Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIK II

KINETIKA REAKSI ION PERMANGANAT DENGAN ASAM OKSALAT

Nama

: Dewi Adriana Putri

NIM

: 121810301053

Kelompok / Kelas

:4/A

Asisten

: Anis Najmatul

Fak / Jurusan

: FMIPA / Kimia

LABORATORIUM KIMIA FISIK


JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS JEMBER
2015

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Proses kehidupan didunia ini tidak luput dari adanya reaksi kimia. Reaksi kimia adalah
proses di mana suatu zat mengalami perubahan kimia untuk membentuk zat yang berbeda.
Reaksi kimia terdiri dari berbagai macam jenis sehingga antara reaksi kimia yang satu dengan
reaksi kimia yang lain akan berbeda baik dalam segi pereaksi maupun produk yang
dihasilkan. Perbedaan lain yang mungkin adalah kecepatan reaksi kimia, dimana ada reaksi
kimia yang berlangsung dengan cepat dan ada reaksi kimia yang berlangsung lambat atau
lama. Kecepatan reaksi suatu reaksi kimia dapat juga disebut dengan laju reaksi.
Laju reaksi dapat diartikan sebagai ukuran dari berkurangnya konsentrasi pereaksi
atau reaktan per satuan waktu dan bertambahnya hasil reaksi (produk) per satuan waktu.
Reaksi yang berjalan dengan cepat contohnya adalah reaksi nuklir, reaksi pembakaran, reaksi
pada sel baterai dan lain-lain. Reaksi yang berjalan dengan lambat contohnya adalah reaksi
pengkaratan, reaksi fotosintesis pada tumbuhan, peragian dan lain-lain. Reaksi dengan
kecepatan yang tinggi biasanya disertai dengan letupan bahkan ledakan. Kecepatan reaksi
dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor misalnya suhu, konsentrasi reaktan, dan katalis.
Ion permangat akan erlangsung lambat bila di reaksikan dengan asam oksalat pada
suhu kamar sehingga laju reaksinya dapat di amati. Percobaan kinetika reaksi ion
permanganat dengan asam oksalat dilakukan untuk mengetahui laju reaksi yang di peroleh
dari eksperimen antara ion permanganat dengan asam oksalat dan juga menentukan tingkat
reaksi atau orde dari reaksi terebut.
1.2 Tujuan Praktikum
Tujuan dari praktikum kinetika reaksi ion permanganat dengan asam oksalat adalah
menentukan tingkat reaksi (orde) MnO4- dengan H2C2O4 .

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Material Safety Data Sheet (MSDS)
2.1.1

Asam oksalat
Asam oksalat mempunyai massa molar 90.03 g/mol (anhidrat) dan 126.07 g/mol

(dihidrat), rupa putih, kepadatan dalam fase 1,90 g/cm (anhidrat) dan 1.653 g/cm (dihidrat),
kelarutan dalam air 9,5 g/100 mL (15C), 14,3 g /100 mL (25C), dan 120 g/100 mL (100C),
dan titik didih sebesar 101-102C (dihidrat). Asam oksalat merupakan suatu asam organik
yang relatif kuat dibandingkan dengan asam asetat. Senyawa dengan rumus kimia H 2C2O4
memiliki nama sistematis yakni asam etanadioat. Asam oksalat dalam keadaan murni berupa
senyawa kristal, larut dalam air (8% pada 10 o C) dan larut dalam alkohol. Asam oksalat
membentuk garam netral dengan logam alkali (NaK), yang larut dalam air (5-25 %),
sementara itu dengan logam dari alkali tanah, termasuk Mg atau dengan logam berat,
mempunyai kelarutan yang sangat kecil dalam air. Jadi kalsium oksalat secara praktis tidak
larut dalam air (Anonim, 2015).
Pertolongan pertama yang dapat dilakukan ketika senyawa ini terhirup dalam jumlah
yang cukup banyak adalah berpindah ke tempat yang udaranya lebih segar. Jika tidak bisa
bernafas, napas buatan dapat diberikan dan segera meminta bantuan medis. Jika terjadi kontak
antara kulit dengan senyawa ini, kulit segera dibasuh dengan banyak air selama minimal 15
menit.Apabila mata terkena senyawa ini, mata segera dibasuh dengan air yang banyak selama
minimal 15 menit, sesekali kelopak mata dikedip-kedipkan. Selama iritasi atau efek yang
dihasilkan semakin parah, sebaiknya meminta pertolongan medis (Anonim, 2015).
2.1.2

Kalium Permanganat (KMnO4)


Kalium permanganat merupakan senyawa kimia anorganik yang dapat terurai saat

terkena sinar. Senyawa ini berbentuk kristal berwarna ungu dan tidak berbau. Massa jenisnya
adalah 2,7 g/mol dan kelarutannya sebesar 7 g dalam 100 g air. Senyawa ini berbahaya jika
terdekomposisi karena menghasilkan asap logam beracun yang mungkin terbentuk ketika
dipanaskan untuk dekomposisi. Bahaya yang ditimbulkan dari senyawa ini yaitu dapat
menimbulkan iritasi terhadap anggota tubuh. Senyawa ini dapat menyebabkan sesak nafas,
edema paru, menurunkan tekanan darah, dan dapat merusak ginjal. Anggota tubuh jika
terkena senyawa ini harus segera dicuci dengan air yang banyak agar meminimalisir bahaya
yang dapat ditimbulkan (Anonim, 2015).

