Anda di halaman 1dari 23

Laboratorium Hidrogeologi 2015

BAB I
PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang


Hidrogeologi (hidro- berarti air, dan -geologi berarti ilmu mengenai
batuan) adalah merupakan perpaduan antara ilmu geologi dengan ilmu hidrolika
yang kajiannya dititik beratkan pada gerakan air tanah delam secara hidrolik.
Gabungan dua kata hidro dan geologi menunjukkan secara implisit pengertian
geologi dan air, atau dengan kata lain adalah merupakan suatu studi tentang
interaksi antara kerangka unsur batuan dengan air tanah. Dalam istilah hidrolika
maka istilah gerakan dalam tanah dikenal dengan hidrolika dalam media porus,
karena air tanah mengalir diantara sela-sela butiran tanah yang sekaligus sebagai
media.
Teori yang mendasari pengukuran debit ini adalah percobaan Darcy, yaitu
hukum Darcy bahwa banyaknya volume air yang mengalir dari suatu tubuh sungai
adalah hasil kali antara kecepatan aliran dengan luas penampang media yang
dialirinya atau luas penampang media yang dialirinya atau luas penampang
bangun alur yang dialirinya. Dapat ditulis Q = V . A, dimana Q = debit aliran, V =
kecepatan aliran, A = luas penampang.
Prinsip yang mengatur bagaimana cairan bergerak di bawah permukaan
disebut hukum Darcy. Hukum Darcy adalah persamaan yang mendefinisikan
kemampuan suatu fluida mengalir melalui media berpori seperti batu. Hal ini
bergantung pada kenyataan bahwa jumlah aliran antara dua titik secara langsung
berkaitan dengan perbedaan tekanan antara titik-titik, jarak antara titik-titik, dan
interkonektivitas jalur aliran dalam batuan antara titik-titik. Pengukuran
interkonektivitas disebut permeabilitas.

Nama : Rizky Pratama Firdaus


NIM : 111.130.016
Plug : 2

Page 1

Laboratorium Hidrogeologi 2015

Gambar I.1.1. Percobaan


Darcy

Debit

air

sungai

adalah
tinggi permukaan
air sungai yang
terukur oleh alat ukur pemukaan air sungai. Pengukurannya dilakukan tiap hari,
atau dengan pengertian yang lain debit atau aliran sungai adalah laju aliran air
(dalam bentuk volume air) yang melewati suatu penampang melintang sungai per
satuanwaktu.
Teori yang mendasari pengukuran debit ini adalah percobaan darcy,yaitu
hukum darcy menyatakan bahwa banyaknya volume air yang mengalir di suatu
tubuh sungai adalah hasil kali antara kecepatan aliran dengan luas penampang
media yang dialirinya atau luas penampang bangun alur yang dialirinya. Atau
dapat ditulis rumus Q = v.A
Dimana: Q = Debit aliran
v = Kecepatan aliran
A = Luas Penampang
Pada umumnya pengukuran debit aliran air sungai dilakukan pada waktuwaktu tertentu. Pengukuran ini biasanya berkaitan erat dengan maksud untuk
mencari rating curve. Semakin banyak lokasi pengukuran debit maka semakin
akurat hasil analisis datanya. Jumlah pengukuran debit pada waktu periode
tertentu tergantung dari:
-

Tujuan Pengukuran

Tingkat ketelitian yang ingin dicapai

Pada dasarnya pengukuran debit dapat dilakukan dengan dua cara yaitu:
A. Pengukuran debit secara langsung
Nama : Rizky Pratama Firdaus
NIM : 111.130.016
Plug : 2

Page 2

Laboratorium Hidrogeologi 2015

B. Pengkuran debit secara tidak langsung

Penerapan ilmu hidrogeologi tentang pengukuran debit aliran sungai tidak


dapat hanya di pelajari di laboratorium saja. Acara lapangan juga harus dilakukan,
yang pada praktik ini kami kerjakan di Sungai Babarsari yang bertujuan agar ilmu
yang didapat tidak hanya sebatas teori dilaboratorium saja akan tetapi juga
diterapkan dilapangan

I.2. Maksud Dan Tujuan


Mengetahui besarnya volume air yang mengalir dalam satu satuan waktu.
Mengetahui fluktuasi/perubahan debit air pada suatu sungai pada periode
waktu tertentu dengan menggunakan metode pengapungan/floating dan Current
meter.

