Anda di halaman 1dari 24

JAKARTA

2009
KATA PENGANTAR
Syukur alhamdulilah, saya ucapkan kepada Allah yang telah banyak
memberikan nikmatNya, sehingga dapat terselesaikannya makalah ini.
Ucapan terimakasih pun saya haturkan kepada dosen dietetik degeneratif
(teori), ibu Ani Prasetyaningsih yang memberikan saya kesempatan membahas
lebih jauh tentang penyakit Gagal Jantung (Congestive Heart Failure/CHF).
Dalam makalah ini saya mengulas cukup banyak materi yang sekiranya bisa
membantu untuk kehidupan masyarakat pada umumnya. Karena lengkap dengan
pembahasan penatalaksanaan diet nya bagi penyembuhan pasien CHF.

Jakarta, 14 oktober 2009

Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR....................................................................................2
DAFTAR ISI..................................................................................................3
BAB I..............................................................................................................4
BAB II............................................................................................................8
BAB III...........................................................................................................21
DAFTAR PUSTAKA.....................................................................................22

BAB I
A. PENDAHULUAN
Sistem kardiovaskuler merupakan sistem yang memberi fasilitas proses
pengangkutan berbagai substansi dari, dan ke sel-sel tubuh. Sistem ini terdiri dari
organ penggerak yang disebut jantung, dan sistem saluran yang terdiri dari arteri
yang mergalirkan darah dari jantung, dan vena yang mengalirkan darah menuju
jantung.
Jantung manusia merupakan jantung berongga yang memiliki 2 atrium dan 2
ventrikel. Jantung merupakan organ berotot yang mampu mendorong darah ke
berbagai bagian tubuh. Jantung manusia berbentuk seperti kerucut dan berukuran
sebesar kepalan tangan, terletak di rongga dada sebalah kiri. Jantung dibungkus
oleh suatu selaput yang disebut perikardium. Jantung bertanggung jawab untuk
mempertahankan aliran darah dengan bantuan sejumlah klep yang melengkapinya.
Untuk mejamin kelangsungan sirkulasi, jantung berkontraksi secara periodik.
Otot jantung berkontraksi terus menerus tanpa mengalami kelelahan.
Kontraksi jantung manusia merupakan kontraksi miogenik, yaitu kontaksi yang
diawali kekuatan rangsang dari otot jantung itu sendiri dan bukan dari syaraf.
Terdapat beberapa bagian jantung (secara anatomis) akan kita bahas dalam
makalah ini, diantaranya yaitu :
a. Bentuk Serta Ukuran Jantung

Jantung merupakan organ utama dalam sistem kardiovaskuler. Jantung


dibentuk oleh organ-organ muscular, apex dan basis cordis, atrium kanan dan kiri
serta ventrikel kanan dan kiri. Ukuran jantung panjangnya kira-kira 12 cm, lebar
8-9 cm seta tebal kira-kira 6 cm. Berat jantung sekitar 7-15 ons atau 200 sampai
425 gram dan sedikit lebih besar dari kepalan tangan.
Ada 4 ruangan dalam jantung dimana dua dari ruang itu disebut atrium dan
sisanya adalah ventrikel. Pada orang awam, atrium dikenal dengan serambi dan
ventrikel dikenal dengan bilik.
Kedua atrium merupakan ruang dengan dinding otot yang tipis karena
rendahnya tekanan yang ditimbulkan oleh atrium. Sebaliknya ventrikel
mempunyai dinding otot yang tebal terutama ventrikel kiri yang mempunyai
lapisan tiga kali lebih tebal dari ventrikel kanan.
Kedua atrium dipisahkan oleh sekat antar atrium (septum interatriorum),
sementara kedua ventrikel dipisahkan oleh sekat antar ventrikel (septum interventrikulorum). Atrium dan ventrikel pada masing-masing sisi jantung
berhubungan satu sama lain melalui suatu penghubung yang disebut orifisium
atrioventrikuler. Orifisium ini dapat terbuka atau tertutup oleh suatu katup
atrioventrikuler (katup AV). Katup AV sebelah kiri disebut katup bikuspid (katup
mitral) sedangkan katup AV sebelah kanan disebut katup trikuspid.

b. KatupKatup
Jantung

Diantara atrium kanan dan ventrikel kanan ada katup yang memisahkan
keduanya yaitu katup trikuspid, sedangkan pada atrium kiri dan ventrikel kiri juga
mempunyai katup yang disebut dengan katup mitral/ bikuspid. Kedua katup ini
berfungsi sebagai pembatas yang dapat terbuka dan tertutup pada saat darah
masuk dari atrium ke ventrikel.
1) Katup Trikuspid

Katup trikuspid
berada diantara atrium
kanan

dan

ventrikel

kanan. Bila katup ini


terbuka, maka darah akan mengalir dari atrium kanan menuju ventrikel kanan.
Katup trikuspid berfungsi mencegah kembalinya aliran darah menuju atrium
kanan dengan cara menutup pada saat kontraksi ventrikel. Sesuai dengan
namanya, katup trikuspid terdiri dari 3 daun katup.
2) Katup pulmonal

