Anda di halaman 1dari 11

PERAN POLRI DALAM UPAYA PENANGGULANGAN

PREMANISME DI INDONESIA
A. Pendahuluan
Perkembangan jaman sekarang ini tidak hanya membawa pengaruh
besar pada Negara Indonesia melainkan juga berdampak pada perkembangan
masyarakat, perilaku, maupun pergeseran budaya dalam masyarakat. Terlebih
lagi setelah masa reformasi kondisi ekonomi bangsa ini yang semakin
terpuruk. Tidak hanya mengalami krisis ekonomi saja namun juga berdampak
pada krisis moral. Terjadinya peningkatan kepadatan penduduk, jumlah
pengangguran yang semakin bertambah, didukung dengan angka kemiskinan
yang tinggi mengakibatkan semakin tingginya angka kriminalitas terutama di
daerah urban yang padat penduduk. Salah satu bentuk kejahatan yang terus
berkembang dewasa ini adalah aksi premanisme, yang biasanya dilakukan
melalui pemerasan dalam bentuk penyediaan jasa yang sebenarnya tidak
dibutuhkan. Premanisme saat ini berkembang menjadi lebih komplek.
Perkembangannya hampir meliputi berbagai bidang. Dari birokrasi, bisnis,
agama, hukum, hingga dalam dunia maya banyak sekali tindakan-tindakan
premanisme.
Sesuai dengan ungkapan klasik ubi societasibiius yang berarti hukum
ada sejak masyarakat

itu ada (Marzuki, 2008:41), maka kehidupan dan

perilaku masyarakat harus diatur oleh hukum agar pelaksanaan kehidupan


bermasyarakat dapat berjalan dengan tertib dan aman. Secara umum hukum
pidana berfungsi mengatur dan menyelenggarakan kehidupan masyarakat agar
dapat tercipta dan terpeliharanya ketertiban umum (Chazawi, 2002:15).
Sehingga tentu saja praktik premanisme tersebut diharapkan sudah dapat
diakomodir dengan penegakan hukum secara konsisten dari para penegak
hukum di Indonesia. Namun pada kenyataannya masih banyak kita jumpai
tindak kekerasan yang terjadi di masyarakat. Fenomena semacam ini
mengindikasikan bahwa ternyata hukum pidana yang mempunyai sanksi yang

bersifat

sebagai

hukuman

(punishment)

belum

mampu

mengatasi

permasalahan-permasalahan yang terjadi di masyarakat secara maksimal.


Kepolisian Republik Indonesia (Polri) dalam hal ini berkaitan dengan
fungsinya sebagai pengayom masyarakat mempunyai peran yang sangat besar
dalam upaya penanggulangan terhadap premanisme. Pihak kepolisian yang
begitu dekat dengan masyarakat diharapkan mampu mengambil tindakan yang
tepat dalam menyikapi fenomena-fenomena premanisme di masyarakat. Tentu
saja ini tidak terlepas dari partisipasi seluruh masyarakat untuk membantu
pihak kepolisian dalam mengungkap aksi-aksi premanisme yang terjadi di
sekeliling mereka. Dalam upaya memberantas kejahatan premanisme tersebut
maka seluruh jajaran Kepolisian Republik Indonesia memiliki kewajiban untuk
melakukan

pemberantasan

premanisme

dan

kejahatan

jalanan

guna

meminimalisir kejahatan dan menciptakan situasi yang aman dan tenteram.


Dengan berpedoman pada peraturan perundang-undangan yang ada dan berlaku
serta pedoman pelaksanaan Polri yang telah diatur dalam undang-undang Nomor
2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia.

B. Perumusan Masalah
Premanisme adalah salah satu masalah publik yang marak terjadi
dewasa ini. Perkembangannya hampir meliputi berbagai bidang. Dari
birokrasi, bisnis, agama, hukum, hingga dalam dunia maya seringkali
dijumpai tindakan-tindakan premanisme. Praktik premanisme tersebut tidak
hanya terjadi di kalangan masyarakat bawah, namun juga merambah kalangan
masyarakat atas yang notabene didominasi oleh para kaum intelektual.
Kepolisian dalam hal ini berkaitan dengan fungsinya sebagai pengayom
masyarakat mempunyai peran yang sangat besar dalam upaya penanggulangan
terhadap premanisme. Namun tentu saja hal ini tidak terlepas dari partisipasi
seluruh masyarakat untuk membantu pihak kepolisian dalam mengungkap
aksi-aksi premanisme yang terjadi di sekeliling mereka.
Sesuai dengan uraian di atas, maka permasalahan yang hendak dibahas
dalam penulisan ini adalah:

