Anda di halaman 1dari 71

KONSEP DASAR PEMBELAJARAN TERPADU

KB. 1 KONSEP DASAR PEMBELAJARAN TERPADU


A. Pengertian Pembelajaran Terpadu
Ada dua istilah yang memiliki hubungan yang saling terkait, yaitu kurikulum terpadu
(integrated curriculum) dan pembelajaran terpadu (integrated learning).
1. Kurikulum terpadu adalah kurikulum yang menggabungkan sejumlah disiplin
ilmu melalui pemaduan isi, ketrampilan, dan sikap (Wolfinger, 1994:133). Rasional
pemaduan itu disebabkan oleh beberapa hal berikut:
a. Pengalaman belajar bersifat interdisipliner sehingga diperlukan multi-skill
b. Tuntutan interaksi kolaboratif
c. Memudahkan anaka membuat hubungan antarskemata
d. Efesiensi
e. Tuntutan keterlibatan anak tinggi dalam proses pembelajaran
2. Pembelajaran terpadu sebagai suatu konsep dapat diartikan sebagai pendekatan
pembelajaran yang melibatkan beberapa mata pelajaran untuk memberikan
pengalaman yang bermakna kepada siswa. Bermakna artinya siswa akan
memahami konsep-konsep yang mereka pelajari melalui pengalaman langsung dan
mengbungkannya dengan konsep lain yang sudah mereka pahami. Menurut
Aminudin, (1994). Pengertian pembelajaran terpadu dapat dilihat sebagai berikut:
a.
Suatu pendekatan pembelajaran yang menghubungkan berbagai mata
pelajaran yang mencerminkan dunia nyata di sekeliling serta dalam rentang
kemampuan dan perkembangan anak;
b.
Suatu cara untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan anak
secara serempak(simultan);
c.
Merakit atau menggabungkan sejumlah konsep dalam beberapa mata
pelajaran yang berbeda, dengan harapan siswa akan belajar dengan lebih baik dan
bermakna.
Menurut Anda dimana letak perbedaannya antara konsepsi kurikulum terpadu
dengan pembelajaran terpadu? Apakah dari segi perencanaan dan pelaksanaannya.
B. Karakteristik Pembelajaran Terpadu
1. Berpusat pada siswa (student centered)
2. Memberikan pengalaman langsung kepada siswa (direct experiences)
3. Pemisahan antarmata pelajaran tidak begitu jelas.
4. Menyajikan konsep-konsep dari mata pelajaran dalam sutu proses pembelajaran
5. Bersifat luwes (fleksibel)
6. Hasil pembelajaran dapat berkembang sesuai dengan minat dan kebutuhan
siswa.
Beberapa kendala dalam pelaksanaan pembelajaran terpadu di antaranya:

a. Kompetensi dasar dalam kurikulm 2004 masih terpisah-pisah kedalam mata


pelajaran mata pelajaran yang ada.
b. Pelaksanannya dibutuhkan sarana dan prasana belajar yang memadai untuk
mencapai kompetensi dasar secara optimal.
c. Belum semua guru sekolah dasar memahami konsep pembelajaran terpadu
secara utuh.
C. Landasan Pembelajaran Terpadu
Landasan ini pada hakikatnya adalah faktor-faktor yang harus diperhatikan dan
dipertimbangkan oleh para guru pada waktu merencanakan, melaksanakan, serta
menilai proses dan hasil pembelajaran.
1. Landasan filosofis
Perumusan kompetensi dan materi pada dasarnya bergantung pada pertimbanganpertimbangan filosofis. Ada tiga aliran filsafat sebagai berikut:
a. Aliran progresivisme menekankan pada penekanan kreativitas, pemberian
sejumlah kegiatan, suasana yang alamiah dan memperhatikan pengalaman siswa.
Dengan kata lain proses pembelajaran bersifat mekanistis (Ellis, 1993).
b. Aliran konstruktivisme melihat pengalaman langsung siswa (direct experiences)
sebagai kunci dalam pembelajaran.
c. Aliran humanisme melihat siswa dari segi keunikan, potensi dan motivasi yang
dimilikinya.
2. Landasan Psikologis
Berkaitan dengan psikologi perkembangan peserta didik dan teori belajar. Tugas
utama guru membantu mengoptimalkan perkembangan siswa seperti
perkembangan fisik, intelektual, sosial, emosional, dan moral melalui proses belajar.
Pandangan Psikologis yang melandasi pembelajaran terpadu sebagai berikut.
a. Pada dasarnya masing-masing siswa membangun realitasnya sendiri.
b. Pikiran seseorang pada dasarnya mempunyai kemampuan untuk mencari pola
dan hubungan antara gagasan yang ada.
c. Pada dasarnya siswa adalah seorang individu dengan berbagai kemampuan
yang dimilikinya dan mempunyai kesempatan untuk berkembang.
d. Keseluruhan perkembangan anaka adalah terpadu dan anak melihat dirinya dan
sekitarnya secara utuh (holistik).
3. Landasan Praktis
Berkaitan dengan kondisi-kondisi nyata yang pada umumnya terjadi dalam proses
pembelajaran saat ini, sehingga harus mendapat perhatian dalam pelaksanaan
pembelajaran terpadu. landasan praktis dalam pembelajaran terpadu sebagai
berikut.
a. Perkembangan ilmu pengetahuan begitu cepat sehingga terlalu banyak informasi
yang harus dimuat dalam kurikulum.
b. Hamper semua pelajaran di sekolah diberikan secara terpisah satu sama lain,
padahal seharusnya saling terkait.

c. Permasalahan yang muncul dalam pembelajaran sekarang ini cenderung lebih


bersifat lintas mata pelajaran (interdisipliner) sehingga dipelukan usaha kolaboratif
antara berbagai mata pelajaran untuk memecahkannya.
d. Kesenjangan yang terjadi antara teori dan praktek dapat dipersempit dengan
pembelajaran terpadu sehingga siswa akan mampu berfikir teoritis dan pada saat
yang sama mampu berpikir praktis.
4. Perlu dipertimbangkan landasan IPTEK
Untuk menyelaraskan materi pembelajaran terpadu dengan perkembangan dan
kemajuan yang terjadi dalam dunia IPTEK, baik secara langsung maupun tidak
langsung.
D. Prinsip-Prinsip Pembelajaran Terpadu
Dalam proses penggalian tema-tema perlu diperhatikan prinsip-prinsip sebagai
berikut.
1. Tidak terlalu luas.
2. Harus bermakna
3. Disesuaikan dengan tingkat perkembangan siswa
4. Sebagian besar minat siswa
5. Mempertimbangkan peristiwa yang otentik
6. Mempertimbangkan kurikulum yang berlaku
7. Mempertimbangkan ketersediaan sumber belajar.
Dalam proses pelaksanaan pembelajaran terpadu perlu diperhatikan prinsip-prinsip
sebagai berikut.
1. Guru hendaknya tidak otoriter yang mendominasi aktivitas pembelajaran
2. Pemberian tanggung jawab individu dan kelompok harus jelas dalam setiap
tugas
3. Guru perlu bersikap akomodatif terhadap ide-ide yang tidak terpikirkan dalam
perencanaan pembelajaran
Dalam proses penilaian pembelajaran terpadu perlu diperhatikan prinsip-prinsip
sebagai berikut.
1. Memberi kesempatan kepada siswa untuk melakukan penilaian diri (self
evaluation) di samping bentuk penilaian lainnya.
2. Guru perlu mengajak para siswa untuk menilai perolehan belajar yang telah
dicapai berdasarkan kriteria keberhasilam pencapaian tujuan dan kompetensi yang
telah disepakati.
E. MANFAAT PEMBELAJARAN TERPADU
Beberapa manfaat yang dipetik dalam pembelajaran terpadu, antara lain:
1.
Menggabungkan berbagai mata pelajaran akan terjadi penghematan karena
tumpang tindih materi dapat dikurangi bahkan dihilangkan.
2.
Siswa melihat hubungan-hubungan yang bermakna sebab materi
pembelajaran lebih berperan sebagai sarana atau alat
3.
Meningkatakan taraf kecakapan berpikir siswa

4.
Kemungkinan pembelajaran yang terpotong-potong sedikit sekali terjadi
5.
Memberikan penerapan-penerapan dunia nyata
6.
Pemaduan antarmata pelajaran diharapkan penguasaaan materi akan
semakin baik dan meningkat
7.
Pengalaman belajar antarmata pelajaran sangat positif untuk membentuk
pendekatan menyeluruh pembelajaran terhadap pengembangan ilmu pengetahuan
8.
Motivasi dapat diperbaiki dan ditingkatkan dalam pembelajaran antarmata
pelajaran
9.
Membantu menciptakan struktur kognitif atau pengetrahuan awal siswa
10. Terjadi kerja sama yang lebih meningkat antara para guru, para siswa, gurusiswa dan siswa-nara sumber lain, belajar lebih menyenangkan belajar dalam situasi
yang lebih nyata, dan dalam konteks yang lebih bermakna.
Datftar Pustaka
Hernawan, Asep Herry Drs. Dkk. (2009).Pembelajaran Terpadu di
SD.Jakarta:Universitas Terbuka
http://ncosyuda.blogspot.co.id/2012/11/konsep-dasar-pembelajaran-terpadu.html

Pembelajaran Tematik Terpadu Tingkat Sekolah Dasar


Jamaris Melayu

Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003 menyatakan bahwa


Pendidikan Nasional bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi
manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat,
berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta
bertanggung jawab. Sekolah Dasar merupakan salah satu bentuk lembaga pendidikan pada
jalur pendidikan formal yang melandasi jenjang pendidikan menengah. Sekolah Dasar
bertujuan untuk meletakkan dasar kecerdasan pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia serta
keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut (Permendiknas
Nomor
23
Tahun
2006).
Implikasi diterbitkannya Peraturan Pemerintah Nomor 32 tentang Perubahan atas Peraturan
Pemerintah nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan ialah perubahan
model pendekatan pembelajaran yang dilakukan di Sekolah Dasar. Pendekatan
pembelajaran tersebut adalah pendekatan pembelajaran tematik terpadu atau yang
seringkali disebut sebagai tematik integratif. Pembelajaran tematik terpadu merupakan
pendekatan pembelajaran yang mengintegrasikan berbagai kompetensi dari berbagai mata
pelajaran dalam berbagai tema. Pendekatan pembelajaran ini digunakan untuk seluruh kelas
pada sekolah dasar. Pembelajaran dengan pendekatan tematik ini mencakup seluruh
kompetensi mata pelajaran yaitu: PPKn, Bahasa Indonesia, IPA, IPS, Matematika, Pendidikan
Jasmani Olahraga dan Kesehatan, Seni Budaya dan Prakarya kecuali mata pelajaran
Pendidikan Agama dan Budi Pekerti. Kompetensi mata pelajaran IPA pada kelas I III
diintegrasikan pada mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Matematika, sedangkan untuk
mata pelajaran IPS diintegrasikan ke mata pelajaran Bahasa Indonesia, PPKN dan
Matematika. Kompetensi dasar IPA dan IPS di kelas IV-VI masing-masing berdiri sendiri.
Pendekatan ini dimaksudkan agar peserta didik tidak belajar secara parsial sehingga
pembelajaran dapat memberikan makna yang utuh pada peserta didik seperti yang
tercermin pada berbagai tema yang tersedia. Tematik terpadu disusun berdasarkan berbagai
proses integrasi yaitu integrasi intra-disipliner, inter-disipliner, multi-disipliner dan transdisipliner.

