Anda di halaman 1dari 23

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Membran sel (bahasa Inggris: cell membrane, plasma membrane) adalah
bagian sel yang memisahkan sel dengan lingkungan di luar sel, terutama untuk
melindungi inti sel dan sistem kelangsungan hidup yang bekerja di dalam
sitoplasma.
Menurut Max Schultze (March 25, 1825 - January 16, 1874) menyatakan
bahwa sel merupakan struktur fungsional makhluk hidup. Secara struktural, sel
memiliki membran plasma yang berfungsi sebagai pembatas antara komponen
luar sel dan komponen dalam sel. Sekarang timbul pertanyaan, bagaimana
struktur dari membran plasma sehingga fungsi utama nya sebagai pembatas
dalam berlangsung dengan baik dan bagaimana pula proses molekul bisa
melewati membran yang molekul tersebut sangat dibutuhkan oleh tubuh kita?
Maka dengan itu makalah ini kami buat untuk mengetahui struktur dan
fungsi membran sel secara khusus dan mendetail.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, dapat kita angkat beberapa
permasalahan yaitu:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Apa yang dimaksud dengan membran sel ?


Bagaimana perkembangan model membran sel ?
Apa sajakah komponen dasar membran sel?
Bagaiamana gerak komponen membran?
Bagaimana asimetri pada membran?
Apakah fungsi dari membran?

C. Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah di atas, dapat kita simpulkan beberapa tujuan
yaitu:
1. Untuk mengetahui membran sel, dan perkembangan model membran sel
2. Untuk mengetahui
3. Untuk memahami komponen penyusun dan fungsi membran sel
D. Manfaat Penulisan

Membran Sel

Dengan dibuatnya ini, semoga dapat menjadi salah satu literatur bagi
berbagai kalangan yang memerlukan untuk menambah pengetahuan khususnya
pembahasan mengenai membran sel.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Membran Sel


Membran sel (bahasa Inggris: cell membrane, plasma membrane,
plasmalemma) adalah fitur universal yang dimiliki oleh semua jenis sel berupa
lapisan antarmuka yang disebut membran plasma, yang memisahkan sel
dengan lingkungan diluar sel (kecuali pada sel tumbuhan, bagian luarnya masih
terdapat dinding sel atau cell wall). Membran merupakan lapisan yang hanya
memiliki ketebalan 8 nm dan bersifat selektif permeabel yaitu membran hanya

Membran Sel

dapat ditembus dengan lebih mudah oleh substansi tertentu.


Peran membran lebih jauh sebagai pembatas organel yang mampu
memberikan lingkungan berbeda dalam sel sehingga metabolisme yang
berlawanan reaksi dapat terjadi.
Membran sel dikenal dengan nama membran biologis, meliputi membran
plasma atau plasmalemma dan membran sejumlah organel yang terdapat di
dalam sel. Hingga saat ini dikenal sejumlah model membran, antara lain model
membran menurut Overton, Model membran menurut Plowe, Model membran
menurut E. Gorter dan F. Grendel (1925), Model membran menurut J.F. Danielli
dan E.N. Harvey, Model Membran Menurut J. Danielli dan H. Davson (1935),
Model membran menurut Robertson, dan Model membran menurut Singer dan
Nicolson (1972). Model membran yang dianut saat ini adalah Model membran
menurut Singer dan Nicolson atau model membran mosaic cair.
Membran plasma membatasi isi sel dari lingkungan luarnya. Secara
umum membran sel terdiri dari senyawa-senyawa lipida, protein dan karbohidrat.
Selain sebagai pembatas, membran sel juga berfungsi sebagai Protein
membran memiliki berbagai macam fungsi, antara lain: (i) Melekatkan membran
pada sitoskeleton tau rangka sel, (ii) Membentuk junction (pertemuan) diantara
dua sel yang bertetangga, (iii) Sejumlah protein membran berperan sebagai
enzim, (iv) sejumlah protein membran berfungsi sebagai resptor permukaan bagi
peruruhpsuruh kimia dari sel-sel lain, dan (v) beberapa protein membran membantu pergerakan subtansi-subtansi melintasi membran (Anonim, 2007)
Membran sel memiliki peranan yang sangat penting dalam transpor berbagai
molekul, baik mikromolekul mau-pun makromolekul. Transpor mikromolekul
dapat berlang-sung secara pasif, misalnya melalui difusi, difusi terbantu dan
osmosis dan dapat pula berlangsung secara aktif. Transpor makromolekul dapat
berlangsung secara endositosis, eksositosis, dan pertunasan. Ciri khas transport
makromolekul adalah subtansi atau materi yang diangkut selalu dikemas dalam
suatu vesikula yang berbatas membran.

