Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Penyakit ginjal kronik (PGK) merupakan masalah besar di Indonesia. Prevalensi
PGK di Indonesia dilaporkan sebanyak 12,5% dari populasi dewasa. Diperkirakan
saat ini terdapat sekitar 80.000 pasien yang memerlukan pengobatan pengganti
ginjal di Indonesia. Sedangkan tindakan hemodialisis di Indonesia baru mendekati
angka 15.000 orang pada tahun 2010. Sehingga jumlah pasien yang belum terlayani
sangatlah besar.
Pada usia anak, belum ada data nasional mengenai angka kejadian PGK maupun
jumlah pasien yang memperoleh pengobatan pengganti ginjal. Data lokal di .
Jakarta (tahun 1991-1995) menyebutkan angka kejadian PGK pada anak sebesar
4,9% dari 668 penderita penyakit ginjal yang dirawat inap, dan 2,6% dari 865
penderita penyakit ginjal yang berobat jalan. Belum semua anak yang terindikasi
memperoleh pengobatan pengganti ginjal, dapat menjalani dialisis atau transplantasi
ginjal akibat keterbatasan fasilitas dan sumber dana. Sementara studi epidemiologi
di Jepang melaporkan angka kesintasan yang cukup besar yaitu 77%, jika dialisis
atau transplantasi ginjal dapat dilakukan pada anak yang mengalami gagal ginjal
terminal (GGT). Terapi definitif pada kasus GGT adalah transplantasi ginjal, namun
pelaksanaan transplantasi tersebut memerlukan kesiapan orangtua baik secara
psikologis maupun finansial. Oleh sebab itu upaya pengadaan pelayanan
hemodialisis pada anak mutlak diperlukan, untuk memberikan angka kesintasan
yang baik bagi anak dengan GGT, sementara menanti kesiapan tindakan
transplantasi ginjal.
Melihat besarnya jumlah tindakan dan kecenderungan peningkatan jumlah pasien
yang memerlukan dialisis, maka sangatlah penting bagi dokter untuk memperhatikan
kualitas pelayanan dengan cara menerapkan manajemen dan penatalaksanaan
terpadu yang dibantu oleh tenaga medik dan paramedik lainnya.
B. Tujuan
Buku panduan ini bertujuan untuk memberikan suatu pedoman dalam pelaksanaan
pelayanan hemodialisis sehingga didapatkan suatu pelayanan yang baku,
berkualitas dan komprehensif.
C. Ruang Lingkup
Unit kerja hemodialisis baik untuk pasien dewasa maupun anak yang sedang
menjalani hemodialisis rutin maupun akut.
D. Dasar Hukum
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 812/Menkes/Per/VII/2010
tentang Penyelenggaraan Pelayanan Dialisis pada Fasilitas Pelayanan Kesehatan.
BAB II
1

KETENTUAN UMUM

A. Pengertian Pelayanan Hemodialisis


Hemodialisis (HD) adalah salah satu terapi pengganti ginjal yang menggunakan alat
khusus dengan tujuan mengatasi gejala dan tanda akibat laju filtrasi glomerulus
yang rendah sehingga diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup pasien.
Pelayanan HD terdiri dari:
1. HD rutin (Maintenance Hemodialysis)
Pelayanan HD rutin diberikan kepada pasien PGK stadium 5 dalam kondisi yang
stabil dan telah disetujui untuk mendapatkan terapi pengganti ginjal rutin.
2. HD akut
Pelayanan HD akut diberikan baik kepada pasien dalam kondisi yang tidak stabil
yaitu pasien PGK maupun bukan PGK yang dikarenakan kondisi tertentu
mengalami penurunan fungsi ginjal mendadak sehingga memerlukan dialisis.
B. Struktur Organisasi
Direktur
Utama
Direktur
Keuangan
IMPROVEMENT

