Anda di halaman 1dari 10

ANEMIA AKIBAT PENYAKIT KRONIK (ANEMIA OF CHRONIC DISEASE)

Penyakit kronik sering kali disertai anemia, namun tidak semua anemia pada penyakit kronik
dapat digolongkan sebagai anemia akibat penyakit kronik. Anemia akibat penyakit kronik adalah
anemia yang dijumpai pada penyakit kroik tertentu yang khas ditandai oleh gangguan
metabolism besi, yaitu adanya hipoferemia sehingga menyebabkan berkurangnya penyediaan
besi yang dibutuhkan untuk sintesis hemoglobin tetapi cadangan besi sumsum tulang masih
cukup. Anemia ini tergolong anemia yang cukup sering dijumpai, baik diklinik mupun di
lapangan. Beberapa penelitian menunjukan bahwa nemia ini merupakan penyebab kedua
tersering setelah anemia defisiensi besi.
PENYEBAB
Penyebab anemia akibat penyakit kronik belum diketahui dengan pasti. penyakit kronik belum
diketahui dengan psti. Penyakit yang mendasaari (underlying disease) timbulnya anemia akibat
penyakit kronik sebagai berikut :
1. infeksi kronik
a. Tuberkulosis paru
b. Infeksi jamur kronik
c. Bronkhiektasis
d. Penyakit radang panggul kronik
e. Osteomielitis kronik
f. Infeksi saluran kemih kronik
g. Kolitis kronik
2. Inflamasi kronik
a. Arthritis rematoid
b. Lupus eritematosus sistemik
c. Inflammatory bowel disease
d. Sarkoidosis
e. Penyakit kolagen lain
3. Neoplasma ganas
a. Karsinoma: ginjal, hati, kolon, pancreas, uterus, dan lain-lain
b. Limfoma maligna: limfoma Hodgkin dan limfoma non-Hodgkin.
PATOGENESIS
Mekanisme bagaimana terjadinya anemia pada penyakit kronik sampai dengan sekarang
masih banyak yang belum bisa dijelaskan walaupun telah dilakukan banyak
penelitian.Adapendapat yang mengatakan bahwa sitokinsitokin proses inflamasi seperti tumor
nekrosis faktor alfa (TNF a), interleukin 1 dan interferon gama (.) yang diproduksi oleh sumsum
tulang penderita anemia penyakit kronik akan menghambat terjadinya proses eritropoesis. Pada
pasien artritis reumatoid interleukin 6 juga meningkat tetapi sitokin ini bukan menghambat
proses eritropoesis melainkan meningkatkan volume plasma. Pada pasien anemia penyakit
kronik, eritropoetin memang lebih rendah dari pasien anemia defisiensi besi, tetapi tetap lebih

tinggi dari orang orang bukan penderita anemia. 26 dari sejumlah penelitian disampaikan
beberapa faktor yang kemungkinan memainkan peranan penting terjadinya anemia pada penyakit
kronik, antara lain
1. Menurunnya umur hidup sel darah merah (eritrosit) sekitar 2030% atau menjadi sekitar 80
hari. Hal ini dibuktikan oleh Karl tahun 1969 pada percobaan binatang yang menemukan
pemendekan masa hidup eritrosit segera setelah timbul panas. Juga pada pasien artritis reumatoid
dijumpai hal yang sama.
2. Tidak adanya reaksi sumsum tulang terhadap adanya anemia pada penyakit kronik. Reaksi ini
merupakan penyebab utama terjadinya anemia pada penyakit kronik. Kejadian ini telah
dibuktikan pada binatang percobaan yang menderita infeksi kronik, dimana proses
eritropoesisnya dapat ditingkatkan dengan merangsang binatang tersebut dengan pemberian
eritropoetin.
3. Sering ditemukannya sideroblast berkurang dalam sumsum tulang disertai deposit besi
bertambah dalam retikuloendotelial sistem, yang mana ini menunjukkan terjadinya gangguan
pembebasan besi dari sel retikuloendotelial yang mengakibatkan berkurangnya penyedian untuk
eritroblast.
4. Terjadinya metabolisme besi yang abnormal. Gambaran ini terlihat dari adanya hipoferemia
yang disebabkan oleh iron binding protein lactoferin yang berasal dari makrofag dan mediator
leukosit endogen yang berasal dari leukosit dan makrofag. Hipoferemia dapat menyebabkan
kegagalan sumsum tulang berespons terhadap pemendekan masa hidup eritrosit dan juga
menyebabkan berkurangnya produksi eritropoetin yang aktif secara biologis.
5. Adanya hambatan terhadap proliferasi sel progenitor eritroid yang dilakukan oleh suatu faktor
dalam serum atau suatu hasil dari makrofag sumsum tulang.
6. Kegagalan produksi transferin.