B. Perkembangan Model Membran Sel


Model membran sel yang diakui saat ini adalah model membran menurut
Singer dan Nicolson (model membran Mosaik Cair). Model membran tersebut
meru-pakan penyempurnaan berbagai model membran yang telah diusulkan

Membran Sel

sebelumnya. Beberapa model membran yang pernah diusulkan antara lain:


1. Model membran menurut Overton
Senyawa hidrofobik masuk ke dalam sel lebih cepat daripada senyawa
hidrofilik. Pada bagian sebelah luar sel terdapat senyawa hidrofobik yang mudah
larut. Overton menduga bagwa lapisan tersebut terdiri atas kolesterol, lesitin,
dan minyak lemak. Langmuir menemukan bahwa, bila suatu lipida yang terdiri
dari molekul yang memiliki bagian polar (hidrofilik) dan nonpolar (hidrofobik)
diteteskan pada air, maka lipida tersebut meluas membentuk lapisan monomolekul. Bagian hidrofilik setiap molekul mengarah ke air, sedangkan bagian
hidrofobiknya mengarah menjauhi air. (Gambar 1.1)

Menurut Plowe, lapisan luar protoplasma pada sel tumbuhan adalah suatu
lapisan elastis yang berbeda dari bagian lain dari sitoplasma dan disebut
plasmalemma atau membran plasma. Menurut Plowe, membran plasma adalah
suatu satuan fisik yang mempunyai suatu organisasi molekul yang memisahkan
membran plasma dari bagian lain sel.

Membran Sel

Gambar.1. Tetes

lipida pada permukaan air menurut Langmuir

2. Model membran menurut Gorter dan Grendel


Membran sel terutama dibentuk dari molekul lipida bimolekuler. Ujung polar
molekul lipida pada satu lapisan terorientasi ke luar, sedangkan ujung polar lipida
pada la-pisan yang lain terorientasi ke arah dalam atau sitoplasma (Gambar 1.2)

Gambar 1.2 Model membran menurut Gorter dan Grendel

3. Model membran menurut J.F. Danielli dan E.N. Harvey


Ia mengusulkan bahwa, membran plasma terdiri atas dua fase, yaitu fase cair
dan fase minyak. Bagian lipida yang hidrofobik terorientasi ke arah fase cair.
Protein terhidrasi bekerja sebagai suatu buffer diantara kepala lipida yang
hidrofilik dan fase cair. (Gambar 1.3)

Membran Sel

Gambar 1.3 Model membran menurut Danielli & Harvey (Thorpe, 1984)

4. Model Membran Menurut Danielli dan Davson


Membran plasma terdiri atas dua lapisan lipida-protein. Molekul-molekul
lipida amfifatik terorientasi de-ngan daerah hidrofobik ke arah fasa minyak, dan
permu-kaan lain terorientasi ke arah lingkungan eksternal. Perotein terhidrasi
berperan sebagai suatau buffer pelapis antara kepala lipida yang hidrofilik dan
fasa air (Gambar 1.4)

Gambar 1.4 Model membran Danielli-Davson

5. Model membran menurut Robertson


Membran plasma merupakan struktur berlapis tiga yang terdiri atas dua lapisan terluar yang

Membran Sel

padat, terdiri atas protein dengan tebal masing-masing 2,0 nm dan lapisan tengah berupa lipida
dengan tebal 3,5 nm. Jadi tebal membran keseluruhan adalah 7,5 nm. Ketiga lapisan membran
tersebut disebut Unit Membran (Gambar 1.5). Protein pada kedua permukaan bilayer lipida
memiliki konformasi memanjang tetapi asimetris. Model membran Robertson tidak dapat
menerangkan sifat-sifat permeabi-litas dan transpor zat melintasi membran.