Direktur Medik dan


Direktur Umum dan
Keperawatan
Operasional
PROCESSPengendalia
Perbaikan
Pembahasan
Direktur Pengembangan
dan
Direktur SDM dan
n dokumen
berkesinambun
kasus
Pemasaran
Pendidikan bermasalah/kemat
gan
ian
Kepala Departemen Ilmu Penyakit
Instalasi Rawat
Dalam
Jalan
CORE PROCESS
Dokter
Discharge Departemen
Kepala Unit
Divisi Ginjal Hipertensi
Poliklinik/Ruangan:
Internal:
planning
Hemodialisis
Anak
P
P
Informed consent
HD
Ruang rawat
Penimbangan
berat
A
Skrining
infeksi
A
gedung A
IGD
Unit Hemodialisis
badan pasca-HD
S
Ruang rawat
S
Bagian Penjadwalan unit
Anak
(pasien stabil)
I
I
ULB
HD untuk mendapatkan
E
E
Pelaksanaan HD: ICU
ICUDewasa &
jadwal HD
N
Persiapan alat dan
N
anak
Persetujuan
bahan
Instalasi
Teknisi
DPJP
ruang
HD
Administra
Gizi
ICCU
HD dari
TU Unit HD:
Evaluasi sebelum
M
Sanitasi
Mesin
si
K
URJT
Konsultan
dilakukan HD
penjelasan syarat
A
E
IGD
Laboratoriu
CSSD
Provider
Instalasi
administrasi
dan
Dokter
Pelaksana HD Memulai prosedur
S
PJT
L
HD
m
biaya
Kencana Farmasi
U
U
Monitoring
K Keterangan:
A
Perawat
Informed consent
HD Mahir HD Terminasi HD
Eksternal: Garis
R
Pengisian rekam medik oleh
Koordinasi
Rujukan RS lain
Penimbangan berat
C. Travelling
Pengorganisasian
dokter jaga ruang HD dan
badan pre-HD
Dialysis
perawat
(pasien stabil)

SUPPORTING
PROCESS

Instalasi
Sanitasi

Penanganan
limbah

Water
treatment
system
CSSD

2
Provider

Teknisi
Mesin

Instalasi
Gizi
Dialyzer reuse

Laboratoriu
m
Instalasi
Farmasi

D. Ketenagaan
Ketenagaan pelayanan hemodialisis terdiri dari:
1. Tenaga medis: Kepala Unit Hemodialisis, Dokter SpPD Konsultan Ginjal
Hipertensi, Dokter SpPD yang bersertifikat HD, Dokter Spesialis Anak
Konsultan Nefrologi, Peserta Pendidikan Dokter Spesialis
2. Perawat mahir HD
3. Teknisi mesin
4. Tenaga administrasi
5. Dan tenaga pendukung lainnya

E. Kompetensi
1. Kepala Unit Hemodialisis adalah Dokter SpPD-KGH.
2. Dokter penanggung jawab pelayanan (DPJP) hemodialisis adalah
Dokter SpPD-KGH dan/atau Dokter SpPD yang telah mempunyai
sertifikat pelatihan HD di pusat pendidikan yang terakreditasi dan
disahkan oleh PB PERNEFRI, serta Dokter SpA(K).

