Anda di halaman 1dari 57

0

ANALISIS DAR, DER, DAN LDER TERHADAP ROE STUDI EMPIRIS


PADA PERUSAHAAN PROPERTY DAN REAL ESTATE YANG
TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA

PROPOSAL

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat


Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi (SE)
Program studi akuntansi
Disusun Oleh
MARDYANSYAH
0905170399

FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SUMATERA UTARA
MEDAN
2014

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah.


Keuangan merupakan salah satu fungsi penting bagi kegiatan perusahaan
dalam mengelola fungsi keuangan, salah satu unsur yang perlu diperhatikian
adalah seberapa besar perusahaan mampu memenuhi

kebutuhan

dana yang

digunakan untuk beroperasi dan mengembangkan usahanya. Untuk memenuhi


kebutuhan dana ini perusahaan dapat memperolehnya dari dalam perusahaan
(modal sendiri) atau dari luar perusahaan (modal asing). Tujuan perusahaan secara
umum untuk memaksimalkan tingkat keuntungan perusahaan, dimana tingkat
keuntungan perusahaan akan dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah
asset, ukuran perusahaan, penyediaan modal kerja serta faktor-faktor lainnya.
Struktur modal suatu perusahaan merupakan perimbangan /perbandingan
hutang jangka panjang dengan modal sendiri perusahaan tersebut. Struktur modal
berpengaruh pada profitabilitas, semakin besar proporsi hutang maka rasio ini
semakin besar, setiap perusahaan dituntut untuk selalu mencari cara agar dapat
memenangkan persaingan tersebut dengan mengelola perusahaan sebaik mungkin.
Suatu

perusahaan

dapat

dikatakan

mencapai

kesuksesan

dan

berhasil

memenangkan persaingan dengan perusahaan-perusahaan lain salah satu


indikatornya jika bisa menghasilkan laba bagi perusahaannya.
ROE (return on equity) atau rentabilitas modal sendiri merupakan rasio
untuk mengukur laba bersih sesudah pajak dengan equitas. ROE (return on equity)
merupakan salah satu alat utama investor yang paling sering digunakan dalam

menilai harga saham. Dalam perhitungannya secara umum ROE (return on equity)
dihasilkan dari pembagian laba dengan eqiutas selama setahun terakhir. ROE
(return on equity) sebagai rasio yang paling penting sebab rasio ini merupakan
pengembalian absolud yang akan diberikan
oleh perusahaan kepada para
1
pemegang saham. Suatu angka ROE (return on equity) yang bagus akan
membawa keberhasilan bagi perusahaan-perusahaan yang mengakibatkan
tingginya harga saham dan membuat perusahaan dapat dengan mudah menarik
1
dana baru. Hal ini juga memungkinkan perusahaan untuk berkembang
menciptakan kondisi pasar yang sesuai dan pada gilirannya akan memberikan
laba yang lebih besar. Semua hal tersebut pada akhirnya akan menciptakan nilai
yang tnggi dan pertumbuhan yang berkelanjutan bagi pemilinya.
Menurut Sawir (2001, hal 18-20)

ROE (return on equity) mengukur

efisiensi pengendalian harga pokok dan biaya produksi dan rasio ini merupakan
suatu rasio yang mengukur efektivitas perusahaan dalam memanfaatkan seluruh
sumber kekayaan yang dimiliki oleh perusahaan yang menunjukan rentabilitas
ekonomis perusahaan.
Menurut Siswandi (2010, hal. 47) Rasio leverage (DAR, DER, LDER)
merupakan rasio jaminan yang mengukur kemampuan perusahaan membayar
hutang bila pada suatu saat perusahaan dilikuidasi atau dibubarkan, dan
pengukuran yang absolud yaitu dengan rasio ROE (return on equity).
Menurut Kasmir (2010, hal. 196) hasil pengukuran ROE dapat dijadikan
alat evaluasi kinerja manajemen selama ini, apakah mereka telah bekerja secara
efektif atau tidak. Jika berhasil mencapai target yang telah ditentukan, mereka
dikatakan telah berhasil mencapai target untuk periode atau beberapa periode.

Namun sebaliknya jika gagal atau tidak berhasil mencapai target yang telah
ditentukan ini akan menjadi pelajaran bagi manajemen untuk priode kedepan.
Menurut Kasmir (2010, hal. 204) mengemukakan tingkat modal (DAR,
DER dan LDER) yang tinggi akan diikuti dengan tingkat ROE yang tinggi, karena
ROE menunjukan efesiensi penggunaan modal.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi (return on equity) dalam
meningkatkan tingkat pengembalian ekuitas perusahaan, maka dengan cepat dapat
dilihat bahwa peningkatkan tingkat pengembalian dapat diperoleh dengan tiga
cara yaitu: meningkatkan penjualan tanpa meningkatkan beban dan biaya secara
proforsional, mengurangi harga pokok penjualan atau beban operasi usaha dan
meningkatkan penjualan secara relative atas dasar nilai aktiva baik dengan
meningkatkan penjualan atau mengurangi jumlah investasi pada ekuitas
perusahaan.
Berdasarkan hasil data maka diketahui bahwa perolehan rata-rata laba
yang diperoleh perusahaan adalah sebagai berikut:

Tabel 1.1
Hasil Penelitian
DAR

emiten
2008

2009

2010

2011

2012

PNR

PNG

200
8

Kemampuan membayar hutang DER


200
201
201
9
0
2011
2
PNR PNG

2008

2009

2010

2011

2012

PNR
1

BIPP

0.45

0.49

0.51

0.62

0.64

0.81

0.96

1.04

1.66

1.82

-34.39

-20.04

-3.62

-24.19

-11.11

BKSL

0.14

0.19

0.14

0.13

0.19

0.16

0.22

0.17

0.15

0.23

-0.57

0.42

2.52

3.41

3.47

DART

0.77

0.79

0.71

0.45

0.49

3.35

3.83

2.47

0.83

0.95

16.69

8.57

7.59

4.44

-2.23

DILD

0.46

0.45

0.21

0.33

0.34

0.86

0.83

0.27

0.50

0.53

3.99

5.08

11.99

5.23

1.36

DUTI

0.41

0.34

0.32

0.31

0.30

0.81

0.62

0.55

0.46

0.42

6.28

13.11

14.25

13.73

2.19

ELTY

0.36

0.50

0.39

0.38

0.41

0.70

1.25

0.82

0.62

0.69

7.95

4.38

2.81

0.99

-0.38

GMTD

0.69

0.66

0.64

0.64

0.65

2.09

1.92

1.80

1.81

1.88

12.86

17.69

25.67

33.73

11.5

JIHD

0.68

0.51

0.43

0.24

0.24

3.16

1.75

1.31

0.32

0.31

-14.89

60.4

18.23

3.75

0.57

JRPT

0.42

0.45

0.51

0.53

0.55

0.75

0.87

1.10

1.15

1.21

17

17.05

20.11

20.92

4.52

ROE

Sumber : www.idx.co.id
Dari data di atas dapat dijelaskan bahwa fenomena penelitian perusahaan
real property dan rael estate yang berkaitan dengan variabel diantaranya adalah
sebagai berikut:
Tingginya hutang yang dimiliki oleh perusahaan baik hutang jangka
pendek maupun hutang jangka panjang. Hal ini akan berdampak pada masa yang
akan datang, sebab perusahaan akan dihadapkan pada proses perlunasan hutang
baik hutang jangka pendek maupun hutang jangka panjang. Serta bunga yang
muncul akibat penambahan hutang jangka panjang dimasa yang akan datang.
Terjadinya penurunan Return on equity yang diperoleh perusahaan
sehingga akan berdampak pada kelangsungan hidup perusahaan dimasa
mendatang sebab bisa melemahkan minat investor untuk menanamkan modalnya
kembali keperusahaan
Terjadinya peningkatan DAR tetapi tidak diikuti dengan peningkatan
Return on equity hal ini diakibatkan tingginya beban harga pokok pengerjaan
proyek yang harus dikeluarkan oleh perusahaan tanpa dilakukan control yang
ketat.

PNG

Terjadinya penurunan kemampuan membayar hutang yang dimiliki oleh


perusahaan yang disebabkan peningkatan hutang yang sangat signifikan sehingga
perusahaan juga harus menanggung beban bunga pinjaman
Perusahaan tidak mampu meningkatkan penjualan yang dilakukan, tetapi
peninngkatan beban operasional cukup signifikan yang pada akhirnya akan
berdampak pada Return on equity.
Berdasarkan hasil data diatas maka diketahui bahwa terjadi peningkatan
asset yang dimiliki oleh perusahaan sebesar 60% dan 40% mengalami penurunan
hal ini menunjukan bahwa asset yang dimiliki tidak memberikan kontribusi yang
positif terhadap perolehan laba. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pengelolaan
asset yang dimiliki oleh perusahaan masih kurang baik kontribusinya untuk
memperoleh laba.
ROE merupakan variable yang termasuk dalam profitabilitas, dimana
ROE (return on equity) merupakan salah satu alat utama investor yang paling
sering digunakan dalam menilai suatu saham. Dalam perhitungan secara umum
ROE dihasilkan dari pembagian laba dengan ekuitas selama setahun terakhir. Jika
dilihat dari data laporan keuangan 9 perusahaan property and real estate maka
secara umum pada periode tahun 2009 sampai dengan 2012 terdapat 90% yang
mengalami penurunan dan sisanya mengalami peningkatan yang tidak begitu
besar. Hal ini mengidentifikasikan bahwa (return on equity) yang diperoleh tidak
seperti yang diharapkan oleh perusahaan, sehingga hal ini dapat berdampak pada
bekerlangsungan perusahaan dimasa mendatang serta melemahkan minat investor
untuk menanamkan modalnya kembali ke perusahaan.

Secara keseluruhan faktor-faktor tersebut berkaitan erat dengan kinerja


keuangan perusahaan. Salah satu alat untuk mengukur kinerja keuangan
perusahaan dengan menggunakan rasio keuangan perusahaan dimana rasio
tersebut merupakan perbandingan angka angka dari perkiraan-perkiraan yang
terdapat dalam neraca dan laporan laba rugi. Perbandingan antara satu perkiraan
dengan perkiraan yang lain harus saling berhubungan sehingga hasilnya dapat
diinterprestasikan untuk mengetahui kondisi keuangan perusahaan.
Menurut

Suprtihatmi (2005, hal. 2) kemampuan menghasilkan laba

yang maksimal pada perusahaan yang sangat penting karena pada dasarnya pihak
pihak yang berkepentingan seperti investor dan kreditur mengukur keberhasilan
perusahaan berdasarkan kemampuan perusahaan yang terlihat dari kenirja
manajemen dalam menghasilkan laba dimasa mendatang.
Penilain kinerja perusahaan dimaksudkan untuk mengetahui kondisi
keuangan perusahaan dengan membandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.
Analisis laporan keuangan meliputi perhitungan dan interprestasi rasio keuangan.
Rasio keuangan dapat dihitung dari isi informasi keuangan dalam laporan
keuangan sehingga dapat menunjukan kekuatan perusahaan. Perolehan laba dalam
perusahaan juga diikuti dengan adanya asset.