1. Bagaimana kajian tentang premanisme sebagai masalah publik?


2. Bagaimanakah peran Polri dalam pemberantasan premanisme?
C. Pembahasan
1. Premanisme Sebagai Masalah Publik
Dalam wikipedia dijelaskan bahwa premanisme berasal dari bahasa
Belanda vrijman yang berarti orang bebas, merdeka. Sedangkan imbuhan
isme berarti aliran. Dalam hal ini, premanisme adalah sebutan pejoratif
yang sering digunakan untuk merujuk kepada kegiatan sekelompok orang
yang mendapatkan penghasilannya terutama dari pemerasan kelompok
masyarakat lain. (http://id.wikipedia.org)
Sedangkan dalam kamus Besar Bahasa Indonesia, edisi ke-2 yang
diterbitkan Balai Pustaka (1993:476) memberi arti preman dalam level
pertama. Kamus ini menaruh preman dalam dua entri: (1) preman dalam
arti partikelir, bukan tentara atau sipil, kepunyaan sendiri; dan (2) preman
sebagai sebutan kepada orang jahat (penodong, perampok, dan lain-lain).
Dalam level kedua, yakni sebagai cara kerja, preman sebetulnya bisa
menjadi identitas siapapun. Seseorang atau sekelompok orang bisa diberi
label preman ketika ia melakukan kejahatan (politik, ekonomi, sosial)
tanpa beban. Di sini, preman merupakan sebuah tendensi tindakan amoral
yang dijalani tanpa beban moral.
Pada awalnya, sebutan preman lebih berkutat pada orang-orang
yang meresahkan di pasar, terminal dan di tempat-tempat umum. Namun
pada perkembangan berikutnya, kata preman sendiri sudah digunakan
dalam arti dan aspek yang lebih luas, seperti dalam birokrasi, agama,
hukum, hingga dalam dunia maya sekalipun. Evolusi makna premanisme
demikian disebabkan oleh perkembangan kehidupan dan pemikiran
manusia yang dinamis. (Jauhari, 2009)
Dalam perkembangan selanjutnya, perilaku premanisme cenderung
berkonotasi negatif karena dianggap rentan terhadap tindakan kekerasan
atau kriminal. Namun demikian, keberadaan preman tidak dapat

disamakan dengan kelompok pelaku tindak kriminal lainnya seperti


pencopet atau penjambret. Preman umumnya diketahui dengan jelas oleh
masyarakat yang ada di sekitar wilayah operasinya, seperti pusat-pusat
perdagangan (pasar), terminal, jalan raya, dan pusat hiburan.
Menurut Ketua Presidium Indonesia Police Watch, Neta S.Pane,
setidaknya ada empat model preman yang ada di Indonesia, yaitu: (1) Preman
yang tidak terorganisasi. Mereka bekerja secara sendiri-sendiri, atau
berkelompok, namun hanya bersifat sementara tanpa memiliki ikatan tegas
dan jelas. Preman dalam kategori ini akan bergerak dan beraksi sendirian
dengan modus yang biasanya terselubung. (2) Preman yang memiliki
pimpinan dan mempunyai daerah kekuasaan. Dalam kaitan ini, premanpreman pasar seperti di Wonokromo, Pasar Maling, ITC Surabaya, WTC
Surabaya dan tempat jual beli lainnya dapat dijadikan sebagai contoh
sederhana dalam kategori preman tipe ke dua ini. (3) Preman terorganisasi,
namun anggotanya yang menyetorkan uang kepada pimpinan. (4) Preman
berkelompok, dengan menggunakan bendera organisasi. Preman jenis
keempat ini, masuk kategori preman berdasi yang wilayah kerjanya
menengah ke atas, meliputi area politik, birokrasi, dan bisnis gelap dalam
skala kelas atas. Dalam operasinya, tidak sedikit di antara mereka di-backup
aparat. Kerjanya rapi, dan sulit tersentuh hukum, karena hukum dapat mereka
beli,

dengan

memperalat

para

aparatnya.