2.1.3

Aquades
Air atau aquades adalah zat kimia dengan rumus kimia H2O, satu molekul air tersusun

atas dua atom hidrogen yang terikat secara kovalen pada satu memiliki kemampuan untuk
melarutkan banyak zat kimia lainnya, seperti garam, gula, asam, beberapa jenis gas, dan
banyak macam molekul organik. Nama lain dari aquades adalah dihidrogen monoksida atau
hydrogen hidroksida. Aquades merupakan jenis senyawa liquid yang tidak berwarna, tidak
berasa, dan tidak berbau pada keadaan standar. Massa molar dari air adalah 18,01528 g/mol.
Titik didih air sebesar 100C (373.15C) sedangkan titik lelehnya 0C (273,15C). Massa
jenis air sebesar 1000 kg/cm3 dan viskositasnya 0,001 Pa/s(20C). Aquades merupakan jenis
bahan kimia yang tidak memiliki dampak berbahaya terhadap jaringan (Anonim, 2015).
2.2 Dasar teori
Reaksi kimia adalah perubahan pereaksi menjadi hasil reaksi. Proses perubahan ini
dapat berlangsung cepat ataupun lambat. Pembahasan tentang kecapatan reaksi tersebut
dikenal dengan kinetika kimia. Penentuan kecapatan reaksi dapat dilakukan dengan beberapa
cara misalnya dengan cara eksperiment, dan pengelolahan data sederhana. Kecepatan reaksi
juga dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu sifat pereaksi, konsentrasi pereaksi, suhu dan
katalis (Sukri, 1999).
Kecepatan reaksi menurut hukum kegiatan massa pada temperatur tetap, berbanding
lurus dengan konsentrasi dan masingmasing berpangkat sebanyak molekul dalam persamaan
reaksi. Jumlah molekul pereaksi yang ikut dalam reaksi disebut molekularitas. Jumlah
molekul pereaksi yang konsentrasinya menentukan kecepatan reaksi, disebut tingkat reaksi.
Molekularitas dan tingkat reaksi tidak selalu sama, sebab tingkat reaksi tergantung dari
mekanisme reaksinya. Molekularitas selalu merupakan bilangan bulat sedangkan tingkat
reaksi dapat berupa pecahan bahkan nol (Sukardjo, 1989).
Laju reaksi adalah ukuran dari laju berkurangnya konsentrasi pereaksi atau laju
terbentuknya hasil reaksi (produk). Terdapat 2 macam laju reaksi yaitu laju rata-rata dan laju
sesaat. Laju rata-rata yaitu laju reaksi dalam interval waktu tertentu dan laju sesaat yaitu laju
pada saat tertentu. Laju reaksi sesaat tidak sama besar dari waktu ke waktu, pada awal reaksi
laju ini paling besar dan selama reaksi berlangsung terus berkurang sampai akhirnya
mencapai harga nol di akhir reaksi. Terdapat beberapa cara untuk menentukan laju reaksi yang
tidak terlampau cepat. Analisis kimia secara volumetri merupakan cara yang paling sederhana
baik dari segi prosedur maupun peralatannya. Persamaan laju reaksi ditentukan dengan 2 cara
yaitu cara laju awal dan cara integral. Orde reaksi merupakan bilangan yang menyatakan
hubungan konsentrasi dengan laju reaksi. Reaksi yang umum dan sederhana biasanya

mempunyai orde pertama, selain itu kita kenal reaksi orde kedua dan ketiga dan beberapa
reaksi yang berorde nol bahkan orde pecahan. Peningkatan suhu reaksi dapat meningkatkan
fraksi molekul yang mempunyai energi aktivasi sehingga reaksi dipercepat. Cara lain untuk
mempercepat terjadinya reaksi dapat juga dilakukan dengan meningkatkan konsentrasi
pereaksi dan penambahan katalis (Marhesi, 2007)
Kinetika reaksi merupakan cabang ilmu kimia yang membahas tentang laju reaksi dan
faktor-faktor yang mempengaruhi. Laju atau kecepatan reaksi dinyatakan sebagai perubahan
konsentrasi pereaksi atau hasil reaksi terhadap satuan waktu. Laju rekasi suatu reaksi kimia
dapat dinyatakan dengan persamaan laju reaksi. Untuk reaksi berikut:
A+B

