Anda di halaman 1dari 16

Kriminalitas dan Kekerasan di Jakarta pada 1950-60an

M. Fauzi

Pasca-KMB (Konferensi Meja Bundar), keam anan berbagai kota besar di


Indonesia belum dapat dikatakan normal sama sekali. Aksi peram pokan, pembakaran,
pencurian m enjadi cerita keseharian di kalangan penduduk. Begitu pula halnya dengan
Jakarta. Kota ini pasca berakhirnya konflik Indonesia-Belanda juga tak pernah sepi dari
aksi-aksi kejahatan. Salah satu kecemasan warga Jakarta terhadap kejahatan terlihat
pada penggunaan besi di jendela dan rumah penduduk. Hal itu m ereka lakukan sebagai
bentuk pengamanan dari berbagai aksi kejahatan, terutama perampokan. Kawasan
perdagangan seperti Glodok, atau yang dikenal pula sebagai “Wall Street”-nya Jakarta,
juga tak luput dari berbagai aksi kejahatan: pencurian dan pencopetan terutama.

Jika m embayangkan Jakarta kala itu, maka y ang terbaca dan muncul adalah
zaman “Wild West”. Teror, penggarongan, penggedoran, pem bakaran, penculikan, dan
bahkan pembunuhan terus m engganggu ketenangan warga. Setiap hari selalu saja
terjadi aksi kekerasan yang m em inta korban di pihak warga sipil. Hukum pun seperti
tak puny a nyali. Siapa yang kuat, dia lah yang menang. Ruang atau wilayah juga
m enjadi bagian penting dari kekuasaan dan penguasaan. Tak jarang, penguasaan suatu
wilayah untuk menancapkan kekuasaan di wilayah itu diperoleh dengan kekuatan atau
adu otot. Oleh karena itu, jago dan jagoan menjadi penting dalam perebutan dan
penguasaan suatu wilayah, y ang di dalamnya term asuk pula penguasaan atas ekonom i
dan koneksinya kepada kekuasaan. Tahun 1 950an hingga pertengahan 196 0an mungkin
dapat dikatakan era kebangkitan jago dan jagoan di Jakarta. Puncaknya adalah
dipilihnya Letnan Kolonel Im am Sjafei sebagai Menteri Negara Keamanan Rakjat oleh
Presiden Soekarno. Itulah jabatan tertinggi di pem erintahan yang pernah dipegang oleh
seorang jago dalam sejarah republik.

Esai ini tentang sejarah sosial Jakarta khususnya y ang berhubungan dengan
kriminalitas dan kekerasan, dan keterkaitannya dengan kekuasaan sejak 19 50an hingga
pertengahan 19 60an. Di beberapa wilayah Jakarta yang m enjadi sentra ekonom i seperti
Pasar Senen, Pelabuhan Tanjung Priok, kait-mengait antara kriminalitas, kekerasan,
dan kekuasaan bisa dilihat. Di beberapa tem pat aktivitas ekonomi dan hiburan,
kejahatan dalam segala bentuk bahkan dilakukan secara terbuka. Sem ua itu dapat
terjadi karena adanya kekuasaan atas suatu wilayah yang bukan hanya m engendalikan
kehidupan ekonom inya, tapi juga penting dari segi politik. Kelom pok Pi’ie dengan
Cobranya di kawasan Pasar Senen terutama m erupakan salah satu yang punya arti
penting dalam kaitan ini. Kawasan Senen m emang dianggap sebagai jantungnya Jakarta
karena wilay ah ini terus berdenyut selam a 24 jam tanpa henti. Dan, dari Senenlah,
rev olusi Indonesia digelorakan oleh para paria: gelandangan, pengem is, pelacur, dan
pencopet.

1
Krim inalitas dan kekerasan di Jakarta juga tak bisa dilepaskan dari persoalan di
tubuh m iliter pasca-KMB, khususnya menyangkut kelaskaran. Laskar-laskar yang tidak
terserap masuk ke TNI, atau yang tidak punya keahlian lain (nonm iliter), atau yang
secara ideologis berseberangan dengan republik dituding sebagai penyebab
ketidakam anan Jakarta. Banyak faktor bisa disebut untuk m enjelaskan sebab-musabab
m ereka m elakukan aksi kekerasan dan kejahatan di Jakarta dan sekitarnya. Salah
satunya adalah tidak diakuinya peran mereka selama rev olusi Indonesia sehingga tidak
ada tempat atas jasa-jasa m ereka di m asa lalu pascarevolusi. Kekecewaan itu pula yang
m enjadi salah satu alasan mengapa m ereka memilih kejahatan sebagai jalan hidupnya
pascarevolusi.

Perubahan dari perang ke damai tentunya m embawa dam pak secara psikologis
terhadap para pejuang. Ketika m ereka m emasuki kota yang berada dalam kondisi am an
daripada daerah-daerah di pinggiran atau perbatasan yang masih diliputi teror,
perubahan ini tentunya sangat berpengaruh dalam dirinya. Bagi sebagian pejuang,
kondisi normal tanpa letusan senjata dan desingan peluru mengagetkan dan sepertinya
m ereka tidak siap untuk m emulai kehidupan baru y ang jauh dari ingar-bingar letusan
senjata dan m ortir. “Lain di front lain di kota. Inilah perjuangan,” demikian ungkapan
1
seorang pejuang tentang situasi baru pascarevolusi. Bagi eks pejuang atau laskar,
perbedaan bukan hanya menyangkut situasi baru yang bebas dari gangguan keam anan
seperti tercermin pada pertunjukan film di bioskop, tetapi juga pekerjaan menjadi
m asalah pokok apalagi jika mereka tidak mem punyai keahlian apa pun. Mereka yang
tidak mem punyai keahlian apa pun dan biasa hidup di kota berpotensi terlibat dalam
kriminalitas, meskipun tidak seluruh eks laskar mempunyai kecenderungan seperti ini.
Kelompok-kelom pok eks laskar ini bertebaran di berbagai tem pat di Jakarta dan di
tem pat-tem pat itulah m ereka berjuang menghidupi diri dan keluarganya, kem udian
m embangun kelom poknya dan sekaligus hidup dari sum ber-sumber ekonomi di wilayah
itu, wilayah Senen dan Matraman misalnya. Perebutan lahan dan ruang pun terkadang
tak terhindarkan jika menyangkut sumber-sum ber ekonom i, karena dengan cara dan
jalan itulah kehidupan mereka dan keluarganya tetap berlanjut.

TNI memang m emandang penting peran dan kekuatan laskar. Oleh karena itu,
penanganan para eks pejuang ini butuh kehati-hatian dan kebijaksanaan dalam
m enyelesaikan suatu persoalan yang m enyangkut mereka. Pem bentukan Perbepsi
(Persatuan Bekas Pejuang Seluruh Indonesia) pada tahun 1 951 dapat dilihat dalam
konteks ini. Jumlah anggota organisasi ini diakui mencapai 300 ribu orang pada 19 57.
Pentingnya organisasi eks laskar atau pejuang ini di m ata para petinggi m iliter terlihat
ketika Kolonel A.H. Nasution dan Gatot Subroto hadir dalam pertemuan organisasi ini
pada November 1955, sekaligus m enyam paikan pandangan-pandangannya tentang
m asalah kelaskaran. Bagi para perwira, Perbepsi dianggap penting karena bila terjadi
krisis politik, organisasi ini dan para anggotanya dapat m enjadi kekuatan yang
m enentukan, dan sekaligus m enjadi kekuatan pengim bang bagi m ereka y ang bertikai.
1 “Jal an-jalan yan g Kususuri ,” 157/VIII/12-8-’75. Kol eksi Perpustakaan Gedu ng Joan g 45, Jakarta.
Inilah yang m enjadi salah satu alasan Angkatan Darat m elebur Perbepsi ke dalam
2
Legiun Veteran Republik Indonesia pada Agustus 19 59.