(http://eep.saefulloh.fatah.tripod.com)
Dilihat dari tempat dan kejadian, bentuk premanisme terbagi atas;
(1) Premanisme Terbuka. Bentuk premanisme ini berupa pemerasan
langsung dengan meminta sejumlah uang atau materi dengan ancaman,
atau melakukan pengrusakan serta penganiayaan terhadap orang maupun
kelompok lain. Biasanya pelakunya orang orang yang nekad dan agak
ekstrim. (2) Premanisme Terselubung. Bentuk premanisme ini tidak
terlihat langsung, proses dan reaksinya hanya dirasakan oleh korban yang
dituntut untuk mengeluarkan biaya diluar aturan. Bentuk premanisme ini
biasanya di lingkungan birokrasi yang tumbuh akibat kebutuhan seseorang

yang dimanfaatkan oleh oknum dari dalam atau dari luar yang tidak
bertanggung jawab.
Meningkatnya fenomena premanisme ini harus dilihat tidak hanya
dari apa yang tampak saja, melainkan juga dalam konteks premanisme
terselubung yang telah menjadi rahasia umum, bahwa berbagai instansi di
Indonesia dari tingkat pusat dan daerah menjadi sarang premanisme,
pusat ngobyek, dan bebas mengatur jam kerja. Kerja santai dan pulang
cepat serta mempersulit urusan adalah gambaran singkat kinerja pegawai
negeri. Menurut para pelaku usaha, dunia preman dan birokrasi di
Indonesia hanya memiliki perbedaan tipis, yakni sebatas seragam dinas.
Peras-memeras untuk mengurus berbagai izin dari tingkat kelurahan
hingga pusat telah membuat ekonomi Indonesia terus melambat, bukannya
menjadi fasilitator, oknum pemerintah justru menghambat kinerja
perekonomian nasional.
Hal inilah yang menimbulkan keprihatinan masyarakat, dan juga
menjadi salah satu penyebab makin suburnya premanisme yang terjadi di
tengan-tengah masyarakat, karena pada akhirnya para pelaku premanisme
tersebut menganggap bahwa apa yang dilakukannya adalah hal yang wajar
dan benar menurut dirinya, sehingga pola yang terjadi pada masyarakat
dimana Premanisme yang awalnya adalah kaum yang marjinal menjadi
berkebalikan dengan masyarakat, bahwa anggota masyarakat yang tidak
melakukan perbuatan-perbuatan premanisme akan makin terpinggirkan.
2. Peran Polri Dalam Penanggulangan Premanisme
Terkait dengan tugas pokok Polri untuk memelihara keamanan dan
ketertiban masyarakat, sebagai penegak hukum, dan sebagai pelindung,
serta pengayom masyarakat, maka permasalahan mengenai premanisme
yang sangat lekat dengan pelanggaran hukum dan tindak kejahatan adalah
salah satu tanggung jawab penting yang diemban oleh pihak kepolisian.
Diperlukan suatu tindakan yang tepat untuk dapat mengatasi permasalahan

masyarakat yang dari dulu melekat dalam kehidupan sehari-hari di


masyarakat.

a. Upaya Penanggulangan Secara Preventif


Dalam penanggulangan premanisme secara preventif pihak Polri
telah mengadakan penyuluhan hukum kepada masyarakat. Penyuluhan
tersebut dilaksanakan dengan bekerja sama dengan Pemerintah Kota
dan instansi terkait. Penyuluhan hukum adalah kegiatan untuk
meningkatkan kesadaran hukum masyarakat berupa penyampaian dan
penjelasan peraturan hukum kepada masyarakat dalam suasana
informal sehingga tercipta sikap dan perilaku masyarakat yang
berkesadaran hukum. Disamping mengetahui, memahami, menghayati
hukum, masyarakat sekaligus diharapkan dapat mematuhi atau
mentaati hukum.
b. Upaya Penanggulangan Secara Represif
Bukan hanya penanggulangan secara preventif saja yang
dilakukan oleh pihak Polri tetapi juga melakukan tindakan represif.
Dalam hal ini pihak Polri melakukan Razia dengan menggelar
beberapa