AB

Persamaan laju reaksi secara umum ditulis sebagai berikut:


R = k [A]m [B]n
K=konstanta laju reaksi, m dan n orde parsial masing-masing pereaksi (Petrucci, 1987).
Laju reaksi dipengaruhi oleh faktor-faktor berikut:
a. Sifat dan ukuran pereaksi, semakin reaktif dari sifat pereaksi laju reaksi akan semakin
bertambah atau reaksi berlangsung semakin cepat. Pengaruh luas permukaan yaitu semakin
luas permukaan zat pereaksi laju reaksi akan semakin bertambah, hal ini dapat dijelaskan
dengan semakin luas permukaan zat yang bereaksi maka daerah interaksi zat pereaksi
semakin luas juga. Permukaan zat pereaksi dapat diperluas dengan memperkecil ukuran
pereaksi, jadi untuk meningkatkan laju reaksi, pada zat pereaksi dalam bentuk serbuk lebih
baik bila dibandingkan dalam bentuk bongkahan (Petrucci, 1987).
b. Konsentrasi. Besarnya laju reaksi sebanding dengan konsentrasi pereaksi, jika natrium
tiosulfat dicampur dengan asam kuat encer maka akan timbul endapan putih. Reaksi-reaksi
yang terjadi adalah sebagai berikut:
Na2S2O3 + 2H+
H2S2O3
Na2S2O3 + 2H+

2Na+ + H2S2O3 (cepat)


H2SO3 + S (lambat)
2Na+ + H2S2O3 + S

Reaksi ini terdiri dari dua buah reaksi yang konsekutif (sambung menyambung). Keadaan
ini menyebabkan reaksi yang berlangsung lambat menentukan laju reaksi keseluruhan
dalam hal ini reaksi yang paling lambat ialah penguraian H2S2O3 (Petrucci, 1987).
c. Suhu Reaksi, hampir semua reaksi menjadi lebih cepat bila suhu dinaikkan karena kalor
yang diberikan akan menambah energi kinetik partikel pereaksi. Akibatnya jumlah dan
energi tumbukan bertambah besar. Pengaruh perubahan suhu terhadap laju reaksi secara

kuantitatif dijelaskan dengan hukum Arrhenius yang dinyatakan dengan persamaan sebagi
berikut:
k = Ae-Ea/RT atau ln k = -Ea + ln A
R = konstanta gas ideal, A = konstanta yang khas untuk reaksi (faktor frekuensi) dan Ea =
energi aktivasi yang bersangkutan (Petrucci, 1987).
d. Katalis adalah zat yang ditambahkan ke dalam suatu reaksi untuk memepercepat jalannya
reaksi. Katalis biasanya ikut bereaksi sementara dan kemudian terbentuk kembali sebagai
zat bebas. Reaksi yang menggunakan katalis disebut reaksi katalis dan prosesnya disebut
katalisme. Katalis suatu reaksi biasanya dituliskan diatas tanda panah (Petrucci, 1987).
Orde reaksi berkaitan dengan pangkat dalam hukum laju reaksi. Reaksi yang
berlangsung dengan konstan, tidak bergantung pada konsentrasi pereaksi disebut orde reaksi
nol. Reaksi orde pertama lebih sering menampakkan konsentrasi tunggal dalam hukum laju,
dan konsentrasi tersebut berpangkat satu. Rumusan yang paling umum dari hukum laju reaksi
orde dua adalah konsentrasi tunggal berpangkat dua atau dua konsentrasi masing-masing
berpangkat satu. Metode penentuan orde reaksi salah satunya memerlukan pengukuran laju
reaksi awal dari sederet percobaan. Metode kedua membutuhkan pemetaan yang tepat dari
fungsi konsentrasi pereaksi terhadap waktu dan untuk mendapatkan grafik garis lurus (Hiskia,
1992).
Penentuan orde reaksi tidak dapat diturunkan dari persamaan reaksi tetapi hanya dapat
ditentukan berdasarkan percobaan. Reaksi yang diturunkan secara eksperimen dinyatakan
dengan rumus kecepatan reaksi :
v = k (A) (B) 2
Persamaan tersebut mengandung pengertian reaksi orde 1 terhadap zat A dan merupakan
reaksi orde 2 terhadap zat B, secara keseluruhan reaksi tersebut adalah reaksi orde 3. Reaksi
suatu bahan jika mempunyai tingkat reaksi n terhadap zat pereaksi, maka laju pereaksinya
akan sebanding dengan konsentrasi n dan berbanding terbalik dengan waktu (t).
r Cn................................................................. (1)
r 1/t................................................................ (2)
diamana:
C = konsentrasi
n = tingkat reaksi
t = waktu, oleh karena itu

