitung dengan menggunakan
persamaan:

Dimana

adalah rotasi optik (yang teramati), c adalah konsentrasi larutan

gram/mL larutan, l adalah panjang jalan/larutan yang dilalui cahaya dalam desimeter,

adalah panjang gelombang cahaya (bila menggunakan lampu natrium dilambangkan


dengan D), dan t adalah temperatur (0C).

Senyawa optis aktif, senyawa yang dapat memutar bidang getar cahaya
terpolarisasi, mengandung atom karbon asimetris (atom karbon yang mengikat empat
atom/gugus yang berbeda) dalam strukturnya, contohnya adalah asam laktat dan gula.
(Yurna, t.t.). Molekul dengan satu atom karbon asimetris merupakan molekul kiral (tidak
simetris), molekul demikian dapat memutar bidang cahaya terpolarisasi. Molekul dengan
dua atau lebih atom karbon asimetris, tidak selalu membentuk molekul kiral. Dengan
demikian mungkin saja terdapat molekul yang mempunyai atom-atom karbon asimetris
tetapi tidak optis aktif. Berikut ini adalah contoh senyawa optis aktif yang memiliki satu
atom karbon asimetris, senyawa ini adalah asam laktat.

Atom C dengan tanda * adalah atom karbon asimetris, atom karbon tersebut
mengikat empat atom/gugus yang berbeda (H, CH3, OH, dan COOH).
Alat yang digunakan untuk menentukan sudut perputaran bidang dari cahaya
terpolarisasi adalalah polarimeter. Skema dari alat polarimeter dapat dilihat pada gambar
berikut ini.
Sumber: (Chemicool, 2014)

Gambar 1. Skema alat polarimeter


Cahaya dari lampu sumber, terpolarisasi setelah melewati prisma Nicol pertama
yang disebut polarisator. Cahaya terpolarisasi kemudian melewati senyawa optis aktif yang
akan memutar bidang cahaya terpolarisasi dengan arah tertentu. Prisma Nicol ke dua yang
disebut analisator akan membuat cahaya dapat melalui celah secara maksimum.

C.

ALAT DAN BAHAN


Tabel 1. Daftar alat dan bahan yang digunakan

Alat
1. Alat polarimeter Atago Polax-L
lengkap dengan tabungnya
2. Labu takar 100 ml
3. Labu takar 25 ml (5 buah)
4. Gelas kimia 100 ml
5. Gelas kimia 250 ml
6. Spatula
7. Batang pengaduk
8. Pipet tetes
9. Pipet ukur 10 ml
10. Bola hisap
11. Neraca analitik
12. Tissue
13. Botol semprot

Bahan
1. 10 gram gula pasir (sukrosa)
2. Aquades

Gambar 1. Polarimeter Atago Polax-L


D.
FLOWSHEET
1. Kalibrasi Alat

Dareah tampilan cahaya diamati melalui teropong


Jika sisi kanan terang

Tombol R+ ditekan untuk

Jika sisi kiri terang

menyamakan terangnya
Tombol L- ditekan untuk

menyamakan terangnya
Jika kedua sisi sudah terang tombol zero set ditekan

2. Pengukuran/Penentuan Kadar Sampel

E.

DATA PENGAMATAN DAN PENENTUAN KONSENTRASI SAMPEL


Tabel 2. Data Pengamatan

No.
Larutan
Pembacaan sudut putar optik aktif (o)
Sudut Putar (o)
1. Aquades
55,1
0,00
2. Sukrosa 2%
54,9
-0,02
3. Sukrosa 4%
58,8
3,70
4. Sukrosa 6%
63,0
7,90
5. Sukrosa 8%
63,6
8,50
6. Sukrosa 10%
68,5
13,40
7. Sampel
56,1
1,00
Keterangan:
Pembacaan sudut putar optik aktif adalah nilai yang dibaca pada alat. Karena alat yang
digunakan pada saat praktikum, polarimeter Atago Polax-L, tidak dapat mengatur nilai

sudut putar aquades (larutan yang tidak mengandung sukrosa) menjadi nol / tombol

zero set tidak bisa diatur. Maka, nilai 55,1 yang dibaca pada alat dianggap 0,00.
Sudut putar adalah selisih antara nilai pada pembacaan sudut putar optik aktif larutan,
baik larutan sukrosa maupun larutan sampel, dengan nilai pada pembacaan sudut putar

optik aktif aquades.


