Anda di halaman 1dari 8

PENANGANAN PASCA PANEN CABAI

Oleh: Masnun, S.Pt., M.Si.


I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Cabai segar mempunyai daya simpan yang sangat singkat. Oleh karena itu,
diperlukan penanganan pasca panen mulai dari pemanenan sampai pengangkutan
harus dilakukan secara hati-hati, Jika tidak maka penanganan akan membuat
cabai mudah rusak dan menyebabkan penyusutan terhadap bobot cabai. Jumlah
kerusakan yang terjadi mulai dari lapangan sampai ke tingkat pengecer sebesar 23
% (Suyanti, 2007).
Kerusakan yang terjadi pada cabai dapat terjadi secara mekanis dan fisik.
Kerusakan mekanis umumnya terjadi selama pengemasan dan pengangkutan dan
kerusakan fisik dapat disebabkan oleh lingkungan tempat penyimpanan cabai
terlalu lembab (90%) atau suhu tropis yang tinggi. Kerusakan fisik ini ditandai
dengan membusuknya cabai segar yang disimpan. Kelembaban lingkungan tidak
boleh kurang dari 80% karena bisa menyebabkan cabai kering sehingga cabai
tampak keriput dan terlihat tidak segar lagi.
Akibat dari kerusakan mekanis dan fisik ini tentunya sangat merugikan.
Oleh karena itu, agar cabai dapat dipertahankan kualitasnya sampai ketangan
pembeli, diperlukan penanganan yang baik dari mulai panen sampai pasca panen.
B. Tujuan
Tujuan dilakukan penanganan pasca panen adalah untuk memperpanjang
masa

simpan dan mempertahankan

kualitas

serta

memudahkan dalam

pengangkutan dan pemasaran.

II. PENANGANAN PASCA PANEN

Agar buah cabai tetap segar pada saat dijual, sebaiknya buah cabai yang
telah masak sempurna (100% merah) harus segera dipasarkan. Tetapi pemasaran
dapat ditunda atau buah yang akan dipasarkan jaraknya jauh, buah cabai dipanen
pada saat buah matang hijau (merahnya belum merata). Buah yang akan diolah,
dipanen setelah matang penuh.
Penanganan pasca panen cabai dapat dilakukan berdasarkan prinsip GHP
(Good Handling Practices). GHP adalah cara penanganan pasca panen yang baik
yang berkaitan dengan penerapan teknologi serta cara pemenfaatan sarana dan
prasarana yang digunakan. GHP meliputi pelaksanaan kegiatan penanganan
pascapanen produk pertanian secara baik dan benar, sehingga mutu produk dapat
dipertahankan,

menekan

kehilangan

karena

penyusutan,

kerusakan

dan

memperpanjang masa simpan dengan tetap menjaga status produk yang tangani.
Sebelum didistribusikan, cabai yang telah dipanen harus melalui rangkaian
proses pasca panen yang meliputi kegiatan sortasi, curing,

pengemasan dan

penyimpanan.
A. Sortasi
Sortasi dilakukan untuk memisahkan antara cabai yang rusak (busuk, patah,
memar) dengan cabai yang baik. Sirtasi bertujuan untuk memperoleh hasil yang
berkualitas baik dengan tingkat kematangan yang seragam.
B. Curing
Curing dilakukan untuk memaksimalkan pembentukan dan kestabilan warna cabai
sebelum diolah. Tujuannya untuk membuang panas lapang. Biasanya para petani
melakukan curing dengan cara menghamparkan cabai yang dipanen di tempat
teduh.

C. Pengemasan
Pengemasan cabai dilakukan untuk melindungi cabai dari kerusakan selama
pengangkutan. Kemasan dibuat berbagai bahan dan bentuknya disesuaikan
dengan kapasitas cabai yang akan dikemas. Untuk pasar luar negeri (ekspor)
dikemas menggunakan boks karton dan cabai disusun memenuhi volume boks
kemasan. Kemasan diberi ventilasi udara sehingga tidak tertutup sama sekali.
Pada bagian luar kemasan diberi label dengan gambar agar lebih menarik.(gbr.1)

Gambar 1. Cabai dalam kemasan boks karton

Untuk pemasaran antar kota, petani mengemas cabai biasanya menggunakan


jaring kapasitas kira-kira 25-50 kg. Kemasan yang biasanya:
1. Kerancang bambu ukuran alas 40 cm, tinggi 44 cm diameter tutup 50 cm
2. Kemasan karton ukuran 35 x 40 x 50 cm yang ke enam sisinya diberi lubang
sirkulasi udara (diameter 1 cm jarak antara titik lubang 10 cm).
3. karung plastik
Ketiga kemasan diatas idealnya mampu menampung cabai sekitar 20 25 kg. Jika
lebih dari 25 kg cabai bagian bawah dapat mengalami kerusakan. Menurut
Setyowati dan Budiarti (1992) Kemasan yang terlalu besar dapat menurunkan
mutu cabai terutama yang berasa dibagian bawah.