kegiatan

operasi

pemberantasan

premanisme

guna

menindaklanjuti penyakit masyarakat yang ada. Dengan adanya


operasi seperti ini diharapkan apa yang menjadi tujuan dari operasi ini
untuk membuat kehidupan masyarakat yang aman dan nyaman, karena
selama ini banyak masyarakat atau warga yang tidak merasa aman
dengan banyak terjadinya pemalakan, perampasan, penodongan,
pencopetan dan lain-lain. Pihak Polri juga dalam menindak pelaku
premanisme harus memperhatikan unsur hak asasi manusia dimana
pembatasan

dalam

bertindak

harus

sesuai

dengan

ketentuan

perundang-undangan yang berlaku.


c. Upaya penanggulangan Preventif
Berupa rangkaian kegiatan yang ditujukan untuk menangkal dan
menghilangkan faktor-faktor kriminogen pada tahap sedini mungkin.
Di sini mencakup upaya untuk mengeliminir faktor kriminogen yang
ada di dalam masyarakat yang bentuk kegiatannya sangat bervariasi,
mulai dari analisis terhadap kondisi wilayah berikut potensi kerawanan

yang terkandung di dalamnya sampai dengan upaya koordinasi dengan


segenap pihak dalam rangka mengantisipasi kemungkinan timbulnya
kejahatan.
Upaya untuk memberantas dan memerangi premanisme sebetulnya
bukan hal yang terlalu baru. Selama ini, sudah berkali-kali polisi
menggelar berbagai operasi pemberantasan preman, namun hasilnya
seringkali tidak efektif. Sebagai bagian dari kelompok masyarakat yang
terkategori marginal, para preman yang banyak beroperasi di berbagai kota
besar di Indonesia tidak lagi sekadar melakukan aksi kejahatan kelas teri
seperti memaksa pemilik kendaraan bermotor membayar tiket parkir dua
kali lipat dari tarif atau memalak para pemilik toko untuk menyediakan
uang keamanan. Tetapi, lebih dari itu, yang mereka lakukan kini tak jarang
adalah mengembangkan aksi dalam pola yang lebih terorganisasi ikut
dalam kegiatan dan kepentingan politik praktis sehingga posisi tawar
(bargaining position) mereka menjadi lebih kuat. Bahkan, terkadang
mereka juga cukup dekat dengan pusat-pusat kekuasaan tertentu. Habitat
yang menjadi area subur bagi perkembangan aksi premanisme kini tidak
lagi hanya di dunia prostitusi, perjudian, dan dunia kriminal lain. Sebagian
yang lain bahkan diduga telah berhasil menanamkan uang hasil
palakannya di berbagai usaha yang sifatnya legal.
Mencermati kondisi yang demikian hal ini sudah merupakan
kewajiban Polri dalam mengatasi setiap bentuk-bentuk premanisme,
namun hal tersebut bukanlah hal yang mudah, banyak hambatan-hambatan
yang di jumpai oleh Polri di lapangan pada pelaksanaan tugasnya. Karena
bentuk-bentuk premanisme terbuka seperti yang disebutkan hanya
menyentuh pada pelaku dilapangan atau biasa disebut preman jalanan, dan
tidak dapat menyentuh pada akar maupun aktor intelektual di belakang
praktek-praktek premanisme jalanan ini, bukan rahasia lagi bahwa para
preman-preman ini sebagian besar dikelola, bahkan di-manage secara
sistematis. Kemudian dalam hal penertiban premanisme terselubung, yang
lekat dengan tindakan-tindakan yang koruptif, meskipun sudah ada

regulasi yang jelas dengan disahkannya Undang-undang anti Korupsi,


namun hal tersebut sangat sulit diberantas, karena sudah merupakan
budaya birokrasi, kecuali dalam hal ini Polri layaknya KPK menjadi
sebuah lembaga superbodi yang bisa masuk dalam setiap lini birokrasi,
maupun perbankan tanpa melalui prosedur birokrasi yang rumit.
Dengan

demikian

peran

serta

Polri

didalam

menangani

Premanisme ini hendaknya tidak dapat dilihat hanya sebagai penegakan


hukum saja namun bagaimanakah penanganan yang secara lebih
komprehensif dapat dilakukan, agar mencapai hasil yang diharapkan oleh
masyarakat, karena Tugas Polri selain sebagai Penegak Hukum juga
sebagai

Pelindung,

Pengayom,

Pelayanan

masyarakat.