Di Jakarta, kelom pok para bekas laskar yang terkenal dan disegani adalah Cobra,
yang dipim pin oleh eks pejuang bernama Im am Sjafei, terkadang ia disebut juga sebagai
Sape’i atau Bang Pi’ie atau Bang Kapten. Tentang Pi’ie, Oei Tjoe Tat, pem bantu presiden
Soekarno, m enulis dalam mem oarnya saat bertemu dengan Pi’ie sebagai berikut:

“Pertemu an saya dengan sal ah satu m en teri baru,, Letkol Sjafei y an g diken al sebagai
Robi n Hood daerah Sen en Jakarta cuku p m enggoncangkan . Itu terjadi waktu pergolakan
sem akin m emuncak. Pada suatu mal am, pintu rum ah di ketu k. Saya pikir akan di cu lik
tentara. Pem ban tu laki-laki saya memberitahu ada ten tara m en getuk pin tu , pakaian
seragam tapi berjaket. Saya bukakan pin tu, pel an-pel an, sambi l m em perhatikan wajah
pendatang i tu .
‘Maaf, Yang Muli a, saya Men teri Uru san Keam anan , Letkol Sjafei .’
Oran gnya kecil , matanya seperti mata Arab, bersinar.
‘Say a m au di bawa ke m ana?’
‘Pak Men teri tak u sah ku ati r, say a y ang akan antarkan ke rumah Pak Chaerul Sal eh .’
‘A da apa jam 12 malam begin i mesti ke rumah Chaerul?’
‘Say a ti dak tah u, Pak. Di sana su dah menun gguPak Ch aerul dan Pak Bandrio.”
Kam i beran gkat, naik jeep, dua bu ah. Di sana, di ruan gan tertutu p su dah h adir
Ch aerul Saleh dan Dr. Soeban drio. Ternyata pada m alam i tu di bi carakan bagaim ana
m em obil isasi dan m engkoordin asi kekuatan dan gol on gan-golongan raky at mi litan y ang
m asi h tetap berdiri di bel akang Bu ng Karn o un tuk mengim bangi kel om pok-kelompok
y ang sedang m engguncang kursi Presi den.3

Bang Pi’ie memang dikenal sebagai “Robin Hood Sen en”, tapi di kalangan
dekatnya sebutan sebagai tokoh “dunia bawah” tak begitu disukai. Dia sangat terkenal
di sekitar Pasar Senen, Jakarta Pusat, Cobra punya pengaruh besar di kawasan ini. Di
wilayah ini terdapat pasar, pertokoan, deretan pedagang kaki lima, warung dan
restoran, stasiun kereta api, bioskop, dan tem pat pelacuran. Pi’ie yang kelahiran
Pejaten, Pasar Minggu, pada 1923 adalah anak gelandangan, buta huruf, dan anak nakal
di Pasar Sayur – bagian belakang Pasar Senen. Tokoh yang terkenal di kalangan jagoan
di Jakarta ini tingginya sekitar 1,55 m eter, beram but keriting, bertubuh sintal, ramah,
berkumis kecil, berpakaian necis, dan kerap mengendarai sedan m ewah cabriolet.
Seringkali jika sedan yang dikendarainya itu lewat di depan para senim an, tukang catut,
atau kalangan “dunia bawah” di sekitar Senen, m ereka akan m enghormatinya. Atau, jika
Pi’ie sedang lewat atau m elintas di depan anak buahnya saat mereka sedang mabuk,
atau m enyanyi, atau berteriak-teriak, m aka sekejap mereka akan berhenti. Dia dikenal
ramah, dan juga pem berani saat berjuang m elawan tentara Belanda di m asa revolusi.
Dia pernah ditawan oleh pasukan Jepang. Pi’ie dan pasukannya pernah dikirim ke
Madiun untuk menumpas Peristiwa Madiun pada 194 8. Atas keberhasilannya di
Madiun, pangkatnya kemudian dinaikkan dari kapten menjadi may or. Pengaruhnya
besar di kalangan “dunia bawah” Jakarta, dan hal ini m ungkin yang menyebabkan

2 Ulf Sun dhau ssen . Politik Milite r Indonesia 1945-1967 : Me nuju Dwi Fungsi ABRI. Jakarta: LP3ES,
1986.
3 Pram oedya An anta Toer dan Stanl ey Adi Prasetyo, eds. Me moar Oe i Tjoe Tat: Pe mbantu Preside n
S oekarno. Jakarta: Hasta Mi tra, 1995, hl m 199-200.

3
Presiden Soekarno mem ilihnya untuk m enjadi m enteri urusan keamanan. Dia diangkat
sebagai m enteri pada 24 Februari 1966. Sejumlah m itos pun m eny elubungi dirinya
karena ketokohan dan nama besarnya. Disebut-sebut dia m emakai jimat untuk
pertahanan dirinya. Bahkan, dia juga m enganggap dirinya masih keturunan si Jampang,
jagoan Betawi tempo dulu. Namun, sebagai jago, akhir kariernya di pem erintahan justru
m enjadi antiklimaks karena statusnya sebagai tahanan. Pi’ie ditangkap dan dijebloskan
ke dalam tahanan sebagai akibat peristiwa G 30 S, justru beberapa bulan setelah
pengangkatan dirinya sebagai menteri urusan keam anan. Karier politiknya tak sam pai
dua bulan di tampuk kekuasaan. Dia dituduh terlibat dalam peristiwa itu oleh
4
penguasa.

Pi’ie mendirikan Cobra sebagai perkum pulan penjaga keamanan di wilayah


Jakarta. Wilayah kekuasaan Cobra cukup luas, m encakup wilayah dari Jatinegara
(Jakarta Tim ur) sam pai Ancol (Jakarta Utara), dari Tanah Abang sampai Cem paka
Putih (barat ke timur, keduanya m asuk wilayah Jakarta Pusat). Asal-usul kelompok ini
adalah para bekas anak buah Pi’ie di kelaskaran dulu pada zam an rev olusi, tapi
kem udian dalam perkem bangannya di dalam Cobra bergabung pula kalangan “dunia
bawah”, perkum pulan orkes Melayu, dan para waria. Sebagian besar anak buah Pi’ie di
m asa rev olusi dulu ini diberhentikan dari ketentaraan karena dianggap tidak memenuhi
persyaratan pendidikan. Situasi yang tidak m enyenangkan bagi bekas laskar itu terjadi
5
pascapenandatanganan perjanjian KMB. Mereka memang tidak berpendidikian dan
buta huruf, dan banyak di antara m ereka adalah dari “dunia bawah” Senen, seperti
halnya Pi’ie.6 Rupanya, pem berhentian itu m enggusarkan Pi’ie sehingga jalan keluarnya
adalah menyatukan mereka ke dalam wadah baru bernama Cobra. Banyak di antara
7
anak buahnya yang berasal dari Banten. Kabarnya, Pi’ie juga tak segan-segan
m enghukum anak buahnya dengan ekor ikan pari jika mereka m elakukan kesalahan.
Atau, Pi’ie akan menampar anak buahnya bila dia m em ergoki m ereka m embuat
keributan di restoran atau tem pat usaha. Sebabny a, para pem ilik toko, restoran,
warung, atau tem pat usaha mem bayar iuran keamanan atau uang jago kepada Cobra.
Para pem ilik toko atau tem pat usaha biasanya m enem pelkan foto Pi’ie di dinding
tem pat usahanya supay a tak mendapat gangguan dari para jagoan lainnya. Pi’ie
8
m eninggal dunia pada 9 Septem ber 1982.

