Anda di halaman 1dari 11

Kasus 4

Topik: Kasus etika dan medikolegal


Tanggal (kasus):19/10/2015
Presenter: dr. Ahmad Hasan
Tanggal presentasi: /10/2015

Pendamping: dr. Clara Magdalena

Tempat presentasi: PKC Duren Sawit


Objektif presentasi:
Keilmuan
Ketrampilan
Penyegaran
Tinjauan Pustaka
Diagnostik
Manajemen
Masalah
Istimewa
Neonatus Bayi
Anak
Remaja
Dewasa
Lansia
Deskripsi: Wanita, 70 tahun, membuat surat kematian suami
Tujuan: mempelajari kasus etika tentang Hak dan Kewajiban surat kematian
Bahan bahasan:
Tinjauan Pustaka Riset
Kasus
Cara membahas:

Diskusi

Presentasi dan
diskusi

Email

Bumil

Audit
Pos

Data Pasien:
Nama Wahana: PKC Duren
Sawit

Nama: Ny. S

Nomor Registrasi: 5443

Telp:

Terdaftar sejak:22/5/2015

Data utama untuk bahan diskusi:


1. Diagnosis/ Gambaran Klinis:
Membuat Surat Kematian dan prosedur pemeriksaan luar jenazah dan aspek medikolegalnya
2. Riwayat pengobatan:
Istri pasien dan pengurus rt membawa surat pengantar dari rt 005 rw 08 kel. malaka sari untuk membuat surat
kematian a/n suaminya alm Ismail Anwar yang meninggal senin dan 19 oktober 2015 pukul 13.30 wib dirumah
dengan surat keterangan dari dokter praktek.
3. Riwayat kesehatan/ penyakit:
Keluarga Pasien menyangkal ada riwayat HT, DM , dll
4. Riwayat keluarga:
Tidak ada anggota keluarga yang memiliki riwayat yang dialami pasien
5. Riwayat pekerjaan:Pensiunan

6. Lain-lain:
-. setelah mendapatkan laporan kematian adalah melakukan pemeriksaan luar untuk menentukan (1) benar tidaknya orang tersebut telah
meninggal, (2) ada tidaknya luka-luka atau tanda-tanda keracunan serta (3) mencari kemungkinan kematian akibat penyakit tertentu.

Daftar Pustaka:
a.
b.
c.
Hasil Pembelajaran:
1.
2.
3.

Subjektif

Istri pasien dan pengurus rt membawa surat pengantar dari rt 005 rw 08 kel.
malaka sari untuk mebuat surat kematian a/n suaminya alm Ismail Anwar yang meninggal
senin dan 19 oktober 2015 pukul 13.30 wib dirumah dengan surat keterangan dari dokter
praktek.

Objektif
Keadaan umum: death, henti nafas, henti jantung
Kesadaran: death
Tanda vital:

Nadi: 0 kali/menit, reguler


Tekanan darah: 0 mmHg
Frekuensi nafas: 0 kali/menit
Suhu: 0

Kepala/leher: konjungtiva anemis (-), sklera ikterik (-) / JVP = 5-2 cmHg,
Thoraks:
Paru
Inspeksi: Gerakan napas simetris kiri dan kanan
Palpasi : fremitus kiri sama dengan kanan
Perkusi : sonor dikedua lapang paru
Auskultasi

: vesikuler, rhonki -/-, wheezing (-/-)

Jantung :
I

Inspeksi: ictus cordis tidak tampak


Palpasi : ictus cordis tidak teraba
Perkusi: dalam batas normal
Auskultasi : BJ I/II murni reguler, bising (-), murmur (-)

Abdomen:
Inspeksi

: datar, supel

Auskultasi

: bising usus positif normal

Perkusi

: timpani di seluruh kuadran abdomen

Palpasi

: nyeri tekan (-), massa (-), nyeri ketok (-)

