Anda di halaman 1dari 30

BAB I

PENDAHULUAN

Vulva kaya dengan suplai darah dari pembuluh darah dan limfatik. Saluran ini
dapat mengalami obstruksi, dilatasi, ruptur, infeksi, atau dapat berkembang menjadi
lesi tumor, yang biasanya merupakan malformasi non-neoplasma.. 1
Gold standar untuk pengelolaan penyakit kronis vulva adalah biopsi untuk
menetapkan diagnosis jaringan. Jika ada keraguan mengenai lesi yang muncul, biopsi
harus dilakukan. Ketika mengevaluasi lesi vulva, tiga fitur harus dipertimbangkan: (a)
jenis lesi, (b) lokasi lesi, dan (c) temuan sistemik dan laboratorium terkait. Tidak
banyak dijumpai tumor pada daerah vulva dan vagina. Pertumbuhan neoplastik di
daerah ini terutama berasal dari epitel skuamosa dan papiler serta jaringan masenkim.
Jarang sekali ditemukan tumor jinak yang berasal dari sel stroma pada daerah
vagina.1
Daerah kulit di vulva adalah lebih lunak berbanding dengan jaringan tisu
sekitarnya karena perbedaan dari struktur, hidrasi, oklusi dan kerentangan terhadap
geseran. Karena itu, patologi yang melibatkan vulva sering muncul,

walaupun

estimasi dari insiden adalah sedikit karena pasien tidak dilaporkan dan kesalahan
dalam mendiagnosa. Lesi bisa muncul akibat infeksi, trauma, neoplasia, atau dari
respon imun. Sebagai hasilnya, gejala yang muncul berbeda seperti nyeri, pruritus,
disparonia, perdarahan dan pelepasan sekret dan sebagainya.1

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.

ANATOMI VULVA
Vulva (pukas) atau pudenda, meliputi seluruh struktur eksternal yang dapat

dilihat mulai dari pubis sampai perineum, yaitu mons veneris, labia mayora dan labia
minora, klitoris, selaput dara (hymen), vestibulum, muara uretra, berbagai kelenjar,
dan struktur vaskular.5

B.

TUMOR VULVA
1. Jinak:

a. Kistik:
i. Kista kelenjar bartholini
Dapat berasal dari Bartholinitis kronis. Teraba sebagai suatu tonjolan pada
bagian belakang dari labia mayor, mudah digerakkan. Umumnya tidak
memberikan keluhan, tetapi kadang mengalami pernanahan. Penatalaksaan
dilakukan ekstirpasi dan harus dapat diangkat seluruhnya, sebab dapat
menyebabkan residif.2
ii. Kista epidermis (kista inclusi)
Terjadi akibat perlukaan, terutama pada persalinan karena episiotomi atau
robekan, dimana suatu segmen epitel terpendam dan kemudian menjadi kista.
Kista ini terdapat dibawah epitel vulva/perineum maupun vagina berwarna
kekuning-kuningan atau abu-abu biasanya bergaris tengah kurang dari 1cm
dan berisi cairan kental. Umumnya kista ini tidak menimbulkan keluhan.
Penatalaksaan adalah eksisi jika perlu.2
iii. Kista sebasea
Berasal dari kelenjar sebasea kulit yang terdapat pada labium mayor,
labium minor dan mons veneris, terjadi karena penyumbatan saluran kelenjar
sehingga terjadilah penimbunan sebum. Kelenjar ini biasanya terletak dekat
dibawah permukaan kulit berwarna kuning keabu-abuan, dengan batas yang
jelas dan konsistensi keras, ukuran kecil sering multiple. Dindingnya berlapis
epitel kelenjar dengan isi sebum yang mengandung kristal kolesterol. Kristal
ini sering mengalami infeksi. Terapi jika perlu dilakukan eksisi.2
iv. Kista mucinosa
Kadang-kadang ditemukan dekat uretra atau dari labia minor, agaknya
berasal dari jaringan embrional.2
v. Kista saluran Wolff
Sebagai sisa dari mesonephron. Berasal dari kelenjar keringat. Jarang
sekali tampak dari vulva kecuali bila ukurannya cukup besar.2

vi. Kista saluran Nuck (hidrocele)


Berasal dari sisa prosesus vaginalis peritoneum yang terletak dalam
saluran inguinal, kadang-kadang melanjutkan diri sampai pada labium mayor.
Terletak mulai dari saluran inguinal sampai dinding labium mayor, kadangkadang terdiri dari beberapa kista. Kista saluran Nuck berisi cairan jernih
dengan dinding selaput peritoneum. Kista ini analog dengan hidrokel pada
pria.2
b. Solid
i. Fibroma
Berasal dari jaringan fibrosa dari vulva biasanya berukuran kecil atau
sedang dan bertangkai dengan konsistensi lunak berwarna putih keabu abuan.
Penatalaksanaan dengan operasi.2
ii. Lipoma
Berasal dari otot polos ligamentum rotondum dekat pada labium majus
dengan konsistensi lunak, dapat bertangkai dan mencapai ukuran besar. Jarang
terjadi, hampir menyerupai fibroma. Penatalaksaan dengan operasi.2
iii. Kondiloma
Penyebabnya ialah virus papiloma tipe 16 dan 18. Menyerang leher rahim
tetapi tidak menyebabkan kutil pada alat kelamin luar dan bisa menyebabkan
kanker leher rahim. Virus tipe ini dan virus papiloma lainnya bisa menyebabkan
tumor intra-epitel pada leher rahim (ditunjukkan dengan hasil Pap-smear yang
abnormal). Biasanya muncul dalam waktu 1-6 bulan setelah terinfeksi, dimulai
sebagai pembengkakan kecil yang lembut, lembab, berwarna merah atau pink.
Mereka tumbuh dengan cepat dan bisa memiliki tangkai. Pada suatu daerah
seringkali tumbuh beberapa kutil dan permukaannya yang kasar memberikan
gambaran seperti bunga kol. Kutil pada alat kelamin luar bisa diangkat melalui
laser, krioterapi (pembekuan) atau pembedahan dengan bius lokal. Pengobatan
kimiawi, seperti podofilum resin atau racun yang dimurnikan atau asam
trikloroasetat, bisa dioleskan langsung pada kutil. Tetapi pengobatan ini
memerlukan waktu beberapa minggu sampai beberapa bulan, bisa melukai kulit
di sekelilingnya dan sering gagal.2