KARAKTERISTIK PEMBELAJARAN TEMATIK TERPADU

Pembelajaran tematik merupakan salah satu model pembelajaran terpadu yang


menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat
memberikan pengalaman bermakna bagi peserta didik. Pembelajaran terpadu didefinisikan
sebagai pembelajaran yang menghubungkan berbagai gagasan, konsep, keterampilan,
sikap, dan nilai, baik antar mata pelajaran maupun dalam satu mata pelajaran.Pembelajaran
tematik memberi penekanan pada pemilihan suatu tema yang spesifik yang sesuai dengan
materi pelajaran, untuk mengajar satu atau beberapa konsep yang memadukan berbagai
informasi.
Pembelajaran tematik berdasar pada filsafat konstruktivisme yang berpandangan bahwa
pengetahuan yang dimiliki peserta didik merupakan hasil bentukan peserta didik sendiri.
Peserta didik membentuk pengetahuannya melalui interaksi dengan lingkungan, bukan hasil
bentukan orang lain. Proses pembentukan pengetahuan tersebut berlangsung secara terus
menerus sehingga pengetahuan yang dimiliki peserta didik menjadi semakin lengkap.
Pembelajaran tematik menekankan pada keterlibatan peserta didik secara aktif dalam
proses pembelajaran, sehingga peserta didik dapat memperoleh pengalaman langsung dan
terlatih untuk dapat menemukan sendiri berbagai pengetahuan yang dipelajarinya. Teori
pembelajaran ini dimotori para tokoh Psikologi Gestalt, termasuk Piaget yang menekankan
bahwa pembelajaran haruslah bermakna dan berorientasi pada kebutuhan dan
perkembangan
anak.
Pembelajaran tematik lebih menekankan pada penerapan konsep belajar sambil melakukan
sesuatu (learning by doing). Oleh karena itu, guru perlu mengemas atau merancang
pengalaman belajar yang akan mempengaruhi kebermaknaan belajar peserta didik.
Pengalaman belajar yang menunjukkan kaitan unsur-unsur konseptual menjadikan proses
pembelajaran lebih efektif. Kaitan konseptual antar mata pelajaran yang dipelajari akan
membentuk skema, sehingga peserta didik akan memperoleh keutuhan dan kebulatan
pengetahuan. Selain itu, penerapan pembelajaran tematik di sekolah dasar akan sangat
membantu peserta didik dalam membentuk pengetahuannya, karena sesuai dengan tahap
perkembangannya peserta didik yang masih melihat segala sesuatu sebagai satu keutuhan
(holistik).

Pembelajaran tematik memiliki ciri khas, antara lain:


1.

Pengalaman dan kegiatan belajar relevan dengan tingkat perkembangan dan


kebutuhan anak usia sekolah dasar;

2.

Kegiatan-kegiatan yang dipilih dalam pelaksanaan pembelajaran tematik bertolak


dari minat dan kebutuhan peserta didik;

3.

Kegiatan belajar dipilih yang bermakna dan berkesan bagi peserta didik sehingga
hasil belajar dapat bertahan lebih lama;

4.

Memberi penekanan pada keterampilan berpikir peserta didik;

5.

Menyajikan kegiatan belajar yang bersifat pragmatis sesuai dengan permasalahan


yang sering ditemui peserta didik dalam lingkungannya; dan

6.

Mengembangkan keterampilan sosial peserta didik, seperti kerjasama, toleransi,


komunikasi, dan tanggap terhadap gagasan orang lain.

Tujuan dari pembelajaran tematik adalah:


1.

Menghilangkan atau mengurangi terjadinya tumpah tindih materi.

2.

Memudahkan peserta didik untuk melihat hubungan-hubungan yang bermakna.

3.

Memudahkan peserta didik untuk memahami materi/konsep secara utuh sehingga


penguasaan konsep akan semakin baik dan meningkat.

Ruang lingkup pembelajaran tematik meliputi semua KD dari semua mata pelajaran kecuali
agama. Mata pelajaran yang dimaksud adalah: Bahasa Indonesia, PPKn, Matematika, IPA,
IPS, Penjasorkes dan Seni Budaya dan Prakarya.
Model-model Keterpaduan
Pembelajaran tematik dapat dilaksanakan dengan menggunakan model pembelajaran.
Forgaty (1991, 61) menyebut sepuluh model, yaitu fragmented, connected, nested,
sequenced, shared, webbed, threaded, integrated, immersed, dan networked. Pada tahun
1997, Tim Pengembang D-II PGSD memilih tiga model untuk dikembangkan yaitu Model
Jaring laba-laba (Spider Webbed) selanjutnya disebut Jaring, Model Terhubung (connected),
dan Model Terpadu (integrated). Model Jaring Laba-laba (Spider Webbed) ini
pengembangannya dimulai dengan menentukan tema. Setelah tema disepakati, jika dirasa
perlu, maka dikembangkan menjadi subtema dengan tetap memperlihatkan keterkaitan
antar mata pelajaran lain. Setelah itu dikembangkan berbagai aktivitas pembelajaran yang
mendukung.

Dalam prosesnya, jika perencanaan tematik ini ada KD yang tidak terakomodasi oleh tema
manapun, maka ada cara lain yang dapat dilakukan yaitu dengan menggunakan dua tipe,
yaitu tematik hanya berisi satu mata pelajaran, dan tematik yang berpusat pada materi
tertentu dalam satu pelajaran. Teknik ini hanya digunakan bagi KD yang tidak dapat masuk
dalam tema dan perlu waktu khusus untuk membelajarkannya. Contoh dalam matematika
dapat dilihat seperti berikut ini :

Keunggulan model Jaring Laba-laba antara lain faktor motivasi berkembang karena adanya
pemilihan tema yang didasarkan pada minat peserta didik. Mereka dapat dengan mudah
melihat bagaimana kegiatan dan ide yang berbeda dapat saling berhubungan dan memiliki
kemudahan untuk lintas semester.
Kelemahan model ini antara lain kecenderungan untuk mengambil tema sangat dangkal
sehingga kurang bermanfaat bagi peserta didik. Selain itu seringkali guru terfokus pada
kegiatan sehingga materi atau konsep menjadi terabaikan. Perlu ada keseimbangan antara
kegiatan dan pengembangan materi pelajaran.

Model Jaring Laba-laba ini menggunakan pendekatan tematik untuk mengintegrasikan


beberapa pelajaran. Tema yang ditetapkan memberi kesempatan kepada guru untuk
menemukan konsep, keterampilan atau sikap yang akan diintegrasikan.
Langkah-langkah pembelajaran yang dapat diterapkan dengan menggunakan Model Jaring
Laba-laba (Webbed) :
1.

Menentukan tema (bisa diperoleh dari hasil diskusi antar guru, diskusi dengan
peserta didik atau berdasarkan ketetapan sekolah atau ketentuan yang lain). Tema ditulis di
bagian tengah jaring.

2.

Menentukan tujuan/kompetensi dasar dari beberapa mata pelajaran yang dapat


dicapai melalui tema yang dipilih. Misalnya, apabila tema cuaca yang dipilih, maka guru
perlu memikirkan apa yang dapat membantu peserta didik dalam tema tersebut untuk
memahami konsep-konsep yang ada. Kompetensi Dasar ini bisa diletakkan/ditulis di jaringjaring tema sesuai mata pelajaran yang ditentukan.

3.

Memilih kegiatan awal untuk memperkenalkan tema secara keseluruhan. Hal ini
dilakukan agar peserta didik memiliki pengetahuan awal yang akan meningkatkan rasa ingin
tahu mereka sehingga peserta didik terdorong untuk mengajukan banyak pertanyaan
terhadap materi yang sedang dibahas. Kegiatan awal yang dapat dilakukan, misalnya guru
membacakan buku tentang cuaca atau mengajak peserta didik untuk menonton film tentang
cuaca.

4.

Mendesain pembelajaran dan kegiatan yang dapat mengaitkan tema dengan


kompetensi (pengetahuan, keterampilan dan sikap) yang ingin dicapai. Contoh kegiatan
seperti peserta didik ditugaskan untuk mengamati cuaca selama satu minggu, setiap hari
peserta didik mengambil gambar yang sudah disiapkan sesuai dengan keadaan cuaca
misalnya cuaca mendung, cerah atau berawan. Setelah satu minggu berjalan, peserta didik
menghitungnya dan mengambil kesimpulan tentang cuaca dari data yang ada.

5.

Menghubungkan semua kegiatan yang telah dilakukan agar peserta didik dapat
melihat dari berbagai aspek sehingga memperoleh pemahaman yang baik.

6.

Kegiatan yang dapat dilakukan misalnya, mendatangkan nara sumber untuk


memberi informasi tentang cuaca atau melihat papan pajangan hasil pekerjaan peserta
didik untuk dibahas bersama. Di bawah ini disajikan contoh pajangan hasil karya peserta
didik pada tema cuaca.

Seperti yang telah disampaikan di atas bahwa pada tahun 1997, Tim Pengembang D-II PGSD
memilih tiga model untuk dikembangkan Model Jaring laba-laba, Model Terhubung dan Model
Terpadu. Kedua model ini juga digunakan guru jika dalam implementasi pembelajaran
tematik megalami kesulitan atau kendala dalam mengintegrasikan berbagai kompetensi
yang ada.
Model Terhubung merupakan alternatif jika dalam mengimplementasi-kan Model Jaring Labalaba, guru mengalami kesulitan untuk mengintegrasikan beberapa mata pelajaran pada
tema yang telah ditentukan. Model ini mengkoneksikan beberapa konsep, beberapa
keterampilan, beberapa sikap, atau bahkan gabungan seperti keterampilan dengan sikap
atau keterampilan dengan konsep yang terdapat pada mata pelajaran tertentu. Sebagai
contoh, ketika guru akan membelajarkan pecahan, guru dapat mengkoneksikan sikap adil
yang dikaitkan dengan makna pecahan sebagai bagian dari suatu keseluruhan dan
keseluruhan itu terdiri atas bagian-bagian yang sama, dan juga dikaitkan dengan
keterampilan mengerjakan operasi hitung pada pecahan. Pecahan juga berkaitan dengan
decimal, persen, dan jual beli. Ketika menjelaskan pengertian pecahan, guru dapat
mengkoneksikan konsep pecahan dengan bangun-bangun geometri. Guru sengaja
menghubungkan satu konsep dengan konsep yang lain, satu topik dengan topik yang lain,
satu keterampilan dengan keterampilan yang lain, atau tugas yang dilakukan dalam satu
hari dengan tugas yang dilakukan pada hari berikutnya, bahkan ide-ide yang dipelajari pada
satu semester berikutnya dalam satu bidang studi, serta menyeimbangkan sikap,
ketrampilan dan pengetahuan.Gambaran model keterhubungan ini dapat dilihat pada
gambar/diagram di bawah ini di mana koneksi dilakukan hanya dalam satu mata pelajaran
saja yaitu pada mata pelajaran matematika.

Keunggulan model ini antara lain peserta didik dapat memperoleh gambaran yang lebih
jelas dan luas dari konsep yang dijelaskan dan peserta didik diberi kesempatan melakukan
pendalaman, peninjauan, perbaikan dan penyerapan (asimilasi) gagasan secara bertahap.
Kelemahan model ini adalah kurang mendorong guru untuk menghubungkan konsep yang
terkait dari berbagai mata pelajaran yang ada karena terfokus pada keterkaitan konsep yang
ada pada mata pelajaran tertentu, sehingga pembelajaran secara menyeluruh.
Di bawah disajikan hasil kerja peserta didik yang merupakan hasil kegiatan yang difokuskan
pada mata pelajaran matematika.

Langkah-langkah pembelajaran dengan Model Terhubung adalah:


1.

Menentukan tema atau topik yang akan dibahas dalam satu mata pelajaran,
misalnya bilangan dalam mata pelajaran matematika.

2.

Menentukan pengetahuan, keterampilan, atau sikap yang akan dikoneksikan.


Pemilihan kompetensi yang akan dikoneksikan yang benar-benar dapat dalam mata
pelajaran tersebut.

Model Terpadu (Integrated) menggunakan pendekatan antar mata pelajaran. Model ini
memandang kurikulum sebagai kaleidoskop bahwa interdisiplin topic disusun meliputi
konsep-konsep yang tumpang tindih dan desain-desain dan pola-pola yang muncul.
Pendekatan keterpaduan antar topik memadukan konsep-konsep dalam matematika, sain,
bahasa dan seni serta penngetahuan sosial.

Model ini dilaksanakan dengan menggabungkan mapel (interdisipliner), menetapkan


prioritas materi pelajaran, keterampilan, konsep dan sikap yang saling berkaitan di dalam
beberapa mata pelajaran. Untuk membuat tema, guru harus menyeleksi terlebih dahulu
konsep dari beberapa mata pelajaran, selanjutnya dikaitkan dalam satu tema untuk
memayungi beberapa mata pelajaran, dalam satu paket pembelajaran bertema.

Penerapan model ini di SD, harus dapat memadukan semua aspek pembelajaran bahasa
sehingga ketrampilan membaca, menulis, mendengar, dan berbicara dikembangkan dengan
rencana yang bulat utuh.
Keunggulan model ini adalah peserta didik merasa senang dengan adanya keterkaitan dan
hubungan timbal balik antar berbagai disiplin ilmu, memperluas wawasan dan apresiasi
guru, jika dapat diterapkan dengan baik maka dapat dijadikan model pembelajaran yang
ideal di lingkungan sekolah melalui integrated day.
Kelemahan model ini adalah sulit mencari keterkaitan antara mata pelajaran yang satu
dengan yang lainnya, sulit mencari keterkaitan aspek keterampilan yang terkait, dan
membutuhkan kerjasama yang bagus antar tim pengajar mata pelajaran terkait tema
dengan perencanaan dan alokasi waktu mengajar yang tepat.
Model ini digunakan pada saat guru akan menyatukan beberapa kompetensi yang terlihat
serupa dari berbagai mata pelajaran. Tema akan ditemukan kemudian setelah seluruh
kompetensi dasar diintegrasikan.
Berikut adalah langkah langkah kegiatan dari model terpadu (integrated):
1.