3. Dokter pelaksana hemodialisis adalah Peserta Pendidikan Dokter


Spesialis Sp-I.
4. Perawat mahir HD adalah Perawat yang bersertifikat pelatihan HD di
pusat pendidikan yang terakreditasi dan disahkan oleh PB PERNEFRI.
F. Klasifikasi dan Uraian Tugas
1. Kepala Unit
Seorang Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Ginjal Hipertensi
(Dokter SpPD-KGH) yang diakui oleh PERNEFRI, bertugas sebagai
Kepala Unit sekaligus Supervisor. Disamping itu juga dapat bertugas
sebagai Dokter Penanggung jawab Unit Dialisis dan/atau Dokter
Pelaksana Unit Hemodialisis.
2. Penanggung jawab
Seorang Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Ginjal Hipertensi
(Dokter SpPD-KGH) dan/atau Dokter Spesialis Penyakit Dalam (Dokter
SpPD) yang telah mempunyai sertifikat pelatihan HD di pusat pendidikan
yang terakreditasi dan disahkan oleh PB PERNEFRI serta Dokter
Spesialis Anak Konsultan (Dokter SpA(K)). Disamping itu juga dapat
bertugas sebagai Dokter Pelaksana Unit Hemodialisis.
3. Dokter Pelaksana
Peserta Pendidikan Dokter Spesialis Sp-I Penyakit Dalam yang sedang
menjalani stase di Divisi Ginjal Hipertensi dan PPDS Sp-I Departemen
Ilmu Kesehatan Anak Divisi Nefrologi.
4. Perawat Mahir
Perawat yang telah menempuh pendidikan khusus dialisis dan perawat
ginjal intensif di pusat pelatihan dialisis yang diakui PERNEFRI.
5. Teknisi
Petugas teknik khusus mesin HD yang disediakan oleh provider.
Bertugas untuk menyiapkan mesin dan perlengkapannya, menjalankan
dan merawat mesin dialisis dan pengolah air.

BAB III
MATERI DAN ISI PANDUAN

A. Konsep Pelayanan Hemodialisis


1. Dilakukan secara komprehensif
2. Pelayanan dilakukan sesuai standar
3. Peralatan yang tersedia harus memenuhi ketentuan
4

4. Semua tindakan harus terdokumentasi dengan baik


5. Harus ada sistem monitor dan evaluasi
B. Prosedur Pelayanan Hemodialisis
1. Tindakan inisiasi hemodialisis (HD pertama) dilakukan setelah melalui
pemeriksaan/konsultasi dengan Konsultan Ginjal Hipertensi atau
Konsultan Nefrologi Anak atau Dokter Spesialis Penyakit Dalam (Dokter
SpPD) yang telah bersertifikat HD.
2. Skrining infeksi: HBsAg, AntiHCV, AntiHIV.
3. Tindakan HD pertama kali pada dewasa maupun anak memerlukan waktu
kurang lebih 1-3 jam.
4. Setiap tindakan hemodialisis rutin pada dewasa dan anak terdiri dari:
- Persiapan pelaksanaan hemodialisis: 30 menit
- Pelaksanaan hemodialisis: 5 jam
- Evaluasi pasca hemodialisis: 30 menit
Sehingga untuk setiap pelaksanaan hemodialisis rutin diperlukan waktu
mulai dari persiapan sampai dengan waktu pasca hemodialisis minimal 6
jam.
5. Tindakan hemodialisis akut pada dewasa dan anak mempertimbangkan
kondisi hemodinamik (kardiovaskular). Apabila tidak memungkinkan
dilakukan HD maka dapat dilakukan modalitas terapi lain seperti SLED
ataupun CRRT.
6. Setiap pasien HD rutin wajib dilakukan pemantauan hemodinamik minimal
setiap 1 jam oleh perawat.
7. Pasien dengan kondisi yang tidak stabil dilakukan monitoring yang lebih
ketat.
8. Harus memberikan pelayanan sesuai standar profesi dan memperhatikan
hak pasien termasuk membuat informed consent.
C. Alur Pasien dalam Pelayanan Hemodialisis
Pasien hemodialisis . dapat berasal dari:
1. Instalasi Rawat Jalan
2. Instalasi Rawat Inap (termasuk ruang rawat intensif)
3. Instalasi Gawat Darurat
4. Rujukan dari Rumah Sakit/Institusi Kesehatan lainnya
Kegiatan selanjutnya adalah:
1. Pemeriksaan/penilaian/asesmen
2. Hemodialisis
3. Bisa dikembalikan ke tempat semula/Dokter pengirim
4. Diberikan discharge planning setiap akhir sesi dialisis
D. Persyaratan Minimal Obat dan Alat Kesehatan Habis Pakai
OBAT
No.
Nama Obat
1
Adrenalin HCL