I.3 Metoda Yang Digunakan


1. Pengukuran debit secara langsung
Volumetric method
Pengukuran debit dengan cara ini dilakukan pada sungai kecil (debitnya kecil),
memakai bejana yang volumenya sudah diketahui/tertentu (misal = V), kemudian
mengukur waktu (dengan memakai stop watch) yang diperlukan untuk memenuhi
persamaan : , dimana Q = debit aliran sungai/saluran, V = volume bejana, t =
waktu yang diperlukan untuk memenuhi bejana.

Ambang/pintu-ukur

Nama : Rizky Pratama Firdaus


NIM : 111.130.016
Plug : 2

Page 3

Laboratorium Hidrogeologi 2015

Bangunan ambang/pintu ukur ini dibuat menurut kontruksi sedemikian


sehingga ada hubungan langsung antara debit aliran (Q) dengan tinggi muka air
(H).Contoh alat ukur debit yang menggunakan ambang/pintu-ukur, yaitu : Pintu
air Romyn, Pintu air Cipoletti. Masih ada metode pengukuran debit sungai/saluran
secara langsung, misalnya dengan menggunakan cairan penurut/tracer
2. Pengukuran debit secara tidak langsung
Pengukuran debit sungai dengan cara ini dilakukan dengan menghitung
kecepatan air sungai (V). Dengan menggunakan alat tertentu dan berdasarkan
rumus-rumus tertentu (termasuk rumus-rumus dalam hidrolika), kecepatan aliran
sungai dapat diketahui. Dengan mengingat bahwa debit adalah perkalian antara
kecepatan aliran dengan luas penampang. Beberapa jenis alat ukur debit aliran
sungai secara tidak langsung :

Velocity head rod

Alat ukur debit jenis ini terdiri dari batang/papan kayu berskala, dilengkapi
dengan pemberat yang dapat diputar, dimana persamaan yang digunakan : V = 2 .
g . h, dimana V = kecepatan rerata aliran sungai/saluran, g = percepatan gravitasi,
h = selisih tinggi air akibat pemutaran batang/ papan ukur sebesar 900.

Trupps ripple meter

Alat jenis ini terdiri dari rangkaian papan ukur dan batang kayu. Kecepatan
aliran dapat ditentukan dengan persamaan : V = C + X . L, dimana V = kecepatan
rerata aliran sungai/saluran, C = konstanta, biasanya diambil 0,4, X = nilai yang
tergantung pada lebar papan ukur (w).

Pitot meter

Nama : Rizky Pratama Firdaus


NIM : 111.130.016
Plug : 2

Page 4

Laboratorium Hidrogeologi 2015

Alat ini dapat digunakan untuk pengukuran kecepatan pengaliran di dalam


pipa (pipe flow) di laboratorium. Terdiri dari pipa bengkong yang dimasukkan ke
dalam aliran. Dengan persamaan : V = 2 . g . h, dimana V = kecepatan, g =
percepatan gravitasi, h = selisih tinggi permukaan air di dalam tabung pitot, akibat
adanya keepatan aliran di sungai.

Pengapung (float)

Pengukuran kecepatan alira dengan cara ini hanya untuk menaksir secara
kasar, karena hanya meliputi kecepatan aliran di permukaan saja. Padahal
sesungguhnya kecepatan rerata aliran di sungai tidak hanya terdiri atas kecepatan
aliran bagian zat cair yang ada di permukaan saja, tetapi juga kecepatan di setiap

kedalaman sungai, padahal besar kecepatan itu berbeda beda, dimana V =

s
t

V Nocth

Merupakan seperangkat alat yang terdiri dari papan yang salah satu sisinya
membentuk huruf V dan disertai alat ukur berskala.