Membaca dan memahami Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar dari seluruh mata
pelajaran.

2.

Memahami Membaca baik-baik Standar Isi mata pelajaran IPS dan IPA serta mengkaji
makna dari Kompetensi Inti dan kompetensi-kompetensi dasar dari tiap mapel tersebut.

3.

Mencari kompetensi-kompetensi dasar IPS dan IPA yang bisa disatukan dalam tematema tertentu (dari hasil eksplorasi tema) yang relevan. Proses ini akan menghasilkan
penggolongan KD-KD dalam unit-unit tema.

4.

Menuliskan tema yang telah dipilih dan susunan KD-KD IPS dan IPA yang sesuai di
bawah tema tersebut.

5.

Melakukan hal yang sama untuk Standar Isi Bahasa Indonesia dan Matematika.

6.

Meletakkan Kompetensi dasar yang tidak dapat dimasuk kedalam tema di bagian
bawah.

Langkah-langkah tersebut menghasilkan skema berikut:

Pembelajaran Tematik Terpadu dalam Kurikulum 2013


Pembelajaran tematik terpadu yang diterapkan di SD dalam kurikulum 2013 berlandaskan
pada Permendikbud Nomor 65 Tahun 2013 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan
Menengah yang menyebutkan, bahwa Sesuai dengan Standar Kompetensi Lulusan dan
Standar Isi, maka prinsip pembelajaran yang digunakan dari pembelajaran parsial menuju
pembelajaran terpadu. Pelaksanaan Kurikulum 2013 pada SD/MI dilakukan melalui
pembelajaran dengan pendekatan tematik-terpadu dari Kelas I sampai Kelas VI.
1.

Pendekatan pembelajaran tematik terpadu diberikan di sekolah dasar mulai dari


kelas I sampai dengan kelas VI.

2.

Pendekatan yang dipergunakan untuk mengintegrasikan kompetensi dasar dari


berbagai mata pelajaran yaitu; intra-disipliner, inter-disipliner, multi-disipliner dan transdisipliner. Intra Disipliner adalah Integrasi dimensi sikap, pengetahuan dan keterampilan
secara utuh dalam setiap mata pelajaran yang integrasikan melalui tema. Inter Disipliner
yaitu menggabungkan kompetensi dasar-kompetensi dasar beberapa mata pelajaran agar

terkait satu sama lain seperti yang tergambar pada mata pelajaran IPA dan IPS yang
diintegrasikan pada berbagai mata pelajaran lain yang sesuai. Hal itu tergambar pada
Struktur Kurikulum SD untuk Kelas I-III tidak ada mata pelajaran IPA dan IPS tetapi muatan
IPA dan IPS terintegrasi ke mata pelajaran lain terutama Bahasa Indonesia. Multi Disipliner
adalah pendekatan tanpa menggabung-kan kompetensi dasar sehingga setiap mapel masih
memiliki kompetensi dasarnya sendiri. Gambaran tersebut adalah IPA dan IPS yang berdiri
sendiri di kelas IV-VI. Trans Disipliner adalah pendekatan dalam penentuan tema yang
mengaitkan berbagai kompetensi dari mata pelajaran dengan permasalahan yang ada di
sekitarnya.
3.

Pembelajaran tematik terpadu disusun berdasarkan gabungan berbagai proses


integrasi berbagai kompetensi.

4.

Pembelajaran tematik terpadu diperkaya dengan penempatan mata pelajaran Bahasa


Indonesia sebagai penghela/alat/media mata pelajaran lain.

5.

Penilaian dilakukan dengan mengacu pada indikator masing-masing Kompetensi


Dasar dari masing-masing mata pelajaran.

Pembelajaran tematik terpadu menyajikan konsep-konsep dari berbagai mata pelajaran


yang terdapat pada Kompetensi Dasar (KD) KI-3 dan juga keterampilan yang tergambar
pada KD KI-4 dalam suatu proses pembelajaran. Implementasi KD KI-3 dan KD KI-4
diharapkan akan mengembangkan berbagai sikap yang merupakan cerminan dari KI-1 dan
KI-2. Melalui pemahaman konsep dan keterampilan secara utuh akan membantu peserta
didik dalam memecahkan masalah-masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.
Pembelajaran tematik terpadu adalah pembelajaran tepadu yang menggunakan tema untuk
mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna
kepada peserta didik. Tema adalah pokok pikiran atau gagasan pokok yang menjadi pokok
pembicaraan (Poerwadarminta, 1983). Penggunaan tema diharapkan akan memberikan
banyak keuntungan, di antaranya:
1.
2.

3.

Peserta didik mudah memusatkan perhatian pada suatu tema tertentu,


Peserta didik mampu mempelajari pengetahuan dan mengembangkan berbagai
kompetensi dasar antar mata pelajaran dalam tema yang sama;
Peserta didik memahami materi pelajaran lebih mendalam dan berkesan;

4.

Peserta didik dapat dapat memiliki kompetensi dasar lebih baik, karena mengkaitkan
mata pelajaran dengan pengalaman pribadi peserta didik;

5.

Peserta didik mampu lebih merasakan manfaat dan makna belajar karena materi
disajikan dalam konteks tema yang jelas;

6.

Peserta didik lebih bergairah belajar karena dapat berkomunikasi dalam situasi nyata,
untuk mengembangkan suatu kemampuan dalam satu mata pelajaran sekaligus
mempelajari mata pelajaran lain;

7.

Guru dapat menghemat waktu karena mata pelajaran yang disajikan secara tematik
dapat dipersiapkan sekaligus dan diberikan dalam dua atau tiga pertemuan, waktu
selebihnya dapat digunakan untuk kegiatan remedial, pemantapan, atau pengayaan.

Secara pedagogis pembelajaran tematik berdasarkan pada eksplorasi terhadap


pengetahuan dan nilai-nilai yang dibelajarkan melalui tema sehingga peserta didik memiliki
pemahaman yang utuh. Peserta didik diposisikan sebagai pengeksplorasi sehingga mampu
menemukan hubungan-hubungan dan pola-pola yang ada di dunia nyata dalam konteks
yang relevan. Pembelajaran tematik dimaksudkan untuk mengembangkan berbagai
kemampuan, keterampilan dan sikap yang diperoleh melalui proses pembelajaran tematik
terpadu ke dalam konteks dunia nyata yang di bawa kedalam proses pembelajaran secara
kreatif.
Prinsip-prinsip Pembelajaran Tematik Terpadu
Pembelajaran tematik terpadu memiliki prinsip-prinsip sebagai berikut:
1.

Peserta didik mencari tahu, bukan diberi tahu.

2.

Pemisahan antar mata pelajaran menjadi tidak begitu nampak. Fokus pembelajaran
diarahkan kepada pembahasan kompetensi melalui tema-tema yang paling dekat dengan
kehidupan peserta didik.

3.

Terdapat tema yang menjadi pemersatu sejumlah kompetensi dasar yang berkaitan
dengan berbagai konsep, keterampilan dan sikap. 4. Sumber belajar tidak terbatas pada
buku.

4.

Peserta didik dapat bekerja secara mandiri maupun berkelompok sesuai dengan
karakteristik kegiatan yang dilakukan.

5.

Guru harus merencanakan dan melaksanakan pembelajaran agar dapat


mengakomodasi peserta didik yang memiliki perbedaan tingkat kecerdasan, pengalaman,
dan ketertarikan terhadap suatu topik.

6.

Kompetensi Dasar mata pelajaran yang tidak dapat dipadukan dapat diajarkan
tersendiri.

7.

Memberikan pengalaman langsung kepada peserta didik (direct experiences) dari


hal-hal yang konkret menuju ke abstrak.

Karakteristik Mata Pelajaran di SD


PPKN.
Mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan terdiri atas: (1) Pancasila
sebagai dasar negara dan pandangan hidup bangsa diperankan dan dimaknai sebagai
entitas inti yang menjadi sumber rujukan dan kriteria keberhasilan pencapaian tingkat
kompetensi dan pengorganisasian dari keseluruhan ruang lingkup mata pelajaran Pendidikan
Pancasila dan Kewarganegaraan; (2) substansi dan jiwa Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945, nilai dan semangat Bhinneka Tunggal Ika, dan komitmen
Negara Kesatuan Republik Indonesia ditempatkan sebagai bagian integral dari Pendidikan
Pancasila dan Kewarganegaraan, yang menjadi wahana psikologis-pedagogis pembangunan
warganegara Indonesia yang berkarakter Pancasila.
Di SD mata pelajaran PPKn tidak diajarkan tersendiri tetapi diintegrasikan dengan mata
pelajaran yang lain melalui pembelajaran tematik terpadu.
Bahasa Indonesia
Pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik
untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik secara lisan
maupun tulis, sekaligus mengembangkan kemampuan beripikir kritis dan kreatif. Peserta
didik dimungkinkan untuk memperoleh kemampuan berbahasanya dari bertanya,
menjawab, menyanggah, dan beradu argumen dengan orang lain.
Sebagai alat ekspresi diri, bahasa Indonesia merupakan sarana untuk mengungkapkan
segala sesuatu yang ada dalam diri seseorang, baik berbentuk perasaan, pikiran, gagasan,
dan keinginan yang dimilikinya. Begitu juga digunakan untuk menyatakan dan
memperkenalkan keberadaan diri seseorang kepada orang lain dalam berbagai tempat dan
situasi.
Kegiatan berbahasa Indonesia mencakup kegiatan produktif dan reseptif di dalam empat
aspek berbahasa, yakni mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Kemampuan
berbahasa yang bersifat reseptif pada hakikatnya merupakan kemampuan untuk memahami
bahasa yang dituturkan oleh pihak lain. Pemahaman terhadap bahasa yang dituturkan oleh
pihak lain tersebut dapat melalui sarana bunyi atau sarana tulisan. Pemahaman terhadap
bahasa melalui sarana bunyi merupakan kegiatan menyimak dan pemahaman terhadap
bahasa penggunaan sarana tulisan merupakan kegiatan membaca.
Kegiatan reseptif membaca dan menyimak memiliki persamaan yaitu sama-sama kegiatan
dalam memahami informasi. Perbedaan dua kemampuan tersebut yaitu terletak pada
sarana yang digunakan yaitu sarana bunyi dan sarana tulisan. Mendengarkan adalah
keterampilan memahami bahasa lisan yang bersifat reseptif. Berbicara adalah keterampilan
bahasa lisan yang bersifat produktif, baik yang interaktif, semi interaktif, dan noninteraktif.