Satuan
Ampul
5

Kekuatan
1 mg

2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25

Dexamethason
Dopamine
Dobutamin
KCl 1 Meq/ml
Heparin 5.000 IU
Protamin Sulfat
Bikarbonat Natrikus 8,4%
Anti Histamin
Clonidin
Dextrose 40%
Diazepam
Lidocain HCl 2%
NaCl 0,9%
Dextrose 5% dan 10%
Nicardipin
Nitrogliserin
Nifedipin
Captopril
Isosorbid Dinitrate
Paracetamol
H2O2
Iodine Povidone
Antiseptic
(Salvon,
Hibiscrub, dll)
Alkohol 70%

Flacon
Ampul
Ampul
Flacon
Vial
Ampul
Flacon
Ampul
Ampul
Flacon
Ampul
Ampul
Kolf
Kolf
Ampul
Ampul
Tablet
Tablet
Tablet
Tablet
Larutan
Larutan
Larutan

10 mg
50 mg dan 200 mg
250 mg
25 ml
5.000 IU/ml
50 mg/ml
25 ml dan 100 ml
0,15 mg
25 ml
10 mg
20 mg/ml
500 ml
500 ml
10 mg, 20 mg
5 ml, 10 ml
5 mg
12,5 mg
5 mg
500 mg
3%
10%

Larutan

ALAT KESEHATAN HABIS PAKAI


No. Nama Alat Kesehatan
1
Hollow fiber berbagai ukuran
2
Blood line
3
Jarum dialisis
4
Disposable syringe
5
Kassa steril
6
Blood set
7
Masker disposable
8
Sarung tangan steril
9
Apron disposable
10 Plester
11 Oksigen tabung
12 Havox/Sunclin (untuk desinfektan mesin sesuai dengan
petunjuk pabrik)
13 Campuran Perasetic acid dan H2O2 (untuk dialiser proses
ulang)
E. Persyaratan Minimal Bangunan dan Prasarana
1. Unit hemodialisis mempunyai bangunan dan prasarana yang sekurangkurangnya terdiri dari:
a. Ruangan hemodialisis:
6

2.

3.
4.
5.

6.

Ruangan
hemodialisis
sekurang-kurangnya
mempunyai
kapasitas untuk 4 mesin hemodialisis.
- Rasio mesin hemodialisis dengan luas ruangan sekurangkurangnya sebesar 1:8 m2.
b. Ruangan isolasi untuk pasien Hepatitis B. Tidak diwajibkan untuk
menyediakan ruangan isolasi khusus untuk kasus infeksi lain seperti
TB, avian influenza, dan-lain-lain.
c. Ruangan pemeriksaan/konsultasi
d. Ruangan dokter
e. Ruangan perawat (nurse station)
f. Ruangan reuse
g. Ruangan pengolahan air (water treatment)
h. Ruangan sterilisasi alat
i. Ruangan penyimpanan obat
j. Ruangan pimpinan
k. Ruangan administrasi
l. Ruangan pendaftaran/penerimaan pasien dan rekam medik
m. Ruang penunjang non medik yang sekurang-kurangnya terdiri dari
pantry, gudang peralatan, tempat cuci.
n. Ruang tunggu keluarga pasien
o. Toilet yang masing-masing terdiri dari toilet untuk petugas, toilet untuk
pasien, dan toilet untuk penunggu pasien.
p. Spoelhok
Seluruh ruangan harus memenuhi persyaratan minimal untuk kebersihan,
ventilasi, penerangan, dan mempunyai sistem keselamatan kerja dan
kebakaran.
Mesin hemodialisis yang digunakan dalam pelayanan harus dikalibrasi
secara berkala sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Mempunyai fasilitas listrik dan penyediaan air bersih (water treatment)
yang memenuhi persyaratan kesehatan.
Mempunyai sarana untuk mengolah limbah dan pembuangan sampah
sesuai peraturan yang berlaku (septic tank besar/rujukan limbah padat
infeksius).
Dianjurkan memiliki fasilitas akses internet agar dapat mengirim laporan
berkala ke manajemen rumah sakit dan PERNEFRI Pusat (Indonesian
Renal Registry).