4 Lihat Mi sbach Yusa Bi ran . Ke nang-kenangan Orang Bandel. Depok: Komu nitas Bam bu , 2008, h lm
43, 63-65, 110-114.
5 Ku sni Kasdut, sal ah satu con toh l ain, adalah bekas pem uda peju ang dal am pertem puran antara
In don esia dan In ggris di Surabaya pada 1945. Namanya di anggap tak pernah terdaftar dalam TN I,
keti ka organisasi i ni m ereorgan isasi diri nya. Maka, di a kemu dian m emi lih jal an kejah atan h ingga
akhi rnya di hukumm ati atas kejahatannya.
6 Pi ’i e dikabarkan pern ah m en dapat pen didi kan di SSKA D (Sekolah Staf Kom an do A ngkatan Darat)
pada 1958, dan lu lus. Lih at “Ketika Kobra iku t m engamankan ibukota” [Diu ndu h 20 April 2009 pkl
4.58 pm]. Posted by Mim bar Bam bang SAPUTRO at 3/13/2006 12:35:00 AM.
7 Sejak m asa koloni al, bany ak bu ruh pelabuhan Tanjung Priok juga berasal dari daerah ini yang di rekrut
ol eh para m an dor. Mereka ditem patkan di sebu ah tem pat bern ama Uni e Kampung yang tak jau h dari
l okasi pelabuhan . Kedekatan jarak antara Banten -Jakarta ju ga m en jadi perti mban gan penduduk
Ban ten u ntu k bekerja di berbagai tempat di Jakarta. Kom un ikasi den gan Razif, y an g sedan g m en el iti
dan m en ulis tesi s S2 ten tang buru hPelabuhan Tan ju ng Pri ok.
8 Lih at “Ketika Kobra ikut mengam ankan ibukota”.
II

Peran dan perjuangan Pi’ie bersama anak buahnya di m asa rev olusi besar artinya
bagi republik. Gerak pasukannya hingga ke arah Cirebon, Kebulisuk (Majalengka), yang
keduanya m asuk wilayah Jawa Barat. Kebulisuk m erupakan daerah pengungsian
9
pasukan gerilya dan sebagai jalur dari Jawa Barat m enuju Yogy akarta. Pasukan Pi’ie
juga dikenal m asy arakat dengan nama PI (akronim dari Pasukan Istim ewa). Di masa
rev olusi, pasukan Pi’ie m endapatkan senjata api dari tangsi-tangsi tentara Belanda yang
berada di sekitar wilayah Senen dan Salem ba. Kelompok lain yang berada dalam
10
pengaruh pasukan Pi’ie ini adalah Sebenggol, yang terdiri dari para pencopet. Di kota
lain seperti Solo, para pencopet pejuang dan pencuri pejuang ini bertugas m encuri
logistik dan persenjataan berikut amunisinya di gudang atau pos-pos m iliter Belanda
karena keahlian mereka di bidang ini.

Salah satu anak buah Pi’ie yang terkenal dan kabarnya menjadi “tangan kanan”-
ny a di Jakarta adalah Achmad Benyamin, atau akrab dipanggil Bang Am at atau Mat Bei
atau Mat Bendot. Wilayah pengaruhnya terletak di daerah Kenari, Kram at Sentiong,
dan Tanah Tinggi, yang juga m asuk dalam pengaruh Cobra. Mat Bendot disebut-sebut
pernah tergabung dalam Laskar Betawi di m asa revolusi. Pascaperistiwa G 3 0 S, Mat
Bendot yang dikenal pula sebagai jagoan oleh m asyarakat di sekitar kawasan Salemba
dan Senen termasuk salah satu tokoh dari “dunia bawah” yang ditahan oleh penguasa
Orde Baru. Tentang jagoan dan orang dekat Pi’ie ini, Effendi, seorang warga Salem ba
dulu m enceritakannya sebagai berikut:

Sipil di a. Ya du lu pern ah i kut l askar l ah . Laskar Jakarta, Laskar Betawi di PI [Pasu kan
Isti mewa]… Ya an ak buah nya y ang orang Betawi itu yang tadi nya meman g i tu y a i kut
ban tu. An ak-an ak Gang Kenari i tu , Mat Ben dot i tu anak buahnya juga i kut i tu.11

Pengaruh Cobra tidak sebatas di wilayah Jakarta saja, tapi juga m eluas hingga ke
Jawa Barat. Provinsi itu sejak revolusi mem ang m enjadi basis gerilya para anak buah
Pi’ie. Cobra kerap dim inta untuk menjaga keamanan pasar m alam di beberapa lokasi di
Jawa Barat. Saat bertugas m enjaga keamanan, para anggota Cobra biasanya
m enyematkan pening berlogo ular cobra di bajunya sebagai identitas m ereka. Cobra
m emiliki basis di tiap kecam atan dengan seorang ketua sebagai koordinator atau
penanggung jawabnya. Maka, jika terjadi kasus kriminal di suatu wilayah yang menjadi
kekuasaan atau pengaruh Cobra, ketua cabanglah yang akan dipanggil dan dimintai
12
keterangannya. Cobra juga dikenal dekat dengan militer. Kom ando Militer Kota Besar
Djakarta Raya pernah bekerja sama dengan Cobra untuk m emberantas krim inalitas di
Jakarta, dan kerja sama di antara keduanya dapat m enekan kejahatan di Jakarta hingga
196 0-an.
9 Wawancara den gan Ham di , 19 N ov em ber 2008.
10 Istilah ben ggol dapat berm akna sebagai mata uang tem baga pada masa Bel an da dulu ; peram pok; dan
gem bon g.
11 Wawancara den gan Effen di, 12 Ju ni 2004.
12 J.J. Ri zal. “Cerita Copet di Jakarta,” naskah yang tidak diterbitkan.

5
Jika Cobra dengan tokoh utam anya adalah Pi’ie yang m emiliki hubungan dekat
dengan militer, m aka jago di Pelabuhan Tanjung Priok punya karakteristik yang sedikit
berbeda. Mereka adalah para mandor bagi sejumlah buruh pelabuhan y ang berasal dari
Banten, Sulawesi Selatan, dan daerah lain di sekitar Jawa Barat. Para jagoan ini
m enguasai buruh pelabuhan dan bertindak sebagai penghubung dalam hubungan kerja
antara penguasa pelabuhan dan buruhnya. Mereka juga menguasai pelacuran yang
berada di sekitar pelabuhan. Para jagoan di pelabuhan Tanjung Priok ini m erupakan
kunci sekaligus berperan sebagai peredam pem ogokan buruh pelabuhan.
Kedudukannya sangat penting di m ata penguasa pelabuhan dan buruh dalam hal
hubungan kerja di pelabuhan. Oleh karena itu, wibawa atau kharismanya di mata
keduanya sangat penting dan dapat luntur jika terjadi pem ogokan atau keresahan
buruh. Tak jarang, cara kekerasan akan dipakai oleh jagoan untuk mendapatkan lahan
pekerjaan di pelabuhan Tanjung Priok. Kabarnya para jagoan di wilayah Tanjung Priok
ini mem iliki jaringan internasional. Ini m eny iratkan bahwa ada organisasi di sana
13
karena m elibatkan bany ak orang.

III

Meskipun aktivitas para jagoan seperti disebut di atas berada di “dunia bawah”,
bisnis, stasiun dan term inal, pasar malam, bioskop, dan pelabuhan, mereka terkadang
terlibat pula dalam masalah politik, seperti dalam peristiwa 17 Oktober 1952 yang
m enuntut pem bubaran parlemen dan penyelenggaraan pem ilihan umum. Ketika itu
tentara dengan dipersenjatai tank dan meriam berada di Lapangan Merdeka, hanya
berjarak beberapa puluh meter dari istana, dan tentara mengarahkan m oncong senjata
beratnya ke arah istana Presiden Soekarno. Pi’ie disebut-sebut punya andil
m enggerakkan massa dalam peristiwa tersebut karena hubungannya dengan beberapa
perwira penentang Soekarno.14

Hubungan antara Pi’ie dan beberapa perwira pembangkang yang terlibat dalam
peristiwa itu sudah berlangsung lama sejak m asa revolusi. Sem entara, dalam
pandangan para perwira itu, Pi’ie dengan pengaruhnya di kalangan “dunia bawah”
15
Jakarta cukup penting artinya bagi m ereka. Dalam pandangan para perwira, massa
Pi’ie m ungkin dapat m enjadi kekuatan penting bagi mereka untuk m enekan Soekarno
agar m engabulkan tuntutan para penentangnyadalam peristiwa 17 Oktober itu.

