Anda di halaman 1dari 15

PENGEMBANGAN KURIKULUM MODEL TYLER

MAKALAH
Untuk memenuhi tugas matakuliah
Pengembangan Kurikulum Pendidikan Kimia
yang dibina oleh Drs. I Wayan Dasna, M.Si., M.Ed., Ph.D
Oleh:
KELOMPOK 3
Subaeri
Safi Isrofiyah
Hanie Vidya Ch.
Dyah Wijayanti
Tri Yunita Maharani

(140331808598)
(140331808597)
(140331808584)
(140331808571)
(140331808560)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


PROGRAM PASCASARJANA
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
JUNI 2015

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Pendidikan merupakan salah satu aspek penting di Indonesia. Hal ini
tercantum dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 alinea keempat yang
menyatakan bahwa negara berkewajiban untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Atas dasar inilah maka perlu dirumuskan tujuan pendidikan nasional. Menurut
Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 pasal 3 dinyatakan dengan jelas tujuan
pendidikan nasional bersumber dari sistem nilai pancasila berfungsi
mengembangkan kemampuan dan bentuk watak serta peradaban bangsa yang
bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk
berkembangnya potensi peserta didik, agar menjadi manusia yang beriman dan
bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,
kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung
jawab. Tujuan pendidikan nasional merupakan tujuan jangka panjang yang
menjadi dasar dari segala tujuan pendidikan nasional baik pendidikan formal,
informal maupun pendidikan nonformal.
Tujuan pendidikan nasional dapat dicapai dengan adanya kurikulum yang
baik yaitu kurikulum yang dapat memenuhi harapan stakeholders pendidikan
yang meliputi siswa, pihak sekolah, orang tua, masyarakat pengguna lulusan, dan
pemerintah. Oleh karena itu, pengembangan kurikulum harus sesuai dengan
prinsip-prinsip dasar pengembangan kurikulum antara lain berorientasi pada
tujuan, relevan, efektif dan efisien, kontinyu dan fleksibel serta terintegrasi.
Berkaitan dengan hal tersebut maka kurikulum yang dikembangkan haruslah
dinamis dan terus berkembang agar dapat disesuaikan dengan berbagai
perkembangan yang terjadi pada masyarakat.
Banyak tokoh yang telah mengembangkan model-model kurikulum
diantaranya Taba, Tyler, Oliva, Saylor, dan beberapa model pengembangan
kurikulum lainnya. Model kurikulum yang dikembangkan oleh Tyler yang dikenal
sebagai The Tyler Rationale mengundang banyak perhatian para pengembang
kurikulum di dunia karena tersusun secara rasional, sistematis dan berfokus dalam
perencanaan tujuan yang matang.
Oleh karena itu, penulis akan membahas pengembangan kurikulum Model
Tyler agar dapat diketahui kekurangan, kelebihan dan tahapan pengembangan
kurikulumnya sehingga dapat dijadikan pertimbangan dalam pengembangan
kurikulum.

B. RUMUSAN MASALAH
Adapun rumusan masalah dari makalah ini adalah:
Apakah pengertian kurikulum menurut Tyler?
2. Bagaimana langkah pengembangan kurikulum menurut Tyler?
3. Apakah kelebihan dan kelemahan model pengembangan kurikulum Tyler?
1.

C. TUJUAN
Adapun tujuan pembuatan makalah ini berdasarkan rumusan masalah
diatas adalah:
1. Mengetahui pengertian kurikulum menurut Tyler.
2. Mengetahui langkah pengembangan kurikulum menurut Tyler
3. Mengetahui kelebihan dan kelemahan model pengembangan kurikulum
Tyler

BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN KURIKULUM MENURUT RALPH W. TYLER
Menurut Ralph W. Tyler, kurikulum adalah seluruh pengalaman
belajar yang direncanakan dan diarahkan oleh sekolah untuk mencapai tujuan
pendidikannya. Menurut Tyler (1970) ada empat hal yang dianggap mendasar
untuk mengembangkan suatu kurikulum. Pertama berhubungan dengan
penentuan tujuan pendidikan yang ingin dicapai, kedua berhubungan dengan
pengalaman belajar untuk mencapai tujuan,

ketiga berhubungan dengan

pengorganisasian pengalaman belajar; dan keempat berhubungan dengan


pengembangan evaluasi.
B. LANGKAH PENGEMBANGAN KURIKULUM MENURUT RALPH
W. TYLER
Langkah pertama yang dilakukan dalam pengembangan kurikulum
menurut Tyler adalah merumuskan tujuan sebab tujuan merupakan arah atau
sasaran pendidikan. Merumuskan tujuan kurikulum sangat tergantung dari

filsafat dan teori pendidikan serta model kurikulum yang dianut. Bagi
pengembang kurikulum yang lebih berorientasi kepada disiplin ilmu (subjek
akademis), maka penguasaan berbagai konsep dan teori sebagaimana
tergambar dalam disiplin ilmu tersebut merupakan sumber utama tujuan
kurikulum.
Menurut dia, pengalaman belajar bukanlah isi atau materi pelajaran
dan bukan pula aktivitas guru memberikan pelajaran. Akan tetapi yang harus
dipertanyakan dalam pengalaman belajar ini adalah apa yang akan atau telah
dikerjakan siswa bukan apa yang akan atau telah diperbuat guru.
Ada beberapa prinsip dalam menentukan belajar siswa, antara lain:
a) Pengalaman belajar harus sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai,
b) Setiap pengalaman belajar harus memuaskan siswa,
c) Setiap rancangan pengalaman belajar sebaiknya melibatkan siswa,
d) Memungkinkan dalam satu pengalaman belajar dapat mencapai
tujuan yang berbeda.
Tyler mengatakan bahwa proses pengembangan kurikulum perlu dilakukan
secara rasional dan sistematis.Tujuan ini dibagi menjadi dua, yaitu tujuan umum
dan tujuan khusus.Tyler merekomendasikan bahwa perencana kurikulum perlu
mengidentifikasi tujuan umum dari pengembangan kurikulum itu sendiri dengan
mengumpulkan data yang berasal dari tiga sumber, yaitu : kebutuhan peserta
didik, keadaan di luar sekolah dan ilmu itu sendiri.
a) Kebutuhan peserta didik
Kebutuhan siswa ini didasarkan pada seperti apa profil siswa yang
diharapkan setelah pendidikan ditempuh. Misalnya, profil siswa yang diinginkan
adalah menjadi wirausahawan. Maka, materi yang dibutuhkan siswa diantaranya
adalah akuntansi, pembukuan, administrasi, ekonomi, dan manajemen. Berbeda
dengan sekolah yang menginginkan profil siswanya menjadi pekerja seni, maka
materi yang dibutuhkan siswa untuk mencapai profil tersebut adalah seni tari, seni
drama, seni musik, dan seni rupa.
b) Keadaan di luar sekolah
Tyler menyarankan agar perencana kurikulum mengklasifikasikan tingkat
hidup yang didasarkan pada kesehatan, keluarga, rekreasi, pekerjaan, agama,
tingkat konsumsi. Setelah mengetahui keadaan di luar sekolah, perencana

kurikulum dapat mengetahui pola hidup suatu masyarakat terutama para siswa
sehingga dapat dirumuskan tujuan pembentukan kurikulum yang sesuai dengan
keadaan atau kebutuhan masyarakat. Sehingga diharapkan, produk kurikulum
yang dihasilkan tidak bertentangan dengan budaya yang ada dimasyarakat.
Sebagai contoh, di daerah agraris, maka dibutuhkan materi terkait pertanian di
sekolah.Sehingga siswa mendapatkan bekal agar dapat berkontribusi di
masyarakat.Tidak cocok jika materi kelautan diberikan pada kurikulum tersebut.
c)