Extremitas : akral hangat (+), oedem ekstremitas superior


Regio Luka :
Vulnus pucntum palmar manus sinistra 1x0.5x0,5 cm, oedem daerah sekitar luka, hiperemis,
teraba hangat, nyeri tekan, darah (-), pus (-)
TERAPI:
- Membuat surat kematian
Edukasi :
- Kontrol luka 3 hari
- Luka jangan kena basah
- Makan makanan yang tinggi protein (cth: telur, ikan, tahu, tempe) jika tidak ada alergi
-

makanan
Minum obat secara teratur sesuai petunjuk
Antibiotik dihabiskan

Keterangan dari Pasien:


a. Pasien memberikan informasi seadanya dan tidak jujur tentang masalah kesehatannya
b. Pasien mendesak dokter untuk segera dilakukan penangan segera
Rangkuman Hasil Pembelajaran
Setiap dokter Puskesmas di Indonesia mempunyai kewajiban untuk melakukan pelayanan
kesehatan sesuai dengan program kesehatan yang dicanangkan pemerintah. Salah satu diantara
tugas itu adalah pemeriksaan terhadap jenazah yang meninggal dalam daerah cakupan
Puskesmas yang bersangkutan. Jika ada ada kematian warga yang tinggal atau meninggal dalam
cakupan wilayah suatu Puskesmas tertentu, maka keluarga orang yang meninggal tersebut
mungkin melaporkan kematian tersebut ke Puskesmas. Dokter Puskesmas yang mendapat
laporan tentang kematian tersebut wajib melakukan pemeriksaan atas jenazah tersebut dan
memberikan bantuan kepada keluarga orang yang meninggal tersebut untuk pengurusan jenazah
lebih

lanjut.

Pada prinsipnya, penanganan jenazah yang meninggal akibat hal yang wajar (akibat penyakit
atau tua) berbeda dengan yang tidak wajar (akibat bunuh diri, kecelakaan atau pembunuhan).
Dokter Puskesmas, sebagai petugas kesehatan pelayanan primer dalam masyarakat, bertanggung
jawab atas setiap kematian yang terjadi dalam wilayah kerjanya. Sebagai salah satu konsekuensi
dari tugas ini adalah adanya kewajiban setiap dokter Puskesmas untuk secara berkala melaporkan
kasus-kasus kematian di wilayah Puskesmasnya ke Dinas Kesehatan. Dengan demikian, setiap

dokter Puskesmas sudah selayaknya memiliki pengetahuan mengenai tata cara pemeriksaan
jenazah serta pengurusan jenazah lainnya sehubungan dengan tugasnya tersebut.