GAMBARAN KLINIS
Anemia pada penyakit kronik biasanya ringan sampai dengan sedang dan munculnya
setelah 12 bulan menderita sakit. Biasanya anemianya tidak bertambah progresif atau stabil dan
mengenai berat ringannya anemia pada seorang penderita tergantung kepada berat dan lamanya
menderita penyakit tersebut. Gambaran klinis dari anemianya sering tertutupi oleh gejala klinis
dari penyakit yang mendasari (asimptomatik).Tetapi pada pasienpasien dengan gangguan paru
yang berat, demam, atau fisik dalam keadaan lemah akan menimbulkan berkurangnya kapasitas
daya angkut oksigen dalam jumlah sedang, yang mana ini nantinya akan mencetuskan gejala.
Pada pasienpasien lansia, oleh karena adanya penyakit vaskular degeneratif kemungkinan akan
ditemukan gejalagejala kelelahan, lemah, klaudikasio intermiten, muka pucat dan pada jantung

keluhannya dapat berupa palpitasi dan angina pektoris serta dapat terjadi gangguan serebral.
Tanda fisik yang mungkin dapat dijumpai antara lain muka pucat, konjungtiva pucat dan
takikardi.

DIAGNOSIS
Diagnosis anemia penyakit kronik dapat ditegakkan melalui beberapa pemeriksaan,
antara lain dari:
1. Tanda dan gejala klinis anemia yang mungkin dapat dijumpai, misalnya muka pucat,
konjungtiva pucat, cepat lelah, lemah, dan lainlain.
2. Pemeriksaan laboratorium, antara lain:
1. Anemianya ringan sampai dengan sedang, dimana hemoglobinnya sekitar 711 gr/dL.
2. Gambaran morfologi darah tepi: biasanya normositik-normokromik atau mikrositik
ringan. Gambaran mikrositik ringan dapat dijumpai pada sepertiga pasien anemia
penyakit kronik.
3. Volume korpuskuler ratarata (MCV: Mean Corpuscular Volume): normal atau menurun
sedikit (= 80 fl)
4. Besi serum (Serum Iron): menurun (< 60 mug / dL).
5. Mampu ikat besi (MIB = TIBC: Total Iron Binding Capacity): menurun (< 250 mug /
dL).
6. Jenuh transferin (saturasi transferin): menurun (<20%)
7. Feritin serum: normal atau meninggi (> 100ng/mL).
Berikut adalah penjelasan pemeriksaan laboratorium pada anemia kronik :
1. Pemeriksaan Laboratorium HB (Hemoglobin)
Adalah molekul yang terdiri dari empat kandungan Heam (berisi zat besi) dan 4 rantai
globin (alfa, beta, gama dan delta), berada didalam eritrosit dan bertugas utama untuk
mengangkut oksigen. Kualitas darah dan warna merah darah ditentukan oleh kadar
hemoglobin. Struktur HB dinyatakan dengan menyebut jumlah dan jenis rantai globin
yang ada. Terdapat 141 molekul rasa amino pada rantai alfa, dan 146 mol asam amino
pada rantai beta, gama dan beta.
Nilai Norma HB:
Wanita
: 12-16 gr/dl

Pria
: 14-18 gr/dl
Anak
: 10-16 gr/dl
Bayi baru lahir
: 12-24 gr/dl

HB F (Felta), terdapat dalam eritrosit janin, dibentuk setelah janin berusia 6


minggu kehamilan, dan <2% pada umur bayi >1 tahun.
HB A (Adult), terdapat pada eritrosit orang dewasa. Pada bayi usia 6 bulan
terdapaat 80-90% HB A.
HB S : Hemoglobin sel sabit yaitu HB abnormal yang paling berat dari jenis HB
lainnya.