Ilmu dan Perkembangan Teknologi


Sumber yang ketiga, perencana kurikulum melakukan pengkajian terhadap

ilmu yang digunakan sebagai pokok persoalan. Pada sumber ini perencana
hendaknya mampu memilah poin poin / materi ajar sesuai dengan disiplin ilmu
yang dibutuhkan. Pengelompokan ilmu sesuai dengan tingkat kapasitas peserta
didik. Hal ini dapat dilakukan dengan berkonsultasi dengan pakar ilmu sesuai
dengan bidangnya. Sehingga dapat diperoleh materi pendidikan yang sesuai
dengan kebutuhan siswa.Selain itu, materi yang diajarkan harus sesuai dengan
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi agar pengetahuan siswa menjadi
lebih luas.
Pengemabangan kurikulum pada metode Rapl W. Tylor, tujuan umum dan
khusus haruslah jelas, agar didapatkan hasil seperti pada tujuan yang diharapkan.
Tujuan khusus bisa terwujud apabila tujuan umum tepat memenuhi target yang
ditunjang keberadaan filosofi pendidikan dan sosial yang dianut serta psikologi
belajar yang diterapkan. Adapun penjelasan mengenai landasan filosofis dan
psikologis adalah sebagai berikut:
Landasan Filosofis
Pengertian umum filsafat adalah cara berfikir secara radikal, menyeluruh
dan mendalam (Socrates) atau cara berpikir yang mengupas sesuatu sedalam
dalamnya. Sedangkan yang dimaksud dengan landasan filosofis itu dalam
pengembangan kurikulum ialah asumsi asumsi atau rumusan yang didapatkan
dari hasil berfikir secara mendalam, analitis, logis, dan sistematis (filosofis) dalam
merencanakan, melaksanakan, membina dan mengembangkan kurikulum.

Penggunaan filsafat tersebut baik dalam pengembangan kurikulum dalam bentuk


program (tertulis), maupun kurikulum dalam bentuk pelaksanaan (operasional) di
sekolah.
Pada dasarnya pandangan hidup manusia mencakup tiga permasalahan,
yaitu logika, etika dan estetika. Oleh karena itu ketiga pandangan tersebut
dibutuhkan dalam pendidikan terutama dalam mengembangkan kurikulum
khusunya untuk menentukan arah dan tujuan pendidikan, isi atau materi
pendidikan, metodologi atau proses pendidkan, dan sistem evaluasi untuk
mengetahui tingkat pencapaian pendidikan.
Filasafat pendidikan akan menentukan arah ke mana peserta didik akan
dibawa, filasafat merupakan perangakat nilai nilai yang melandasi dan
membimbing ke arah pencapaian tujuan pendidikan. Oleh karena itu, filasafat
yang dianut oleh suatu bangsa atau kelompok masyarakat tertentu termasuk yang
dianut oleh perorangan sekalipun akan sangat mempengaruhi terhadap pendidikan
yang ingin direalisasikan.
Mengingat pentingnya landasan filosofis dalam pengembangan kurikulum
hendaknya perencana kurikulum menetapkan aliran filsafat pendidikan mana
yang hendak dijadikan sebagai acuan. Setelah itu, kemudian mengembangkan
berbagai aspek kurikulum yang mengacu pada butir butir filsafat pendidikan
yang dianutnya.
Filsafat yang digunakan sebagai acuan dalam penyusunan tujuan
kurikulum hendaknya memiliki empat poin umum demokrasi, yaitu :
a)

Penghargaan terhadap kepentingan setiap individu sebagai manusia yang

tidak memandang ras, suku, atau status sosial ekonomi,


b) Kesempatan pada partisipasi yang luas pada semua tahap kegiatan
c)

kelompok sosial dalam masyarakat,


Dorongan pada keberagaman daripada bergantung pada satu jenis

kepribadian, dan
d) Kepercayaan pada intelegensi sebagai metode pemecahan masalah penting
daripada bergantung pada otoratis dari kelompok aristokratik.