iv. Angioma
Walaupun jarang terjadi, sering mengganggu karena iritasi oleh popok,
urine dan feses. Sifatnya congenital dan dapat menghilang sendiri bila anak
menjadi besar.2
v. Hidradenoma
Walaupun jarang, tetapi dianggap penting juga oleh karena sering disangka
sebagai adenocarcinoma. Berasal dari kelenjar penuh vulva. Tampak sebagai
benjolan kecil. Bentuk dan konsistensi menyerupai fibroma. Kadang-kadang
kulit diatasnya menjadi merah, granuler atau berulcus. Dalam keadaan ini dapat
berdarah. Umumnya tidak memberikan gejala, kadang-kadang ada gatal.
Tempatnya pada bagian dalam dari labia mayora, tapi bisa pula pada labia
minora atau perineum. Terapi dengan dilakukan eksisi.2
vi. Mioblastoma sel granuler
Jarang terjadi dan berasal dari selaput myelin syaraf. Terapi dengan
dilakukan ekstirpasi.2
vii. Nevus
Sering terjadi dan mungkin berasal dari iritasi. Penyakit ini dianggap
penting, oleh karena walaupun luas vulva hanya 1% dari seluruh permukaan
tubuh, tetapi 7-10% dari melanoma yang ganas pada wanita terjadi pada
genitalia eksterna. Terapi dengan dilakukan eksisi yang kemudian dilakukan
pemeriksaan patologi anatomi karena ada bahaya keganasan.2
2. Ganas
a. Carcinoma vulva
Setelah karsinoma dari uterus dan ovarium, karsinoma dari vulva
merupakan penyakit yang paling sering terjadi. Frekuensinya 3-4% dari
seluruh tumor ganas primer dari saluran genital. Tidak banyak diketahui
mengenai faktor etiologi jenis tumor ganas ini, meskipun disebut tentang
lambatnya menarche (15-17 tahun) dan awalnya menopause (40 tahun) dalam
riwayat penyakitnya.2,3
STADIUM
0

MANIFESTASI
Kanker hanya ditemukan di permukaan vulva

IA
IB
II

III

IVA

IVB

Kanker ditemukan di vulva dan / atau perineum (daerah


antara rektum dan vagina). Ukuran tumor sebesar 2 cm atau
kurang dan belum menyebar ke kelenjar getah bening
Kanker stadium I yang telah menyusup sampai kedalaman
kurang dari 1 mm
Kanker stadium I yang telah menyusup lebih dalam dari 1 mm
Kanker ditemukan di vulva dan/atau perineu, dengan ukuran
lebih besar dari 2 cm tetapi belum menyebar ke kelenjar getah
bening
Kanker ditemukan di vulva dan / atau perineum serta telah
menyebar ke jaringan terdekat (misalnya uretra, vagina, anus)
dan / atau telah menyebar ke kelenjar getah bening selangkangan
terdekat.
Kanker telah menyebar keluar jaringan terdekat, yaitu ke uretra
bagian atas, kandung kemih, rektum atau tulang panggul, atau
telah menyebar ke kelenjar getah bening kiri dan kanan
Kanker telah menyebar ke kelenjar getah bening di dalam
panggul dan / atau ke organ tubuh yang jauh.

Gambar. Ca vulva

Manifestasi Klinik
Kanker vulva mudah dilihat dan teraba sebagai benjolan, penebalan

ataupun luka terbuka pada atau di sekitar lubang vagina. Kadang terbentuk
bercak bersisik atau perubahan warna. Jaringan di sekitarnya mengkerut
disertai gatal-gatal. Pada akhirnya akan terjadi perdarahan dan keluar cairan
yang encer.2,3
Gejala lain dari kanker vulva adalah :
1. Pruritus lama (gejala utama kanker vulva)
2. Perdarahan
3. Rabas berbau busuk
4. Nyeri juga terkadang dapat timbul
5. Terdapat lesi awal yang tampak sebagai dermatitis kronis kemudian dapat
ditemukan pertumbuhan benjolan yang terus tumbuh dan menjadi keras,
mengalami ulserasi seperti bunga kol.

Bagian yang paling sering terkena karsinoma adalah labia, dimana labia
mayora tiga kali lebih sering terkena daripada labia minora dan klitoris.
Gambaran keseluruhan lesi kanker vulva adalah datar atau timbul dan
berbentuk makulopapular atau verukosa. Lesi dapat hiperpigmentasi (coklat),
merah atau putih.2,3

Pemeriksaaan Penunjang
Diagnosa
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik.
Pada pemeriksaan panggul akan teraba adanya benjolan. Pemeriksaan
lainnya yang biasa dilakukan:
Kolposkopi (pemeriksaan dengan bantuan kaca pembesar)
Biopsi (pemeriksaan mikroskopik terhadap contoh jaringan).
Staging
Staging merupakan proses penentuan penyebaran kanker, yang
penting dilakukan untuk menentukan jenis pengobatan dan prognosis
penyakit. Penilaian penyebaran kanker vagina melibatkan beberapa
pemeriksaan yaitu Rontgen dada dan CT scan.4

Terapi

Terdapat 3 jenis pengobatan untuk penderita kanker vulva:2


1. Pembedahan

Eksisi lokal luas : dilakukan pengangkatan kanker dan sejumlah jaringan

normal di sekitar kanker.


Eksisi lokal radikal : dilakukan pengangkatan kanker dan sejumlah besar
jaringan normal di sekitar kanker, mungkin juga disertai dengan

pengangkatan kelenjar getah bening.


Bedah laser : menggunakan sinar laser untuk mengangkat sel-sel kanker.
Vulvektomi skinning : dilakukan pengangkatan kulit vulva yang

mengandung kanker.
Vulvektomi simplek : dilakukan pengangkatan seluruh vulva.
Eksenterasi panggul : jika kanker telah menyebar keluar vulva dan organ
wanita lainnya, maka dilakukan pengangkatan organ yang terkenal

(misalnya kolon, rektum, atau kantung kemih) bersamaan dengan


pengangkatan leher rahim, rahim, dan vagina. Untuk membuat vulva atau
vagina buatan setelah pembedahan, dilakukan pencangkokan kulit dari
bagian tubuh lainnya dan bedah plastik.2,3,4
2. Terapi penyinaran
Pada terapi penyinaran digunakan sinar X atau sinar berenergi tinggi
lainnya utnuk membunuh sel-sel kanker dan memperkecil ukuran tumor.
Pada radiasi eksternal digunakan suatu mesin sebagai sumber penyinaran;
sedangkan pada radiasi internal, ke dalam tubuh penderita dimasukkan
suatu kapsul atau tabung plastik yang mengandung bahan radioaktif. 4
3. Kemoterapi
Pada kemoterapi digunakan obat-obatan untuk membunuh sel-sel kanker.
Obat tersedia dalam bentuk tablet/kapsul atau suntikan (melalui pembuluh
darah atau otot). Kemoterapi merupakan pengobatan sistemik karena
obat masuk ke dalam aliran darah sehingga sampai ke seluruh tubuh dan
bisa membunuh sel-sel kanker di seluruh tubuh. 4
Pengobatan kanker vulva tergantung kepada stadium dan jenis penyakit
serta usia dan keadaan umum penderita.`4
1. Kanker vulva stadium 0
- Eksisi lokal luas atau bedah laser, atau kombinasi keduanya
- Vulvektomi skinning
- Salep yang mengandung obat kemoterapi
2. Kanker vulva stadium l
- Eksisi lokal luas
- Eksisi lokal radikal, pengangkatan seluruh kelenjar getah bening
selangkangan dan paha bagian atas terdekat pada sisi yang sama
-

dengan kanker.
Vulvektomi radikal dan pengangkatan kelenjar getah bening

selangkangan pada salah satu atau kedua sisi tubuh.