Gambar 1.5 Model membran menurut Robertson (Thorpe, 1984)


6. Model membran menurut Singer dan Nicolson
Menurut Singer dan Nicolson, tebal membran sel berkisar 8,5 nm. Membran
plasma terdiri atas (i) lapisan lipida ganda, yang dikelilingi oleh protein globular.
Protein globular ada yang tertanam pada matriks membran dan ada yang terikat
pada permukaan polar lipida, (ii) Protein membran, berada dalam keadaan
tersebar, bukan sebagai suatu lapisan yang bersinambungan, (iii) Protein yang
terikat pada permukaan polar lipida disebut protein perifer atau protein ekstrinsik.
Sedangkan protein yang tertanam pada matriks atau menembus lapisan lipida
disebut protein integral atau protein intrinsik. (iv) Protein perifer dan integral
yang berkaitan dengan molekul gula disebut glikoprotein, sedangkan molekul
lipida yang berikatan dengan gula disebut glikolipida. (Gambar 2.1)

Membran Sel

Gambar 2.1 Model membran Singer dan Nicolson Danielli-Davson


(Sheler dan Bianchii, 1983)
C. Komponen Dasar Membran Sel
Membran sel terdiri atas lipida, protein, dan karbohidrat. Rasio antara lipida,
protein dan karbohidrat tergantung pada tipe sel dan spesiesnya. Umumnya lipida
kurang lebih 40%, protein 40%, karbohidrat 1-10%, dan air 20%. Lipida
membran terdiri atas dua lapisan, satu lapisan terorientasi ke arah luar, dan
lapisan yang lain terorientasi ke arah sitoplasma. Protein pada membran sel
merupakan protein globuler. Protein-protein tersebut ter-distribusi secara tidak
merata pada membran sel. Sebagian protein membran terletak pada bagian perifer
dan sebagian yang lainnya tertanam pada setengah lapisan lipida atau tertanam
menembus kedua lapisan lipida. Bagian karbohidrat membran biasanya dalam
bentuk oligosakarida. Karbohidrat pada membran bisanya terikat pada lipida, dan
sebahagian yang lainnya terikat pada protein. (Gambar 2.2)

Membran Sel

Gambar 2.2 Struktur Dasar Membran Sel


1. Lipida Membran Sel
Lipida pada membran sel terdiri atas dua lapisan. Setiap molekul lipida
bersifat amfifatik. Lipida amfifatik mengandung komponen yang bersifat
hidrofobik (non polar/tidak suka air) dan komponen yang bersifat hidrofilik
(polar/suka air). Lipida membran terdiri dari 4 kelas utama, yaitu (i) Fosfolipida,
(ii) Sfingolipida, (iii) Glikolipida, dan (iv) Sterol. Keempat kelas lipida tersebut
bersifat amfifatik.
Lapisan lipida bilayer. Lapisan ini terdiri atas molekul yang bersifat
amfifatik. Lipida amfifatik mengan-dung komponen yang bersifat hidrofobik
(non polar/tidak suka air) dan komponen hidrofilik (polar/suka air).

Membran Sel

10

Gambar 2.3 Lipida Membran


a) Fosfolipida
Fosfolipida pada umumnya mengandung gliserol. Gugus hidroksil 1 dan 2
diesterifikasi dengan asam lemak dengan rentang karbon 12-24. Esterifikasi
dengan rentang karbon 16 dan 18 paling umum dijumpai pada hewan berdarah
panas. Suatu kelompok fosfat terikat secara kuat pada posisi karbon 3, dan pada
posisi tersebut ia dapat berikatan dengan salah satu molekul seperti residu kolin,
serin, etaol amin atau inositol. Fosfolifida meliputi (i) asam fosfatidat dan
fosfatidilgliserol, (ii) fosfatidilkolin, (iii) fosfatidiletanolamin, (iv) fosfatidilinositol, dan (v) fosfati-dilserin.