Cn 1/t................................................................(3)
(Petrucci, 1987).
BAB 3. METODOLOGI PERCOBAAN
2.1 Alat dan Bahan
2.1.1
2.1.2

Alat
Buret 50 ml
Statif dan penjepit
Corong
Erlenmeyer
Stop watch
Bahan

Asam oksalat 0,7 N (H2C2O4)

Kalium permanganat 0,1 N (KMnO4)

Akuades

2.2 Prosedur Kerja


0,7 N H2C2O4
-

Dimasukkan ke dalam buret 1 volume 50 ml yang bersih


Dimasukkan 0,1 N KMnO4 kedalam buret 2 dan akuades kedalam

buret 3
Dicampurkan dengan akuades 2 mL dan digoyangkan erlenmeyer
agar

larutan

homogen

kemudian

ditambahkan

KMnO4,

pencampuran dilakukan 4 kali dengan volume asam oksalat dan


kalium permanganat yang ditentukan secara berturut-turut yaitu
-

(2;0.4)mL, (3;0.6)mL, (4;0.8)mL, (5;1)mL


Diulangi setiap pencampuran sebanyak 2 kali dan dicatat waktu
yang diperlukan dari penambahan KMnO4 sampai hilangnya warna

ungu dalam Erlenmeyer.


Ditentukan tingkat reaksinya dengan grafik C versus 1/t dan C2
versus 1/t untuk masing-masing pereaksi.

Hasil

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Hasil
4.1.1 Data Hasil Percobaan
Erlenmeyer

Volume

Volume

Volume

H2C2O4 (mL)

H2O (mL)

KMnO4 (mL)

2
2
3
3
4
4
5
5

0.4
0.4
0.4
0.4
0.4
0.4
0.4
0.4

0.4
0.4
0.6
0.6
0.8
0.8
1
1

1a
1b
2a
2b
3a
3b
4a
4b

Waktu (s)
Penambahan
Perubahan
KMnO4
8.32
7.39
5.56
5.42
4.26
7.26
10.06
11.25

warna
31.54
30.15
29.66
28.23
22.95
23.75
11.02
12.06

* percobaan dilakukan secara duplo


4.1.2 Hasil Perhitungan
Erlenmeye

M H2C2O4 +

Air

1
2
3
4

M KMnO4

0,292
0,309
0,318
0,324
Orde total

1,752 M
1,751 M
1,749 M
1,75M

1/t
0,032
0,035
0,043
0,087

n asam
oksalat

n ion
permangana
t

1
2

4.2 Pembahasan
Kinetika reaksi merupakan cabang ilmu kimia yang membahas tentang laju reaksi dan
faktor-faktor yang mempengaruhinya. Laju reaksi merupakan perubahan konsentrasi
pereaktan atau produk terhadap satuan waktu.. laju reaksi dapat dinyatakan sebagai penurunan
konsentrasi reaktan per satuan waktu dan penambahan atau peningkatan konsentrasi produk

per satuan waktu. Orde reaksi adalah banyaknya faktor konsentrasi zat reaktan atau produk
yang mempengaruhi kecepatan reaksi. Penentuan orde reaksi tidak dapat diturunkan dari
persamaan reaksi tetapi hanya dapat ditentukan berdasarkan percobaan. Percobaan yang telah
dilakukan untuk menghitung orde suatu reaksi adalah percobaan kinetika reaksi ion
permanganat dengan asam oksalat.
Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah dengan asam oksalat, akuades dan
kalium permanganat. Asam oksalat dicampur dengan aquades terlebih dahulu sampai
homogen sesuai dengan volume yang telah ditentukan. Hal ini dilakukan karena untuk
memudahkan pencampuran ketika penambahan kalium permanganat. Disiapkan erlenmeyer
1, 2, 3 dan 4. Volume asam oksalat berturut-turut yaitu 2 mL, 3 mL, 4 mL, 5 mL, sedangkan
volume akuades masing-masing ditambahkan 0.4 mL untuk setiap pencampuran. Fungsi
akuades yaitu mengencerkan asam oksalat menjadi konsentrasi yang lebih rendah.
Pengenceran asam oksalat dengan akuades ini dapat digunakan untuk mencari konsentrasi
asam oksalat setelah pengenceran.
Ketika campuran asam oksalat dengan akuades sudah homogen kemudian
ditambahkan dengan kalium permanganat. Pencampuran ini dilakukan secara duplo untuk
semua volume. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan waktu reaksi rata-rata. Setelah
penambahan kalium permanganat larutan awalnya berwarna ungu seperti warna KMnO4,
kemudian setelah digoyang-goyangkan atau dihomogenkan erlenmeyer berisi campuran
tersebut, larutan berubah warna menjadi ungu pekat atau kehitaman kemudian timbul gas-gas
dan warna larutan berubah lagi menjadi kecoklatan sesuai dengan banyaknya volume kalium
permanganat yang ditambahkan. Volume kalium permanganat yang ditambahkan berturutturut adalah 0.4 mL, 0.6 mL,0.8 mL dan 1.0 mL. Galembung-gelembung yang dihasilkan dari
reaksi adalah gas CO2 (karbon dioksida) yang dihasilkan dari reaksi kalium permanganat
(KMnO4) dengan asam oksalat (H2C2O4). Timbulnya gas pada saat pencampuran disebabkan
oleh kalium permanganat (KMnO4) mengoksidasi asam oksalat menjadi CO2 (karbon
dioksida) dan H2O (air) di mana terjadi perubahan bilangan oksidasi pada Mn dari +7 menjadi
+2, sehingga yang awalnya larutan berwarna ungu setelah terjadi reaksi warnanya berubah
menjadi bening kecoklatan.
Berikut merupakan reaksi yang terjadi antara asam oksalat dan kalium permanganat:
5H2C2O4(aq) + 2KMnO4(l)

