Anda di halaman 1dari 4

Uji Benedict merupakan uji umum untuk karbohidrat (gula) pereduksi (yang memiliki gugus

aldehid atau keton bebas). Uji Benedict berdasarkan reduksi Cu 2+ menjadi Cu+ oleh gugus
aldehid atau keton bebas dalam suasana alkalis, biasanya ditambahkan zat pengkompleks
seperti sitrat atau tatrat untuk mencegah terjadinya pengendapan CuCO 3. Uji Benedict
digunakan untuk mengidentifikasi karbohidrat melalui reaksi gula pereduksi. Larutan alkali
dari tembaga direduksi oleh gula yang mengandung gugus aldehida atau keton bebas, dengan
membentuk kupro oksida berwarna. Larutan Benedict mengandung kupri sulfat, natrium
karbonat, dan natrium sitrat. Uji Benedict dilakukan pada suasana basa yang menyebabkan
terjadinya transformasi isomerik. Pada suasana basa, reduksi ion Cu2+ dari CuSO4 oleh gula
pereduksi akan berlangsung dengan cepat dan membentuk Cu2O yang merupakan endapan
merah bata. Pereaksi Benedict terdiri dari logam Cu dan larutan basa kuat (Bintang, 2010 :
88)
Cara membuat pereaksi Benedict untuk uji kualitatif
Sebanyak 173 g natrium sitrat dan 100 g natrium karbonat dimasukkan ke dalam + 800 mL
aquades dengan alat pemanas. Larutkan 17,3 g CuSO4 kristal dalam 100 mL aquades dan
tambahkan secara perlahan ke dalam larutan sitrat-karbonat sambil diaduk. Tambahkan
aquades sampai tanda tera satu liter (Bintang, 2010 : 88)
Pembahasan
Uji Benedict merupakan uji yang dilakukan untuk mengidentifikasi karbohidrat melalui
reaksi gula pereduksi. Gula pereduksi adalah gula yang memiliki kemampuan untuk
mereduksi dikarenakan adanya gugus aldehid dan keton bebas.
Pada percobaan ini dilakukan Uji Benedict pada galaktosa dan fruktosa. Pada tabung (1) dan
tabung (2) diisi dengan reagen benedict. Reagen benedict mengandung kupri sulfat, natrium
karbonat, dan natrium sitrat.
Pada tabung (1) ditambahkan 3 tetes larutan galaktosa ke dalam tabung berisi larutan
benedict, kemudian di simpan dalam penangas air mendidih selama 3 menit. Setelah di
simpan dalam penangas air mendidih selama 3 menit, terjadi perubahan pada larutan
galaktosa yang ditambahkan reagen benedict menjadi endapan merah bata (+++). Uji
Benedict dilakukan pada suasana basa (yang disebabkan adanya natrium karbonat) yang
menyebabkan terjadinya transformasi isomerik. Pada suasa basa, galaktosa yang merupakan
gula aldoheksosa (gugus fungsi aldehid) akan mereduksi ion Cu 2+ dari CuSO4 dan membentuk
Cu2O yang merupakan endapan merah bata. Pada galaktosa warna endapan merah bata nya
lebih encer dari pada warna endapan merah bata pada fruktosa hal ini disebabkan karena
kandungan gula pereduksi pada galaktosa lebih sedikit daripada fruktosa.
Pada tabung (2) ditambahkan 3 tetes larutan fruktosa, kemudian disimpan dalam penangas air
mendidih selama 3 menit. Setelah di simpan dalam penangas air mendidih selama 3 menit,
terjadi perubahan pada larutan fruktosa yang ditambahkan reagen benedict menjadi endapan
merah bata (++++).Uji Benedict dilakukan pada suasana basa (yang disebabkan adanya
natrium karbonat) yang menyebabkan terjadinya transformasi isomerik. Pada suasa basa,
fruktosa yang merupakan gula ketoheksosa (gugus fungsi keton) akan mereduksi ion Cu2+
dari CuSO4 dan membentuk Cu2O yang merupakan endapan merah bata. Reaksi yang terjadi
pada uji benedict terhadap galaktosa dan fruktosa.

Dalam suasana alkalis, sakarida akan membentuk enedid yang mudah teroksidasi. Semua
monosakarida dan disakarida kecuali sukrosa dan trekalosa akan bereaksi positif bila
dilakukan uji Benedict. Larutan tembaga yang alkalis bila direduksi oleh karbohidrat yang
mempunyai gugus aldehid atau keton bebas akan membentuk Cupro Oksida (Cu 2O) yang
berwarna hijau, merah orange atau merah bata dan adanya endapan merah bata pada dasar
tabung reaksi.
Pada uji Benedict, pereaksi ini akan bereaksi dengan gugus aldehid, kecuali aldehid dalam
gugus aromatik, dan alpha hidroksi keton. Oleh karena itu, meskipun fruktosa bukanlah gula
pereduksi, namun karena memiliki gugus alpha hidroksi keton, maka fruktosa akan berubah
menjadi glukosa dan manosa dalam suasana basa dan memberikan hasil positif dengan
pereaksi benedict.