Peraturan daerah (Perda) nomor 2 tahun 1992 tentang Pemakaman Umum dalam wilayah DKI
Jakarta mengatur tentang kewajiban warga dalam penanganan jenazah yang akan dimakamkan di
DKI Jakarta (pasal 8). Dalam peraturan yang sama, pada Pasal 9 dikatakan bahwa petugas
Puskesmas setempat wajib melakukan pemeriksaan atas jenazah sehubungan dengan adanya
laporan warga mengenai adanya kematian.
Pemeriksaan jenazah seyogyanya dilakukan sendiri oleh dokter karena pada prinsipnya hanya
dokterlah yang memiliki cukup pengetahuan untuk membedakan apakah suatu kematian itu
wajar atau tidak wajar. Begitu seorang dokter Puskesmas mendapatkan laporan mengenai adanya
kematian salah seorang warganya, maka dokter tersebut wajib melakukan pemeriksaan luar atas
jenazah tersebut.
Dalam pelaporan kematian tersebut, ada kemungkinan dokter Puskesmas merupakan orang yang
pertama dilapori oleh kerabat almarhum (ah), tetapi bisa juga keluarga melapor ke Puskesmas
dengan membawa surat keterangan mati dari dokter praktek atau surat pernyataan Death on
Arrival (DOA) dari Rumah Sakit. Kasus-kasus ini tidak boleh ditolak oleh dokter Puskesmas,
karena hal ini merupakan salah satu kewajiban yasng dibebankan kepada dokter sebagai petugas
Puskesmas.
Pemeriksaan jenazah oleh dokter dapat dilakukan di Puskesmas, jika di Puskesmas tersebut ada
fasilitas untuk pemeriksaan tersebut. Akan tetapi, dalam keadaan tertentu, jika pemeriksaan di
Puskesmas tak mungkin dilakukan, pemeriksaan dapat dilakukan di tempat lain, baik di rumah
almarhum ataupun di tempat lain yang memenuhi syarat.
Pemeriksaan jenazah harus dilakukan pada suatu tempat yang penerangannya baik. Sebelum
dokter melakukan pemeriksaan, ia sebaiknya melakukan allo-anamnesis terhadap keluarga
korban, khususnya untuk mencari data mengenai riwayat kematian, adanya gejala yang
dikeluhkan atau diketahui diderita almarhum menjelang kematiannya, adanya penyakit yang
diderita baik yang baru maupun yang lama serta adanya riwayat pengobatan atau minum obat
sebelumnya. Dengan pengetahuan dan pengalaman klinisnya, berdasarkan keterangan tersebut
diatas, dokter dapat meyakini kemungkinan adanya penyakit tertentu sebagai penyebab kematian
orang tersebut. Kesimpulan dokter ini merupakan titik awal untuk pencarian penyebab kematian
yang lebih pasti berdasarkan hasil-hasil temuan pada pemeriksaan jenazah.
Pada setiap kasus kematian, dokter harus melakukan pemeriksaan luar jenazah secara seksama,
lengkap dan teliti. Jika pada pemeriksaan tersebut dokter tidak menemukan adanya luka atau
tanda kekerasan lainnya, tidak menemukan tanda-tanda keracunan dan anamnesisnya mengarah
pada kematian akibat penyakit, maka dokter dapat langsung memberikan surat kematian
(Formulir A) dan jenazahnya kepada keluarga korban. Dalam Formulir A, dokter Puskesmas
harus mencantumkan nomor penyakit yang diduganya merupakan penyebab kematian, sesuai
dengan klasifikasi penyakit dalam International Classification of Diseases (ICD) sebagaimana

tercantum pada bagian belakang Formulir A tersebut. Formulir A diperlukan oleh keluarga
korban untuk berbagai keperluan administrasi kependudukan, seperti untuk administrasi dalam
rangka penyimpanan jenazah, pengangkutan jenazah keluar kota/negeri serta pembuatan Akte
Kematian (yang diperlukan untuk pengurusan pembagian warisan, asuransi, izin kawin lagi dsb).
Jika oleh suatu alasan tertentu, keluarga ingin menyimpan jenazah lebih dari 24 jam sebelum
dikubur atau dikremasi, maka demi keamanan lingkungan terhadap jenazah selayaknya
dilakukan pengawetan. Pada kasus kematian wajar akibat penyakit, pengawetan jenazah dapat
langsung dilakukan setelah pemeriksaan luar jenazah selesai dilakukan. Pengawetan jenazah
pada kasus ini terutama dilakukan untuk mencegah atau menghambat proses pembusukan,
membunuh kuman serta mempertahankan bentuk mayat seperti pada keadaan awalnya.
Persiapan Pemeriksaan Jenazah
Untuk melakukan pemeriksaan luar jenazah, fasilitas yang perlu disiapkan adalah sebagai
berikut:
Meja pemeriksaan: untuk ini dapat digunakan meja atau ranjang apapun, asalkan dokter dapat
melakukan pemeriksaan secara aman dan nyaman dan penerangan nya cukup.
Alat tulis dan alat ukur: yang perlu disiapkan adalah papan alas tulis, pen, penggaris 30 cm serta
meteran baju (untuk mengukur tinggi badan)
Formulir pemeriksaan luar (laporan obduksi)
Wadah untuk pemeriksaan penunjang: berupa kantung plastik, tabung reaksi, gelas obyek dan
spruit.
Strip test narkoba: sebaiknya disiapkan strip test yang dapat mendeteksi amfetamin, metamfetamin, opiat, kanabis dan kokain.

