Anda di halaman 1dari 33

MAKALAH PLANKTONOLOGI

Meroplankton dari Filum


Coelenterata, Nematoda, Chaetognhata dan Annelida

DISUSUN OLEH:
KELOMPOK 1
KELAS B PERIKANAN
Arnesih

230110140078

Disa Nirmala

230110140088

Syifa Mauladani

230110140092

Intan Nadifah

230110140096

Wahyu Setiawan

230110140122

Gilang Ramadhan

230110140126

Annisa Putri Septiani

230110140132

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN


UNIVERSITAS PADJADJARAN
SUMEDANG
2015

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Allah S.W.T yang telah memberikan
nikmat dan rahmat-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ilmiah
mengenai Meroplankton dari Filum Coelenterata, Nematoda, Chaetognhata dan
Annelida. Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah planktonologi.
Selain untuk memenuhi tugas, makalah ini juga dibuat sebagai pengetahuan
tambahan bagi pembaca. Makalah ini membahas mengenai Coelenterata,
Nematoda, Chaetognhata dan Annelida baik klasifikasi, ciri-ciri, reproduksi serta
peranan protozoa dan rotifera.
Makalah ini memang masih jauh dari kata sempurna. Maka dari itu, saran dan
kritik yang yang membangun dari anda selaku pembaca akan sangat kami hargai,
demi memperbaiki makalah-makalah kami berikutnya. Kesempurnaan hanya
milik Allah S.W.T dan kesalahan datangnya dari manusia.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca.Khususnya untuk
teman-teman mahasiswa program studi perikanan.

Jatinangor, 07 Mei 2015

Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR..............................................................................................i
DAFTAR ISI...........................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang...............................................................................................1
1.2 Tujuan............................................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Filum Coelenterata.......................................................................................3
2.1.1 Ciri Ciri ................................................................................................3
2.1.2 Klasifikasi ...............................................................................................5
2.1.3 Reproduksi ............................................................................................10
2.1.4 Peranan ..................................................................................................12
2.2 Filum Nematoda ........................................................................................12
2.2.1 Ciri ciri ...............................................................................................13
2.2.2 Klasifikasi .............................................................................................15
2.2.3 Reproduksi ............................................................................................17
2.2.4 Peranan ..................................................................................................18
2.3 Filum Chaetognatha.....................................................................................18
2.3.1 Ciri ciri ...............................................................................................19
2.3.2 Klasifikasi .............................................................................................21
2.3.3 Reproduksi ............................................................................................22
2.3.4 Peranan ..................................................................................................23
2.4 Filum Annelida ...........................................................................................24
2.4.1 Ciri ciri ...............................................................................................24
2.4.2 Klasifikasi .............................................................................................25
2.4.3 Reproduksi ............................................................................................28
2.4.4 Peranan ..................................................................................................29
2

BAB III KESIMPULAN......................................................................................30


DAFTAR PUSTAKA............................................................................................31

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Plankton merupakan organisme yang menduduki kunci utama didalam
ekosistem bahari. Definisi plankton sudah banyak disampaikan oleh para ahli
diantaranya,

menurut

Baugis

(1976)

dimana

merupakan

organisme

permukaan yang terapung dan hanyut akibat pergerakan air. Istilah plankton
baru diperkenalkan pada tahun 1887, tetapi penelitian plankton sudah lama
dilakukan sejak tahun 1883 oleh J.V. Thomson. Pemisahan plankton tidak
selamanya mudah, menurut Levinton (1982) plankton dapat dibedakan dalam
tiga jenis yaitu, bacterioplankton, zooplankton, dan fitoplankton.
Zooplankton atau plankton hewani merupakan suatu organisme yang
berukuran kecil yang hidupnya terombang-ambing oleh arus di lautan bebas
yang hidupnya sebagai hewan. Zooplankton sebenarnya termasuk golongan
hewan perenang aktif, yang dapat mengadakan migrasi secara vertikal pada
beberapa lapisan perairan, tetapi kekuatan berenang mereka adalah sangat
kecil jika dibandingkan dengan kuatnya gerakan arus itu sendiri ( Hutabarat
dan Evans, 1986).
Zooplankton berdasarkan siklus hidupnya dapat dibedakan menjadi
dua golongan, yaitu sebagai meroplankton dan holoplankton. Holoplankton
adalah plankton yang seluruh daur hidupnya bersifat planktonik, sedangkan
meroplankton adalah plankton yang hanya sebagian dari daur hidupnya yang
bersifat planktonik dan terdiri dari berbagai larva hewan laut dan pada
stadium dewasa hidup sebagai benthos atau nekton (Nybakken, 1988).
Meroplankton sendiri terbagi ke dalam beberapa filum, diantaranya
coelenterata, nematoda, chaetognhata, annelida, molusca, enchinodermata,
chordata dan cirripedia. Umumnya meroplankton ini hidup sebagai plankton
hanya pada fase larva dalam siklus hidupnya. Pada makalah ini akan dibahas
lebih dalam mengenai coelenterata, nematoda, chaetognhata dan annelida.
1.2 Tujuan

Memahami dan mengkaji sistematika coelenterata, nematoda, chaetognhata

dan annelida secara umum.


Dapat mendeskripsikan ciri-ciri morfologi dan anatomi kelompok

coelenterata, nematoda, chaetognhata dan annelida.


Memahami metode reproduksi dan siklus hidup coelenterata, nematoda,

chaetognhata dan annelida .