Penurunan HB terdapat pada penderita: anemia, kanker, penyakit ginjal, pemberian


cairan intra vena berlebihan, dan penyakit Hodkins. Dapat juga disebabkan oleh obatobatan, misalnya : antibiotika, aspirin, antineoplastik (obat kanker ), indometasin,
sulfonamida, primaqueen, rifampin, dan trimetadion.
Peningkatan HB terdapat pada pasien dihidrasi, polistemia, penyakit paru obstruktif
menahun (COPD), gagal jantung kongesti, dan luka bakar hebat.
Obat yang dapat meningkatkan hasil pemeriksaan HB adalah metildopa dan gentamicin.

2. Gambar Pemeriksaan Laboraturium Morfologi Darah Tepi NormositikNormokromik/Micrositik :


darah tepi ini merupakan darah yang menuju kembali ke jantung pada sistem peredaran
darah. Namun, ia tidak termasuk dalam pembuluh darah pulmonalis sebab darah tepi ini bersifat

deoxygenated, artinya kaya akan karbondioksida yang diserap di jaringan-jaringan tubuh ketika
oksigen dilepas. Darah tepi cenderung lebih hangat daripada darah yang berasal dari arteri karena
kandungan pH yang dimilikinya lebih rendah, sedikit kandungan glukosa, campuran urea yang
cukup banyak, dan produk-produk limbah lainnya.

Anemia normositik normokrom. Normositik berarti ukuran eritrositnya normal.


Normokrom berarti warna eritrositnya normal. Kenapa anemia? Biasanya normositik
normokrom ini ditemukan pada anemia yang diakibatkan oleh perdarahan dan hemolisis.
Jadi tidak mempengaruhi morfologi eritrositnya. MCV (mean corpuscular volume) dan
MCH (mean corpuscular hemoglobin) masih normal. (MCV 80 95 fl; MCH 27 34 pg)
Anemia ini meliputi: anemia pasca perdarahan akut, anemia aplastik, anemia hemolitik,
anemia akibat penyakit kronik, anemia pada gagal ginjal kronik, anemia pada sindrom
mielodisplastik dan pada keganasan hematologik.
Anemia mikrositik hipokrom. Mikrositik berarti ukuran eritrositnya kecil (lebih kecil
dari limfosit kecil). Hipokrom berarti warna eritrositnya lebih pudar/lebih pucat (bagian
pucat eritrositnya lebih dari 1/3 diameter eritrosit). Biasanya mikrositik hipokrom ini
ditemukan pada anemia karena masalah pada hemoglobinnya, seperti kurang
penyusunnya (Fe), rapuh strukturnya (genetik), atau karena penyakit kronis lainnya.
MCV dan MCH nya kurang dari normal. (MCV<80fl,mch<27pg)

3. Pemeriksaan Laboratorium MCV (Mean Corpuscular Volume)


Volume rata-rata sel darah merah dalam mikrocubik darah (HMT x 10): jumlah eristrosit
(juta).

Nilai Normal :
Dewasa
: 80-90 U3
Anak
: 82-92 U3
Bayi baru lahir : 96-108 U3
Penurunan MCV, terdapat pada pasien anemia mikrositik defisiensi besi, keganasan,
artritis reumatoid, alasemia, anemia sel sabit, HBC, kerajinan timah, dan radiasi.
Peningkatan kadar MCV, terdapat pada anemia aplastik, anemia hemolitik, anemia
pernisiosa, defisiensi asam folat, penyakit hati kronis, hipotiroidisme, efek obat vitamin
B12, artikonfulsan dan antimetabolik.

