Anda di halaman 1dari 32

1

A. Judul
Melatihkan Literasi Sains Siswa Melalui Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing pada
Materi Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Laju Reaksi
B. Bidang Kajian
Pendidikan Kimia
C. Latar Belakang Masalah
Berdasarkan lampiran peraturan menteri pendidikan nasional nomor 23 Tahun
2006 mengenai standar kompetensi lulusan kelompok mata pelajaran IPA (Kimia) pada
kurikulum 2006, disebutkan bahwasanya siswa harus dapat menunjukkan kemampuannya
dalam menganalisis gejala alam (Permendikbud, 2013). Pernyataan tersebut menunjukkan
kepada kita bahwa IPA bukan hanya penguasaan pengetahuan yang berupa konsep-konsep,
atau prinsip-prinsip saja, akan tetapi dalam penggunaannya secara umum terbatas pada
gejala-gejala alam. Perkembangan IPA tidak hanya ditunjukkan oleh kumpulan fakta saja,
tetapi juga oleh timbulnya metode ilmiah.
Literasi sains berarti mampu menerapkan konsep-konsep atau fakta yang
didapatkan di sekolah dengan fenomena fenomena alam yang terjadi di kehidupan seharihari. Pada taksonomi Bloom, literasi sains ini hampir sama dengan aplikasi konsep (C4)
dalam kehidupan sehari-hari. Literasi sains menurut (PISA, 2000) adalah kemampuan
menggunakan pengetahuan sains, mengidentifikasi pertanyaan, dan menarik kesimpulan
berdasarkan bukti-bukti, dalam rangka memahami serta membuat keputusan berkenaan
dengan alam dan perubahan yang dilakukan terhadap alam melalui aktivitas manusia.
PISA (Programme

For

International

Student

Assessment)

adalah

studi

internasional tentang prestasi literasi dan sains siswa. Studi ini dikoordinasikan oleh
OECD (Organisatiom for Economy Development) yang berkedudukan di Paris, Perancis.
PISA melakukan penilaian setiap tiga tahun sekali, dimulai

pada tahun 2000 dan

dilanjutkan pada tahun 2003, 2006, 2009, dan seterusnya. Tujuan dari PISA adalah untuk
mengukur prestasi literasi dan literasi sains siswa negara-negara peserta (Balitbang, 2015).
Literasi sains dirasa penting karena dapat mengembangkan beberapa kemampuan
diri, salah satunya adalah mampu memberikan penjelasan mengenai fenomena yang terjadi
berdasarkan konsep yang telah dipahami, serta dapat menggunakan metode ilmiah dalam
memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Secara garis besar literasi sains
memiliki arti yang sama yaitu mampu mengaplikasikan konsep-konsep keilmuwan dalam
memecahkan masalah sehari-hari.

PISA (2003) menetapkan tiga dimensi besar literasi sains, yaitu: konten
(pengetahuan sains), konteks (aplikasi sains) dan proses sains. Tiga kompetensi ilmiah
yang diukur dalam literasi sains yaitu: (1) mengidentifikasi isu-isu (masalah) ilmiah; (2)
menjelaskan fenomena ilmiah; (3) menggunakan bukti ilmiah.
Hasil studi PISA mengenai literasi sains menunjukkan bahwa, literasi sains siswa
Indonesia dari beberapa tahun berada dibawah rata-rata skor internasional (Balitbang,
2015). Rendahnya rata-rata skor literasi sains siswa di Indonesia ini menunjukkan bahwa
proses pembelajaran sains di sekolah masih mengabaikan pembentukan literasi sains
siswa. Kondisi ini menuntut adanya perbaikan proses pembelajaran sains yang dilakukan
di sekolah. Karena proses pembelajaran sains yang dilakukan di sekolah menjadi faktor
utama yang menentukan mutu hasil belajar sains siswa (Toharudin, 2011).
Hal ini didukung pula dari hasil pra-penelitian kami pada tanggal 9 Juni 2015 di
SMA Widya Dharma Surabaya, peneliti menyebarkan angket kepada 20 siswa dan dapat
disimpulkan bahwa 85% siswa menganggap bahwa mata pelajaran kimia dirasa sulit untuk
dipahami; 65% siswa mengatakan bahwa dalam belajar kimia tidak menghubungkan
materi dengan kehidupan sehari-hari, sehingga menyebabkan pembelajaran kimia menjadi
kurang bermakna dimata siswa; 65% siswa menganggap bahwa materi laju reaksi adalah
salah satu materi yang sulit dipahami. Hal ini diperkuat dengan hasil diskusi kami dengan
guru mata pelajaran kimia di SMA Widya Dharma Surabaya yang mengatakan bahwa
hanya 65% siswa yang mencapai nilai diatas KKM untuk materi ini. Hasil ini dianggap
kurang memuaskan karena sekolah hanya menetapkan nilai KKM untuk mata pelajaran
kimia adalah 70. Dari hasil penyebaran angket dan wawancara tersebut diperlukan suatu
upaya untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada materi ini.
Perbaikan proses pembelajaran menjadi salah satu solusi untuk mengatasi
rendahnya literasi sains siswa Indonesia. Terdapat beberapa model yang bisa digunakan
dalam melatihkan kemampuan literasi sains.

Menurut Oktarisa (2012) model

pembelajaran yang melatihkan kemampuan literasi sains adalah model pembelajaran


berbasis inkuiri. Salah satu strategi pembelajaran sains menurut Sanjaya (2009) adalah
strategi pembelajaran inkuiri terbimbing.
Pembelajaran inkuiri terbimbing merupakan pembelajaran yang berpusat pada
siswa. Pembelajaran ini dapat membantu siswa utuk menguasai konsep yang dipelajari.
Siswa bisa terlibat secara aktif dalam menemukan konsepnya sendiri dengan bantuan yang
diberikan oleh guru. Adanya pembelajaran ini membuat siswa bisa lebih mudah dalam
mengingat apa yang telah dipelajari karena konsep yang diperoleh berasal dari

penemuannya sendiri. Dengan begitu, proses pembelajaran sains menjadi lebih bermakna
bagi siswa dan juga dapat meningkatkan literasi sains siswa (Toharudin, 2011).
Dengan strategi pembelajaran inkuiri terbimbing diharapkan siswa dapat
meningkatkan kemampuan literasi sainsnya melalui observasi dan atau eksperimen untuk
mencari jawaban atau memecahkan masalah terhadap pertanyaan atau rumusan masalah
(Zuriyani, 2011).
Pembelajaran yang berbasis literasi sains dapat diterapkan dalam konsep kimia,
karena kimia merupakan bagian dari sains. Dalam penelitian ini konsep kimia yang akan
disampaikan adalah konsep faktor faktor yang mempengaruhi laju reaksi. Konsep faktor
faktor yang mempengaruhi laju reaksi dirasa memenuhi tiga prinsip dasar dalam
menentukan konten PISA yang dikemukakan oleh Hayat dan Yusuf (2010) yaitu: (1)
Konsep yang diujikan harus relevan dengan situasi kehidupan yang nyata. Konsep faktorfaktor yang mempengaruhi laju reaksi dapat ditemukan dilingkungan atau kehidupan kita
sehari-hari, contoh aplikasi dari lemari es dan pematangan buah pisang menggunakan
karbit; (2) Konsep faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi diperkirakan masih akan
terus digunakan sekurang-kurangnya untuk satu dasawarsa ke depan; dan (3) Konsep
harus berkaitan dengan kompetensi proses yaitu: (1) Mengidentifikasi isu ilmiah; (2)
Menjelaskan fenomena ilmiah; dan (3) Menggunakan bukti ilmiah. Faktor-faktor yang
mempengaruhi laju reaksi adalah salah satu konsep kimia yang bersifat kontekstual,
artinya siswa dapat memahami makna materi yang dipelajarinya dengan mengkaitkan
materi tersebut dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari. Berdasarkan alasan tersebut
maka konsep laju reaksi dirasa cocok digunakan sebagai materi untuk melatihkan
kemampuan literasi sains siswa.
Beberapa penelitian terdahulu yang cukup relevan dengan pembelajaran inkuiri dan
juga literasi sains adalah diantaranya; penelitian oleh Islami (2013) yang menunjukkan
bahwa pembelajaran inkuiri terbimbing dapat meningkatkan literasi sains siswa pada
kategori sedang, namun secara statistik tidak berbeda signifikan antara rata-rata literasi
sains siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol. Penelitian Ngertini (2013) juga
menunjukkan bahwa terdapat perbedaan kemampuan pemahaman konsep dan literasi sains
antara kelompok siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model pembelajaran inkuiri
terbimbing dibandingkan dengan kelompok siswa yang mengikuti pembelajaran dengan
model pengajaran langsung (Direct Instruction).

Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas, maka peneliti bermaksud untuk


melakukan penelitian dengan judul Melatihkan Literasi Sains Siswa melalui Strategi
Pembelajaran Inkuiri Terbimbing pada Materi Laju Reaksi.
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka dirumuskan permasalahan
penelitian sebagai berikut:
1. Bagaimanakah kemampuan literasi sains siswa dengan menerapkan strategi
pembelajaran inkuiri terbimbing pada materi laju reaksi?
2. Bagaimanakah hasil belajar siswa setelah diterapkannya strategi pembelajaran
inkuiri terbimbing pada materi laju reaksi?
E. Tujuan Penelitian
Tujuan secara umum penelitian ini adalah untuk melatihkan literasi sains siswa.
Adapun secara khusus tujuan penelitian ini adalah:
1. Memperoleh informasi mengenai kemampuan literasi sains siswa dengan
menerapkan strategi pembelajaran inkuiri terbimbing pada materi laju reaksi.
2. Memperoleh informasi hasil belajar siswa setelah diterapkannya strategi strategi
pembelajaran inkuiri terbimbing pada materi laju reaksi.
F. Manfaat Penelitian
Secara teoritis penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat, yaitu:
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan referensi atau masukan bagi
perkembangan ilmu pendidikan khususnya pendidikan kimia.
Secara empiris penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat antara lain:
1. Bagi Siswa
a. Siswa dapat melatih kemampuan literasi sains dengan baik.
b. Siswa lebih aktif dalam proses pembelajaran kimia.
c. Siswa lebih berminat dengan pelajaran kimia.
d. Siswa mendapatkan pengalaman belajar bermakna.
2. Bagi Guru
a. Model pembelajaran inkuiri terbimbing dapat digunakan sebagai alternatif model
pembelajaran sehingga pembelajaran kimia lebih menarik.
b. Sebagai sumbangan pemikiran dalam meningkatkan kualitas pendidikan di
Indonesia.

3. Bagi Peneliti
a. Dapat mengetahui kemampuan literasi sains siswa.

b. Dapat mengembangkan kemampuan melakukan penelitian.


c. Mendapatkan masukan mengenai keterlaksanaan pembelajaran inkuiri terbimbing.
4. Bagi Sekolah
a.

Penelitian ini memberikan sumbangan positif dalam usaha meningkatkan mutu


pendidikan khususnya literasi sains siswa.

b. Penelitian ini memberikan wacana baru bagi sekolah untuk menerapkan


pembelajaran inkuiri terbimbing sebagai pembelajaran yang inovatif dan lebih
tepat untuk meningkatkan literasi sains siswa.
5. Bagi Dunia Pendidikan
Strategi pembelajaran inkuiri terbimbing dapat digunakan sebagai alternatif dalam
pembelajaran inovatif.
G. Definisi Operasional, Asumsi dan Batasan Masalah
1. Definisi Operasional
Supaya tidak terjadi terjadi kesalahan dalam menafsirkan judul atau
permasalahan, maka peneliti perlu memberikan definisi sebagai berikut:
a. Literasi Sains
Literasi sains yaitu kemampuan seseorang dalam memahami serta
mengaplikasikan suatu konsep kimia dalam kehidupan sehari-hari. Kemampuan
yang dapat dikembangkan dalam literasi sains adalah siswa mampu memberikan
penjelasan mengenai fenomena yang terjadi berdasarkan konsep yang telah
dipahami, serta dapat menggunakan metode ilmiah dalam memecahkan masalah
dalam kehidupan sehari-hari. Dalam pengukuran literasi sains, PISA menetapkan
tiga dimensi besar literasi sains, yakni konten sains, konteks sains, dan proses
sains. Konten sains merujuk pada konsep-konsep ilmiah yang diperlukan untuk
memahami fenomena alam atau kejadian yang kita jumpai dalam kehidupan seharihari. Konteks aplikasi sains merujuk pada situasi dalam kehidupan sehari-hari.
Proses sains merujuk pada metode ilmiah yang digunakan siswa untuk menjawab
suatu pertanyaan atau dalam memecahkan masalah. Tiga kompetensi ilmiah yang
diukur dalam literasi sains yaitu: (1) mengidentifikasi isu-isu (masalah) ilmiah; (2)
menjelaskan fenomena ilmiah; (3) menggunakan bukti ilmiah. Literasi sains siswa
dikatakan baik jika nilai yang diperoleh siswa adalah 70 (Toharudin, 2011).
b. Inkuiri Terbimbing
Inkuiri terbimbing merupakan pembelajaran berbasis inkuiri yang
menekankan keterlibatan aktif peserta didik dalam pembelajaran untuk

membangun pengertian dan pengetahuan yang baru. Metode inkuiri terbimbing


digunakan untuk siswa yang belum berpengalaman belajar dengan metode inkuiri,
untuk menemukan suatu konsep siswa memerlukan bimbingan bahkan
memerlukan pertolongan guru sedikit demi sedikit. Langkah-langkah dalam proses
pembelajaran dengan menggunakan strategi pembelajaran inkuiri: 1) Orientasi; 2)
Merumuskan Masalah; 3) Mengajukan Hipotesis; 4) Mengumpulkan Data; 5)
Menguji Hipotesis dan 6) Merumuskan Kesimpulan (Sanjaya, 2009).
c. Hasil Belajar
Hasil belajar adalah penilaian hasil yang sudah dicapai oleh setiap siswa
dalam ranah kognitif, afektif dan psikomotor yang diperoleh sebagai akibat usaha
kegiatan belajar dan dinilai dalam periode tertentu. Diantara ketiga ranah tersebut,
ranah kognitiflah yang paling banyak dinilai oleh para guru di sekolah, karena
berkaitan dengan kemampuan para siswa dalam menguasai materi (Sudjana, 2006).
Hasil belajar dikatakan baik jika siswa memperoleh nilai 70.
d. Laju Reaksi
Laju reaksi merupakan materi kimia yang diajarkan di SMA Kelas XI
semester gasal. Kompetensi Dasar dalam materi ini adalah menganalisis faktor
faktor yang mempengaruhi laju reaksi melalui percobaan dan menjelaskan
pengaruh faktor faktor yang mempengaruhi laju reaksi terhadap laju reaksi.
Indikator yang harus dicapai oleh siswa adalah mengidentifikasi pertanyaan ilmiah;
Menjelaskan fenomena ilmiah dan menggunakan bukti ilmiah. Materi laju reaksi
erat kaitannya dengan aplikasi dalam kehidupan sehari-hari atau yang ada di dalam
lingkungan sekitar kita, sehingga materi laju reaksi ini cocok digunakan untuk
melatihkan literasi sains siswa. Konsep faktor faktor yang mempengaruhi laju
reaksi dirasa memenuhi tiga prinsip dasar dalam menentukan konten PISA yang
dikemukakan oleh Hayat dan Yusuf (2010) yaitu: (1) Konsep yang diujikan harus
relevan dengan situasi kehidupan yang nyata. Konsep faktor-faktor yang
mempengaruhi laju reaksi dapat ditemukan dilingkungan atau kehidupan kita
sehari-hari, contoh aplikasi dari lemari es dan pematangan buah pisang
menggunakan karbit; (2) Konsep faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi
diperkirakan masih akan terus digunakan sekurang-kurangnya untuk satu
dasawarsa ke depan; dan (3) Konsep harus berkaitan dengan kompetensi proses
yaitu: (1) Mengidentifikasi isu ilmiah; (2) Menjelaskan fenomena ilmiah; dan (3)

Menggunakan bukti ilmiah. Faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi adalah


salah satu konsep kimia yang bersifat kontekstual, artinya siswa dapat memahami
makna materi yang dipelajarinya dengan mengkaitkan materi tersebut dengan
konteks kehidupan mereka sehari-hari. Berdasarkan alasan tersebut maka konsep
laju reaksi dirasa cocok digunakan sebagai materi untuk melatihkan kemampuan
literasi sains siswa.
2. Asumsi
Dalam penelitian ini hal-hal yang diasumsikan adalah:
a. Siswa dalam menjawab soal bersikap objektif berdasarkan kemampuan yang
dimiliki.
b. Pengamat dalam melakukan pengamatan bersikap obyektif.
3. Pembatasan Masalah
a. Penelitian ini akan dilakukan empat kali pertemuan. Dengan rincian agenda,
pertemuan pertama pemberian materi pengaruh Konsentrasi terhadap laju reaksi.
Pertemuan kedua diberikan materi pengaruh suhu terhadap laju reaksi. Pertemuan
ketiga diberikan materi pengaruh luas permukaan dan pertemuan keempat
diberikan materi pengaruh katalis terhadap laju reaksi.
b. Dimensi literasi sains yang diukur yaitu : konten (pengetahuan sains), konteks
(aplikasi sains) dan proses sains.
c. Hasil belajar yang diteliti hanya pada ranah kognitif