F. Persyaratan Minimal Peralatan


Satu unit hemodialisis mempunyai peralatan meliputi:
1. Sekurang-kurangnya 4 mesin hemodialisis yang siap pakai dan jenis
mesin hemodialisis tersebut harus terdaftar di Departemen Kesehatan.
2. Tempat tidur/kursi untuk tempat pasien yang sedang menjalani
hemodialisis.
3. Peralatan medik standar seperti stetoskop, tensimeter, timbangan berat
badan, dan sebagainya dengan jumlah sesuai kebutuhan.
4. Peralatan resusitasi kardipulmoner yang sekurang-kurangnya terdiri dari
ambu viva, defibrillator, suction, endotracheal tube.
7

5. Peralatan reuse dialiser manual atau otomatik.


6. Peralatan pengolahan air sehingga air untuk dialisis memenuhi standar
Association for the Advancement of Medical Instrumentation (AAMI).
7. Peralatan sterilisasi alat medis.
8. Generalor listrik berkapasitas sekurang-kurangnya sebesar kebutuhan
untuk menjalankan mesin hemodialisis yang ada.
9. Peralatan pemadam kebakaran.
10. Peralatan komunikasi eksternal (telepon dan fax).
11. Peralatan untuk kegiatan perkantoran.
12. Peralatan untuk mengelola limbah dan sampah.
13. Perlengkapan dan peralatan lain sesuai kebutuhan.
G. PATIENT SAFETY
1. Pengendalian Infeksi
Unit dialisis wajib menyediakan dan memonitor kesehatan lingkungan
untuk meminimalkan transmisi agen infeksius didalam dan antar unit serta
rumah sakit di sekitarnya atau kawasan publik lainnya.
Pencegahan transmisi infeksi diantara pasien hemodialisis meliputi:
a) Pengendalian infeksi di unit hemodialisis
- Pengendalian infeksi ditujukan untuk mencegah transmisi virus
bloodborne dan bakteri patogenik lainnya diantara pasien.
- Pemeriksaan serologik rutin untuk infeksi virus Hepatitis B.
- Vaksinasi Hepatitis B.
- Isolasi pasien dengan hasil HBsAg positif.
b) Surveilans untuk mencari infeksi dan efek samping lainnya.
c) Pelatihan dan edukasi pengendalian infeksi.
2. Kualitas Air dan Dialisat
Kondisi ini mengacu pada standar Association for the Advancement of
Medical Instrumentation (AAMI).
Kemurnian air. Kadar maksimum kontaminan kimiawi yang diperbolehkan
dalam air yang dipakai untuk persiapan dialisat dan konsentrat bubuk di
fasilitas dialisis dan untuk memproses ulang dialiser disajikan pada tabel
dibawah ini.

Pihak supplier water treatment system wajib merekomendasikan suatu


sistem yang mampu memenuhi standar tersebut pada saat instalasi
diberikan analisis air.
Setelah instalasi water treatment, penyimpanan dan sistem distribusi, user
bertanggung jawab untuk monitoring kontinyu kadar kontaminan kimiawi di
dalam air dan harus memenuhi standar AAMI. Pemeriksaan kontaminan
kimiawi dilakukan setiap enam bulan.
Bakteriologi air. Air yang dipakai untuk persiapan dialisat atau konsentrat
bubuk di fasilitas dialisis dan untuk memproses ulang dialiser wajib
memiliki kadar bakteri (total viable microbial count) kurang dari 200
CFU/ml dan kadar endotoksin kurang dari 2 EU/ml.
Direktur operasional bertanggung jawab untuk menjamin supplier agar
dapat memenuhi persyaratan tersebut pada saat instalasi dilakukan baik
pada water treatment system, penyimpanan dan distribusi.
Pemeriksaan bakteri dan endotoksin wajib dilakukan satu bulan sekali.
Bakteriologi dialisat ultrapure. Dialisat ultrapure harus mengandung
total viable microbial count kurang dari 0.1 CFU/ml dan kadar endotoksin
kurang dari 0.03 EU/ml.
User bertanggung jawab untuk monitoring bakteriologi dialisat setelah
instalasi.
Prasarana. Fasilitas dialisis wajib mengembangkan rencana cadangan
apabila sistem pemurnian air dan distribusinya mengalami kegagalan.
9

