Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN DISKUSI KELOMPOK

MATA KULIAH MANAJEMEN KEUANGAN LANJUTAN


ANALISIS KINERJA KEUANGAN

DISUSUN OLEH:
KELOMPOK II
1. DWINDA NOVERA
2. MUARA SIAGIAN
3. WAHYUDI RULIYADI

15081009
15081021
15081037

PROGRAM

MAGISTER

MANAJEMEN
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
PADANG
2015
Pengertian Analisis Rasio Keuangan
Analisis rasio adalah suatu metode untuk mengetahui hubungan dari pos-pos
tertentu dalam neraca atau laba-rugi secara individu atau kombinasi dari kedua laporan
tersebut

(Munawir,

2004:37).

Rasio

menggambarkan

suatu

hubungan

atau

perlambangan antara suatu jumlah tertentu dengan jumlah lain, dan dengan
menggunakan alat analisa berupa rasio yang akan menjelaskan atau menggambarkan
kepada penganalisa baik atau buruknya keadaan posisi keuangan suatu perusahaan.
Pengertian rasio keuangan menurut James C Van Home dalam (Kasmir,
2011:104) merupakan indeks yang menghubungkan dua angka akuntansi dan diperoleh
dengan membagi satu angka dengan angka lainnya. Rasio keuangan digunakan untuk

mengevaluasi kondisi keuangan dan kinerja perusahaan. Dari hasil rasio keuangan ini
akan terlihat kondisi kesehatan perusahaan yang bersangkutan.
Jadi rasio keuangan merupakan kegiatan membandingkan angka-angka yang ada
dalam laporan keuangan dengan cara membagi satu angka dengan angka lainnya.
Perbandingan dapat dilakukan antara satu komponen dengan komponen dalam satu
laporan keuangan atau antar komponen yang ada di antara laporan keuangan. Kemudian
angka yang diperbandingkan dapat berupa angka-angka dalam satu periode maupun
beberapa periode.
Dalam praktiknya, analisis rasio keuangan suatu perusahaan dapat digolongkan
menjadi sebagai berikut:
1. Rasio neraca, yaitu membandingkan angka-angka yang hanya bersumber dari
neraca.
2. Rasio laporan laba rugi, yaitu membandingkan angka-angka yang hanya
bersumber dari laporan laba rugi.
3. Rasio antar laporan, yaitu membandingkan angka-angka dari dua sumber (data
campuran), baik yang ada di neraca maupun di laporan laba rugi.
Tujuan, Kegunaan dan Keunggulan Analisis Rasio Keuangan
Tujuan dari analisis rasio keuangan adalah membantu manajer dalam memahami
apa yang perlu dilakukan perusahaan sehubungan dengan informasi yang berasal
keuangan yang sifatnya terbatas. Dengan menggunakan rasio-rasio tertentu manajer
akan memperoleh suatu informasi tentang kekuatan dan kelemahan perusahaan dibidang
keuangan. Dari informasi tersebut, manajer dapat membuat keputusan-keputusan
penting dimasa yang akan datang.
Bagi pihak ekstern, analisis rasio keuangan bertujuan untuk memperoleh
gambaran tentang perkembangan keuangan suatu perusahaan. Untuk selanjutnya
mereka dapat memutuskan apakah akan membeli, menahan atau menjual saham
perusahaan tersebut. Apabila dari hasil analisis perusahaan memiliki kesehatan atau
perkembangan keuangan kurang baik, maka investor akan lebih berhati-hati.
Manfaat dari analisis rasio keuangan dapat diketahui adanya kelemahankelemahan dari tahun-tahun sebelumnya. Manfaat lain adalah dapat memberikan
informasi apakah perusahaan dalam aspek keuangan tertentu berada diatas rata-rata,
pada rata-rata atau dibawah rata-rata. Apabila diketahui bahwa perusahaan dibawah
rata-rata maka pimpinan perusahaan akan mencari faktor-faktor yang menyebabkannya