H. Kajian Pustaka
1. Teori Konstruktivis
Teori belajar yang mendasari pembelajaran Inkuiri

adalah teori belajar

kontruktivis. Teori belajar ini dikembangkan oleh Piaget. Menurut Piaget,


pengetahuan itu akan bermakna manakala dicari dan ditemukan sendiri oleh siswa.
Sejak kecil, menurut Piaget, setiap individu berusaha dan mampu mengembangkan
pengetahuannya sendiri melalui skema yang ada dalam struktur kognitifnya. Skema
itu secara terus-menerus diperbarui dan diubah melalui proses asimilasi dan
akomodasi (Toharudin, 2011).
Menurut Arifin (2000) pandangan belajar menurut paham konstruktivisme
adalah:
a) Suatu proses dimana pengetahuan diperoleh dengan jalan mengkaitkan informasi
baru kepada pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya (Prior knowledge) secara
individual.
b) Pengetahuan baru memiliki beragam makna tergantung pada bagaimana
pengetahuan itu diperoleh.
c) Internalisasi dari suatu pengetahuan terjadi bila seorang menangkap informasi
baru, setelah dikaitkan dengan pengetahuan yang lama tidak cocok, terjadi
miskonsepsi dan kondisi disequilibrium.
d) Belajar merupakan konteks sosial yang menstimulasi untuk mendapatkan
kejelasan.
e) Berbahasa memberi dorongan orang untuk berpikir.
2. Teori Belajar Kognitivisme
Teori kognitivisme mementingkan proses belajar dibandingkan dengan hasil
belajar. Dalam teori ini lebih menekankan bahwa perilaku seseorang ditentukan oleh
persepsi serta pemahamnnya tentang situasi yang berhubungan dengan tujuan
belajarnya. Model belajar kognitif merupakan suatu bentuk teori belajar yang sering
disebut sebagai model perseptual. Belajar merupakan perubahan persepsi dan
pemahaman yang tidak selalu dapat terlihat sebagai tingkah laku yang tampak. Teori
ini berpandangan bahwa belajar merupakan proses internal yang mencakup ingatan,
retensi pengolahan informasi, emosi dan aspek kejiwaan lainnya. Ada beberapa teori
belajar berbasis kognitivisme antara lain, teori kognitif Gestalt dan teori kognitif
Piaget. Gestalt memandang bahwa objek atau peristiwa tertentu akan dipandang
sebagai suatu keseluruhan yang terorganisasi. Sedangkan Teori perkembangan Piaget,
memandang perkembangan kognitif sebagai suatu proses dimana anak secara aktif

membangun sistem makna dan memahami realitas melalui pengalaman -pengalaman


dan interaksi interaksi mereka.
3. Teori Belajar Bermakna dari Ausubel
Teori pembelajaran Ausubel merupakan salah satu dari sekian banyaknya teori
pembelajaran yang menjadi dasar dalam cooperative learning. David Ausubel adalah
seorang ahli psikologi pendidikan. Menurut Ausubel bahan subjek yang dipelajari
siswa mestilah bermakna (meaningfull). Pembelajaran bermakna merupakan suatu
proses mengaitkan informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam
struktur kognitif seseorang. Struktur kognitif ialah fakta-fakta, konsep-konsep, dan
generalisasi-generalisasi yang telah dipelajari dan diingat siswa. Pembelajaran
bermakna adalah suatu proses pembelajaran di mana informasi baru dihubungkan
dengan struktur pengertian yang sudah dimiliki seseorang yang sedang melalui
pembelajaran.
Pembelajaran bermakna terjadi apabila siswa boleh menghubungkan fenomena
baru ke dalam struktur pengetahuan mereka. Artinya, bahan subjek itu mesti sesuai
dengan keterampilan siswa dan mesti relevan dengan struktur kognitif yang dimiliki
siswa. Oleh karena itu, subjek mesti dikaitkan dengan konsep-konsep yang sudah
dimiliki para siswa, sehingga konsep-konsep baru tersebut benar-benar terserap
olehnya. Dengan demikian, faktor intelektual-emosional siswa terlibat dalam kegiatan
pembelajaran (Sanjaya, 2011).
4. Strategi Pembelajaran Inkuiri
a) Pengertian Inkuiri
Inkuiri artinya mencari kebenaran, informasi, dan pengetahuan dengan
bertanya atau mencari tahu. Pada dasarnya rasa ingin tahu manusia ini sudah ada
sejak lahir. Proses pembelajaran menjadi kunci utama siswa untuk memperoleh
pengetahuan yang baru. Proses pembelajaran inkuiri adalah salah satu cara yang
melibatkan siswa secara aktif untuk membangun pengertian dan pengetahuan yang
baru. Pengetahuan tersebut, bagi siswa, dapat digunakan untuk menjawab
pertanyaan dan mengembangkan solusi atau mendukung pandangan tertentu
terhadap suatu masalah. Pembelajaran berbasis inkuiri dapat membantu siswa
untuk lebih kreatif dan berpikir luas (Toharudin, 2011).
b) Strategi Pembelajaran Inkuiri Terbimbing

10

Pembelajaran inkuiri merupakan pembelajaran yang berpusat pada siswa.


Pembelajaran

inkuiri

mengembangkan

bertujuan

disiplin

untuk

intelektual

dan

mendorong

siswa

keterampilan

agar

berpikir

dapat
dengan

memberikan pertanyaan-pertanyaan. Strategi pembelajaran inkuiri menekankan


kepada proses mencari dan menemukan. Materi pelajaran diberikan secara tidak
langsung. Peran siswa dalam strategi ini adalah mencari dan menemukan sendiri
materi pelajaran, sedangkan guru berperan sebagai fasilitator dan pembimbing
siswa untuk belajar (Suyanti, 2010).
Metode inkuiri terbimbing biasanya digunakan bagi siswa-siswa yang
belum berpengalaman belajar dengan menggunakan metode inkuiri. Pada tahap
permulaan diberikan lebih banyak bimbingan, sedikit demi sedikit bimbingan itu
dikurangi seperti yang dikemukakan oleh Zuriyani (2011), bahwa dalam usaha
menemukan suatu konsep siswa memerlukan bimbingan bahkan memerlukan
pertolongan guru setapak demi setapak. Siswa memerlukan bantuan untuk
mengembangkan kemampuannya memahami pengetahuan baru. Walaupun siswa
harus berusaha mengatasi kesulitan-kesulitan yang dihadapi tetapi pertolongan
guru tetap diperlukan.
Ciri utama pembelajaran inkuiri menurut Sanjaya (2011) adalah:
1) Strategi inkuiri menekankan kepada aktivitas siswa secara maksimal untuk
mencari dan menemukan, artinya siswa ditempatkan sebagai subjek belajar
sehingga mampu menemukan sendiri inti dari materi pelajaran.
2) Seluruh aktivitas dilakukan oleh siswa diarahkan untuk menemukan jawaban
dari suatu permasalahan yang dipertanyakan sehingga timbul rasa percaya diri.
Dalam hal ini guru adalah sebagai fasilitator atau motivator belajar bagi siswa.
3) Tujuan dari strategi pembelajaran inkuiri terbimbing adalah mengembangkan
kemampuan berpikir secara sistematis, logis dan kritis, atau mengembangkan
kemampuan intelektual sebagai bagian dari proses mental.
Pembelajaran berbasis inkuiri akan efektif apabila:
1) Seorang guru harus berusaha agar siswa dapat menemukan sendiri jawaban dari
suatu permasalahan jadi proses belajar lebih penting daripada konten materi
2)
3)
4)
5)
6)

pelajaran.
Bahan pembelajaran merupakan sebuah kesimpulan yang perlu dibuktikan.
Proses pembelajaran dimulai dari rasa ingin tahu siswa tehadap sesuatu.
Siswa memiliki kemauan dan kemampuan berpikir
Agar mudah dikendalikan, maka jumlah siswa sebaiknya tidak terlalu banyak
Guru seharusnya memiliki waktu yang banyak untuk melakukan pendekatan

yang berpusat pada siswa (Sanjaya, 2011).


Prinsip-prinsip dalam penggunaan strategi pembelajaran inkuiri diantaranya:

11

1) Berorientasi pada pengembangan intelektual


Proses pembelajaran inkuiri memiliki tujuan utama dalam pengembangan
kemampuan berpikir dan berorientasi pada proses belajar.
2) Prinsip Interaksi
Interaksi siswa dengan guru yang berperan sebagai pengatur lingkungan dan
pengatur interaksi belajar merupakan proses pembelajaran. Dan guru harus
dapat mengarahkan siswa untuk mengembangkan kemampuan berpikir siswa.
3) Prinsip Bertanya
Guru diharapkan berperan sebagai penanya yang handal dengan pertanyaanpertanyaan yang mengarahkan siswa untuk semakin banyak berpikir dan
bertanya dengan kritis.
4) Prinsip belajar untuk berpikir
Belajar untuk memikirkan sesuatu yang memaksimalkan seluruh potensi otak.
5) Prinsip Keterbukaan
Tugas guru sebagai fasilitator adalah dengan memberikan ruang untuk siswa
dalam mengemukaan pendapatnya juga analisisnya terhadap hipotesis yang
ingin dibuktikan kebenarannya (Sanjaya, 2011).
Secara umum langkah-langkah dalam strategi pembelajaran inkuiri terdiri
dari enam tahap sebagai berikut:
1) Orientasi
Langkah orientasi merupakan langkah pembinaan suasana belajar yang
kondusif dan responsif. Guru memberikan rangsangan dan mengajak siswa
untuk memecahkan sebuah permasalahan. Hal-hal yang dapat dilakukan dalam
tahapan orientasi adalah menjelaskan topik, tujuan pembelajaran dan hasil
belajar yang diharapkan dapat tercapai oleh siswa, menjelaskan kegiatan
pembelajaran yang dapat mencapai tujuan pembelajaran, menjelaskan
pentingnya topik yang akan dipelajari dan kegiatan belajar sebagai motivasi
bagi siswa.
2) Merumuskan Masalah
Merumuskan masalah merupakan langkah yang membawa siswa pada
persoalan yang mengandung teka-teki. Persoalan yang diberikan adalah
persoalan yang menantang siswa untuk berpikir, teka-teki dalam inkuiri harus
merupakan konsep yang jelas dan pasti. Konsep-konsep dalam masalah adalah
konsep-konsep yang sudah diketahui terlebih dahulu oleh siswa.
3) Merumuskan Hipotesis
Hipotesis merupakan jawaban sementara dari suatu permasalahan yang sedang
dikaji. Guru harus dapat memberikan pertanyaan yang membuat siswa

12

berhipotesis untuk menjawab pertanyaan tersebut. Dan hipotesis tersebut harus


diuji kebenarannya.
4) Mengumpulkan Data
Mengumpulkan data adalah aktivitas menjaring informasi yang dibutuhkan
untuk

menguji

hipotesis

yang

diajukan.