Seorang jago tampaknya m emang sangat penting kedudukan dan fungsinya


dalam m asyarakat atau bahkan dunia politik. Dia juga tak hanya sebagai penghubung
dalam struktur kekuasaan politis dan ekonomi, tapi juga m emiliki kekuatan untuk
m enekan atau m endesakkan tuntutannya. Kedudukannya yang sangat strategis dalam
13 Sin Po, 24 Djanuari 1950. Li hat pu la Li nda Cooke John son . “Crim inality on the Docks,” dal am Sam
Davi es (et.al ., eds.) Dock Worke rs: I nternational Explorations in Comparative Labour History 17 90-
197 0. 2 v olum es. A ldershot- Ashgate, 2000.
14 A chm adi Moestahal . Dari Gontor ke Pulau Buru: Me moar H. Achmadi Moestahal. Y ogyakarta:
Syarikat, 2002, h lm. 138.
15 Me rdeka, 2 Dju li 1955.
hubungan kekuasaan itu m enjadikan dirinya berperan dalam “permainan politik”. Di
sisi lain, para jago ini juga berperan sebagai penjaga keamanan dan ketentraman di
m asyarakat tempat dia tinggal seperti terjadi di daerah Prumpung Kebun Jeruk, Jakarta
Tim ur. Daerah ini dulu dikenal sebagai tempat berkum pulnya para pencopet, pekerja
seks, penjudi, dan para krim inil. Seorang jagoan kam pung yang berpengaruh kemudian
16
ditunjuk untuk m enjadi ketua rukun warga (RW) di daerah tersebut. Setelah dia
m enjabat sebagai ketua RW, daerah tersebut pun bebas sebagai “daerah hitam dan
kriminil”, seperti diceritakan oleh Maun Sarifin, berikut ini.

Ya pen col en g, ya prem puan, y a maen apa ku mpu l di si tu. N amanya Prumpung Kebun
Jeru k, terkenalnya. Tu h semua ku mpul di si tu. Tahu n ’50-an u dah ada. Udah ada orang-
oran g y ang nakal-nakal i tu udah ada. Makanya yan g jadi RWn ya tuh tadi nya tuh orang
n akal. Y a bu kan jagoan tapi ya orang y ang di si tu tuh dii tui n oran g. Disegenin . Tapi dia
seben ern ya dengan kebeneran , bu kannya, tapi m emang dasarnya oran g nakal . Mal ah itu
oran g kal o enggak salah orang Comal. Itu baru am an. Tu kang minum , tu kang maen ,
tukang mabok, u dah en ggak ada teru s ada m esjid, ada mu sollah . Kal o ada oran g lagi
m inum-m inum enggak di om elin di a sih. Kurang bel i lagi kasi h dui t beli l agi , berapa botol
beli lagi, beli . Kal o en ggak h abis gu e lelepi n di kali l u. Gi tu ancamannya. En ggak h abi s
l el epin di kal i. Ya orang pada takut. Di beli in bukan di omelin . Terus m endi ng, i lang.
Prempuannya il ang. Ya ju di kecil mah u dah bi asa deh. Masih ada.17

Ada banyak alasan mengapa orang berkecimpung dalam “dunia bawah” atau
“dunia hitam” di Jakarta, tetapi faktor ekonomi tam paknya menjadi salah satu alasan
utamanya. Para pencopet misalnya, m ereka yang masuk ke perkumpulan atau
organisasi pencopet adalah orang-orang yang ingin hidup mudah atau enak.
Sebelumnya mereka pernah m encari pekerjaan di berbagai kantor, tetapi tanpa ada
hasil karena terganjal oleh ijazah atau pendidikan. Selain itu, mereka juga tidak
m em punyai pengalaman bekerja sebelum nya dalam pekerjaan yang dibutuhkan saat
itu. Alasan para pencopet ini, seperti ditulis kem bali oleh jurnalis Merdeka, dikatakan
sebagai berikut:

Ingin bekerdja sebagai bu ruh pel abu han (bu ruh kasar)…badannja ti dak tahan . Sebagai
djal an terachi r, un tuk mengh indari kelaparan, dipilihlah djal an jg. [jan g] semudah2n ja
jakni masuk kedalam organisasi tjopet i ni. Lam a-kelamaan karena su dah bi asa h idu p
dengan tjara pin djam 2 barang dari orang jan g ti dak di kenalnja, sudah mal as m ereka
m em eras kerin gat bekerdja seperti orang lain.18

Para pencopet ini m endapat tugas y ang harus dikerjakan setiap hari dari
organisasinya. Setiap pencopet harus mem atuhi peraturan, menepati janji, m engejar

16 Pen gangkatan seoran g jago y ang disegani un tuk m emi mpin kel urahan ju ga terjadi di Jakarta dul u.
Sal ah seoran g jago dan eks l askar pernah m em impin sebu ah kel urahan di Jakarta Selatan di m asa
rezim Soeh arto.
17 Wawan cara dengan Maun Sarifin , 17 Ju li 2004. Dalam kesusastraan In don esia, ki sah-kisah tentang
jago ju ga banyak di jumpai seperti tokoh In cu p dalam ceri ta pen dek Pram oedy a An anta Toer, Gambir.
Lih at Pram oedy a A nanta Toer. Ce rita dari Jakarta. Jakarta: Hasta Mi tra, 2003.
18 Merde ka,2 Djul i 1955.

7
waktu dan tugas lain dari organisasinya. Pencopet y ang melanggar aturan organisasi ini
akan m enerima sanksi dari jagoannya. Hukuman fisik berupa pukulan seringkali harus
diterima para pencopet yang m elanggar. Barang-barang yang dicopet juga tak boleh
dialihtangankan ke pihak lain selam a sepekan, batas waktu yang diberikan oleh
organisasi atau koordinatornya. Jika sebelum batas waktu itu ada yang melapor ke
organisasi atau koordinatornya, m aka barang copetan harus dikem balikan kepada
pemiliknya. Aturan ini menjadi pegangan bagi para pencopet yang beroperasi di suatu
wilayah di Jakarta.

Lalu, bagaimana sesungguhnya “pendidikan” yang harus dilakukan oleh para


pencopet? Beberapa tahapan pekerjaan yang harus dihadapi oleh m ereka mulai dari
yang ringan sam pai yang berat, misalnya mencopet, menodong, dan m erampok. Ada
pula yang mengikuti perjalanan oplet atau trem , m isalnya jurusan Jatinegara-Jakarta
Kota, atau jurusan Tanah Abang-Jakarta Kota. Tetapi pekerjaan yang terakhir itu jarang
dilakukan para pencopet kecuali dalam keadaan mendesak. Saat beraksi biasanya para
pencopet bekerja dalam kelom pok y ang berjum lah lebih dari tiga orang. Di antara
kelom pok pencopet itu biasanya terdapat pula seorang sopir oplet sebagai anggota
19
kelom poknya.