Adapun menulis adalah keterampilan produktif dengan menggunakan tulisan. Menulis


merupakan keterampilan berbahasa yang paling rumit di antara jenis-jenis keterampilan
berbahasa lainnya, karena menulis bukanlah sekadar menyalin kata-kata dan kalimatkalimat, melainkan juga mengembangkan dan menuangkan pikiran-pikiran dalam suatu
struktur tulisan yang teratur.
Kemampuan berpikir logis, kritis, kreatif, inovatif, dan bahkan inventif peserta didik perlu
secara sengaja dibina dan dikembangkan. Untuk melakukan hal itu, mata pelajaran bahasa
Indonesia menjadi wadah strategis. Melalui membaca, menulis, mendengarkan, dan
berbicara peserta didik dapat mengembangkan kemampuan berpikir tersebut secara terusmenerus yang akan diteruskan juga melalui mata pelajaran yang lain. Hal itu harus benarbenar disadari semua guru BI agar dalam menjalankan tugasnya dapat mewujudkan mata
pelajaran Bahasa Indonesia sebagai wadah pembinaan/ pengembangan kemampuan
berpikir.
Matematika
Matematika dapat didefinisikan sebagai studi dengan logika yang ketat dari topik seperti
kuantitas, struktur, ruang, dan perubahan. Matematika merupakan tubuh pengetahuan yang
dibenarkan (justified) dengan argumentasi deduktif, dimulai dari aksioma-aksioma dan
definisi-definisi".
Kecakapan atau kemahiran matematika merupakan bagian dari kecakapan hidup yang harus
dimiliki siswa terutama dalam pengembangan penalaran, komunikasi, dan pemecahan
masalah- masalah yang dihadapi dalam kehidupan siswa sehari-hari. Matematika selalu
digunakan dalam segala segi kehidupan, semua bidang studi memerlukan ketrampilan
matematika yang sesuai, merupakan sarana komunikasi yang kuat, singkat dan jelas, dapat
digunakan untuk menyajikan informasi dalam berbagai cara, meningkatkan kemampuan
berpikir logis, ketelitian dan kesadaran keruangan, memberikan kepuasan terhadap usaha
memecahkan masalah yang menantang, mengembangkan kreaktivitas dan sebagai sarana
untuk meningkatkan kesadaran terhadap perkembangan budaya.
Pada struktur kurikulum SD/MI, mata pelajaran matematika dialokaskan setara 5 jam
pelajaran (1 jam pelajaran = 35 menit) di kelas I dan 6 jam pelajaran kelas II VI per
minggu, yang sifatnya relatif karena di SD menerapkan pendekatan pembelajaran tematikterpadu. Guru dapat menyesuaikannya sesuai kebutuhan peserta didik dalam pencapaian
kompetensi yang diharapkan. Satuan pendidikan dapat menambah jam pelajaran per
minggu sesuai dengan kebutuhan satuan pendidikan tersebut.
Cakupan materi matematika di SD meliputi bilangan asli, bulat, dan pecahan, geometri dan
pengukuran sederhana, dan statistika sederhana serta kompetensi matematika dalam
mendukung pencapaian kompetensi lulusan SD ditekankan pada:

Menunjukkan sikap positif bermatematika: logis, kritis, cermat dan teliti, jujur,
bertanggung jawab, dan tidak mudah menyerah dalam menyelesaikan masalah, sebagai
wujud implementasi kebiasaan dalam inkuiri dan eksplorasi matematika.

Memiliki rasa ingin tahu, percaya diri, dan ketertarikan pada matematika, yang
terbentuk melalui pengalaman belajar.

Menghargai perbedaan dan dapat mengidentifikasi kemiripan dan perbedaan


berbagai sudut pandang.

Mengklasifikasi
pengelompokannya.

Mengidentifikasi dan menjelaskan informasi dari komponen, unsur dari benda,


gambar atau foto dalam kehidupan sehari-hari.

Menjelaskan pola bangun dalam kehidupan sehari-hari dan memberikan dugaan


kelanjutannya berdasarkan pola berulang.

Memahami efek penambahan dan pengambilan benda dari kumpulan objek, serta
memahami penjumlahan dan pengurangan bilangan asli, bulat dan pecahan.

Menggunakan diagram, gambar, ilustrasi, model konkret atau simbolik dari suatu
masalah dalam penyelesaian masalah.

berbagai

benda

berdasar

bentuk,

warna,

serta

alasan

Memberikan interpretasi dari sebuah sajian informasi/data.

IPA
Materi IPA di SD kelas I sd III terintegrasi dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia dan
Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan. Pembelajaran dilakukan secara terpadu dalam
tema dengan mata pelajaran lain. Untuk SD kelas IV sd VI, IPA menjadi mata pelajaran
tersendiri namun pembelajaran dilakukan secara tematik terpadu.
Ruang lingkup materi mata pelajaran IPA SD mencakup Tubuh dan panca indra, Tumbuhan
dan hewan, Sifat dan wujud benda- benda sekitar, Alam semesta dan kenampakannya,
Bentuk luar tubuh hewan dan tumbuhan, Daur hidup makhluk hidup, Perkembangbiakan
tanaman, Wujud benda, Gaya dan gerak, Bentuk dan sumber energi dan energi alternatif,
Rupa bumi dan perubahannya, Lingkungan, alam semesta, dan sumber daya alam, Iklim dan
cuaca, Rangka dan organ tubuh manusia dan hewan, Makanan, rantai makanan, dan
keseimbangan ekosistem, Perkembangbiakan makhluk hidup, Penyesuaian diri makhluk
hidup pada lingkungan, Kesehatan dan sistem pernafasan manusia, Perubahan dan sifat
benda, Hantaran panas, listrik dan magnet, Tata surya, Campuran dan larutan.

IPS
IPS adalah mata pelajaran yang mempelajari tentang kehidupan manusia dalam berbagai
dimensi ruang dan waktu serta berbagai aktivitas kehidupannya. Mata pelajaran IPS
bertujuan untuk menghasilkan warganegara yang religius, jujur, demokratis, kreatif, kritis,
senang membaca, memiliki kemampuan belajar, rasa ingin tahu, peduli dengan lingkungan
sosial dan fisik, berkontribusi terhadap pengembangan kehidupan sosial dan budaya, serta
berkomunikasi secara produktif.
Ruang lingkup IPS terdiri atas pengetahuan, ketrampilan, nilai dan sikap yang dikembangkan
dari masyarakat dan disiplin ilmu sosial. Penguasaan keempat konten ini dilakukan dalam
proses belajar yang terintegrasi melalui proses kajian terhadap konten pengetahuan. Secara
rinci, materi IPS dirumuskan sebagai berikut:

Pengetahuan: tentang kehidupan masyarakat di sekitarnya, bangsa, dan umat


manusia dalam berbagai aspek kehidupan dan lingkungannya

Keterampilan: berpikir logis dan kritis, membaca, belajar (learning skills, inquiry),
memecahkan masalah, berkomunikasi dan bekerjasama dalam kehidupan bermasyarakatberbangsa.

Nilai: nilai-nilai kejujuran, kerja keras, sosial, budaya, kebangsaan, cinta damai, dan
kemanusiaan serta kepribadian yang didasarkan pada nilai-nilai tersebut.

Sikap: rasa ingin tahu, mandiri, menghargai prestasi, kompetitif, kreatif dan inovatif,
dan bertanggungjawab

Materi IPS mencakup kehidupan manusia dalam:

Tempat dan Lingkungan

Waktu Perubahan dan Keberlanjutan

Organisasi dan Sistem Sosial

Organisasi dan Nilai Budaya

Kehidupan dan Sistem Ekonomi

Komunikasi dan Teknologi

Pengemasan materi IPS disesuaikan dengan jenjang pendidikan. Pada kelas I III (SD/MI) IPS
sebagai bagian integral dari mata pelajaran lain yaitu bahasa Indonesia, dan PPKn yang
diajarkan secara tematik terpadu.

Seni Budaya dan Prakarya


Mata pelajaran Seni Budaya merupakan aktivitas belajar yang menampilkan karya seni
estetis, artistik, dan kreatif yang berakar pada norma, nilai, perilaku, dan produk seni
budaya bangsa. Mata pelajaran ini bertujuan mengembangkan kemampuan peserta didik
untuk memahami seni dalam konteks ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni serta berperan
dalam perkembangan sejarah peradaban dan kebudayaan, baik dalam tingkat lokal,
nasional, regional, maupun global. Pembelajaran seni di tingkat pendidikan dasar dan
menengah bertujuan mengembangkan kesadaran seni dan keindahan dalam arti umum,
baik dalam domain konsepsi, apresiasi, kreasi, penyajian, maupun tujuan-tujuan psikologisedukatif untuk pengembangan kepribadian peserta didik secara positif. Pendidikan Seni
Budaya di sekolah tidak semata-mata dimaksudkan untuk membentuk peserta didik menjadi
pelaku seni atau seniman namun lebih menitik beratkan pada sikap dan perilaku kreatif, etis
dan estetis .
Mata pelajaran Seni Budaya di tingkat pendidikan dasar sangat kontekstual dan diajarkan
secara konkret, utuh, serta menyeluruh mencakup semua aspek (seni rupa, seni musik, seni
tari dan prakarya), melalui pendekatan tematik. Untuk itu para pendidik seni harus memiliki
wawasan yang baik tentang eksistensi seni budaya yang hidup dalam konteks lingkungan
sehari-hari di mana ia tinggal, maupun pengenalan budaya lokal, agar peserta didik
mengenal, menyenangi dan akhirnya mempelajari. Dengan demikian pembelajaran seni
budaya dan prakarya di SD harus dapat; Memanfaatkan lingkungan sebagai kegiatan
apresiasi dan kreasi seni.
Ruang lingkup materi untuk seni budaya dan prakaraya di SD/MI mencakup: gambar
ekspresif, mozaik, karya relief, lagu dan elemen musik, musik ritmis, gerak anggota tubuh,
meniru gerak, kerajinan dari bahan alam, produk rekayasa, pengolahan makanan, cerita
warisan budaya, gambar dekoratif, montase, kolase, karya tiga dimensi, lagu wajib, lagu
permainan, lagu daerah, alat musik ritmis dan melodis, gerak tari bertema, penyajian tari
daerah, kerajinan dari bahan alam dan buatan (anyaman, teknik meronce, fungsi pakai,
teknik ikat celup, dan asesoris), tanaman sayuran, karya rekayasa sederhana bergerak
dengan angin dan tali, cerita rakyat, bahasa daerah, gambar ilustrasi, topeng, patung, lagu
anak-anak, lagu daerah, lagu wajib, musik ansambel, gerak tari bertema, Penyajian tari
bertema, kerajinan dari bahan tali temali, bahan keras, batik, dan teknik jahit, apotik hidup
dan merawat hewan peliharaan, olahan pangan bahan makanan umbi-umbian dan olahan
non pangan sampah organik atau anorganik , cerita secara lisan dan tulisan unsur-unsur
budaya daerah, bahasa daerah, pameran dan pertunjukan karya seni.
Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan
Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan pada hakikatnya adalah proses pendidikan
yang memanfaatkan aktivitas fisik untuk menghasilkan perubahan holistik dalam kualitas
individu, baik dalam hal fisik, mental, serta emosional. Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan

Kesehatan memperlakukan anak sebagai sebuah kesatuan utuh, makhluk total, daripada
hanya menganggapnya sebagai seseorang yang terpisah kualitas fisik dan mentalnya.
Pendidikan Pendidikan Jasmani, Olahraga, Dan Kesehatan membantu peserta didik
mengembangkan pemahaman tentang apa yang mereka perlukan untuk membuat
komitmen seumur hidup tentang arti penting hidup sehat, aktif dan mengembangkan
kapasitas untuk menjalani kehidupan yang memuaskan dan produktif. Sehingga berdampak
pada meningkatkan produktivitas dan kesiapan untuk belajar, meningkatkan semangat,
mengurangi ketidakhadiran, mengurangi biaya perawatan kesehatan, penurunan kelakuan
anti-sosial seperti bullying dan kekerasan, mempromosikan hubungan yang aman dan sehat,
dan meningkatkan kepuasan pribadi.
Karakteristik Perkembangan Gerak Anak Usia SD, pada usia antara 7-8 tahun, anak sedang
memasuki perkembangan gerak dasar dan memasuki tahap awal perkembangan gerak
spesifik. Karakteristik awal perkembangan gerak spesifik dapat diidentifikasi dengan makin
sempurnanya kemampuan melakukan berbagai kemampuan gerak dasar yang menuntut
kemampuan koordinasi dan keseimbangan agak kompleks. Oleh karenanya, keterampilan
gerak yang dimiliki anak telah dapat diorientasikan pada berbagai bentuk, jenis dan tingkat
permainan yang lebih kompleks.
Pada anak berusia antara 9 s.d 10 tahun, anak telah dapat mengunjukkerjakan rangkaian
gerak yang mutipleks-kompleks dengan tingkat koordinasi yang makin baik. Kualitas
kemampuan pada tahap ini dipengaruhi oleh ketepatan rekayasa dan stimulasi lingkungan
yang diberikan kepada anak pada usia sebelumnya. Pada tahap ini, anak laki-laki dan
perempuan telah memasuki masa awal masa adolense. Dengan pengaruh perkembangan
hormonal pada usia ini, mereka akan mengalami pertumbuhan fisik dan perkembangan
fungsi motorik yang sangat cepat.
Ruang lingkup materi mata pelajaran pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan adalah
sebagai berikut:

Pola Gerak Dasar, meliputi: a). pola gerak dasar lokomotor atau gerakan berpindah
tempat, misalnya; berjalan, berlari, melompat, berguling, mencongklak, b) pola gerak nonlokomotor atau bergerak di tempat, misalnya; membungkuk, meregang, berputar,
mengayun, mengelak, berhenti, c). Pola gerak manipulatif atau mengendalikan/ mengontrol
objek, misalnya; melempar bola, menangkap bola, memukul bola menggunakan tongkat,
menendang bola.