Terapi penyinaran saja.

3. Kanker vulva stadium II


- Vulvektomi radikal dan pengangkatan kelenjar getah bening
-

selangkangan kiri dan kanan.


Terapi penyinaran.

4. Kanker vulva stadium III


- Vulvektomi radikal dan pengangkatan kelenjar getah bening
-

selangkangan dan paha.


Terapi radiasi dan kemoterapi diikuti oleh vulvektomik radikal dan

pengangkatan kelenjar getah bening kiri dan kanan.


- Terapi penyinaran.
5. Kanker vulva stadium IV
- Vulvektomi radikal dan pengangkatan kolon bagian bawah,
-

rektum, atau kandung kemih.


Vulvektomi radikal diikuti dengan terapi penyinaran.
Terapi penyinaran diikuti dengan vulvektomi radikal.
Terapi penyinaran (pada penderita tertentu) dengan atau tanpa

kemoterapi dan mungkin juga diikuti oleh pembedahan.


6. Kanker vulva yang berulang
- Eksisi lokal luas dengan atau tanpa terapi penyinaran.
- Vulvektomi radikal dan pengangkatan kolon, rektum, atau
-

kandung kemih.
Terapi penyinaran ditambah dengan kemoterapi dengan atau tanpa

pembedahan.
Terapi penyinaran

untuk

kekambuhan

lokal

atau

untuk

mengurangi gejala nyeri, mual, atau kelainan fungsi tubuh.

C.

KISTA OVARIUM

a.

Definisi
Kista ovarium merupakan suatu tumor, baik kecil maupun yang besar, kistik
atau padat, jinak atau ganas yang berada di ovarium. Dalam kehamilan, tumor
ovarium yang dijumpai paling sering ialah kista dermoid, kista coklat atau kista
lutein. Tumor ovarium yang cukup besar dapat menyebabkan kelainan letak janin

dalam rahim atau dapat menghalang halangi masuknya kepala ke dalam


panggul.(6)

Gambar 4. Gambaran ovarium normal dan kista ovarium

b.

Epidemiologi
Berdasarkan data penilitian Jurnal Medscape di Amerika Serikat, umumnya
kista ovarium ditemukan saat pasien melakukan pemeriksaan USG baik
abdominal maupun transvaginal dan transrektal. Kista ovarium terdapat disekitar
18% yang sudah postmenopause. Sebagian besar kista yang ditemukan
merupakan kista jinak, dan 10% sisanya adalah kista yang mengarah ke
keganasan. Kista ovarium fungsional umumnya terjadi pada usia produktif dan
relatif jarang pada wanita postmenopause. Secara umum, tidak ada persebaran
umur yang spesifik mengenai usia terjadinya kista ovarium.

c.

Etiologi
Penyebab terjadinya kista ovarium yaitu terjadinya gangguan pembentukan
hormon pada hipotalamus, hipofise, atau ovarium itu sendiri. Kista ovarium
timbul dari folikel yang tidak berfungsi selama siklus menstruasi.7
Faktor resiko terjadinya kista ovarium.
a

Riwayat kista ovarium sebelumnya

Siklus menstruasi yang tidak teratur

Meningkatnya distribusi lemak tubuh bagian atas

Menstruasi dini

Tingkat kesuburan

Hipotiroid atau hormon yang tidak seimbang

Terapi tamoxifen pada kanker mamma


Sedangkan pada tumor padat, etiologi pasti belum diketahui, diduga akibat

abnormalitas pertumbuhan sel embrional, atau sifat genetis kanker yang tercetus
oleh radikal bebas atau bahan bahan karsinogenik.
d.

Sifat Kista
1. Kista Fisiologis
Kista yang bersifat fisiologis lazim terjadi dan itu normal normal saja.
Sasuai suklus menstruasi, di ovarium timbul folikel dan folikelnya berkembang,
dan gambaranya seperti kista. Biasanya kista tersebut berukuran dibawah 5 cm,
dapat dideteksi dengan menggunakan pemeriksaan USG, dan dalam 3 bulan akan
hilang. Jadi ,kista yang bersifat fisiologis tidak perlu operasi, karena tidak
berbahaya dan tidak menyebabkan keganasan, tetapi perlu diamati apakah kista
tersebut mengalami pembesaran atau tidak.
Kista yang bersifat fisiologis ini dialami oleh orang di usia reproduksi
karena dia masih mengalami menstruasi. Biasanya kista fisiologis tidak
menimbulkan nyeri pada saat haid.
2. Kista Patologis (Kanker Ovarium)
Kista ovarium yang bersifat ganas disebut juga kanker ovarium. Kanker
ovarium merupakan penyebab kematian terbanyak dari semua kanker ginekologi.
Angka kematian yang tinggi karena penyakit ini pada awalnya bersifat tanpa
gejala dan tanpa menimbulkan keluhan apabila sudah terjadi metastasis, sehingga

60-70% pasien dating pada stadium lanjut, penyakit ini disebut juga sebagai silent
killer. Angka kematian penyakit ini di Indonesia belum diketahui dengan pasti.
Pada yang patologis, pembesaran bisa terjadi relative cepat, yang kadang
tidak disadari si penderita. Karena, kista tersebut sering muncul tanpa gejala
seperti penyakit umumnya. Itu sebabnya diagnosa aalnya agak sulit dilakukan.
Gejala gejala seperti perut yang agak membuncit serta bagian bawah perut yang
terasa tidak enak biasanya baru dirasakan saat ukuranya sudah cukup besar. Jika
sudah demikian biasanya perlu dilakukan tindakan pengangkatan melalui proses
laparoskopi, sehingga tidak perlu dilakukan pengirisan di bagian perut penderita.
Setelah di angkat pemeriksaan rutin tetap perlu dilakukan untuk mengetahui
apakah kista itu akan muncul kembali atau tidak.
Ada lagi jenis kista abnormal pada ovarium. Jenis ini ada yang bersifat jinak
dan ganas..Bersifat jinak jika bisa berupa spot dan benjolan yang tidak menyebar.
Meski jinak kista ini dapat berubah menjadi ganas. Sayangnya sampai saat ini,
belum diketahui dengan pasti penyebab perubahan sifat tersebut.Kista ganas yang
mengarah ke kanker biasanya bersekat sekat dan dinding sel tebal dan tidak
teratur. Tidak seperti kista fisiologis yang hanya berisi cairan, kista abnormal
memperlihatkan campuran cairan dan jaringan solid dan dapat bersifat ganas.
e.