Pemeriksaan luar jenazah dilakukan secara teliti dan seksama dengan mengikuti format laporan
obduksi. Adapun data-data yang perlu dicari dan dicatat dalam laporan obduksi adalah data-data
berikut ini:
Dokter pemeriksa, nama serta alamat instansinya
Tanggal dan jam pemeriksaan
Penulis laporan obduksi
Identitas jenazah: data ditulis sesuai dengan data pada kartu identitas atau SPV
Label: disini dicatat ada tidaknya label, bahan label, ada tidaknya lak dan isi informasi pada
label.
Tutup/bungkus mayat: disini dicatat kain atau selimut yang digunakan untuk membungkus atau
menutupi mayat, yaitu data mengenai jenis bahan, warna, motif bahan serta keterangan lainnya
(lusuh, berlumur lumpur/darah dsb)
Perhiasan: disini dicatat mengenai jenis perhiasan, bahan, warna serta keterangan lain mengenai

perhiasan yang dikenakan


Pakaian: disini dicatat pakaian yang dikenakan, dideskripsikan mulai dari atas ke bawah, dari
luar ke dalam, yaitu data mengenai jenis pakaian (baju kemeja lengan panjang, kaos oblong dsb),
bahan (kaos, katun,dsb), warna, merek serta nomor dan keterangan lainnya
Benda disamping mayat: disini dicatat benda-benda yang ditemukan di samping mayat.
Tanatologi: disini dicatat mengenai perubahan-perubahan setelah kematian yang meliputi data
(1) lebam mayat (lokasinya, warnanya dan apakah hilang atau tidak dengan penekanan), (2) kaku
mayat (lokasinya, mudah atau tidak dilawan) serta (3) perubahan kematian lanjut (jika ada), yaitu
tanda tanda pembusukan, adiposera atau mumifikasi (lokasi dan deskripsinya).
Identitas: disini dicatat mengenai jenis kelamin, ras (apakah orang Indonesia, negro, kulit putih
dsb), warna kulit, status gizi, tinggi badan, berat badan serta kondisi zakar (untuk pria) apakah
disunat atau tidak.
Identitas khusus: disini dicatat identifikasi khusus, yaitu adanya jaringan parut (bekas luka atau
operasi), tattoo, tahi lalat, tompel, tanda lahir, pincang, serta ciri khusus lain. Deskripsi dilakukan
sedetil mungkin, meliputi lokasi, gambaran tanda identifikasi tersebut serta ukurannya.
Bulu-bulu: disini dicatat mengenai rambut, alis mata, bulu mata, kumis, serta jenggot, yang
meliputi deskripsi warna, tumbuhnya (lebat/jarang, lurus/ikal/ keriting) serta panjangnya.
Mata: disini dicatat kondisi kedua mata meliputi data tentang selaput bening (kornea) apakah
masih jernih atau sudah keruh, teleng mata (pupil) bagaimana bentuknya serta berapa
diameternya, warna tirai mata (iris), selaput bola mata (sclera atau konjunctiva bulbi) apakah
warnanya pucat, kuning atau kemerahan serta ada tidaknya bintik atau bercak perdarahan,
selaput kelopak mata (conjuctiva palpebra) apakah warnanya pucat, kuning atau kemerahan dan
apakah menunjukkan adanya bintik atau bercak perdarahan.
Hidung (dicatat bentuknya, apakah biasa, pesek atau mancung), telinga (dicatat bentuknya
apakah biasa, atau ada ciri khusus tertentu) dan lidah (dicatat apakah lidah terjulur atau tergigit).
Gigi geligi: disini dicatat gigi geligi pada rahang atas kiri, atas kanan, bawah kiri dan bawah
kanan, yaitu data mengenai jumlah gigi, keutuhannya, ada tidaknya bolong/caries, adanya
kelainan bentuk, kawat, tambalan dsb.
Lubang-lubang: disini dicatat mengenai apa yang keluar dari lubang-lubang tubuh (mulut,
hidung, telinga, kemaluan dan anus), yaitu bentuknya (cairan, muntahan , darah dsb), warna serta
baunya. Khusus untuk mulut dan hidung penilaian dilakukan setelah pemeriksa menekan dinding
dada dan melihat adanya benda yang keluar dari lubang mulut dan hidung serta membaui hawa
yang keluar dengan cara mengibaskan udara mulut/hidung kearah pemeriksa.
Luka luka: disini dicatat luka-luka pada tubuh korban sedetil dan selengkap mungkin sebagai
berikut:
Luka lecet geser: dicatat lokasi, koordinat, arah serta ukurannya
Misal: Pada dada kiri, 3 cm dari garis pertengahan depan (GPD), 10 cm dibawah bahu terdapat