Current Meter

Prinsip kerja dari alat current meter adalah mengukur besarnya kecepatan arus
berdasarkan jumlah putaran kipas dalam alat, setelah dihitung dari persamaan : V
= a + b . N, dimana V = kecepatan aliran, a = kecepatan awal yang digunkan
untuk mengatasi gesekan mekanis, b = konstanta yang diperoleh dari kalibrasi
alat, N = jumlah putaran kipas perdetik.Selain itu juga dibutuhkan luas
penampang sungai (A) untuk menghitung debit, dimana Q = V . A.

Nama : Rizky Pratama Firdaus


NIM : 111.130.016
Plug : 2

Page 5

Laboratorium Hidrogeologi 2015

I.4. Alat Dan Bahan


Adapun alat dan bahan yang diperlukan saat melakukan pengukuran debit sungai
adalah :

Kalkulator

Alat current meter

Tabulasi debit sungai

Meteran

Stopwatch

Penggaris

Alat
tulis lengkap

Bola pingpong

Nama : Rizky Pratama Firdaus


NIM : 111.130.016
Plug : 2

Page 6

Milimeter Blok

1.5. Langkah Kerja


Praktikum Hidrogeologi kali ini kita menentukan debit suatu aliran sungai.
Pengambilan data dilakukan langsung di lapangan.Yaitu di sungai babarsari,
dimana debit aliran sungai tersebut dapat diukur dengan mempertimbangkan
kondisi. Berikut merupakan prosedur kerjanya :
Current meter dapat digunakan dengan dibawa langsung oleh pengamat
terjun ke sungai yang dangkal /menggunakan alat tambahan untuk pengamatan di
sungai yang dalam. Langkah pengukuran menggunakan alat ini serta pengolahan
datanya sebagai berikut :

Hidupkan current meter sebelum pengukuran


Masukkan current meter kedalam air sesuai titik interfal pengukuran
pada lebar sungai.

Gambar 1.5.1. Alat current meter dimasukkan ke air sesuai titik interval,
posisi baling-baling setengah dari kedalaman sungai.

Dalam memasukkan current meter harus diposisikan pada setengah


dari dalam dasar sungai.

Kondisikan current meter tegak sejajar vertical dengan pengukur, lalu


baca nilai kecepatan yang terdapat pada current meter tiap titiknya dan
catat pada tabulasi data yang telah ada.

Gambar 1.5.2. Pembacaan nilai kecepatan dari alat current meter

Lakukan langkah tersebut hingga terakhir lebar sungai dengan interfal

yg sesuai
Membuat gambaran dasar sungai dengan cara mengukur kedalaman

dasar sungai dari muka air sungai dengan menggunakan alat ukur.
Menghitung luas penampang sungai
Hitung kecepatan rata-rata arus dari semua kecepatan yang dihasilkan

dari pengukuran sebelumnya pada setiap vertikal dengan rumus


Menghitung debit sungai (Q), dengan rumus Q = V.A

Metode pengapungan (float)

Siapkan alat dan bahan (meteran, bola, tabel, alat tulis, stopwatch)
Cari aliran sungai yang lurus dan tidak ada hambatannya

Gambar 1.5.3. Pemilihan lintasan, yaitu aliran yang lurus tanpa terhambat apapun

Bentangkan meteran sesuai dengan lebar dan panjang sungai

Gambar 1.5.4. Contoh pengukuran lebar sungai, dihitung dari masing-masing bibir sungai
menggunakan meteran

Jatuhkan bola pingpong dari titik satu dan hitung waktu tempuh bola
ke titik kedua dengan menggunakan stopwatch.

Gambar 1.5.5. Penghanyutan media (bola pingpong) untuk mengukur lama waktu tempuh
media serta kecepatan alirannya dari titik pertama ke titik kedua.