Sistem pemurnian air. Sistem pemurnian air terdiri dari 3 bagian dasar:
bagian pre-treatment (sediment filter, cartridge filter, softener, dan carbon
adsorption bed), proses pemurnian primer (reverse osmosis) dan
deionisasi dan ultrafiltrasi.
Lingkungan. Sistem pemurnian air dan penyimpanannya harus
dilokasikan di area yang aman yang mudah diakses untuk user. Lokasi
yang dipilih harus mempertimbangkan ruang untuk meminimalkan panjang
dan kompleksitas sistem distribusi. Akses ke sistem pemurnian air harus
dibatasi hanya untuk staf yang bertanggung jawab untuk monitoring dan
pemeliharaan sistem.
Penyimpanan air dan distribusinya. Sistem penyimpanan air dan
distribusinya harus dirancang khusus untuk memudahkan kontrol
bakterial, termasuk pengukuran untuk mencegah kolonisasi bakteri dan
memudahkan proses desinfeksi rutin.
Bagian dasar tangki penyimpanan air berbentuk kerucut atau mangkuk
dan harus mengalir dari titik terendah dari dasar.
Sistem distribusi air berbentuk loop kontinyu dan dirancang untuk
meminimalkan proliferasi bakteri dan pembentukan biofilm. Sistem
distribusi air dibuat dari bahan yang tidak menambah unsur kimia seperti
aluminium, tembaga, timah dan seng atau kontaminan bakteri pada air
yang telah dimurnikan.
3. Dialiser Pakai Ulang (reuse)
Persyaratan:
- Tidak dilakukan pada pasien VHB (+) dan HIV (+)
- Reuse hanya untuk dipakai pada pasien yang sama.
- Dialiser harus diberikan label.
- Kualifikasi personil: Personil yang melakukan reuse harus
mendapatkan pendidikan yang adekuat, pelatihan atau
pengalaman untuk dapat memahami dan melakukan prosedur.
- Dokter di fasilitas dialisis wajib memberikan kursus pelatihan
untuk melakukan proses dialiser pakai ulang.
- Semua pasien harus diberikan informed consent mengenai
pemakaian dialiser proses ulang.
- Peralatan yang dipakai untuk reuse harus dirancang, dibuat dan
diuji untuk melakukan proses yang dikehendaki.
- Personil yang melakukan reuse wajib mengenakan sarung
tangan dan apron saat menangani dialiser selama inisiasi dan
terminasi dialisis dan selama prosedur reprosesing.
- Alat yang di-reuse, menunggu untuk di-reuse, atau sudah direuse sebaiknya disimpan untuk meminimalkan kerusakan
maupun kontaminasi.
- Pengukuran performa dialiser menggunakan total cell volume
(TCV). Diharapkan dapat mencapai TCV minimal 80% dari TCV
awal.
10

Pemeriksaan integritas membran seperti tes kebocoran tekanan


udara sebaiknya dilakukan diantara pemakaian.
Prosedur reuse hanya dilakukan sampai maksimal 7 kali pada
satu dialiser yang sama.