Gambar 2.4 Fosfolipida Membran Sel


Fosfatidilkolin atau lesitin mengandung gliserol dan asam lemak serta asam
fosfat dan kolin. Tersebar luas di dalam sel-sel tubuh dan mempunyai fungsi
metabolik

Membran Sel

dan

struktural

yang

sangat

penting

pada

membran

sel.

11

Fosfatidiletanolamin atau sefalin mirip dengan fosfa-tidilkolin, hanya kolinnya


diganti dengan etanolamin. Seperti halnya fosfatidilserin dan fosfatidiletanolamin, fosfatidilinositol juga merupakan komponen membran yang sangat
penting.

Fosfatidilserin mengandung asam amino serin sebagai pengganti

etanolamin. Sfingomielin merupakan jenis fosfolipida yang banyak dijumpai


pada jaringan otak dan saraf.
Asam fosfatidat penting sebagai perantara pada sintesis triasilgliserol dan
fosfolipida, tetapi tidak banyak ditemukan di dalam jaringan. Kardiolipin adalah
fosfolipida yang ditemukan dalam membran mitokondria yang dibentuk dari
fosfatidil-gliserol.dalam membran plasma hepatosit
b) Sfingolipida
Sfingolipida merupakan lipida yang tidak mengandung gliserol amfifatik,
terutama berlimpah di dalam jaringan otak dan saraf. Lipida ini diturunkan dari
sfingosin. Sfingolipida yang paling berlimpah, yaitu sfingomyelin yang terdapat
di dalam jaringan otak dan saraf.

c) Glikolipida
Glikolipida mengandung seramida dan galaktosa. Oleh sebab itu, sfingolipida
dapat dikelompokkan ke dalam glikolipida. Glikolipida sederhana hanya
mengandung galaktosa, asam lemak dengan berat molekul besar, dan sfingosin
atau serebrosida. Masing-masing serebrosida dibedakan oleh jenis asam lemak
dalam molekulnya.
Glikolipida hanya dijumpai pada permukaan luar sel. Pada sel hewan
dibentuk dalam jumlah yang banyak dari sfingosin, jarang dari gliserol. Ada dua
kelas utama yaitu gangliosida dan serebrosida, keduanya secara khusus penting
dalam system saraf pusat.

d) Steroid
Semua steroid memiliki inti siklik serupa yang menyamai fenanteren (cincin
A, B, dan C) yang merupa-kan tempat perlekatan cincin siklopentana (D).
Kandungan lipida membran dapat bervariasi pada satu jenis sel pada spesies yang
berbeda, misalnya eritrosit pada tikus, sapi liar, babi, dan biri-biri (Gambar 2.5).

Membran Sel

12

Gambar 2.5 Perbandingan komposisi lipida pada sel eritrosit pada berbagai jenis hewan
(Thorpe, 1984).

2. Protein
Protein plasma memiliki fungsi yang sangat luas, antara lain sebagai
protein pembawa (carrier) senyawa yang melewati membran plasma, menerima
isyarat (signal) hormonal, dan meneruskan isyarat tersebut ke bagian sel sendiri
atau ke sel lainnya. Protein membran plasma juga berfungsi sebagai pangkal
pengikat

komponen-komponen

sitoskeleton

dengan

senyawa-senyawa

ekstraseluler. Molekul-molekul protein permukaan luar memberikan ciri-ciri


individual tiap sel dan macam protein dapat berubah sesuai dengan differensiasi
sel..
Protein perifer tidak berinteraksi dengan bagian tengah membran hidrofobik,
tetapi terikat secara langsung melalui asosiasi dengan protein integral membran
atau secara langsung berinteraksi dengan bagian polar lipida membran. Misalnya
protein sitskeleton, protein kinase (pada permukaan sitoplasmik membran), dan
protein matriks ekstraseluler (permukaan eksoplasmik). Protein transmembran
mengandung segemen panjang asam-asam amino hidrofobik yang tertanam pada
bilayer lipida. Ada dua tipe interaksi yang menstabilkan protein integral
membran, yaitu interaksi ionic dengan daerah kepala yang bersifat polar dan
interaksi hidrofobik dengan bagian tengah yang bersifat hidrofobik, misalnya
glikoforin. Beberapa protein integral berikatan dengan membran melalui ikata
koovalen pada rantai hidrokarbon. Dikenal ada tiga tipe protein integral
berdasarkan

perlekatannya

pada

rantai

hidrokarbon,

yaitu

Glycosyl-

phosphatidylinositol-Proteins,Myristate-Proteins,dan Farnesyl- Proteins.