Klasifikasi(2)
Kista ovarium dilihat menurut klasifikasinya yaitu tumor ovarium
nonneoplastik dan tumor ovarium neoplastik jinak maka pembagiannya adalah
sebagai berikut:

1 Tumor Nonneoplastik
Tumor nonneoplastik jinak disebabkan karena ketidakseimbangan hormon
progesteron dan estrogen.
a Tumor akibat radang
Termasuk disini abses ovarial, abses tubo-ovarial dan kista tuboovarial.

b Tumor lain
1 Kista Folikel
Kista ini berasal dari folikel de graaf yang tidak sampai berovulasi, namun
tumbuh terus menjadi kista folikel atau dari beberapa folikel primer yang setelah
bertumbuh di bawah pengaruh estrogen tidak mengalami proses atresia yang
lazim melainkan menjadi membesar menjadi kista. Kista ini berasal dari folikel
yang menjadi besar semasa proses atresia folikuli. Setiap bulan sejumlah besar
follikel menjadi mati, disertai kematian ovum, disusul dengan degenerasi dari
epitel follikel. Pada masa ini tampaknya sebagai kista-kista kecil. Tidak jarang
ruangan follikel diisi dengan cairan yang banyak, sehingga terbentuklah kista
yang besar, yang dapat ditemukan pada pemeriksaan klinis. Biasanya besarnya
tidak melebihi sebuah jeruk. Sering terjadi pada pubertas, climacterium, dan
sesudah salpingektomi.
2 Kista Korpus Luteum
Kista ini terjadi akibat perdarahan yang sering terjadi didalam korpus luteum,
berisi cairan yang berwarna merah coklat karena darah tua.
3 Kista Lutein
Kista ini biasanya bilateral dan menjadi membesar sebesar tinju. Tumbuhnya kista
ini adalah akibat dari pengaruh hormon koriogonadotropin yang berlebihan. Kista
ini dapat terjadi pada kehamilan, lebih jarang di luar kehamilan. Kista lutein yang
sesungguhnya, umumnya berasal dari corpus luteum haematoma. Perdarahan ke
dalam ruang corpus selalu terjadi pada masa vaskularisasi. Bila perdarahan ini
sangat banyak jumlahnya, terjadilah corpus luteum haematoma, yang berdinding
tipis dan berwarna kekuning-kuningan. Secara perlahan-lahan terjadi resorpsi dari
unsur-unsur darah, sehingga akhirnya tersisa cairan yang jernih, atau sedikit
bercampur darah. Pada saat yang sama dibentuklah jaringan fibroblast pada
bagian dalam lapisan lutein sehingga pada kista korpus lutein yang tua, sel-sel
lutein terbenam dalam jaringan-jaringan perut.
4 Kista Inklusi Germinal
Kista ini terjadi karena invaginasi dan isolasi bagian bagian kecil dari epitel
germinativum pada permukaan ovarium.
5 Kista Endometrium

Belum diketahui penyebabnya dan tidak ada hubungannya dengan endometroid.


6 Kista Stein-Laventhal
Kista ini dikenal sebagai sindrom Stein-Laventhal dan kiranya disebabkan oleh
ketidakseimbangan hormonal. Biasanya kedua ovarium membesar dan bersifat
polikistik, permukaan rata, berwarna keabu-abuan dan berdinding tebal. Pada
pemeriksaan mikroskopis akan tampak tunika yang tebal dan fibrotik.
Dibawahnya tampak folikel dalam bermacam-macam stadium, tetapi tidak
ditemukan corpus luteum. Secara klinis memberikan gejala yang disebut SteinLeventhal Syndrom, yaitu yang terdiri dari hirsutisme, sterilitas, obesitas dan
oligomenorrhoe. Kecenderungan virilisasi mungkin disebabkan hyperplasi dari
tunica interna yang menghasilkan zat androgenik. Kelainan ini merupakan
penyakit herediter yang autosomal dominan.
2 Tumor Neoplastik Jinak
Tumor neoplastik jinak terdiri dari :
a Tumor Kistik
1 Kistoma ovarii simpleks
Kistoma ovarii simpleks diduga kista ini adalah suatu jenis kistadenoma
serosum yang kehilangan epitel kelenjarnya berhubung dengan tekanan cairan
dalam kista. Kista ini mempunyai permukaan rata dan halus, biasanya bertangkai,
seringkali bilateral, dan dapat menjadi besar. Dinding kista tipis dan cairan di
dalam kista jernih, serus, dan berwarna kuning. Pada dinding kista tampak lapisan
epitel kubik. Berhubung dengan adanya tangkai, dapat terjadi torsi (putaran
tangkai) dengan gejala-gejala mendadak. Diduga bahwa kista ini suatu jenis
kistadenoma serosum yang kehilangan epitel kelenjarnya berhubung dengan
tekanan cairan dalam kista.
2 Kistadenoma Ovarii Musinosum
Asal kista ini belum pasti, menurut Mayer, mungkin kista ini berasal dari
suatu teratoma dimana dalam pertumbuhannya satu elemen mengalahkan elemen
lainnya. Ada penulis yang berpendapat bahwa tumor berasal dari lapisan

germinativum, sedang penulis lain menduga tumor ini mempunyai asal yang sama
dengan tumor Brenner.
3 Kistadenoma Ovarii Serosum
Pada umumnya kista ini berasal dari epitel permukaan ovarium (germinal
ephitelium). Kista jenis ini tak mencapai ukuran yang amat besar dibandingkan
dengan kistadenoma musinosum. Permukaan tumor biasanya licin, akan tetapi
dapat pula berrbagala karena kista serosum pun dapat berbentuk multilokuler,
meskipun lazimnya berongga satu. Warna kista putih keabu-abuan. Ciri khas kista
ini adalah potensi pertumbuhan papiler ke dalam rongga kista sebesar 50%, dan
keluar pada permukaan kista sebesar 5%. Isi kista cair, kuning, dan kadangkadang coklat karena campuran darah. Tidak jarang kistanya sendiri kecil, tetapi
permukaannya penuh dengan pertumbuhan papiler (solid papilloma).
4 Kista endometrioid
Kista ini biasanya unilateral dengan permukaan licin; pada dinding dalam
terdapat satu lapisan sel-sel, yang menyerupai lapisan epitel endometrium. Kista
ini, yang ditemukan oleh Sartesson dalam tahun 1969, tidak ada hubungannya
dengan endometriosis ovarii.
5 Kista dermoid
Kista dermoid suatu teratoma kistik yang jinak dimana struktur- struktur
ektodermal dengan diferensiasi sempurna, seperti epitel kulit, rambut, gigi dan
produk glandula sebasea berwarna putih kuning menyerupai lemak nampak lebih
menonjol daripada elemen elemen endoderm dan mesoderm. Bahan yang
terdapat dalam rongga kista ini ialah produk dari kelenjar sebasea berupa massa
lembek seperti lemak bercampur dengan rambut
f.