Selain di oplet, pencopet juga melakukan aksinya di tem pat-tem pat um um


seperti bioskop, stasiun, terminal, dan pasar. Pasar Senen, Pasar Baru, Glodok, Stasiun
Gam bir, Senen, dan Jatinegara adalah tem pat-tem pat operasi para pencopet. Korban
pencopetan rata-rata m encapai 80 orang per hari pada waktu itu. Adapun hari-hari
ramai pencopetan terjadi pada hari Jumat dan Sabtu karena pada hari tersebut buruh
bekerja setengah hari. Mereka biasanya pergi berbelanja di pasar atau pergi ke berbagai
tem pat hiburan selesai bekerja. Sedangkan pada hari Minggu dan hari libur lainnya,
20
pasar biasanya tutup dan sepi karena sebagian besar buruh libur. Di Jakarta, para
pencopet ini m em iliki daerah operasinya masing-masing dan keberadaannya diketahui
oleh organisasi atau koordinatornya. Pem bagian wilayah ini tentu untuk memudahkan
organisasi m engawasi anggotanya, sekaligus pula m engetahui keberadaan barang atau
harta benda yang dicopet jika ada laporan y ang masuk ke organisasinya. Menurut
pencopet,

…[K]alau tuan sedang di tim pa kem alangan, ketjopetan , u sahakanlah un tuk


m el apu rkan kepada djagoann ja sebelum melam paui waktu 24 djam dari kedjadian i tu .
Karena kemu ngkinan besar dalam djangka waktu jang pendek i tu barang2 hak mil ik tuan
jan g su dah digon dol nja masih belum di tu runkan kepasaran um um, atau belum
diperdagangkan ke tu kan g2 l oak ataupu nbandar2 lainnja.
Datangl ah kepasar Senen dimalam h ari, di mana tel ah mendjadi bandar atau pusat
perh impunan m ereka. Untuk mentjari orang apa jan g telah m ereka n amakan “djagoan”
m em ang sukar. Ti dak m udah akan tuan dju mpai dan ken al begi tu sadja. Bah kan sam a
sekal i tuan ti dak m en duga orang i tu adalah djagoann ja. Den gan djalan berbisi k2 pada
pedagang2 rokok dikaki 2 l ima ataupun kepada anak2 jang m en gem is direstoran-restoran
m ungki n tuan akan dapat mendju mpai dengan djagoannja. Den gan djalan demi kian
kemungkinan besar barang2 tu an akan di kembalikan kalau m asih ada ditangan m ereka,

19 Me rde ka, 21 N opember 1959.


20 Me rdeka, 23 Djul i 1959.
setelah di tanja dim ana tem pat kedjadian , djam berapa, dan sebagainja.21

Selain itu, organisasinya juga mengurus para pencopet y ang tertangkap dan
dijebloskan ke dalam tahanan, termasuk pula m engurus istri dan anak-anaknya selama
m ereka ditahan. Makanan akan diantar oleh istrinya ke penjara, atau di antara pencopet
akan datang berkunjung ke penjara dengan membawa makanan atau barang-barang
yang dibutuhkan selam a ditahan. Sedangkan bagi pencopet yang telah berumah tangga,
semua kebutuhan istri dan anak-anaknya ditanggung oleh organisasi. Dengan dem ikian,
bagi pencopet y ang ditahan, dia tidak perlu lagi memikirkan ekonomi keluarganya
22
selama m enjalani m asa hukuman.

Razia terhadap pencopet juga dilakukan oleh polisi. Biasanya m ereka m elakukan
operasinya pada tanggal dan bulan tertentu, menjelang peray aan besar agama, acara
yang bersifat nasional dan internasional, misalnya setiap tanggal 17 Agustus, hari
Lebaran atau Natal, Konferensi Asia Afrika. Razia terhadap para pencopet atau krim inil
lainnya hanya bersifat preventif dan sem entara. Sesudah perayaan-peray aan besar itu
berakhir, para kriminil ini pun biasanya akan dibebaskan dari penjara dan m elakukan
profesinya seperti semula.23 Salah satu tem pat y ang digunakan sebagai penjara untuk
kalangan “dunia bawah” di Jakarta adalah Pulau Onrust, yang terletak di Kepulauan
Seribu di sebelah utara Jakarta, y ang dapat menam pung seribu tahanan. Mereka yang
dikirim ke pulau ini adalah para krim inil y ang sudah terbukti kejahatannya dan sedang
24
m enunggu pem eriksaan pengadilan. Tem pat tahanan lainnya adalah kepolisian dan
Penjara Cipinang.

IV

Pasca-KMB, Jakarta memang belum dapat dikatakan am an seluruhnya dari


berbagai gangguan dan teror. Pada awal 1950-an, misalnya, gangguan keamanan sering
terjadi di daerah-daerah perbatasan dan pinggiran kota, seperti Bekasi, Tangerang,
Depok, Pasar Minggu, dan Pondok Gede. Setiap hari di daerah-daerah ini selalu terjadi
aksi-aksi penggarongan, penggedoran, penculikan, pencurian, pembakaran rumah,
bahkan hingga pem bunuhan. Para pelakunya bisa mencapai ratusan orang. Mereka
seringkali disebut sebagai garong atau gerom bolan pengacau pada waktu itu. Bagi
penduduk yang tinggal di daerah-daerah itu, aksi para garong ini m emang sangat
m eresahkan dan m enakutkan mereka. Harta bendanya dirampok, rumah dibakar, dan
ny awa m enjadi taruhan. Para garong dan gerom bolan itu juga m engancam para lurah
dan polisi yang bertugas di perbatasan dan pinggiran kota.

Pelaku penggarongan dan kekerasan terhadap penduduk ini antara lain adalah
m ereka yang menamakan diri sebagai pasukan Darul Islam (DI) dan Bambu Runtjing.

21 Me rdeka, 2 Djuli 1955.


22 Me rde ka, 2 Djul i 1955.
23 Me rde ka, 20 A pri l 1955 dan 23 Dju li 1959.
24 Harian Rakjat, 13 N opember dan 9 Desember 1952; Merdeka, 20 april 1955.

9
Yang pertam a, pasukan DI, jumlah pelakunya dalam satu kali operasi dapat mendapat
ratusan orang dengan memakai berbagai persenjataan berupa senjata api dan senjata
tajam. Pihak keamanan menyebut m ereka sebagai “gerom bolan pengacau”. Motif
ideologi dan politik tam paknya menjadi alasan mereka untuk menentang republik dan
m elakukan kekerasan terhadap warga sipil. DI menentang pemerintah republik yang
dipim pin Soekarno. Daerah operasinya berada di sekitar Jawa Barat dan perbatasannya,
bahkan hingga m endekati tengah Jakarta. Beberapa orang di antara gerom bolan ini
pernah masuk ke tengah Jakarta hingga ke daerah Kebon Kacang di sekitar Tanah
Abang. Menurut catatan dokum entasi Pem erintah Jawa Barat sejak 1953 hingga 1960,
aksi pasukan DI ini m emakan korban 1 4.622 orang dibunuh, 6 .724 orang luka, 1 .549
orang diculik, 115.822 rumah dibakar, Rp 4 45.478.100 kerugian materiil akibat
25
pembakaran, dan Rp 202.076.000 kerugian akibat penggarongan.

Pelaku kekerasan dan teror lainnya adalah m ereka yang disebut sebagai eks
laskar Bambu Runtjing. Mereka adalah kesatuan gerily a y ang terdiri dari buruh, tani,
pemuda, dan prajurit yang berideologi kerakyatan serta konsekuen terhadap proklamasi
17 Agustus 19 45, dan m enolak kompromi dengan Belanda. Beberapa anggotanya pada
permulaan 1950-an m elakukan teror dan kekerasan yang m enakutkan bagi penduduk di
perbatasan dan pinggiran Jakarta. Eks laskar Bam bu Runtjing yang berkeliaran di
Jakarta dan sekitarnya telah mem bunuh, merampok, dan membakar rumah penduduk.
Salah seorang di antara korban aksi mereka ialah Tong Amir, Lurah Kam pung Besar di
Cipinang, Jakarta Timur. Amir dibunuh, dirampok, dan rumahnya dibakar. Dalam
peristiwa lain, terjadi pertempuran antara polisi dan gerom bolan Bam bu Runtjing di
Desa Penggilingan, Bekasi. Polisi m enembak em pat anggota gerom bolan ini dan
m enyita 1 senjata m auser karaben, 1 karaben m odel 95, 1 granat tangan, peluru, dan
dokum en. Sedangkan dalam pertempuran lain di daerah Jagakarsa, Pasar Minggu,
Jakarta Selatan, polisi m enem bak m ati em pat anggota gerom bolan Bambu Runtjing dan
26
m enyita 3 revolver, 1 granat tangan, sejumlah peluru, dan dokum en.