Mengetahui peranan coelenterata, nematoda, chaetognhata dan annelida
dalam bidang perikanan maupun non perikanan.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Filum Coelenterata
Coelenterata sering disebut hewan berongga (Yunani, koilos yang berarti
lubang, dan enteron yang berarti usus) karena bentuknya yang simetri radial,
tidak memiliki rongga tubuh yang sebenarnya (acoelomata) dan hanya
memiliki sebuah rongga sentral yang disebut coelenteron (rongga
gastrovaskuler yaitu tempat terjadinya pencernaan dan peredaran sari-sari
makanan).
Coelenterata disebut juga Cnidaria . Disebut Cnidaria karena memiliki
Chetae atau sel penyengat dalam jaringannya. Terdiri dari kelas Hydrozoa,
Scypozoa dan Anthozoa. Namun hanya pada kelas Hydrozoa, dimana Hydra
juga termasuk dan terdiri dari specimen-specimen berupa ubur-ubur kecil dan
hidup sebagai plankton (Sachlan,1982).
2.1.1 Ciri ciri
Ciri khas cnidaria adalah knidosit, yang merupakan sel
terspesialisasi yang mereka pakai terutama untuk menangkap mangsa
dan membela diri. Tubuh mereka terdiri atas lapisan epidermis
(ektoderm), gastrodermis (endoderm) dan mesoglea yang terletak di
antara dua lapisan tersebut .

Lapisan pada epidermis terdiri dari lima macam sel yaitu:

Sel epitel otot berukuran besar dan merupakan pelindung tubuh.

Sel interstisial berukuran kecil, agak bulat, nucleus besar, terletak


diantara sel epitelotot, mampu menghasilkan tipe sel lain seperti

sperma, sel telur maupun cnidocyte.


Sel cnidocyte (knidoblast) mendesak sel epitel otot. Di dalam
cnidocyte terdapat struktur seperti kapsul bulat, atau lonjong. Pada
spesies air tawar berukuran 5-25m. Selain nematocyst, ada bentuk
lain yaitu spirocyst dan phycocyst. Spirocyst berada pada anthozoa.
Spirocyst berbentuk benang yang telah ditembakkan akan larut
menjadi jaring pekatyang lengket dan berguna untuk menempel dan

menangkap mangsa.
Sel kelenjar lender yang menghasilkan lender yang digunakan
sebagai pelindung untuk menangkap mangsa dan melekat pada

substrat.
Sel sensori memanjang dan terdapat diantara sel-sel epitelio
musculer. Pada ujung yang bebas sering ada lanjuran sebagai
rambut. Pada ujung lain berpangkal dua serabut atau lebih yang
berhubungan dengan sel saraf atau dengan serabut otot. (Setijanto,

2006).
Lapisan gastrodermis terdiri atas beberapa sel:
Sel epitheliomusculer di dalam dinding manubrium, di dalam
basisnya yang menempel pada mesoglea mengandung serabutserabut otot yang tersusun transfersal. Di dalam tentakel sel-sel
epithelium mempunyai membran yang tebal dan banyak vakuola di

dalam protoplasma, sehingga dapat digunakan sebagai skeleton.


Sel sensoris lebih sedikit.
Sel syaraf seperti di dalam epidermis.
Sel interstisial tidak banyak dan diduga berasal dari epidermis.
Sel kelenjar terdapat diantara sel-sel ephiteliomusculer di dalam
dinding corpus.
Sebagian besar cnidaria atau coelenterata memiliki dua bentuk
tubuh dasar yaitu medusa dan polip. Medusa dapat hidup bebas dengan
berenang dan polip hidup menetap dan tidak bisa bergerak. Fase polip
membentuk koloni berupa pohon, yang disebut dengan hydroid.

Namun tidak semua spesies memiliki kedua bentuk tersebut.


Contohnya genus Hydra yang hanya memiliki bentuk polip . Baik
bentuk polip maupun medusa , keduanya simetris radial dengan mulut
dikelilingi oleh tentakel yang dengan nematocyst yang terdapat pada
tepi dan umumnya berjumlah 4 buah.

Cnidaria memiliki rongga tubuh yang dinamakan gastrovaskular.


Gastrovaskular ini berperan dalam pencernaan. Makanan menempel
ditentakel dan dilumpuhkan oleh sel racun (knidosit) kemudian masuk
ke kerongkongan lalu dicerna di rongga gastrovaskular dan diserap
oleh lapisan endodermis.
2.1.2 Klasifikasi
Meroplankton dari Coelenterata atau cnidaria umunya terjadi pada
fase larva yang disebut planula. Filum ini terdiri atas 3 kelas yaitu
Hydrozoa, Scypozoa dan Anthozoa. Namun hanya pada kelas
Hydrozoa, dimana Hydra juga termasuk dan terdiri dari specimenspecimen berupa ubur-ubur kecil dan hidup sebagai plankton
(Sachlan,1982).
Kelas hydrozoa itu sendiri terbagi ke dalam 2 subkelas, yakni
Hydroidolina dan Trachylinae. Subkelas Hydroidolina terbagi ke
dalam 3 ordo, yaitu Anthoathecata Leptothecata Siphonophorae.

Subkelas Tchyaline terbagi ke dalam 4 ordo, yaitu actinulida,


limnomedusae, naromedusae dan trahcymedusae (Owen, 1843).
a) Anthoathecata
Ini juga telah disebut Gymnoblastea dan (dengan atau tanpa
akhir -ae dikoreksi) Anthoathecata, Athecata, Hydromedusa, dan
Stylasterina. Ada sekitar 1.200 spesies di seluruh dunia. Kelas ini
selalu memiliki bentuk polip dan hidup dengan soliter. Kelas ini
memiliki tentakel namun kurang statocysts tetapi memiliki kanal
radial. Gonad mereka berada di manubrium. Contohnya adalah
Bouganvillia multitentaculata.