Aktivitas Permainan dan Olahraga termasuk tradisional, misalnya; rounders, kasti,


softball, atletik sepak bola, bola voli, bola basket, bola tangan, sepak takraw, tenis meja,
bulutangkis, silat, karate. Kegiatan ini bertujuan untuk memupuk kecenderungan alami anak
untuk bermain melalui kegiatan bermain informal dan meningkatkan pengembangan
keterampilan dasar, kesempatan untuk interaksi sosial. Menerapkannya dalam kegiatan
informal dalam kompetisi dengan orang. Juga untuk mengembangkan keterampilan dan
memahami dari konsep-konsep kerja sama tim, serangan, pertahanan dan penggunaan

ruang dalam bentuk eksperimen/eksplorasi untukmengembangkan keterampilan dan


pemahaman.

Aktivitas Kebugaran, meliputi pengembangan komponen keburan berkaitan dengan


kesehatan, terdiri dari; daya tahan (aerobik dan anaerobik), kekuatan, kelenturan, komposisi
tubuh, dan pengembangan komponen kebugaran berkaitan dengan keterampilan, terdiri
dari; kecepatan, kelincahan, keseimbangan, dan koordinasi.

Aktivitas Senam dan Gerak Ritmik, meliputi senam lantai, senam alat, apresiasi
terhadap kualitas estetika dan artistik dari gerakan, tarian kreatif dan rakyat. Konsep gerak
berkaitan eksplorasi gerak dengan tubuh dalam ruang, dinamika perubahan gerakan dan
implikasi dari bergerak di kaitannya dengan apakah orang lain dan/nya lingkungannya
sendiri.

Aktivitas Air, memuat kompetensi dan kepercayaan diri saat peserta didik berada di
dekat, di bawah dan di atas air. Memberikan kesempatan unik untuk pengajaran gaya-gaya
renang (punggung, bebas, dada, dan kupu-kupu) dan juga penyediaan peluang untuk
kesenangan bermain di air dan aspek lain dari olahraga air termasuk pertolongan dalam
olahraga air.

Kesehatan, meliputi; kebersihan diri sendiri dan lingkungan, makanan dan minuman
sehat, penanggulangan cidera ringan, kebersihan alat reproduksi, penyakit menular,
menghidari diri dari bahaya narkoba, psikotropika, seks bebas, P3K, dan bahaya HIV/AIDS.

DESAIN PEMBELAJARAN TEMATIK TERPADU


Perencanaan Pembelajaran
Mengkaji Silabus
Dalam rangka pelaksanaan pembelajaran tematik terpadu, pendidik perlu melakukan
pengkajian terhadap silabus yang telah disiapkan sebelum mengembangkannya menjadi
RPP yang akan digunakan dalam kegiatan di sekolah. Kegiatan pengkajian silabus bertujuan
untuk mengetahui antara lain keterkaitan antara sub tema dengan kompetensi mata
pelajaran yang akan dibelajarkan dan kegiatan pembelajaran yang dikembangkan. Melalui
kegiatan pengkajian silabus ini diharapkan guru juga memperoleh beberapa informasi,
antara lain: (1) ketersediaan tema dan sub tema, (2) persebaran kompetensi dasar pada
tema (pemetaan), dan (3) pengembangan indikator pada setiap tema (jaringan indikator
pada tema.
Pengembangan Tema dan sub tema
Pembelajaran tematik terpadu dilaksanakan dengan menggunakan berbagai tema sebagai
pemersatu pembelajaran. Dalam pembelajaran tematik terpadu tema merupakan alat atau

wahana untuk mencapai tujuan. Pada Kurikulum 2013, pemerintah telah menyiapkan tematema yang dapat digunakan pendidik dalam proses pembelajaran tematik terpadu. Dalam
implementasinya, guru perlu mempelajari tema yang tersedia dan jika berdasarkan hasil
analisis daftar tema yang tersedia dirasa kurang atau belum memenuhi karakteristik
sekolah/daerah guru dapat menambah atau mengurangi tema atau sub tema dengan tetap
memperhatikan prinsip-prinsip pemilihan tema yaitu:
Memperhatikan lingkungan yang terdekat dengan peserta didik.
Dari yang termudah menuju yang sulit.
Dari yang sederhana menuju yang kompleks.
Dari yang konkret menuju ke yang abstrak.
Memungkinkan terjadinya proses berpikir pada diri peserta didik.
Ruang lingkup tema disesuaikan dengan usia dan perkembangan peserta didik, termasuk
minat, kebutuhan, dan kemampuannya.
Persebaran kompetensi dasar pada tema (pemetaan)
Pendidik perlu melakukan persebaran seluruh Kompetensi Dasar dari setiap mata pelajaran
pada tema yang tersedia, sehingga tidak ada kompetensi dasar yang tertinggal. Jika dari
hasil pemetaan terdapat KD yang belum masuk dalam silabus, guru dapat
menambahkannya. Contoh format yang dapat digunakan adalah:
Format Pemetaan Kompetensi Dasar dalam Tema
Berdasarkan format pemetaan Pendidik dapat mengembangkan indikator untuk setiap sub
tema yang akan dilaksanakan. Hal ini perlu dilakukan untuk melihat keterkaitan antar mata
pelajaran. Cara yang dapat dilakukan adalah dengan mengembangkan indikator pada
jaringan indikator. contoh jaringan indikator pada sub tema seperti berikut:
Mengembangkan RPP
Silabus digunakan sebagai acuan dalam pengembangan rencana pelaksanaan
pembelajaran. Menyusun atau mengembangkan RPP adalah langkah perencanaan yang
harus dilakukan oleh setiap guru.
RPP merupakan rencana kegiatan pembelajaran tatap muka untuk satu pertemuan (satu
hari). RPP dikembangkan dari silabus dengan memperhatikan buku peserta didik dan buku
guru yang sudah disiapkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
RPP disusun secara lengkap dan sistematis agar pembelajaran berlangsung secara
interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, efisien, memotivasi peserta didik untuk
berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan
kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta
didik.
Prinsip-prinsip dalam menyusun RPP mencakup hal-hal sebagai berikut.

Setiap RPP harus memuat secara utuh memuat kompetensi sikap spiritual (KD dari
KI-1), sosial (KD dari KI-2), pengetahuan (KD dari KI-3), dan keterampilan (KD dari KI-4).

Memperhatikan perbedaan individual peserta didik misalnya kemampuanawal,


tingkat intelektual, bakat, potensi, minat, motivasi belajar, kemampuansosial, emosi, gaya
belajar, kebutuhan khusus, kecepatan belajar, latar belakang budaya, norma, nilai, dan/atau
lingkungan peserta didik.

Mendorong anak untuk berpartisipasi secara aktif.


Menggunakan prinsip berpusat pada peserta didik untuk mendorong semangat
belajar, motivasi, minat, kreativitas, inisiatif, inspirasi, inovasi dan kemandirian.
Mengembangkan budaya membaca, menulis dan berhitung.

Memberi umpan balik dan tindak lanjut untuk keperluan penguatan, pengayaan dan
remedial.

Menekankan adanya keterkaitan dan keterpaduan antara KD, materi pembelajaran,


kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi, penilaian, dan sumber belajar
dalam satu keutuhan pengalaman belajar.

Mengakomodasi pembelajaran tematik-terpadu, keterpaduan lintas mata pelajaran,


lintas aspek belajar, dan keragaman budaya.

Menekankan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi secara integratif,


sistematis, dan efektif sesuai dengan situasi dan kondisi.

Komponen

RPP

Identitas satuan pendidikan,

Identitas mata pelajaran atau tema/subtema;

Kelas/semester;

Materi pembelajaran;

terdiri

atas:

Alokasi waktu yang ditentukan sesuai dengan keperluan untuk pencapaian KD dan
beban belajar dengan mempertimbangkan jumlah jam pelajaran yang tersedia dalam
silabus dan KD yang harus dicapai;
Kompetensi dasar dan indikator pencapaian kompetensi;

Materi pembelajaran, memuat fakta, konsep, prinsip, dan prosedur yang relevan;

Mmetode pembelajaran, yang disesuaikan dengan karakteristik peserta didik dan KD


yang akan dicapai;

Media dan
pembelajaran;

Langkah-langkah pembelajaran yang dilakukan melalui tahapan pendahuluan, inti,


dan penutup; dan

Penilaian hasil pembelajaran memuat soal, kunci jawaban, pedoman skoring/rubrik.


Komponen-komponen RPP secara operasional diwujudkan dalam bentuk format berikut ini.

sumber

pembelajaran

yang

digunakan

untuk

melaksanakan

Pada setiap KD dikembangkan indikator atau penanda. Indikator untuk KD yang diturunkan
dari KI-1 dan KI-2 dirumuskan dalam bentuk perilaku umum yang bermuatan nilai dan sikap
yang gejalanya dapat diamati. Indikator untuk KD yang diturunkan dari KI-3 dan KI-4
dirumuskan dalam bentuk perilaku spesifik yang dapat diamati dan terukur. Pada kegiatan
inti, kelima pengalaman belajar tidak harus muncul seluruhnya dalam satu pertemuan tetapi
dapat dilanjutkan pada pertemuan berikutnya, tergantung cakupan muatan pembelajaran.
Tahapan pengembangan RPP pembelajaran tematik:

Memilah dan memilih Kompetensi Dasar Mata pelajaran pada Silabus yang dapat
dipadukan dalam tema tertentu untuk satu hari. b. Memilah dan memilih kegiatan-kegiatan
di dalam silabus yang sesuai dengan KD.

Kegiatan dalam silabus yang disiapkan untuk 3 atau 4 minggu (tergantung dengan
tema/subtema) perlu dipilah menjadi kegiatan untuk satu minggu, kemudian dipilah dan
dipilih lagi untuk kegiatan satu hari.

Dalam memilah dan memilih kegiatan dari silabus, guru perlu memperhatikan
keterkaitan antara berbagai kegiatan dari beberapa mata pelajaran yang akan
diintegrasikan sehingga pembelajaran berlangsung sesuai dengan alur.

Menentukan Indikator pencapaian kompetensi berdasarkan kegiatan di silabus yang


sudah dipilih.

Di dalam menyusun RPP, selain menggunakan silabus, guru bisa menggunakan buku
teks pelajaran dan buku guru serta hasil analisis KD dengan tema yang telah dilakukan.

Di dalam menyusun RPP, guru harus memperhatikan alokasi waktu untuk setiap
kegiatan dan kedalaman kompetensi yang diharapkan.

Apabila kompetensi yang akan diberikan dalam suatu tema memerlukan kemampuan
prasyarat yang belum pernah diajarkan, guru perlu mengajarkan kompetensi prasyarat
terlebih dahulu.

Pelaksanaan Pembelajaran
Tahapan pelaksanaan pembelajaran
Pelaksanaan pembelajaran tematik terpadu setiap hari dilakukan dengan menggunakan tiga
tahapan yaitu kegiatan pendahuluan, inti dan penutup.
1.

Kegiatan Pendahuluan. Kegiatan ini dilakukan terutama untuk menyiapkan peserta


didik secara psikis dan fisik untuk mengikuti proses pembelajaran; memberi motivasi belajar
peserta didik secara kontekstual sesuai manfaat dan aplikasi materi ajar dalam kehidupan
sehari-hari, dengan memberikan contoh dan perbandingan lokal, nasional, dan internasional;
mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengaitkan pengetahuan sebelumnya dengan
materi yang akan dipelajari; menjelaskan tujuan pembelajaran atau kompetensi dasar yang
akan dicapai; dan menyampaikan cakupan materi dan penjelasan uraian kegiatan sesuai
silabus. Kegiatan ini dilakukan terutama untuk menciptakan suasana awal pembelajaran
untuk mendorong peserta didik menfokuskan dirinya agar mampu mengikuti proses
pembelajaran dengan baik. Sifat dari kegiatan pembukaan adalah kegiatan untuk
pemanasan. Pada tahap ini dapat dilakukan penggalian terhadap pengalaman anak tentang
tema yang akan disajikan. Beberapa contoh kegiatan yang dapat dilakukan adalah bercerita,
kegiatan fisik/jasmani sesuai dengan tema, bernyanyi, bernyanyi sambil menari mengikuti
irama musik, dan menceritakan pengalaman.

2.