Suhu pada saat praktium adalah 28,5oC.
Panjang tabung yang digunakan adalah 1 dm = 10 cm = 100 mm.
1.

Penentuan Konsentrasi Sampel dengan Kurva

Kurva Kalibrasi
15
14
13
12
11

f(x) = 1.38x - 1.33


R = 0.95

10
9
8
7
6
5
4
3
2
1
0
-1 0

10

11

Konsentrasi sampel berdasarkan kurva adalah 1,65%.


2.
Penentuan Konsentrasi Sampel dengan Persamaan Garis
Linier
y = 1.382x - 1.331
1 = 1.382x - 1.331
2,331
x = 1.382
x = 1,6866

Konsentrasi sampel berdasarkan kurva adalah 1,69%.


F.
PERHITUNGAN
1. Pembuatan Larutan Sukrosa 10%
%b/v = 10%
10 gram gula pasir/sukrosa dalam 100 ml aquades
2. Pembuatan Larutan Standar
a. Larutan sukrosa 2%
C1 x V1 = C2 x V2
10% V1 = 2% x 25 ml
d. Larutan sukrosa 8%
V1 = 5 ml
C1 x V1 = C5 x V5
b. Larutan sukrosa 4%
10% V1 = 8% x 25 ml
C1 x V1 = C3 x V3
V1 = 20 ml
10% V1 = 4% x 25 ml
e. Larutan sukrosa 10%
V1 = 10 ml
Tidak diencerkan karena
c. Larutan sukrosa 6%
C1 x V1 = C4 x V4
larutan yang sebelumnya
10% V1 = 6% x 25 ml
V1 = 15 ml
dibuat sudah dalam
konsentrasi 10%
3. Perhitungan Sudut Putar Spesifik Deret Larutan Standar dan Larutan Sampel
C=

100
l x [ ]t D

[ ]t D =

100
lC

Dimana,

d. Larutan sukrosa 8%
100

t
[
]D =
1C

: konsentrasi larutan (gram/100ml)

: nilai sudut putar (pengukuran)

[ ]t D =

: panjang gelombang polarimeter (dm)

[ ]tD = 106,25o

[]tD

e. Larutan
10% sinar lampu D
: sudut putar spesifik, pada suhu t dan pada
panjangsukrosa
gelombang
100
[ ]t D =
lC

a. Larutan sukrosa 2%
Tidak dapat dihitung karena
kesalahan pembuatan
larutan standar
pada saat praktikum
b. Larutan sukrosa 4%
100
[ ]t D =
lC
[ ]t D =

100 (3,70)
1( 4)

[ ]t D =

100 (8,50)
l(8)

100 (13,40)
1(10)

[ ]tD = 134o
f. Sampel
[ ]t D =

100
lC

[ ]t D =

100 (1,00)
l (1,69)

[ ]tD = 59,17o

[ ]tD = 92,5o
c. Larutan sukrosa 6%
100

t
[
]D =
1C
[ ]t D =

100 (7,90)
l (6)

[ ]tD = 131,67o

Tabel 3. Nilai sudut putar spesifik deret larutan standar dan larutan sampel
No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Larutan
Sukrosa 2%
Sukrosa 4%
Sukrosa 6%
Sukrosa 8%
Sukrosa 10%
Sampel

Sudut putar optik aktif spesifik (o)


92,5
131,67
106,25
134
59,17

G.
PEMBAHASAN
1. Oleh Abdul Kholik (141411001)
Pada praktikum ini dilakukan penentuan kadar dari larutan glukosa dengan
menggunakan nilai sudut putarnya. Tujuan dari praktikum ini adalah untuk menentukan
konsentrasi sampel larutan gula/sukrosa, sehingga harus diukur terlebih dahulu
pengukuran sudut putar terhadap larutan deret standar sukrosanya.
Langkah pertama yang dilakukan adalah kalibrasi alat polarimeter dengan
larutan blanko. Kalibrasi merupakan proses untuk menyesuaikan keluaran atau indikasi
dari suatu perangkat pengukuran agar sesuai dengan besaran dari standar yang
digunakan dalam akurasi tertentu yang memiliki tujuan untuk menentukan deviasi
(penyimpangan) kebenaran nilai konvensional penunjukan suatu instrument ukur,
menjamin hasil hasil pengukuran sesuai dengan standar standar nasional maupun
internasional,