Stop stopwatch jika bola sampai titik 2 dan catat waktu tempuhnya
Gunakan rumus untuk mencari kecepatannya.

BAB II
HASIL DAN PEMBAHASAN

II.1.1. Diagram Alir

Mulai

Pengambilan Data di Lapangan

Pembuatan Penampang Untuk Mencari


Luas Penampang

Pengolahan Data Untuk Memperoleh Nilai


Debit Aliran Sungai

Kesimpulan

Laporan dan
Poster

Selesai

Gambar II.1.1. Diagram Alir

II.2. Perhitungan Debit Aliran Sungai Dengan Metode Current Meter


II.2.1. Tabulasi Data

ST1

ST2

ST3

Tabel II.1.1.1. Tabulasi perhitungan debit aliran sungai metode current meter.

II.2.2. Pengolahan Data

Stopsite 1

Dik :

Lebar sungai = 6,5m

Lebar segmen = 1,3m

V1=0,6;V2=0,6;V3=0,7;V4=0,7;V5=0,5

Hawal=0,15;H1=0,2;H2=0,16;H3=0,165;H4=0,225;H5=0,15

A 1=

( 0,15+0,2 ) x 1,3 0,455


=
=0,2275 m2
2
2

A 2=

( 0,2+0,16 ) x 1,3 0,468


2
=
=0,234 m
2
2

A 3=

( 0,16+0,165 ) x 1,3 0,4225


=
=0,21125 m2
2
2

A 4=

( 0,165+0,225 ) x 1,3 0,507


2
=
=0,2535 m
2
2

A 5=

( 0,225+0,15 ) x 1,3 0,4875


2
=
=0,24375 m
2
2

A total= A 1+ A 2+ A 3+ A 4+ A 5=1,17 m2

V ratarata =

V 1+V 2+ V 3+V 4+V 5


=0,62 m/s
5

Q= A total . V ratarata=1,17 x 0,62=0,7254 m3 /s

Stopsite 2

Dik :

Lebar sungai = 6m

Lebar segmen = 1m

V1=0,7;V2=0,8;V3=1;V4=1,1;V5=1,1;V6=0,4

Hawal=0,06;H1=0,14;H2=0,15;H3=0,21;H4=0,16;H5=0,15;H6=0,035

A 1=

( 0,06+0,14 ) x 1 0,2
2
=
=0,1 m
2
2

A 2=

( 0,14+0,15 ) x 1 0,29
=
=0,145 m2
2
2

A 3=

( 0,15+0,21 ) x 1 0,36
2
=
=0,18 m
2
2

A 4=

( 0,21+0,16 ) x 1 0,37
2
=
=0,185 m
2
2

A 5=

( 0,16+0,15 ) x 1 0,31
=
=0,155 m2
2
2

A 6=

( 0,15+0,035 ) x 1 0,185
2
=
=0,0925 m
2
2
2

A total= A 1+ A 2+ A 3+ A 4 + A 5+ A 6=0,8575 m

V ratarata =

V 1+V 2+ V 3+V 4+V 5+V 6


=0,85 m/s
6

Q= A total . V ratarata=0,8575 x 0,85=0,728875m3 / s

Stopsite 3

Dik :