Keberadaan asset sangat

mempengaruhi kegiatan aktivitas perusahaan


Meythi (2005) menyatakan bahwa salah satu cara untuk memprediksi
laba perusahaan adalah menggunakan rasio keuangan. Analisis rasio keuangan
dapat membantu para pelaku bisnis dan pihak pemerintah dalam mengevaluasi
keadaan keuangan perusahaan masa lalu, sekarang dan memproyeksikan hasil
atau laba yang akan datang (Juliana dan Sulardi, 2003). Secara umum, rasio

keuangan dapat dikelompokkan menjadi rasio likuiditas, rasio leverage, rasio


aktivitas dan rasio profitabilitas (Riyanto, 1995)
Beberapa akar permasalahan yang dapat dijadikan fenomena sebagai
dasar terjadinya penurunan ROE yang diperoleh perusahaan property dan real
estate diantaranya asset. Sebab pertumbuhan asset akan menunjukan kemampuan
perusahaan memberikan kontribusi yang tinggi terhadap peningkatan asset.
Besarnya asset akan memberikan dampak yang positif terhadap peningkatan
return on equity

ROE. Besarnya DER yang ada dalam perusahaan juga

menunjukan jumlah hutang yang ada dalam perusahaan.


Berdasarkan hasil data diatas maka diketahui bahwa terjadi peningkatan
asset yang dimiliki oleh perusahaan sebesar 60% dan 40% mengalami penurunan
hal ini menunjukan bahwa asset yang dimiliki tidak memberikan kontribusi yang
positif terhadap perolehan laba. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pengelolaan
asset yang dimiliki oleh perusahaan masih kurang baik kontribusinya untuk
memperoleh laba
Sedangkan berdasarkan hasil data maka diketahui bahwa perusahaan
banyak menambah hutang, baik hutang jangka pendek maupun hutang jangka
panjang. Hal ini akan berdampak pada masa yang akan datang, sebab perusahaan
akan dihadapkan pada proses perlunasan hutang baik hutang jangka pendek
maupun hutang jangka panjang. Serta bunga yang muncul akibat penambahan
hutang jangka panjang dimasa yang akan datang. Bagi perusahaan yang struktur
modalnya lebih didomisili oleh hutang juga akan memberikan dampak yang
negative bagi investor karena investor menganggap bahwa penambahan investasi

10

modal pada perusahaan akan lebih banyak dialokasikan pada pembayaran hutang
ketimbang peningkatan laba perusahaan.
Pihak investor dan kreditur sebelum mengambil keputusan untuk
memberikan atau menolak permintaan kredit suatu perusahaan, membutuhkan
informasi pertumbuhan laba yang bertujuan untuk mengukur kemampuan
perusahaan tersebut membayar utangnya ditambah beban bunganya. Pertumbuhan
laba suatu perusahaan bisa saja mengalami kenaikan untuk tahun sekarang ini
namun mengalami penurunan untuk tahun berikutnya. Analisis laporan keuangan
dapat membantu para pelaku bisnis, pihak pemerintah dan para pemakai laporan
keuangan lainnya dalam menilai kondisi keuangan suatu perusahaan. Rasio
keuangan juga bermanfaat dalam melihat pertumbuhan laba perusahaan, selain itu
rasio keuangan digunakan untuk memutuskan apakah akan membeli saham
perusahaan untuk meminjam uang atau memprediksi kekuatan perusahaan di masa
depan.
Peningkatan DAR akan memiliki dampak yang positif terhadap
peningkatan ROE sebab perusahaan memiliki kesempatan untuk mengembangkan
usahanya dengan aktiva yang dimilikinya, tetapi jika pengelolaan asset yang
dimiliknya tidak baik maka peningkatan DAR tidak akan memberikan kontribusi
yang baik terhadap perolehan ROE. Peningkatan DER menunjukan bahwa
perusahaan memiliki kemampuan membayar hutang yang dimilikinya, jika terjadi
peningkatan DER maka akan terjadi peningkatan ROE sebab perusahaan akan
memiliki kemampuan membayar kewajibannya dengan baik. Berdasarkan hasil
data maka diketahui bahwa terjadi penurunan DER yang menunjukan
menurunnya kemampuan perusahaan untuk membayar hutang yang dimilikinya,

11

hal ini juga menunjukan bahwa perusahaan banyak dibiayai dari hutang.
Peningkatan hutang yang dimiliki oleh perusahaan LDER akan mempengaruhi
dan memberikan dampak yang kurang baik terhadap perolehan ROE sebab jika
ROE meningkat maka perusahaan juga harus menutupi beban bunga pinjaman
yang akan berdampak pada pembagian deviden para pemegang saham.
Secara umum dapat disimpulkan bahwa peningkatan DAR yang dimiliki
oleh perusahaan tidak mampu meningkatkan ROE, peningkatan LDER juga tidak
membantu peningkatan ROE sebab terjadi peningkatan beban operasional yang
dikeluarkan oleh perusahaan. Sebab penggunaan utang yang terlalu tinggi akan
membahayakan perusahaan karena perusahaan akan masuk kategori exetreme
leverage (utang ekstram) yaitu perusahaan akan terjebak dalam tingkat utang yang
tinggi dan sulit untuk melepaskan beban utang tersebut. Karena itu sebaiknya
perusahaan harus menyeimbangkan berapa utang yang layak diambil dari mana
sumber yang kan dipakai membayar hutang. Hal tersebut yang terjadi pada
perusahaan-perusahaan property dan real estate sebab perusahaan tersebut sebab
perusahaan banyak dibiayai dari hutang.
Berdasarkan alasan alasan di atas maka peneliti tertarik untuk meneliti
dan menuangkan dalam bentuk karya ilmiah dengan judul Analisis DAR, DER,
Terhadap ROE Studi Empiris Pada Perusahaan Property dan Real Estate

B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan

latar belakang

masalah adalah sebagai berikut :

penelitian diatas, maka

identifikasi

12

1. Adanya penurunan ROE di perusahaan property dan real estate yang terdaftar
di bursa efek indonesia.
2. Adanya peningkatan DAR tidak diiukti peningkatan ROE di perusahaan
property dan real estate yang terdaftar di bursa efek indonesia
3. Adanya kenaikan total DER tidak diikuti peningkatan ROE di perusahaan
property dan real estate yang terdaftar di bursa efek indonesia

C. Rumusan Masalah.
Berdasarkan identifikasi masalah di atas maka rumusan masalah
penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Apakah ada pengaruh DAR terhadap ROE pada perusahaan property dan real
estate yang terdaftar di bursa efek Indonesia
2. Apakah ada pengaruh DER terhadap ROE pada property dan real estate yang
terdaftar di bursa efek Indonesia
3. Apakah ada pengaruh DAR, DER terhadap ROE pada property dan real estate
yang terdaftar di bursa efek Indonesia

E. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas maka peneliti menyajikan tujuan
penelitian sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui analisa dan pengaruh DAR terhadap ROE pada
perusahaan property dan real estate yang terdaftar di bursa efek Indonesia
2. Untuk mengetahui analisa dan pengaruh DER terhadap ROE pada
property dan real estate yang terdaftar di bursa efek Indonesia
3. Untuk mengetahui analisa dan pengaruh DAR, DER terhadap ROE pada
property dan real estate yang terdaftar di bursa efek Indonesia

13

F. Manfaat Penelitian
1. Bagi Penulis, hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi penulis
dalam menambah pengetahuan dan memperluas wawasan baik teori maupun
aplikasinya
2. Bagi perusahaan dapat dijadikan sebagai saran untuk perbaikan tingkat ROE
dan DAR, DER serta LDER dimasa yang akan datang.
3. Bagi penelitian selanjutnya, hasil penelitian ini di harapkan dapat digunakan
sebagai referensi maupun bahan kajian bagi penelitian.

BAB II
LANDASAN TEORITIS

14

A.

Uraian Teoritis

1. Return On Equity (ROE)


a. Pengertian Return On Equity (ROE)
Return on Equity (ROE) biasa juga disebutkan return on net worth. Return
on equity mengukur kemampuan dari modal sendiri untuk menghasilkan laba.
Modal sendiri adalah merupakan penjumlahan antara modal saham dan laba yang
ditahan. Rasio ini mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan net
income ditinjau dari sudut Equity Capital-nya. Semakin tinggi rasio, semakin baik
hasilnya. Karena posisi modal pemilik perusahaan akan semakin kuat, atau
rentabilitas modal sendiri yang makin baik.
Menurut Purba (2002, hal. 118) Return on Equity (ROE) adalah rasio
yang mengukur kemampuan dari modal sendiri untuk menghasilkan laba. Modal
sendiri adalah merupakan penjulahan antara modal saham dan laba yang ditahan.
Berdasarkan pengertian di atas maka dapat di simpulkan bahwa besarnya
kemampuan memperoleh laba suatu perusahaan dipengaruhi oleh kemampuan
perusahaan memanfaatkan sumber daya yang berasal dari modal sendiri yang
dimilikinya untuk menghasilkan laba yang diharapkan, dimana modal sendiri
digambarkan dari laba ditahan dan saham yang dimiliki oleh perusahaan.
Menurut Kasmir (2009, hal. 204) Return on Equity (ROE) merupakan
rasio untuk mengukur laba bersih sesudah pajak dengan modal sendiri. Rasio ini
menunjukan efisiensi penggunaan modal sendiri, semakin tinggi rasio ini semakin
baik. Artinya posisi pemilik perusahaan semakin kuat, demikian pula sebaliknya.
14
Berdasarkan pengertian diatas maka diketahui bahwa Return on Equity
(ROE) merupakan suatu rasio yang menggambarkan hasil pengembalian ekuitas

15

atau rentabilitas modal sendiri suatu perusahaan, dimana hasil yang diperoleh
akan menggambarkan posisi dan keadaan pemilik perusahaan tersebut.
Menurut Jumingan (2009, hal. 245) Return on Equity (ROE) merupakan
rasio yang dipergunakan untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam
menghasilkan laba bersih melalui penggunaan modal sendiri.
Berdasarkan pengertian di atas maka diketahui bahwa Return on Equity
(ROE) merupakan hasil analisis kinerja manajemen dalam mengelola sumber daya
yang dimiliki oleh perusahaan yang berasal dari modalnya sendiri untuk
menghasilkan laba bagi perusahaan maupun bagi investor.
Return on equity dapat diperbesar disamping meningkatkan jumlah
penjualan perusahaan dan dapat pula ditempuh melalui pengubahan struktur
finansial (financial structure) perusahaan, yaitu dengan jalan menambah kredit
dalam membelanjai kegiatan-kegiatan perusahaan. Perusahaan-perusahaan yang
lebih menekankan keamanan dalam sistem pembelanjaannya cenderung
memperoleh return on equity yang lebih rendah dibandingkan dengan perusahaan
yang lebih banyak menggunakan kredit dalam membelanjai kegiatan-kegiatan
perusahaan.
b. Pengukuran Return On Equity (ROE)
Net Pr ofit
x 100 %
Equity

Rasio ini dirumuskan sebagai berikut:


............ (Sawir, 2005:31)

Para pemilik perusahaan/pemegang saham perusahaan yang bersangkutan


pada rasio ini mempunyai arti yang sangat penting untuk mengukur kemampuan
manajemen dalam mengelola capital yang tersedia untuk mendapatkan Net

16

Income. Bagi manajemen baik yang mampu menaikkan Return on Equity


biasanya ada petunjuk tentang kemampuan manajemen perusahaan yang
bersangkutan dalam menaikkan income-nya. Kenaikan Return on Equity biasanya
juga diikuti kenaikan dari saham-saham perusahaan yang bersangkutan di pasar.
b. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Return On Equity (ROE)
Adapun faktor yang menjadi penilaian profitabilitas perusahaan adalah sebagai
berikut (Kasmir, 2002):
a. Aspek permodalan
Penilaian tersebut didasarkan kepada modal yang diperoleh dari internal
perusahaan maupun eksternal yang diukur dengan menggunakan DAR, dan
DER
b. Aspek kualitas aset
Aktiva yang produktif merupakan penempatan dana oleh perusahaan dalam
asset yang menghasilkan perputaran modal kerja yang cepat.
c. Aspek Pendapatan
Aspek ini merupakan ukuran kemampuan perusahaan dalam meningkatkan
laba atau untuk mengukur tingkat efisiensi usaha dan profitabilitas yang
dicapai perusahaan yang bersangkutan.
d. Aspek Likuditas
Suatu perusahaan dapat dikatakan likuid, apabila perusahaan yang
bersangkutan dapat membayar semua hutang-hutangnya terutama hutang
jangka pendek dan hutang jangka panjang pada saat jatuh tempo.