untuk kemudian diambil kebijakan keuangan sehingga dapat meningkatkan rasio


keuangan.
Analisis rasio ini memiliki keunggulan dibanding dengan teknik analisis lainnya.
Keunggulan tersebut adalah:
1. Rasio merupakan angka-angka atau ikhtisar statistik yang lebih mudah dibaca
dan ditafsirkan.
2. Merupakan pengganti yang lebih sederhana dan informasi yang disajikan
laporan keuangan yang sangat rinci dan rumit.
3. Mengetahui posisi perusahaan di tengah industri lain.
4. Sangat bermanfaat untuk bahan dalam mengisi model-model pengambilan
keputusan dan model prediksi.
5. Lebih mudah memperbandingkan perusahaan dengan perusahaan lain atau
melihat perkembangan perusahaan secara periodik.
6. Lebih mudah melihat tren perusahaan serta melakukan prediksi dimasa yang
akan datang.

Macam-macam Analisis Rasio Keuangan


1. Rasio Likuiditas
Fred Weston dalam (Kasmir, 2011:129) menyebutkan bahwa rasio likuiditas
merupakan rasio yang menggambarkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi
kewajiban (utang) jangka pendek. Artinya apabila perusahaan ditagih, perusahaan akan
mampu untuk memenuhi utang tersebut terutama utang yang sudah jatuh tempo.
Rasio likuiditas berpungsi untuk menunjukkan kemampuan perusahaan dalam
memenuhi kewajibannya yang sudah jatuh tempo, baik kewajiban kepada pihak luar
perusahaan maupun di dalam perusahaan. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa
kegunaan rasio ini adalah untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam membiayai
dan memenuhi kewajiban (utang) pada saat ditagih.

James O Gill dalam (Kasmir, 2011:130) menyebutkan rasio likuiditas mengukur


jumlah kas atau jumlah investasi yang dapat dikonversikan atau diubah menjadi kas
untuk membayar pengeluaran, tagihan, dan seluruh kewajiban lainnya yang sudah jatuh
tempo.
Rasio likuiditas atau sering juga disebut dengan nama rasio modal kerja
merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur seberapa likuidnya suatu perusahaan.
caranya adalah dengan membandingkan komponen yang ada di neraca, yaitu total aset
lancar dengan total pasiva lancar (utang jangka pendek), penilaian dapat dilakukan
untuk beberapa periode sehingga terlihat perkembangan likuiditas perusahaan dari
wakru ke waktu.
Terdapat dua hasil penilaian terhadap pengukuran rasio likuiditas, yaitu apabila
perusahaan mampu memenuhi kewajibannya, dikatakan perusahaan tersebut dalam
keadaan likuid. sebaliknya, apabila perusahaan tidak mampu memenuhi kewajiban
tersebur, dikatakan perusahaan daram keadaan illikuid.
Berikut ini adalah tujuan dan manfaat yang dapat dipetik dari hasil rasio
likuiditas :
1. Untuk mengukur kemampuan perusahaan membayar kewajiban

atau utang

yang segera jatuh tempo pada saat ditagih Artinya, kemampuan untuk membayar
kewajiban yang sudah waktunya dibayar sesuai jadwal batas waktu yang telah
ditetapkan (tanggal dan bulan tertentu).
2. Untuk mengukur kemampuan perusahaan membayar kewajiban jangka pendek
dengan aset lancar secara keseluruhan. Artinya jumlah

kewajiban

yang

berumur di bawah satu tahun atau sama dengan satu tahun, dibandingkan
dengan total aset lancar.
3. Untuk mengukur kemampuan perusahaan membayar kewajiban jangka pendek
dengan aset lancar tanpa memperhitungkan sediaan atau piutang. Dalam hal ini
aset lancar dikurangi sediaan dan utang yang dianggap likuiditasnya lebih
rendah.
4. Untuk mengukur atau membandingkan antara jumlah sediaan yang ada dengan
modal kerja perusahaan.
5. Untuk mengukur seberapa besar uang kas yang tersedia untuk membayar utang.
6. Sebagai alat perencanaan ke depan, terutama yang berkaitan dengan
perencanaan kas dan utang.
7. Untuk melihat kondisi dan posisi likuiditas perusahaan dari waktu ke waktu
dengan membandingkannya untuk beberapa periode.