Klasifikasi :
Kingdom
: Animalia
Phylum
: Cnidaria
Kelas
: Hudrozoa
Order
: Anthoathecata
Famili
: Bougainvillidae
Genus
: Bougainvillia
Spesies
: Bouganvillia multitentaculata
b) Leptothecata
Disebut juga Leptomedusa (Haeckel, 1879, Leptothecatae
(Cornelius, 1992), Thecaphora ( Hincks, 1868 ), Thecaphorae
(Hincks, 1868) , Thecata ( Fleming, 1828), Thecatae ( Fleming,
1828). Polip hidup secara berkoloni. Bentuk medusa menimbulkan
bioluminescense. Gonad yang terletak di kanal radial dan memiliki
banyak statokist. Contohnya adalah Obelia longissima.
Klasifikasi
Phylum
Kelas
Ordo

: Animalia
: Coelenterata
: Hydrozoa
: Leptocthecata
6

Famili
Genus
Spesies

: Campanulariidae
: Obelia
: Obelia longissima

c) Siphonoporae
Sebagian besar spesies dari ordo ini hidup secara berkoloni.
Tubuhnya tipis dan transparan. Beberapa siphonophore yang hidup
di perairan dangkal menyerupai ubur-ubur. Panjang tubuh 40-50 m
(130-160 ft). Seperti hidrozoa lainnya, siphonophore tertentu dapat
memancarkan cahaya. Sebuah siphonophore dari genus Erenna telah
ditemukan pada kedalaman sekitar 1.600 m (5.200 kaki) di lepas
pantai Monterey, California.

Sebagian spesies dari ordo ini

memiliki tentakel yang panjang dan terdapat sel penyengat pada


ujungnya. Contohnya adalah Physalia physalis.

Klasifikasi
Kingdom
Phylum
Kelas
Ordo
Genus
Spesies

: Animalia
: Coelenterata
: Hydrozoa
: Siphonoporae
: Physalia
: Physalia physalis

d) Actinulida
Belum ada penjelasan spesipik mengenai ordo ini. Namun
berdasar kepada Journal of the Marine Biological Association of the
United Kingdom yang dipublikasikan pada 11 Mei 2009, ordo
actinulida hidup bebas (berenang) dan soliter. Contohnya adalah
Otohydra vagans (Swedmark and Teissier,1958).
Klasifikasi
Kingdom
Phylum
Kelas
Ordo
Subordo

: Animalia
: Coelenterata
: Hydrozoa
: Trachylina
: Actinulida

Famili
Genus

: Otohidridae
: Otohydra vagans

e) Limnomedusa
Spesies dari ordo ini memiliki bel transparan dilapisi dengan
hingga 90 tentakel dan gonad berwarna oranye, merah, atau ungu.
Gonad yang disusun tergantung diempat kanal radial sehingga bila
dilihat dari atas, gonad dilapisi tegak lurus. Manubrium, berwarna
cokelat, menggantung di tengah. Spesies dari ordo ini hanya sekitar
berdiameter sekitar 2,5 cm (0,98 inci) . Mereka sering ditemukan
menempel rumput laut . Memiliki bentuk polip relatif kecil, hanya
sekitar 0,5 mm. Contohnya Gonoinemus vertens
Klasifikasi
Kingdom
Phylum
Kelas
Ordo
Famili
Genus
Spesies

: Animalia
: Coelenterata
: Hydrozoa
: Limnomedusae
: Olindiidae
: Gonoinemus
: Gonoinemus vertens

f) Narcomedusae
Bentuk tubuh dari ordo ini seperti payung dengan massa pusat
kaku dan tipis bergigi tepi, tentakel padat dan berat. Anggota ordo
ini biasanya tidak memiliki tahap polip. Medusa memiliki lonceng
berbentuk kubah dengan sisi tipis. Tidak ada lampu di tentakel dan
tidak ada kanal radial. Sebagian besar narcomedusae penghuni laut
terbuka dan perairan dalam. Mereka dapat ditemukan di Mediterania
dalam jumlah besar. Contohnya Aegina citrea.

Klasifikasi
Kingdom
Phylum
Kelas
Ordo
Famili

: Animalia
: Coelenterata
: Hydrozoa
: Narcomedusae
: Aeginidae
8

Genus
Spesies

: Aegina
: Aegina citrea

g) Trahcymedusae
Anggota dari ordo ini sebagian besar hanya memiliki bentuk
medusa. Terutama yang tinggal di lautan terbuka dalam, memiliki
medusa kecil tebal dengan cukup nematocysts. Mereka memiliki
empat, enam, delapan, atau lebih kanal radial, dan yang palig umum
adalah delapan. Gonad menempel di kanal radial dan memiliki
statokist

(alat

keseimbangan).

