Anda di halaman 1dari 6

Ekonomi pembangunan 1

Sejarah pertumbuhan ekonomi dan pembangunan kontemporer

Selama hampir setengah abad, masyarakat perekonomian dunia telah


tertuju kepada bagaimana cara mereka mempercepat tingkat-tingkat
pertumbuhan ekonomi. “pengejaran pertumbuhan ekonomi” merupakan
tema sentral dalam kehidupan ekonomi semua negara dewasa ini.

Pertumbuhan ekonomi : modal, tenaga kerja, teknologi

Ada tiga faktor dalam pertumbuhan ekonomi sebuah negara, yaitu :

1. Akumulasi modal,

meliputi segala jenis investasi yang baru ditanamkan pada tanah,


peralatan fisik, dan modal atau sumber daya manusia. Tujuannya
adalah meningkatkan output dan pendapatan dikemudian hari.
Investasi tersebut harus dilengkapi dengan investasi penunjang yang
disebut investasi “infrastruktur” ekonomi dan sosial. Misalnya,
pembangunan jalan raya, listrik, air bersih, dan sanitasi. Selain
investasi secara langsung tersebut, banyak cara lain berinvestasi yang
bersifat tidak langsung. Misal, pembangunan sistem irigasi yang
meningkatkan hasil panen menjadi dua kali lipat dibanding dengan
tidak adanya sistem irigasi.

2. Pertumbuhan penduduk,

Pertumbuhan penduduk secara tradisional dianggap salah satu faktor


pemicu pertumbuhan ekonomi, dimana jumlah angkatan kerja
menambah jumlah tenaga produktif, hal ini berarti dengan jumlah
tenaga kerja yang lebih banyak, suatu negara akan menghasilkan
tingkat output yang lebih besar pula. Dan pertumbuhan penduduk
yang lebih besar juga berarti meningkatkan ukuran pasar domestiknya.

Namun pertumbuhan penduduk yang besar juga mengundang dampak


positif dan negatifnya, namun itu sepenuhnya tergantung dengan
sistem ekonomi yang bersangkutan untuk menyerap dan secara
produktif memanfaatkan tambahan tenaga kerja tersebut.

3. Kemajuan teknologi.

Ada tiga jenis klasifikasi kemajuan teknologi: kemajuan teknologi yang


bersifat netral (neutral technological progress), kemjuan teknologi
yang hemat tenaga kerja (labor-saving technological progress),
kemujan teknologi yang hemat modal (capital-saving technological
progress).

Kemajuan teknologi yang bersifat netral terjadi ketika teknologi


tersebut mampu melipatgandakan semua input produktif. Sementara
itu, kemajuan teknologi dapat berlangsung sedemikian rupa sehingga
menghemat pemakaian modal atau tenaga kerja.
Di negara dunia ketiga, dimana tenaga kerja berlimapah dibanding
modal, kemajuan teknologi yang hemat modal sangat diperlukan untuk
perekonomian yang lebih efisien.

Kemajuan teknologi juga dapat meningkatkan modal atau tenaga kerja.


Kemajuan teknologi yang meningkatkan kemampuan pekerja (labor-
augmenting technological progress) terjadi apabila penerapan
teknologi tersebut mampu meningkatkan mutu dan keterampilan
angkatan kerja secara umum. Demikian pula dengan kemajuan
teknologi juga dapat meningkatkan modal (capital-augmenting
technological progress) yang terjadi apabila penggunaan teknologi
tersebut memungkinkan kita memamnfaatkan barang modal yang ada
dengan lebih produktif dan efisien.