8. Untuk melihat kelemahan yang dimiiiki perusahaan, dari masing-masing


komponen yang ada di aset lancar dan utang lancar.
9. Menjadi alat pemicu bagi pihak manajemen untuk memperbaiki kinerjanya,
dengan melihat rasio likuiditas yang ada pada saat ini.
Jenis-jenis rasio likuiditas yang dapat digunakan perusahaan untuk mengukur
kemampuan yaitu :
1. Rasio Lancar (Current Ratio)
Merupakan rasio untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar
kewajiban jangka pendek atau utang yang segera jatuh tempo pada saat ditagih secara
keseluruhan.
Dari hasil pengukuran rasio, apabila rasio lancar rendah, dapat dikatakan bahwa
perusahaan kurang modal untuk membayar utang. Namun, apabila hasil pengukuran
rasio tinggi, belum tentu kondisi perusahaan sedang baik. Hal ini dapat saja terjadi
karena kas

tidak digunakan sebaik mungkin. untuk mengatakan suatu kondisi

perusahaan baik atau tidaknya, ada suatu standar rasio yang digunakan, misalnya ratarata industri untuk usaha yang sejenis atau dapat pula digunakan target yang telah
ditetapkan perusahaan

sebelumnya, sekalipun kita tahu bahwa target yang telah

diterapkan perusahaan biasanya ditetapkan berdasarkan rata-rata industri untuk usaha


yang sejenis.
Rumus untuk mencari rasio lancar atau current rasio dapat digunakan sebagai
berikut :
Current Ratio=

Aktifa Lancar / Aset lancar (Current Assets)


x 100
Hutang lancar(Current Liabilities)

2. Rasio Kas (Cash Ratio)


Rasio kas atau cash ratio merupakan alat yang digunakan untuk mengukur
seberapa besar uang kas yang tersedia untuk membayar utang. Ketersediaan uang kas
dapat ditunjukkan dari tersedianya

dana kas atau yang setara dengan kas seperti

rekening giro atau tabungan di bank (yang dapat ditarik setiap saat). Dapat dikatakan
rasio ini menunjukkan kemampuan sesungguhnya bagi perusahaan untuk membayar
utang-utang jangka pendeknya.
Rumus untuk mencari rasio kas atau cash
berikut :

ratio dapat digunakan

sebagai

Cash Ratio=

Kas+ Efek
x 100
Hutang Lancar ( Current Liabilities )

3. Rasio Cepat (Quich Ratio)


Rasio cepat (quich ratio) atau rasio sangat lancar atau acid test ratio
merupakan rasio yang menunjukkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi atau
membayar kewajiban atau utang lancar (utang jangka pendek) dengan aset lancar tanpa
memperhitungkan nilai sediaan (inventory). Artinya nilai sediaan kita abaikan, dengan
cara dikurangi dari nilai total aset lancar. Hal ini dilakukan karena sediaan dianggap
memerlukan waktu relative lebih lama untuk diuangkan, apabila perusahaan
membutuhkan dana cepat untuk membayar. kewajibannya dibandingkan dengan aset
lancar lainnya.
Rumus untuk mencari rasio cepat (quick ratio) dapat digunakan sebagai berikut:
Quick Ratio=

Kas+ Bank + Efek+ Piutang


x 100
Hutang Lancar

2. Rasio Profitabilitas atau Rentabilitas


Rasio profitabilitas/rentabilitas merupakan rasio untuk menilai kemampuan
perusahaan dalam mencari keuntungan. Rasio ini juga memberikan ukuran tingkat
efektivitas menajemen

suatu perusahaan. Hal

ini ditunjukkan

oleh

laba yang

dihasilkan dari penjualan dan pendapatan investasi. Intinya adalah penggunaan rasio
ini menunjukkan efisiensi perusahaan.
Penggunaan rasio profitabilitas dapat dilakukan dengan menggunakan
perbandingan antara berbagai komponen yang ada di laporan keuangan, terutama
laporan keuangan neraca dan laporan laba rugi. Pengukuran dapat dilakukan untuk
beberapa periode operasi. Tujuannya adalah agar terlihat perkembangan perusahaan
dalam rentang waktu tertentu, baik penurunan atau kenaikan, sekaligus mencari
penyebab perubahan tersebut.
Tujuan penggunaan rasio profitabilitas bagi perusahaan, maupun bagi pihak luar
perusahaan, yaitu:

1. Untuk mengukur atau menghitung laba yang diperoleh perusahaan dalam satu
2.
3.
4.
5.

periode tertentu.
Untuk menilai posisi laba perusahaan tahun sebelumnya dengan tahun sekarang.
Untuk menilai perkembangan laba dari waktu ke waktu.
Untuk menilai besarnya laba bersih sesudah pajak dengan modal sendiri.
Untuk mengukur produktivitas seluruh dana perusahaan yang digunakan baik

modal pinjaman maupun modal sendiri.