Kedudukan dan orientasi protein pada membran bervariasi sesuai macam
membran, sel dan jaringan. Ia dapat berupa protein integral atau protein perifer.
Glikoprotein pada membran eritrosit merupakan suatu protein yang menembus

Membran Sel

13

membran sel. Protein integral membran terdiri atas empat kelas, yaitu protein tipe
A, protein tipe B, protein tipe C, dan protein tipe D. Protein tipe A dan C secara
struktural sama, tetapi tertanam pada setengah lapisan membran yang berbeda.
Contoh protein tipe A adalah Cytochrom b5 pada retikulum endoplasma. Protein
B adalah kompleks protein yang berperan dalam sistim transpor. Protein D adalah
protein trans membran. Protein tipe B merupakan kumpulan molekul yang terdiri
atas Na+, K+, ATP-ase dan suatu anion protein transpor. Contoh protein tipe D
adalah glikoforin pada membran eritrosit.

Gambar 3.1 Skema

yang menunjukkan empat kelas protein integral

membran (Thorpe, 1984)


Protein membran plasma dapat berfungsi sebagai enzim. Enzim-enzim pada
membran plasma dapat dikelompok-kan menjadi dua kategori berdasarkan tempat
aktivitas katalitiknya, yaitu:
a) Ektoenzim, yaitu enzim dimana aktivitas katalitiknya berlangsung pada
permukaan luar membran plasma.
b) Endoenzim, yaitu enzim dimana aktivitas katalitiknya berlangsung pada
permukaan dalam membran plasma.
Beberapa jenis enzim yang biasanya dijumpai pada membran plasma, yaitu :
Asetilfosfatase
Asetilkolinesterase
Asam fosfatase
Adenil siklase
Alkalin fosfatase
Alkalin fosfodiesterase
Membran Sel

Kolesterol esterase
Guanilat siklase
Laktase
Maltase
Monogliserida
lipase

NAD glikohidrolase
5 nukleotidase
Fosfolipase A
Stalidase
Sfingomielinase
Sukrase

14

3. Karbohidrat
Karbohidrat pada membran plasma terikat pada protein atau lipida dalam
bentuk glikolipida dan glikoprotein. Glikolipida merupakan kumpulan berbagai
jenis unit-unit monosakarida yang berbeda seperti gula-gula sederhana Dglukosa, D-galaktosa, D-manosa, L-fruktosa, L-arabinosa, D-xylosa, dan
sebagainya. Karbo-hidrat ini memegang peranan penting dalam berbagai aktivitas
sel, antara lain dalam sistim kekebalan. Karbo-hidrat pada membran plasma
merupakan hasil sekresi sel dan tetap berasosiasi dengan membran membentuk
glikokaliks. Biasanya para dokter dapat mengetahui setiap sel normal atau
abnormal melalui glikolipid dan glikoproteinnya.

Gambar 3.2 Molekul glikoforin membran (Thorpe, 1984)

D. Gerak Komponen Membran


1. Gerak Lipida
Lipida pada membran tidak berada dalam keadaan statis, melainkan berada
dalam keadaan yang dinamis. Molekul-molekul lipida pada membran bergerak

Membran Sel

15

dengan dua cara, yaitu :


Gerak lateral, yaitu jika suatu molekul lipida ber-tukar tempat dengan molekul
lipida di dekatnya. Gerakan ini biasanya berlangsung cepat. Pada sel bakteri,
lipida dapat bergerak sepanjang ~2um/ detik.
Gerak Flip-flop, yaitu gerak dari suatu molekul lipida pada suatu monolayer
membran ke mono-layer membran yang lainnya. gerakan ini berlang-sung dari
suatu lapisan lipida ke lapisan lipida lainnya pada membran layer.