Tinjauan sejarah: enam karakteristik pertumbuhan ekonomi


modern menurut Kuznets.
Menuruk Kuznets, “pertumbuhan ekonomi adalah kenaikan kapasitas
dalam jangka panjang dari negara yang bersangkutan untuk menyediakan
berbagai barang ekonomi kepada penduduknya. Kenaikan kapasiatas itu
sendiri ditentukan atau dimungkinkan oleh adanya kemajuan atau
penyesuaian-penyesuaian teknologi, institusional, dan ideologis terhadap
berbagai tuntutan keadaan yang ada”.
Dalam analisisnya, dia mengemukakan enam karakteristik proses
pertumbuhan ekonomi:
1. Tingkat pertumbuhan output perkapita dan pertumbuhan penduduk
yang tinggi.
2. Tingkat kenaikan produktivitas faktor total yang tinggi (TFP).
Yaitu tingkat output yang dihasilkan masing-masing unit input dari
seluruh input atau faktor produksi yang dipergunakan untuk membuat
output tersebut. TFP ini dapat menjadi tolak ukur efisiensi pemanfaatan
input dalam fungsi produksi.
3. Tingkat transformasi struktural ekonomi yang tinggi.
Adanya pergeseran bertahap dari aktivitas sektor pertanian ke sektor
nonpertanian dan dewasa ini sedang berlangsung, yakni sektor industri
ke sektor jasa; perubahan besar dalam skala rata rata unit produksi
yakni perubahan dari industri kecil dan rumah tangga ke arah pola
produksi masal yang ditangani oleh perusahan-perusahaan nasional
atau multinasional. Selain itu juga terjadi pergeseran lokasi dan status
pekerjaan mayoritas angkatan kerja dari sektor pertanian ke sektor
nonpertanian di daerah pedesaan ke sektor manufaktur serta jasa-jasa
di perkotaan.
4. Tingkat transformasi sosial dan ideologi yang tinggi.
Cita-cita yang seharunya tercipta dalam modernisasi, menurut Gunnar
Myrdal, yaitu:
• Rasionalitas, perlunya subtitusi metode-metode modern
dalam bidang pemikiran, pelaksanaan kegiatan-kegiatan produksi,
distribusi, dan persiapan konsumsi di hari tua, serta segenap
praktek tradisional lainnya.
• Perencanaan ekonomi, pencarian sistem dan penerapan
kebijakan yang terkoordinir dan rasional guna mempercepat
pertumbuhan ekonomi.
• Persamaan sosial dan ekonomi, rangkaian usahan guna
mendapatkan persamaan status, kesempatan, kekayaan,
pendapatan, dan taraf hidup.
• Peningkatan kualiatas institusional dan sikap-sikap,
perubahan-perubahan yang diperlukan dalam lembaga-lembaga
sosial.
5. Adanya kecenderungan negara-negara yang terlihat sudah maju
perekonomiannya berusaha untuk merambah bagian dunia lainnya
sebagai sumber pasar dan sumber bahan baku terbaru.
6. Terbatasnya penyebaran pertumbuhan ekonomi yang hanya
mencapai sekitar sepertiga bagian penduduk dunia.