Patofisiologi
Setiap hari, ovarium normal akan membentuk beberapa kista kecil yang
disebut Folikel de Graff. Pada pertengahan siklus, folikel dominan dengan
diameter lebih dari 2.8 cm akan melepaskan oosit mature. Folikel yang ruptur
akan menjadi korpus luteum, yang pada saat matang memiliki struktur 1,5 2 cm
dengan kista ditengah-tengah. Bila tidak terjadi fertilisasi pada oosit, korpus

luteum akan mengalami fibrosis dan pengerutan secara progresif. Namun bila
terjadi fertilisasi, korpus luteum mula-mula akan membesar kemudian secara
gradual akan mengecil selama kehamilan.(6)
Kista ovari yang berasal dari proses ovulasi normal disebut kista fungsional
dan selalu jinak. Kista dapat berupa folikular dan luteal yang kadang-kadang
disebut kista theca-lutein. Kista tersebut dapat distimulasi oleh gonadotropin,
termasuk FSH dan HCG.
Kista fungsional multiple dapat terbentuk karena stimulasi gonadotropin atau
sensitivitas terhadap gonadotropin yang berlebih. Pada neoplasia tropoblastik
gestasional (hydatidiform mole dan choriocarcinoma) dan kadang-kadang pada
kehamilan multiple dengan diabetes, hcg menyebabkan kondisi yang disebut
hiperreaktif lutein. Pasien dalam terapi infertilitas, induksi ovulasi dengan
menggunakan gonadotropin (FSH dan LH) atau terkadang clomiphene citrate,
dapat menyebabkan sindrom hiperstimulasi ovari, terutama bila disertai dengan
pemberian HCG.(7)
Kista neoplasia dapat tumbuh dari proliferasi sel yang berlebih dan tidak
terkontrol dalam ovarium serta dapat bersifat ganas atau jinak. Neoplasia yang
ganas dapat berasal dari semua jenis sel dan jaringan ovarium. Sejauh ini,
keganasan paling sering berasal dari epitel permukaan (mesotelium) dan sebagian
besar lesi kistik parsial. Jenis kista jinak yang serupa dengan keganasan ini adalah
kistadenoma serosa dan mucinous. Tumor ovari ganas yang lain dapat terdiri dari
area kistik, termasuk jenis ini adalah tumor sel granulosa dari sex cord sel dan
germ cel tumor dari germ sel primordial. Teratoma berasal dari tumor germ sel
yang berisi elemen dari 3 lapisan germinal embrional; ektodermal, endodermal,
dan mesodermal. Endometrioma adalah kista berisi darah dari endometrium
ektopik. Pada sindroma ovari pilokistik, ovarium biasanya terdiri folikel-folikel
dengan multipel kistik berdiameter 2-5 mm, seperti terlihat dalam sonogram.(7)
g.

Diagnosis

1. Anamnesa
Diagnosis dimulai dari anamnesis berdasarkan keluhan pasien. Banyak
tumor ovarium tidak menunjukkan gejala dan tanda, terutama tumor ovarium
yang kecil. Adanya tumor bisa menyebabkan pembenjolan perut. Rasa sakit atau
tidak nyaman pada perut bagian bawah. Rasa sakit tersebut akan bertambah jika
kista tersebut terpuntir atau terjadi ruptur. Terdapat juga rasa penuh di perut.
Tekanan terhadap alat-alat di sekitarnya dapat menyebabkan rasa tidak nyaman,
gangguan miksi dan defekasi. Dapat terjadi penekanan terhadapat kandung kemih
sehingga menyebabkan frekuensi berkemih menjadi sering.
Kista ovarium dapat menyebabkan obstipasi karena pergerakan usus
terganggu atau dapat juga terjadi penekanan dan menyebabkan defekasi yang
sering. Pasien juga mengeluhkan ketidaknyamanan dalam coitus, yaitu pada
penetrasi yang dalam. Pada tumor yang besar dapat terjadi tidak adanya nafsu
makan dan rasa enak dan rasa sesak. Pada umumnya tumor ovarium tidak
mengubah pola haid, kecuali jika tumor tersebut mengeluarkan hormon.
Ireguleritas siklus menstruasi dan pendarahan vagina yang abnormal dapat terjadi.
Pada anak muda, dapat menimbulkan menarche lebih awal.
Polikistik ovari menimbulkan sindroma polistik ovari, terdiri dari hirsutism,
inferilitas, aligomenorrhea, obesitas dan acne. Pada keganasan, dapat ditemukan
penurunan berat badan yang drastis.
2. Pemeriksaan Fisik
Kista yang besar dapat teraba dalam palpasi abdomen. Walau pada wanita
premonopause yang kurus dapat teraba ovarium normal tetapi hal ini adalah
abnormal jika terdapat pada wanita postmenopause. Perabaan menjadi sulit pada
pasien yang gemuk. Teraba massa yang kistik, mobile, permukaan massa
umummnya rata. Serviks dan uterus dapat terdorong pada satu sisi. Dapat juga
teraba, massa lain, termasuk fibroid dan nodul pada ligamentum uterosakral, ini
merupakan keganasan atau endometriosis. Pada perkusi mungkin didapatkan
ascites yang pasif.