Contohnya

adalah

tetraphilla.
Klasifikasi
Kingdom
Phylum
Kelas
Ordo
Famili
Genus
Spesies

: Animalia
: Coelenterata
: Hydrozoa
: Narcomedusae
: Aeginidae
: Aegina
: Aegina citrea

2.1.3 Reproduksi

Tahapan reproduksi coelenterata adalah sebagai berikut :

Liorope

1. Terdpat dua jenis polip. Yang pertama polip dengan tentakel yang
berfungsi untuk hal nutrisi (makanan) dan yang kedua polip tanpa
yentakel yang berfungsi sebagai reproduksi aseksual.
2. Polip tanpa tentakel yang melakukan reproduksi secara aseksual itu
menghasilkan tunas medusa.
3. Tunas medusa kemudian lepas dari polip dan tumbuh menjadi
medusa dewasa.
4. Medusa dewasa betina menghasilkan sel telur (ovum) dan medusa
dewasa jantan menghasilkan sel sperma (opermatozoid).
5. Ovum dan sperma yang dilepaskan di air bertemu dan terjadilah
fertilisasi
6. Fertilisasi yang terjadi di air akan menghasilkan Zigot
7. Zigot berkembang menjadi Larva Planula

Meroplankton

8. Larva Planula kemudian menempel di dasar laut dan tumbuh


menjadi koloni muda dan kemudian tumbuh menjadi koloni dewasa
(polip).
Bila ditampilkan dalam bagan adalah sebagai berikut.

Meroplankton
10

2.1.4 Peranan
a) Positif
Hidrozoa adalah bagian penting dari rantai makanan di laut, dan
secara langsung maupun tidak langsung menjadi penambah sumber
makanan yang dibutuhkan.oleh pesies dalam dua famili yang
memiliki

koloni

dengan

kerangka

berkapur

(Milleporidae,

Stylasteridae)
b) Negatif
Sengatan dari beberapa hidrozoa yang berbahaya bagi manusia.
Hidrozoa yang secara alamiah melekat pada substrat keras, dan
sebagainya tumbuh di lambung kapal dan pipa air terendam akan
mengganggu fungsi tempat melekatnya tersebut. (Brusca dan
Brusca, 2003; Dunn, 2009; Mills, 2009).
2.2 Filum Nematoda
Filum nematoda termasuk meroplankton. Plankton dari golongan ini
menjalani kehidupannya sebagai plankton hanya pada tahap awal dari daur
hidupnya, yakni pada tahap sebagai telur dan larva saja. Nematoda adalah
hewan sederhana. Tubuh yang menyerupai tabung dalam tabung dengan
kepala, mulut, ekor, dan anus. Tabung luar terdiri dari kutikula, hipodermis,
dan otot, dan tabung dalam berisi faring dan usus.
Nematoda memiliki beberapa ratus sel saraf dan sistem reproduksi
produktif. Nematoda berukuran kecil, biasanya mikroskopik, cacing gelang
tidak tersegmen dengan tubuh silinder yang sempit. Nematoda sangat banyak
di tanah, air, dan di dalam hewan dan tumbuhan di seluruh dunia. Sekitar
10.000 spesies yang dikenal. Spesies dari filum ini sering terdapat diantara
periphyton air tawar. Specimen specimen nematoda yang mikoskopis kecil
diberi nama anguillula.

2.2.1 Ciri ciri

11

Nematoda ini ada yang hidup bebas, diair dan darat atau parasit
pada tumbuhan dan hewan. Tubuh simetri bilateral. Filum ini memiliki
sistem pencernaan yang lengkap, dengan faring berotot berkembang
dengan baik. Nematoda memiliki sebuah tabung ekskretoris untuk
menghilangkan limbah tubuh dari rongga tubuh melalui pori
ekskretoris.
Spesies dari filum nematoda merupakan spesies dioecious.
Artinya memiliki jenis kelamin yang terpisah yaitu, jantan dan betina
berbeda. Biasanya jantan lebih panjang dari betina. Fertilisasi terjadi
internal dalam tubuh betina.
Nematoda memiliki penampang. Nematoda memiliki kutikula
yang elastis dan fleksibel. Kutikula ini terdiri dari hingga 9 lapisan
serat protein, dengan 3 lapisan yang mudah dilihat, ini disebut, dari
luar ke dalam, korteks, lapisan matriks dan lapisan serat. Kutikula
merupakan lapisan permeabel terhadap air dan gas, sehingga respirasi
terjadi melalui lapisan tersebut.
Di bawah kutikula adalah hipodermis dan lapisan otot
memanjang. Kombinasi dari lentur dari otot-otot ini dengan tekanan
tinggi dari sistem menghasilkan cambuk seperti meronta karakteristik
yang digunakan untuk berenang. Secara ilmiah ini disebut propulsi
bergelombang dengan gelombang sinusoidal melewati kembali
sepanjang tubuh.
Pada anterior (kepala) akhir terdapat mulut yang memiliki 3 bibir
belakang yang spesies predator memiliki beberapa gigi, ini mengarah
pada faring yang segitiga di bagian lintas. Karena tekanan tinggi dalam
tubuh organ yang tidak didukung seperti usus cenderung runtuh dalam
banyak cara yang sama bahwa tabung sepeda uninflated cenderung
menjadi oval atau flat di penampang ketika diletakkan datar di atas
meja. Faring dari Nematoda merupakan pompa yang efisien dan
pasukan makanan ke dalam usus, ada satu cara katup antara usus dan
faring. Faring dapat, ketika katup ini tertutup, digunakan untuk
menyedot makanan cair ke dalam mulut. Pencernaan adalah cepat dan

12

kotoran yang dikeluarkan di bawah tekanan. Tekanan ini begitu besar


bahwa nematoda parasit Ascaris lumbricoides yang sekitar 12cm ke
18cm panjang (5 sampai 7 inci) dapat menembak tinja yang 60cm atau
2 kaki ke udara.
Nematoda yang hidup bebas umumnya memiliki sistem saraf
cukup baik . Nematoda tidak memiliki organ peredaran darah atau
pernapasan dan ekskresi sisa metabolisme adalah melalui dua saluran
sederhana atau tubulus yang tidak memiliki nephridia atau api sel.