Keterbatasan nilai sejarah pengalaman pertumbuhan: perbedaan


kondisi awal.
Posisi negara berkembang saat ini jelas berbeda dangan posisi negara
maju pada saat memulainya ke era pertumbuhan ekonomi. paling tidak,
terdapat delapan perbedaan penting yang mempengaruhi prospek
pertumbuhan ekonomi dan syarat-syarat terlaksanakannya pembangunan
ekonomi modern.
1. Perbedaan kekayaan sumber daya alam dan kualitas modal.
Sumber daya alam dunia ketiga dewasa ini sudah berbeda dengan saat
pertama kali negara maju memulai pertumbuhan ekonominya. Negara
dunia ketiga cenderung kekurangan sumber daya alam. Hal ini
dikarenakan kekayaan negara-negara berkembang sudah dirampok
dan dirampas oleh kolonialisme. Menurut ekonom paul romer, negara-
negara berkembang dewasa ini “miskin karena penduduknya tidak
memiliki akses ke gagasan yang dahulu dimanfaatkan oleh negara-
negara yang sekarang maju untuk menciptakan nilai ekonomis”. Bagi
romer, kesenjangan negara miskin dan negara kaya dapat dipisah
menjadi dua, yakni object gap yang bersifat fisik seperti jalan raya,
pabrik, dan mesin modern. Lalu idea gap dimanaberwujud
ketimpangan informasi, serta ektimpangan pengetahuan tentang
permasaran, distribusi, upaya kontrol inventori, pemrosesan transaksi,
dan pembangkitan motivasi pekerja.
2. Perbedaan pendapatan perkapita dan tingkat GNP dibandingkan
dengan negara-negara lainnya di dunia.
3. Perbedaan iklim.
Sejarah membuktikan dimana hampir semua negara yang berhasil
mengembangkan ekonominya secara modern terletak di daerah yang
beriklim dingin. Salah satu faktor iklim yang secara langsung
mempengaruhi produksi pada umumnya adalah suhu udara yang
panas dan lembab. Iklim yang terlalu panas menyebabkan penurunan
kualitas tanah, mempercepat penyusutan bahan-bahan alam,
mengurangi daya regenerasi hutan, dan menurunkan kesehatan hewan
ternak. Dan yang tidak kalah penting, iklim ini menjadikan kondisi
pekerja tidak nyaman, menekan kesehatan, dan mengurangi keinginan
bekerja keras sehingga pada akhirnya menurunkan produktifitas dan
efisiensi.
4. Perbedaan jumlah penduduk, distribusi, serta laju pertumbuhannya.
5. Peranan sejarah migrasi internasional.
Terjadinya migrasi besar besaran pada abad ke-19 dan awal abad ke-
20 dimana pekerja-pekerja di italia, jerman, dan irlandia dahulu banyak
dilanda kelaparan dan wabah penyakit yang hebat berpindah kedaerah
yang kekurangan tenaga kerja kasar seperti Amerika Utara dan
Australia. Sampai pecahnya PD 2, migrasi internasional masih
melibatkan jarak-jarak yang jauh. Migrasi dari daerah- daerah yang
kelebihan tenaga kerja tersebut telah memberi pengaruh positif bagi
negara yang ditinggalkan. Pemerintah yang ditinggalkan oleh imigran
tersebut dengan sendirinya terbebas dari biaya-biaya yang harus
dikeluarkan guna menyediakan lapangan pekerjaan dan karena
sebagian pendapatan pekerja imigran akan dikirimkan ke negara asal
telah menjadikan satu sumber devisa bagi negara.
Sampai batas tertentu, pola diatas tersebut berlaku bagi negara
berkembang dewasa ini.
6. Perbedaan dalam memperoleh keuntungan dari perdagangan
internasional.
Perdagangan bebas sering dikatakan sebagai engine of growth yang
telah memacu pembangunan ekonomi negara-negara maju selama ini.
Hal ini tidak berlaku bagi negara berkembang. Ekspor negara
berkembang tidak secepat ekspor negar maju, hal ini mengakibatkan
Term of trade negara berkembang terus mengalami penurunan. Secara
ekonomis, negara-negara maju telah jauh meninggalkan negara
berkembang, sehingga mereka mampu mempertahankan daya saing
mereka melalui pengembangan produk-produk baru, dan
memanfaatkan aksesnya yang lebih besar dan kuat guna memperoleh
pinjaman internasional yang ringan.
7. Kemampuan melakukan penelitian dan pengembangan dalam
bidang ilmiah dan teknologi dasar.
Negara kaya sangat tertarik dengan pengambangan produk yang
sangat canggih, pasar yang seluas-luasnya, metode produksi yang
banyak menggunakan input modalserta tingkat menejemen dan
pengetahuan yang tinggi, dalam usahanya menghemat bahan baku
dan tenaga kerja yang langka. Sedangkan sebaliknya, negara
berkembang lebih berkepentingan dengan produk-produk yang relatif
sederhana, menghemat modal, padat karya, dan diproduksi untuk
pasar yang terbatas.
8. Stabilitas dan fleksibilitas lembaga-lembaga politik dan sosial.
Para peneliti berpendapat bahwa pertumbuhan ekonomi ternyata lebih
dipengaruhi oleh stabilitas dari suatu rejim politik ketimbang jenis rejim
itu sendiri (demokratis atau otoriter). Mereka juga mengungkapkan
bahwa dalam proses transisi dari kediktatoran ke pemerintah
demokratis, tekanan-tekanan yang terjadi dari berbagai kepentingan
akan menurunkan laju pertumbuhan ekonomi dalam jangka pendek,
namun dalam jangka panjang, pemerintahan yang demokratis akan
lebih berpeluang menciptakan pertumbuhan ekonomi yang tinggi
ketimbang kediktatoran.