Uji Kelarutan
Senyawa golongan lipid mempunyai sifat kelarutan yang berbeda. Lipid larut dalam pelarut
organik non-polar dan polar yang dipanaskan. Sifat ini digunakan untuk mengekstraksi dan
mengisolasi lipid dari berbagai bahan biologis.
Uji kelarutan lemak/lipid dapat dilakukan dengan menambahkan sedikit contoh lemak ke
dalam beberapa mL pelarut lemak dan diselidiki kelarutannya. Derajat kelarutan dapat
ditentukan secara langsung dengan mengidentifikasi lemak tersebut setelah dikeringkan atau
larutan yang pelarutnya diuapkan di atas penangas air mendidih. Ada atau tidaknya sisa
memperlihatkan kelarutan lemak dalam pelarut tersebut.
Uji kelarutan lipid/lemak dilakukan untuk mengetahui kemampuan melarutnya lemak atau
minyak dalam berbagai macam pelarut. Pada percobaan ini dilakukan uji kelarutan
lemak/lipid terhadap berbagai macam pelarut yaitu air, alkohol dingin, alkohol panas, dan
kloroform. Pada tabung (1) ditambahkan 0,2 mL minyak ke dalam tabung yang berisi 2 mL
air, kemudian di kocok hati-hati. Air dan minyak tidak dapat bercampur (fase air berada di
bawah tabung dan fase minyak berada di bagian atas). Hal ini disebabkan karena berat jenis
minyak (0,845 0,905) lebih ringan daripada berat jenis air (1,000). Kemudian pada saat 2-3
tetes dari tabung tersebut di teteskan pada kertas saring tidak terdapat noda. Hal ini
menunjukkan bahwa air tidak dapat melarutkan minyak. Air merupakan senyawa polar
karena memiliki unsur H dan O yang perbedaan keelektronegatifan nya besar. Di mana H
bermuatan parsial positif dan O bermuatan parsial negatif. Senyawa polar (air) mempunyai
dua kutub yang berbeda sehingga sering disebut dipol. Sedangkan minyak merupakan
senyawa non polar karena terususun atas rantai hidrokarbon panjang dan minyak hanya dapat
membentuk dipol sesaat. Jadi, pada saat ujung pertama minyak bermuatan positif dan ujung
keduanya bermuatan negatif. Maka ujung pertama yang positif akan berinteraksi dengan
unsur O dari air yang parsial negatif. Dan juga sebaliknya, pada ujung kedua yang negatif
akan berinteraksi dengan unsur H dari air yang parsial positif sehingga interaksi antara
minyak dan air akan hancur dan tidak dapat bercampur (larut)
Pada tabung (2) ditambahkan 0,2 mL minyak ke dalam tabung yang berisi 2 mL alkohol
dingin, kemudian di kocok hati-hati. Alkohol dingin dan minyak hanya dapat sedikit
bercampur (minyak berbentuk gumpalan-gumpalan di dasar tabung). Hal ini menunjukkan
minyak dapat sedikit larut dalam alkohol. Alkohol bersifat semi polar, sehingga bagian non
polar dari alkohol dapat berikatan dengan minyak tetapi bagian polar dari alkohol tidak dapat
berikatan dengan minyak sehingga hanya sebagian minyak yang dapat larut pada alkohol.
Pada saat 2-3 tetes dari tabung tersebut di teteskan pada kertas saring tidak terdapat noda.
Pada tabung (3) ditambahkan 0,2 mL minyak ke dalam tabung yang berisi 2 mL alkohol
panas, kemudian di kocok hati-hati. Alkohol panas dan minyak tidak dapat bercampur
(minyak berbentuk gumpalan-gumpalan di dasar tabung. Hal ini menunjukkan minyak dapat
sedikit larut dalam alkohol panas. Alkohol bersifat semi polar, sehingga bagian non polar dari
alkohol dapat berikatan dengan minyak tetapi bagian polar dari alkohol tidak dapat berikatan
dengan minyak sehingga hanya sebagian minyak yang dapat larut pada alkohol. Pada saat 2-3
tetes dari tabung tersebut di teteskan pada kertas saring terdapat sedikit noda. Hal ini
disebabkan alkohol panas dapat meningkatkan kelarutan dari minyak tersebut karena
Pada tabung (4) ditambahkan 0,2 mL minyak ke dalam tabung yang berisi 2 mL kloroform,
kemudian di kocok hati-hati. Kloroform dan minyak dapat bercampur hal ini ditandai dengan

terbentuknya larutan bening tidak berwarna. Pada saat 2-3 tetes dari tabung tersebut di
teteskan pada kertas saring terdapat noda pada kertas saring. Minyak merupakan senyawa
non polar karena tersusun dari rantai hidrokarbon panjang. Dan kloroform juga merupakan
pelarut non polar. Sesuai dengan prinsip like dissolve like, kloroform dan minyak akan
membentuk dipol sesaat sehingga akan terjadi interaksi dipol sesaat-dipol terimbas yang
membuat minyak dapat dilarutkan dalam kloroform.