6. Untuk mengukur produktivitas dari seluruh dana perusahaan yang digunakan
baik modal sendiri.

Sementara itu, manfaat yang diperoleh adalah untuk :


1. Mengetahui besarnya tingkat laba yang diperoleh perusahaan dalam satu
2.
3.
4.
5.

periode.
Mengetahui posisi laba perusahaan tahun sebelumnya dengan tahun sekarang.
Mengetahui perkembangan laba dari waktu ke waktu.
Mengetahui besarnya laba bersih sesudah pajak dengan modal sendiri.
Mengetahui produktivitas dari seluruh dana perusahaan yang digunakan baik
modal pinjaman maupun modal sendiri.
Dalam praktiknya, jenis-jenis rasio profitabilitas/rentabilitas yang dapat

digunakan :
1. Gross Profit Margin
Rasio untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam mendapatkan laba kotor
dari penjualan.
Rumus menghitung Gross Profit Margin:
Gross Profit Margin=

Penjualan NettoHPP
x 100
Penjualan Netto

2. Operating Income Ratio


Rasio untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam mendapatkan laba operasi
sebelum bunga dan pajak dari penjualan.
Rumus menghitung Operating Income Ratio:

OIR=

Penjualan NettoHPP Biaya AdministrasiUmum ( EBIT )


x 100
Penjualan Netto

3. Net Profit Margin


Rasio untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam mendapatkan laba bersih
dari penjualan.
Rumus menghitung Net Profit Margin:
Net Profit Margin=

Laba Bersih Setelah Pajak ( EAT )


x 100
Penjualan Netto

4. Earning Power of Total Investment


Rasio untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam mengelola modal yang
dimiliki yang diinvestasikan dalam keseluruhan aktiva untuk menghasilkan keuntungan
bagi investor dan pemegang saham.
Rumus menghitung Earning Power of Total Investment:
Earning Power of Total Investment =

EBIT
x 100
Jumlah Aktiva

5. Rate of Return Investment (ROI) atau Net Earning Power Ratio


Rasio untuk mengukur kemampuan modal yang diinvestasikan dalam
keseluruhan aktiva untuk menghasilkan pendapatan bersih.
Rumus menghitung Rate of Return Investment (ROI):
Rate of Return Investment ( ROI )=

EAT
x 100
Jumlah Aktiva

6. Return on Equity (ROE)


Rasio untuk mengukur kemampuan rasio untuk mengukur kemampuan equity
untuk menghasilkan pendapatan bersih.
Rumus menghitung Return on Equity (ROE):

Returnon Equity ( ROE ) =

EAT
x 100
Jumlah Equity

7. Rate of Return on Net Worth atau Rate of Return for the Owners
Rasio untuk mengukur kemampuan modal sendiri diinvestasikan dalam
menghasilkan pendapatan bagi pemegang saham.
Rumus menghitung Rate of Return on Net Worth:
Rate of Returnon Net Worth=