4. Pemeriksaan Laboratorium SI (Serum Airon)


Suatu pemeriksaan untuk mengetahui kadar besic dalam serum. Pada penyakit genetik
hemokromatosis terjadi penghimpunan zat besi pada serum, jaringan hati, pankreas,
jantung dan peningkatan pigmentasi kulit. Keadaan ini dapat juga terjadi pada penderita
serosis hati.
Nilai Normal : 60-170 ug/dl
5. Pemeriksaan Laboratorium TIBC (Total Kapasitas Ikat Besi / Total Airon Bound
Capacity)
Pemeriksaan untuk melihat jumlah besi yang dapat diikat oleh trasferin pada serum
setelah diberikan zat besi secara berlebihan. Transferin adalah beta globorin yang dibuat
didalam hati pemeriksaan ini menggunakan bahan darah yang diambil pagi hari, yang
sebelumnya puasa dalam 24jam dan bebas dari makanan / obat yang mengandung besi.
Nilai Normal : 300-360 ug/dl

6. Pemeriksaan Laboraturium Jenuh Transferin (Saturasi Transferin)

Jenuh Transferin
Transferin adalah protein (beta globulin) yang terdapat di dalam plasma yang berfungsi
sebagai transpor besi dari jaringan dan darah ke sumsum tulang, yang diperlukan untuk
pembentukan hemoglobin.

Struktur
Pada manusia, transferin terdiri dari rantai polipeptida yang mengandung 679 asam
amino. Ini adalah kompleks terdiri dari heliks alfa dan dan beta sheet untuk membentuk
dua domain protein (Yang pertama terletak di ujung N-dan yang kedua di terminal C-).
N-dan C-terminal urutan yang diwakili oleh lobus bundar dan antara dua lobus adalah
pengikat ion besi untuk transferin yang identik untuk kedua lobus, dua tyrosines, satu
histidin dan satu asam aspartat.
Mekanisma transport
dalam transferin kurang dari 20% maka Fe akan sukar dilepaskan. Fisiologis kejenuhan
Fe antara 30-35%. Bilamana kejenuhn zat besi melebihi dari 35% maka Fe akan
dilepaskan dalam tempat-tempat penyimpanan besi (hati, limpa, dan sumsum tulang)
serta dijaringan-jaringan tubuh lainnya
Distribus
Peran utama dari transferin adalah mengangkut besi dari pusat absorbsi besi yaitu di
duodenum dan makrofag ke seluruh jaringan. Sekitar 70% dari besi diangkut ke sumsum
tulang dan dimasukkan ke dalam hemoglobin dalam sel darah merah. Sisanya disimpan
dalam jaringan sebagai ferritin atau hemosiderin. Jumlah transferin dalam darah
tergantung pada fungsi hati dan status gizi seseorang. Dalam kondisi normal, situs
mengikat biasanya sekitar 1 / 3 jenuh dengan besi. Ini berarti bahwa sekitar 2 / 3 dari

kapasitas disimpan sebagai cadangan.


Saturasi Transferin
Saturasi transferin tidak diukur sacara langsung, tetapi diperoleh sebagai suatu rasio:
Persentase saturasi = Besi serum x 100
TIBC
Saturasi transferin adalah rasio besi serum dengan kemampuan mengikat besi, merupakan
indikator yang paling akurat dari suplai besi ke sumsum tulang. Pada simpanan besi dan
metabolism protein yang normal, transferin biasanya mengalami saturasi 30 %.
Penurunan jenuh transferin dibawah 10% merupakan indeks kekurangan suplai besi yang
meyakinkan terhadap perkembangan eritrosi. Persentase saturasi rendah ditemukan pada
defesiensi besi dan penyakit kronis, dan tinggi pada hemolisis intravaskuler dan
hemokromatosis.
Jenuh transferin umunya dipakai pada studi populasi yang disertai dengan indikator
status besi lainnya. Tingkat jenuh transferin yang menurun dan serum feritin sering
dipakai untuk mengartikan kekurangan zat besi.

7. Feritin Serum
Serum Feritin adalah suatu parameter yang terpecaya dan sensitif untuk menentukan
cadangan besi orang sehat.