3. Pemeriksaan Penunjang
a Laboratorium
Tidak ada tes laboratorium diagnostik untuk kista ovarium. Cancer antigen
125 (CA 125) adalah protein yang dihasilkan oleh membran sel ovarium normal
dan karsinoma ovarium. Level serum kurang dari 35 U/ml adalah kadar CA 125
ditemukan meningkat pada 85% pasien dengan karsinoma epitel ovarium.
Terkadang CA 125 ditemukan meningkat pada kasus jinak dan pada 6% pasien
sehat.
b Laparoskopi
Mengetahui asal tumor dari ovarium atau tidak, dan menentukan sifat- sifat tumor.
c Ultrasonografi
Menentukan letak dan batas tumor kistik atau solid, cairan dalam rongga perut
yang bebas dan tidak. USG adalah alat diagnostik imaging yang utama untuk kista
ovarium. Kista simpleks bentuknya unilokular, dindingnya tipis, satu cavitas yang
didalamnya tidak terdapat internal echo. Biasanya jenis kista seperti ini tidak
ganas, dan merupakan kista fungsioal, kista luteal atau mungkln juga kistadenoma
serosa atau kista inklusi.
Kista kompleks multilokular, dindingnya menebal terdapat papul ke dalam lumen.
Kista seperti ini biasanya maligna atau mungkin juga kista neoplasma benigna.
USG sulit membedakan kista ovarium dengan hidrosalfing, paraovarian dan kista
tuba. USG endovaginal dapat memberikan pemeriksaan morfologi yang jelas dari
struktur pelvis. Pemeriksaana ini tidak memerlukan kandung kemih yang penuh.
USG transabdominal lebih baik dari endovaginal untuk mengevaluasi massa yang
besar dan organ intrabdomen lain, seperti ginjal, hati dan ascites. Ini memerlukan
kandung kemih yang penuh.
d MRI
MRI memberikan gambaran jaringan lunak lebih baik dari CT scan, dapat
memberikan gambaran massa ginekologik yang lebih baik. MRI ini biasanya
tidak diperlukan
e CT Scan
Untuk mengidentifikasi kista ovarium dan massa pelvik, CT Scan kurang baik
bila dibanding dengan MRI. CT Scan dapat dipakai untukmengidentifikasi organ

intraabdomen dan retroperitoneum dalam kasus keganasan ovarium.


h.

Penatalaksanaan
1. Observasi dan Manajemen Gejala
Jika kista tidak menimbulkan gejala, maka cukup dimonitor (dipantau)
selama 1-2 bulan, karena kista fungsional akan menghilang dengan sendirinya
setelah satu atau dua siklus haid. Tindakan ini diambil jika tidak curiga ganas.
Apabila terdapat nyeri, maka dapat diberikan obat-obatan simptomatik seperti
penghilang nyeri NSAID. (6)(7)
2. Operasi
Jika kista membesar, maka dilakukan tindakan pembedahan, yakni
dilakukan pengambilan kista dengan tindakan laparoskopi atau laparotomi.
Biasanya kista yang ganas tumbuh dengan cepat dan pasien mengalami
penurunan berat badan yang signifikan. Akan tetapi kepastian suatu kista itu
bersifat jinak atau ganas jika telah dilakukan pemeriksaan Patologi Anatomi
setelah dilakukan pengangkatan kista itu sendiri melalui operasi. Biasanya untuk
laparoskopi diperbolehkan pulang pada hari ke-3 atau ke-4, sedangkan untuk
laparotomi diperbolehkan pulang pada hari ke-8 atau ke-9.
Indikasi umum operasi pada tumor ovarium melalu screening USG umumnya
dilakukan apabila besar tumor melebihi 5cm baik dengan gejala maupun tanpa
gejala. Hal tersebut diikuti dengan pemeriksaan patologi anatomi untuk
memastikan keganasan sel dari tumor tersebut. (6)(7)

i.

Prognosis
Prognosis dari kista jinak sangat baik. Kista jinak tersebut dapat tumbuh di
jaringan sisa ovarium atau di ovarium kontralateral. Apabila sujdah dilakukan
operasi, angka kejadian kista berulang cukup kecil yaitu 13%.
Kematian disebabkan karena karsinoma ovari ganas berhubungan dengan
stadium saat terdiagnosis pertama kali dan pasien dengan keganasan ini sering
ditemukan sudah dalam stadium akhir.(2)

Angka harapan hidup dalam 5 tahun rata-rata 41.6%. Tumor sel granuloma
memiliki angka bertahan hidup 82% sedangkan karsinoma sel skuamosa yang
berasal dari kista dermoid berkaitan dengan prognosis yang buruk.(2)

BAB III
LAPORAN KASUS

Tanggal Pemeriksaan : 29-07-2015


Jam

Ruangan : Kasuari Atas RSU Anutapura

: 09.00 WITA

IDENTITAS
Nama

: Ny. S

Nama Suami : Tn. A

Umur

: 23 tahun

Umur

: 24 tahun

Alamat

: Buol, desa Kali

Alamat

: Buol, desa Kali

Pekerjaan

: URT

Pekerjaan

: Wiraswasta

Agama

: Islam

Agama

: Islam

Pendidikan

: SMA

Pendidikan

: SMA

ANAMNESIS
P2A1
Menarche

HPHT : Pasien Lupa


: 14 tahun

Perkawinan

: 1, 5 tahun,

Lama Haid

: 3-5 hari

Keluhan Utama

Benjolan pada bibir vagina sebelah kanan


Rw. Penyakit Sekarang

Pasien masuk dengan keluhan terdapat benjolan pada bibir vagina sebelah
kanan. Hal ini dirasakan sejak kurang lebih 4 bulan yang lalu. Awalnya pasien merasa
terdapat benjolan kecil pada bibir vaginanya yang kemudian bertambah besar sampai
seperti saat ini. Pasien mengeluh ada riwayat gatal yang hilang timbul pada daerah
kelaminnya sejak kurang lebih 1 tahun belakangan. Terdapat nyeri pada benjolan
yang menjalar sampai ke daerah anus. Pasien mengaku kadang-kadang mengalami
keputihan. Pasien juga mengeluh sering mengalami nyeri perut. Dan tidak haid
selama 3 bulan terakhir. Pasien mengaku sudah melakukan pemeriksaan di RS.Buol
dan di diagnosa dengan Tumor Vulva + Kista Ovarium Neoplasma. Tidak pernah
terdapat pendarahan diluar siklus haid. Pusing (-), sakit kepala (-), mual (-), muntah
(-), BAB (+), BAK (+) lancar.
Riwayat Penyakit Dahulu

Hipertensi (-), Penyakit Jantung (-), Diabetes Mellitus (-), Asma (-).
Riwayat Penyakit Keluarga :
Tidak ada anggota keluarga yang pernah mengalami keluhan yang sama dengan
pasien. Riwayat penyakit kanker payudara dalam keluarga (-).
PEMERIKSAAN FISIK
KU