Setelah katup
trikuspid

tertutup,

darah akan mengalir


dari dalam ventrikel
kanan melalui trunkus pulmonalis. Trunkus pulmonalis bercabang menjadi arteri
pulmonalis kanan dan kiri yang akan berhubungan dengan jaringan paru kanan
dan kiri. Pada pangkal trunkus pulmonalis terdapat katup pulmonalis yang terdiri
dari 3 daun katup yang terbuka bila ventrikel kanan berkontraksi dan menutup bila
ventrikel kanan relaksasi, sehingga memungkinkan darah mengalir dari ventrikel
kanan menuju arteri pulmonalis.
3) Katup bikuspid

Katup bikuspid
atau

katup

mitral

mengatur aliran darah dari atrium kiri menuju ventrikel kiri.. Seperti katup
trikuspid, katup bikuspid menutup pada saat kontraksi ventrikel. Katup bikuspid
terdiri dari dua daun katup.
4) Katup Aorta

Katup

aorta

terdiri

dari 3 daun katup yang


terdapat pada pangkal
aorta. Katup ini akan
membuka pada saat ventrikel kiri berkontraksi sehingga darah akan mengalir
keseluruh tubuh. Sebaliknya katup akan menutup pada saat ventrikel kiri
relaksasi, sehingga mencegah darah masuk kembali kedalam ventrikel kiri.
Jantung adalah salah satu organ tubuh yang vital. Jantung kiri berfungsi
memompa darah bersih (kaya oksigen/zat asam) ke seluruh tubuh, sedangkan
jantung kanan menampung darah kotor (rendah oksigen, kaya karbon dioksida/zat
asam arang), yang kemudian dialirkan ke paru-paru untuk dibersihkan. Jantung
normal besarnya segenggam tangan kiri pemiliknya. Jantung berdenyut 60-80 kali
per menit, denyutan bertambah cepat pada saat aktifitas atau emosi, agar
kebutuhan tubuh akan energi dapat terpenuhi. Andaikan denyutan jantung 70 kali
per menit, maka dalam 1 jam jantung berdenyut 4200 kali atau 100.800 kali sehari
semalam. Tiap kali berdenyut dipompakan darah sekitar 70 cc, jadi dalam 24 jam
jantung memompakan darah sebanyak kira-kira 7000 - 7.571 liter.
Jantung mempunyai dua fungsi :
1. Jantung harus menyediakan darah yang cukup mengandung oksigen dan
nutrisi untuk organ-organ dari tubuh, darah ini harus mempunyai tekanan
yang cocok untuk perfusi dan pemberian makanan. Pada saat yang sama
jantung juga harus memompakan darah yang mengandung bahan-bahan
sisa ke organ-organ ekskresi misalnya hati dan ginjal dan memompakan
darah yang suhunya berlebihan ke sistem pendingin dari tubuh, yaitu
pembuluh darah di kulit. Semua hal ini dapat dilakukan oleh jantung
sebelah kiri.

2. Fungsi lain dari jantung ialah mengisi darah dengan oksigen yang segar
dari udara dan pada saat yang bersamaan mengekskresi salah satu hasil
akhir metabolisme yaitu karbondioksida. Pertukaran kedua gas ini dengan
udara dari alveoli paru berlangsung melaui membran alveolus yang sangat
tipis. Jika tekanan sama tingginya dengan tekanan di bilik kiri atau aorta,
cairan darah segera akan mengisi alveoli dengan cara filtrasi dan penderita
akan mati oleh karena edema paru.
Gagal jantung sangat sering ditemukan. Penyakit ini termasuk salah satu dari
urutan tertinggi dalam daftar penyebab kematian dikebanyakan negara-negara
Barat, tetapi di negara tropis penyakit ini juga merupakan penyebab sangat
penting dari invaliditas dan bahkan kematian.

BAB II
B. PEMBAHASAN
Definisi Penyakit Gagal Jantung (Congestive Heart Failure/CHF)
Penyakit Gagal Jantung yang dalam istilah medisnya disebut dengan "Heart
Failure atau Cardiac Failure", merupakan suatu keadaan darurat medis dimana
jumlah darah yang dipompa oleh jantung seseorang setiap menitnya {curah
jantung (cardiac output)} tidak mampu memenuhi kebutuhan normal metabolisme