Kegiatan Inti. Kegiatan inti difokuskan pada kegiatan-kegiatan yang bertujuan


untuk pengembangan sikap, pengetahuan dan keterampilan. Dalam rangka pengembangan
Sikap, maka seluruh aktivitas pembelajaran berorientasi pada tahapan kompetensi yang
mendorong peserta didik untuk melakukan aktivitas melalui proses afeksi yang dimulai dari
menerima, menjalankan, menghargai, menghayati, hingga mengamalkan. Untuk kompetensi
pengetahuan dilakukan melalui aktivitas mengetahui, memahami, menerapkan,
menganalisis, mengevaluasi, hingga mencipta. Untuk kompetensi keterampilan diperoleh
melalui kegiatan mengamati, menanya, mencoba, menalar, menyaji, dan mencipta. Seluruh
isi materi (topik dan subtopik) mata pelajaran yang diturunkan dari keterampilan harus
mendorong peserta didik untuk melakukan proses pengamatan hingga penciptaan. Untuk
mewujudkan keterampilan tersebut perlu melakukan pembelajaran yang menerapkan
modus belajar berbasis penyingkapan/penelitian (discovery/inquiry learning) dan
pembelajaran yang menghasilkan karya berbasis pemecahan masalah (project based
learning). Seluruh aktivitas pembelajaran dalam kegiatan inti meliputi kegiatan mengamati,
menanya, pengumpulan data, mengasosiasi, dan mengkomunikasikan.

3.

Kegiatan Penutup. Sifat dari kegiatan penutup adalah untuk menenangkan dan
melakukan refleksi dalam rangka evaluasi. Evaluasi yang dilakukan mengkhususkan pada

seluruh rangkaian aktivitas pembelajaran dan hasil-hasil yang diperoleh dan yang
selanjutnya secara bersama menemukan manfaat langsung maupun tidak langsung dari
hasil pembelajaran yang telah berlangsung; Kegiatan penutup juga dimaksudkan untuk
memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran; melakukan kegiatan
tindak lanjut dalam bentuk pemberian tugas, baik tugas individual maupun kelompok; dan
menginformasikan rencana kegiatan pembelajaran untuk pertemuan berikutnya. Beberapa
contoh kegiatan akhir/penutup yang dapat dilakukan adalah menyimpulkan/mengungkapkan
hasil pembelajaran yang telah dilakukan, pesan-pesan moral, musik/apresiasi
musik/bernyanyi.

Prinsip Pelaksanaan Pembelajaran


Pelaksanaan pembelajaran Tematik terpadu memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

Berpusat pada peserta didik. Pembelajaran tematik berpusat pada peserta didik
(student centered), hal ini sesuai dengan pendekatan belajar modern yang lebih banyak
menempatkan peserta didik sebagai subjek belajar sedangkan guru lebih banyak berperan
sebagai fasilitator.

Bersifat fleksibel. Pembelajaran tematik bersifat luwes. Guru dapat mengaitkan


materi dari satu mata pelajaran dengan mata pelajaran yang lainnya, bahkan
mengaitkannya dengan keadaan lingkungan di mana sekolah dan peserta didik berada.

Pembelajaran sesuai dengan minat dan kebutuhan peserta didik. Peserta didik diberi
kesempatan untuk mengembangkan potensi yang dimiliki sesuai dengan minat dan
kebutuhannya.

Menggunakan prinsip belajar yang menyenangkan. Suasana dalam pembelajaran


diupayakan berlangsung secara menyenangkan. Menyenangkan bisa dibangun dengan
berbagai kegiatan yang bisa mengakomodasi kegemaran peserta didik, misal bermain tekateki, tebak kata, bernyanyi lagu anak-anak, menari atau kegiatan lain yang disepakati
bersama dengan peserta didik. Menyenangkan tidak dimaksudkan banyak tertawa atau
banyak bernyanyi. Menyenangkan lebih dimaksudkan mengasyikan.

Pembelajaran peserta didik aktif. Peserta didik terlibat baik fisik maupun mental
dalam proses pembelajaran sejak perencanaan hingga evaluasi pembelajaran.

Pendekatan pembelajaran
Pembelajaran tematik terpadu perlu memperhatikan pendekatan, strategi, model dan
metode pembelajaran. Pendekatan dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang
kita terhadap proses pembelajaran. Pendekatan yang berpusat pada pendidik menurunkan
strategi pembelajaran langsung (direct instruction), pembelajaran deduktif atau

pembelajaran ekspositori. Sedangkan, pendekatan pembelajaran yang berpusat pada


peserta didik menurunkan strategi pembelajaran discovery dan inkuiri serta strategi
pembelajaran induktif (Sanjaya, 2008:127). Strategi suatu seni menggunakan kecakapan
dan sumber daya untuk mencapai sasarannya melalui hubungan yang efektif dengan
lingkungan dan kondisi yang paling menguntungkan. Model pembelajaran adalah rencana
(pola) yang dapat digunakan untuk membentuk kurikulum, merancang bahan-bahan
pengajaran dan membimbing pengajaran. Sedangkan Metode merupakan jabaran dari
pendekatan. Satu pendekatan dapat dijabarkan ke dalam berbagai metode. Metode adalah
prosedur pembelajaran yang difokuskan ke pencapaian tujuan.
Di dalam Kurikulum 2013 Pendekatan pembelajaran menggunakan pendekatan tematik
terpadu dan pendekatan saintifik. Strategi pada pembelajaran tematik terpadu adalah
pembelajaran peserta didik aktif. Model pembelajaran tematik terpadu menggunakan model
jaring laba-laba. Metode berupa metode proyek yang pembelajarannya dilakukan di dalam
atau di luar ruang kelas yang melibatkan peserta didik untuk melakukan kegiatan yang
mengintegrasikan berbagai kompetensi dan mata pelajaran. Kegiatan tersebut harus
melibatkan berbagai keterampilan seperti keterampilan fisik, intelektual dan juga mata
pelajaran dan kompetensinya yang mencakup sikap, pengetahuan dan keterampilan.
Implementasi pembelajaran terpadu dilaksanakan dalam tahapan pembukaan, inti dan
penutup. Pada kegiatan inti seluruh aktivitas pembelajaran meliputi kegiatan mengamati,
menanya, pengumpulan data, mengasosiasi, dan mengomunikasikan.
Dalam kegiatan mengamati (observing) peserta didik menangkap fenomena dan/atau
informasi tentang benda, manusia, alam, kegiatan, dan gagasan melalui proses pengindraan
seketika dan/atau pengindraan bertujuan. Misalnya: melihat, mendengar, menyimak,
meraba, membaca, memanipulasi.
Kegiatan menanya mendorong Peserta didik mengajukan pertanyaan dari yang bersifat
faktual sampai ke yang bersifat hipotesis, diawali dengan bimbingan guru sampai bersifat
mandiri (menjadi suatu kebasaan) untuk menggali informasi dan/atau makna sesuatu
melalui proses bertanya dialektis (dialectical questioning) dengan mengajukan sejumlah
pertanyaan pelacak (probing question), misalnya mengajukan pertanyaan: Apa, Dimana,
Siapa, Kapan, Mengapa, Bagaimana, Berapa, dan seterusnya.
Kegiatan mengasosiasi/menalar menekankan aktivitas belajar bagi Peserta didik untuk
melakukan proses pemahaman (comprehension) untuk memperoleh/ mendapatkan makna/
pengertian tentang fakta, gejala, kegiatan, gagasan, nilai dll (acquiring and integrating
knowledge) melalui kegiatan: membedakan, membandingkan, menganalisis data dalam
bentuk membuat kategori, menentukan hubungan data/ kategori,menyimpulkan dari hasil
analisis data dll dimulai dari unstructured unistructure multi structure complicated
structure.
Kegiatan mengomunikasikan menekankan aktivitas belajar Peserta didik untuk menyajikan
gagasan, model/produk kreatif dan memberikan penjelasan/mendemonstrasikan hasil

pemecahan masalah, pengembangan, gagasan baru, kesimpulan dalam bentuk lisan,


tulisan, diagram, bagan, gambar atau media lainnya di kelas/di luar kelas.
Dalam melaksanakan kegiatan dengan pendekatan saintifik tersebut, pendidik perlu
menyiapkan berbagai kegiatan yang sesuai dengan karakteristik anak usia SD. Gambaran
perkembangan anak usia SD untuk aspek fisik khususnya pada dimensi tinggi dan berat
badan pada umumnya menurut F.A.Hadis, pertumbuhan fisik anak usia SD cenderung lebih
lambat dan konsisten bila dibandingkan dengan masa usia dini. Rata- rata anak usia SD
mengalami penambahan berat badan sekitar 2,5 - 3,5 kg dan penambahan tinggi badan 5
7 cm per tahun. Sedangkan untuk perkembangan kemampuan motorik pada umumnya:
1. Ketangkasan anak meningkat,
2. Dapat bermain sepeda,
3. Sudah mengetahui kanan dan kiri,
4. Mulai membaca dengan lancar
5. Peningkatan minat pada bidang spiritual.
6. Kecepatan dan kehalusan aktivitas motorik meningkat
7. Mampu menggunakan peralatan rumah tangga
Perkembangan kognitif anak usia awal antara lain:
1. Senang menghasilkan sesuatu dan mengoreksi diri sendiri
2. Mulai mengenal dunia yang lebih luas
3. Sedikit berimajinasi,
4. Rasa ingin tahu meningkat
5. Mampu beradaptasi dengan beberapa kondisi yang dihadapi
6. Bermasalah dengan kondisi abstrak, angka-angka yang banyak, periode waktu dan ruang
Karakteristik yang dimiliki anak-anak usia SD pada umumnya adalah:

Senang Bergerak. Berbeda dengan orang dewasa yang betah duduk berjam-jam,
anak-anak usia SD lebih senang bergerak. Anak-anak usia ini dapat duduk dengan tenang
maksimal sekitar 30 menit.

Senang Bermain. Dunia anak memang dunia bermain yang penuh kegembiraan,
demikian juga dengan anak-anak usia sekolah dasar, mereka masih sangat senang bermain.
Apalagi anak-anak SD kelas rendah.

Senang Melakukan Sesuatu Secara Langsung. Anak-anak usia SD akan lebih


mudah memahami pelajaran yang diberikan guru jika ia dapat mempraktikkan sendiri
secara langsung pelajaran tersebut.

Senang Bekerja dalam Kelompok. Pada usia SD, anak-anak mulai intens
bersosialisi. Pergaulan dengan kelompok sebaya, akan membuat anak usia SD bisa belajar
banyak hal, misalnya setia kawan, bekerja sama, dan bersaing secara sehat.

Berdasarkan karakteristik anak kelas awal tersebut, maka pendidik perlu menyiapkan
berbagai aktivitas/ kegiatan yang cocok dan sesuai. Berbagai kegiatan yang dapat dilakukan
sesuai dengan tahapan perkembangan anak kelas awal (kelas I-III) adalah:

Anak mengenali sesuatu berdasarkan apa yang didengarnya karena itu guru dapat
membacakan teks atau cerita.

Anak usia 7 tahun adalah pendengar yang baik, sehingga guru memberi kesempatan
kepada anak untuk mendengarkan.

Anak usia 8 tahun suka bekerjasama, guru dapat memberikan tugas untuk
melakukan kegiatan berkelompok.

Anak usia 9 tahun mempunyai ciri sedikit berimajinasi oleh karena itu dalam
kegiatan mengamati, guru perlu mendorong anak untuk mampu berimajinasi.

Guru memberi kesempatan dan menyiapkan kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan


anak di luar ruang bersama teman dan sendiri di dalam ruang.

Guru menyiapkan kegiatan yang mendorong anak untuk bergerak secara terarah
untuk mengasah keterampilannya.

Anak perlu diberi kesempatan mengasah keterampilan fisiknya sehingga dapat


mengembangkan kemampuan motorik kasarnya misalnya melalui berbagai kegiatan
berjalan, berlari, melompat, melempar dan untuk motorik halusnya dengan memberi
kesempatan anak untuk menulis, menggambar, menggunting.

Guru memberi kesempatan anak untuk melakukan kegiatan sendiri secara aktif tanpa
diberi contoh.

Untuk anak usia 8 tahun guru dapat menyiapkan berbagai kegiatan yang mendorong
anak untuk berbicara secara aktif karena mereka suka melebih-lebihkan dalam bicara.

Memberi kesempatan kepada anak untuk menjadi pembicara misalnya


menyampaikan hasil kegiatannya, memberi komentar terhadap sesuatu dan sebagainya.

Memberi kesempatan anak untuk melakukan diskusi atau kegiatan tanya jawab
berpasangan karena pada umumnya mereka juga suka berdialog atau melakukan
percakapan berpasangan.

Guru menyiapkan kegiatan yang mendorong anak untuk berkata-kata yang sifatnya
deskriptif misalnya menceritakan pengalaman yang dialaminya.