: Baik

Tek. Darah

: 100/60 mmHg

Kesadaran

: Compos mentis

Nadi

: 80 x/menit

BB

: Kg

Respirasi

: 20 x/menit

TB

: cm

Suhu

: 36,3 C

Kepala Leher

Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterus (-/-), edema palpebra (-/-), pembesaran
KGB (-), pembesaran kelenjar tiroid (-).
Thorax
:
I : Pergerakan thoraks simetris, sikatrik (-)
P : Nyeri tekan (-), massa tumor (-)
P : Sonor pada kedua lapang paru, pekak pada area jantung, batas jantung DBN
A : Bunyi pernapasan vesikular +/+, rhonki -/-, wheezing -/-. Bunyi jantung I/II
murni regular
Abdomen
:
I: Permukaan abdomen datar, benjolan (-), asites (-)
A: Bunyi peristaltik usus (+) normal
P: Timpani di seluruh kuadran abdomen
P: Nyeri tekan (+), massa (-)
Genitalia
:
Vulva : Terdapat benjolan pada vulva kanan ( 4cm)

Ekstremitas :
Edema (-)/(-), turgor kulit normal, akral hangat
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Laboratorium:

WBC

: 8,4 x 109/l

HGB

: 9,2 gr/dl

HCT

: 81,4 %

PLT

: 262 x 109/l

RBC

: 3.42 x 1012/l

HbSAg : non-reaktif

RESUME
Pasien perempuan umur 23 tahun masuk dengan keluhan terdapat benjolan pada
vulva dextra. Hal ini dirasakan sejak kurang lebih 4 bulan yang lalu. Awalnya pasien
merasa terdapat benjolan kecil yang kemudian bertambah besar sampai seperti saat
ini. Pasien mengeluh ada riwayat gatal yang hilang timbul pada daerah vulva sejak
kurang lebih 1 tahun belakangan. Terdapat nyeri pada benjolan yang menjalar sampai
ke daerah anus. Pasien mengaku kadang-kadang mengalami keputihan. Pasien
mengaku kadang-kadang mengalami keputihan. Pasien juga mengeluh sering
mengalami nyeri perut. Dan tidak haid selama 3 bulan terakhir. Pasien mengaku
sudah melakukan pemeriksaan di RS.Buol dan di diagnosa dengan Tumor Vulva +
Kista Ovarium Neoplasma. Tidak pernah terdapat pendarahan diluar siklus haid.
Pusing (-), sakit kepala (-), mual (-), muntah (-), BAB (+), BAK (+) lancar.
TTV: TD: 100/60 mmHg

N: 80 x/menit

R: 20 x/menit

Pemeriksaan Fisik:
Terdapat nyeri tekan pada abdomen
-

Pemeriksaan genitalia: terdapat benjolan 4cm pada vulva dextra

Pemeriksaan Laboratorium
WBC

: 8,4 x 109/l

HGB

: 9,2 gr/dl

HCT

: 81,4 %

S:37 C

PLT

: 262 x 109/l

RBC

: 3.42 x 1012/l

HbSAg : non-reaktif
DIAGNOSIS
Tumor Vulva + Kista Ovarium

PENATALAKSANAAN
-

IVFD RL 20 Tpm

Drips Farbion 1amp/kol/24jam/IV

Asam Mefenamat 3 x 500mg

Nonflamin 3x1

Kompres Nacl

Vaginal toilet

ANJURAN PEMERIKSAAN
-

USG Gynekologi

FOLLOW UP
N
O
1.

TANGGAL

HASIL FOLLOW UP

30-07-2015 - S: nyeri pada benjolan di vulva kanan. Demam (-), pusing (-), mual
(-), muntah (-), BAB (+), BAK (+).
- O:
KU: Baik
Kesadaran: Compos Mentis
TD: 110/70 mmHg, N: 82 x/m, R: 20 x/m, S: 36,5 C
Peristaltik usus (+)

- A: Tumor Vulva + Kista Ovarium


- P: IVFD RL 20 Tpm
- Drips Farbion 1amp/kol/24jam/IV

2.

31-07-2015 -

3.

01-08-2015 -

Asam Mefenamat 3 x 500mg

Nonflamin 3x1

Kompres Nacl

Vaginal toilet

- Rencana USG Gynekology


S: nyeri pada benjolan di vulva kanan. Demam (-), pusing (-), mual
(-), muntah (-), BAB (+), BAK (+).
O:
KU: Baik
Kesadaran: Compos Mentis
TD: 110/70 mmHg, N: 72 x/m, R: 21 x/m, S: 36,5 C
Hasil USG
Kesan: Kista Ovarium berseptasi
A: Tumor Vulva + Kista Ovarium
P:
- IVFD RL 20 Tpm
-

Drips Farbion 1amp/kol/24jam/IV

Asam Mefenamat 3 x 500mg

Nonflamin 3x1

Kompres Nacl

- Vaginal toilet
S: nyeri pada benjolan di vulva kanan. Demam (-), pusing (-), mual
(-), muntah (-), BAB (+), BAK (+).
O:
KU: Baik
Kesadaran: Compos Mentis
TD: 100/60 mmHg, N: 84 x/m, R: 20 x/m, S: 36,5 C
VT : Vulva : terdapat benjolan kesan padat ukuran 8x8x8
Uterus : Batas Normal
Adnexa : teraba masa kistik
A: Tumor Vulva + Kista Ovarium
P: IVFD RL 20 Tpm
- Drips Farbion 1amp/kol/24jam/IV

4.

02-08-2015 -

4.

Asam Mefenamat 3 x 500mg

Nonflamin 3x1

Kompres Nacl

Vaginal toilet

- Cek Ca125 dan CEA


S: nyeri pada benjolan di vulva kanan. Demam (-), pusing (-), mual
(-), muntah (-), BAB (+), BAK (+).
O:
KU: Baik
Kesadaran: Compos Mentis
TD: 100/60 mmHg, N: 84 x/m, R: 20 x/m, S: 36,5 C
Konjungtiva mata anemis (-)/(-)
Hasil Lab
Ca125 : 11,03 U/ml
CEA : 10,16 ng/ml
A: Tumor Vulva Susp.Maligna + Kista Ovarium
P:
- IVFD RL 20 Tpm
-

Drips Farbion 1amp/kol/24jam/IV

Inj. Cefotaxim 1amp/12jam

Asam Mefenamat 3 x 500mg

Nonflamin 3x1

Kompres Nacl

Vaginal toilet

- Anjuran Berobat Lanjut


03-08-2015 - S: nyeri pada benjolan di vulva kanan. Demam (-), pusing (-), mual
(-), muntah (-), BAB (+), BAK (+)
- O:
KU: Baik
Kesadaran: Compos Mentis
TD: 100/60 mmHg, N: 84 x/m, R: 20 x/m, S: 36,5 C
- A: Tumor Vulva Susp.Maligna + Kista Ovarium
- P:
- Asam Mefenamat 3 x 500mg
-