Nematoda hidup di

Nematoda
air dangka terutamal untuk spesies yang

hidup bebas. Nematoda kadang-kadang ditemukan dalam sampel


plankton dan mungkin spesies yang hidup bebas yang telah dilakukan
naik dari dasar laut oleh pencampuran turbulen. Namun, mereka dapat
muncul karena mereka telah lepas dari organisme zooplankton, banyak
yang merupakan host menengah untuk nematoda parasit.
Ketika membesarkan larva ikan di plankton liar Rosenthal (1967)
menemukan bahwa sekitar 10% dari larva aktif mati akibat infeksi
parasit, termasuk nematoda (Contracaecum sp.) Infeksi

parasit

diambil oleh larva dalam makanan mereka. Contohnya copepoda,


amphipods, cumi, chaetognaths, ikan dan lain sebagainya
2.2.2 Klasifikasi
a) Chromadorea
Anggota kelas ini biasanya memiliki annules, amphids yang
rumit dan spiral, dan memiliki tiga kelenjar esofagus. Mereka
biasanya hidup di sedimen laut, meskipun mereka bisa hidup di

13

tempat lain. Mereka memiliki pharynxs lebih baik daripada


kebanyakan cacing gelang. Contohnya adalah Chaenorhabditis
elegans.

Klasifikasi
Kingdom
Phylum
Kelas
Ordo
Famili
Genus
Spesies

: Animalia
: Nematoda
: Chromadocera
: Rhabditida
: Rhabtiditidae
: Chaenorhabditis
: Chaenorhabditis elegans

b) Enoplea
Kerongkongan berbentuk silinder. Permukaan tubuh halus atau
ditandai dengan garis-garis halus. Sistem ekskretoris enoplean
sederhana, kadang-kadang terdiri dari sel tunggal. Contohnya adalah
Mermis Nigrescens
Klasifikasi
Kingdom
: Animalia
Phylum
: Nematoda
Kelas
: Enoplea
Ordo
: Mermithida
Famili
: Mermithidae
Genus
: Mermis
Spesies
: Mermis nigrescens
c) Secernentea
Memiliki banyak papila ekor dan sistem ekskretoris memiliki
kanal lateral. Seperti semua nematoda, mereka tidak memiliki sistem
peredaran darah atau pernapasan. Secernentea berisi beberapa
spesies parasit. Contohnya genus anisakis yang hidup parasit pada

14

ikan dan mamalia laut serta manusia. Genus ini menyebabkan


anisakiasis.

Klasifikasi
Kingdom
Phylum
Kelas
Ordo
Famili
Genus
Spesies

: Animalia
: Nematoda
: Secernentea
: Ascaridida
: Anisakidae
: Anisiakis
: Anisiakis simplex

2.2.3 Reproduksi

Fase plankton

Anggota nematoda merupakan dioecious dan pemupukan adalah


dengan kopulasi. Betina mungkin memiliki satu atau dua ovarium dan
tergantung pada jumlah dan pengaturan, pori reproduksi mungkin
pertengahan jalan di sepanjang tubuh, atau lebih dekat ke anus. Jantan
biasanya memiliki dua testis dan pembuahan terjadi ketika jantan

15

menggunakan duri sanggama khusus yang terletak pada pembukaan


kantung ke pori reproduksi, membuka saluran reproduksi betina dan
menyuntikkan sperma ke mereka.
Berawal dari manusia maupun hewan yang memakan siput
ataupun spesies lain yang memangsa nematoda. Nematoda akan keluar
bersama feses . Nematoda akan bertelur dan telur menetas menjadi
larva yang disebut mirasidia. Mirasidia ini hidup bebas sebagai
plankton dan akan melakukan penetrasi ke dalat dan dimangsa oleh
hewan lain yang dimakan oleh manusia maupun hewan yang
tingkatnya lebih tinggi. Dan begitulah seterusnya.

2.2.4 Peranan
Fungsi dari Nematoda pemakan bakteri dan fungi adalah
melepaskan unsur N, P, S, dan mikronutrien yang akan berharga bagi
tanaman. Nematoda ini juga akan menhambat kemampuan nematoda
pemakan akar dalam menemukan akar. Jika jenis ini melimpah maka
siklus nutrien akan lebih banyak.
Tanah yang baik mengandung 5 sampai 500 nematoda per sendok
teh. Nematoda di tanah memiliki kisaran ukuran dari 0,25 sampai 5,5
mm. Seekor nematoda pemakan bakteri mengkonsumsi kira-kira 100
bakteri perhari, dan nematoda pemakan fungi akan memakan 80 kaki
panjang hifa per hari. Nematoda membutuhkan nitrogen dan nutrien
lainnya

lebih

sedikit

daripada

bakteri

dan

fungi,

sehingga

kelebihannya dikeluarkan dan menjadikan nutrien ini berguna bagi


tumbuhan. Kompos yang diolah dengan baik akan mengandung
nematoda yang menguntungkan.
Nematoda ini lebih banyak berperan sebagai parasit yang
merugikan. Contohnya genus anisakis yang menyebabkan anisakiasis.
Selain itu juga menjadi parasit pada spesies yang menjadi makanan
ikan. Sehingga jika ikan memakan spesies yang terinfeksi nematoda
tersebut, ikan juga akan terinfeksi.