tubuh. Dampak dari gagal jantung secara cepat berpengaruh terhadap kekurangan
penyediaan darah, sehingga menyebabkan kematian sel akibat kekurangan
oksigen yand dibawa dalam darah itu sendiri. Kurangnya suplay oksigen ke otak
(Cerebral Hypoxia), menyebabkan seseorang kehilangan kesadaran dan berhenti
bernafas dengan tiba-tiba yang berujung pada kematian.
Gagal jantung kongestif pada bayi dan anak merupakan kegawatdaruratan
yang sangat sering dijumpai oleh petugas kesehatan dimanapun berada. Keluhan
dan gejala sangat bervariasi sehingga sering sulit dibedakan dengan akibat
penyakit lain di luar jantung.
Kondisi pada penyakit gagal jantung bukanlah berarti bahwa jantung stop
bekerja (cardiac arrest), melainkan jantung tidak lagi mampu memompakan darah
sebagaimana tugasnya sehari-hari bagi tubuh seseorang.
Mekanisme dari gagal jantung :
Biasanya yang pertama mengalami kegagalan ialah bilik kiri. Lagipula,
bilik kiri mempunyai tugas yang paling berat. Jika bilik kiri tidak mampu
memompakan darah, maka timbul tiga hal :
1. Darah yang tinggal di dalam bilik kiri akan lebih banyak pada akhir sistole
daripada sebelumnya dan karena pengisian pada saat diastole berlangsung
terus, maka akan terdapat lebih banyak darah di dalam bilikk kiri pada
akhir diastole. Peninggian volume dari salah satu ruang jantung, dalam hal
ini bilik kiri (preload). Jika penyakit jantung berlanjut, maka diperlukan
peregangan yang makin lama makin besar untuk menghasilkan energi
yang sama. Pada satu saat akan terjadi bahwa peregangan diastolik yang
lebih besar tidak lagi menghasilkan kontraksi yang lebih baik dan jantung
akan gagal melakukan fungsinya (dekompensasi).
2. Jika bilik kiri tidak mampu memompakan darahnya yang cukup ke aorta
untuk memenuhi kebutuhan dari organ yang terletak perifer, berarti curah
jantung sangat rendah dan juga akan menimbulkan tekanan darah yang
rendah. Pada kebanyakan kasus, hal ini akan menimbulkan perasaan lelah
pada penderita. Curah jntung yang rendah menimbulkan perasaan lesu.
Pada kasus-kasus yang berat, perfusi darah arteri ke otak akan berkurang

dan otak akan menderita, yang akan menimbulkan kecendrungan


timbulnya pingsan, meskipun hal ini jarang ditemukan pada gagal jantung
kronik kecuali miokard yang mengalami kerusakan hebat atau ritme
jantung sangat abnormal.
3. Sistim Renin-angiontensin-aldosteron (sistim RAA)
Karena perfusi dari glomerus berkurang, maka ultrafiltrasinya juga akan
berkurang, natrium direabsorpsi lebih sempurna di dalam nefron dan
natrium yang hilang dari urin akan berkurang. Pada saat yang sama perfusi
dari aparatus jugstaglomerular juga berkurang sistem RAA diaktifkan akan
terjadilah sekresi aldosteron oleh kelenjar adrenal. Aldosteron ini akan
menyebabkan reabsorpsi Na+ di tubulus distal bertambah banyak yang
diganti dengan ion K+ dan H+. Akibat dari retensi natrium ini ialah
tertahannya air dalam ruang ekstra seluler dan dalam aliran darah oleh
tekanan osmotik dari natrium. Volume darah akan bertambah dan
cadangan vena akan terisi penuh dengan darah. Tekanan di dalam vena
sistemik sentral akan meninggi. Serambi dan bilik akan lebih diregangkan
dari sebelumnya (preload yang meninggi) dan dengan demikian
mekanisme kompensasi dapat diperbaiki. Namun bertambahnya isi darah
ven aakan menyebabkan hepatomegali. Penambahan jumlah ion Na+ dan
H2O pada ruang interstisial bersama-sama dengan tekanan yang tinggi di
dalam sistim vena kadang-kadang akan menimbulkan pitting edema.
Etiologi Gagal Jantung
Penyebab gagal jantung dapat berupa faktor dari dalam jantung itu sendiri
maupun dari luar. Faktor dari dalam lebih sering karena terjadinya kerusakankerusakan yang sudah dibawa, sedangkan faktor dari luar cukup banyak, antara
lain: penyakit jantung koroner, hipertensi, dan diabetes mellitus.

Terdapat tiga kondisi yang mendasari terjadinya gagal jantung, yaitu :

1. Gangguan mekanik ; beberapa faktor yang mungkin bisa terjadi secara tunggal
atau bersamaan yaitu :

Beban tekanan

Beban volume

Tamponade jantung atau konstriski perikard (jantung tidak dapat diastole).

Obstruksi pengisian bilik

Aneurisma bilik

Disinergi bilik

Restriksi endokardial atau miokardial

2. Abnormalitas otot jantung

Primer : kardiomiopati, miokarditis metabolik (DM, gagal ginjal kronik,


anemia) toksin atau sitostatika.