Proses

pengumpulan

data

membutuhkan motivasi yang kuat dalam belajar, ketekunan dan kemampuan


menggunakan potensi berpikirnya. Tugas guru dalam tahapan ini adalah
mengajukan pertanyaan yang dapat mendorong siswa untuk mencari informasi
5)

yang dibutuhkan
Menguji Hipotesis
Menguji hipotesis merupakan proses menentukan jawaban yang dianggap
diterima sesuai dengan data sehingga guru dapat mengembangkan kemampuan
berpikir rasional siswa. Artinya, kebenaran jawaban bukan hanya berdasarkan
argumentasi tetapi didukung oleh data yang ditemukan dan dapat

6)

dipertanggung jawabkan.
Merumuskan kesimpulan
Merumuskan kesimpulan adalah proses mendeskripsikan temuan yang
diperoleh berdasarkan hasil pengujian hipotesis. Untuk memperoleh
kesimpulan (Suyanti, 2010 dan Sanjaya, 2011).

5.

Kelebihan dan Kelemahan Pembelajaran Inkuiri


Menurut Suyanti (2010) pembelajaran inkuiri memiliki kelebihan dan
kelemahan disajikan dalam Tabel 2.1:
Tabel 2.1 Kelebihan dan Kelemahan Pembelajaran Inkuiri
No
1.

Kelebihan
Dianggap membantu
dalam

mengembangkan

siswa

Kelemahan
Dipersyaratkan
keharusan

atau

adanya persiapan mental untuk

memperbanyak persediaan dan

cara belajar ini

penguasaan keterampilan dan


2.

proses kognitif siswa


Strategi penemuan

Metode

3.

membangkitkan gairah siswa


Memberi kesempatan pada

untuk mengajar kelas besar


Harapan yang dilimpahkan pada

siswa

strategi

untuk

bergerak

maju

sesuai dengan kemampuannya

ini

kurang

ini

berhasil

mungkin

mengecewakan guru dan siswa


yang sudah terbiasa dengan

13

No

4.

Kelebihan

Siswa

dapat

Kelemahan
perencanaan dan pengajaran

mengarahkan

sendiri cara belajarnya

secara tradisional
Metode ini dianggap terlalu
mementingkan
pengertian

perolehan
dan

kurang

diperhatikan diperolehnya sikap


5.

dan keterampilan
Membantu memperkuat pribadi Fasilitas untuk mencoba ide-ide

6.

siswa
Strategi berpusat pada anak

mungkin belum lengkap


Strategi pembelajaran inkuiri
sulit mengontrol kegiatan dan

7.

8.

Membantu perkembangan siswa

keberhasilan siswa
Strategi pembelajaran inkuiri

menuju skeptisisme yang sehat

akan

dan

berbenturan dengan kebiasaan

menemukan

kebenaran

sulit

dilakukan

jika

akhir dan mutlak


Strategi pembelajaran inkuiri

belajar siswa
Untuk menerapkan

strategi

dianggap

pembelajaran

inkuiri

Dalam

lebih

bermakna.

pembelajaran

menekankan

inkuiri

memerlukan waktu yang relatif

kepada

panjang.

pengembangan aspek kognitif,


apektif dan psikomotorik secara
9.

seimbang
Strategi pembelajaran inkuiri

Jika

memberikan ruang gerak kepada

pembelajaran di kelas adalah

siswa

pengusaan

untuk

belajar

sesuai

dengan gaya belajar mereka

yang

strategi

diukur
materi

dalam
pelajaran,

pembelajaran

inkuiri

akan sulit diimplementasikan


oleh guru
10.

Strategi pembelajaran inkuiri


sesuai dengan

perkembangan

psikologi belajar modern yang


menganggap

belajar

adalah

proses perubahan tingkah laku


karena adanya pengalaman.

14

No

Kelebihan

11.

Strategi pembelajaran inkuiri

Kelemahan

dapat melayani kebutuhan siswa


yang memiliki kemampuan di
12.

atas rata-rata.
Strategi inkuiri mengembangkan
berbagai

macam

kompetensi

dan pengetahuan yang dimiliki


oleh siswa
Berdasarkan pembahasan mengenai strategi pembelajaran inkuiri dapat diambil
kesimpulan bahwa strategi pembelajaran inkuiri berpusat pada siswa yang lebih
menekankan pada proses belajar di kelas daripada hasil belajar. Proses pembelajaran
inkuiri menekankan pada aktivitas siswa di kelas dengan mengikuti tahap orientasi,
penyajian masalah, perumusan hipotesis, pengumpulan data, pengujian hipotesis, dan
perumusan kesimpulan. Sedangkan pada pembelajaran inkuiri terbimbing, penyajian
masalah dapat diberikan oleh guru atau bersumber dari buku teks.
6. Literasi Sains
a) Pengertian Literasi Sains
Literasi sains (science literacy, LS) berasal dari gabungan dua kata Latin
yaitu literatus yang artinya ditandai dengan huruf, melek huruf, atau berpendidikan,
dan scientia yang artinya memiliki pengetahuan. Menurut C.E de Boer (1991) dalam
Toharudin (2011), orang pertama yang menggunakan istilah literasi sains adalah
Paul de Hart Hurt dari Stanford University. Menurut Hurt, Science literacy berarti
tindakan memahami sains dan mengaplikasikannya bagi kebutuhan masyarakat
(Toharudin, 2011).
Literasi sains menurut (PISA, 2000) adalah kemampuan menggunakan
pengetahuan

sains,

mengidentifikasi

pertanyaan,

dan

menarik

kesimpulan

berdasarkan bukti-bukti, dalam rangka memahami serta membuat keputusan


berkenaan dengan alam dan perubahan yang dilakukan terhadap alam melalui
aktivitas manusia. Literasi sains berarti mampu menerapkan konsep-konsep atau
fakta yang didapatkan di sekolah dengan fenomena fenomena alam yang terjadi di
kehidupan sehari-hari. Aplikasi konsep dalam kehidupan sehari-hari akan
menciptakan kemampuan dalam menciptakan sesuatu.

Pada taksonomi Bloom,

15

literasi sains ini hampir sama dengan aplikasi konsep (C4) dalam kehidupan seharihari.
Kemampuan yang dapat dikembangkan dalam literasi sains adalah salah
satunya mampu memberikan penjelasan mengenai fenomena yang terjadi
berdasarkan konsep yang telah dipahami, serta dapat menggunakan metode ilmiah
dalam memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Secara garis besar literasi
sains memiliki arti yang sama yaitu mampu mengaplikasikan konsep-konsep
keilmuwan dalam memecahkan masalah sehari-hari.
Pada PISA 2009 definisi literasi sains tidak berbeda dengan PISA 2006,
hanya saja pada PISA 2009, domain sikap tidak dimasukan dalam tes item seperti
terlampir pada gambar 2.1 di bawah ini.