EAT
x 100
Jumlah Modal Sendiri

3. Rasio Solvabilitas atau Leverage Ratio


Rasio solvabilitas atau leverage ratio merupakan rasio yang digunakan untuk
mengukur sejauh mana aktiva perusahaan dibiayai dengan utang. Artinya berapa besar
beban utang yang ditanggung perusahaan dibandingkan dengan asetnya (Kasmir, 2011:
151). Dalam arti luas dikatakan bahwa rasio solvabilitas digunakan untuk mengukur
kemampuan perusahaan untuk membayar seluruh kewajibannya, baik jangka pendek
maupun jangka panjang apabila perusahaan dibubarkan (dilikuidasi).
Penggunaan rasio solvabilitas bagi perusahaan memberikan banyak manfaat
yang dapat dipetik, baik rasio rendah maupun rasio tinggi. Menurur Fred Weston dalam
(Kasmir, 2011:152) rasio solvabilitas memiliki beberapa implikasi berikut :
1. Kreditor mengharapkan ekuitas (dana yang disediakan pemilik) sebagai marjin
keamanan. Artinya jika pemilik memiliki dana yang kecil sebagai modal, risiko
bisnis terbesar akan ditanggung oleh kreditor.
2. Dengan pengadaan dana melalui utang, pemiiik memperoreh manfaat, berupa
tetap dipertahankannya penguasaan atau pengendalian perusahaan.
3. Bila perusahaan mendapat penghasilan lebih dari dana yang dipinjamkannya
dibandingkan dengan bunga yang harus dibayarnya, pengembalian kepada
pemilik diperbesar.
Berikut adalah beberapa tujuan perusahaan dengan menggunakan
solvabilitas yakni:

rasio

1. Untuk mengetahui

posisi

perusahaan

terhadap

kewajiban kepada pihak

lainnya (kreditor).
2. Untuk menilai kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban

yang

bersifat tetap (seperti angsuran pinjaman termasuk bunga).


3. Untuk menilai keseimbangan antara nilai aktiva khususnya aktiva tetap dengan
modal.
4. Untuk menilai seberapa besar aktiva perusahaan dibiayai oleh utang.
5. Untuk menilai seberapa besar pengaruh utang perusahaan terhadap pengelolaan
aktiva.
6. Untuk menilai atau mengukur berapa bagian dari setiap rupiah modal sendiri
yang dijadikan jaminan utang jangka panjang.
7. Untuk menilai berapa dana pinjaman yang segera akan ditagih, terdapat sekian
kalinya modal sendiri yang dimiliki.
Sementara itu, manfaat rasio solvabilitas atau leverage ratio adalah:
1. Untuk menganalisis kemampuan posisi perusahaan terhadap kewajiban kepada
pihak lainnya.
2. Untuk menganalisis kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban yang bersifat
tetap (seperti angsuran pinjaman termasuk bunga).
3. Untuk menganalisis keseimbangan antara nilai aset khusus nya aset tetap
dengan modal.
4. Untuk menganalisis seberapa besar aset perusahaan dibiayai oleh utang.
5. Untuk menganalisis seberapa besar utang perusahaan berpengaruh terhadap
pengelolaan aset.
6. Untuk menganalisis atau mengukur berapa bagian dari setiap rupiah modal
sendiri yang dijadikan jaminan utang jangka panjang.
7. Untuk menganalisis berapa dana pinjaman yang segera akan ditagih

ada

terdapat sekian kalinya modal sendiri.


Dalam praktiknya, terdapat beberapa jenis rasio solvabilitas yang sering
digunakan perusahaan. Adapun jenis-jenis rasio yang ada dalam rasio solvabilitas
antara lain:
1. Debt to Asset Ratio (Debt Ratio)
Debt Ratio merupakan rasio utang yang digunakan untuk mengukur
perbandingan antara total utang dengan total aset. Dengan kata lain, seberapa besar aset

perusahaan dibiayai oleh utang atau seberapa besar utang perusahaan berpengaruh
terhadap pengelolaan aset.
Rumusan untuk mencari debt ratio dapat digunakan sebagai berikut:
Debt asset Ratio=

Total Hutang (debt)


x 100
Total Aset(assets)

2. Debt to Equity Ratio


Debt to equity ratio merupakan rasio yang digunakan untuk menilai utang.
dengan ekuitas, Rasio ini dicari dengan cara membandingkan antara seluruh utang,
termasuk utang lancar dengan seluruh ekuitas. Rasio ini berguna untuk rnengetahui
jumlah dana yang disediakan peminjam (kreditor) dengan pemilik perusahaan. Dengan
kata lain, rasio ini berfungsi untuk mengetahui

setiap rupiah modal sendiri yang

dijadikan untuk jaminan utang.