Gambar 3.3 Difusi lateral dan flip-flop molekul lipida pada membran

Temperatur dan komposisi lipida menentukan fluiditas membran. Pada


temperature rendah fluiditas membran kurang disebabkan karena fosfolipida
terkemas lebih rapat. Salah satu faktor yang menentukan fluiditas membran sel
adalah kandungan asam lemak tidak jenuh pada bagian ekornya. Membran sel
yang mengandung rantai asam lemak tidak jenuh yang lebih banyak lebih bersifat
cair bila dibandingkan membran sel dengan kandungan asam lemak jenuh. Hal ini
disebabkan karena ekor asam lemak tidak jenuh yang kusut lebih sulit untuk
dikemas.

Membran Sel

16

Gambar 3.4 Fluiditas membran sel


Fluiditas membran juga dipengaruhi oleh kandung-an kolesterolnya.
Kolesterol membantu dalam menstabil-kan membran. Pada temperatur tinggi,
kolesterol yang terdapat diantara fosfolipida dapat menahan gerakan fosfolipida.
Pada temperature rendah menghalangi close packing, dan mencegah membran
menjadi keras.
2. Gerak Protein
Selain molekul lipida, molekul protein juga dapat melakukan gerakan dengan
berbagai cara, yaitu gerak:
Difusi lateral.
Difusi rotasi melalui sumbu yang tegak lurus dengan permukaan membran.
Difusi rotasi yang melalui sumbu yang sejajar dengan permukaan membran.

Membran Sel

17

Gambar 3.5 Fluiditas membran klosterol

Gambar 4.1 Derakan protein dengan cara difusi lateral dan difusi rotasi
E. Asimetri Membran
Membran sel mengandung komponen lipida, protein dan bahkan karbohidrat
yang tersebar secara tidak merata antara kedua permukaan membran. Oleh sebab
itu, membran sel dikatakan asimetri.

1. Penyebaran Lipida pada Permukaan Membran


Penyebaran lipida pada kedua permukaan membran tidak sama. Lipida harus
mengisi tempat yang tidak terisi dengan protein. Pada membran eritrosit,
fosfatidilkolin (PC) dan sfingomielin (SM) terutama terdapat pada setengah
bagian luar membran. Sedangkan fosfatidilserin (FS) dan fosfatidiletanol-amin
(PE) terutama terdapat pada setengah bagian dalam membran (Gambar 4.2)

Membran Sel

18

Gambar 4.2 Penyebaran kandungan Fosfolipida pada membran


eritrosit (Thorpe, 1984)

2. Penyebaran Protein pada Permukaan Membran


Seperti halnya dengan lipida, molekul protein juga tersebar secara tidak
merata pada kedua permukaan membran. Sebagai contoh adalah setengah bagian
luar dari membran eritrosit mengandung protein dalam jumlah yang lebih sedikit
dibandingkan dengan jumlah protein yang terdapat pada setengah bagian dalam
membran. Keadaan ini menyebabkan morfologi membran menjadi asimetris .

Gambar 4.3 Penyebaran protein pada membran


3. Penyebaran Karbohidrat pada Permukaan Membran
Karbohidrat umumnya terikat pada molekul lipida atau molekul protein yang
terdapat pada permukaan membran sebelah luar. Keadaan ini pun memberikan
sumbangan terhadap model membran yang asimetris

Gambar 4.4 Penyebaran karbohidrat


pada membran (Thorpe,1984)

Membran Sel

19

F. Fungsi Membran Plasma


Fungsi membran plasma yaitu sebagai tempat penerimaan, pemindahan dan
penerusan informasi. Membran plasma memegang peranan penting dalam
memin-dahkan dan meneruskan informasi dari kompartemen yang satu ke
kompartemen yang lain. Membran plasma, di permukaan luarnya memiliki
molekul-molekul rantai samping yang disebut penerima (reseptor). Rantai-rantai
samping ini sangat khas, bentuk dan susunan setiap rantai samping berbeda.
Setiap reseptor mampu menyatu dengan molekul khas yang disebut molekul
pengikat (ligand) yang memiliki bentuk dan susunan sesuai dengan reseptor.