Gambar 2.1 Tes Item PISA 2009


(PISA, 2010)
Berdasarkan pembahasan mengenai literasi sains dapat diambil sebuah
definisi mengenai literasi sains yaitu kemampuan seseorang dalam menguasai
konsep sains dan kemampuan seseorang untuk menggunakan konsep-konsep sains
tersebut dalam kesehariannya untuk mengambil sebuah keputusan dalam bertindak
maupun bersikap terhadap lingkungan sekitarnya.
b) Dimensi Literasi Sains
PISA 2000 dan 2003 menetapkan tiga dimensi besar literasi sains dalam
pengukurannya, yakni aspek konten sains, konteks sains, dan proses sains. PISA 2006
mengembangkan dimensi literasi sains menjadi empat dimensi, tambahannya yaitu
aspek sikap siswa akan sains (OECD, 2007).
Empat dimesi besar literasi sains tersebut adalah:
1) Aspek Konten Sains
Aspek konten sains merujuk pada konsep-konsep yang diperlukan untuk
memahami fenomena alam. PISA tidak membatasi konten sains hanya pada
pengetahuan yang menjadi materi kurikulum sains di sekolah, tapi juga termasuk

16

pengetahuan yang dapat diperoleh dari sumber lain. Dalam hal ini konten sains
yang dinilai adalah merupakan pokok bahasan dari materi laju reaksi pada sub
materi faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi.
2) Aspek Konteks Sains
Aspek konteks sains menurut PISA, lebih menekankan pada aplikasi
konsep-konsep sains pada kehidupan sehari-hari. Konteks sains yang digunakan
pada PISA (2000) terdiri dari kesehatan, sumber daya alam, lingkungan, bahaya,
sains dan teknologi. Dalam hal ini konteks sains yang dinilai adalah aplikasi dari
materi laju reaksi yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.
3) Aspek Proses
Proses sains didefinisikan sebagai aktivitas yang berpusat pada
kemampuan untuk memperoleh, menafsirkan dan bertindak atas bukti. Lima
proses dalam OECD/PISA adalah:
a. Mengenali pertanyaan ilmiah
b. Mengidentifikasi bukti
c. Menarik kesimpulan
d. Mengkomunikasikan kesimpulan
e. Menunjukkan pemahaman konsep ilmiah
c) Kompetensi Literasi Sains
Ada tiga kompetensi ilmiah yang diukur dalam literasi sains.
1. Pertama, mengidentifikasi isu-isu (masalah) ilmiah: mengenali masalah yang
mungkin untuk penyelidikan ilmiah, mengidentifikasi kata kunci untuk mencari
informasi ilmiah, Indikator literasi sainsnya yaitu mengenali fitur kunci dari
penyelidikan ilmiah. Indikator pencapaian yang dinilai pada kompetensi ini adalah
ketepatan dalam menuliskan hasil pengamatan pada percobaan. Kompetensi ini
melatih kemampuan siswa untuk mengidentifikasi fakta berdasarkan hasil dari
percobaan, sehingga siswa mengetahui hasil dari suatu reaksi kimia.
2. Kedua, menjelaskan fenomena ilmiah: menerapkan ilmu pengetahuan dalam situasi
tertentu, menggambarkan atau menafsirkan fenomena ilmiah dan memprediksi
perubahan, mengidentifikasi deskripsi yang tepat, memberikan penjelasan, dan
prediksi. Indikator pencapaian yang dinilai pada kompetensi ini adalah pemahaman
siswa terhadap materi, untuk mengukur sejauh mana siswa memahami suatu
konsep sehingga dapat menggunakan pengetahuan yang telah dimiliki untuk
mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
3. Ketiga, menggunakan bukti ilmiah: menafsirkan bukti lmiah dan membuat
kesimpulan dan mengkomunikasikan, mengidentifikasi asumsi, bukti, dan alasan di
balik kesimpulan, berkaca pada implikasi sosial dari ilmu pengetahuan dan

17

perkembangan teknologi (Toharudin, 2011). Indikator pencapaian yang dinilai


dalam kompetensi ini adalah ketepatan siswa dalam menuliskan kesimpulan.
d) Literasi Sains dalam Kimia
Menurut standar kompetensi lulusan yang terdapat pada Kurikulum (2006),
terdapat dua tujuan mata pelajaran kimia di sekolah yang sejlan dengan literasi sains,
yaitu:
1) Kemampuan untuk dapat mengembangkan pengalaman agar dapat merumuskan
masalah, mengajukan dan menguji hipotesis melalui percobaan, menentukan
variabel, merancang dan merakit instrumen, mengumpulkan, mengolah dan
menafsirkan data, menarik kesimpulan, serta mengkomunikasikan hasil percobaan
secara lisan dan tertulis.
2) Mengembangkan kemampuan bernalar untuk memahami hukum dasar

serta

menggunakan konsep kimia untuk menjelaskan berbagai peristiwa alam dan


menyelesaikan masalah dalam kehidupan sehari-hari
Dengan dua tujuan dari pelajaran kimia diatas, diharapkan sekolah sebagai
lembaga pendidikan formal dapat menciptakan lingkungan pembelajaran demi
tercapainya tujuan pelajaran kimia tersebut. Untuk itu sebagai seorang guru tentu kita
harus memiliki wawasan pembelajaran seperti apa yang bisa diaplikasikan agar
kemampuan literasi sains siswa dapat meningkat. Komponen-komponen pembelajaran
mulai dari perencanaan, proses dan evaluasi harus dikuasai oleh guru agar tujuan yang
diinginkan dapat tercapai.
e) Prinsip-prinsip penting dalam pembelajaran untuk melatihkan literasi sains
Menurut Oktarisa (2012) prinsip-prinsip penting yang harus ada dalam sebuah
pembelajaran yang bertujuan untuk melatihkan kemampuan literasi sains pada siswa
antara lain:
1) Membuat pembelajaran lebih konseptual, sehingga siswa mampu mengintegrasikan
konsep dengan kehidupan sehari-hari. Setelah siswa memahami konsep, siswa
dituntun agar dapat melihat aplikasi dari konsep yang telah dipelajari dalam
kehidupan sehari-hari.
2) Agar siswa lebih termotivasi dalam belajar, maka guru harus dapat menyediakan
pembelajaran yang interaktif.
3) Buat pembelajaran lebih konseptual, siswa selalu terpapar dengan informasi dan
peristiwa terbaru yang terjadi yang berkaitan dengan konsep yang dipelajari.

18

4) Buat topik yang dipelajari ada kaitannya dengan isu sosial yang sedang hangat
dibicarakan.
5) Siswa diajak untuk memahami topk-topik secara lebih mendalam sehingga siswa
benar-benar mengerti mulai dari konsep sampai aplikasi mengenai topik tersebut
dalam kehidupan sehari-hari.
Kelima prinsip diatas adalah hal-hal minimal yang harus ada dalam sebuah
pembelajaran yang bertujuan untuk meningkatkan literasi sains.
7. Laju Reaksi
Kecepatan suatu laju reaksi dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Pada
penelitian ini materi yang digunakan yaitu faktor luas permukaan dan faktor suhu.
a) Faktor Luas Permukaan terhadap Laju Reaksi
Pengaruh faktor luas permukaan berlaku untuk reaksi yang melibatkan zat
padat dan gas, zat padat dan zat cair, dan termasuk kasus dimana zat padat berlaku
sebagai katalis. Semakin zat padat terbagi menjadi bagian kecil-kecil, semakin
cepat reaksi berlangsung. Peluang zat-zat untuk saling berinteraksi adalah semakin
besar ketika permukaan-permukaan yang saling berinteraksi/bersentuhan semakin
besar, walaupun tidak semua sentuhan menyebabkan terjadinya reaksi. Dengan
demikian, laju reaksi akan semakin cepat jika luas bidang sentuh semakin besar.
Padatan berbentuk serbuk halus menghasilkan reaksi yang lebih cepat
dibandingkan bongkahan zat padat walaupun dengan massa yang sama. Hal ini
dikarenakan padatan berbentuk serbuk memiliki luas permukaan bidang sentuh
yang lebih besar daripada padatan berbentuk lempeng ayau butiran. Untuk lebih
jelasnya perhatikan gambar berikut:

Gambar 2.1 Semakin kecil ukuran zat, luas permukaan semakin besar
(Justiana, 2009)
Sesuai dengan Gambar 2.1 dapat diketahui jika ukuran partikel suatu benda
semakin kecil, maka akan semakin banyak jumlah total permukaan benda tersebut.
Oleh karena itu, luas permukaan semakin banyak maka kemungkinan terjadinya

19

tumbukan antarpermukaan partikel semakin sering dan kemungkinan terjadinya


sutu reaksi semakin besar. Sehingga dapat diketahui bahwa laju reaksi berbanding
lurus dengan luas permukaan reaktan (Sugiharto, 2007).
b) Faktor Suhu terhadap Laju Reaksi
Suatu partikel dikatakan dapat bereaksi apabila ketika antar partikel itu
bertumbukan. Jika dilakukan pemanasan suatu zat, maka partikel-partikelnya akan
bergerak lebih cepat sehingga frekuensi tumbukan akan semakin besar.

Gambar 2.2 : Tumbukan Antar Partikel pada (a) Suhu Rendah


dan (b) Suhu Tinggi
(Justiana, 2009)
Tumbukan tumbukan akan menghasilkan reaksi jika partikel-partikel
bertumbukan dengan energi yang cukup untuk memulai suatu reaksi energi
minimum yang diperlukan disebut dengan energi aktivasi (Ea).