2.

Debt To Asset Ratio.

a.

Pengertian Debt To Asset Ratio.

17

Perusahaan memperoleh sumber pendanaan dari dua sumber yaitu


kreditur dan pemegang saham, menurut Darsono dan Ashari (2005, hal. 54) rasio
leverage atau rasio solvabilitas adalah rasio untuk mengetahui kemampuan
perusahaan dalam membayar kewajiban jika perusahaan tersebut dilikuidasi.
Rasio leverage menunjukan berapa besar perusahaan didanai oleh kreditur dan
pemegang saham.
Rasio leverage (rasio utang) menurut Horne dan Wachowicz (2005, hal.
209) adalah rasio yang menunjukan sejauh mana perusahaan dibiayai oleh hutang,
rasio leverage juga disebut rasio hutang.
Penggunaan utang yang terlalu tinggi akan membahayakan perusahaan
sebab perusahaan akan masuk kategori extreme leverage (utang ekstrem) yaitu
dimana perusahaan akan terjebak dalam tingkat hutang yang tinggi dan sulit untuk
melepaskan beban utang tersebut. Karena itu sebaiknya perusahaan harus
menyeimbangkan berapa utang yang layak diambil dan dari mana sumber dapat
dipakai untuk membayar utang. Pihak yang paling berkepentingan terhadap rasio
leverage perusahaan adalah kreditur dan pemegang saham. Semakin besar jumlah
pendanaan yang berasal dari kreditur semakin tinggi resiko perusahaan tidak dapat
membayar seluruh kewajiban dan bunganya.
Bagi pemegang saham, semakin tinggi rasio leverage, semakin rendah
tingkat pengembalian yang akan diterima pemegang saham karena perusahaan
harus melakukan pembayaran bunga sebelum laba dapat dibagikan kepada
pemegang saham dalam bentuk deviden.
Ada dua leverage menurut Horne dan Wachowicz (2005, hal. 209) yaitu
rasio utang terhadap ekuitas (debt to equit) dan rasio utang terhadap total aktiva

18

(debt to total asset rasio). Pengertian DAR (debt to total asset rasio) merupakan
rasio utang yang digunakan untuk mengukur perbandingan antara total utang
dengan total aktiva perusahaan dibiayai oleh utang atau sebesar utang perusahaan
berpengaruh terhadap pengelolaan aktiva.
Menurut Syamsuddin (Dalam :Purhadi (2006, hal. 30) Rasio ini
digunakan untuk mengukur seberapa besar jumlah aktiva perusahaan dibiayai oleh
total hutang, semakin tinggi rasio ini berarti semakin besar jumlah modal
pinjaman yang digunakan untuk investasi pada aktiva guna menghasilkan
keuntungan bagi perusahaan.
Rasio DAR

(debt to total asset rasio) menunjukan kemampuan

perusahaan membayar hutang equity yang dimilikinya. Apabila leverage keuangan


tinggi, menunjukan suatu perusahaan juga tinggi. Rasio DAR (debt to total asset
rasio) penting dianalisis karena berkaitan dengan kinerja perusahaan. Para
investor dalam melakukan keputusan berinvestasi, tentu akan mempertimbangkan
informasi rasio DAR (debt to total asset rasio).
Menurut Husnan (2003, hal. 105) DAR (debt to total asset rasio) terjadi
pada saat perusahaan menggunakan modal pinjaman dan menimbulkan beban
tetap (yaitu bunga) yang harus dibayar.
Menurut Horne (2009, hal. 210) semakin tinggi rasio DAR (debt to total
asset rasio) semakin besar peningkatan resiko adalah kemungkinan terjadinya
defult karena perusahaan terlalu banyak melakukan pendanaan aktiva dari hutang.
Dengan adanya resiko gagal bayar, maka biaya yang harus dikeluarkan oleh
perusahaan untuk mengatasi masalah ini semakin besar resiko keuangannya.

19

Menurut Keown (2001, hal. 475) menjelaskan bahwa DAR (debt to


total asset rasio) adalah porporsi atau penggunaan modal pinjaman dengan
jaminan membayar bunga yang tetap dengan harapan mendapatkan keuntungan
yang lebih besar bagi pemegang saham dan merupakan suatu ukuran dimana
hutang digunakan sebagi sumber pendanaan bagi perusahaan yang dapat
digunakan untuk mengangkat kinerja perusahaan. Dengan demikian DAR (debt
to total asset rasio) menunjukan penggunaan hutang bisa dibenarkan sejauh
diharapkan bisa memberikan tambahan laba operasi yang lebih besar dari bunga
yang dibayar.
b.

Pengukuran DAR (debt to total asset rasio)


Rasio DAR (debt to total asset rasio) merupakan rasio utang yang

digunakan untuk mengukur perbandingan antara total utang dengan aktiva.


Dengan kata lain seberapa besar aktiva perusahaan dibiayai oleh hutang atau
seberapa besar utang perusahaan berpengaruh terhadap pengelolaan

aktiva.

Semakin tinggi rasio ini maka pendanaan dengan utang semakin banyak, maka
semakin sulit bagi perusahaan untuk memperoleh tambahan pinjaman karena
dikhawatirkan perusahaan tidak mampu menutpi hutang hutangnya dengan
aktiva yang dimilikinya. Sebaliknya semakin rendah rasio ini maka semakin kecil
perusahaan dibiayai dari utang. Standar pengukuran untuk menilai baik tidaknya
rasio perusahaan digunakan rasio rata-rata perusahaan yang sejenis.
Semakin tinggi rasio ini semakin besar jumlah modal pinjaman yang
digunakan untuk investasi pada aktiva guna menghasilkan keuntungan bagi
perusahaan.menurut Kasmir (2010, hal. 122) rumusan untuk mencari DAR (debt
to total asset rasio) adalah sebagai berikut:

20

DAR

Total Debt (hutang)


x100%
Total Asset

Dari hasil pengukuran, apabila pendanaan dengan utang semakin


banyak, maka semakin sulit bagi perusahaan untuk memperoleh tambahan
pinjaman karena dikhawatirkan perusahaan tidak mampu menutupi hutanghutangnya dengan aktiva yang dimilikinya.
c.

Faktor-faktor yang Mempenngaruhi DAR (debt to total asset rasio)


Rasio DAR

(debt to total asset rasio) dapat diartikan sebagai

perbandingan total hutang dan total aktiva yang dimiliki oleh perusahaan, dengan
demikian kedua komponen tersebut sangata mempengaruhi tingkat rasio DAR
(debt to total asset rasio). Total hutang merupakan total kewajiban yang menjadi
masalah bagi perusahaan di masa yang akan datang. Hal ini tentunya dapat
mempengaruhi struktur pendanaan perusahaan dimasa yang akan datang. Namun
bila dikaji lebih dalam, total hutang terdiri dari hutang lancar dan hutang jangka
panjang. Keberadaan hutang lancar sangat mempengaruhi ketersediaan modal
kerja perusahaan, karena hutang lancar merupakan bagian dari pengukuran
likuiditas perusahaan bila dibandingkan dengan aktiva lancar. Semakin tinggi
jumlah hutang lancar tentunya dapat meningkatkan total hutang perusahaan dan
selanjutnya dapat meningkatkan DAR (debt to total asset rasio), sehingga akan
semakin banyak aktiva perusahaan akan dibelanjai oleh hutang.
Hutang jangka panjang merupakan solusi untuk menambah modal
perusahaan. Namun bila tidak dikelola dengan baik akan berdampak pada
kemampuan perusahaan menghasilkan laba, karena meningkatnya beban bunga

21

yang dimunculkan oleh hutang jangka panjang. Peningkatan hutang jangka


panjang tentunya akan berdampak pada peningkatan total hutang perusahaan,
sehingga akan semakin tinggi aktiva perusahaan dibelanjai oleh hutang. Tentunya
hal ini akan berdampak negatif terhadap keberlangsungan perusahaan di masa
mendatang.

3.

DER (Debt to Equity Ratio)


Perusahaan memperoleh sumber pendanaan dari sua sumber yaitu

kreditor dan pemegang saham. Menurut Darsono dan Ashari (2005, hal : 54)
Rasio leverage atau rasio solvabilias adalah Rasio untuk mengetahui kemampuan
perusahaan dalam membayar kewajiban jika perusahaan tersebut dilikuidasi.
Rasio leverage menunjukkan berapa besar perusahaan di danai oleh kreditor dan
pemegang saham, rasio leverage (ratio utang) menurut Van Home dan
Wachowhicz ( 2005, hal.209) adalah rasio yang menunjukkan sejauh mana
perusahaan dibiayai oleh utang. Rasio leverage disebut juga rasio solvabilitas.
Penggunaan utang yang terlalu tinggi akan membahayakan perusahaan karena
perusahaan akan masuk kategori estreme leverage (utang ekstrem) yaitu
perusahaan akan terjebak dalam tingkat utang yang tinggi dan sulit untuk
melepaskan beban utang tersebut. Karena itu sebaiknya perusahaan harus
menyeimbangkan berapa utang yang layak diambil dan dari mana sumber yang
dapat dipakai untuk membayar utang. Pihak yang paling berkepentingan terhadap
rasio leverage perusahaan adalah kreditur dan pemegang saham. Semakin jumlah
pendanaan yang berasal dari kreditor, semakin tinggi risiko perusahaan tidak
dapat membayar seluruh kewajiban dan bunganya. Bagi pemegang saham,

22

semakin tinggi rasio leverage, semakin rendah tingkat pengembalian yang akan
diterima pemegang saham karena perusahaan harus melakukan pembayaran bunga
sebelum laba dapat dibagikan kepada

pemegang saham dalam bentuk dividen.