10CO2(g) + 5H2O(l) + 2MnO(s) + 2K+(aq)

Reaksi redoks selengkapnya adalah sebagai berikut:

Oksidasi : H2C2O4

2 CO2 + 2H+ + 2e-

Reduksi : MnO4- + 8H+ + 5e-

Mn2+ + H2O

Oksidasi : 5 H2C2O4

10 CO2 + 10H+ + 10e-

Reduksi : 2MnO4- + 16H+ + 10e- 2Mn2+ + 2H2O


2MnO4- + 5H2C2O4 + 6H+ 2Mn2+ + 10 CO2 + 8H2O
Dalam percobaan ini H2C2O4 berfungsi sebagai reaksi pada tingkat m dan KmnO 4
berfungsi sebagai reaksi pada tingkat n. laju reaksinya adalah
1
1 d [H 2C 2O 4 ]
R=+ 5
=
+
2
dt

d [KMnO 4 ]
=dt

1 d [MnO]
=2
dt

1 d [CO 2]
10
dt

Dan hukum laju reaksinya dapat dinyatakan dalam persamaan :


R = K [H2C2O4]m[MnO-4]n
Setelah penambahan KMnO4 dengan volume 0.4 mL dan dihomogenkan, larutan
berubah warna dari ungu menjadi bening sedikit kecoklatan atau hamper tidak berwarna,
penambahan KMnO4 dengan volume 0.5 mL berubah menjadi bening kecoklatan,
penambahan KMnO4 dengan volume 0.8 mL berubah menjadi coklat dan penambahan
KMnO4 dengan volume 1.0 mL berubah warna menjadi coklat pekat. Jadi semakin banyak
volume KMNnO4 yang ditambahkan warna larutan akan semakin lebih coklat atau pekat.
Seiring bertambahnya volume KMnO4 yang ditambahkan maka semakin besar pula
konsentrasinya. Jika konsentrasi pereaksi diperbesar, berarti kerapatannya bertambah dan
akan memperbanyak kemungkinan tabrakan partikel-partikel penyusun molekul sehingga
akan mempercepat reaksi. Hal ini di buktikan dengan semakin kecil selisih jumlah larutan
KMnO4 dengan H2C2O4 maka waktu yang dibutuhkan untuk bereaksi semakin cepat. Hal ini
terbukti dengan waktu reaksi yang dicatat tiap penambahan. Setiap penambahan
membutuhkan waktu yang berbeda-beda untuk bereaksi. Karena percobaan dilakukan secara
duplo maka waktu yang dihasilkan ada 2. Pada erlenmayer yang pertama yaitu selama 31.54
dan 30.15 detik; untuk erlenmeyer kedua waktu yang diperlukan adalah 29.66 dan 28.23
detik; untuk erlenmeyer ketiga waktu yang diperlukan adalah 22.95 dan 23.75 detik; untuk
erlenmeyer ke empat waktu yang diperlukan adalah 11.02 dan 12.06 detik. Seiring
bertambahnya volume asam oksalat dan KMnO4 yang ditambahkan maka semakin banyak
KMnO4 yang ditambahkan akan semakin banyak yang mengoksidasi asam oksalat sehingga
reaksi berlangsung semakin cepat.