Landasan filosofis yang dapat digunakan sebagai acuan dalam


mengembangkan kurikulum diantaranya sebagai berikut :
1. Landasan Filosofis Pendidikan Idealisme
Berdasarkan pemikiran filsafat idealisme bahwa tujuan pendidikan harus
dikembangkan pada upaya pembentukan karakter, pembentukan bakat insani
dan kebajikan sosial dengan hakikat kemanusiaanya. Sehingga, tujuan
pendidikan dari mulai tingkat pusat (ideal) sampai pada rumusan tujuan yang
lebih operasional (pembelajaran) harus merefleksikan pembentukan karakter,
pengembangan bakat dan kebajikan sosial sesuai dengan fitrah
kemanusiaannya.
2. Landasan Filosofis Pendidikan Realisme
Landasan realisme boleh dikatakan berkebalikan dengan landsan idealisme,
dimana menurut filsafat realisme memandang bahwa dunia atau realitas
adalah bersifat material, sementara menurut filsafat idealisme memandang
bahwa relitas bersifat mental atau spiritual. Sehingga dalam filsafat realisme
tujuan pendidikan hendaknya dirumuskan untuk melakukan penyesuaian diri
dalam hidup dan melaksanakan tanggung jawab sosial.oleh karena itu jika
kurikulum didasarkan pada filsafat realisme harus dikembangkan secara
komprehensif meliputi pengetahuan yang bersifat sains, sosial, maupun
muatan nilai-nilai. Isi kurikulum lebih efektif diorganisasikan dalam bentuk
mata pelajaran karena memiliki kecenderungan berorientasi pada mata
pelajaran (subject centered).
3. Landasan Filosofis Pendidikan Fragmatisme
Filsafat fragtisme memandang bahwa kenyataan tidaklah mungkin dan tidak
perlu. Kenyataan yang sebenarnya adalah kenyataan fisik, plural dan berubah
(becoming). Manusia menurut fragtisme adalah hasil evolusi biologis,
psikologis dan sosial. Manusia lahir tanpa dibekali oleh kemampuan bahasa,
keyakinan, gagasan dan norma nilai baik dan buruk ditentukan oleh
eksperimental dalam pengalaman hidup.
Implikasi terhadap pengembangan isi atau bahan dalam kurikulum ialah harus
memuat pengalaman-pengalaman yang telah teruji, yang sesuai dengan minat
dan kebutuhan siswa. Fokus pendidikan menurut faham fragtisme dalah

menyongsong kehidupan yang lebih baik pada saat ini maupun di masa yang
akan datang.

4. Landasan Filosofis Pendidikan Pancasila


Tujuan pendidikan Nasional di Indonesia adalah bersumber pada pandangan
dan cara hidup manusia di Indonesia , yakni Pncasila. Hal ini berarti bahwa
pendidikan di Indonesia harus membawa peserta didik agar menjadi manusia
yang berpancasila. Dengan kata lain, landasan dan arah yang ingin
diwujudkan oleh pendidikan di Indonesia adalah yang sesuai dengan
kandungan falsafah Pancasila itu sendiri.
Berdasarkan keempat landasan filosofis pendidikan muncullah aliran filsafat
yang mempengaruhi pengembangan kurikulum, yaitu perenialism,
esensialism, progresivm, dan rekonstruksionism. Setiap aliran filasafat
pendidikan tersebut memiliki akar filsafat tertentu yang bersumber pada
landasan filosofis pendidikan seperti yang telah dijelaskan di atas.
Perenialism merupakan aliran filsafat pendidikan tertua dan paling
konservatif, memiliki akar realism. Esensialism memiliki akar filsafat idealism
dan realism. Penganut aliran filsafat esensialism menekankan penguasaan
ketrampilan pengetahuan, dan konsep konsep yang esensial untuk penguasaan
materi pembelajaran. Progresivisme merupakan aliran filsafat yang berseberangan
dengan aliran filsafat perenialisme, dimana progresivisme merupakan aliran
filsafat yang dikembangkan oleh sekelompok pemikir dan politisi yang
berkembang di awal abad 20, yang menghendaki adanya perubahan dalam cara
cara pembelajaran yang menekankan siswa aktif dalam belajar. Sedangkan
rekonstruksionisme didasarkan atas ide-ide kehidupan masyarakat abad ke 19,
yang berwawasan pada tata kehidupan lebih maju dan modern. Aliran filsafat ini
menghendaki sistem kurikulum dikembangkan atas dasar isu isu sosial
kemasyarakatan yang membaut pluralisme budaya, kesamaan, dan berwawasan ke
depan.
Keempat filsafat tersebut digunakan sebagai referensi bagi bangsa
Indonesia dalam pengembangan aspek-aspek kurikulum dengan tetap
memposisikan Pancasial sebagai landasan filosofis pendidikan.