Ada dua rasio leverage menurut Van Horne dan Wachowicz (2005, hal
209) yaitu rasio utang terhadap ekuitas (debt to equity rasio) dan rasio utang
terhadap total aktiva (debt to total assets ratio). Rasio leverage yang menjadi
fokus penelitian ini adalah rasio Debt to equty ratio. Debt to equty ratio
merupakan rasio yang membandingkan utang perusahaan dengan total ekuitas.
Debt to equity ratio merupakan financial leverage yang dipertimbangkan sebagai
variabel keuangan karena secara teoritis menunjukkann rasio suatu perusahaan
sehinggga berdampak pada ketidakpastian harga saham. Debt to equity ratio yang
tinggi mempunyai dampak yang buruk terhadap kinerja yang semakin baik,
karena menyebabkan tingkat pengembalian yang semakin tinggi. Menurut
Riyanto (2008, hal.333), Debt to equity ratio digunakan untuk mengukur bahan
dari setiap rupiah modal sendiri yang di jadikan jaminan untuk keseluruhan
hutang. Debt to equity ratio memberikan gambaran mengenai struktur modal
yang dimiliki oleh perusahaan, sehingga dapat dilihat tingkat risiko tidak
tertagihnya suatu utang oleh para investor. Semakin besar nilai debt to equity
rasio, berarti semakin besar jumlah aktiva yang dibaiayai oleh pemilik perusahaan
dan semkin kecil nilai debt to equity rasio, berarti semakin kecil jumlah aktiva
yang dibiayai oleh pemilik perusahaan.
a. Pengukuran Debt to Equity Ratio
Debt to equity ratio merupakan rasio yang digunakan untuk menilai
utang dengan ekuitas. Untuk mencari rasio ini dengan cara membandingkan antara

23

seluruh utang, termasuk utang lancar dengan seluruh ekuitas. Rasio ini berguna
untuk mengetahui jumlah dana yang disediakan peminjam (kreditor) dengan
pemilik perusahaan. Dengan kata lain rasio ini untuk mengetahui setiap rupiah
modal sendiri yang dijadikan untuk jaminan utang. Menurut Kasmir (2010,
hal.124) rumusan untuk mencari debt to equity ratio dapat digunakan sebagai
berikut :
Total Kewajiban ( utang )
Debt to Equity Ratio = ______________________
Total Ekuitas ( equity )
b. Faktor-faktor yang mempengaruhi Debt to Equity Ratio
Besar-kecilnya rasio debt to equity ratio akan mempengaruhi tingkat
pencapaian laba (return on equity) perusahaan. Semakin tinggi debt to equity ratio
menunjukkan semakin besar beban perusahaan terhaap pihak luar, hal ini sangat
memungkinkan menurunkan kinerja perusahaan, karena tingkat ketergantungan
dengan pihak luar semakin tinggi. Rasio ini menggambarkan perbandingan hutang
dan ekuitas dalam pendanaan perusahaan dan menunjukkan kemampuan modal
sendiri perusahaan tersebut untuk memenuhi seluruh kewajibannya.
Faktor-faktor yang mempengaruhi debt to equity ratio adalah sebagai
berikut:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Operating Leverage
Likuiditas
Struktur aktiva
Pertumbuhan Perusahaan
Price Earning Ratio
Profitabilitas
Berdasarkan Pen;jelasannya :

1. Operating Leverage

24

Operating leberage atau leverage operasi adalah penggunaan aktiva


atau operasi perusahaan yang disertai dengan biaya tetap;.
2. Likuiditas
Rasio likuiditas adalah rasio yang digunakan untuk mengukur
kemampuan perusahaan didalam membayar hutang jangka pendek
yang telah jatuh tempo.
3. Struktur Aktiva
Struktur aktiva menggambarkan sebagian jumlah aset yang dapat
dijadikan jaminan (collateral value of assets).
4. Pertumbuhan Perusahaan
Suatu perusahaan yang berada dalam industri yang mempunyai laju
pertumbuhan yang tinggi harus menyediakan modal yang cukup untuk
membelanjai

perusahaan.

Per;usahaan

yang

bertumbuh

pesat

cenderung lebih banyak menggunkan utang daripada perusahaan yang


bertumbuh secara lambat (Weston and Brigham, 1994).
5. Price Earning Ratio
Price Earning Ratio (PER) merupakan perbandingan harga suatu
saham (market price) dengan earning pe sharen (EPS); dari saham
yang bersangkutan.
Brigham and Huston (2001) mengatakan bahwa perusahaan dengan
tingkat pengembalian yang tinggi atas investasi akan menggunakan
utang relatif kecil. Tingkat pengembalian yang tinggi memungkinkan
untuk membiayai sebagian besar kebutuhan pendanaan dengan dana
yang dihasilkan secara internal. Perusahaan yang mempunyai profit

25

tinggi, akan menggunakan hutang dalam jumlah rendah, dan


sebaliknya.

4. Long Debt to Equity Ratio (LDER)


a. Pengertian Long Debt to Equity Ratio (LDER)
Long Term Debt to Total Equity Ratio (LDER) merupakan rasio yang
mencerminkan persentase penyediaan dana oleh pemegang saham terhadap
kewajiban jangka panjang. Menurut (Warsono, 2003:239). Semakin besar resiko
ini mengindikasi bahwa dengan struktur modal tersebut, resiko yang ditanggung
pemegang saham semakin tinggi.
Rasio ini membandingkan antara utang jangka panjang dan modal
pemilik, rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan modal pemilik untuk
menutup utang jangka panjang semakin rendah rasio semakin aman bagi kreditur.
Long Term Debt to Equity Ratio = Long Term Debt (hutang kepada pemegang
saham/pihak terafiliasi, hutang bank dengan durasi lebih dari satu tahun)/ Equity.
LDER merupakan rasio antara utang jangka panjang dengan modal sendiri.
Tujuannya adalah untuk mengukur berapa bagian dari setiap rupiah modal sendiri
yang dijadikan jaminan utang jangka panjang dengan modal sendiri yang
disediakan oleh perusahaan.
Menurut penelitian Handayani (2007) Rasio Hutang Jangka Panjan terhadap
Ekuitas (Longterm Debt to Equity Ratio) mempunyai hubungan yang positif
dan tidak signifikan terhadap kemampuan laba (ROE). Long Debt to Equity
Ratio (LDER) merupakan perbandingan antara hutang jangka panjang
terhadap modal perusahaan (pemegang saham). Semakin rendah rasio akan
semakin tinggi kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka
panjang. Besarnya hutang yang terdapat dalam struktur modal perusahaan

26

sangat penting untuk memahami perimbangan antara risiko dan laba yang
didapat. Hutang membawa risiko karena setiap hutang pada umumnya akan
menimbulkan keterikatan yang tetap bagi perusahaan dalam bentuk
kewajiban membayar bunga serta cicilan kewajiban pokoknya secara
periodik.
Menurut Kuswasi (2004) perusahaan dengan kewajiban yang terlampau
banyak akan mengalami kesulitan untuk mendapatkan tambahan dana dari
luar. Bila kewajiban dapat dimanfaatkan dengan efektif dan bila laba yang
didapat cukup untuk menutupi atau membayar beban bunga secara periode,
laba diberikan kepada pemegang saham dapat dijelaskan melalui leverage
keuangan. Leverage keuangan tercipta ketika laba bersih perusahaan
meningkat akibat penggunaan pinjaman yang memberikan beban bunga.
b. Pengukuran Long Debt to Equity Ratio
Long Term Debt to Equity Ratio (LDER) menggambarkan perbandingan
hutang jangka panjang dengan ekutias dalam pendanaan perusahaan dan
menunjukkan kemampuan modal sendiri perusahaan (pemegang saham) untuk
memenuhi kewajibannya. Dirumuskan sebagai berikut (Brealey, dan Marcus,
2008:76) :

Utang Jangka Panjang


Long Debt-Equity Ratio = ____________________
Modal Sendiri
Besarnya hutang yang terdapat dalam struktur modal perusahaan sangat penting
untuk memahami perimbangan antara risiko dan laba yang didapa;t. leverage
membawa risiko, karena setiap leverage pada umumnya akan menimbulkan
keterikatan yang tetap bagai perusahaan dalam bentuk kewajiban tambahan dana
membayar bunga beserta cicilan kewajiban pokoknya secara periodik.
c. Faktor-faktor yang mempengaruhi Long Debt to Equity Ratio

27

Faktor-faktor yang mempengaruhi utang jangka panjang antara lain :


a. Pinjaman obligasi merupakan pinjaman uang untuk jangka waktu yang
panjang, untuk debitur mtuengeluarkan surat pengakuan utang yang
mempunyai nominal tertetntu.
b. Pinjaman hipotik merupakan pinjaman jangka panjang dimana pemberi uang
(kreditur) diberi hak hipotik pada suatu barang tidak bergerak , agar bila
pihak d;ebitu tidak memenuhi kewajibannya, barang itu dapat dijual dan dari
hasil penjualan tersebut dapat digunakan untuk menutup tagihannya.

B. Penelitian Terdahulu.
Beberapa penelitian yang relevan dengan penelitian ini adalah sebagai
berikut:
1. Rina Oktavia (2012) menyimpulkan bahwa vairabel bebas berupa DER
berpengaruh positiv terhadap ROE sebagai variabel terikat sedangkan DAR
dan LDER berpengaruh positif terhadap ROE analisis yang dilakukan
simultan menunjukan variabeL yaitu DER, DAR dan LDER bersama-sama
berpengaruh secara signifikan terhadap ROE.
2. Edith Theresa Stein (2012) teknik analisis data yang digunakan adalah regresi
linier sederhana dengan persamaan kuadrat terkecil dan uji hipotesis
menggunakan t statistik untuk menguji korelasi regresi parsial serta F statistik
untuk menguji korelasi regresi simultan
3. Beberapa penelitian relevan lainnya adalah Lisa Marlina (2011) yang
dihasilkan adalah terdapat pengaruh tang positif dan signifikan antara DAR,

28

DER, LDER terhadap ROE pada perusahaan makanan dan minuman yang
terdaftar di bursa efek Indonesia.

C. Kerangka Konseptual
Bahwasanya ada pengaruh yang signifikan Debt to Assset Ratio Terhadap
Return Equity yang dimana untuk menambah profitabilitas perusahaan melalui
tingkat hutang maka seberapa besar kemampuan tingkat pengembalian assets yang
diperoleh oleh perusahaan nantinya sehingga perusahaan tetap mampu dalam
membayar hutang yang diperoleh melalui assets perusahaan.
ROE merupakan kemampuan perusahaan menghasilkan laba yang
maksimal dari modal sendiri (modal saham dan laba ditahan) perolehan ROE
dalam perusahaan akan sangat dipengaruhi oleh besarnya DAR, DER dan LDER
yang ada dalam perusahaan.
DAR adalah aktiva / asset yang dimiliki oleh perusahaan dan kemampuan
perusahaan untuk menghasilkan profitabilitas dari aktiva yang ada. Oeh karena itu
semakin meningkat aktiva dalamp perusahaan

maka akan semakin besar

kemungkinan memperoleh laba.


DER adalah rasio hutang dimana dengan rasio ini akan diketahui berapa
besar kemampuan membayar hutang perusahaan terutama jika perusahaan
tersebut dilikuidasi, semakin tinggi maka semakin menunjukan kemampuan
perusahaan melunasi hutang yang ada.
LDER merupakan total hutang yang ada dalam perusahaan jika total
hutang jangka panjang mengalami peningkatan maka perusahaan harus
menangung biaya beban bunga, oleh karena itu akan menimbulkan beban

29

operasional yang baru yang akan berpengaruh terhadp perolahan laba dalam
perusahaan.
Berdasarkan hasil gambar dibawah ini maka dapat disimpulkan bahwa
diduga ada pengaruh DAR, DER, LDER

Terhadap ROE Pada Perusahaan

Property dan Real Estate Terdaftar di Bursa Efek Indonesia

Debt to asset rasio


DAR

Debt to equty rasio


DER

ROE

Long Debt to equity


LDER

Gambar 2.2 Kerangka Konseptual


Penelitian dilakukan pada perusahaan property dan real estate

yang

terdaftar di bursa efek Indonesia, karena perusahaan ini merupakan salah satu
industri yang pergerakan harga sahamnya sangat cepat sebab jika ketentuan laba
dan hutang yang dimilikinya tidak seimbang maka perusahaan tersebut tidak akan
bekerja efektif dan efisien, disamping itu penyajian laba dan harga saham menjadi
salah satu faktor yang menjadi tolak ukur kesehatan perusahaan tersebut. Sehingga
ROE perusahaan dipengaruhi oleh faktor-faktor DAR, DER dan LDER.