Gambar 2.3 : Energi Partikel dan Suhu


(Glencoe science, 2009)
Pada gambar 2.3 hanya partikel aksiran yang akan bereaksi ketika partikelpartikel itu bertumbukan. Sebagian besar dari partikel tidak memiliki energi yang
cukup dan tidak menghasilkan reaksi. Untuk memperbesar laju reaksi, harus
meningkatkan jumlah partikel-partikel energik, yaitu partikel- yang memiliki
energi yang sama atau lebih besar dari energi aktivasi.
Dengan menaikkan suhu maka energi kinetik molekul-molekul zat yang
bereaksi akan bertambah dan semakin cepat gerakannya maka akan semakin besar

20

energi kinetiknya. Ketika molekul-molekul bertumbukan, sebagian dari energi


kinetiknya diubah menjadi energi vibrasi. Jika energi kinetik awalnya besar,
molekul yang bertumbukan akan bergetar kuat sehingga memutuskan beberapa
ikatan kimianya. Putusnya ikatan merupakan langkah pertama pembentukan
produk. Jika energi kinetik awalnya kecil, molekul hanya akan terpental tetapi
masih utuh. Dari segi energi, ada semacam energi tumbukan minimum yang harus
tercapai agar reaksi terjadi. Untuk bereaksi, molekul yang bertumbukan harus
memiliki energi kinetik total sama dengan atau lebih besar dari pada energi
aktivasi (activation energy) (Ea), yaitu jumlah minimum energi yang diperlukan
untuk mengawali reaksi kimia.Apabila energinya lebih kecil dari pada energi
aktivasi, molekul tetap utuh dan tidak ada perubahan akibat tumbukan. Spesi yang
terbentuk sementara oleh molekul reaktan sebagai akibat tumbukan sebelum
membentuk produk dinamakan kompleks teraktifkan (activated complex) atau
juga dinamakan keadaan transisi. Ketika energinya

kinetik yang dimiliki besar

akan lebih banyak molekul yang memiliki energi sama atau lebih besar dari
energy aktivasi (Ea). Dengan demikian, lebih banyak molekul yang dapat
mencapai keadaan transisi atau dengan kata lain laju reaksi menjadi lebih besar
(Chang, Raymond: 2005).
Banyak reaksi berlangsung dua kali lebih cepat jika suhu dinaikkan 10 0C.
Hal itu menunjukkan bahwa jumlah molekul pereaksi yang mencapai energi
pengaktifan menjadi dua kali lebih banyak pada kenaikan suhu 10 0C. Dengan
demikian, apabila laju reaksi awalnya diketahui, kita dapat memperkirakan
besarnya laju reaksi berdasarkan kenaikan suhunya.
c) Faktor Katalis terhadap Laju Reaksi
Katalis adalah zat yang ditambahkan ke dalam suatu reaksi dengan tujuan
untuk memperbesar laju reaksi. Katalis terkadang ikut terlibat dalam reaksi tetapi
tidak mengalami perubahan kimiawi yang tetap (permanen). Dengan kata lain pada
akhir reaksi katalis umumnya akan dijumpai kembali dalam bentuk dan jumlah
yang sama seperti sebelum reaksi.
Tumbukan akan menghasilkan reaksi jika partikel-partikel bertumbukan
dengan energi yang cukup untuk memulai suatu reaksi. Energi minimum yang
diperlukan disebut dengan energi aktivasi (Ea). Bagaimana hubungan antara katalis
dengan laju reaksi? Telah dipahami bahwa untuk meningkatkan laju reaksi harus

21

ditingkatkan jumlah tumbukan-tumbukan yang berhasil. Salah satu alternatif cara


untuk mewujudkan upaya itu adalah dengan menurunkan energi aktivasi.
Gambar 2.5: Energi aktivasi reaksi berkatalis dan tanpa katalis

(Glencoe science, 2009)


Penambahan katalis kepada suatu reaksi memberikan perubahan yang
berarti pada energi aktivasi. Katalis menyediakan suatu tahap atau rute alternatif
bagi suatu reaksi. Rute alternatif ini memiliki energi aktivasi rendah. Adanya
katalis meyebabkan jumlah tahap reaksi bertambah, karena katalis ikut serta di
dalam suatu tahap dan terbentuk kembali dalam salah satu tahap berikutnya.
Tanpa Katalis: A + B AB + C
Dengan Katalis: K + BC KB + C
KB + A AB + K
A+ BC AB + C
Dengan adanya katalis laju reaksi diperbesar dengan jalan memperkecil
energi pengaktifan suatu reaksi. Dengan menurunnya energi pengaktifan maka
pada suhu yang sama reaksi dapat berlangsung lebih cepat dan umumnya terjadi
karena adanya tahap-tahap reaksi yang baru. Kehadiran katalis dapat merubah laju
reaksi dengan kelipatan 10 kali (Sugiarto, 2007).
8. Penelitian yang Relevan
a. Penelitian Islami (2013) menunjukkan bahwa pembelajaran inkuiri terbimbing yang
berorientasi pada literasi sains dapat meningkatkan literasi sains siswa pada kategori
sedang.
b. Penelitian Ngertini (2013) menunjukkan bahwa pemahaman konsep dan literasi sains
siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model pembelajaran inkuiri terbimbing
lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok siswa yang belajar dengan model
pengajaran langsung (Direct Instruction).

22

c. Penelitian Haristy (2011) menunjukkan bahwa siswa yang diajar dengan pembelajaran
berbasis literasi sains mengalami peningkatan hasil belajar dibandingkan dengan
pembelajaran konvensional.
d. Penelitian Fitriani menunjukkan bahwa pembelajaran dengan model inkuiri dapat
melatihkan kemampuan literasi sains siswa.
e. Gormally et al. (2009) melakukan penelitian mengenai pengaruh pembelajaran
berbasis inkuiri terhadap literasi sains dan kepercayaan diri mahasiswa biologi. Hasil
penelitiannya menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis inkuiri dapat lebih
meningkatkan literasi sains mahasiswa dan kepercayaan diri mahasiswa secara
signifikan, walaupun kelas konvensional mengalami peningkatan kepercayaan diri
yang lebih baik dari kelas eksperimen. Dengan demikian, strategi pembelajaran
inkuiri terbimbing dapat digunakan untuk meningkatkan literasi sains.
f. Hasil penelitian Holbrook (2009) menunjukkan bahwa literasi sains adalah cara
terbaik untuk mengajarkan ilmu pengetahuan.

23

9. Kerangka konseptual

Fakta
1.Penyampaian materi didominasi TeacherCentered yang berpusat pada guru,
sehingga siswa tidak dapat membangun
konsepnya sendiri.
2.65% siswa belajar kimia tanpa
menghubungkan
materi
dengan
kehidupan
sehari-hari,
sehingga
menyebabkan pembelajaran kimia
menjadi kurang bermakna dimata siswa
3. Hasil studi PISA menunjukkan literasi
sains siswa Indonesia berada dibawah
skor rata-rata
4. Literasi Sains masih belum dilatihkan
kepada siswa

Harapan
1.Dengan
model
pembelajaran
inkuiri
diharapkan siswa dapat menemukan sendiri
konsep
dalam pembelajaran kimia,
sehingga konsep tersebut dapat masuk ke
memori jangka panjangnya, sehingga
pembelajaran dikatakan bermakna
2. Siswa dapat menerapkan materi yang telah
dipelajari disekolah dalam kehidupan
sehari-hari
3. Literasi Sains dapat dilatihkan kepada
siswa.

Identifikasi Masalah
1. Guru masih menekankan perannya sebagai penyampai materi, sehingga pembelajaran
menjadi kurang bermakna dimata siswa, karena siswa tidak dilibatkan secara langsung
dalam pembelajaran.
2. Pembelajan kimia belum melatihkan kemampuan literasi sains siswa dengan baik

Teori
1. Teori konstruktivisme ini menyatakan bahwa
pengetahuan itu akan bermakna manakala
dicari dan ditemukan sendiri oleh siswa
(Toharudin, 2011).
2. Teori kognitivisme menekankan bahwa
perilaku seseorang ditentukan oleh persepsi
serta pemahamnnya tentang situasi yang
berhubungan dengan tujuan belajarnya.

Penelitian yang sesuai


1. Penelitian Islami (2013) menunjukkan
bahwa pembelajaran inkuiri terbimbing
yang berorientasi pada literasi sains
dapat meningkatkan literasi sains siswa
pada kategori sedang.
2. Penelitian Ngertini (2013) menunjukkan
bahwa pemahaman konsep dan literasi
sains
siswa
yang
mengikuti
pembelajaran
dengan
model
pembelajaran inkuiri terbimbing lebih
tinggi dibandingkan dengan kelompok
siswa yang belajar dengan model
pengajaran
langsung
(Direct
Instruction).
3. Penelitian Haristy (2011) menunjukkan
bahwa siswa yang diajar dengan
pembelajaran berbasis literasi sains
mengalami peningkatan hasil belajar
dibandingkan dengan pembelajaran
konvensional.