Aksi kejahatan dan kekerasan di perbatasan dan pinggiran Jakarta juga telah
m eminta korban di kalangan politisi, khususnya politisi Partai Nasionalis Indonesia
(PNI).27 Aksi kekerasan itu telah mengundang reaksi keras dari politisi dan m ereka
m endesak pem erintah Soekarno untuk m eny elesaikan masalah keamanan ini.
Sementara itu, sebagian warga y ang tinggal di wilayah itu telah mengungsi ke daerah
28
yang am an. Aksi kejahatan juga m eresahkan anggota Sarekat Buruh Kereta Api.
Perjalanan kereta api terganggu karena sabotase para gerom bolan. Mereka pun
m enuntut jaminan keselam atan dari pihak keamanan agar terhindar dari gangguan
25 Hersri S. dan Joebaar A joeb. “S.M. Kartosuwiryo, Oran g Sei rin g Bertukar Jalan ,” Prisma 5, Mei 1982.
Lih at pu la C. v an Di jk. Darul I slam: Se buah Pe mberontakan. Jakarta: Grafi ti Pers, 1983.
26 Sin Po, 18 Djanu ari 1950; Harian Rakjat, 4 Pebru ari dan 10 Maret 1953. Tentan g pem bentukan dan
peran Bam bu Run tjing pada m asa revolusi l ihat Cri bb. Gangste rs and Re volutionaries: The Jakarta
People ’s Militia and the I ndone sia Re volution 1945-1949. Sy dn ey : All en an d Un win , 1991; dan Sarton o
Kartodi rdjo. “Th e Rol e of Struggle Organi zati on as Mass Mov ements i n th e In don esia Rev ol uti on ,”
dal am Sarton o Kartodi rdjo. Mode rn I ndone sia, Tradition & Transformation: A Socio-Historical
Pe rspe ctive. Yogyakarta: Gadjah Mada Un iversi ty Press, 1984.
27 Li ma pol itisi PN I di bun uh gerom bol an di daerah Kebu n Jeru k. Ten tang pem bu nuhan in i, PNI sen di ri
tidak m engeluarkan pernyataan keras yang m en getuk pembunuhan kadernya itu. Lih at Harian Rakjat,
21 Djanu ari 1953.
28 Harian Rakjat, 8 Oktober 1952.
para gerom bolan selama perjalanan kereta api.29 Reaksi keras terhadap teror di
perbatasan dan pinggiran Jakarta ini datang dari Partai Kom unis Indonesia (PKI)
Djakarta Ray a. Dalam pernyataannya disebutkan bahwa:

…[G]erom bol an teror beru saha m akin m em perluas daerahnja sam pai keperbatasan
kotapradja Djakarta Ray a. Gan gguan , an tjaman dan teror jan g makin m en gganas ini ,
tidak sadja l ebi h m empersuli t pen ghi dupan kau m tani di desa2 sekitar Djakarta Raya,
tetapi lan gsung mau pun ti dak lan gsung merupakan antjaman djuga terhadap keamanan
kota sebagai tem pat kedudukan pem erintah pu sat.
Pem bun uhan2 jan g di lakukan ol eh gerombol an2 terhadap an ggota2 organ isasi
Rakjat dan beberapa orang kepal a desa seperti di Bekasi , Kali mati, Pasar Mi nggu,
Kebajoran lam a, Pon dok Wun gue, Pasar Rebo, Kebon Djeru k dsb adalah merupakan
tin dakan fasistis jang ben ar2 bertentangan den gan djiwa DEMOKRASI. Dasar dari
pembunuhan tersebut kalau di periksa setjara teli ti adal ah di sebabkan karena adanja
aktiviteit dari organisasi2 Rakjat, pemi mpi n2 organisasi dan beberapa kepala desa jan g
sungguh2 memperdjuan gkan kepentingan Rakjat. Djelaslah bah wa tin dakan2
gerombolan teror tersebut adalah sama dengan usaha2 kau m i mperialis un tuk
m en ghantjurkan gerakan Rakjat den gan m enggun akan in timidasi.
Di sampi ng ken jataan2 jang kedjam dan djah at in i, tidakl ah dapat di abaikan makin
m el uasnja pem alsuan serta penggunaan n ama bai k PKI, u ntuk m engabui mata Rakjat
seperti jg. [jang] dil akukan ol eh gerom bol an2 bersen djata di sekitar Tji lin tji ng jg.
m en amakandirin ja “Tentara Merah ”, “Pasukan Kom un is”.30

Aparat pem erintah di tingkat bawah seperti lurah juga m engkhawatirkan aksi-
aksi kejahatan di wilayahnya. Namun, di antara lurah itu ternyata ada beberapa lurah
yang justru terlibat dalam gerom bolan bersenjata di pinggiran Jakarta, m isalnya
gerombolan Bulloh, eks lurah, yang m eneror penduduk di sekitar Tanjung Barat, Pasar
Minggu, dan Tangerang.31 Kekejam an gerom bolan Bulloh saat melakukan aksinya
diberitakan surat kabar sebagai berikut:

“Kekedjam an di Tan geran g”

Gerombolan bersendjata pi stol dan gol ok jang tak diketahui dju mlahn ja tanggal 28-
12 malam tel ah melakukan pembunuhan atas di ri Di tu ng Dan ang seorang penduduk
Desa Kreo, Tji ledug, Tan geran g.
San g korban di bunuh den gan tjara di potong l eh ernja sampai h ampi r pu tu s, ki ra2
l ima meter dari rumahn ja. Sesu dah m elakukan kekedjam an i tu , gerombol an pen djahat
m erampok barang2 orang jan g didjadikan m angsanja seharga Rp 250 kemu dian
pendjahat2 melarikan diri .

Gerom bolan Bulloh terkenal pada awal 1950an di sekitar Jakarta Selatan dan
Tangerang. Kekuatan gerom bolan ini bisa diukur ketika polisi m eny ita senjata m ereka

29 Harian Rakjat, 14 dan 15 Oktober 1952; Madjalah Kotapradja, 30 Djun i 1953, No. 20 Tahun III, hl m.
19.
30 Harian Rakjat, 23 Desember 1952.
31 Harian Rakjat, 29 N opember 1952, 31 Desem ber 1953. Beberapa lurah lainnya ju ga ditangkap karen a
diduga terl ibat dalam gerom bol an di perbatasan dan pi nggiran Jakarta. Lih at Harian Rakjat, 26 Dju ni
1953.

11
dalam suatu tembak-menembak y ang berlangsung di Pasar Minggu. Dalam
penangkapan itu tiga dari sebelas anggota gerombolan Bulloh tewas, dua ditangkap, dan
sisanya kabur. Senjata m ereka yang disita polisi terdiri dari 2 rev olver colt, 16 peluru,
sepucuk pistol m erek Wembly, sepucuk FN otomatis berikut 52 butir peluru, 3 golok, 3
keris besar, dan satu keris kecil.

Kelompok lain yang juga sangat terkenal dan ditakuti warga sekitar Jakarta
Selatan, Jakarta Barat, dan Tangerang adalah kelom pok Mat Item , dengan jum lah
anggota mencapai 27 orang. Dia dikenal pula sebagai Hadji Mat Itam alias Adjum.
Kelompok ini tak hanya m enggarong, tapi juga m em erkosa dan m em bunuh korbannya.
Enam lurah pernah m enjadi korban kekerasan kelom pok ini. Selain dikenal karena
kekejamannya, Mat Item dikabarkan m em punyai jimat berupa pisau kuning yang
m ampu m embuatnya menghilang. Namun, Mat Item, kepala garong terkenal di Jakarta,
tewas pada 19 Februari 1953 dalam suatu penangkapan oleh pasukan Kala Hitam
32
Kom pi III pimpinan Letnan Suhanda di Kali Angke, Kam pung Bojong. Selain Bulloh
dan Mat Item , ada pula beberapa garong lain yang namanya terkenal di beberapa
tem pat di Jakarta pada waktu itu. Mereka adalah Tongtihu (Tanjung Barat), Mugni
33
(Kramat Jati), Ma’i (Pondok Cina), dan Mat Nur (Ciganjur).