Serum feritin secara luas dipakai dalam

praktek klinik dan

pengamatan populasi. Serum feritin < 12ug/l sangat spesifik untuk kekurangan zat besi,yang
berarti kehabisan semua cadangan besi, sehingga dapat dianggap sebagai diagnostik untuk
kekurangan zat besi. Rendahnya serum feritin menunjukan serangan awal kekurangan zat besi,
tetapi tidak menunjukkan beratnya kekurangan zat besi karena variabilitasnya sangat tinggi.
Penafsirran yang benar dari serum feritin terletak pada pemakaian range referensi yang tepat dan
spesifik untuk usia dan jenis kelamin, konsentrasi serum feritin cenderung lebih rendah pada
wanita dari pria, yang menunjukkan cadangan besi lebih rendah pada wanita. Serum feritin pria
meningkat pada dekade kedua, dan tetap stabil atau naik secara lambat sampai usia 65 tahun,
pada wanita tetap saja rendah sampai usia 45 tahun, dan mulai meningkat sampai sama seperti
pria yang berusia 60-70 tahun.
Pemeriksaan lain yang dapat dilakukan yaitu pemeriksaan sumsum tulang dan
konsentrasi protoporfirin eritrosit bebas (FEP: Free Erytrocyte Protophorphyrin), namun
pemeriksaannya jarang dilakukan. Menginterpretasi hasil pemeriksaan sumsum tulang
kemungkinannya sulit, oleh karena bentuk dan struktur selsel sumsum tulang dipengaruhi oleh
penyakit dasarnya. Sedangkan konsentrasi protoporfirin eritrosit bebas memang cenderung
meninggi pada pasien anemia penyakit kronik tetapi peninggiannya berjalan lambat dan tidak
setinggi pada pasien anemia defisiensi besi. Peninggiannya juga sejalan dengan bertambah
beratnya anemia. Oleh karena itu pemeriksaan konsentrasi protoporfirin eritrosit bebas lebih
sering dilakukan pada pasien pasien anemia defisiensi besi.

Penatalaksanaan Anemia Penyakit Kronik

Tidak ada terapi spesifik yang dapat kita berikan untuk anemia penyakit kronik, kecuali
pemberian terapi untuk penyakit yang mendasarinya. Biasanya apabila penyakit yang
mendasarinya telah diberikan pengobatan dengan baik, maka anemianya juga akan membaik.
Pemberian obatobat hematinik seperti besi, asam folat, atau vitamin B12 pada pasien anemia
penyakit kronik, tidak ada manfaatnya. Belakangan ini telah dicoba untuk memberikan beberapa
pengobatan yang mungkin dapat membantu pasien anemia penyakit kronik, antara lain:

1. Rekombinan eritropoetin (Epo), dapat diberikan pada pasienpasien anemia penyakit kronik
yang penyakit dasarnya artritis reumatoid, Acquired Immuno Deficiency Syndrome (AIDS), dan
inflamatory bowel disease. Dosisnya dapat dimulai dari 50100 Unit/Kg, 3x seminggu,
pemberiannya secara intra venous (IV) atau subcutan (SC). Bila dalam 23 minggu konsentrasi
hemoglobin meningkat dan/atau feritin serum menurun, maka kita boleh menduga bahwa eritroit
respons. Bila dengan dosis rendah responsnya belum adekuat, maka dosisnya dapat ditingkatkan
sampai 150 Unit/Kg, 3x seminggu. Bila juga tidak ada respons, maka pemberian eritropoetin
dihentikan dan dicari kemungkinan penyebab yang lain, seperti anemia defisiensi besi. Namun
ada pula yang menganjurkan dosis eritropoetin dapat diberikan hingga 10.00020.000 Unit,
3x seminggu.32
2. Transfusi darah berupa packed red cell (PRC) dapat diberikan, bila anemianya telah
memberikan keluhan atau gejala. Tetapi ini jarang diberikan oleh karena anemianya jarang
sampai berat.
3. Prednisolon dosis rendah yang diberikan dalam jangka panjang. Diberikan pada pasien anemia
penyakit kronik dengan penyakit dasarnya artritis temporal, reumatik dan polimialgia.
Hemoglobin akan segera kembali normal demikian juga dengan gejalagejala polimialgia akan
segera hilang dengan cepat. Tetapi bila dalam beberapa hari tidak ada perbaikan, maka
pemberian kortikosteroid tersebut segera dihentikan.
4. Kobalt klorida, juga bermanfaat untuk memperbaiki anemia pada penyakit kronik dengan cara
kerjanya yaitu menstimulasi pelepasan eritropoetin, tetapi oleh karena efek toksiknya obat ini
tidak dianjurkan untuk diberikan.

DAFTAR PUSTAKA
Bakta, I Made. 2003. Hematologi Klinik Ringkas. Jakarta.Buku Kedokteran EGC.