Guru perlu menyiapkan kegiatan yang mendorong anak unuk berbicara secara aktif
bahkan saat bicara anak usia ini dapat melebih-lebihkan dalam bicaranya dan
perkembangan kosakatanya sangat cepat.

Mendorong anak untuk melaporkan hasil kerjanya secara lisan karena pada
umumnya mereka adalah pembicara yang baik dam mempunyai perkembangan kosakata
yang cepat.

Untuk anak kelas awal guru dapat mendorong anak mengkomunikasikannya dalam
berbagai bentuk gambar lengkap (misal gambar manusia sudah dapat lengkap), mewarnai
gambar dengan warna natural/alami menyerupai warna aslinya.

Guru perlu sering memperingatkan anak usia awal untuk lebih teliti dalam
mengerjakan tugas karena pada umumnya mereka bergerak cepat dan bekerja dengan
tergesa-gesa, karena mereka penuh dengan energi.

Guru perlu menyiapkan berbagai kegiatan yang dilakukan tidak hanya di dalam
ruang tetapi juga di luar ruang karena anak usia ini perlu pelepasan energi secara fisik
(kegiatan di luar ruangan).

Guru perlu mengatur kegiatan yang belum memerlukan konsentrasi yang lama
karena anak usia ini konsentrasinya masih terbatas.

Guru perlu menyiapkan kegiatan yang menyenangkan karena pada usia ini
perkembangan sosialnya masih sangat baik dan penuh dengan humor.

Guru perlu menyiapkan kegiatan yang memungkinkan anak untuk bekerjasama


khususnya dengan teman yang sejenis.

Batasan atau aturan perlu ditata sedemikian rupa karena anak masih bermasalah
dengan aturan dan batasan-batasan.

Guru perlu menyiapkan berbagai kegiatan yang menghasilkan sesuatu karena pada
usia ini mereka senang menghasilkan karya.

Guru juga menyiapkan kegiatan-kegiatan yang berbentuk operasional konkret karena


pada masa ini mereka masih bermasalah dengan kondisi abstrak.

Anak usia ini bukanlah pendengar yang baik karena pada saat mendengarkan ia akan
dipenuhi pula dengan gagasan sehingga terkadang tidak ingat apa yang telah dikatakannya.

Mendorong anak mengungkapkan


pengalaman yang dialaminya.

secara

deskriptif,

misalnya

menceritakan

Menyiapkan berbagai kegiatan yang sifatnya eksplorasi misalnya mencari fakta


dalam kamus, menyelidiki lingkungan, untuk dapat mengenal dunia yang lebih luas bukan
hanya yang dekat dengan dirinya.

Pengelolaan Kelas
Keberhasilan pembelajaran tematik terpadu tergantung pula pada lingkungan kelas yang
diciptakan yang dapat mendorong peserta didik untuk belajar dan menjadi tempat belajar
yang nyaman, aman, dan menyenangkan. Penataan lingkungan kelas bisa berupa
pengaturan peserta didik dan ruang kelas. Pengaturan tersebut mencakup pengaturan mejakursi peserta didik, penataan sumber dan alat bantu belajar, dan penataan pajangan hasil
karya peserta didik. Pengorganisasian atau pengaturan peserta didik dapat dilakukan dalam
bentuk klasikal, kelompok dan individual.
Penataan

lingkungan

kelas

perlu

memperhatikan

hal

berikut:

Mobilitas, memudahkan peserta didik untuk bergerak dari satu pojok ke pojok lain,

Aksesibilitas, memudahkan peserta didik mengakses sumber dan alat bantu belajar,

Interaksi, memudahkan peserta didik untuk berinteraksi dengan sesama teman atau
pendidiknya, dan

Variasi kegiatan, memudahkan peserta didik melakukan berbagai kegiatan yang


beragam, misal berdiskusi, melakukan percobaan, dan presentasi.

Ruang kelas juga dapat dilengkapi dengan Pusat belajar (learning centre). Pusat belajar ini
dapat ditempatkan di pojok kelas. Pusat belajar ini dapat berisi beraneka ragam sesuai
dengan kebutuhan dan dapat diubah dari waktu ke waktu. Fungsi Pusat Belajar dapat
menjadi tempat bagi anak yang sudah menyelesaikan kegiatan sehingga tidak mengganggu
teman lainnya. Contoh pusat belajar yang dapat disesiakan misalnya pojok dengan rak yang
diisi beberapa buku.
Pusat belajar ini suatu saat dapat diubah menjadi pojok matematika, yang dapat digunakan
oleh peserta didik untuk melakukan berbagai kegiatan atau menggunakan sebagai media
yang berhubungan dengan matematika. Kegiatan di tempat ini peserta didik dapat
mengerjakan tugas atau bereksperimen dengan matematika. Sumber atau media belajar
dapat diletakkan pada rak, meja, atau kotak kotak yang diberi label sehingga mudah
ditemukan saat dibutuhkan.
Karya anak juga dapat dipajangkan. Pajangan diganti secara rutin sesuai dengan tema yang
sedang digunakan. Contoh pada waktu pelaksanaan tema Tumbuhan, kelas dapat

dirancang dengan nuansa taman bunga dengan menghiasi berbagai macam bunga-bunga
yang digantung di jendela atau di langit-langit kelas. Pajangan disusun dengan
memperhatikan estetika dan berada dalam jangkauan pandang/sentuh peserta didik
sehingga dapat digunakan sebagai sumber belajar oleh peserta didik.
MODEL PEMBELAJARAN
Pembelajaran tematik terpadu dapat dilaksanakan dengan menggunakan berbagai model
pembelajaran. Model adalah sesuatu yang direncanakan, direkayasa, dikembangkan,
diujicobakan, lalu dikembalikan pada badan yang mendesainnya, kemudian diujicoba ulang,
baru menjadi sesuatu yang final. Melalui tahapan tersebut, maka suatu model dapat
melaksanakan fungsinya sebagaimana mestinya. Ilmiah, (George L. Gropper dan Paul A.
Ross dalam Oemar Hamalik, 2000).
Model, suatu struktur secara konseptual yang telah berhasil dikembangkan dalam suatu
bidang, dan sekarang diterapkan, terutama untuk membimbing penelitian dan berpikir
dalam bidang lain, biasanya dalam bidang yang belum begitu berkembang, (Marx, 1976).
Model adalah kerangka konseptual yang dipakai sebagai pedoman dalam melakukan suatu
kegiatan.
Model pembelajaran merupakan suatu kerangka konseptual yang melukiskan prosedur
secara sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan
belajar tertentu dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan
para pengajar dalam merencanakan dan melaksanakan aktivitas pembelajaran,
(Winataputra, 1996). Model pembelajaran berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang
pembelajaran dan para pembelajar dalam merencanakan dan melaksanakan aktivitas
pembelajaran.
Berikut ini akan dibahas beberapa model pembelajaran dari sekian model yang telah banyak
dikembangkan, antara lain: Model Pembelajaran Langsung, Model Pembelajaran Kooperatif,
Pembelajaran Kontekstual, Model Pembelajaran Penemuan Terbimbing, Problem Based
Learning.
Model Pembelajaran Langsung (Direct Instruction)
Proses pembelajaran langsung adalah proses pendidikan di mana peserta didik
mengembangkan pengetahuan, kemampuan berpikir dan keterampilan psikomotorik melalui
interaksi langsung dengan sumber belajar yang dirancang dalam silabus dan RPP berupa
kegiatan-kegiatan pembelajaran. Dalam pembelajaran langsung tersebut peserta didik
melakukan kegiatan belajar mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengasosiasi
atau menganalisis, dan mengkomunikasikan apa yang sudah ditemukannya dalam kegiatan
analisis. Proses pembelajaran langsung menghasilkan pengetahuan dan keterampilan
langsung atau yang disebut dengan instructional effect.
Ciri-ciri model pembelajaran langsung antara lain:

Adanya tujuan pembelajaran dan prosedur penilaian hasil belajar

Sintaks atau pola keseluruhan dan alur kegiatan pembelajaran

Sistem pengelolaan dan lingkungan belajar yang mendukung berlangsung dan


berhasilnya pengajaran

Model

Pembelajaran

Kooperatif

(Cooperative

Learning)

Ciri-ciri model pembelajaran kooperatif antara lain:

Untuk menuntaskan materi belajar, siswa belajar dalam kelompok secara kooperatif

Kelompok dibentuk dari siswa-siswa yang memiliki kemampuan heterogen

Jika dalam kelas terdiri dari beberapa ras, suku, budaya, jenis kelamin yang berbeda,
maka diupayakan agar tiap kelompok berbaur
Penghargaan lebih diutamakan pada kerja kelompok daripada perorangan

Tujuan :

Hasil Belajar Akademik. Meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik


Penerimaan terhadap keragaman. Siswa dapat menerima teman-temannya yang
beraneka latar belakang.
Pengembangan ketrampilan sosial. Sintaks kegiatan pembelajaran kooperatif

Model Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning)


Pembelajaran Kontekstual mengasumsikan bahwa secara natural pikiran mencari makna
konteks sesuai dengan situasi nyata lingkungan seseorang melalui pencarian hubungan
masuk akal dan bermanfaat. Melalui pemaduan materi yang dipelajari dengan pengalaman
keseharian siswa akan menghasilkan dasar-dasar pengetahuan yang mendalam. Siswa akan
mampu menggunakan pengetahuannya untuk menyelesaikan masalah-masalah baru dan
belum pernah dihadapinya dengan peningkatan pengalaman dan pengetahuannya. Siswa
diharapkan dapat membangun pengetahuannya yang akan diterapkan dalam kehidupan
sehari-hari dengan memadukan materi pelajaran yang telah diterimanya di sekolah.
Pembelajaran Kontekstual merupakan satu konsepsi pengajaran dan pembelajaran yang
membantu guru mengaitkan bahan subjek yang dipelajari dengan situasi dunia sebenarnya

dan memotivasikan pembelajar untuk membuat kaitan antara pengetahuan dan aplikasinya
dalam kehidupan harian mereka sebagai ahli keluarga, warga masyarakat, dan pekerja.
Pembelajaran Kontekstual adalah sebuah sistem belajar yang didasarkan pada filosofi bahwa
siswa mampu menyerap pelajaran apabila mereka menangkap makna dalam materi
akademis yang mereka terima, dan mereka menangkap makna dalam tugas-tugas sekolah
jika mereka bisa mengaitkan informasi baru dengan pengetahuan dan pengalaman yang
sudah mereka miliki sebelumnya (Elaine B. Johnson, 2007:14).
Dalam Pembelajaran Kontekstual, ada delapan komponen yang harus ditempuh, yaitu:

Membuat keterkaitan-keterkaitan yang bermakna,

Melakukan pekerjaan yang berarti,

Melakukan pembelajaran yang diatur sendiri,

Bekerja sama,

Berpikir kritis dan kreatif,

Membantu individu untuk tumbuh dan berkembang,

Mencapai standar yang tinggi, dan

Menggunakan penilaian otentik (Elaine B. Johnson, 2007: 65-66).