D. Hipotesis Penelitian

30

Hipotesis adalah jawaban sementara yang harus diuji kebenarannya atas


suatu

penelitian

yang

dilakukan

agar

dapat

mempermudah

dalam

menganalisisnya. Dari kerangka teoritis yang telah diuraikan diatas, maka


hipotesis yang adalah:
1. Ada pengaruh DAR terhadap ROE pada perusahaan property dan real
estate yang terdaftar di bursa efek Indonesia
2. Ada pengaruh DER terhadap ROE pada property dan real estate yang
terdaftar di bursa efek Indonesia
3. Ada pengaruh LDER terhadap ROE pada property dan real estate yang
terdaftar di bursa efek Indonesia
4. Ada pengaruh DAR, DER, LDER terhadap ROE pada property dan real
estate yang terdaftar di bursa efek Indonesia

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Pendekatan Penelitian
Pendekatan penelitian ini adalah penelitian asosiatif. Penelitian ini
menggunakan metode pendekatan asosiatif, yaitu suatu metode penelitian yang

31

berusaha menggambarkan suatu fenomena atau gejala yang terjadi dalam keadaan
nyata pada waktu penelitian dilakukan, dengan menggunakan data yang berbentuk
data laporan keuangan sebagai sampel dari populasi yang diambil, untuk
kemudian dianalisis untuk mengetahui apakah variabel terkait yang diteliti
mempunyai hubungan yang signifikan atau tidak.

B. Definisi Operasional Variabel


Berdasarkan perumusan masalah dan metode analisis, maka variabelvariabel dalam penelitian ini terdiri dari variabel independen dan variabel
dependen.
1.

Variabel Independen (Bebas)


Variabel independen (bebas) yang digunakan dalam penelitian ini adalah

DAR, DER, dan LDER.


1. DAR (debt to total asset rasio) menunjukan kemampuan perusahaan membayar
hutang equity yang dimilikinya. Apabila leverage keuangan tinggi,
menunjukan suatu perusahaan juga tinggi. Rasio DAR (debt to total asset
rasio) penting dianalisis karena berkaitan dengan kinerja perusahaan. Dengan
rumus sebagai berikut:
DAR

2.

Total Debt (hutang)


x100%
Total Asset

31

DER merupakan rasio untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam


membayar kewajiban jika perusahaan tersebut dilikuidasi. Rasio leverage
menunjukkan berapa besar perusahaan di danai oleh kreditor dan pemegang
saham. Dengan rumus sebagai berikut:

32

Total Kewajiban ( utang )


Debt to Equity Ratio = ______________________
Total Ekuitas ( equity )
2. Variabel Dependen (Terikat)
Variabel dependen dalam penelitian ini adalah harga saham, dimana
'variabel dependen disimbolkan dengan ROE.
ROE

Net Pr ofit
x 100 %
Equity

ROE Return on equity mengukur kemampuan


dari modal sendiri untuk menghasilkan laba. Modal sendiri adalah merupakan
penjumlahan antara modal saham dan laba yang ditahan. Rasio ini mengukur
kemampuan perusahaan dalam menghasilkan net income ditinjau dari sudut
Equity Capital-nya. Dengan rumus sebagai berikut:

C. Tempat dan Waktu Penelitian


Tempat Penelitian :Penelitian ini dilakukan pada perusahaan property
yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia melalui situs resminya.
Waktu Penelitian : Di rencanakan dimulai pada bulan Januari 2014
sampai dengan bulan Mei 2014 yang dapat dilihat pada tabel:

Tabel 3.1
Rincian Waktu Penelitian
No
1
2
3
4

Jenis Kegiatan
Pengambilan data
Pengolahan data
Penulisan proposal
Bimbingan proposal

Januari
Februari
Maret
April
Mei
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4

33

5
6
7
8

Seminar proposal
Penulis draf skripsi
Bimbingan skripsi
Sidang

D. Populasi dan Sampel Penelitian


Populasi penelitian ini adalah perusahaan property dan real estate yang
terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2008-2012 berjumlah 35 perusahaan.
Dari populasi yang ada akan diambil sejumlah tertentu sebagai sampel.
Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling.
Purposive sampling menurut Sugiyono (2009, hal. 78) yaitu, Teknik penentuan
sampel dengan pertimbangan tertentu.
Berdasarkan kriteria yang sudah ditetapkan diatas didapatlah 10
perusahaan sebagai sampel. Daftar perusahaan yang menjadi sampel adalah
sebagai berikut.
Table 3.2
Daftar sampel Perusahaan Real Estate and Property
No

Nama Perusahaan

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16

BIPP
BKSL
DART
DILD
DUTI
ELTY
GMTD
JIHD
JRPT
KIJA
CTRA
CTRS
JSPT
KPIG
LAMI
LPCK

Kriteria
2
3

Sampel
4

Sampel 1
Sampel 2
Sampel 3
Sampel 4
Sampel 5
Sampel 6
Sampel 7
Sampel 8
Sampel 9
Sampel 10
Sampel 11
Sampel 12
Sampel 13
Sampel 14
Sampel 15
Sampel 16

34

17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28

LPKR
MAMI
MDLN
OMRE
PNSE
PUDP
PUWON
RBMS
RODA
SMDM
SMRA
SSIA

Sampel 17
Sampel 18
Sampel 19
Sampel 20
Sampel 21
Sampel 22
Sampel 23
Sampel 24
Sampel 25
Sampel 26
Sampel 27
Sampel 28

E. Jenis, dan Sumber Data


Jenis Data.
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kuantitatif.
Sugiyono (2009, hal. 13) mengatakan. Data kuantitatif yaitu data yang berbentuk
angka atau data kualitatif yang diangkakan.
Sumber Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini juga merupakan data sekunder
yaitu data/informasi yang telah diolah dan diperoleh dari laporan keuangan
tahunan perusahaan-perusahaan real estate yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia
periode 2008-2012, melalui situs www.idx.co.id , serta ringkasan kinerja
perusahaan yang di peroleh melalui ICMD (Indonesian Capital Market
Dierctory).

F. Teknik Pengumpulan Data.


Metode pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan
mendokumentasikan data sekunder yanng diperlukan berupa laporan-laporan
keuangan dan ringkasan kinerja yang dipublikasikan oleh Bursa Efek Indonesia.

35

G. Metode Analisis Data


1. Uji Statistik Deskriptif
Statistik diskriftif memberikan gambaran atau diskripsi suatu data
yang dilihat dari nilai rata-rata (mean) standar devviasi, varians, maksimum,
minimum, sum, range, kuartosis dan skewness (Ghazali, 2011 hal. 9). Untuk
memberikan gambaran analisis statistik deskriftif, beriikut ini peneliti
menganalisis variabel independen dan variabel dependen.
2.

Asumsi Klasik
Pengujian asumsi klasik dilakukan sebelum data di analisis untuk

memudahkan analisis data. Penggunaan analisis regresi dalam statistik harus


bebas

dari

asumsi-asumsi

klasik

seperti

normalitas

data,

autokorelasi,

heteroskedastisitas dan asumsi klasik lainnya. Adapun pengujian prsyaratan


asumsi klasik yang digunakan adalah sebagai berikut:
a. Uji normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk mengetahui apakah data yang diperoleh
berada dalam distribusi data normal.
Menurut Erlina dan Mulyani (2007, hal. 103) Tujuan uji normalitas
adalah ingin mengetahui apakah dalam model regresi, variabel penggangu atau
residual memiliki distribusi normal. Cara yang dapat digunakan untuk menguji
apakah variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal adalah
dengan melakukan uji Kolmogrov-Smirnov terhadap model yang di uji. Kriteria
pengambilan keputusan adalah apabila signifikansi atau probabilitas lebih besar

36

dari 0.05 maka residual memiliki distribusi normal dan apabila nilai signifikansi
lebih kecil dari 0.05 maka residual tidak memiliki distribusi normal.
Dasar pengambilan keputusan dalam uji normalitas menurut Ghozali
(2011, hal. 110) adalah sebagai berikut:
1) jika data menyebar disekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis
diagonal atau grafik histogramnya menunjukkan pola berdistribusi
normal, maka model regresi memenuhi asumsi normalitas.
2) Jika data menyebar jauh dari diagonal dan / atau tidak mengikuti arah
garis diagonal atau grafik histogram tidak menunjukkan pola
berdistribusi normal, maka model regresi tidak memenuhi asumsi
normalitas.
Ghozali (2011, hal. 115) menjelaskan, Uji statistik yang dapat
digunakan untuk menguji normalitas residual adalah uji statistik KolmogorovSmirnov (K-S). Uji K-S dibuat dengan membuat hipotesis Ho dan Ha.
H0

: data residual berdistribusi normal

Ha

: data residual tidak brdistribusi normal

Bila signifikansi>0,05 dengan a= 5% berarti berdistribusi data normal dan


H0 diterima, sebaliknya bila nilai signifikan < 0,05 berarti beristribusi data tidak
normal dan Ha diterima. Jika data tidak normal ada beberapa cara mengubah
model regresi menjadi normal menurut Jogiyanto (2010, hal. 172).
1) Dengan melakukan transformasi data ke bentuk lain, yaitu logaritma
natural, akar kuadrat dan logaritma 10.
2) Lakukan trimming, yaitu memangkas observasi yang bersifat outlier.
3) Lakukan winsorizing, yaitu mengubah nilai-nilai data outliers menjadi
nilai nilai minimum atau maksimum yang diizinkan supaya distribusinya
menjadi normal.
b. Multikolinearitas
Uji multikolinearitas ini bertujuan untuk menguji apakah model regresi
ditemukan adanya korelasi antara variabel bebas. Model regresi yang baik

37

seharusnya tidak terjadi korelasi antara variabel independen karena akan


mengurangi keyakinan dalam pengujian signifikansi.
c. Autokorelasi
Uji ini bertujuan untuk menganalisis apakah dalam model regresi linear
ada korelasi antara kesalahan penganggu pada periode t dengan tingkat kesalahan
pada periode t-1.
d. Uji Heteroskedastisitas
Uji ini bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi
ketidaksamaan variance dari residural satu pengamatan ke pengamatan lainnya.
Heteroskedastisitas merupakan situasi dimana dalam model regresi terjadi
ketidaksamaan (variance) dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang
lain. Erlina (2007, hal. 108) menyatakan, Jika varians dari residual satu
pengamatan ke pengamatan lainnya tetap, maka disebut heteroskedastisitas.
Ada tidaknya heteroskedastisitas dapat dilakukan dengan melihat grafik
Scatterplot antar nilai prediksi variabel independen dengan niali residualnya.
Dasar analisis yang dapat digunakan untuk menentukan heteroskedastisitas,
antara lain:
1) Jika ada pola tertentu, seperti titik-titik yang ada membentuk pola tertentu
yang teratur (bergelombang, melebar kemudian menyempit), maka
mengidikasikan telah terjadi heteroskedastisitas.
2) Jika tidak ada pola yang jelas, seperti titik-titik menyebar diatas dan
dibawah angka nol pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedastisitas.
Menurut Ghozali (2010, hal. 107), Analisis dengan grafik pots memiliki
kelemahan yang cukup signifikan oleh karena jumlah pengamatan mempengaruhi

38

hasil

ploting.

Semakin

sedikit

jumlah

pengamatan

semakin

sulit

menginterprestasikan hasil grafik plot.

3.