Lebar sungai = 5m

Lebar segmen = 1m

V1=0,6;V2=0,9;V3=1,6;V4=1,1;V5=0,1

Hawal=0,1;H1=0,11;H2=0,17;H3=0,2;H4=0,15;H5=0,07

A 1=

( 0,1+ 0,11 ) x 1 0,21


2
=
=0,1 05 m
2
2

A 2=

( 0,11+0,17 ) x 1 0,28
2
=
=0,14 m
2
2

A 3=

( 0,17+0,2 ) x 1 0,37
=
=0,185m2
2
2

A 4=

( 0,2+0,15 ) x 1 0,35
2
=
=0,175 m
2
2

A 5=

( 0,15+0,07 ) x 1 0,22
=
=0,11 m2
2
2

A total= A 1+ A 2+ A 3+ A 4 + A 5=0,715 m2

V ratarata =

V 1+V 2+ V 3+V 4+V 5


=0,86 m/s
5

Q= A total . V ratarata=0,715 x 0,86=0,6149 m3 / s

II.2.3. Sketsa Penampang

Gambar
II.2.1
Penampang
Sungai
Metode
Current
Meter

II.3. Perhitungan Debit Aliran Sungai Dengan Metode Floating


II.3.1. Tabulasi Data

ST1

ST2

ST3

Tabel II.3.1. Tabulasi perhitungan debit aliran sungai metode terapung (floating)

II.3.2. Pengolahan Data

Stopsite 1

Diketahui : P = 15,62 m , l = 7,12 m

t1 = 53 s, t2 = 43,9 s, t3 = 50,1 s
Ditanyakan : V ? Q ?
Jawab :

V=

P
t

V 1=

V 2=

15,62
m
=0,3558
43,9
s

V 3=

15,62
m
=0,3117
50,1
s

V ratarata =

15,62
m
=0,295
53
s

0,295+ 0,3558+0,3117
m
=0,3208
3
s

Q=V . A=0,3208 . 111,2144

35,6838

m3
s

Stopsite 2

Diketahui : P = 9,2 m, l = 4,9 m


t1 = 12,2 s, t2 = 7,5 s, t3 = 7,5 s
Ditanyakan : A? V? Q?
A= p . l=9,2 . 4,9=45,08 m2

Jawab :
V=

P
t

9,2
m
; V 1= 12,2 =0,7541 s

V 2=

9,2
m
=1,226
7,5
s

V 3=

9,2
m
=1,226
7,5
s

V ratarata =

0,7541+1,226+1,226
m
=1,0687
3
s

Q= A . V =45,08 .1,0687=35,6838

m3
s

Stopsite 3

Diketahui : P = 14,6 m, l = 7,79 m


t1 = 28 s, t2 = 22,7 s, t3 = 20,3 s
Ditanyakan : A? V? Q?
A= p . l=14,6 . 7,79=113,734 m2

Jawab :
V=

P
t

14,6
m
; V 1= 28 =0,521 s

V 2=

14,6
m
=0,643
22,7
s

V 3=

9,2
m
=0,719
20,3
s

V ratarata =

0,521+0,643+ 0,719
m
=0,6276
3
s

Q= A . V =113,734 . 0,6276=71,3870

m3
s

II.3.3. Sketsa Penampang

Gambar II.3. Penampang Sungai


Metode Floating

BAB III
KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pengolahan data lapangan pengukuran debit aliran


dengan metode floating dan metode current meter diketahui bahwa:

Cara kerja dari alat current meter adalah mengukur besarnya kecepatan
arus berdasarkan jumlah putaran kipas perdetik saat terkena arus sungai.
Prinsip kerja jenis curent meter ini adalah propeler berputar dikarenakan

partikel air yang melewatinya


Current meter bekerja berdasarkan rumus kecepatan pada umumnya yaitu
V=s/t ; dimana V adalah kecepatan (m/s). Pada hasil dari pengolahan data
diperoleh debit aliran adalah, untuk stopsite 1 Q = 0.7254 m3/s, stopsite 2

Q = 0.728875 m3/s, dan stopsite 3 Q = 0.6149 m3/s.


Metode floating bekerja dengan menggunakan bola yang mengapung
mengikuti arus sungai, untuk memperoleh debit menggunakan rumus Q =
V x A. Dimana V adalah kecepatan bola dan A adalah luas penampang dari

sungai.
Dari pengolahan data lapangan menggunakan metode float yang telah
diolah diperoleh debit tiap stopsite yaitu: stopsite 1 Q = 35.67394964 m 3/s,
stopsite 2 Q = 48.19700692 m3/s, dan stopsite 3 Q = 71.41783226 m3/s.