luka lecet geser, arah dari kiri ke kanan, ukuran 3 cm x 2 cm.


Luka lecet gores: dicatat lokasi, koordinat, arah serta panjangnya.
Misal: Pada lengan atas kanan bagian depan, 10 cm dibawah bahu, terdapat luka lecet gores, arah
dari atas ke bawah, sepanjang 10 cm.
Luka lecet tekan: dicatat lokasi, koordinat, bentuk, serta ukurannya.
Misal: Pada perut kanan atas, 2 cm dari GPD, 4 cm diatas pusat terdapat luka lecet tekan, bentuk
bulat, diameter 3 cm.
Memar: dicatat lokasi, koordinat, warna serta ukurannya.
Misal: Pada punggung kanan, 3 cm dari GPB, 10 cm dibawah puncak bahu terdapat memar,
kebiruan dengan ukuran 4 cm x 10 cm.
Luka terbuka: dicatat lokasi, koordinat (sumbu X dan Y serta jarak dari tumit), tepi luka (rata/tak
rata), sudut luka (tajam/tumpul), dinding luka (kotor/bersih), dasar (jaringan bawah kulit, otot,
tulang), adanya jembatan jaringan, sekitar luka (adanya luka lecet/memar serta ukurannya),
ukuran luka dalam keadaan aslinya dan ukuran setelah luka dirapatkan.
Misal: Pada dada kiri, 3 cm GPD, 10 cm dibawah puncak bahu, 140 cm diatas tumit, terdapat
luka terbuka, tepi rata, sudut kanan atas tajam sudut kiri bawah tumpul, dinding luka bersih,
dasar otot yang robek, tak ada jembatan jaringan, sekitar luka bersih, ukuran 4 cm x 1 cm, bila
dirapatkan berupa garis yang berjalan dari kanan atas ke kiri bawah membentuk sudut 45 derajat
dengan gais horizontal sepanjang 4,5 cm.
Luka tembak: dicatat lokasi, kkordinat (sumbu X, Y serta jarak dari tumit), bentuk luka (lubang,
bintang atau luka terbuka), ukurannya, adanya lecet di sekitar lubang luka (kelim lecet) serta
ukuran lebar lecetnya, adanya jelaga di sekitar luka (kelim jelaga) serta ukurannya, adanya
bintik-bintik hitam di sekitar luka (kelim tattoo) serta ukurannya, adanya cekungan di sekitar
lubang luka (jejas laras) dan ukurannya.
Misal: Pada dada kiri, 5 cm dari GPD, 15 cm dibawah bahu, 135 cm diatas tumit terdapat luka
berbentuk lubang bulat berdiameter 6 mm, disekitar lubang terdapat lecet melingkar, pada sisi
kiri, kanan dan atas masing-masing selebar 1 mm dan pada sisi bawah lebar 2 mm, di sekitar
luka terdapat kotoran jelaga pada daerah seluas 4 cm x 5 cm dan adanya bintik-bintik hitam pada
daerah seluas 2 cm x 3 cm.
Jejas jerat atau gantung pada leher: dicatat bentuk luka, lokasi ketinggian luka pada GPD, sisi
kanan dan kiri, lokasi hilangnya jejas serta lokasi (perkiraan lokasi) simpul serta lebar luka pada
lokasi-lokasi tersebut.
Misal: Pada leher terdapat luka lecet tekan melingkari leher, berupa daerah yang mencekung,
berwarna kecoklatan, pada perabaan keras seperti kertas perkamen, dengan beberapa gelembung
berisi air pada tepi luka di sekitar GPD, pada GPD setinggi jakun dengan lebar 4 mm, pada sisi
kanan 7 cm dibawah lubang telinga selebar 4 mm, pada sisi kiri 8 cm dibawah lubang telinga
selebar 4 mm, pada bagian belakang luka menghilang pada 4 cm di kanan dan kiri GPB, 4 cm
dibawah batas rambut belakang, jejas simpul tidak ditemukan tetapi diperkirakan letaknya tepat
GPB 2 cm diatas batas rambut belakang.
Luka bakar: dicatat lokasi, koordinat, deskripsi luka serta luasnya (mengikuti rule of nine)
Misal: Pada punggung kanan mulai dari puncak bahu dan GPB terdapat luka berupa daerah kulit
ari yang mengelupas dengan dasar berwarna kemerahan, pada bagian tepi terdapat gelembung-