Rumus untuk mencari debt to equity ratio dapat digunakan perbandingan antara
total utang dengan total ekuitas sebagai berikut :
Debt equity ratio=

Total Hutang( Debt )


x 100
Ekuitas(Equity)

4. Rasio Aktifitas atau Activity Ratio


Rasio untuk mengukur seberapa efektif perusahaan dalam memanfaatkan
sumber daya yang dimilikinya.
Ada beberapa jenis rasio Solvabilitas antara lain :
1. Total Assets Turn Over
Rasio untuk mengukur tingkat perputaran total aktiva terhadap penjualan.
Rumus menghitung Total Assets Turn Over Ratio:
Total Assets

Turn
Penjualan
=
x 100
Ratio Total Aktiva

2. Working Capital Turn Over


Rasio untuk mengukur tingkat perputaran modal kerja bersih (Aktiva LancarHutang Lancar) terhadap penjualan selama suatu periode siklus kas dari perusahaan.
Rumus menghitung Working Capital Turn Over Ratio:

WorkingCapital

Turn
Penjualan
=
x 100
Ratio Modal Kerja Bersih

3. Fixed Assets Turn Over


Rasio untuk mengukur perbandingan antara aktiva tetap yang dimiliki terhadap
penjualan.
Rasio ini berguna untuk mengevaluasi seberapa besar tingkat kemampuan
perusahaan dalam memanfaatkan aktivatetap yang dimiliki secara efisien dalam rangka
meningkatkan pendapatan.
Rumus menghitung Fixed Assets Turn Over Ratio:
Assets

Turn
Penjualan
=
x 100
Ratio AktivaTetap

4. Inventory Turn Over


Rasio untuk mengukur tingkat efisiensi pengelolaan perputaran persediaan yang
dimiliki terhadap penjualan.
Semakin tinggi rasio ini akan semakin baik dan menunjukkan pengelolaan
persediaan yang efisien.
Rumus menghitung Inventory Turn Over Ratio:
Inventory

Turn
Penjualan
=
x 100
Ratio Persediaan

5. Average Collection Period Ratio


Rasio untuk mengukur berapa lama waktu yang dibutuhkan oleh perusahaan
dalam menerima seluruh tagihan dari konsumen.
Rumus menghitung Average Collection Period Ratio:
Average Collection Period Ratio=

6. Receivable Turn Over

Piutang X 365
x 100
Penjualan

Rasio untuk mengukur tingkat perputaran piutang dengan membagi nilai


penjualan kredit terhadap piutang rata-rata.
Semakin tinggi rasio ini akan semakin baik dan menunjukan modal kerja yang
ditanamkan dalam piutang rendah.
Rumus menghitung Receivable Turn Over Ratio:
Turn
Penjualan
Receivable
=
x 100
Ratio Piutang RataRata

5. Rasio Nilai Pasar


1. Merupakan rasio yang bermanfaat untuk mengukur kemampuan perusahaan
dalam memberikan kembalian atau imbalan kepada para pemberi dana,
khususnya investor yang ada di pasar modal.
2. Merupakan Rasio yang bermanfaat bagi para investor untuk menilai kinerja
sekuritas saham di pasar modal.
3. Tujuan analisis sekuritas saham di pasar modal adalah untuk menentukan
sekuritas saham dan produk2 derivasinya seacara teoritis menguntungkan.
4. Keuntungan investasi saham yang diharapkan oleh para investor di pasar modal
pada dasarnya terdiri atas dua macam, yaitu perubahan harga sekuritas saham
yang bersangkutan (capital gain) dan Deviden.

Rumus menghitung Rasio nilai pasar yaitu:


1. Price Earning Ratio (PER).
Menggambarkan apresiasi pasar terhadap kemampuan perusahaan dalam
menghasilkan laba. PER dihitung dalam satuan kali. Bagi investor, semakin kecil PERnya semakin bagus karena berarti saham tersebut relative murah.
PER=

Harga Saham
EPS

2. Book Value (Nilai Buku Saham).

Menggambarkan perbandingan total dana pemegang saham terhadap jumlah


saham.
BV =

Total Ekuitas
Jumlah Saham

3. Price to Book Value (PBV).


Rasio keuangan ini menggambarkan seberapa besar pasar menghargai nilai buku
saham suatu perusahaan. Makin tinggi rasio ini, berarti pasar percaya akan prospek
perusahaan.
PBV =

Harga Saham
Nilai Buku Saham

6. Analisis Du Pont Chart


Analisa DuPont dilakukan dengan memecah return on equity (ROE) menjadi
beberapa bagian. Mengapa ROE? ROE menggambarkan besarnya rate of return yang
didapatkan oleh pemegang sahamnya. Dengan memecah perhitungan ROE, kita dapat
mengetahui bagaimana suatu bisnis mendapatkan keuntungan.