Mencoba

menempatkan premanisme ini sebagai salah satu permasalahan yang harus


dicari solusi maupun jalan keluarnya mungkin lebih baik dibandingkan
hanya mengganggapnya sebagai musuh, dan ini tidak lepas dari kerjasama
serta kordinasi antar instansi terkait sebagai stake holder guna
memberikan rasa aman, nyaman, serta tertib di masyarakat.
D. Kesimpulan
Premanisme adalah perilaku yang menimbulkan tindak pidana yang
dapat mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat. Dalam menertibkan
premanisme, Polri tidak boleh melakukan kekuatan yang berlebihan dan harus
mengacu pada aturan ketat penggunaan kekuatan sesuai dengan prinsipprinsip Hak Asasi Manusia. Dengan memperhatikan HAM maka dalam
penindakan dan penanggulangan aksi premanisme akan menimbulkan hasil
yang positif sehingga dapat menciptakan situasi yang aman dan tertib dalam
kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat.
Peran serta Polri sebagai Penegak Hukum dan Pelindung, Pengayom,
serta Pelayan

masyarakat menuntut penanganan Premanisme secara

Proporsional dan professional, dengan melakukan tindakan-tindakan tegas


terhadap para pelaku-pelaku premanisme dan langkah-langkah nyata untuk
mengatasi premanisme ini sebagai masalah bersama dengan melakukan

10

konsolidasi dan sebagai consultative function untuk memberikan sumbang


saran serta menelaah kebijakan-kebijakan publik sehingga dapat lebih tepat
sasaran, sehingga penanganan premanisme ini bukan seperti mencabut jamur
di musim hujan,yang akan terus tumbuh dan semakin banyak jumlahnya.
Demikian halnya untuk masalah premanisme terselubung yang akrab dengan
perbuatan-perbuatan koruptif, perlu adanya kepastian dalam penegakan
hukum, yang pada pelaksaannya membutuhkan kerjasama dari para catur
wangsa penegak hukum di Indonesia yaitu Polisi, Jaksa, Hakim dan Penasehat
hukum, sehingga tercapainya persamaan persepsi dari para penegak hukum,
bahwa perbuatan-perbuatan yang cenderung koruptif ini dapat memupuk
perbuatan-perbuatan premanisme menjadi semakin subur di masyarakat dan
berpotensi menghancurkan sendi-sendi Negara.
E. Saran
Peran serta Polri dalam menangani maslah-masalah Premanisme tidak
dapat dipandang hanya sebagai tugas Kepolisian saja, namun yang lebih
penting disini adalah bagaimana cara mengeliminir embrio-embrio munculnya
premanisme ini. Upaya-upaya Polri dalam menangani premanisme ini dengan
melakukan operasi-operasi kepolisian terpadu bersama instansi-instansi terkait
dapat dipilih sebagai salah satu jalan alternatif dalam menekan premanisme,
sehingga tidak hanya sekedar melakukan operasi dan kemudian dilepas lagi
ditengah-tengah masyarakat, melainkan perlu adanya pembinaan mental,
spiritual oleh lembaga atau dinas sosial serta dengan menyediakan lapangan
pekerjaan agar tidak kembali terjerumus dalam premanisme, kecuali dalam hal
tindakan premanisme yang mengarah pada tindak pidana korupsi perlu adanya
tindakan tegas dan hukuman yang berat bagi para pelaku agar menimbulkan
efek jera.

11

Daftar Pustaka
Chazawi, Adami. 2002. Pelajaran Hukum Pidana 1. Jakarta: Raja Grafindo
Persada
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1993. Kamus Besar Bahasa Indonesia,
Jakarta: Balai Pustaka
Marzuki, Peter Mahmud. 2008. Pengantar Ilmu Hukum. Jakarta: Kencana Perdana
Media Group.

Jauhari, Hadlor. 2002. Preman Menjadi Politisi. Majalah Politika Sumenep. Vol
19.
Internet:

http://eep.saefulloh.fatah.tripod.com/premanisme, diakses pada tanggal 23 Juni


2015
http://id.wikipedia.org/wiki/Premanisme, diakses pada tanggal 23 Juni 2015