Solusi
Menerapkan model pembelajaran inkuiri yang dapat melatihkan
kemampuan literasi sains dan hasil belajar siswa pada materi faktorfaktor yang mempengaruhi laju reaksi

24

I. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian pre-experimental. Penelitian ini
hanya menggunakan satu kelas saja tanpa adanya kelas pembanding.
J. Sasaran Penelitian
Sasaran dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI IPA SMA Widya Dharma tahun
pelajaran 2015/2016 yang berjumlah 19 orang.
K. Desain Penelitian
Desain rancangan penelitian yang digunakan oleh peneliti adalah One Shot Case
Study. Dimana tes dilakukan sebanyak satu kali di akhir pertemuan dan penelitian ini
dilakukan selama empat kali pertemuan. Secara sederhana, desain ini dapat digambarkan
sebagai berikut:
XO

(Sugiyono, 2013)

Keterangan :
X = Perlakuan yang diberikan
O = Kemampuan literasi sains, hasil belajar siswa
L. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan di SMA Widya Dharma pada semester ganjil
tahun ajaran 2015/2016.
M. Perangkat Pembelajaran
Perangkat pembelajaran yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1. Silabus
Silabus adalah garis besar bahan pengajaran atau program pengajaran yang
sifatnya umum. Silabus berisi tentang kegiatan pembelajaran, pengelolaan kelas dan
penilaian hasil belajar. Komponen yang ada didalam silabus adalah standar
kompetensi, kompetensi dasar, materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran,
indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian, penilaian, alokasi waktu, dan
sumber belajar (PP No.19 th 2005 Pasal 20).
2. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang selanjutnya disingkat dengan RPP
adalah perangkat pembelajaran yang dibuat guru untuk bahan acuan pada saat
melaksanakan proses pembelajaran. Komponen RPP terdiri dari: satuan pendidikan,
deskripsi mata pelajaran, kelas/semester, materi pokok, alokasi waktu, kompetensi
inti, kompetensi dasar, indikator pencapaian kompetensi, tujuan pembelajaran,
ringkasan materi pembelajaran, model pembelajaran, sumber belajar, media
pembelajaran, langkah-langkah kegiatan pembelajaran, penilaian.
3. Lembar Kerja Siswa (LKS)
Lembar Kerja Siswa atau yang selanjutnya disingkat dengan LKS adalah
perangkat pembelajaran yang digunakan sebagai pegangan siswa pada saat kegiatan

25

praktikum atau penyelidikan konsep. LKS berisi materi faktor-faktor yang


mempengaruhi laju reaksi yaitu: konsentrasi, suhu, dan luas permukaan. Komponen
LKS terdiri dari: Kompetensi Inti, Kompetensi dasar, indikator, fenomena, dan
metode ilmiah.
N. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah:
1. Soal Tes Literasi Sains
Tes literasi sains digunakan untuk mengetahui kemampuan literasi sains siswa
ditinjau dari aspek konten sains, konteks sains, dan proses sains. Tes literasi sains
berupa tes pilihan ganda dengan materi faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi.
Selanjutnya untuk mengukur aspek proses sains. Berbeda dengan soal-soal yang biasa
kita jumpai dalam buku-buku teks. Soal-soal literasi sains memiliki beberapa
karakteristik tertentu. Pertama, soal-soal yang mengandung konsep tidak langsung
terkait dengan konsep-konsep dalam kurikulum manapun, tetapi lebih diperluas.
Kedua, soal-soal literasi sains menyediakan sejumlah informasi atau data dalam
berbagai bentuk penyajian untuk diolah oleh siswa yang akan menjawabnya. Ketiga,
soal-soal literasi sains meminta siswa menghubungkan informasi dalam soal.
Keempat, soal-soal literrasi sains mencakup konteks aplikasi yang dapat dihubungkan
dengan kehidupan sehari-hari (Rustaman, 2006b). Dalam penelitian ini tes literasi
sains dilakukan sebanyak empat kali pertemuan pada tiap akhir proses pembelajaran.
2. Soal Tes Hasil belajar Siswa
Lembar tes hasil belajar digunakan untuk mengetahui ranah kognitif siswa
pada materi pokok faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi setelah diterapkannya
strategi pembelajaran inkuiri terbimbing.
3. Lembar Pengamatan Keterlaksanaan Sintaks Pembelajaran
Lembar pengamatan keterlaksanaan sintaks pembelajaran ini digunakan untuk
mengetahui keterlaksanaan dan kemampuan guru dalam mengelola kegiatan dikelas
saat proses pembelajaran berlangsung sesuai dengan RPP yang telah dibuat. Lembar
pengamatan keterlaksanaan sintaks pembelajaran ini didesain sesuai dengan strategi
pembelajaran yang digunakan saat penelitian yaitu strategi pembelajaran inkuiri
terbimbing pada materi faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi.
4. Lembar Pengamatan Aktivitas Siswa
Lembar pengamatan aktivitas siswa ini digunakan untuk mengetahui keaktifan
siswa saat proses pembelajaran. Ini perlu dilakukan karena didalam strategi

26

pembelajaran inkuiri siswa adalah tokoh utama yang harus berperan didalam proses
pembelajaran (student center). Aktivitas siswa yang dinilai oleh pengamat antara lain:
mendengarkan penjelasan guru, membaca (mencari informasi), bertanya kepada guru,
bertanya kepada siswa lain, menyampaikan ide/pendapat.
O. Prosedur Penelitian
Prosedur penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini melalui beberapa tahapan
sebagai berikut:
1. Perencanaan
a. Melakukan pra penelitian ke sekolah untuk mengetahui gambaran mengenai
pembelajaran yang sering dilakukan dikelas dengan cara wawancara dengan guru
kimia, dan menyebar angket pra penelitian kepada siswa.
b. Membuat kesepakatan dengan guru kimia mengenai waktu yang digunakan untuk
melakukan penelitian, serta menyiapkan peralatan dan bahan yang digunakan
dalam proses pembelajaran.
c. Menyusun perangkat pembelajaran yang digunakan dalam proses pembelajaran
yang terdiri dari:
1) Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
2) Lembar Kerja Siswa
d. Menyusun instrumen penelitian yang digunakan dalam proses penelitian yang
terdiri dari:
1) Tes Literasi Sains
2) Hasil belajar siswa
3) Lembar pengamatan aktivitas siswa
4) Lembar pengamatan keterlaksanaan sintaks pembelajaran
3. Pelaksanaan
Pada tahap pelaksanaan, proses pembelajaran dilakukan dengan menggunakan
strategi pembelajaran inkuiri terbimbing. Siswa diberi materi faktor-faktor yang
mempengaruhi laju reaksi dalam empat kali pertemuan. Pada pertemuan pertama
siswa diberikan materi pengaruh konsentrasi terhadap laju reaksi. Pertemuan kedua
diberikan materi pengaruh suhu terhadap laju reaksi. Pertemuan ketiga diberikan
materi pengaruh luas permukaan dan pertemuan keempat diberikan materi pengaruh
katalis terhadap laju reaksi. Pada saat pembelajaran berlangsung, pengamat
mengamati aktivitas siswa melalui lembar pengamatan aktivitas siswa dan
keterlaksanaan sintaks pembelajaran. Setelah dilakukan proses pembelajaran
menggunakan strategi pembelajaran inkuiri terbimbing, dilakukan tes literasi sains
untuk mengetahui kemampuan literasi sains siswa. Pada akhir pembelajaran diberikan
tes hasil belajar, tes ini digunakan untuk mengetahui hasil belajar siswa setelah
diterapkannya strategi pembelajaran inkuiri terbimbing.
4. Analisis Data

27

Setelah data yang diperoleh pada tahap pelaksanaan terkumpul, langkah yang
selanjutnya adalah dilakukan analisis untuk mengetahui hasil penelitian yang
dilakukan yakni meliputi: kemampuan literasi sains siswa, hasil belajar siswa,
keterlaksanaan sintaks pembelajaran, dan juga aktivitas siswa
P. Metode Pengumpulan Data
1. Metode Tes Literasi Sains
Metode tes literasi sains bertujuan untuk mengumpulkan data berupa hasil tes
literasi sains untuk mengetahui kemampuan literasi sains siswa ditinjau dari aspek
konten dan konteks sains, dan aspek proses sains pada materi faktor-faktor yang
mempengaruhi laju reaksi melalui strategi pembelajaran inkuiri terbimbing. Tes
literasi sains ini dilakukan dengan pemberian soal dua tahap. Tahap pertama tes
digunakan untuk mengukur aspek konten dan konteks sains, dan tahap yang
selanjutnya untuk mengukur aspek proses sains. Tes literasi sains dilakukan pada
akhir proses pembelajaran sesudah diterapkannya strategi pembelajaran inkuiri
terbimbing.
2. Metode Pengamatan
Metode pengamatan digunakan untuk mengumpulkan data selama proses
pembelajaran berlangsung. Pengamatan yang dilakukan terdiri dari: pengamatan
keterlaksanaan sintaks pembelajaran dengan strategi pembelajaran inkuiri terbimbing
pada materi faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi dan pengamatan aktivitas
siswa.