Pada analisa DuPont, ROE dipecah menjadi 3 bagian:

7. Analisis kebangkrutan
Salah satu penelitian mengenai Z-Score adalah Professor Edward L. Altman.
Pada tahun1968 beliau memprediksi kebangkrutan dengan menggunakan metode MDA
(Z-Score) dan mampu memprediksi hingga keakuratannya mencapai 95% pada
perusahaan selama 12 bulan.
Z-Score Altman untuk perusahaan perbankan yang telah go public ditentukan
dengan menggunakan rumus sebagai berikut (S.Munawir, 2002: 309):
Z-Score = 1,2 X1 + 1,4 X2 + 3,3 X3 + 0,6 X4 + 1,0 X5
Dimana:
X1 = Working Capital to Total Assets (Modal Kerja/Total Aset)
X2 = Retained Earning to Total Assets(Laba Ditahan/Total Aset)
X3 = Earning Before Interest and Taxes(EBIT) to Total Assets(Pendapatan
Sebelum Dikurangi Biaya Bunga/Total Aset)

X4

= Market Value of Equity to Book Value of Total Liabilities(Harga Pasar

X5

Saham Dibursa/Nilai Total Utang)


= Sales to Total Assets (Penjualan/Total Aset)

Score
Z > 2,99 Safe Zone (Tidak bangkrut)
1,81 < Z < 2,99 Grey Zone (Daerah kelabu)
Z < 1,81 Distress Zone (Bangkrut)
8. Analisis Common-Size
Ialah analisis yang disusun dengan menghitung tiap-tiap rekening dalam laporan
laba-rugi dan neraca menjadi proporsi dari total penjualan (untuk laporan laba-rugi) atau
dari total aktiva (untuk neraca).
Laporan keuangan dalam persentase per-komponen (Common-size statement)
menyatakan masing-masing posnya dalam satuan persen atas dasar total kelompoknya,
cara penyusunan laporan keuangan ini disebut teknik analisis common-size dan
termasuk metode analisis vertikal.
Suatu neraca yang disusun dalam persentase per-komponen (Common-size
statement) dapat memberikan informasi sebagai berikut:
1. Komposisi investasi (aktiva) suatu perusahaan dapat memberikan gambaran
tentang posisi relatif aktiva lancar terhadap aktiva tak lancar.
2. Struktur modal (komposisi pasiva), yang dapat memberikan gambaran mengenai
posisi relatif utang perusahaan terhadap modal sendiri.
PT. BAGAS PERKASA JAYA
Neraca Komparatif dalam Persentase Per-Komponen
Per 31 Desember 2009 dan 2010
(Dalam Ribuan Rupiah)

31 Desember

Common-Size
(%)

NERACA
2009
AKTIVA

2010

2009

2010

Aktiva Lancar
Kas

Rp 1.300

Rp 1.200

9,29

7,50

Piutang Dagang

Rp 1.200

Rp 1.000

8,57

6,25

Persediaan

Rp 2.200

Rp 2.600

15,71

16,25

Total Aktiva Lancar

Rp 4.700

Rp 4.800

33,57

30,00

Tanah

Rp 2.300

Rp 3.700

16,43

23,13

Gedung

Rp 4.000

Rp 4.000

28,57

25,00

Mesin

Rp 4.000

Rp 5.000

28,57

31,25

Akumulasi Depresiasi

Rp(1.000)

Rp(1.500)

(7,14)

(9,38)

Total Aktiva Tetap

Rp 9.300

Rp11.200

66,43

70,00

Rp14.000

Rp16.000

100%

100%

Utang Lancar

Rp 2.500

Rp 2.200

17,86

13,75

Utang Jangka Panjang

Rp 4.500

Rp 6.000

32,14

37,50

Modal

Rp 7.000

Rp 7.800

50,00

48,75

Aktiva Tetap

Total Aktiva

PASIVA (UTANG & MODAL)