Senjata api yang banyak digunakan oleh para pelaku kejahatan memang banyak
beredar di kalangan penduduk Jakarta pada waktu itu. Orang pun tidak sulit
m em perolehnya. Besar kemungkinan sebagian besar senjata api ini m erupakan sisa-sisa
dari masa revolusi, ram pasan dari tentara Belanda, atau dari gudang senjata TNI.
Senjata-senjata api ini bukan hanya dipegang oleh tentara, polisi, dan jagoan, tapi juga
oleh orang-orang biasa seperti dituturkan oleh Maun Sarifin, penduduk Prumpung,
Jakarta Timur, berikut ini:

Du lu bebas. Di tawar-tawarin pada make. Saya sendiri di tawarin ama tem en. Tem en
kerja di sono ju ga, di pabrik sen jata di apa tuh di mil iter tuh. Dan l agi kakak saya juga
n gasih am a say a kal o perl u peluru n oh ada di ransel n oh . Dul u tuh pada puny a. Orangtua
saya ju ga m egang, kan kecil . Pelu runya mi nta ama kopral siapa tuh , orang sebrang. Kal o
dikasih satu dus. Kal o m au l ebaran di kasih. Si ni en ggak ada petasan gantinya in i. Tapi
ati -ati kena orang, gi tu. Jadi pada pu nya. A pal agi pen col eng-pen col en g i tu pada puny a.
Toh ten taranya sendiri ju ga pada ngiku ti am a dia y an g ada tentara. Masu k si ni
u mpamanya, n gon trak sini . Kum puln yaama di a.34

Salah satu kebijakan pem erintah untuk menekan kejahatan di Jakarta adalah
m ewajibkan pem buatan kartu tanda penduduk (KTP) terutama wargaa yang tinggal di
perbatasan Jakarta mulai Februari 1953. Namun, pem buatan KTP ini tidak diwajibkan
kepada warga yang tinggal di tengah kota. Pem erintah daerah akan membuatkan KTP
35
kepada penduduk di tengah kota jika mereka m eminta atau membutuhkannya.

Kejahatan juga mencemaskan warga kaya Jakarta sehingga m em bentuk persepsi


32 Harian Rakjat, 21 Pebruari 1953; Madjalah Kotapradja, 28 Pebruari 1953, No. 12 Tah un III, hl m. 12.
33 Harian Rakjat, 10 Maret 1953.
34 Wawancara dengan Mau n Sarifi n, 17 Djul i 2004.
35 Harian Rakjat, 1 Djun i 1953; Madjalah Kotapradja, 13 Djun i 1953, N o. 18-19 Tahu n III, hlm . 14.
m ereka tentang keamanan itu sendiri. Mereka pun berupaya mempertahankan diri dari
berbagai aksi itu dengan m engubah bangunan tem pat tinggalnya. Salah satu perubahan
fisik yang menonjol adalah penggunaan besi untuk jendela dan pintu rumah, seperti
dapat dibaca pada laporan jurnalis waktu itu sebagai berikut:

[H]am pir di seluruh In donesi a pada waktu i ni keadaan tidak am an. A palagi Djakarta
suatu kota besar, dan di sin i dju ga ada banjak organi sasi “on derwerel d” jan g dji tu , jang
tidak begitu sadja bi sa di tan gkap. Oran g2 jang m empu njai kekajaan pada waktu i ni
sudah ten tu m engambil berbagai tjara un tuk m en jelamatkan di ri dan kekajaann ja. Kalau
tuan 2 m el alui djalan 2 besar seki tar Prinsen Park dan Djal an Balikpapan i tu, m aka tu an
ketemu kan disana, bahwa djendel a2 dan pi ntu2 ru mah orang2 kaja i tu pada um umnja
diperl engkapi den gan ru dji2 besi , seh ingga tidak m udah orang masuk dari djen dela2 atau
pin tu2 i tu . Djadi , ketjuali pintu jang biasa jang dapat di buka dan di tutup itu, di pasang
pin tu tarik dari besi seperti pi ntu bank, kemu dian di kun tji diwaktu malam. Dan
djendel a2nja, ketjuali katja biasa dipasang l agi rudji 2 besi jan g tetap, sehi ngga ti dak
m udah orang mendobrakn ja.
Tuan akan m en dapat kesan , bahwa ru mah2 itu sudah m en djadi seperti pendjara,
bukan? Tetapi karen a m ereka i tu ban jak uan g, su dah tentu ti dak seru pa benar dengan
pendjara, sebab di dalamnja tjukup berbagai-bagai matjam barang2 ru mah tangga jan g
bagus2, dan ru dji2 besi i tu den gan tjat2 jang bagu s sekal i.
Karena mareka takut kepada ram pok2, m aka telepon2 ru mah m ereka biasan ja
dipasang di kam ar tidur jang pali ng am an, supaja kal au ada apa2, den gan ti dak usah
m en on djol kan di ri , mereka dapat menelepon pol isi. Pada m alam hari halaman2 rum ah
i tu terang benderang, sedan g dirumah i tu sen diri gelap sekali. Tetapi dju stru didal am
kegelapan i tul ah terl etak kekajaan.36

Aksi-aksi dari “dunia bawah” atau “dunia hitam” m emang sangat mencemaskan warga
Jakarta, dan di balik kota besar Jakarta itulah sesungguhnya lahan yang subur bagi
kalangan ini. Para pelaku kejahatan akan m embuat “kegelapan” yang menjadi im pian
keamanan bagi warga kay a Jakarta menjadi “terang benderang ” yang sesungguhnya
bagi hidup m ereka, karena di kegelapan itulah justru tersim pan harta benda yang
diincar oleh m ereka. Dapat dikatakan di sini bahwa kejahatan tak lain sebagai
m anipulasi dari kegelapan itu sendiri.

Pencurian juga tidak hanya terjadi dalam skala besar seperti perampokan, tapi
dalam skala kecil. Para pelakunya beragam m ulai dari buruh hingga m andor. Di
Pelabuhan Tanjung Priok m isalnya, pencurian minuman dan m akanan hampir terjadi
setiap hari. Bir, kismis, sendok-garpu, beras, susu adalah beberapa jenis barang yang
dicuri. Tujuan dan hasil pencurian ini diperuntukkan untuk konsumsi diri sendiri atau
keluarga dan bukan untuk diselundupkan. Pencurian kecil yang dilakukan oleh para
buruh pelabuhan ini secara tak langsung juga mem bentuk solidaritas sosial di kalangan
m ereka. Kejahatan untuk bertahan hidup ini m ungkin bisa dijelaskan dalam hubungan
ini. Pada tahun 1 950an, buruh pelabuhan Tanjung Priok m endapat upah Rp 1 20 per
bulan, yang dihabiskannya untuk sewa rumah Rp 1 0-2 0 per bulan, sem entara sisanya
untuk m akan atau belanja kebutuhan sehari-hari. Mereka tak mem punyai uang lebih
untuk tabungan. Di sisi lain, serikat buruh sesungguhnya m engetahui adanya pencurian
ini, tapi kehidupan buruh yang sulit m em buat serikat buruh m emahami kondisi itu. Di

36 Siasat, 18 Maret 1951.

13
Pelabuhan Tanjung Priok, pencurian biasanya dilakukan terhadap barang-barang milik
37
perusahaan-perusahaan asing atau yang berasal dari kapal-kapal besar.