gelembung berisi cairan jernih, meliputi daerah seluas 9 %.


Patah tulang: disini dicatat mengenai tulang yang patah, yaitu nama tulangnya, lokasi patahan,
jenis patah (terbuka, tertutup).
Lain-lain: disini dicatat keterangan tambahan yang ditemukan dan tidak dapat dimasukkan ke
dalam kelompokan data-data diatas, seperti adanya luka-luka lama, badan yang basah, kulit yang
keriput, luka bekas suntikan, golongan darah, hasil pemeriksaan urin dsb.
Pembuatan Kesimpulan
Pada kasus kematian wajar, setelah melakukan pemeriksaan luar jenazah dokter umumnya tak
perlu membuat kesimpulan pemeriksaan dalam bentuk tertulis. Dokter pemeriksa cukup
membuat catatan mengenai kasus tersebut serta hasil pemeriksaannya secara garis besar dalam
buku catatan kematian di Puskesmas.Kesimpulan penyebab kematian pada kasus ini
diperkirakannya berdasarkan allo-anamnesis serta pemeriksaan luar jenazah, yang dicantumkan
dalam formulir A.
Pada kasus kematian tidak wajar, kesimpulan penyebab kematian yang mungkin dibuat oleh
dokter pemeriksa adalah sebagai berikut:
Pada kasus dengan pemeriksaan luar saja: dokter harus menyatakan bahwa Penyebab kematian
tidak dapat ditentukan karena tidak dilakukan bedah jenazah, sesuai dengan permintaan
penyidik
Pada kasus pulang paksa: dokter tak perlu membuat kesimpulan apapun, karena secara hukum,
dokter dianggap tak pernah memeriksa korban.
Pada kasus yang diotopsi dan penyebab kematiannya dapat ditentukan: dokter menyatakan
penyebab kematian (akibat penyakit, kekerasan atau keracunan), mekanisme kematian
(perdarahan, paru-paru kempes, infeksi dsb) serta keterangan lain yang perlu.
Misalnya: Penyebab kematian akibat kekerasan tumpul pada kepala yang mengakibatkan patah
tulang atap dan dasar tengkorak, perdarahan dibawah selaput keras otak, serta memar dan
robeknya jaringan otak besar. Berdasarkan gambaran lukanya, kekerasan tersebut merupakan
kekerasan akibat pukulan benda tumpul berpenampang bulat dengan diameter 4 cm pada kepala.
Pada kasus yang diotopsi tapi penyebab kematiannya tetap tidak dapat ditentukan: disini harus
diakui bahwa penyebab kematian tidak dapat ditentukan dengan menyebutkan alasannya. Selain
itu dokter boleh juga menyebutkan kemungkinan penyebab kematian berdasarkan analisis ilmiah
menurut pengetahuan dan pengalamannya.
Misal: Pada pemeriksaan terhadap kerangka ini ditemukan adanya patah tulang berupa lubang
bulat pada dahi kanan dan belakang kepala kanan, yang berdasarkan gambaran patahannya
merupakan luka tembak yang masuk dari dahi kanan, menembus rongga tengkorak dan keluar di
belakang kepala kanan. Penyebab kematian tidak dapat ditentukan karena mayat hanya berupa
kerangka saja. Akan tetapi, jika sekiranya pada kasus ini tidak ada kemungkiann penyebab
kematian lainnya pada jaringan lunak dan bagian tubuh lainnya, maka dapat diperkirakan luka
tembak pada kepala ini dapat menyebabkan kematian.
Berbagai kesimpulan pada kasus-kasus kematian tidak wajar ini, hendaknya dituliskan secara