Total Utang & Modal

Rp14.000

Rp16.000

100%

100%

PT. BAGAS PERKASA JAYA


Laporan Laba-Rugi Komparatif dalam Persentase Per-Komponen
Per 31 Desember 2009 dan 2010
(Dalam Ribuan Rupiah)
Tahun

Common-Size (%)

LABA-RUGI
2009

2010

Penghasilan

Rp 150.000

Rp 200.000

Harga Pokok Penjualan

2009

2010

100%

100%

Rp (50.000) Rp (60.000)

(33,33)

(30,00)

Laba Kotor

Rp 100.000

Rp 140.000

66,67

70,00

Biaya Pemasaran

Rp (25.000)

Rp (34.000)

(16,67)

(17,00)

Biaya Administrasi

Rp (20.000)

Rp (28.000)

(13,33)

(14,00)

Biaya Bunga

Rp (10.000)

Rp (14.000)

(6,67)

(7,00)

Laba Sebelum Pajak

Rp

45.000

Rp

64.000

30,00

32,00

Pajak (15%)

Rp

(6.750)

Rp (9.600)

(4,50)

(4,80)

Laba Bersih

Rp

38.250

Rp

25,50

27,20

54.400

9. Analisis Sumber Dan Penggunaan Dana


Apa yang dapat diketahui dengan melakukan analisis ini?
1. Berapa besar kenaikan / penurunan pos aktiva
2. Mengetahui darimana dana diperoleh untuk berbagai kenaikan aktiva tersebut
bila terjadi kenaikan dan kemana larinya dana tersebut bila terjadi penurunan
aktiva
3. Alasan yang baik untuk melakukan restrukturisasi pinjaman
Sumber dana berasal dari mana?
1.
2.
3.
4.
5.

Berkurangnya aktiva lancar selain kas


Berkurangnya aktiva tetap
Bertambahnya setiap jenis hutang
Bertambahnya modal
Adanya keuntungan operasional

Penggunaan dana terjadi bila?


1.
2.
3.
4.
5.
6.

Bertambahnya aktiva lancar selain kas


Bertambahnya aktiva tetap
Berkurangnya hutang
Berkurangnya modal
Pembayaran dividen tunai
Adanya kerugian operasional

10. EVA
Konsep EVA adalah mengukur nilai tambah yan dihasilkan suatu perusahaan
dengan cara mengurangi laba operasi setelah pajak dengan beban biaya modal (cost of
capital), dimana beban biaya modal mencerminkan tingkat resiko perusahaan. EVA
merupakan indikator adanya penciptaan nilai

dari suatu investasi. Kinerja perusahaan

baik jika EVA bernilai positif. Sebaliknya, kinerja perusahaan tidak baik akan
tampak dengan EVA bernilai negatif. Kondisi EVA yang positif mencerminkan tingkat
pengembalian yang lebih tinggi daripada tingkat biaya modal. EVA yang positif

menunjukkan kemampuan manajemen dalam menciptakan peningkatan nilai kekayaan


perusahaan/pemilik modal, dan sebaliknya, EVA negative menyiratkan adanya
penurunan nilai kekayaan.
11. MVA
MVA merupakan perbedaan antara nilai modal yang ditanamkan di perusahaan
sepanjang waktu darininvestasi modal, pinjaman, laba ditahan, dan uang yang bisa
diambil sekarang atau sama dengan selisih antara nilai buku dengan nilai pasar
perusahaan.
Kelemahan Analisis Rasio Keuangan.
1. Laporan keuangan dari suatu perusahaan yang memiliki sejumlah divisi dari
industri yang berlainan akan sulit dibandingkan dengan perusahaan lain atau
dengan data suatu industri.
2. Terjadinya distorsi karena pengaruh inflasi dan penggunaan data historis dalam
akuntansi.
3. Kesulitan dalam menginterpretasikan hasil analisa. Misalkan, quick ratio yang
tinggi apakah bagus karena kuatnya likuiditas perusahaan. Atau, justru jelek
karena perusahaan memegang kas yang berlebih yang justru tidak produktif.
4. Perbedaan dalam perlakuan akuntansi dapat menimbulkan distorsi dalam
membandingkan rasio.