Landasan Psikologis
Psikologi adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia dalam
hubungannya dengan lingkungan, sedangkan kurikulum adalah upaya menentukan
program pendidikan untuk merubah perilaku manusia. Oleh sebab itu dalam
mengembangkan kurikulum harus dilandasi oleh psikologi sebagai acuan dalam
menentukan apa dan bagaimana perilaku peserta didik itu harus dikembangkan.
Landasan psikologis pendidikan diartikan sebagai suatu landasan dalam proses
pendidikan yang membahas berbagai informasi tentang kehidupan manusia pada
umumnya serta gejala-gejala yang berkaitan dengan aspek pribadi manusia pada
tahapan usia perkembangan tertentu untuk mengenali dan menyikapi manusia
sesuai dengan tahapan usia perkembangannya yang bertujuan untuk memudahkan
proses pendidikan. Landasan psikologis dalam mengembangkan kurikulum akan
membahas dan mengidentifikasi landasan psikologis dan implikasinya dalam
mengembangkan kurikulum. Penerapan landasan ini juga dimaksudkan agar
upaya pendidikan yang dilakukan dapat menyesuaikan dengan hakikat peserta
didik, baik penyesuaian dari segi materi atau bahan yang harus disampaikan,
penyesuaian dari unsur-unsur pendidikan lainnya. Karakteristik perilaku setiap
individu pada berbagai tingkatan perkembangan merupakan kajian dari psikologi
perkembangan, dan oleh karena itu dalam pengembangan kurikulum yang
senantiasa berhubungan dengan program pendidikan untuk kepentingan peserta
didik, maka landasan psikologi mutlak harus dijadikan dasar dalam upaya
pengembangannya.
Pada hakikatnya, setiap individu mengalami perkembangan, yaitu
perubahan-perubahan yang teratur sejak dari pembuahan sampai mati. Perubahan
pada individu dapat terjadi melalui proses kamatangan (maturation), dan melalui
proses belajar (learning). Kedua model perubahan yaitu kematangan dan karena
proses belajar termasuk ke dalam kajian psikologi, yaitu psikologi perkembangan
dan psikologi belajar. Oleh karena itu, sangat naif jika berbicara proses
mengembangkan suatu kurikulum baik pada tatanan kurikulum ideal maupun

kurikulum dalam dimensi operasional (pembelajaran) tidak memakai kajian


psikologis sebagai dasar pijakan atau landasan berpikir (konsep) maupun dalam
prakteknya.
Terdapat dua cabang psikologi yang sangat penting diperhatikan di dalam
pengembangan kurikulum, yaitu psikologi perkembangan dan psikologi belajar.
Psikologi belajar memberikan sumbangan terhadap pengembangan kurikulum
terutama berkenaan dengan bagaimana kurikulum itu diberikan kepada siswa dan
bagaimana siswa harus mempelajarinya, berarti berkenaan dengan strategi
pelaksanaan kurikulum.
Psikologi perkembangan diperlukan terutama dalam menentukan isi
kurikulum yang diberikan kepada siswa, baik tingkat kedalaman dan keluasan
materi, tingkat kesulitan dan kelayakannya serta kebermanfaatan materi senantiasa
disesuaikan dengan tarap perkembangan peserta didik.
Penerapan landasan psikologis ini digunakan sebagai tahap lanjutan dari
model pengembangan kurikulum oleh Ralph W. Tyler. Menurut Tyler,
pembelajaran bukan hanya melibatkan pada pembelajaran yang spesifik saja tetapi
juga berhubungan dengan teori-teori pembelajaran sebelumnya yang menunjang
proses pembelajaran yang telah dikenal selama ini, bagaimana proses terjadi dan
pada kondisi yang seperti apa, Tyler menjelaskan bahwa kebermaknaan landasan
psikologis adalah sebagai berikut.
o Sebuah pengetahuan psikologi pembelajaran memungkinkan
ditemukannya perubahan dalam kehidupan manusia yang dapat diharapkan
sebagai hasil dari sebuah proses pembelajaran,
o Sebuah pengetahuan psikologi pembelajaran memungkinkan dibedakan
tujuan yang baik, dan
o Psikologi pembelajaran memberikan beberapa gagasan sepanjang waktu
yang dibutuhkan untuk mendapatkan sebuah tujuan.
Mengorganisasikan pengalaman belajar siswa bisa dalam bentuk unit mata
pelajaran ataupun dalam bentuk program. Ada dua jenis pengorganisasian
pengalaman belajar, yaitu pengorganisasian secara vertical dan secara horizontal.
1. Pengorganisasian secara vertical apabila menghubungkan pengalaman
belajar dalam satu kajian yang sama tetapi tingkat berbeda.