16

2.3 Chaetognhata
Chaetognatha (umumnya dikenal sebagai "cacing panah ") merupakan
predator, bentuknya seperti panah, berwarna transparan, memiliki sepasang
sirip. Chaetognatha adalah predator laut yang biasanya mencari mangsanya
dengan mendeteksi getaran yang dihasilkan oleh copepoda dan zooplankton
lainnya, kemudian menggunakan kait dan gigi yang tajam di depan tubuh
untuk mengambil korban mereka dan melumpuhkan mereka dengan
neurotoksin. Chaetognatha yang sebagian besar adalah jelas transparan,
adalah predator penting dalam banyak jaring makanan laut. Sekitar 120-125
spesies chaetognaths diketahui. Kebanyakan planktonik, tetapi sejumlah kecil
spesies bentik atau tinggal di atas dasar laut. Meskipun keanekaragaman jenis
rendah, chaetognatha bisa sangat melimpah, kadang-kadang mendominasi
biomassa di tengah laut tempat pengambilan sampel plankton.
Chaetognatha banyak menjlani harian vertikal, naik ke permukaan air di
malam hari dan tenggelam kebawah pada siang hari, mungkin untuk
menghindari predator. Gerakan-gerakan fertikal yang difasilitasi oleh amonia
yang dipenuhi sel vacuolated di bagasi yang mengatur daya tampung (Brusca
dan Brusca 2003; Margulis dan Chepman 2010; Jennings et al 2010).
Setidaknya satu spesies Chaetogntha (yang Caecosagitta kosmopolitan
Macrocephala, yang umumnya ditemukan dibawah 700 meter) adalah
bercahaya (haddock dan kasus 1994).
Seringkali, mereka dapat menjadi kelompok paling dominan kedua dari
zooplankton. Mereka telah ditemukan untuk menjadi jenis yang paling
berlimpah hadir hewan di beberapa lingkungan laut dalam. Mereka adalah
predator pada copeoda dan crustacea kecil lainnya, ikan dan larva
Chaetognatha lainnya. Mereka adalah makanan untuk ikan, cumi-cumi dan
beberapa burung laut.

17

Sagitta sp
2.3.1 Ciri ciri
Chaetognatha memiliki tubuh yang transparan atau tembus
pandang. Bentuk tubuh seperti anak panah dan ditutupi oleh kutikula .
Tubuh dibagi menjadi kepala yang berbeda, batang, dan ekor. Sistem
saraf cukup sederhana, terdiri dari ganglionated cincin saraf yang
mengelilingi faring.
Ketika chaetognatha berenang mereka menutupi duri mereka,
membuat mereka lebih efisien dan memungkinkan untuk gerakan lebih
cepat. Chaetognatha berenang dengan melakukan menekuk kepala
daerah kembali ke ekor dalam gerakan menjentikkan yang
menyebabkan cacing ramping meluncur ke depan. Sirip juga penting
dalam gerak organisme. Sirip belakang digunakan untuk mengatasi
tenggelam dan memfasilitasi stabililitas dari gerakan berenang. Sirip
ekor dapat membantu untuk organisme bergerak cepat melalui air.
Chaetognatha tidak memiliki sistem peredaran darah atau organ
pertukaran gas. Tidak memiliki sistem ekskresi. Reproduksi biasanya
seksual dan hermafrodit. Sebagian besar hidup di lingkungan laut.

18

Gambar bagian-bagian Chaetognatha


2.3.2 Klasifikasi
Hanya ada satu kelas pada filum chaetognatha, yaitu sagittoidea.
Kelas ini memiliki tubuh yang transaparan dan berbentuk seperti anak
panah. Contohnya adalah Eukrohnidae Hamata.

Filum
Class
Ordo
Famili
Genus
Spesies

: Chaetognatha
: Sagittoidea
: Biphragmophora
: Eukrohniidae
: Eukrohnidae
: Eukrohnidae Hamata

19

Ciri-ciri

1. Tubuh mata semi- flacid & tembus , tanpa pigmentasi & dekat
bersama-sama.
2. sepasang sirip sangat memanjang mencakup batang dan ekor , dengan
sinar lengkap
3. Kepala sempit, ekor 19-24 % dari panjang.
4. Setiap sisi kepala dengan 8-10 kait ( bergerigi di remaja ) , tidak ada
anterior dan posterior 23-25 gigi.
5. Collarette menjadi dikembangkan di jatuh tempo hewan , seperti
halnya marsupium di wilayah ekor.
6. Vesikel Semininal kerucut , dipisahkan dari kedua posterior dan sirip
ekor.
7. Ovarium panjang menengah , dengan telur besar.
2.3.3 Reproduksi
Chaetognatha adalah hermafrodit dan memiliki sepasang ovarium
di bagian posterior, dan satu pasang testis di bagian ekor. Ovarium
matang setelah coeloms ekor dibuahi dengan sperma. Kemudian
menjalani spermatogenesis dalam coelom ekor. Sebuah saluran sperma
mengarah dari masing-masing testis posterior ke vesikula seminalis,
sedangkan anterior saluran sperma membuka ke ekor coelom
sepanjang garis midlateral dengan cara corong berbentuk pembukaan
bersilia, corong genital (coelomostome). Filiform sperma beredar di
bagian ekor coeloms dan menyapu ke dalam saluran sperma dengan
corong silia genital. Sperma menumpuk di vesikula seminalis, yang
mengisi setiap 12 jam.
Terbentuknya spermatophore dalam wadah mani dan ditandai
oleh pecahnya dinding tubuh.. Cluster sperma dilepaskan dari
spermatophore dan keuntungan masuk ke wadah mani di mana
pembuahan terjadi. Self-pembuahan ternyata norma di Sagitta.
Setiap saluran telur terdiri dari tabung dalam tabung. Tabung luar
terbentuk dari cuboidal - epitel silindris, sedangkan salurannya
memiliki dinding syncytial. Saluran dalam memperluas posterior ke
dalam. Saluran telur membentuk tangkai yang melekat pada masingmasing matang telur. Batang ini berongga untuk memungkinkan akses