Q. Teknik Analisis Data


1. Analisis Data Tes Literasi Sains
Analisis tes literasi sains siswa dilakukan dengan melihat hasil skor yang
diperoleh dalam mengerjakan soal tes literasi sains yang ditinjau dari aspek konten
sains, konteks sains, dan proses sains. Selanjutnya, skor yang diperoleh siswa tersebut
dikonversikan dalam bentuk nilai literasi sains yang ditinjau dari aspek konten sains,
konteks sains, dan juga proses sains yang dapat dihitung dengan menggunakan rumus
sebagai berikut:
Nilai yang diperoleh =

skor yang diperole h siswa


skor maksimal

(Riduwan, 2013)
Setelah diperoleh nilai literasi sains siswa kemudian nilai tersebut di
kategorikan dengan kriteria penguasaan literasi sains siswa sebagai berikut:
Tabel 3.1 Kriteria Penguasaan Literasi Sains Siswa

28

Nilai
81-100
61-80
41-80
21-40
1-20

Kategori
Sangat Baik
Baik
Cukup
Kurang
Sangat Kurang

(Riduwan, 2013)
Pada penelitian ini, literasi sains siswa dikatakan baik jika siswa mendapatkan
nilai 70 atau pada kriteria baik.
2. Analisis Tes Hasil Belajar Siswa
Analisis hasil belajar siswa dapat dilihat dari hasil perhitungan tes hasil belajar
siswa pada materi faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi. perhitungan
dilakukan dengan mencari persentase hasil belajar siswa baik secara individu maupun
secara klasikal. Seorang siswa dikatakan hasil belajarnya baik apabila nilai yang yang
diperoleh 70 atau pada kriteria baik.. Perhitungan hasil belajar siswa dapat diperoleh
dengan memasukkan kedalam rumus berikut ini:
skor yang diperole h siswa
Nilai siswa =
total skor maksimum
Hasil perhitungan yang didapatkan dapat dikategorikan kedalam interval nilai
dan predikat dibawah ini:
Tabel 3.2 Interval Nilai Hasil Belajar
Nilai
81-100
61-80
41-80
21-40
1-20

Kategori
Sangat Baik
Baik
Cukup
Kurang
Sangat Kurang
(Riduwan, 2013)

3. Analisis Keterlaksanaan Sintaks Pembelajaran


Data keterlaksanaan sintaks pembelajaran ini digunakan sebagai data
pendukung dalam penelitian ini. Keterlaksanaan sintaks pembelajaran di kelas diamati
melalui lembar observasi kemampuan guru dalam mengelola kelas dan menjalankan
pembelajaran berdasarkan RPP yang telah dibuat. Pengamatan dilakukan oleh dua
orang pengamat dengan mengisi lembar observasi yang telah disiapkan. Adapun
kriteria penilaian untuk keterlaksanaan pembelajaran diadaptasi dari riduwan 2011
dan disajikan dalam tabel 3.3 berikut:
Tabel 3.3 Rubrik Penilaian Pengelolaan
Pembelajaran oleh Guru

29

Skor
4
3
2
1
0

Kriteria
Sangat baik
Baik
Cukup
Kurang baik
Tidak dilakukan
(Riduwan, 2011)

Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan mencari rata-rata penilaian dari
masing-masing

aspek

yang

diamati.

Selanjutnya,

hasil

tersebut

dianalisis

menggunakan konversi skor keterlaksanaan sintaks pembelajaran.


Skor Keterlaksanaan =

skor yang diperole h


total skor aspek penilaian

x 100%

Selanjutnya skor keterlaksaan tersebut kemudian dimasukkan kedalam kriteria


keterlaksanaan sintaks pembelajaran dengan kriteria sebagai berikut:
Tabel 3.4 Kriteria Keterlaksanaan Sintaks Pembelajaran
No
1
2
3
4

Batasan
0% < x 25%
25% < x 50%
50% < x 75%
75% < x 100%

Kriteria
Kurang
Sedang
Cukup
Baik
(Adaptasi Sudjana, 2006)

Sintaks pembelajaran dikatakan efektif apabila kemampuan guru dalam


mengelola pembelajaran berada pada kriteria cukup dan baik.
4. Analisis Data Aktivitas Siswa
Data aktivitas siswa ini digunakan sebagai data pendukung dalam penelitian
ini. Analisis data aktivitas siswa dapat dilihat dari lembar pengamatan aktivitas siswa
yang dinilai oleh pengamat pada saat proses pembelajaran. Data yang diperoleh
dianalisis dan diubah kedalam bentuk persentase dengan persamaan sebagai berikut:
NP =

frekuensi yang didapat siswa


Skor kr iterium

X 100%
(Riduwan, 2011)

Keterangan:
NP

= Nilai Persentase

30

DAFTAR PUSTAKA
Arifin, M (2000). Strategi Belajar Mengajar Kimia. Bandung:
Aunurrahman (2009). Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Alfabeta
Balitbang. (2015). Survei Internasional PISA. Jakarta: Kementrian Pendidikan dan
kebudayaan (online).
http://litbang.kemdikbud.go.id/index.php/survei-internasional-pisa (diakses tanggal
4 Januari 2015)
Bandura, A. (1997). Self Efficacy: The Exercise of Control. W. H. Freeman and Company,
New York
Bybee, R. W. (2009). PISAS 2006 Measurement of Scientific Literacy: An Insiders
Perspective for the U.S. A Presentation for the NCES PISA Research Conference.
Washington: Science Forum and Science Expert Group
Gormally, et al. (2009). Effects of Inquiry-based learning on students science literacy
skills and confidence. Journal for the scholarship of teaching and learning. 3, (2),
1931-4744
Hayat, B. Dan Yusuf S. (2010). Mutu Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara
Islami. (2013). Pembelajaran Inkuiri terbimbing Untuk Meningkatkan Literasi Sains dan
Kepercayaan Diri Siswa pada Konsep Larutan Asam Basa. UPI Bandung: tidak
diterbitkan
Justiana, S. (2009). Kimia 2 Sesuai Standar Isi 2006 KTSP. Jakarta: Yudhistira
Permendiknas. (2006). Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republika Indonesia
Nomor 23 Tahu 2006 Tentang Standar Kompetensi Lulusan Unuk Satuan Pendidikan
Dasar Dan Menengah. Jakarta: Menteri Pendidikan Nasioal
Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. (2015). Pedoman Penelitian Mahasiswa
EDISI 01. Surabaya: Universitas Negeri Surabaya
Ngertini, W. (2013). Pengaruh Implementasi Model Pembelajaran Inkuri Terbimbing
terhadap Kemampuan Pemahamaan Konsep dan Literasi Sains Siswa Kelas X SMA
PGRI 1 Amlapura. Singaraja: Universitas Pendidikan Ganesha
OECD. (2000). Measuring Student Knowledge and Skills: The PISA 2000 Assessment of
Reading, Mathematical and Scientific Literacy. tidak diterbitkan

31

OECD. (2007). Executive Summary PISA 2006: Sceince Competencies for Tomorrows
World: tidak diterbitkan
OECD. (2015). Draft Science Framework. tidak diterbitkan
Oktarisa,
Yuvita.
(2012).
Makalah
Literasi
Sains.
(Online)
https://vivitmuzaki.wordpress.com/2012/07/09/literasi-sains/, diakses 11 Oktober
2015.
Pusat Penilaian Pendidikan Balitbang. (2015). Survei Internasional PISA. Jakarta:
Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan
Riduwan. (2013). Skala Pengukuran Variabel-Variabel Penelitian. Bandung: Alfabeta
Rustaman, N. Y. (2006b). Literasi Sains Anak Indonesia 2000 dan 2003. Seminar Sehari
Hasil Studi Internasional Prestasi Peserta Didik Indonesia dalam Bidang
Matematika, Sains, Dan Membaca. Jakarta: Puspendik
Sanjaya, Wina. (2009). Strategi Pembelajaran: Berorientasi Standar Proses Pendidikan.
Jakarta: Prenada Media Grup
Sobur, Alex. (2003). Psikologi Umum. Bandung: Pustaka Setia
Sudjana, Nana. (2006). Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya
Sugiharto, Bambang dkk.2007. Kimia Dasar I. Surabaya: Unesa University Press
Sugiyono. (2013). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R & D. Bandung: Alfabeta
Suyanti, R. D. (2010). Strategi Pembelajaran Kimia. Yogyakarta: Graha Ilmu (online).
https://ppmplp.files.wordpress.com/2010/10/strategi-pembelajaran-kimia.pdf
(diakses tanggal 29 Mei 2015)
Suyono dan Hariyono. 2011. Belajar dan Pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rodakarya
Toharudin, U. dkk. (2011). Membangun Literasi Sains Pesserta Didik. Bandung :
humaniora
Winkel, W.S. (1996). Psikologi Pengajaran. Jakarta: PT. GramediaWidiasarana Indonesia

32

Wenning, J Carl. (2007). Assessing Inquiry Skills As A Component of Scientific


Lietracy. Journal of Physics Teacher Education. (Online)
Zuriyani, Elsy. (2011). Strategi pembelajaran inkuiri pada Mata Pelajaran IPA.
Palembang: Widiyaiswara BDK Palembang (online).
http://sumsel.kemenag.go.id/file/file/TULISAN/umvt1331613361.pdf (diakses tanggal 29
Mei 2015)
Zuriyani, Elsy. (2011). Literasi Sains dan Pendidikan. Palembang: Widiyaiswara BDK
Palembang (online).
http://sumsel.kemenag.go.id/file/file/TULISAN/wagj1343099486.pdf
(diakses
tanggal 22 Februari 2015)