Neurodex 0-1-0

Vaginal toilet

Pasien Pulang

PEMBAHASAN
Pasien ini didiagnosis tumor vulva susp.maligna dan kista ovarium
berdasarkan dari hasil anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Dari
anamnesis dan pemeriksaan fisik didapatkan keluhan terapat benjolan pada vulva
sejak kurang lebih 4 bulan yang lalu. Terdapat juga keluhan riwayat gatal yang sering
hilang timbul sejak 1 tahun yang lalu, nyeri pada daerah benjolan yang menjalar
sampai ke anus, dan keputihan. Juga ada keluhan nyeri perut yang sering di rasakan,
dan tidak haid sejak 3bulan yang lalu. Berdasarkan teori, manifestasi klinis dari
tumor vulva yang bersifat ganas adalah adanya gatal yang merupakan ciri khas
kanker vulva, terdapat lesi awal yang tampak sebagai dermatitis kronis kemudian
dapat ditemukan pertumbuhan benjolan yang terus tumbuh dan menjadi keras, dan
kadang terdapat nyeri. Pada pasien ini dilakukan pemeriksaan penunjang USG dan
Pemeriksaan Penanda Tumor yaitu pemeriksaan Ca125 dan CEA. Hasil yang
didapatkan dari pemeriksaan USG adalah terdapat kista ovarium berseptasi. Dan dari
pemeriksaan penunjang lainnya yaitu pemeriksaan Ca125 dan CEA yang merupakan
pemeriksaan penanda tumor di dapatkan hasil Ca125 11,03 U/ml dan CEA 10,16
ng/ml. Berdasarkan standar Rumah sakit, kadar normal dari Ca125 adalah 0-35 U/ml
dan CEA 0-5,0 ng/ml. Berdasarkan teori, pemeriksaan Ca125 bertujuan untuk melihat
apakah terdapat kanker ovarium karena protein ini ditemukan pada permukaan
sebagian besar sel-sel kanker ovarium dan dapat dideteksi dengan pemeriksaan darah.
Wanita dengan kanker ovarium seringkali mengalami peningkatan kadar CA-125,
tetapi peningkatan kadar CA-125 tidak selalu menandakan adanya kanker ovarium.
Peningkatan kadar CA-125 juga dapat disebabkan oleh kanker yang lain, misalnya
kanker endometrium, kanker tuba fallopi, kanker peritoneum, atau keadaan bukan

kanker, seperti endometriosis, peradangan pada pelvis, sirosis, kehamilan, atau pada
menstruasi normal. Terdapat peningkatan pada hasil CEA yaitu 10,16 ng/ml.
Dijelaskan bahwa Kadar CEA bisa ditemukan meningkat pada berbagai jenis kanker,
tetapi peningkatan kadar CEA paling sering dihubungkan dengan kanker kolorektal
(kanker usus besar dan rektum). Pemeriksaan kadar CEA biasanya tidak digunakan
untuk mendiagnosa atau deteksi dini kanker kolorektal, tetapi lebih dipakai untuk
memprediksi beratnya penyakit. Semakin tinggi kadar CEA saat kanker kolorektal
terdeteksi, maka semakin mungkin kanker telah memasuki stadium lanjut. CEA juga
digunakan untuk mengevaluasi penyakit setelah terapi. Kadar CEA diukur kembali
untuk melihat apakah kanker berespon terhadap terapi yang diberikan atau kanker
muncul kembali setelah terapi. Pengukuran kadar CEA juga dapat digunakan untuk
kanker paru dan kanker payudara. Kadar CEA dapat tinggi pada beberapa kanker
lainnya, seperti pada melanoma, limfoma, kanker tiroid, kanker pankreas, kanker hati,
kanker lambung, kanker ginjal, kanker prostat, kanker leher rahim (serviks), kanker
indung telur (ovarium), dan kanker kandung kemih. Jika kadar CEA tinggi saat
kanker terdiagnosa, maka kadar CEA dapat digunakan untuk memantau respon
penyakit terhadap terapi yang diberikan. Berdasarkan hasil pemeriksaan CEA yang
meningkat maka dicurigai tumor vulva tersebut bersifat maligna dan sudah
bermetastasis sampai ke daerah yang terdekat disekitarnya. Namun untuk penegakan
diagnosis lebih pastinya kita tetap harus melakukan pemeriksaan lebih lanjut seperti
pemeriksaan biopsi yang merupakan gold standar, pemeriksaan CT Scan, dan
pemeriksaan penunjang lainnya. Pada kasus ini, pasien disarankan untuk berobat
lanjut ke Rumah sakit yang memiliki fasilitas lebih memadai.
Penanganan dari kanker vulva ini sendiri berdasarkan dari stadium. Pada
pasien ini belum ada diagnosis pasti untuk stadium kanker yang di derita. Hal ini
dikarenakan pemeriksaan yang dilakukan belum semuanya lengkap. Sehingga, Pada
pasien ini diterapi dengan pemberian obat simptomatik seperti antinyeri, neurotropik,
antiinflamasi, dan antibiotik. Dan pasien disarankan untuk berobat lanjut ke tempat

yang mempunyai alat pemeriksaan yang lebih memadai. Dan pada kasus ini, pasien
disarankan untuk berobat lanjut ke Rumah sakit yang memiliki fasilitas lebih
memadai.
DAFTAR PUSTAKA

1. Ginger

J.

Gardner, Diane

Reidy-Lagunes,

Paola A.

Gehrig,

2011,

Neuroendocrine tumors of the gynecologic tract: A Society of Gynecologic


Oncology (SGO) clinical document, Gynecologic Oncology, c Division of
Gynecologic Oncology, University of North Carolina at Chapel Hill, Chapel
Hill, NC, USA
2. Sarwono R, 2014, Ilmu Kandungan, edisi ketiga, PT Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo, Jakarta
3. Neville F. Hacker , Patricia J. Eifel , Jacobus van der Velden, 2012, Cancer of
the vulva, International Journal of Gynecology and Obstetrics,
4. Raghvendra Thakur, et all, 2013, Clinical analysis of vulvar cancer,
International

Journal

of

Reproduction,

Contraception,

Obstetrics

and

Gynecology
5. Chitra Viswanathan,et all, 2013, Multimodality Imaging of Vulvar Cancer:
Staging, Therapeutic Response, and Complications, Volume 200, Number 6
American Journal of Roentgen
6. Schorge et al. 2008 Williams Gynecology [Digital E-Book] Gynecologic
Oncology Section. Ovarian Tumors and Cancer. McGraw-Hills..
7. DeChemey AH, Pernoll ML. Current Obstetric and Gynecologic Diagnosis and

Treatment 8th edition. Norwalk : Appleton & Lange;