Sekunder: Iskemia, penyakit sistemik, penyakit infiltratif, korpulmonal

3. Gangguan irama jantung atau gangguan konduksi


Di samping itu penyebab gagal jantung berbeda-beda menurut kelompok
umur, yakni pada masa neonatus, bayi dan anak.
Periode Neonatus
Disfungsi miokardium relatif jarang terjadi pada masa neonatus, dan bila ada
biasanya berhubungan dengan asfiksia lahir, kelainan elektrolit atau gangguan
metabolik lainnya. Lesi jantung kiri seperti sindrom hipoplasia jantung kiri,
koarktasio aorta, atau stenosis aorta berat adalah penyebab penting gagal jantung
pada 1 atau 2 minggu pertama.
Periode Bayi
Antara usia 1 bulan sampai 1 tahun penyebab tersering ialah kelainan struktural
termasuk defek septum ventrikel, duktus arteriosus persisten atau defek septum

10

atrioventrikularis. Gagal jantung pada lesi yang lebih kompleks seperti


transposisi, ventrikel kanan dengan jalan keluar ganda, atresia tricuspid atau
trunkus arteriosus biasanya juga terjadi pada periode ini.
Periode Anak
Gagal jantung pada penyakit jantung bawaan jarang dimulai setelah usia 1 tahun.
Di negara maju, karena sebagian besar pasien dengan penyakit jantung bawaan
yang berat sudah dioperasi, maka praktis gagal jantung bukan menjadi masalah
pada pasien penyakit jantung bawaan setelah usia 1 tahun.
Perubahan-perubahan yang terlihat pada gagal jantung :
1

Keterangan :
Gambar 1 : Jantung normal.
Gambar 2 : Dinding jantung
merentang dan
bilik-bilik jantung
membesar,
dinding jantung merentang untuk menahan lebih banyak darah.
Gambar 3 : Dinding-dinding jantung menebal, dinding otot jantung menebal
untuk memompa lebih kuat.
Epidemiologi
Gagal jantung adalah merupakan suatu sindrom, bukan diagnosa penyakit.
Sindrom gagal jantung kongestif (Chronic Heart Failure/ CHF) juga mempunyai

11

prevalensi yang cukup tinggi pada lansia dengan prognosis yang buruk.
Prevalensi CHF adalah tergantung umur/age-dependent. Menurut penelitian,
gagal jantung jarang pada usia di bawah 45 tahun, tapi menanjak tajam pada usia
75

84

tahun.

Dengan semakin meningkatnya angka harapan hidup, akan didapati prevalensi


dari CHF yang meningkat juga. Hal ini dikarenakan semakin banyaknya lansia
yang mempunyai hipertensi akan mungkin akan berakhir dengan CHF. Selain itu
semakin membaiknya angka keselamatan (survival) post-infark pada usia
pertengahan, menyebabkan meningkatnya jumlah lansia dengan resiko mengalami
CHF.
Angka kejadian PJPD (Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah) di Amerika
Serikat pada tahun 1996 dilaporkan hampir mencapai 60 juta penderita, ternyata
dari 5 orang Amerika 1 diantaranya menderita PJPD. Macam-macam PJPD di
negeri itu dapat dilihat pada tabel 1. Tekanan darah tinggi paling sering dijumpai,
disusul dengan Penyakit Jantung Koroner dan Stroke. Gagal Jantung Kongestif
merupakan komplikasi Tekanan Darah Tinggi yang tak terkontrol dengan baik,
atau PJK yang luas, cukup sering ditemukan.
JENIS PENYAKIT
Tekanan Darah Tinggi
Penyakit Jantung Koroner
Infark Miokard
Iskemia Miokard

JUMLAH PENDERITA
50.000.000
12.000.000
7.000.000
6.200.000

Stroke
4.400.000
Gagal Jantung Kongestif
4.000.000
Penyakit Jantung Reumatik
1.800.000
Penyakit Jantung Bawaan
1. 000.000
Tabel 1. Jenis Penyakit Jantung dan pembuluh Darah serta angka kejadiannya di
USA
Tanda dan Gejala Penyakit Gagal Jantung (CHF)

12

Tanda serta gejala penyakit gagal jantung dapat dibedakan berdasarkan


bagian mana dari jantung itu yang mengalami gangguan pemompaan darah, lebih
jelasnya sebagai berikut :
1. Gagal jantung sebelah kiri ; menyebabkan pengumpulan cairan di dalam
paru-paru (edema pulmoner), yang menyebabkan sesak nafas yang hebat.
Pada awalnya sesak nafas hanya dirasakan saat seseorang melakukan
aktivitas, tetapi sejalan dengan memburuknya penyakit maka sesak nafas
juga akan timbul pada saat penderita tidak melakukan aktivitas. Sedangkan
tanda lainnya adalah cepat letih (fatigue), gelisah/cemas (anxity), detak
jantung cepat (tachycardia), batuk-batuk serta irama degub jantung tidak
teratur (Arrhythmia).
2. Sedangkan Gagal jantung sebelah kanan ; cenderung mengakibatkan
pengumpulan darah yang mengalir ke bagian kanan jantung. Sehingga hal
ini menyebabkan pembengkakan di kaki, pergelangan kaki, tungkai, perut
(ascites) dan hati (hepatomegaly). Tanda lainnya adalah mual, muntah,
keletihan, detak jantung cepat serta sering buang air kecil (urin) dimalam
hari (Nocturia).
CHF menurut New York Heart Assosiation dibagi menjadi :

Grade 1 : Penurunan fungsi bilik kiri tanpa gejala.