Jika kriminalitas di pelabuhan m enyangkut pencurian kecil-kecil, maka yang


terjadi di bioskop, terminal, atau stasiun adalah m encatut karcis ataupun tiket. Tempat-
tem pat tersebut dijadikan sebagai sandaran hidup bagi para tukang catut di Jakarta.
Memang, tidak sem ua tukang catut m engandalkan hidupnya dari mencatut karcis
bioskop atau tiket angkutan umum . Beberapa tukang catut y ang bekerja di Stasiun
38
Gam bir misalny a, m ereka justru terdiri dari para kuli angkut stasiun , pegawai stasiun,
m ontir m obil dan radio. Karcis kereta api yang dicatut terutama untuk tujuan
Yogyakarta dan Surabaya. Harga karcis kelas III tujuan Yogy akarta yang resminya dijual
seharga Rp 75, di tangan tukang catut menjadi Rp 150. Sementara harga karcis kelas III
tujuan Surabaya yang resm inya dijual seharga Rp 195, di tangan tukang catut menjadi
39
Rp 2 50. Tentang tukang catut, terutama yang bekerja di bioskop, diberitakan sebagai
berikut:

Di Djakarta h ampir tiap2 h ari pen onton su kar sekal i m em bel i kartjis den gan harga
biasa, karen a kartji s2 sel alu h abi s terdjual dil oket dan di borong ol eh gerombolan tjatu t.
Gerombolan tjatu t i nilahjang sekarang m en djalan kan teror dan m em aksakan kepada
publik dan ekspl oitant bi oskop, agar persediaan kartji s djatuh kedalam kekuasaannja.
Ki ta m erasakan sedi h-sen jum dji ka di ketahui bahwa di tiap2 bi oskop di tempel kan
m aklu mat2 Kom isaris Besar Polisi Djakarta Raya, tetapi teror dilakukan di bawah
m aklu mat itu.
Maka dapatlah di rasakan betapa m en dongkoln ja dji ka kita su dah berbaris (an tri )
beberapa l ama didepan l oket kartjis kemu dian terdengar berteri ak “h abiiiiis!” dan
terpaksa m en oleh kekiri dan kekan an membeli kartji s jan g di tjatoet dari 50% sampai
100%. Bah kan sering terdjadi dji ka pil m2 jan g baik harga tjatut “nai k koers” sam pai dari
250% ke 350%, dan i ni dilakukan didepan bi oskop2 dengan di saksi kan ol eh pegawai2
bi oskop jang njengi r kesu kaan , dan ol eh agen 2 pol isi jang djuga menjatakan “setu dju”
dengan “peraturan” darurat i tu .40

Para jagoan juga m enguasai pasar dan biasanya terorganisasi. Polisi terkadang
kewalahan m enangkap mereka karena setiap kali dilakukan operasi, maka m ereka akan
m emberitahukannya kepada kawan-kawannya dengan kode tertentu, m isalnya
m elambaikan saputangan atau topi. Jika polisi pergi, maka kem bali para jagoan pasar
ini mem beritahukan kepada kawan-kawannya lagi dengan cara serupa. Para jagoan
37 Wawancara den gan Su tri sno (nama samaran), 28 Mei 2009. Lih at pul a Joh nson . “Crimin ality on th e
Docks.”
38 Ku li angkut di stasiun pada 1950-60an terdiri dari yang resmi dan ti dak. Pekerjaan angkut-
m en gangkut baran g-barang mi lik pen umpang in i kemu dian diterti bkan ol eh pi hak stasiun karen a
ban yakny a oran g yan g tertarik m engerjakannya. Al asan l ain pen erti ban adalah karena di an tara para
kuli angkut sen diri terjadi persain gan yan g m en jurus ke kekerasan un tuk mengan gkat baran g-barang
m ilik penu mpang kereta api . Ku li angkut resm i dan tidak resmi dapat dikenali dari tanda y ang
diberikan oleh pi hak stasiun. Sementara di an tara kul i angkut sen diri sali ng m en genal man a di antara
m ereka y ang resmi dan tidak. Wawan cara dengan Mau n Sari fin, 17 Ju li 2004; l ihat pul a cerita pen dek
karya Toer. “Gambi r,” dalam Ce rita dari Jakarta.
39 Merde ka, 18 Agu stus 1959.
40 S iasat, 4 Febru ari dan 4 Maret 1951.
pasar ini biasanya meminta uang jago kepada para pedagang agar dagangan m ereka
tidak diganggu atau m ereka aman di pasar. Usia para jagoan pasar ini pun beragam,
tapi usia terendah adalah sepuluh tahun.

Krim inalitas, kekerasan, dan kekuasaan kait-mengait dengan perkembangan


m asyarakat atau kota. Banyak alasan m engapa seseorang m elakukan kejahatan.
Rasionalisasi di tubuh m iliter, birokrasi yang belum efektif dan normal, ketersediaan
lapangan pekerjaan, ketidakm ampuan kepolisian m enangani m asalah keam anan,
permusuhan terhadap pem erintah republik dalam bentuk perjuangan bersenjata adalah
beberapa alasan tidak tuntasny a masalah krim inalitas dan kekerasan di Jakarta waktu
itu. Politik kejahatan juga ikut memengaruhi para jago naik ke tam puk kekuasaan. Jago
dan jagoan tak lagi dipandang sebagai urusan kriminalitas belaka, tapi m ereka m enjadi
bagian penting dalam permainan politik. Negara yang secara tak langsung m elahirkan
para jago ini, pada akhirnya memang mengalami kesulitan mengawasi ciptaannya
sehingga menarik mereka ke dalam genggaman kekuasaannya m enjadi cara yang jitu
untuk m enaklukannya. Sejarah jago di Jakarta dapat dikatakan pula seiring dengan
sejarah masyarakat Jakarta. Keduanya tak m udah dipisahkan begitu saja.
Jago dan jagoan di Jakarta juga tak dapat dipisahkan dari rev olusi Indonesia.
Warisan dan nilai-nilai rev olusi berupa semangat berjuang, pantang m enyerah, jujur,
solidaritas, dan pemberani ikut mewarnai pula langkah para jago dan jagoan di Jakarta.
Memang, tidak sem ua jagoan m em punyai pengalaman berjuang m elawan Belanda dan
m enjadi anggota atau bagian dari laskar atau kesatuan gerilya di masa revolusi. Tetapi,
bagi generasi penerus para jagoan, setidaknya mereka mendapatkan suatu pengalaman
dari pendahulunya yang penuh dengan heroisme di masa lalu. Kekecewaan, dendam,
dan kebanggaan terhadap revolusi itu sendiri bercampur-aduk membentuk watak para
jagoan. Perubahan dari seorang pemuda pejuang menjadi bandit pejuang bisa diikuti
dalam konteks ini, dan pengalaman para jagoan di atas setidaknya m embantu kita
m emahami perjalanan hidup m ereka di masa norm al.
Indonesia di tahun 19 50-6 0an juga menunjukkan suatu perkem bangan yang
m enarik tentang hubungan antara jagoan dan kekuasaan. Wibawa, karisma, dan
kecenderungan politik seorang jagoan ikut memberi watak dalam hubungan politik itu.
Penangkapan, pemenjaraan, dan pem bunuhan terhadap jagoan pasca peristiwa G 30 S
dapat dijelaskan dari sudut ini. Akhir kepem impinan S oekarno dapat dikatakan pula
sebagai akhir dari jagoan dalam politik, terutama jika m em baca perkembangan jagoan
yang naik ke kekuasaan m ulai dari tingkat yang paling bawah dan ikut aktif berjuang
m elahirkan republik ini.
Menulis sejarah masyarakat Jakarta dengan memaham i peran jagoan di
dalam nya m enjadi suatu keharusan untuk m emperoleh suatu gambaran yang utuh.
Jagoan m emang jauh dari catatan, arsip, atau berita surat kabar. Sejarah m ereka adalah
sejarah yang tak tercatat, dan hanya terekam dalam ingatan masyarakat. Namun, bukan
berarti peran m ereka tak ada sama sekali dalam membangun dan membentuk republik
ini. Maka, m engesam pingkan kelom pok ini dalam sejarah sosial Jakarta, sama saja
artinya dengan m enolak peran mereka dalam sejarah. Atau, m engingkari kontribusi

15
m ereka dalam melahirkan dan m embentuk republik ini.