2. Pengorganisasian secara horizontal apabila menghubungkan pengalaman


belajar dalam tingkat/kelas yang sama.
Ada tiga kriteria dalam mengorganisasi pengalaman belajar yaitu:
kesinambungan, urutan isi, dan integrasi. Prinsip pertama artinya pengalaman
belajar yang diberikan harus memiliki kesinambungan dan diperlukan untuk
pengembangan belajar selanjutnya. Prinsip kedua erat kaitannya dengan
kontinuitas, perbedaannya terletak pada tingkat kesulitan dan keluasan bahasan.
Artinya setiap pengalaman belajar yang diberikan kepada siswa harus
memperhatikan tingkat perkembangan siswa. Prinsip ketiga menghendaki bahwa
suatu pengalaman yang diberikan pada siswa harus memiliki fungsi dan
bermanfaat untuk memperoleh pengalaman belajar pada bidang lain.
Evaluasi memegang peranan penting dalam pengembangan kurikulum.
Tujuan kurikulum yang ingin dicapai oleh satuan pendidikan (sekolah/madrasah)
atau sebaliknya dapat ditentukan dengan evaluasi. Ada dua aspek yang perlu
diperhatikan dalam pengembangan evaluasi. Pertama, evaluasi harus menilai
apakah telah terjadi perubahan tingkah laku siswa sesuai dengan tujuan
pendidikan yang telah dirumuskan. Kedua, evaluasi sebaiknya menggunakan lebih
dari satu alat penilaian dalam suatu waktu tertentu. Dengan demikian, penilaian
suatu program tidak mungkin hanya dapat mengandalkan hasil tes siswa setelah
akhir proses pembelajaran. Penilaian mestinya membandingkan antara penilaian
awal sebelum siswa melakukan suatu program dengan setelah siswa melakukan
program tersebut. Dari perbandingan itulah akan Nampak ada atau tidak adanya
perubahan tingkah laku yang sesuai dengan tujuan pendidikan. Fungsi evaluasi
dalam pengembangan kurikulum yaitu :
1. Fungsi Sumatif, yaitu untuk memperoleh data tentang ketercapaian tujuan
oleh siswa, dengan kata lain bagaimana tingkat pencapaian tujuan atau
tingkat penguasaan isi kurikulum oleh setiap siswa.
2. Fungsi Formatif, yaitu untuk melihat efektifitas proses pembelajaran,
dengan kata lain apakah program yang disusun telah dianggap sempurna
atau perlu perbaikan.

Gambar. Perluasan kurikulum Tyler


C. KELEBIHAN DAN KELEMAHAN MODEL PENGEMBANGAN
KURIKULUM RALPH W. TYLER
Metode kurikulum dari setiap tokoh memberikan kontribusi yang besar
pada setiap pengembangan kurikulum di seluruh dunia, walaupun setiap negara
mempunyai pandangan tersendiri terhadap penerapan metode-metode tersebut.
Metode pengembangan Ralph W. Tyler diterapkan pada konsep kurikulum di
kawasan Amerika serikat.