Grade 2 : Sesak nafas saat aktivitas berat

Grade 3 : Sesak nafas saat aktivitas sehari-hari.

Grade 4 : Sesak nafas saat sedang istirahat.

Manifestasi klinis Gagal Jantung (CHF)


Manifestasi klinis gagal jantung bervariasi, tergantung dari umur pasien,
beratnya gagal jantung, etiologi penyakit jantung, ruang-ruang jantung yang
terlibat, apakah kedua ventrikel mengalami kegagalan serta derajat gangguan
penampilan jantung.

13

Pada bayi, gejala Gagal jantung biasanya berpusat pada keluhan orang
tuanya bahwa bayinya tidak kuat minum, lekas lelah, bernapas cepat, banyak
berkeringat dan berat badannya sulit naik. Pasien defek septum bilik atau duktus
arteriosus persisten yang besar seringkali tidak menunjukkan gejala pada hari-hari
pertama, karena pirau yang terjadi masih minimal akibat tekanan bilik kanan dan
arteri pulmonalis yang masih tinggi setelah beberapa minggu (2-12 minggu),
biasanya pada bulan kedua atau ketiga, gejala gagal jantung baru nyata. Anak
yang lebih besar dapat mengeluh lekas lelah dan tampak kurang aktif, toleransi
berkurang, batuk, mengidap sesak napas dari yang ringan (setelah aktivitas fisik
tertentu) sampai sangat berat (sesak napas pada waktu istirahat).
Pasien dengan kelainan jantung yang dalam kompensasi karena pemberian
obat gagal jantung, dapat menunjukkan gejala akut gagal jantung bila dihadapkan
kepada stress, misalnya penyakit infeksi akut. Pada gagal jantung kiri atau gagal
jantung ventrikel kiri yang terjadi karena adanya gangguan pemompaan darah
oleh ventrikel kiri, biasanya ditemukan keluhan berupa perasaan badan lemah,
berdebar-debar, sesak, batuk, anoreksia, keringat dingin.
Tanda obyektif yang tampak berupa takikardi, dispnea, ronki basah paru di
bagian basal, bunyi jantung III (diastolic gallop)atau terdengar bising apabila
terjadi dilatasi bilik, pulsus alternan. Pada gagal jantung kanan yang dapat terjadi
karena gangguan atau hambatan daya pompa bilik kanan sehingga isi bilik kanan
menurun, tanpa didahului oleh adanya Gagal jantung kiri, biasanya gejala yang
ditemukan berupa edema tumit dan tungkai bawah, hepatomegali, lunak dan nyeri
bila ditekan; edema pada vena perifer (vena jugularis), gangguan gastrointestinal
dan asites. Keluhan yang timbul berat badan bertambah akibat penambahan cairan
badan, kaki bengkak, perut membuncit, perasaan tidak enak di epigastrium.
Pada penderita gagal jantung kongestif, hampir selalu ditemukan :

Gejala paru berupa : dyspnea, orthopnea dan paroxysmal nocturnal


dyspnea.

14

Gejala sistemik berupa lemah, cepat lelah, oliguri, nokturi, mual, muntah,
asites, hepatomegali, dan edema perifer.

Gejala susunan saraf pusat berupa insomnia, sakit kepala, mimpi buruk
sampai delirium.

Pada kasus akut, gejala yang khas ialah gejala edema paru yang meliputi :
dyspnea, orthopnea, tachypnea, batuk-batuk dengan sputum berbusa, kadangkadang hemoptisis, ditambah gejala low output seperti : takikardi, hipotensi dan
oliguri beserta gejala-gejala penyakit penyebab atau pencetus lainnya seperti
keluhan angina pectoris pada infark miokard akut. Apabila telah terjadi gangguan
fungsi bilik jantung yang berat, maka dapat ditemukan pulsus alternan. Pada
keadaan yang sangat berat dapat terjadi syok kardiogenik.
Diagnosa Penyakit jantung (CHF)
Bayi dan anak yang menderita gagal jantung yang lama biasanya mengalami
gangguan pertumbuhan. Berat badan lebih terhambat daripada tinggi badan. Tanda
yang penting adalah takikardi (150x/mnt atau lebih saat istirahat), serta takipne
(50x/mnt atau lebih saat istirahat). Pada perikardium dapat teraba aktivitas jantung
yang meningkat.
Bising jantung sering ditemukan pada auskultasi, yang tergantung dari
kelainan struktural yang ada. Khususnya pada neonatus dan bayi kecil. Ronki juga
sering ditemukan pada gagal jantung. Bendungan vena sistemik ditandai oleh
peninggian tekanan vena jugular, serta refluks hepatojugular. Kedua tanda ini sulit
diperiksa pada neonatus dan bayi kecil, tampak sianosis perifer akibat penurunan
perfusi di kulit dan peningkatan ekstraksi oksigen jaringan ekstremitas teraba
dingin, pulsasi perifer melemah, tekanan darah sistemik menurun disertai
penurunan capillary refill dan gelisah. Pulsus paradoksus , pulsus alternans
(penurunan fungsi bilik stadium lanjut). Bising jantung menunjukan diagnosis
tetapi tidak adanya bising jantung tidak dapat memungkiri bahwa bukan gagal
jantung.