20

sperma menuju sel telur. Telur yang telah mengalami fertilisasi, lebar
masing-masing sekitar 0,2 mm , dibuang secara tunggal ke laut. Telur
mengapung di dekat permukaan.
Pembuahan silang terjadi di Spadella cephaloptera, di mana
spermatophore ditempatkan dekat gonopore perempuan hewan lain.
Pasangan ini tetap bersama-sama, antiparallel satu sama lain. Mereka
sering membawa loop silia mereka ke kontak saat sperma masuk ke
wadah mani. Timbal-balik pertukaran sperma mungkin terjadi.
Spadella meletakkan cluster dari sekitar 12-16 telur setiap 8-10 hari.
Kelenjar semen mengelilingi vagina dan telur cluster yang melekat
pada rumput laut, dll
Dalam Krohnitta, telur terjebak bersama dalam paket agar-agar,
melekat kembali cacing dekat septum batang ekor. Pterosagitta draca
menghasilkan mengambang massa agar-agar yang mengandung 200300 embrio. Angka dan timing dari pembiakan tergantung pada spesies
dan lokasi geografis.

plankt

2.3.4 Peranan

21

Chaetognatha adalah karnivora yang rakus dan memainkan peran


penting dalam jaring makanan laut sebagai penghubung antara trofik
plankton kecil dan predator yang lebih besar. Chaetognatha ini
merupakan

makanan

bagi

ikan

yang

memakan

zooplankton

(Sachlan,1982). Selain itu juga dapat dijadikan indikator hidrologi dari


arus air laut. Chaetognatha dapat menyerap tetrodoxine dari bakteri
yang digunakan untuk melosloskan diri dari predatornya.
2.4 Filum Annelida
Annelida ini cukup banyak terdapat sebagai meroplankton di laut. Di
perairan air tawar jenis Annelida ini hanya terdapat lintah (ordo Hirudinae)
dan dapat menjadi parasit pada ikan-ikan yang dipelihara di kolam. Banyak
meroplankton dari Annelida ini terdapat di pantai-pantai yang subur, seperti
halnya meroplankton dari Crustacea. Larva- larva Annelida bernama
trochophore larva, jika baru keluar dari telur, berbentuk bulat atau oval,
besilia dan mempunyai tractus digesvitus agar di lautan bebas dapat
memakan nanoplankton dan detritus yang halus ( Sachlan, 1982).
Trochophore adalah jenis larva laut planktonik yang berenang bebas
dengan beberapa lingkaran silia.

Dengan pergerakan silia yang cepat,

pusaran arus air terbentuk. Dengan cara ini mereka dapat mengendalikan arah
gerakan mereka. Selain itu, dengan cara in imereka juga dapat membawa
makanan mereka lebih dekat, dengan mempermudah penjaringan makanan.
Pada umumnya, larva ini bersifat planktotrophic, yaitu pemakan plankton.

22

2.4.1

Ciri ciri
Ciri-ciri umum Annelida:
Simetri bilateral dan berbentuk bulat.
Badan memiliki lebih dari dua lapisan sel, jaringan dan organ.
Rongga tubuh adalah selom sejati, sering dibagi oleh septa internal.
Badan memiliki usus dengan mulut dan anus.
Badan memiliki 3 bagian yang terpisah, sebuah prosomium, batang

dan pygidium.
Memiliki system saraf dengan cincin saraf anterior, ganglia dan

akord saraf ventral.


Memiliki system peredaran darah tertutup sejati.
Tidak memiliki organ pernapasan sejati.
Reproduksi biasanya seksual dan gonochoristic atau hermaphoditic.
Makanan berbagai bahan.
Hidup di berbagai lingkungan basah.

2.4.2

Klasifikasi
Plankton dari filum annelida berasal dari satu kelas , yaitu
polychaeta . Kelas ini memiliki ciri ciri :
Kepala menonjol
Hidup laut
Kepala biasanya mencakup 2-4 sepasang mata, meskipun beberapa

spesies buta.
Kepala juga memuat sepasang antena, dan sepasang lubang dilapisi

dengan silia, yang dikenal sebagai "organ nuchal".


Permukaan luar dinding tubuh terdiri dari epitel kolumnar sederhana

ditutupi oleh kutikula tipis.


Mulut terletak di peristomium, segmen belakang prostomium, dan

bervariasi dalam bentuk tergantung makanan mereka.


Secara umum mereka memiliki sepasang rahang dan faring yang
memungkinkan cacing untuk mengambil makanan dan menariknya
ke dalam mulut mereka. Pada beberapa spesies, faring dimodifikasi

menjadi belalai panjang.


Saluran pencernaan adalah tabung sederhana.

23

Sistem saraf terdiri dari tali saraf ventral tunggal atau ganda berjalan
panjang tubuh, dengan ganglia dan serangkaian saraf kecil di setiap
segmen.