untuk

mencapai

ketertelusuran

pengukuran

melalui

rangkaian

perbandingan tak terputus, menentukan kelayakan alat ukur yang digunakan sesuai
dengan fungsinya, dan juga deteksi, korelasi, melaporkan serta mengeliminasi setiap
variasi keakuratan alat uji sehingga dapat mendukung sistem mutu yang diterapkan
berbagai industri pada peralatan laboratorium dan produksi yang dimiliki, dapat

mengetahui seberapa jauh perbedaan (penyimpangan) antara harga benar dengan harga
yang ditunjukan oleh alat ukur juga menjaga kondisi instrument ukur dan bahan ukur
agar tetap sesuai dengan spesifikasinya (himatek)
Didapat nilai kalibrasi yaitu sebesar 55,1 . Pada lensa muncul dua cahaya
yang berbeda, yaitu sisi gelap dan sisi terang. Dua cahaya tersebut disamakan agar
kedua cahaya tersebut menjadi terang dengan menekan tombol yang ada pada alat yaitu
L (left) atau R (right) menyesuaikan sesuai dengan sisi mana yang lebih gelap, apabila
sisi kiri lebih gelap maka ditekan tombol L, apabila sisi kanan lebih gelap maka ditekan
tombol R. Setelah kedua sisi tersebut terang, sehingga dapat ditentukan nilai sudut putar
larutan tersebut. Tabel berikut adalah hasil pengamatan dan perhitungan kadar sukrosa
dalam satuan konsentrasi OZ.
No
.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Pembacaan sudut putar optik aktif

Larutan

()
55,1
54,9
58,8
63,0
63,6
68,5
56,1

Aquades
Sukrosa 2%
Sukrosa 4%
Sukrosa 6%
Sukrosa 8%
Sukrosa 10%
Sampel

Sudut Putar (o)


0,00
-0,02
3,70
7,90
8,50
13,40
1,00

Persamaan linear dari kurva yaitu y = 1,382x 1,331 (R2 = 0,948), hasilnya
1,6866%

sampir

sama

dengan

nilai

konsentrasi

ynag

ditentukan

dengan

menginterpolasikan data sudut putar dengan kurva kalibrasi.


Pada praktikum ini juga didapatkan nilai sudut putar optis spesifik dari
konsentrasi 4%, 6%, 8%, dan 10% secara berurutan, yaitu 92,5o; 131,67o; 106,25o; dan
134o.
Dari hasil pengamatan dan perhitungan tersebut dapat disimpulkan bahwa
semakin besar nilai konsentrasi suatu larutan maka nilai sudut putar semakin besar.
Kesalahan pada praktikum ini disebabkan oleh beberapa factor, seperti penglihatan
kedua sisi cahaya, kering atau tidaknya kuvet. Hal tersebut akan mempengaruhi pada
penentuan sudut putar.

2. Oleh Aldi Muhamad R. (141411002)


Pada praktikum kali, praktikan menentukan konsentrasi sukrosa suatu sampel
dengan menggunakan data sudut putar dengan menggunakan alat polarimeter atago
polax-l. Sukrosa merupakan senyawa optis aktif sehingga dapat memutar bidang

polarisasi. Pada lensa kan muncul cahaya pada dua sisi, gelap dan terang. Apabila sisi
kiri lebih gelap maka ditekan tombol L, jika sisi kanan gelap maka ditekan tombol R,
sampai terlihat cahaya yang sama dikedua sisi. Sehingga sudut putar dapat diketahui
pada layar.
Aquades dijadikan sebagai larutan yang digunakan untuk mengkalibrasi alat.
Pada pengisian kuvet, kuvet harus terisi penuh jangan sampai terdapat gelembung pada
kuvet. Jika gelembung terdapat pada kuvet dapat membentuk cekungan pada larutan,
hal tersebut dapat memengaruhi intensitas cahaya yang terpolarisasinya sehingga
pengukuran sudut putar tidak tepat. Seharusnya nilai sudut putar aquades 0, tetapi hasil
yang didapatkan 55,1o. Hal tersebut menunjukkan bahwa alat tersebut mengalami
kerusakan.
Langkah selanjutkan yang dilakukan adalah membuat sukrosa sebagai larutan
standar dengan beberapa konsentrasi yaitu 2%, 4%, 6%, 8%, dan 10%. Hasil yang
didapatkan berturut-turut yaitu -0,02o; 3,70o; 7,90o; 8,50o; dan 13,40o. Dari data tersebut
dapat diketahui bahwa semakin besar konsentrasi, semakin besar sudutnya. Dari data
tersebut dibuatlah kurva kalibrasi. Dengan kurva kalibrasi, dapat menentuka konsentrasi
sampel. Selanjutnya mengukur sudut putar sampel, didapatkan hasil 1,00 o. Data sudut
putar tersebut diinterpolasikan ke dalam kurva kalibrasi dan didapatkan konsentrasi
sampel adalah 1,65%. Selain menggunakan kurva, konsentrasi sampel dapat diketahui
dengan persamaan linear dari kurva yaitu y = 1,382x 1,331 (R2 = 0,948), hasilnya
1,6866%