Regresi Linier Berganda


Metode analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah regresi

linier berganda dengan menggunakan bantuan program SPSS versi 18 (Statistic


Product and Service Solution), namun terlebih dahulu dilakukan uji persyaratan
sebelum melakukan pengujian hipotesis asumsi klasik.
Uji regresi linier berganda bertujuan untuk menguji, meramalkan atau
memperkirakan pengaruh antara dua atau lebih variabel dengan membuat asumsi
ke dalam suatu bentuk fungsi tertentu (fungsi linier), dimana variabel dependen
dapat diprediksi melalui variabel independen secara individual sehingga dapat
digunakan untuk memutuskan apakah naik atau turun variabel dependen dapat
dilakukan dengan menaikan atau menurunkan variabel independen. Model
persamaannya adalah sebagai berikut:
Y = a + b1X1 +b2X2
dimana:
Y

:ROE

:Konstanta

b1234

:Koefisien regresi

X1

:Nilai DAR

X2

:Nilai DER

4.

Pengujian Hipotesis

39

Dalam menentukan hubungan yang berlaku antara informasi laporan arus


kas terhadap harga saham, data persyaratan hipotesis yang linier, maka digunakan
analisis statistik berikut:
a.

Uji F
Untuk melihat keeratan antara variable dependen dan independen maka

dilakukan uji signifikasi secara simultan yaitu uji F adalah sebagai berikut:
Penelitian ini digunakan tingkat signifikansi () 0,05 atau 5%. Untuk
menguji apakah hipotesis yang diajukan diterima atau ditolak maka dilakukan
pengujian terhadap variabel-variabel penelitian dengan cara menguji secara
simultan melalui uji signifikansi simultan (uji statistik F) yang bermaksud untuk
dapat menjelaskan pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen
secara simultan. Apabila nilai F hitung lebih besar dari F tabel berarti hipotesis
diterima, jika nilai=F hitung lebih kecil dari F tabel berarti hipotesis ditolak.
Kriteria Pengujian:
Ho : b1 = b2 = 0 artinya DAR, DER, LDER secara bersama-sama tidak
mempunyai pengaruh terhadap ROE pada perusahaan property dan real
estate yang terdaftar di BEI.
Ha : b1 = b2

0 artinya DAR, DER, LDER secara bersama-sama

mempunyai pengaruh terhadap ROE pada perusahaan property dan


real estate yang terdaftar di BEI.
Pengujian signifikansi dilakukan dengan mengamati F
signifikansi (alpha) 5%. Apabila nilai F

hitung

pada nilai

lebih besar (>) daripada F

Ho ditolak. Dengan gambar kriteria pengujiannya sebagai berikut:


b. Uji t

hitung

, maka

tabel

40

Sedangkan untuk menguji masing-masing variabel secara parsial


dilakukan dengan uji signifikansi parameter individual (uji t statistik) yang
bertujuan untuk mengetahui apakah variabel-variabel independen berpengaruh
secara parsial terhadap variabel dependen serta variabel mana yang dominan
mempengaruhi variabel dependen. Jika nilai t hitung adalah positif atau lebih
besar dari t tabel berarti hipotesis diterima. Sebaliknya jika nilai t hitung lebih
kecil dari t tabel maka hipotesis ditolak. Dengan rumus sebagai berikut:
t

R2 n 2
1 r2

Keterangan :
t = Signifikan
R2 = Koefisien korelasi
n = Jumlah sampel
Kriteria Pengujian
Ho : bi = 0, artinya tidak ada pengaruh DAR, DER, LDER secara parsial terhadap
ROE pada perusahaan property dan real estate yang terdaftar di BEI
yang terdaftar di bursa efek Indonesia.
Ha : bi 0, artinya ada pengaruh DAR, DER, LDER secara parsial terhadap ROE
pada perusahaan property dan real estate yang terdaftar di BEI.
Dengan kriteria pengujian sebagai berikut:
- Taraf kepercayaan 5%, =0,05.
- Kriteria pengujian :

Apabila t hitung > t tabel ; maka Ha diterima dan Ho ditolak (ada pengaruh
yang signifikan).

41

Apabila t hitung < t tabel, maka Ha ditolak dan Ho diterima (tidak ada
pengaruh yang signifikan).

Dengan gambar kriteria Uji t (dua sisi) pengujiannya sebagai berikut:


c. Koefisien Determinasi (R2).
Selanjutnya dilakukan pengujian Koefisien Determinasi (R 2) yang
bertujuan untuk mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan
variasi variabel terikat (Kuncoro, 2010, hal. 220)..
Menurut Ghozali (2011, hal. 87), kelemahan mendasar penggunaan
koefisien determinasi adalah bias terhadap jumlah variabel independen yang
dimasukkan ke dalam model. Banyak peneliti menganjurkan untuk menggunakan
nilai Adjusted R2 pada saat mengevaluasi mana model regresi terbaik. Tidak
seperti R2, nilai Adjusted R2 dapat naik atau turun apabila satu variabel
independen ditambahkan ke dalam model.

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian
1. Deskripsi Data

42

Perusahaan real estate merupakan perusahaan yang bergerak di bidang


perumahan yang menghasilkan produk untuk di konsumsi masyarakat setiap
harinya sesuai kebutuhan masing-masing rumah tangga, meskipun sebagian
produknya merupakan kebutuhan dasar. Di Bursa Efek Indonesia terdapat 41
perusahaan industri makanan dan minuman, tetapi hanya 30 perusahaan industri
makanan dan minuman yang menjadi sampel pada penelitian ini.
Data IV.1
Data, DER, DAR, ROE Pada Perusahaan Real Estate Dan Property
N
O

Emite
n

DER
2008

2009

2010

ASRI

0,74

0,84

1,07

BAPA

1,19

1,01

0,82

BIPP

0,81

0,96

1,04

BKDP

0,45

0,36

0,4

BKSL

0,16

0,22

0,17

1,11

0,96

0,7

BSDE
COW
L

0,74

0,58

1,05

CTRA

0,38

0,34

0,43

CTRP

0,08

0,07

0,08

10

CTRS

0,44

0,46

0,6

11

DART

3,35

3,83

2,47

12

DILD

0,86

0,83

0,27

13

DUTI

0,81

0,62

0,55

14

ELTY

0,70

1,25

0,82

15

0,89

0,09

0,29

16

FMII
GMT
D

2,09

1,92

1,8

17

GPRA

1,64

1,64

1,33

18

JIHD

3,16

1,75

1,31

19

JRPT

0,75

0,87

1,1

201
1
1,1
6
0,8
3

201
2
1,3
1
0,6
8

200
8
0,4
2
0,5
4

200
9
0,4
6
0,5
0

DAR
201
0
0,5
2
0,4
5

1,6
6
0,3
8
0,1
5
0,5
5
1,3
5
0,5
1

0,5
0,4
6
0,6
2
0,4
1
1,8
1
0,9
7

1,1
0
0,3
7
0,2
4
0,6
0
1,2
8
0,7
0
0,4
4
0,8
9
0,5
1
0,5
9
0,2
7
0,7
1
0,4
0
2,6
7
0,9
5

0,4
5
0,3
1
0,1
4
0,5
3
0,4
3
0,1
9
0,0
7
0,2
9
0,7
7
0,4
6
0,4
1
0,3
8
0,4
0
0,6
8
0,6
2

0,4
9
0,2
6
0,1
8
0,4
9
0,3
7
0,1
9
0,0
6
0,2
9
0,7
9
0,4
5
0,3
4
0,5
0
0,0
7
0,6
6
0,5
7

0,5
1
0,2
8
0,1
4
0,3
7
0,5
1
0,2
3
0,0
7
0,3
5
0,7
1
0,2
1
0,3
2
0,3
9
0,2
0
0,6
4
0,4
9

0,6
2
0,2
7
0,1
3
0,3
5
0,5
8
0,3
4
0,1
6
0,4
5
0,4
5
0,3
3
0,3
1
0,3
8
0,2
9
0,6
4
0,4
7

0,5
2
0,2
7
0,1
9
0,3
7
0,5
6
0,4
1
0,3
1
0,4
7
0,3
4
0,3
7
0,2
1
0,4
2
0,2
9
0,7
3
0,4
9

0,3
2
1,1
5

0,3
3
1,3
1

0,6
8
0,4
2

42
0,5

0,4
3
0,5
1

0,2
4
0,5
3

0,2
5
0,5
7

0,2
0,8
1
0,8
3

1
0,4
5

201
1
0,5
4
0,4
5

201
2
0,5
7
0,4
1

2008

200
9

4,53

6,11

5,94
34,3
9

15,7

ROE
201
0
14,9
5
19,3
9

0,19

0,20
1,01

3,62
1,76

-0,57
14,6
6

0,42
16,0
7

2,52

9,16
12,6
6

2011
24,0
8

2012
28,41

9,4
24,1
9

3,29
12,70

-2,77

-2,45
4,32
10,61

14,2

10,8
10,2
9

3,41
14,1
7
25,8
7

6,43

9,83

8,09

8,18

7,41
14,5
1
19,6
9

3,47

5,8

5,00

5,45

8,05

5,65
12,2
9

13,68

8,57

4,44

6,09

3,99

5,23
13,7
3

5,29

6,28

5,08
13,1
1

7,59
11,9
9
14,2
5

7,95

4,38

0,99

-162

-8,82
12,8
6

4,64
17,6
9

2,81
2,86
25,6
7

0,14
33,7
3

1,30
24,15

6,08
14,8
9
17,0
0

6,08

6,05

6,72

6,28

60,4
17,0
5

18,2
3
20,1
1

3,75
20,9
2

2,51

26,57

9,94

15,81

43

20

KPIG

0,21

0,14

0,07

21

LAMI

2,62

2,2

1,83

22

LCGP

0,12

0,15

0,08

23

LPCK

1,96

2,11

1,96

24

LPKR

1,54

1,4

1,03

25

MDLN

0,77

0,7

0,83

26

MKPI

0,79

0,48

0,42

27

2,51

1,47

0,88

28

OMRE
PWO
N

29

PWSI

2,46
1,86

1,94
1,82

1,66
1,81

30

RBMS

0,10

0,05

0,07

0,0
8
1,0
9
0,0
9
1,4
9
0,9
4
1,0
3
0,4
4

0,1
6
0,9
6
0,1
2
1,2
8
1,0
6
0,6
4
0,4
4

0,1
7
0,7
1
0,1
0
0,6
6
0,5
9
0,4
4
0,4
4

0,1
2
0,6
7
0,1
3
0,6
8
0,5
6
0,4
1
0,3
2

0,0
7
0,6
2
0,0
8
0,6
6
0,4
9
0,4
5
0,2
9

0,0
7
0,5
2
0,0
8
0,6
0
0,4
8
0,5
1
0,3
0

0,1
4
0,4
9
0,1
0
0,5
6
0,5
1
0,3
9
0,3
1

0,4
7
1,4
2

0,4
1
1,4
4
180
0,0
9

0,7
1
0,6
9
2,1
7
0,0
9

0,6
0
0,6
4
2,2
2
0,0
5

0,4
7
0,6
0
2,2
4
0,0
7

0,3
2
0,5
9
2,2
4
0,0
8

0,2
9
0,5
9
2,2
4
0,0
8

-1,8
0,0
8

-6,57
13,2
7
-0,55

6,98
13,4
4
0,48

8,67
17,6
7
0,17
15,1
2

2,89

4,85

22,7

11,05
-0,35

9,33

-0,89
36,7
1
10,4
7

5,87
10,4
8

8,26
10,7
8

4,25
29,1
3
13,6
2

1,47
27,2
2

4,67
25,6
9

9,79
26,8
9

20,62

31,9
6
26,9
8

22,5
4

7,25

3,36

33,5
6
17,6
5

19,8

23,68

1,76

4,17

1,04

0,7

-0,02

1,64

0,62

1,15

-10,5

1,44

Dari data di atas dapat dijelaskan bahwa fenomena penelitian perusahaan


real property dan rael estate yang berkaitan dengan variabel diantaranya adalah
sebagai berikut:
Tingginya hutang yang dimiliki oleh perusahaan baik hutang jangka
pendek maupun hutang jangka panjang. Hal ini akan berdampak pada masa yang
akan datang, sebab perusahaan akan dihadapkan pada proses perlunasan hutang
baik hutang jangka pendek maupun hutang jangka panjang. Serta bunga yang
muncul akibat penambahan hutang jangka panjang dimasa yang akan datang.
Terjadinya penurunan Return on equity yang diperoleh perusahaan
sehingga akan berdampak pada kelangsungan hidup perusahaan dimasa
mendatang sebab bisa melemahkan minat investor untuk menanamkan modalnya
kembali keperusahaan
Jika dilihat dari besarnya penduduk di indonesia bisnis property dan real
estate merupakan bisnis yang menjanjikan sebab dari 150 juta kepala keluarga di