4. Lingkungan Fisik
- Fasilitas dialisis dirancang, dibangun, dilengkapi dan dipelihara
untuk menyediakan lingkungan yang aman, fungsional dan
nyaman untuk pasien, staf dan masyarakat.
- Fasilitas dialisis harus menerapkan proses dan prosedur untuk
mengelola kedaruratan medis dan non medis yang mungkin
mengancam kesehatan atau keselamatan pasien, staf, atau
masyarakat. Kedaruratan yang dimaksud meliputi, namun tidak
terbatas pada, kebakaran, kegagalan peralatan atau daya,
terkait perawatan, gangguan pasokan air, dan bencana alam
yang sering terjadi di wilayah geografis setempat.
H. Sistem Pembiayaan
1. Sumber:
- Biaya sendiri (out of pocket)
- Jaminan: PT Askes, Jamkesmas, Jamkesda, Gakin, SKTM
- Perusahaan
- Lain-lain
2. Pola tarif terdiri dari:
- Konsultasi dokter
- Tindakan:
a. Jasa medik
b. Jasa rumah sakit
c. Bahan dan alat
I. Pengendalian Limbah
Mengikuti pengendalian limbah di rumah sakit.
J. Kesehatan dan Keselamatan Kerja
Harus diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
- Pelaksanaan kewaspadaan universal (universal precaution) yang ketat
(pasien, staf, penggunaan alat medik/non medik) merupakan kunci
utama dalam pencegahan transmisi.
- Penataan ruang, aksesibilitas, penerangan dan pemilihan material
harus sesuai dengan ketentuan yang mengacu pada patient safety.
- Isolasi mesin hemodialisis hanya diharuskan pada pengidap virus
Hepatitis B (VHB), tidak pada pengidap virus Hepatitis C (VHC) dan
HIV.
- Pemakaian dialiser proses ulang pada kasus infeksi hanya
diperkenankan pada pasien pengidap VHC, akan tetapi dilarang pada
pengidap VHB dan HIV.
11

K. Pencatatan dan Pelaporan


- Dalam rekam medik dicatat diagnosis medik (berdasarkan ICD X dan
ICD 9 CM) untuk pelaporan ke manajemen RS.
- Mengirim laporan ke Indonesian Renal Registry PERNEFRI secara
berkala tiap bulan.

BAB IV
MONITORING DAN EVALUASI

A. Evaluasi dan Pengendalian Mutu


Kegiatan evaluasi terdiri dari:
a. Evaluasi internal: dinilai dari SDM, sarana dan prasarana hemodialisis.
Sumber daya manusia
- Unit dialisis bertanggungjawab untuk menjamin adanya proses
penyempurnaan berkesinambungan dan menetapkan prioritas
strategi untuk menilai kualitas dan perbaikan.
- Program peningkatan kualitas harus mewakili semua disiplin yang
terlibat dalam perawatan pasien HD, termasuk dokter, perawat, ahli
gizi dan staf administrasi.
Sarana dan prasarana hemodialisis
- Pemeliharaan sarana dan prasarana penunjang hemodialisis
merupakan tanggung jawab unit hemodialisis bersama-sama
dengan provider dan pimpinan rumah sakit.
12

b. Evaluasi eksternal: dinilai dari kegiatan hemodialisis (jumlah pasien,


adekuasi hemodialisis, morbiditas dan mortalitas, tarif hemodialisis yang
dimonitor oleh Dinkes).
- Unit hemodialisis wajib melakukan monitoring kontinyu terhadap
proses yang berkaitan dengan pelaksanaan dialisis seperti Kt/V,
standar reuse, dan sebagainya.
- Harus dipertimbangkan untuk penyediaan sumber daya manusia
dan pelatihan untuk mendukung penilaian outcome klinis selain
kematian meliputi angka rawat inap, kualitas hidup, kepuasan
pasien, dan angka transplantasi ginjal.

BAB VI
PENUTUP

Dengan meningkatnya jumlah penderita yang memerlukan pelayanan hemodialisis,


maka sepatutnya menjadi perhatian unsur-unsur pemberi pelayanan untuk
meningkatkan dan mengembangkan pelayanan demi pemenuhan kebutuhan
tersebut. Selain sarana dan prasarana, pengembangan dan peningkatan sumber
daya manusia juga perlu diperhatikan.
Upaya terus menerus untuk mengacu pada standar pelayanan terbaik sehingga
tercapai kualitas hidup pasien penyakit ginjal kronik yang baik menjadi target
pelayanan unit hemodialisis.

13

LAMPIRAN

14