Teori-teori klasik pembangunan: sebuah analisis komparatif


Kepustakaan pembangunan ekonomi pasca perang dunia kedua
didominasi oleh empat aliran yang terkadang bersaing satu sama lain.
Keempat pendekatan tersebut adalah:
1. Linear-stages-of-growth models
2. Theories and pattern of structural change
3. The international-dependence revolution
4. The neoclasical, freedom-market counterrevolution

Teori tahapan linier dan pembangunan sebagai pertumbuhan


Tahap-tahap pertumbuhan rostow
Menurut ajaran rostow, perubahan dari keterbelakangan menuju
kemajuan ekonomi dapat dijelaskan dalam satu seri tahapan yang
harus dilalui oleh semua negara. Menurut teori ini, semua negara maju
telah melampaui proses “tinggal landas menuju pertumbuhan ekonomi
yang berkesinambungan yang berlangsung secara otomatis”.
Sedangkan negara berkembang atau negara terbelakang, pada
umumnya masih menyusun rangka dasar untuk tinggal landas.
Salah satu taktik pokok pembangunan untuk tinggal landas adalah
pengerahan atau mobilisasi dana tabungan guna menciptakan bekal
investasi dalam jumlah yang memadai untuk mempercepat laju
pertumbuhan ekonomi. Mekanismenya dijelaskan oleh model
pertumbuhan Harrod-Domar.
Model perubahan struktural
Teori ini memusatkan perhatiannya pada mekanisme yang memungkinkan
negara-negara berkembang untuk mentransformasikan struktur
perekonomian dalam negeri mereka dari pola perekonomian pertanian
subten tradisional ke perekonomian yang lebih modern, lebih berorientasi
ke kehidupan perkotaan, serta memiliki sektor industri manufaktur yang
lebih bervariasi dan sektor jasa-jasa yang tangguh.
Teori pembangunan lewis
Salah satu model teoritis yang paling terkenal ini memusatkan
perhatian pada transformasi struktural suatu perekonomian substen,
yang dirumuskan oleh W. Arthur Lewis. Lalu kemudian diformalkan
oleh John Fei dan Gustav Ranis dengan model dua-sektor lewis.
Menurut model yang diajukan oleh lewis, perekonomian yang
terbelakang terdiri dari dua sektor, yakni: (1) sektor tradisional, dimana
sektor pedesaan subsisten yang kelebihan penduduk dan ditandai
dengan produktivitas marjinal tenaga kerja sama dengan nol. Dan (2)
sektor industri perkotaan modern yang tingkat produktivitasnya tinggi
dan menjadi tempat penampungan tenaga kerja yang ditransfer sedikit
demi sedikit dari sektor subsisten.
Kritik terhadap model lewis
Meskipun model dua-sektor lewis ini sederhana dan secara umum
sudah dapat menggambarkan pengalaman sejarah pertumbuhan
perekonomian negara maju, namun empat asumsi-asumsi
utamanya ternyata sama sekali tidak cocok dengan realitas yang
ada di berbagai negara dunia ketiga.
Pertama, secara implisit mengasumsikan bahwa tingkat pengalihan
tenaga kerja dan penciptaan tenaga kerja di sektor modern
sebanding dengan tingkat akumulasi modal sektor modern.
Asumsi kedua yang sering dan patut dipersoalkan dari model ini
adalah adanya dugaan bahwa pedesaan terjadi kelebihan tenaga
kerja, sedangkan di daerah perkotaan terjadi penyerapan faktor-
faktor produksi secara optimal (full employment).
Asumsi ketiga yaitu adanya dugaan tentang pasar tenaga kerja
yang kompetitif di sektor modern akan menjamin keberlangsungan
upah riil di perkotaan yang konstan sampai pada satu titik dimana
surplus penawaran tenaga kerja habis terpakai, tidak dapat
diterima.
Dan asumsi terakhirnya adalah asumsi tingkat hasil yang semakin
menurun di sektor modern.
Perubahan struktural dan pola-pola pembangunan
Sama halnya dengan model yang disusun lewis, analisis pola
pembangunan terhadap perubahan struktural juga memusatkan
perhatiannya pada proses yang mengubah struktur ekonomi, industri,
dan kelembagaan secara bertahap pada satu sistem ekonomi yang
terbelakang, sehingga memungkinkan untuk tampilnya industri-industri
baru untuk menggantikan kedudukan sektor pertanian sebagai roda
penggerak pertumbuhan ekonomi. Namun, berlainan dengan lewis dan
pandangan tahapan orisinal dari pembangunan, teori ini menyatakan
bahwa peningkata tabungan dan investasi merupakan syarat yang
harus dipenuhi, akan tetapi tidak akan memadai jika berdiri sendiri
dalam memacu pertumbuhan ekonomi. Pola ini juga mengisyaratkan
selain akumulasi modal, untuk pengadaan sumber daya fisik maupun
sumber daya manusia, diperlukan juga suatu rangkaian perubahan
yang saling berkaitan dalam struktur perekonomian negara yang
bersangkutan.