sampir

sama

dengan

nilai

konsentrasi

ynag

ditentukan

dengan

menginterpolasikan data sudut putar dengan kurva kalibrasi.


Pada praktikum ini juga didapatkan nilai sudut putar optis spesifik dari
konsentrasi 4%, 6%, 8%, dan 10% secara berurutan, yaitu 92,5o; 131,67o; 106,25o; dan
134o.
3. Oleh Arif Imanuddin (141411003)
Pada praktikum kali ini, dilakukan penentuan kadar/konsentrasi sukrosa dalam
suatu sampel menggunakan alat polarimeter Atago Polax-L. Alasan menentukan
kadar/konsentrasi sukrosa (C12H22O11) dengan menggunakan polarimeter, karena
sukrosa merupakan senyawa optis aktif (yang mempunyai atom karbon asimetris)
sehingga dapat memutar bidang polarisasi, sukrosa sendiri dapat memutar bidang
polarisasi ke arah kanan (Jejaring Kimia, 2014). Dengan adanya sifat ini maka kadar
sukrosa dalam suatu larutan sampel dapat ditentukan kadarnya dengan metode
polarimetri. Suhu pengukuran yang dilakukan pada praktikum ini, yaitu 28,5oC.

Langkah pertama yang dilakukan adalah membuat deret larutan standar


sukrosa dengan 5 variasi konsentrasi, yaitu 2%, 4%, 6%, 8%, dan 10%. Alasan sukrosa
dijadikan sebagai larutan standar karena jenis larutan standar harus sesuai dengan
sampel yang di analisis. Karena sampel yang dianalisis mengandung sukrosa, maka
larutan standar yang dipakai adalah larutan standar sukrosa yang telah diketahui
konsentrasinya. Dalam pembuatan larutan standar ini haruslah tepat dan teliti. Jika pada
pembuatan larutan standar terdapat kesalahan, maka pada penentuan konsentrasi
sukrosa dalam sampel pun akan terjadi kesalahan.
Kemudian dilakukan kalibrasi alat dengan aquades yang berfungsi untuk
menstandarkan alat sehingga dapat mengurangi kesalahan pembacaan pengukuran.
Aquades digunakan sebagai pengkalibrasi sebab aquades tidak mempunyai atom karbon
asimetris sehingga tidak memutar bidang polarisasi. Kalibrasi alat dilakukan dengan
cara aquades dimasukkan ke dalam tabung polarimeter dan dimasukkan ke dalam alat
dengan posisi tabung horizontal. Hal penting yang harus diperhatikan, yaitu pada saat
pengisian tabung (kuvet) tidak boleh ada gelembung udara, sebab gelembung udara
tersebut membentuk cekungan pada larutan sehingga dapat mempengaruhi intensitas
cahaya yang terpolarisasi, akibatnya berpengaruh pada besarnya sudut putar larutan
tersebut (Wahyuni, 2014). Jika gelembung udara terbentuk, hal ini dapat disiasati
dengan cara mengumpulkan gelembung tersebut pada bagian bubble trap (bagian pada
tabung yang menonjol atau cembung). Sehingga tidak akan menganggu proses
pengukuran. Setelah pengukuran, didapatkan nilai sudut putar optis aquades adalah
55,1o. Nilai sudut putar aquades seharusnya bernilai 0 yang berarti bahwa aquades
bukanlah senyawa optis aktif. Namun, alat yang digunakan sudah tidak dalam keadaan
prima sehingga nilai sudut putar optis untuk aquades tidak bernilai 0.
Langkah selanjutnya adalah mengukur sudut putar deret larutan standar, 2,%,
4%, 6%, 8%, dan 10%, dengan menggunakan polarimeter Atago Polax-L. Sebelum
pengukuran pastikan bahwa tidak ada gelembung udara pada tabung. Setelah dilakukan
pengukuran, didapatkan sudut putar deret larutan standar secara berurutan dari
konsentrasi terkecil sampai konsentrasi terbesar, yaitu -0,02 o; 3,70o; 7,90o; 8,50o; dan
13,40o. Data sudut putar ini selanjutnya dibuat dalam bentuk kurva (kurva kalibrasi).
Dari deretan harga sudut putar yang didapatkan, dapat diamati bahwa semakin tinggi
konsentrasi larutan, maka semakin besar pula sudut putar larutan tersebut. Salah satu
faktor yang memepengaruhi harga sudut putar suatu larutan adalah banyaknya interaksi
cahaya terpolarisasi dengan molekul larutan dalam tabung. Jika konsentrasi larutan