Kelebihan yang diberikan pada metode Rapl. W. Tylor Rasional ini adalah
sistematis dan berfokus dalam perencanaan tujuan, sehingga disebut

juga

rational/objective Model. Tata urutan pengembangan kurikulum dari tujuan,


formulasi sis, aktivitas belajar sampai evaluasi yang sistematis sehingga lebih
efisien diterapkan. Penekanan pada nilai dan peranan tujuan membuat pendidik
dan pengembang kurikulum bisa berfikir serius tentang tugas mereka.
Kelemahan pada model ini tidak ada pengorganisasian isi materi yang jelas
(bukan based content), menyebabkan perbedaan kedalaman pemahaman konsep
materi, keluasan dan topic materi antar sekolah. Adanya pemisahan 3 sumber data
untuk identifikasi tujuan umum pendidikan tanpa adanya interaksi, menjadi
kelemahan dari motode pengembangan ini. Selanjutnya, dapat menimbulkan
proses yang mekanik jika nampak ketiga sumber tersebut terpisah. Latar belakang
pengalaman dan persiapan diri seorang pendidik untuk mengembangkan
pemikirannya secara logis dan sistematis akan kesulitan menggunakan model ini.
Kurang jelasnya hakikat belajar mengajar, karena seringkali pembelajaran justru
di luar tujuan-tujuan yang dirumuskan. Model ini banyak diterapkan di
kawasan Amerika Serikat ditingkat sekolah dasar atau elementary dan
SMP (Junior High School)

BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN

1. Pengembangan kurikulum model Tyler terdiri dari empat tahap, yaitu;


merumuskan tujuan, memilih pengalaman belajar, mengorganisasikan
pengalaman belajar dan mengevaluasi pengalaman belajar
2. Kelebihan dari model ini adalah efisisensi dari segi waktu, dan
penggunaan tujuan sebagai acuan, serta langkah-langkah selanjutnya
memiliki daya tarik tersendiri. Sedangkan kekurangannya adalah model
ini akan susah diterapkan pada pendidik yang kurang memiliki latar
belakang yang memadai dan tidak adanya penjelasan hubungan antar
sumber dalam perumusan tujuan
B. SARAN
Untuk memperdalaman pemahaman pengembangan kurikulum yang
baik, disarankan untuk mengkaji pengembangan kurikulum yang dirancang
oleh ahli pengembang kurikulum yang lain dan mencari contoh Negara yang
menerapkan model pengembangan kurikulum ini ( Ralph W. Tyler).

DAFTAR PUSTAKA
Baker, K. Russel. 2003. A Framework for Design and Evaluation of InternetBased Distance Learning CoursesPhase One - Framework Justification,
Design and Evaluation. Distance Learning Administration, 6(2). (Online),
Bellack, A. Arno and Herbert M. Kiliebard. 1977. Curriculum and
Evaluation.Berkeley:Mc Cutchan Publishing Corporation.
Chikumbu, Tichafa J. and Rhodreck Makamure. 2000. Curriculum Theory,
Design, and Assessment.Canada: The Commonwealth of Learning.
Ghufron, Anik. 2008. Filsafat Pengembangan Kurikulum. Fondasia: Majalah
Imiah Fondasi Pendidikan, 1(9): 1-10.
Hamalik, Omar.1990. Evaluasi Kurikulum.Bandung:Remaja Rosadakarya

Oliva, F. Peter. 2001. Developing The Curriculum. New York: Harper Collins
Publisher.
Stanley, Angela Fowler. 2009. The Tyler Rationale And TYLERS 1970s
revision:An Historical Reconsideration. Georgia: University of Georgia
Sukmadinata, Nana Saodih. 2007. Pengembangan Kurikulum, Teori dan
Praktik.Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Hidayat, Sholeh. 2013. Pengembangan Kurikulum Baru. Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya
Mustofa. _ _. Modul Mata Kuliah Kajian Kurikulum dan Buku Teks Ekonomi
Jurusan Pendidikan Ekonomi Fak. Ilmu Sosial danekonomi. Yogyakarta:
UNY press

Anda mungkin juga menyukai