29,20
9,82
9,27

44

indonesia hanya 35% yang memiliki rumah layak huni (sumber BKKBN, 2013)
tetapi pada realitanya ketidakmampuan dan birorasi yang panjang menyebabkan
mereka sulit untuk memperoleh rumah layak huni. Hal ini merupakan salah satu
hal yang menyebabkan menurunnya tingkat penjualan yang berdampak pada hasil
return on equity.
Terjadinya peningkatan DAR tetapi tidak diikuti dengan peningkatan
Return on equity hal ini diakibatkan tingginya beban harga pokok pengerjaan
proyek yang harus dikeluarkan oleh perusahaan tanpa dilakukan control yang
ketat.
Terjadinya penurunan kemampuan membayar hutang yang dimiliki oleh
perusahaan yang disebabkan peningkatan hutang yang sangat signifikan sehingga
perusahaan juga harus menanggung beban bunga pinjaman
Perusahaan tidak mampu meningkatkan penjualan yang dilakukan, tetapi
peninngkatan beban operasional cukup signifikan yang pada akhirnya akan
berdampak pada Return on equity.
Berdasarkan hasil data diatas maka diketahui bahwa terjadi peningkatan
asset yang dimiliki oleh perusahaan sebesar 60% dan 40% mengalami penurunan
hal ini menunjukan bahwa asset yang dimiliki tidak memberikan kontribusi yang
positif terhadap perolehan laba. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pengelolaan
asset yang dimiliki oleh perusahaan masih kurang baik kontribusinya untuk
memperoleh laba.
ROE merupakan variable yang termasuk dalam profitabilitas, dimana ROE
(return on equity) merupakan salah satu alat utama investor yang paling sering
digunakan dalam menilai suatu saham. Dalam perhitungan secara umum ROE

45

dihasilkan dari pembagian laba dengan ekuitas selama setahun terakhir. Jika
dilihat dari data laporan keuangan 10 perusahaan property and real estate maka
secara umum pada periode tahun 2009 sampai dengan 2012 terdapat 90% yang
mengalami penurunan dan sisanya mengalami peningkatan yang tidak begitu
besar. Hal ini mengidentifikasikan bahwa (return on equity) yang diperoleh tidak
seperti yang diharapkan oleh perusahaan, sehingga hal ini dapat berdampak pada
bekerlangsungan perusahaan dimasa mendatang serta melemahkan minat investor
untuk menanamkan modalnya kembali ke perusahaan
2. Analisis Data

a. Statistik Deskriptif
Menurut Imam Ghozali (2006), statistic deskriptif dapat mendeskriptifkan
suatu data yang dilihat dari nilai rata-rata (mean), standar deviasi, varian,
maksimum, minimum, sum, range, kurtosis, dan skewness. Pengujian statistic
deskriptif merupakan proses analisis yang merupakan proses menyeleksi data
sehingga data yang akan dianalisis memiliki distribusi normal. Deskripsi masingmasing variabel penelitian ini dapat dilihat pada tabel IV. 2 dibawah.
Tabel IV.2
Hasil Uji Statistik Deskriptif
DER
DAR

N
150
150

Minimum
-1,86
,05

Maximum
3,83
2,24

Mean
,8164
,4609

Std. Deviation
,86193
,37626

ROE

150

-34,39

60,40

9,4857

11,53907

Valid N (listwise)

150

Sumber : Data diolah SPSS 2014

Dari hasil pengujian statistic deskriptif pada tabel IV.2 diatas dapat
diketahui :

46

DER memiliki nilai minimum sebesar -1,86 dengan demikian batas bawah
nilai DER yang diperoleh perusahaan dari dalam penelitian ini adalah sebesar
-1,86,00. DAR memiliki nilai minimum sebesar 0,05 dengan demikian batas
bawah nilai DAR dalam penelitian ini adalah 0,05. ROE memiliki nilai minimum
sebesar -34,39,00 dengan demikian batas bawah nilai DER dalam penelitian ini
adalah -34,39,00.
DER memiliki nilai maximum sebesar 3,83 dengan demikian batas nilai
atas DER yang diperoleh perusahaan dari dalam penelitian ini adalah 3,83. DAR
memiliki nilai maksimum sebesar 2,24 dengan demikian batas bawah nilai DAR
dalam penelitian ini adalah 2,24. ROE memiliki nilai maksimum sebesar
60,40dengan demikian batas bawah nilai ROE dalam penelitian ini adalah 60,40.
DER memiliki nilai mean sebesar 0,8164 dengan demikian rata-rata nilai
atas DER yang diperoleh perusahaan dari dalam penelitian ini adalah 0,8164.
DAR memiliki nilai mean sebesar 0,4609 dengan demikian mean nilai DAR
dalam penelitian ini adalah 0,4609. ROE memiliki nilai mean sebesar 9,4857
dengan demikian mean nilai ROE dalam penelitian ini adalah 9,4857.
b. Uji Asumsi Klasik
1) Uji Normalitas
Tujuan dilakukannya uji normalitas tentu saja untuk mengetahui apakah
suatu variabel normal atau tidak. Normal disini dalam arti mempunyai distribusi
data yang normal. Normal atau tidaknya data berdasarkan patokan distribusi
normal data dengan mean dan standar deviasi yang sama. Jadi uji normalitas pada
dasarnya melakukan perbandingan antara data yang kita miliki dengan

47

berdistribusi normal yang memiliki mean dan standar deviasi yang sama dengan
data.
Untuk mengetahui apakah data penelitian ini memiliki normal atau tidak
bisa melihat dari uji kolmogorov smirnov melalui SPSS apakah membentuk data
yang normal atau tidak.
Tabel IV.3
Kolmogorv Smirnov
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

N
Normal Parameters(a,b)
Most Extreme
Differences

Mean
Std. Deviation
Absolute

DER
150
,8164

DAR
150
,4609

ROE
150
9,4857

,86193

,37626

11,53907

,154

,201

,095

Positive

,100

,201

,088

Negative

-,154

-,137

-,095

1,881

2,457

1,162

,168

,142

,134

Kolmogorov-Smirnov Z
Asymp. Sig. (2-tailed)
a Test distribution is Normal.
b Calculated from data.

Hasil Pengolahan data tersebut, dapat diperoleh bahwa data dalam penelitian
berdistribusi normal. Suatu data dikatakan terdistribusi secara normal apabila
memiliki nilai uji kolmogorov Asym.Sig lebih besar dari 0.05.

48

Gambar IV.1
P-Plot
Hasil Pengolahan data tersebut, dapat diperoleh bahwa data dalam penelitian
berdistribusi normal. Suatu data dikatakan terdistribusi secara normal apabila titik
mengikuti garis diagonal pada grafik P-Plot.
c) Uji Multikolinearitas
Menurut Ghozali (2005: 91), uji multikolinearitas bertujuan untuk
menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas
( independen). Pada model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi
antar variabel independen, karena korelasi yang tinggi antara variabel-variabel
bebas dalam suatu model regresi linear berganda. Jika ada korelasi yang tinggi di
antara variabel-variabel bebasnya, maka hubungan antara variabel bebas terhadap
variabel terikatnya menjadi terganggu Pengujian multikolinearitas dilakukan
dengan melihat VIF antar variabel independen. Jika VIF menunjukkan angka
lebih kecil dari 10 menandakan tidak terdapat gejala multikolinearitas. Disamping
itu, suatu model dikatakan terdapat gejala multikolinearitas jika nilai VIF diantara
variabel independen lebih besar dari 10.
Tabel IV.4
Hasil Uji Multikolinearitas
Collinearity Statistics
Tolerance
,983
,983

VIF
1,017
1,017

Dari data diatas setalah diolah menggunakan SPSS dapat diliha bahwa
nilai tolerance setiap variabel lebih kecil nilai VIF < 10 hal ini membuktikan
bahwa nilai VIF setiap variabelnya bebas dari gejala multikolinearitas.

49

d) Uji Heteroskedastisitas
Menurut Ghozali (2005:105) uji heteroskedastisitas bertujuan menguji
apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu
pengamatan ke pengamatan yang lain, karena karena untuk melihat apakah
terdapat ketidaksamaan varians dari residual satu ke pengamatan ke pengamatan
yang lain. Model regresi yang memenuhi persyaratan adalah di mana terdapat
kesamaan varians dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain tetap
atau disebut homoskedastisitas. Suatu model regresi yang baik adalah tidak terjadi
heteroskedastisitas. Ada beberapa cara untuk menguji ada tidaknya situasi
heteroskedastisitas dalam varian error terms untuk model regresi. Dalam
penelitian ini akan digunakan metode chart (Diagram Scatterplot), dengan dasar
pemikiran bahwa :
1) Jika ada pola tertentu seperti titik-titik (poin-poin), yang ada
membentuk suatu pola tertentu yang beraturan (bergelombang,
melebar, kemudian menyempit), maka terjadi heteroskedastisitas.
2) Jika ada pola yang jelas, serta titik-titik menyebar keatas dan dibawah

0 pada sumbu Y maka tidak terjadi heteroskedastisitas.

50

Gambar IV.2
Scater Plot
Dari gambar scater plot diatas dapat dilihat bahwa titik menyebar keatas dan
dibawah sumbu 0 pada sumbu Y dan ini menunjukkan bahwa data penelitian ini tidak
terjadi gejala heteroskedasitas.
e) Uji Autokorelasi
Menurut Ghozali (2008 : 95) Uji autokorelasi bertujuan menguji apakah dalam
model regresi linear ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan
kesalahan pada periode t-1 (sebelumnya). Autokorelasi muncul karena observasi yang
berurutan sepanjang tahun yang berkaitan satu dengan yang lainnya. Hal ini sering
ditemukan pada time series. Ada berbagai cara untuk menguji adanya autokorelasi, seperti
metode grafik, uji LM, Uji Runs, Uji BG (Breusch Godfrey), dan DW (Durbin Watson).
Pada penelitian ini, uji autokorelasi dilakukan dengan menggunakan uji Run. Jika nilai
Asymp. Sig. (2-tailed) > 0,05 maka tidak ditemukan gejala autokorelasi, jika nilai
Asymp. Sig. (2-tailed) < 0,05 maka ditemukan gejala autokorelasi.
Tabel IV.5
Uji Autokorelasi
Mode
l
R
1

,281(a)

R
Square
,079

DurbinWatson
1,809

Sumber : Data diolah SPSS 2013


Dari tabel IV.7 memperlihatkan nilai statistik D-W sebesar 1,902 Angka ini
terletak di antara seperti kriteria yang dikemukakan oleh Ghozali (2008 : 95)

1. 1,65 < DW < 2,35 maka tidak ada autokorelasi.