Gambar 4.5 Reseptor pada permukaan membran sel. Beberapa di antaranya


dapat dilepaskan (Neal O. Thorpe, 1984).
Sebuah sel memiliki beberapa jenis reseptor dan beberapa jenis sel memiliki reseptor yang
berbeda-beda pula. Mekanisme penerusan informasi ditunjukkan pada Gambar 5.1

Membran Sel

20

Gambar 5.1 Mekanisme penerusan pesan dan informasi. 1. pembawa isyarat


pertama; 2. pemilah pesan; 3. pengubah pesan; 4.
pelaksa-na;pembawa isyarat kedua
Selain fungsi-fungsi yang telah dibicarakan, membran plasma bertanggung
jawab atas terjadinya interaksi antar sel yang berlangsung terus menerus antara
sel-sel penyusun jaringan organisma multisel. Organ terdiri dari beberapa jenis
sel yang harus diperoleh dan mempertahankan hubungan khas satu dengan
yang lain untuk melakukan tugas bersama. Untuk hal ini, adanya membran
plasma memungkinkan sel saling mengenali, menempel bila cocok dan bertukar
zat serta informasi. Peranan lain dari membran plasma yaitu sebagai tempat
terjadinya kegiatan biokimia. Contoh: di membran dalam mitokondria,
komponen-komponen dari rantai transpor elektron dan fosforilasi oksidatif harus
bekerja sama dalam koordinasi yang baik. Susunan protein-protein ini dalam
bentuk rakitan reparasi di dalam membran plasma, memungkinkan elektron
berpindah dari pembawa (carrier) yang satu ke pembawa berikutnya secara
teratur. Akibatnya, tenaga elektron dapat berubah menjadi tenaga kimia, dalam
hal ini misalnya ATP. Kegiatan enzimatis di dalam sel, umumnya selalu berkaitan
dengan membran sel.

Membran Sel

21

Gambar 5.2 Berbagai fungsi


protein membran (a) transpor,
(b) aktivitas enzim, (c)
transduksi sinyal, (d) fusi
interseluler, (e) pengenalan
sel, dan (f) pelekatan ke
sitoskeleton dan matriks
ekstraseluler (Campbell,
Reece, dan Mitchell, 2000)

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan uraian diatas maka dapat disimpulkan :
1. Membran sel adalah lapisan yang hanya memiliki ketebalan 8 nm
dan bersifat selektif permeabel
2. Perkembangan model membran ada 6 yaitu :
a. Model membran menurut Overton
b. Model membran menurut Gorter dan Grendel
c. Model membran menurut J.F Danielli dan E.N Harvey

Membran Sel

22

d. Model membra menurut Danielli dan Davson


e. Model membran menurut Robertson
f. Model membran menurut Singer dan Nicolson
3. Komponen dasar membran ada tiga yaitu lipid, protein dan karbohidrat
4. Gerak komponen membran antara lain; gerak lipida dan gerak protein
5. Asimetri pada membran yaitu penyebaran lipida pada permukaan
membran dan penyebaran protein pada permukaan membran
6. Membran berfungsi sebagai tempat penerimaan, pemindahan, dan
penerusan informasi

B. Saran
Untuk memahami mengenai membran sel lebih rinci, disarankan untuk
membaca referensi dari berbagai sumber. Diharapkan setelah mempelajari
mengenai membran sel untuk lebih memahami mengenai membran serta
fungsinya dalam kehidupan.

Membran Sel

23

DAFTAR RUJUKAN
Adnan.2009. Membran Sel.https://id.scribd.com/doc/20536144/ MEMBRANSEL

-Adnan-UNM. Diakses pada tanggal 5 Oktober 2015

Anonim.2012. Struktur danFungsi Membran. https:// biologistkipapp


yk.files.wordpress.com/2012/11/78492003 -struktur- dan
-fungsi-membran-sel.pdf
Dilah.2013.Membran Sel.https://id.scribd.com/doc/122218228/Membran-Sel.
Diakses pada tanggal 5 Oktober 2015
Lumowa, Sonja.2015. Biologi Sel. Universitas Muhammadiyah Malang. Malang
Suarsana Nyoman.2010. Membranes.http://staff.unud.ac.id/~suarsana/ wpcontent/uploads/2010/03/Matakuliah-Membranes-Sel.pdf. Diakses pada
tanggal 5 Oktober 2015

Membran Sel