Revolusi ketergantungan internasional


Pada intinya, model ini memandang negara dunia ketiga sebagai korban
dari kekuan aneka faktor kelembagaan, politik, dan ekonomi, baik yang
berskala domestik maupun internasional. Mereka semua telah terjebak ke
dalam perangakap dependence dan dominace negara-negara kaya.
Model ketergantungan neokolonial
Model ini secara tidak langsung adalah nodel pengembangan dari
kaum marxis. Model ini menghubungkan ketidakseimangan antara
negara kaya dan miskin dalam satu sistem kapitalis dunia. Koeksistensi
tersebut digambarkan dengan negara-negara maju sebagai pusat, dan
negara berkembang menjadi pinggiran yang mengikuti pusatnya.
Pemikiran radikal seperti ini telah mendorong negar berkembang untuk
menjadi lebih mandiri dan independen dalam upaya-upaya
pembangunan mereka. Pandangan Neo-Marxis mencoba
menghubungkan kemiskinan yang terus berlanjut yang semakin parah
di negara-negara berkembang dengan keberadaan kebijaka-kebijakan
kelompok negara industri kapitalis dari belahan bumi utara yang dapat
menyebar luas dari kelompok-kelompok domestik kecil elit yang
berkuasa, yang mereka disebut kelompok comprador, di semua
negara-negara berkembang.
Model paradigma palsu
Menurut argumen model ini, para cendikiawan, para pemimpin serikat
pekerja, para ekonom, dan para pejabat negara berkembang, hampir
semuanya mendapat ajaran dari negara-negara maju. Tanpa disadari
mereka terlalu banyak menyerap konsep teori yang begitu hebat, akan
tetapi tidak cocok untuk diterapkan di daerah mereka sendiri. Sebagai
akibatnya, reformasi kelembagaan dan struktural yang sebenarnya
paling penting untuk menggalakkan pembangunan menjadi kurang
mendapat perhatian, atau bahkan terabaikan sama sekali.