15

Foto dada : dengan sedikit perkecualian, biasanya disertai kardiomegali.


Paru tampak edema vena pulmonal.

Elektrokardiografi : di samping frekuensi QRS yang cepat atau disritmia,


dapat ditemukan pembesaran ruang-ruang jantung serta tanda-tanda
penyakit miokardium/ pericardium.

Ekokardiografi : M-mode dapat menilai kuantitas ruang jantung dan


shortening fraction yaitu indeks fungsi jantung sebagai pompa.
Pemeriksaan Doppler dan Doppler berwarna dapat menambah informasi
secara bermakna.

Dokter akan memberikan dugaan gagal jantung berdasarkan pada catatan


medis sebelumnya, gejala dan tanda serta test atau pemeriksaan fisik.
Beberapa pemeriksaan atau test pada pasien dengan dugaan gagal jantung:
~Test atau pemeriksaan darah
~Test atau pemeriksaan urine
~Pemeriksaan X-ray dada
~Electrocardiogram atau elektro kardio grafi (ECG)
~Echocardiography
~Radionuclide ventriculography
Echocardiography dan Radionuclide ventriculography sering digunakan untuk
memastikan diagnosis gagal jantung. Echocardiogram adalah suatu test yang
penyebabnya tanpa ada rasa nyeri. Pemeriksaan dilakukan pada permukaan dada
dimana hasil pemeriksaan adalah berupa gambar dari jantung, dimana gambar
tersebut menunjukkan seberapa sehat jantung dalam memompa darah.
Penatalaksanaan Gagal Jantung
Terdapat tiga aspek yang penting dalam menanggulangi Gagal jantung :
pengobatan terhadap Gagal jantung, pengobatan terhadap penyakit yang
mendasari dan pengobatan terhadap faktor pencetus. Termasuk dalam pengobatan

16

medikamentosa yaitu mengurangi retensi cairan dan garam, meningkatkan


kontraktilitas dan mengurangi beban jantung. Pengobatan umum meliputi
istirahat, pengaturan suhu dan kelembaban, oksigen, pemberian cairan dan diet.
Selain itu, penatalaksanaa gagal jantung juag berupa:
Medikamentosa :

Obat inotropik (digitalis, obat inotropik intravena),

Vasodilator : (arteriolar dilator : hidralazin), (venodilator : nitrat,


nitrogliserin), (mixed dilator : prazosin, kaptopril, nitroprusid)

Diuretik

Pengobatan disritmia

Gagal jantung dengan disfungsi sistolik


Pada umumnya obat-obatan yang efektif mengatasi gagal jantung menunjukkan
manfaat untuk mengatasi disfungsi sistolik. Gangguan fungsi sistolik ventrikel
kiri hampir selalu disertai adanya aktivitas sistem neuro-endokrin, karena itu salah
satu obat pilihan utama adalah ACE Inhibitor.
ACE Inhibitor, disamping dapat mengatasi gangguan neurohumoral pada gagal
jantung, dapat juga memperbaiki toleransi kerja fisik yang tampak jelas sesudah
3-6 bulan pengobatan. Dari golongan ACE-I, Kaptopril merupakan obat pilihan
karena tidak menyebabkan hipotensi berkepanjangan dan tidak terlalu banyak
mengganggu faal ginjal pada kasus gagal jantung. Kontraindikasinya adalah
disfungsi ginjal berat dan bila ada stenosis bilateral arteri renalis.
Diuretika, bertujuan mengatasi retensi cairan sehingga mengurangi beban volume
sirkulasi yang menghambat kerja jantung. Yang paling banyak dipakai untuk
terapi gagal jantung kongestif dari golongan ini adalah Furosemid. Pada usia
lanjut seringkali sudah ada penurunan faal ginjal dimana furosemid kurang efektif
dan pada keadaan ini dapat ditambahkan metolazone. Pada pemberian diuretika
harus diawasi kadar kalium darah karena diuresis akibat furosemid selalu disertai