detil pada bagian kesimpulan dari laporan obduksi dan disalin kembali untuk dijadikan bahan
pembuatan Kesimpulan dari Visum et Repertum yang dibuat oleh dokter.
Penutup
Sebagai penanggung jawab kesehatan dalam wilayah Puskesmas, dokter Puskesmas mempunyai
kewajiban untuk melakukan pemeriksaan jenazah yang dilaporkan meninggal atau bertempat
tinggal dalam wilayah cakupan Puskesmas tersebut. Hal yang pertama harus dilakukan dokter
setelah mendapatkan laporan kematian adalah melakukan pemeriksaan luar untuk menentukan
(1) benar tidaknya orang tersebut telah meninggal, (2) ada tidaknya luka-luka atau tanda-tanda
keracunan serta (3) mencari kemungkinan kematian akibat penyakit tertentu.
Jika setelah pemeriksaan luar dokter tidak menemukan adanya luka serta tanda kekerasan
lainnya, tak ada tanda yang mengarah pada kemungkinan keracunan dan tak ada kecurigaan
kematian akibat hal yang tidak wajar (karena bunuh diri, kecelakaan atau pembunuhan) dan
dokter telah dapat memperkirakan penyebab kematiannya akibat penyakit tertentu, maka dokter
dapat langsung membuat formulir A dan menyerahkan mayat kepada keluarganya. Pencatatan
pemeriksaan luar jenazah cukup dilakukan dalam buku khusus pencatatan kematian.
Jika pada pemeriksaan luar dokter mendapatkan adanya luka atau tanda kekerasan lainnya,
adanya dugaan keracunan atau adanya kecurigaan kematian terjadi akibat penyebab yang tidak
wajar (bunuh diri, kecelakaan atau pembunuhan), maka dokter wajib melaporkan kematian
tersebut ke polisi resort terdekat. Pada kasus semacam ini, penyidik akan mengirimkan Surat
Permintaan Visum et Repertum jenazah ke dokter, yang berisi permintaan pemeriksaan luar
jenazah (sering disebut pemeriksaan jenazah) atau pemeriksaan luar dan dalam jenazah (sering
disebut pemeriksaan bedah jenazah atau otopsi). Dokter yang diminta oleh penyidik untuk
melakukan pemeriksaan jenazah WAJIB melakukan pemeriksaan tersebut, sesuai dengan
permintaan penyidik. Pada kasus ini pemeriksaan jenazah harus dilakukan secara teliti dan
lengkap dengan mengacu pada suatu laporan obduksi yang baku. Setelah selesai dilakukan
pemeriksaan, dokter membuat laporan pemeriksaan berupa Visum et Repertum jenazah. Pada
kasus ini pemberian Formulir A dan penyerahan jenazah kepada keluarganya baru dapat
dilakukan setelah pemeriksaan selesai dilakukan menurut permintaan penyidik.