Kalium permanganat berperan sebagai penentu reaksi dalam percobaan ini. Hal ini
terjadi karena kalium permanganat berfungsi sebagai zat pengoksidasi kuat yang dapat
mengoksidasi asam oksalat menjadi CO 2 dan H2O. Penambahan kalium permanganat
(KMnO4) menyebabkan terjadinya reaksi yang disertai dengan meningkatnya suhu, hal ini
menunjukkan bahwa reaksinya bersifat eksoterm (melepas panas dari system ke lingkungan),
dan panas yang dihasilkan pada reaksi tersebut berbanding lurus dengan volume kalium
permanganat (KMnO4) yang ditambahkan. Semakin banyak volume kalium permangantnya
maka semakin tinggi pula suhu, begitu juga sebaliknya.
Konsentrasi kedua setelah penambahan baik KMnO4 maupun asam oksalat dan air
dapat diketahui dengan menggunakan rumus pengenceran yaitu M1 x V1 = M2 x V2.
Berdasarkan hasil perhitungan maka didapatkan konsentrasi asam oksalat+akuades dari
erlenmeyer 1 sampai 4 berturut-turut adalah 0.292, 0.309, 0.318, dan 0.324 M. Sedangkan
konsentrasi asam kalium permanganat dari erlenmeyer 1 sampai 4 berturut-turut adalah 1.752,
1.751, 1.749, dan 1.750 M. Data konsentrasi dan 1/t dapat digunakan untuk menentukan orde
reaksi dengan membuat grafik hubungan pada keduanya. Grafik yang dibuat ada 3 macam
yaitu 1/t vs C, 1/t vs C2, dan t vs In C. Grafik untuk asam oksalat yaitu sebagai berikut:

Grafik campuran (H2C2O4 + H2O)


0.33
0.32
0.31
C (konsentrasi)

f(x) = 0.41x + 0.29


R = 0.56
y

0.3

Linear (y)

0.29
0.28
0.27
0.02 0.04 0.06 0.08

0.1

1/t (sekon)

Berdasarkan grafik tersebut didapatkan persamaan y = 0.408x + 0,290 dimana y


merupakan C, x merupakan [1/t]n. Sehingga dengan mensubstitusikan data yang ada maka
didapatkan orde reaksi sebesar 0.885 dimana orde reaksi dalam persamaan ini disimbolkan
dengan n.

Grafik campuran (H2C2O4 + H2O)


0.12
0.1
0.08
C2

f(x) = 0.26x + 0.08


R = 0.59
y

0.06

Linear (y)

0.04
0.02
0
0.02 0.03 0.04 0.05 0.06 0.07 0.08 0.09 0.1
1/t (sekon)

Persamaan yang didapat adalah y = 0.260x + 0.083 dimana y merupakan C 2, x


merupakan [1/t]n. Sehingga dengan mensubstitusikan data yang ada maka didapatkan n
sebesar 1.418.

Grafik campuran (H2C2O4 + H2O)


-1.06
-1.08 10
-1.1
-1.12
-1.14
ln C
-1.16
-1.18
-1.2
-1.22
-1.24

15

20

f(x) = - 0x - 1.07
R = 0.7

25

30

35
y
Linear (y)

t (sekon)

Persamaan yang didapat dari grafik diatas adalah y = -0.004x - 1.066 dimana y
merupakan In C, x merupakan [t]n. Sehingga dengan mensubstitusikan data yang ada maka
didapatkan orde reaksi sebesar 1.084. Dari ketiga grafik yang dibuat dapat disimpulkan orde
reaksi untuk asam oksalat adalah 1.
Sedangkan untuk menghitung orde reaksi kalium permanganat caranya sama yaitu
dengan membuat grafik fungsi yaitu 1/t vs C, 1/t vs C 2, dan t vs In C. Grafik untuk KMnO4
1/t vs adalah

Grafik KMnO4
1.75
1.75
1.75

C (konsentrasi)

1.75
1.75

f(x) = - 0.02x + 1.75


R = 0.18

y
Linear (y)

1.75
1.75
0.02 0.04 0.06 0.08 0.1

1/t (sekon)

Persamaan yang didapat dari grafik diatas adalah y = -0.021x + 1.751 dimana y
merupakan C, x merupakan [1/t]n. Sehingga dengan mensubstitusikan data yang ada maka
didapatkan n sebesar - 0.887. karena nilai n negatif maka dari grafik ini orde reaksi tidak
dapat ditemukan.

Grafik KMnO4
3.08
3.07
3.07

C2

3.06

f(x) = - 0.11x + 3.07


R = 0.31

y
Linear (y)

3.06
3.05
0.02 0.03 0.04 0.05 0.06 0.07 0.08 0.09 0.1

1/t (sekon)

Persamaan yang didapat dari grafik diatas adalah y = -0.108x + 3.069 dimana y
merupakan C2, x merupakan [1/t]n. Sehingga dengan mensubstitusikan data yang ada maka
didapatkan n sebesar - 1.364. karena nilai n negatif maka dari grafik ini orde reaksi tidak
dapat ditemukan.