17

keluarnya kalium. Pada keadaan hipokalsemia mudah terjadi gangguan irama


jantung.
Obat-obatan inotropik, seperti digoksin diberikan pada kasus gagal jantung untuk
memperbaiki kontraksi ventrikel. Dosis digoksin juga harus disesuaikan dengn
besarnya clearance kreatinin pasien. Obat-obat inotropik positif lainnya adalah
dopamine (5-10 Ugr/kg/min) yang dipakai bila tekanan darah kurang dari 90
mmHg. Bila tekanan darah sudah diatas 90 mmHg dapat ditambahkan dobutamin
(5-20 Ugr/kg/min). Bila tekanan darah sudah diatas 110 mmHg, dosis dopamin
dan dobutamin diturunkan bertahap sampai dihentikan.
Spironolakton, dipakai sebagai terapi gagal jantung kongestif dengan fraksi ejeksi
yang rendah, bila walau sudah diterapi dengan diuretik, ACE-I dan digoksin tidak
menunjukkan perbaikan. Dosis 25 mg/hari dan ini terbukti menurunkan angka
mortalitas gagal jantung sebanyak 25%.
Gagal jantung dengan disfungsi diastolik
Pada usia lanjut lebih sering terdapat gagal jantung dengan disfungsi diastolik.
Untuk mengatasi gagal jantung diastolik dapat dengan cara:

Memperbaiki sirkulasi koroner dalam mengatasi iskemia miokard (pada


kasus PJK)

Pengendalian tekanan darah pada hipertensi untuk mencegah hipertrofi


miokard ventrikel kiri dalam jangka panjang.

Pengobatan

agresif

terhadap

penyakit

komorbid

terutama

yang

memperberat beban sirkulasi darah, seperti anemia, gangguan faal ginjal


dan beberapa penyakit metabolik seperti Diabetes Mellitus.

Upaya memperbaiki gangguan irama jantung agar terpelihara fungsi


sistolik atrium dalam rangka pengisian diastolik ventrikel.

Obat-obat yang digunakan antara lain:

18

1. Antagonis

kalsium,

untuk

memperbaiki

relaksasi

miokard

dan

menimbulkan vasodilatasi koroner.


2. Beta bloker, untuk mengatasi takikardia dan memperbaiki pengisian
ventrikel.
3. Diuretika, untuk gagal jantung disertai udem paru akibat disfungsi
diastolik. Bila tanda udem paru sudah hilang, maka pemberian diuretika
harus hati-hati agar jangan sampai terjadi hipovolemia dimana pengisian
ventrikel berkurang sehingga curah jantung dan tekanan darah menurun.
Pemberian antagonis kalsium dan beta bloker harus diperhatikan karena keduanya
dapat menurunkan kontraktilitas miokard sehingga memperberat kegagalan
jantung.
Cardiac Resynchronisation Therapy
Untuk CHF dengan kelainan konduksi (Left bundle branch block) dapat dilakukan
operasi implantasi alat biventricular-pacing untuk mengatasi dissinkronisasi
ventrikelnya. Tapi hal ini juga malah dapat menyebabkan arrhytmia-induced
sudden death. Oleh karena itu dipakai kombinasi dari alat biventricular-pacing
dan cardioverter defibrillation.
Transplantasi jantung
Transplantasi jantung dilakukan pada pasien CHF yang bila tanpa operasi akan
meninggal dalam waktu beberapa minggu. Umumnya dilakukan pada pasien
lansia yang kurang dari 65 tahun, yang tidak memiliki masalah kesehatan yang
serius lainnya. Lebih dari 75% pasien transplantasi jantung hidup lebih lama dari
2 tahun sesudah operasinya. Sebagian bahkan dapat hidup sampai lebih dari 12
tahun.
Walaupun begitu, operasi transplantasi jantung merupakan suatu operasi besar
yang sangat sulit dan banyak persyaratannya, mengingat :

19

Perlunya organ donor yang sesuai.

Prosedur operasinya sendiri yang sangat rumit dan traumatik.

Perlu adanya pusat spesialis.

Perlunya obat-obatan imunosupressan setelah operasi untuk mengurangi


risiko penolakan organ oleh tubuh.

Beberapa kasus timbul antibodi yang menyerang bagian dalam dari arteri
koronaria dalam waktu kira-kira setahun setelah operasi. Masalah ini tidak
ada pengobatannya dan dapat berakhir dengan serangan jantung yang
fatal.