51

2. 1,21 < DW < 1,65 atau 2,35 < DW < 2,79 maka tidak dapat
disimpulkan.
3. DW < 1,21 atau DW > 2,79 maka terjadi auto korelasi.
f) Persamaan Regresi
Analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis regresi berganda.
Dalam penelitian ini terdapat dua variabel independen, yaitu DER dan DAR serta
satu variabel dependen yaitu ROE. Adapun rumus dari regresi linier berganda
adalah sebagai berikut :
Y= a + b1x1 + b2x2 +e
Tabel IV.6
Uji Analisis Regresi Linier Berganda
Unstandardized
Coefficients

Model
1

(Constant)
DER
DAR

B
5,379
3,755

Std. Error
1,767
1,069

2,259

2,449

Standardized
Coefficients
Beta
,281

t
3,044
3,513

Sig.
,003
,001

,074

,922

,358

a Dependent Variable: ROE


a Dependent Variable: ROE

Berdasarkan perhitungan yang dilakukan menggunakan SPSS 15.0 diatas


akan didapat persamaan regresi berganda model regresi sebagai berikut :
ROE = 5,379 + 3,755DER + 2,259DAR
Berdasarkan persamaan regresi tersebut dianalisis pengaruh DER, DAR
terhadap ROE yaitu :
1.

5,379 menunjukkan bahwa apabila variabel DER, DAR adalah nol (0)
maka nilai ROE sebesar 5,379.

2.

3,755 menunjukkan bahwa apabila variabel DER ditingkatkan 100%


maka nilai ROE akan berkurang sebesar 9.3%

52

3.

2,259 menunjukkan bahwa apabila variabel DAR ditingkatkan 100%


maka nilai ROE akan berkurang sebesar 2,259%
Jadi dari hasil persamaan diatas menunjukkan terjadinya korelasi positif

apabila perubahan antara variabel DER, DAR diikuti oleh variabel ROE dengan
arah yang searah. Artinya apabila variabel DER, DAR yang meningkat, maka
akan diikuti peningkatan variabel ROE.
g) Uji Determinasi
Identifikasi koefisien determinasi ditunjukkan untuk mengetahui seberapa
besar kemampuan model dalam menerangkan variabel terikat. Jika koefisien
determinasi (R2) semakin besar atau mendekati 1, maka dapat dikatakan bahwa
kemampuan variabel bebas (X) adalah besar terhadap variabel terikat (Y). hal ini
berarti model yang digunakan semakinkuat untuk menerangkan pengaruh variabel
bebas teliti dengan variabel terikat. Sebaliknya, jika koefisien determinasi (R2)
semakin kecil atau mendekati 0 maka dapat dikatakan bahwa kemampuan variabel
bebas (X) terhadap variabel terikat (Y) semakin kecil.
Tabel IV.7
Uji Determinasi
Mode
l
R
1

,281(a)

R
Square
,079

Dari hasil uji R Square (uji determinasi) dapat dilihat bahwa 0,079 dan hal ini
menyatakan bahwa variable DER dan DAR sebesar 7,9% untuk mempengaruhi
variabel ROE sisanya dipengaruhi oleh factor lain atau variable lain.

53

4. Pengujian Hipotesis
Pengujian hipotesis yang digunakan dalam penelitian diuji adalah dengan
menggunakan analisis regresi berganda. Hipotesis pertama (H1) sampai hipotesis
ke dua (H2) dianalisis dengan menggunakan model regresi linear untuk melihat
pengaruh masing-masing terhadap DER dengan menggunakan t-test dan f-test:
a. Uji signifikansi simultan (F-test)
Uji F digunakan untuk menunjukkan apakah semua variabel independen
yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh secara bersama-sama
terhadap variabel dependen. Uji ini dilakukan dengan membandingkan fsig dengan
tingkat signifikan 0.05.
Untuk menguji apakah DER dan DAR berpengaruh signifikan terhadap
ROE, maka hipotesisnya :
-

H0 : 1 = 0 (tidak ada pengaruh, DER dan DAR terhadap ROE)

H1 : 1 0 (ada pengaruh signifikan DER dan DAR terhadap ROE)


Kriteria penerimaan/penolakan hipotesis adalah sebagai berikut :

Terima H1 jika nilai probabilitas F taraf signifikan sebesar 0.05 (Sig. 0.05)
Terima H0 jika nilai probabilitas F > taraf signifikan sebesar 0.05 (Sig. > 0.05)

54

Tabel IV.8
Uji F (Anova)
Model
1

Regression
Residual

Sum of
Squares
1561,684
18277,696

df
2
147

Total

19839,380
a Predictors: (Constant), DAR, DER
b Dependent Variable: ROE

Mean Square
780,842
124,338

F
6,280

Sig.
,002(a)

149

Berdasarkan hasil uji F diatas diperoleh nilai signifikan 0.002 (Sig. 0.002 <
0.05), dengan demikian H1 diterima . kesimpulannya : ada pengaruh signifikan
DER dan DAR terhadap ROE.
b. Uji signifikansi parsial (t-test)
Pengujian t-test digunakan untuk menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu
variabel independen terhadap variabel dependen.
Untuk menguji apakah DER dan DAR berpengaruh signifikan terhadap
ROE, maka hipotesisnya :
-

H0 : 1 = 0 (tidak ada pengaruh DER dan DAR terhadap ROE)

H1 : 1 0 (ada pengaruh signifikan DER dan DAR terhadap ROE)


Tabel IV.9
Uji t
Unstandardized
Coefficients

Model
1

(Constant)
DER
DAR

B
5,379
3,755

Std. Error
1,767
1,069

2,259

2,449

Standardized
Coefficients
Beta
,281

t
3,044
3,513

Sig.
,003
,001

,074

,922

,358

a Dependent Variable: ROE

Dari hasil penelitian ini diperoleh nilai signifikansi DER berdasarkan uji t
diperoleh sebesar 0,001 (Sig 0.001 < 0.05). dengan demikian Ho ditolak.
kesimpulannya : ada pengaruh signifikan DER terhadap ROE.

55

Dari hasil penelitian ini diperoleh nilai signifikansi DAR berdasarkan uji t
diperoleh sebesar 0.358 (Sig 0.358 > 0.05). dengan demikian Ho diterima.
kesimpulannya : Tidak ada pengaruh signifikan DAR terhadap ROE.

B. Pembahasan

Dari hasil penelitian ini diperoleh nilai signifikansi DER berdasarkan uji t
diperoleh sebesar 0,001 (Sig 0.001 < 0.05). dengan demikian Ho ditolak.
kesimpulannya : ada pengaruh signifikan DER terhadap ROE
Dari hasil penelitian ini diperoleh nilai signifikansi DAR berdasarkan uji t
diperoleh sebesar 0.358 (Sig 0.358 > 0.05). dengan demikian Ho diterima.
kesimpulannya : Tidak ada pengaruh signifikan DAR terhadap RO.
Berdasarkan hasil uji F diatas diperoleh nilai signifikan 0.002 (Sig. 0.002
< 0.05), dengan demikian H1 diterima . kesimpulannya : ada pengaruh signifikan
DER dan DAR terhadap ROE.
Dari hasil uji R Square (uji determinasi) dapat dilihat bahwa 0,079 dan
hal ini menyatakan bahwa variable DER dan DAR sebesar 7,9% untuk
mempengaruhi variabel ROE sisanya dipengaruhi oleh factor lain atau variable
lain.
Menurut Kasmir (2010, hal. 204) mengemukakan tingkat modal (DAR,
DER dan LDER) yang tinggi akan diikuti dengan tingkat ROE yang tinggi, karena
ROE menunjukan efesiensi penggunaan modal.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi (return on equity) dalam
meningkatkan tingkat pengembalian ekuitas perusahaan, maka dengan cepat dapat
dilihat bahwa peningkatkan tingkat pengembalian dapat diperoleh dengan tiga

56

cara yaitu: meningkatkan penjualan tanpa meningkatkan beban dan biaya secara
proforsional, mengurangi harga pokok penjualan atau beban operasi usaha dan
meningkatkan penjualan secara relative atas dasar nilai aktiva baik dengan
meningkatkan penjualan atau mengurangi jumlah investasi pada ekuitas
perusahaan.
Bahwasanya ada pengaruh yang signifikan Debt to Assset Ratio Terhadap
Return Equity yang dimana untuk menambah profitabilitas perusahaan melalui
tingkat hutang maka seberapa besar kemampuan tingkat pengembalian assets yang
diperoleh oleh perusahaan nantinya sehingga perusahaan tetap mampu dalam
membayar hutang yang diperoleh melalui assets perusahaan.
ROE merupakan kemampuan perusahaan menghasilkan laba yang
maksimal dari modal sendiri (modal saham dan laba ditahan) perolehan ROE
dalam perusahaan akan sangat dipengaruhi oleh besarnya DAR, DER dan LDER
yang ada dalam perusahaan.
DAR adalah aktiva / asset yang dimiliki oleh perusahaan dan kemampuan
perusahaan untuk menghasilkan profitabilitas dari aktiva yang ada. Oeh karena itu
semakin meningkat aktiva dalamp perusahaan

maka akan semakin besar

kemungkinan memperoleh laba.


DER adalah rasio hutang dimana dengan rasio ini akan diketahui berapa
besar kemampuan membayar hutang perusahaan terutama jika perusahaan
tersebut dilikuidasi, semakin tinggi maka semakin menunjukan kemampuan
perusahaan melunasi hutang yang ada.

57

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Dari pembahasan yang telah diuraikan pada bab sebelumnya, maka dapat
ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Dari hasil penelitian ini diperoleh nilai signifikansi DER berdasarkan uji
t diperoleh sebesar 0,001 (Sig 0.001 < 0.05). dengan demikian Ho
ditolak. kesimpulannya : ada pengaruh signifikan DER terhadap ROE
2. Dari hasil penelitian ini diperoleh nilai signifikansi DAR berdasarkan uji
t diperoleh sebesar 0.358 (Sig 0.358 > 0.05). dengan demikian Ho
diterima. kesimpulannya : Tidak ada pengaruh signifikan DAR
terhadap ROE.
3. Berdasarkan hasil uji F diatas diperoleh nilai signifikan 0.002 (Sig.
0.002 < 0.05), dengan demikian H1 diterima . kesimpulannya : ada
pengaruh signifikan DER dan DAR terhadap ROE.
4. Berdasarkan hasil uji F diatas diperoleh nilai signifikan 0.002 (Sig.
0.002 < 0.05), dengan demikian H1 diterima . kesimpulannya : ada
pengaruh signifikan DER dan DAR terhadap ROE

B. Saran
Berdasarkan kesimpulan diatas maka saran-saran yang dapat diberikan
pada penelitian selanjutnya antara lain:
1. Penelitian selanjutnya diharapkan untuk menggunakan periode penelitian
yang lebih panjang sehingga diharapkan dapat memperoleh hasil yang
lebih akurat dan dapat digeneralisasi
57

58

2. Penelitian selanjutnya diharapkan dapat menambah variabel independen


yang turut mempengaruhi ROE.
3. Pada perusahaan real estate dan property sebaiknya mengurangi pinjaman
hutang agar dapat mengurangi beban-beban hutang perusahaan yang akan
meningkatkan laba yang dihasilkan.
4. Penelitian selanjutnya diharapkan untuk menggunakan sampel yang lebih

banyak dengan karakteristik yang lebih beragam dari berbagai sector


sehingga hasilnya lebih baik lagi.