1. Tomopteridae
Betina 50-100 mm. Jantan sampai 60 mm. Sekitar 60 spesies.
Transparan, sepasang palps meruncing. Prostomium dengan satu
pasang mata. Pada segmen pertama terdapat sepasang sungut sangat
panjang. Menghasilkan bioluminense berwarna kuning.

Klasifikasi
Filum : Annelida
Class : Polychaeta
Ordo : Aciculata
Famili : Tomopteridae
Genus : Tomopteris
Spesies : Tomopteris cavalli
2. Magelonidae
Larva dapat mencapai 4 mm. Tubuh panjang dan ramping.
Bagian perut yang menonjol rata prostomium spatulate. Dua palps
ventro lateral panjang. Chaetae larva panjang. Tentakel larva
asimetris. Tidak ada mata.

24

Klasifikasi
Filum : Annelida
Class : Polychaeta
Ordo : Canalipalpata
Famili : Magelonidae
Genus : Magelona
Spesies : Magelona sp
3. Spionidae
Dikenal sebagai 'cacing palp'. Dua palps beralur
menonjol untuk mencari mangsa. Palps umumnya
berlekuk, bersilia dan dimiliki struktur sensorik. Organ
nuchal membentuk proyeksi posterior.

4. Trochophora
25

Silia band bernama prototroch tersebut. Silia


terdapat di skeliling dan disebut metatron (perbatasan
posterior mulut wilayah). Wilayah bersilia antara dua
pita disebut alur makanan.

2.4.3

Reproduksi
Diperkirakan bahwa Annelida juga termasuk hewan dengan dua
jenis kelamin yang terpisah, yang melepaskan ovum dan sperma ke
dalam air melalui nephridia mereka. Telur yang sudah dibuahi
berkembang menjadi larva trochophore, yang hidup sebagai plankton.
Kemudian mereka tenggelam ke dasar laut dan bermetamorfosis
menjadi miniatur orang dewasa.
Bagian dari trochophore antara seberkas apical dan prototroch
menjadi prostomium (kepala), daerah kecil putaran anus trochophore
ini menjadi pygidium (lembaran ekor), lingkaran sempit di depannya
menjadi zona pertumbuhan yang menghasilkan segmen baru dan
sisanya dari trochophore tersebut menjadi peristomium (segmen yang
berisimulut).

26

2.4.4

Peranan
Annelida mempunyai peranan positif dan negatif. Positifnya ialah
cacing palolo yang sangat menguntungkan karena dapat dijadikan
pakan ikan. Negatifnya ialah genus nereis yang bisa meracuni ikan

BAB III
KESIMPULAN
Ada beberapa kesimpulan yang dapat diambil dari uraian di atas, yaitu :
Filum coelenterata terdiri atas 3 kelas , yaitu hydrozoa, schypozoa dan anthozoa.
Diantara ke 3 kelas tersebut hanya keas hydrozoa yang mengalami fase sebagai
plankton dalam hidupnya.
Filum nematoda terdiri dari kelas chromadorea, enoplea serta secernentea dan
semuanya mengalami fase plankton dalam hidupnya.
Hanya ada satu kelas pada filum chaetognatha yaitu sagittoidea dan semua spesies
dari kelas ini mengalami fase plankton dalam hidupnya.
Meroplankton dari filum annelida berasal dari kelas polychaeta.
27

Ke 4 filum tersebut menjadi plakton pada fase larva dalam siklus hidupnya.
Sebagian besar larva dari ke 4 filum tersebut dapat dimanfaatkan sebagai pakan
ikan. Namun pada genus tertentu seperti genus anisiakis yang hidup sebagai
parasit akan merugikan ikan. Bahkan sampai menyebabkan kematian.

Daftar Pustaka

http://budisma.net/2014/12/ciri-ciri-nematoda-aschelminthes.html (diakses
pada tanggal 7 mei 2015 pada pukul 15.12)
http://en.wikipedia.org/wiki/Hydrozoa#cite_note-IZ-2 (diakses pada 9 Mei
2015 pukul 19.34)
http://eol.org/pages/1740/overview (diakses pada tanggal 7 Mei 2015 pada
pukul 14:20)
http://web.vims.edu/bio/zooplankton/BATS/Chaetognatha/index.html
(diakses pada 10 Mei pukul 13.20)

28

http://www.britannica.com/EBchecked/topic/606207/trochophore (diakses
pada 8 Mei pukul 15.45)
http://www.docstoc.com/docs/134347394/FILUM-CHAETOGNATHA
(diakses pada tanggal 7Mei 2015 pada pukul 14:32)
http://www.earthlife.net/inverts/nematoda.html (diakses pada tanggal 7 Mei
2015 pada pukul 14.40)
http://www.imas.utas.edu.au/zooplankton/image-key/annelida/trochophora
(diakses pada 10 Mei 2015 pukul 17.32)
http://www.mapress.com/zootaxa/2007f/zt01668p182.pdf (diakses pada 9
Mei 2015 pada 9 Mei 2015 pukul 20.47)
http://www.marinespecies.org/hydrozoa/aphia.php?
p=sourcedetails&id=42449 (diakses pada 9 Mei 2015 pukul 20.32)
http://www.sridianti.com/ciri-ciri-filum-nematoda.html (diakses pada tanggal
7 Mei 2015 pada pukul 14.58)
http://www.ucmp.berkeley.edu/phyla/ecdysozoa/nematoda.html (diakses pada
tanggal 7 Mei 2015 pda pukul 15.22)
Sachlan M. 1982. PLANKTONOLOGI. FAKULTAS PETERNAKAN DAN
PERIKANAN UNIVERSITAS DIPONEGORO. Semarang

29