JENIS DIET DAN INDIKASI PEMBERIAN


DIET JANTUNG I
Indikasi : Diet jantung I diberikan bagi pasien dengan gagal jantung.
Dasar diet :
Karena fungsi jantung terganggu maka aliran darah ginjal juga akan
terganggu. Agar kadar ureum darah tidak meningkat maka perlu diberikan protein
yang rendah. Sebagai akibat kegagalan jantung bisa menyebabkan timbulnya
oedema. Untuk mengurangi oedema, pemberian garam harus dibatasi.
Tujuan Diet :
1. Mengurangi beban ginjal
2. Mengurangi atau mencegah retensi natrium
Syarat-syarat :
- Cukup kalori (sesuai dengan kecukupan normal)
- Karbohidrat sedang

20

- Lemak rendah
- Air dibatasi
- Mineral + vitamin cukup ( Ca dibatasi)
- konsumsi protein rendah 0,8 - 1g/kgBB
- konsumsi natrium dibatasi 150-180 mg/hr pada bayi, 400 mg/hr pada anak.
Bentuk makanan : Dihidangkan dalam bentuk makanan cair, mudah dicerna.
Contoh menu sehari :
Pagi
06.00 : makanan cair
09.00 : makanan cair
10.00 : Sari pepaya

Siang
12.00 : makanan cair
15.00 : makanan cair
16.00 : Sari jeruk

Sore
18.00 : makanan cair
21.00 : makanan cair
-

Makanan yang tidak boleh diberikan :


1. Makanan yang diolah, diawetkan dengan garam dapur.
2. Kecap, tauco,coklat
3. Minuman yang mengandung gas seperti air soda, coca cola, dan sebagainya.
Masalah yang sering timbul pad apasien gagal jantung :
Asupan gizi tidak adekuat, karena banyak zat gizi yang tidak dianjurkan
dalam dietnya.
Terjadinya Hipoalbuminemia, karena asupan protein rendah.
Gagal Ginjal, disebabkan kegagalan fungsi jantung yang berpengaruh pada
kerja ginjal.
Respiratory Failure, timbulnya gejala-gejala sesak nafas.

21

BAB III
C. KESIMPULAN DAN SARAN
Dari makalah tersebut dapat saya ambil kesimpulan, bahwasannya gagal
jantung (Congestive Heart Failure/CHF) merupakan penyakit degeneratif yang
cukup banyak ditemukan dari segala jenis usia mulai dari masa neonatus, bayi,
anak-anak sampai dewasa lansia. Yang dari seluruhnya disebabkan karena faktor
pola hidup yang tidak sehat cenderung menkonsumsi makanan yang berakibat
memberatkan kerja jantung. Komplikasi yang dialami para pasien juga berakibat
fatal yang dapat menyebabkan angka morbidibitas dan mortalitas meningkat,
maka diperlukan adanya terapi diet khusus bagi penderita CHF.
Perlunya penyuluhan khusus kepada masyarakat tentang penyakit ini juga
dirasa cukup penting, agar kasus yang terjadi dapat ditanggulangi. Kepada ibu
hamil yang diharapkan dapat memberikan ASI eksklusif guna pemaksimalan
imunitas anak agar terhindar dari penyakit CHF pada anak-anak dan balita, juga
pencegahannya dengan menjaga janin pada masa kehamilan dan tidak
mengkonsumsi rokok, alkohol maupun bahan makanan yang kiranya berdampak
pada jantung ibu dan janin yang akan dilahirkannya nanti.
Makalah ini semata-mata hanya pengantar dalam membahas CHF lebih
mendalam, diharapkan di masa yang akan datang dapat lebih dikembangkan lagi
seiring teknologi untuk penyembuhan pasien dan mengurangi terjadinya
komplikasi.

Terlepas

dari

ketidaksempurnaan

seorang

manusia,

saya

mengharapkan dimasa yang akan datang pembahasan tentang penyakit ini akan
lebih sempurna.

22

DAFTAR PUSTAKA
Abdurachman N. 1987. Gagal Jantung dalam : Ilmu Penyakit Dalam. Balai
penerbit FKUI. Jakarta. Hal 193 204
Kabo P, Karim S. 1996. Gagal Jantung Kongestif. Dalam : EKG dan
penanggulangan beberapa penyakit jantung untuk dokter umum.
Balai Penerbit FKUI. Jakarta. Hal 187 205
Mappahya, A.A. 2004. Dari Hipertensi Ke Gagal Jantung. Pendidikan
Profesional Berkelanjutan Seri II. FKUH. Makassar. 2004.
Oesman I.N, 1994. Gagal Jantung. Dalam: Buku ajar kardiologi anak. Binarupa
Aksara. Jakarta. Hal 425 441
Ontoseno T. 2005. Gagal Jantung Kongestif dan Penatalaksanaannya pada Anak.
Simposium nasional perinatologi dan pediatric gawat darurat. IDAI
Kal-Sel. Banjarmasin. Hal 89 103
Price, Sylvia A 1994. Gangguan Fungsi Mekanis Jantung dan Bantuan Sirkulasi.
Dalam : Patofisiologi konsep klinis proses-proses penyakit. EGC.
Jakarta. 582 593
Sibuea Herdin W, Marulam Panggabean, et al. 2005. Ilmu Penyakit Dalam.
Jakarta : Rineka Cipta.

23

24