yang diukur sudut putarnya besar, maka jumlah molekul dalam larutan pun akan
banyak. Sehingga menyebabkan cahaya terpolarisasi berinteraksi lebih banyak/lebih
sering dengan molekul dalam tabung. Hal ini menyebabkan cahaya terpolarisasi
terotasi/terputar lebih banyak juga. Dan akibatnya sudut putar semakin besar.
Dan langkah terakhir, yaitu menentukan kadar/konsentrasi sukrosa dalam
sampel yang dianalisis. Setelah pengukuran sudut putar dari larutan sampel, diketahui
bahwa sudut putar larutan sampel adalah 1,00. Data sudut putar tersebut
diinterpolarisasikan ke dalam kurva kalibrasi dan didapatkan kadar/konsentrasi sukrosa
dalam sampel adalah 1,65%. Penentuan konsentrasi sampel dengan persamaan garis
linier juga menunjukkan hasil yang tidak jauh berbeda, yaitu kadar/konsentrasi sukrosa
dalam sampel adalah 1,6866%.
Dalam praktikum ini juga didapatkan korelasi antara konsentrasi larutan
sukrosa dengan sudut putar yang dinyatakan dalam persamaan garis linier y = 1,382x
1,331 (R2 = 0,948), dimana y adalah sudut putar dan x adalah konsentrasi. Dapat
diamati pula bahwa nilai regresi , R2, yang didapat adalah 0,948. Hal ini menunjukkan
bahwa y yang merupakan variabel terikat tidak dipengaruhi langsung oleh x secara
100%. Artinya ada faktor pengganggu yang mempengaruhi nilai sudut putar sampel
sebesar 6%.
Pada praktikum ini juga didapatkan nilai sudut putar optis spesifik dari
konsentrasi 4%, 6%, 8%, dan 10% secara berurutan, yaitu 92,5o; 131,67o; 106,25o; dan
134o.

H.

KESIMPULAN
1.

Sudut putar optis yang didapatkan dari hasil praktikum

adalah
No
.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Larutan
Aquades
Sukrosa 2%
Sukrosa 4%
Sukrosa 6%
Sukrosa 8%
Sukrosa 10%
Sampel

Pembacaan sudut putar optik aktif (o)

Sudut Putar (o)

55,1
54,9
58,8
63,0
63,6
68,5
56,1

0,00
-0,02
3,70
7,90
8,50
13,40
1,00

2.

Konsentrasi sampel yang didapatkan melalui kurva

adalah 1,65%. Sedangkan berdasarkan persamaan garis linier adalah 1,6866%.


DAFTAR PUSTAKA

Chemicool. 2014. Definition of Optical rotation (polarimetry) http://www.chemicool.com


/definition/optical_rotation_polarimetry.html [16 Mei 2015].
Jejaring

Kimia.

2014.

Penggolongan

dan

Identifikasi

Karbohidrat

http://www.

jejaringkimia.web.id/2010/03/karbohidrat.html [17 Mei 2015].


Wikipedia.

2015.

Dextrorotation

and

levorotation

http://en.wikipedia.org/wiki/

Dextrorotation_and_levorotation [16 Mei 2015].


Wahyuni, Mega. 2014. Laporan Praktikum Fisika I https://luhputumegaw.wordpress.
com/2014/10/21/laporan-praktikum-kimia-fisik-i/ [17 Mei 2015].
Yurna, Rike. T.t.. Polarimetri. https://www.scribd.com/doc/31438296/POLARIMETRI [6
Mei 2015].