Grafik KMnO4
0.56
0.56
0.56
In C

f(x) = 0x + 0.56
R = 0.35

0.56

y
Linear (y)

0.56
0.56
0.56
10

15

20

25

30

35

t (sekon)

Persamaan yang didapat dari grafik diatas adalah y = 5E-05x + 0.558 dimana y
merupakan In C, x merupakan [t]n. Sehingga dengan mensubstitusikan data yang ada maka
didapatkan orde reaksi sebesar 1.075. Dari ketiga grafik yang dibuat dapat disimpulkan orde
reaksi untuk kalium permanganat adalah 1. Jadi hukum laju antara asam oksalat dan ion
permanganat adalah
R = K [H2C2O4]1[MnO-4]1
Orde total reaksi dapat diketahui dengan menjumlahkan orde asam oksalat dan ion
permanganat yaitu sebesar 2.

BAB V. PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Kesimpulan dari praktikum kinetika reaksi ion permanganat dan asam oksalat adalah
orde reaksi dapat ditentukan melalui eksperimen langsung dimana besarnya konsentrasi
masing-masing reaktan saat berpengaruh yaitu semakin besar konsentrasi reaktan maka laju
reaksinya akan semakin cepat. Orde asam oksalat adalah 1 dan orde ion permanganat adalah
1, jadi orde total adalah 2.
5.2 Saran
Diharapkan untuk praktikan agar lebih memahami prosedur dan lebih teliti dalam
melakukan praktikum agar lebih efisien dan tidak membuang-buang waktu

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2015. Material Safety Data Shee Kalium Permanganatt. www.sigmalaldrich.com.
diakses pada 6 September 2015.
Anonim. 2015. Material Safety Data Sheet Asam Oksalat. www.sciencelab.com. Diakses
pada 6 September 2015.
Anonim. 2015. Material Safety Data Sheet Aquades. www.sciencelab.com. Diakses
pada 6 September 2015.
Hiskia. 1992. Elektrokimia dan Kinetika Kimia. Bandung : ITB
Marhesi, M. 2007. Reaksi Kimia. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Petrucci, H. Ralph, Suminar. 1987. Kimia Dasar Jilid 1 edisi 4. Jakarta: Erlangga
Sukardjo. 1989. Kimia fisika. Yogakarta : Rineka Cipta.
Syukri S, 1999. Kimia Dasar 2. ITB, Bandung. hal 71-83.
Tim Kimia Fisik. 2015. Petunjuk Praktkum Kimia Fisik II. Jember : Universitas Jember

LAMPIRAN
GAMBAR HASIL PERCOBAAN
Gambar

Keterangan
Asam oksalat 2 mL + akuades 0.4
mL + kalium permanganat 0.4 mL.
Warna larutan bening sedikit
kecoklatan

Asam oksalat 3 mL + akuades 0.4


mL + kalium permanganat 0.6 mL
.
Warna larutan bening kecoklatan

Asam oksalat 4 mL + akuades 0.4


mL + kalium permanganat 0.8 mL.
Warna larutan coklat bening

Asam oksalat 5 mL + akuades 0.4


mL + kalium permanganat 1 mL.
Warna larutan coklat pekat.

LAMPIRAN PERHITUNGAN

1. Konsentrasi Campuran
a. Erlenmeyer 1
VH2C2O4 . M H2C2O4

= V H2C2O4 + air . M H2C2O4 + air

2 mL . 0,35 M

= 2,4 mL . M H2C2O4 + air

M H2C2O4 + air

= 0,292 M

b. Erlenmeyer 2
VH2C2O4 . M H2C2O4

= V H2C2O4 + air . M H2C2O4 + air

3 ml . 0,35 M

= 3,4 mL . M H2C2O4 + air

M H2C2O4 + air

= 0,309 M

c. Erlenmeyer 3
VH2C2O4 . M H2C2O4

= V H2C2O4 + air . M H2C2O4 + air

4 mL . 0,35 M

= 4,4 mL . M H2C2O4 + air

M H2C2O4 + air

= 0,318 M

d. Erlenmeyer 4
VH2C2O4 . M H2C2O4

= V H2C2O4 + air . M H2C2O4 + air

5 mL . 0,35 M

= 5,4 mL . M H2C2O4 + air

M H2C2O4 + air

= 0,324 M

Kareana M H2C2O4 + air = C


Maka C2
a. C = 0,292
C2 = 0,085
b. C = 0,309
C2 = 0,095
c. C = 0,318
C2 = 0,101
d. C = 0,324
C2 = 0,105
Perhitungan dari Grafik H2C2O4 + air
C vs 1/t
y