Sebelum dilakukan pengemasan, buah cabai terlebih dahulu dicuci lalu dilakukan
perendaman dengan larutan klorin (natrium hypo chlorid atau metabisulfit) 0,05%
(0,05/100 x 1000 ml =0,5 gr/l).(gbr.2) (gbr.3)

Gambar 2. Pencucian cabai dan pengering anginan sebelum dikemas

Gambar 3. Penimbangan sebelum dikemas

Selain kemasan di atas, kemasan yang lain dapat digunakan adalah:


1. Plastik LDPE, disimpan dengan suhu kamar dapat dipertahankan selama 1
minggu dengan cara membuat pola 16 titik. (gbr.4 & 5) (gbr.6)

Gambar 4. Plastik LDPE

Gambar 5. Pola 16 titik

Gambar 6. Pengemasan dalam plastik LDPE


2. Stereoform, disimpan pada suhu kamar dapat dipertahankan selama 2 minggu
(gbr.7)

Gambar 7. Pengemasan dengan stereoform


3. Daun pisang lakukan dengan suhu kamar dapat dipertahankan selama 1 minggu
(gbr.8)

Gambar 8.

Pengemasan
dengan menggunakan daun pisang

D. Penyimpanan
Penyimpanan cabai merah pada ruang penyimpanan bersuhu 8 12 0C
dengan kelembaban 90 95 % dapat mempertahankan masa simpan selama 3-8
hari. Cara terbaik untuk menyimpan cabai merah segar adalah dengan
penyimpanan dingin. Menurut Asgar A.(2009) Penyimpanan dingin bertujuan
untuk menekan tingkat perkembangan mikroorganisme dan perubahan biokimia
Berdasarkan jenis bahan pengemas, daun pisang memberikan kualitas
terbaik dalam penyimpanan cabai merah segar kemasan dikarenakan daun pisng
memberikan nilai susut bobot terendah dan memberikan nilai tertinggi dalam
mempertahankan kadar air, vitamin c, nilai uji organoleptik, tekstrur, warna dan
aroma (Sembiring, 2009 dalam Sunarmani, 2012).
Menurut, Sembiring (2009) dalam Sunarmani (2012) lama penyimpanan
yang memberikan kualitas terbaik cabai merah dalam kemasan direkomendasikan
selama 1 minggu. Semakin lama penyimpanan maka susut bobot semakin

meningkat. Pengemas yang direkomendasikan adalah daun pisang dan disimpan


dalam pendingin selama 4 minggu.

III. PENUTUP

Cabai segar mempunyai daya simpan yang sangat singkat. Oleh karena itu,
diperlukan penanganan pasca panen mulai dari pemanenan sampai pengangkutan
harus dilakukan secara hati-hati, Jika tidak maka penanganan akan membuat
cabai mudah rusak dan menyebabkan penyusutan terhadap bobot cabai.
Kerusakan pada cabai dapat secara mekanis dan fisik. Akibat dari
kerusakan mekanis dan fisik ini tentunya sangat merugikan. Oleh karena itu, agar
cabai dapat dipertahankan kualitasnya sampai ketangan pembeli, diperlukan
penanganan yang baik dari mulai panen sampai pasca panen.
Penanganan pasca panen cabai dapat dilakukan berdasarkan prinsip GHP
(Good Handling Practices). GHP adalah cara penanganan pasca panen yang baik
yang berkaitan dengan penerapan teknologi serta cara pemenfaatan sarana dan
prasarana yang digunakan.
Sebelum didistribusikan, cabai yang telah dipanen harus melalui rangkaian
proses pasca panen yang meliputi kegiatan sortasi, curing,

pengemasan dan

penyimpanan.
Bahan yang digunakan sebagai kemasan adalah keranjang bambu, karton,
karung plastik. Selain itu, untuk kapasitas yang relatif sedikit, bahan kemasan
yang dapat digunakan adalah plastik LDPE, stereoform dan daun pisang.

DAFTAR PUSTAKA

Asgar A. (2009). Penanganan Pascapanen Beberapa Jenis Sayuran. Makalah


Linkage ACIAR-SADI. Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Lembang.
Sembiring, N.N. (2009). Pengaruh Jenis Bahan Pengemas Terhadap Kualitas
Produk Cabai Merah (Capsicum annum L). Tesis Pascapanen Universitas
Sumatera Utara, Medan.
Setyowati R.N. dan A. Budiarti (1992). Pascapanen Sayur. Penebar Swadaya,
Jakarta.
Sunarmani (2012). Teknologi Penanganan Pascapanen Cabai. Makalah Pelatihan
Spesialisasi Widyaiswara 9-15 April 2012. BBPP Pascapanen Pertanian,
Bogor.
Suyanti (2009). Membuat Aneka Olahan Cabai. Cetakan 2. Penebar Swadaya,
Jakarta.