= 0.408x

0.290

= m [1/t]n

= 0.408 x (0,032)n

0,292

0.290

0,292 0,290 = 0.408 x (0,032)n


0,002

= 0.408 x (0,032)n

(0,032)n

= 0,002/0.408

(0,032)n

= 0,0049

n log 0,032

= log 0,0049

-1,49 n

= - 2,3

= - 2,3/1,49

= 1,54

2. Penentuan konsentrasi KMnO4


a. Erlenmeyer 1
V KMnO4 . M KMnO4

= VH2C2O4 + air . M H2C2O4+ air

0,4 mL . M KMnO4

= 2,4 mL . 0,292 M

M KMnO4

= 1,752 M

b. Erlenmeyer 2
V KMnO4 . M KMnO4

= VH2C2O4 + air . M H2C2O4+ air

0,6 mL . M KMnO4

= 3,4 mL . 0,309 M

M KMnO4

= 1,751 M

c. Erlenmeyer 3
V KMnO4 . M KMnO4

= VH2C2O4 + air . M H2C2O4+ air

0,8 mL . M KMnO4

= 4,4 mL . 0,318 M

M KMnO4

= 1,749 M

d. Erlenmeyer 4
V KMnO4 . M KMnO4

= VH2C2O4 + air . M H2C2O4+ air

1 mL . M KMnO4

= 5,4 mL . 0,324 M

M KMnO4

= 1,750 M

Kareana M KMnO4 = C
Maka C2
e. C = 1,752
C2 = 3,070
f. C = 1,751
C2 = 3,066
g. C = 1,749

C2 = 3,059
h. C = 1,750
C2 = 3,061
3.

Menghitung 1/t
a. ~ t1 (Erlenmeyer 1) = 31,54 s
~ t2 (Erlenmeyer 1) = 30,15 s
Trata-rata

= 30,845 s

1/t

= 0,032 s

b. ~ t1 (Erlenmeyer 1) = 29,66 s
~ t2 (Erlenmeyer 1) = 28,23 s
Trata-rata

= 28,945 s

1/t

= 0,035 s

c. ~ t1 (Erlenmeyer 1) = 22,95 s
~ t2 (Erlenmeyer 1) = 23,75 s
Trata-rata

= 23,350 s

1/t

= 0,043 s

d. ~ t1 (Erlenmeyer 1) = 11,02 s
~ t2 (Erlenmeyer 1) = 12,06 s
Trata-rata

= 11,540 s

1/t

= 0,087

n untuk asam oksalat


grafik 1/t vs C
y

= 0.408x

0.290

= m [1/t]n

0.292

= 0.408x (0.032)n

0.290

0.292- 0.290 = 0.408x (0.032)n


0,002

= 0.408x (0.032)n

(0,032)n

= 0,002/0.408

(0,032)n

= 0,0049

n log 0,032

= log 0,0476

-1,49 n

= - 1.32

= -1.32/-1.49

= 0.885

grafik 1/t vs C2

= 0.260x

C2

= m [1/t] n

+ K

0.085

= 0.260x(0.032)n + 0.083

0.085- 0.083

= 0.260x(0.032)n

0.002

(0.032)n
(0.032)n
n log 0,032

= 0.002/0.260
= 0.0077
= log 0.0077

-1,49 n

= - 2.11

0.083

0.260x(0.032)n

= -2.11/-1.49

= 1.418

grafik t vs In C

= -0.004x

1.066

In C

= m [t] n

-1.231

= -0.004 (30.845)n -

K
1.066

-1.231+1.066 = -0.004 (30.845)n


-0.004 (30.845)n

-0.165

(30.845)n

= -0.165/-0.004

(30.845)n
= 41.25
n log 30.845 = log 41.25
1,489 n
= 1.61
n

= 1.61/1.489

= 1.084

n untuk kalium permanganat

grafik 1/t vs C

-0.021x

1.751

= m [1/t]n

1.752

= -0.021x (0.032)n

1.751

1.752-1.751

= -0.021x (0.032)n

0,001

= -0.021x (0.032)n

(0,032)n

= 0,001/-0.021

(0,032)n

= -0,047

n log 0,032

= - log 0,0476

-1,49 n

= - (-1.32)

= 1.32/-1.49

= - 0.887

n bernilai negatif= n tidak ditemukan

grafik 1/t vs C2

-0.108x

C2

= m [1/t]n

3.07

= -0.108x (0.032)n

3.069

3.07 - 3.069

= -0.108x (0.032)n

0,001

= -0.108x (0.032)n

(0,032)n

= 0,001/-0.108

(0,032)n

= -0.009

n log 0,032

= - log 0,009

-1,49 n

= - (-2.033)

= 2.033/-1.49

= - 1.364

+ 3.069

n bernilai negatif= n tidak ditemukan

grafik t vs In C

5E-05x

In C

= m [t]n

0.560

= 5x10-5 (30.845)n

0.560 - 0.558 = 5x10-5 (30.845)n


0,002

= 5x10-5 (30.845)n

(30.845)n

= 0,002/5x10-5

(30.845)n

= 40

n log 30.845 = log 40


1,489 n

= 1.602

= 1.602/1,489

= 1.075

0.558
K
0.558