Berdasarkan pengertian di atas dapat dijelaskan bahwa Pembelajaran Kontekstual adalah


mempraktikkan konsep belajar yang mengaitkan materi yang dipelajari dengan situasi dunia
nyata siswa. Siswa secara bersama-sama membentuk suatu sistem yang memungkinkan
mereka melihat makna di dalamnya.
Pembelajaran kontekstual merupakan konsep belajar yang membantu para guru mengaitkan
antara materi yang diajarkannya dengan situasi nyata siswa dan mendorong siswa membuat
hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan
mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep itu, hasil pembelajaran
berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan transfer
pengetahuan dari guru kepada siswa. Proses pembelajaran lebih dipentingkan daripada
hasil.
Pembelajaran Kontekstual adalah suatu pendekatan pembelajaran yang menekankan
kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang

dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong


siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan meraka (Sanjaya, 2005:109).
Dari konsep tersebut ada tiga hal yang harus kita pahami. Pertama, Pembelajaran
Kontekstual menekankan kepada proses keterlibatan siswa untuk menemukan materi.
Artinya, proses belajar diorientasikan pada proses pengalaman secara langsung. Proses
belajar dalam konteks Pembelajaran Kontekstual tidak mengharapkan agar siswa hanya
menerima pelajaran, tetapi yang diutamakan adalah proses mencari dan menemukan
sendiri materi pelajaran.
Kedua, Pembelajaran Kontekstual mendorong agar siswa dapat menemukan hubungan
antara materi yang dipelajari dengan situasi kehidupan nyata. Artinya, siswa dituntut untuk
dapat menangkap hubungan antara pengalaman belajar di sekolah dengan kehidupan
nyata. Hal ini sangat penting sebab dengan dapat mengkorelasikan materi yang ditemukan
dengan kehidupan nyata, materi yang dipelajarinya itu akan bermakna secara fungsional
dan tertanam erat dalam memori siswa sehingga tidak akan mudah terlupakan.
Ketiga, Pembelajaran Kontekstual mendorong siswa untuk dapat menerapkan
pengetahuannya dalam kehidupan. Artinya, Pembelajaran Kontekstual tidak hanya
mengharapkan siswa dapat memahami materi yang dipelajarinya, tetapi bagaimana materi
itu dapat mewarnai perilakunya dalam kehidupan sehari-hari. Materi pelajaran dalam
konteks Pembelajaran Kontekstual tidak untuk ditumpuk di otak dan kemudian dilupakan,
tetapi sebagai bekal bagi mereka dalam kehidupan nyata.
Terdapat lima karakteristik penting dalam proses pembelajaran yang menggunakan
pendekatan Kontekstual:

Dalam Pembelajaran Kontekstual pembelajaran merupa kan proses pengaktifan


pengetahuan yang sudah ada (activing knowledge). Artinya, apa yang akan dipelajari tidak
terlepas dari pengetahuan yang sudah dipelajari. Dengan demikian, pengetahuan yang akan
diperoleh siswa adalah pengetahuan yang utuh yang memiliki keterkaitan satu sama lain.

Pembelajaran yang kontekstual adalah pembelajaran dalam rangka memperoleh dan


menambah pengetahuan baru (acquiring knowledge). Pengetahuan baru itu dapat diperoleh
dengan cara deduktif. Artinya, pembelajaran dimulai dengan mempelajari secara
keseluruhan kemudian memperhatikan detailnya.

Pemahaman pengetahuan (understanding knowledge) berarti pengetahuan yang


diperoleh bukan untuk dihafal, melainkan untuk dipahami dan diyakini.

Mempraktikkan pengetahuan dan pengalaman tersebut (applying knowledge).


Artinya, pengetahuan dan pengalaman yang diperolehnya harus dapat diaplikasikan dalam
kehidupan nyata.

Melakukan refleksi (reflecting knowledge) terhadap strategi pengembangan


pengetahuan. Hal ini dilakukan sebagai umpan balik untuk proses perbaikan dan
penyempurnaan strategi.

Di sisi lain, Hernowo (2005:93) menawarkan langkah-langkah praktis menggunakan strategi


pebelajaran Kontekstual/Contextual Teaching Learning.

Kaitkan setiap mata pelajaran dengan seorang tokoh yang sukses dalam menerapkan
mata pelajaran tersebut.

Kisahkan terlebih dahulu riwayat hidup sang tokoh atau temukan cara-cara sukses
yang ditempuh sang tokoh dalam menerapkan ilmu yang dimilikinya.

Rumuskan dan tunjukkan manfaat yang jelas dan spesifik kepada anak didik
berkaitan dengan ilmu (mata pelajaran) yang diajarkan kepada mereka.

Upayakan agar ilmu-ilmu yang dipelajari di sekolah dapat memotivasi anak didik
untuk mengulang dan mengaitkannya dengan kehidupan keseharian mereka.

Berikan kebebasan kepada setiap anak didik untuk mengkonstruksi ilmu yang
diterimanya secara subjektif sehingga anak didik dapat menemukan sendiri cara belajar
alamiah yang cocok dengan dirinya.

Galilah kekayaan emosi yang ada pada diri setiap anak didik dan biarkan mereka
mengekspresikannya dengan bebas.

Bimbing mereka untuk menggunakan emosi dalam setiap pembelajaran sehingga


anak didik penuh arti (tidak sia-sia dalam belajar di sekolah).

Model Pembelajaran Penemuan Terbimbing (Discovery Learning)


Discovery Learning adalah proses belajar yang di dalamnya tidak disajikan suatu konsep
dalam bentuk jadi (final), tetapi siswa dituntut untuk mengorganisasi sendiri cara belajarnya
dalam menemukan konsep. Sebagaimana pendapat Bruner, bahwa: Discovery Learning can
be defined as the learning that takes place when the student is not presented with subject
matter in the final form, but rather is required to organize it him self (Lefancois dalam
Emetembun, 1986:103). Dasar ide Bruner ialah pendapat dari Piaget yang menyatakan
bahwa anak harus berperan aktif dalam belajar di kelas.
Bruner memakai metode yang disebutnya Discovery Learning, di mana murid
mengorganisasi bahan yang dipelajari dengan suatu bentuk akhir (Dalyono, 1996:41).
Metode Discovery Learning adalah memahami konsep, arti, dan hubungan, melalui proses
intuitif untuk akhirnya sampai kepada suatu kesimpulan (Budiningsih, 2005:43). Discovery

terjadi bila individu terlibat, terutama dalam penggunaan proses mentalnya untuk
menemukan beberapa konsep dan prinsip. Discovery dilakukan melalui observasi, klasifikasi,
pengukuran, prediksi, penentuan dan inferi. Proses tersebut disebut cognitive process
sedangkan discovery itu sendiri adalah the mental process of assimilatig conceps and
principles in the mind (Robert B. Sund dalam Malik, 2001:219).
Dalam Konsep Belajar, sesungguhnya metode Discovery Learning merupakan pembentukan
kategori-kategori atau konsep-konsep, yang dapat memungkinkan terjadinya generalisasi.
Sebagaimana teori Bruner tentang kategorisasi yang nampak dalam Discovery, bahwa
Discovery adalah pembentukan kategori-kategori, atau lebih sering disebut sistem-sistem
coding. Pembentukan kategori-kategori dan sistem-sistem coding dirumuskan demikian
dalam arti relasi-relasi (similaritas & difference) yang terjadi diantara obyek-obyek dan
kejadian-kejadian (events). Bruner memandang bahwa suatu konsep atau kategorisasi
memiliki lima unsur, dan siswa dikatakan memahami suatu konsep apabila mengetahui
semua
unsur
dari
konsep
itu,
meliputi:

Nama;

Contoh-contoh baik yang positif maupun yang negatif;

Karakteristik, baik yang pokok maupun tidak;

Rentangan karakteristik;

Kaidah (Budiningsih, 2005:43).

Bruner menjelaskan bahwa pembentukan konsep merupakan dua kegiatan mengkategori


yang berbeda yang menuntut proses berpikir yang berbeda pula. Seluruh kegiatan
mengkategori meliputi mengidentifikasi dan menempatkan contoh-contoh (obyek-obyek
atau peristiwa-peristiwa) ke dalam kelas dengan menggunakan dasar kriteria tertentu.
Di dalam proses belajar, Bruner mementingkan partisipasi aktif dari tiap siswa, dan
mengenal dengan baik adanya perbedaan kemampuan. Untuk menunjang proses belajar
perlu lingkungan memfasilitasi rasa ingin tahu siswa pada tahap eksplorasi. Lingkungan ini
dinamakan Discovery Learning Environment, yaitu lingkungan dimana siswa dapat
melakukan eksplorasi, penemuan-penemuan baru yang belum dikenal atau pengertian yang
mirip dengan yang sudah diketahui. Lingkungan seperti ini bertujuan agar siswa dalam
proses belajar dapat berjalan dengan baik dan lebih kreatif. Untuk memfasilitasi proses
belajar yang baik dan kreatif harus berdasarkan pada manipulasi bahan pelajaran sesuai
dengan tingkat perkembangan kognitif siswa. Manipulasi bahan pelajaran bertujuan untuk
memfasilitasi kemampuan siswa dalam berpikir (merepresentasikan apa yang dipahami)
sesuai dengan tingkat perkembangannya.

Menurut Bruner perkembangan kognitif seseorang terjadi melalui tiga tahap yang ditentukan
oleh bagaimana cara lingkungan, yaitu: enactive, iconic, dan symbolic. Tahap enaktive,
seseorang melakukan aktivitas-aktivitas dalam upaya untuk memahami lingkungan
sekitarnya, artinya, dalam memahami dunia sekitarnya anak menggunakan pengetahuan
motorik, misalnya melalui gigitan, sentuhan, pegangan, dan sebagainya. Tahap iconic,
seseorang memahami objek-objek atau dunianya melalui gambar-gambar dan visualisasi
verbal. Maksudnya, dalam memahami dunia sekitarnya anak belajar melalui bentuk
perumpamaan (tampil) dan perbandingan (komparasi). Tahap symbolic, seseorang telah
mampu memiliki ide-ide atau gagasan-gagasan abstrak yang sangat dipengaruhi oleh
kemampuannya dalam berbahasa dan logika. Dalam memahami dunia sekitarnya anak
belajar melalui simbol-simbol bahasa, logika, matematika, dan sebagainya.
Komunikasinya dilakukan dengan menggunakan banyak simbol. Semakin matang seseorang
dalam proses berpikirnya, semakin dominan sistem simbolnya. Secara sederhana teori
perkembangan dalam fase enactive, iconic dan symbolic adalah anak menjelaskan sesuatu
melalui perbuatan (ia bergeser ke depan atau kebelakang di papan mainan untuk
menyesuaikan beratnya dengan berat temannya bermain) ini fase enactive. Kemudian pada
fase iconic ia menjelaskan keseimbangan pada gambar atau bagan dan akhirnya ia
menggunakan bahasa untuk menjelaskan prinsip keseimbangan ini fase symbolic (Syaodih,
85:2001). Dalam mengaplikasikan metode Discovery Learning guru berperan sebagai
pembimbing dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar secara aktif,
sebagaimana pendapat guru harus dapat membimbing dan mengarahkan kegiatan belajar
siswa sesuai dengan tujuan (Sardiman, 2005:145). Kondisi seperti ini ingin merubah
kegiatan belajar mengajar yang teacher oriented menjadi student oriented.
Hal yang menarik dalam pendapat Bruner yang menyebutkan: hendaknya guru harus
memberikan kesempatan muridnya untuk menjadi seorang problem solver, seorang scientis,
historin, atau ahli matematika. Dalam metode Discovery Learning bahan ajar tidak disajikan
dalam bentuk akhir, siswa dituntut untuk melakukan berbagai kegiatan menghimpun
informasi,
membandingkan,
mengkategorikan,
menganalisis,
mengintegrasikan,
mereorganisasikan bahan serta membuat kesimpulan-kesimpulan.
Langkah-langkah model pembelajaran penemuan terbimbing (discovery learning) adalah
sebagai berikut:

Merumuskan masalah yang akan diberikan kepada siswa dengan data secukupnya.
Perumusaannya harus jelas dan hilangkan pernyataan yang multi tafsir

Berdasarkan data yang diberikan guru, siswa menyusun, memproses, mengorganisir,


dan menganlisis data tersebut. Dalam hal ini bimbingan guru dapat diberikan sejauh yang
diperlukan saja bimbingan lebih mengarah kepada langkah yang hendak dituju, melalui
pertanyaan-pertanyaan.

Siswa menyusun prakiraan dari hasil analisis yang dilakukannya

Bila dipandang perlu, prakiraan yang telah dibuat siswa tersebut hendaknya
diperiksa oleh guru. Hal ini penting dilakukan untuk meyakinkan kebenaran prakiraan siswa,
sehingga akan menuju arah yang hendak dicapai.

Apabila telah diperoleh kepastian tentang kebenaran prakiraan tersebut, maka


verbalisasi prakiraan sebaiknya disrahkan juga kepada siswa untuk menyusunnya.
Disamping itu perlu diingat pula bahwa induksi tidak menjamin 100% kebenaran prakiraan.

Sesudah siswa menemukan apa yang dicari, hendaknya guru menyediakan soal
latihan atau soal tambahan untuk memeriksa apakah hasil penemuan itu benar.

Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning)


Model pembelajaran berbasis masalah adalah pendekatan pembelajaran yang
menggunakan masalah sebagai langkah awal untuk mendapatkan pengetahuan baru.
Seperti yang diungkapkan oleh Suyatno (2009 : 58) bahwa: Model pembelajaran
berdasarkan masalah adalah proses pembelajaran yang titik awal pembelajaran dimulai
berdasarkan masalah dalam kehidupan nyata siswa dirangsang untuk mempelajari masalah
berdasarkan pengetahuan dan pengalaman telah mereka miliki sebelumnya (prior
knowledge) untuk membentuk pengetahuan dan pengalaman baru. Sedangkan menurut
Arends (dalam Trianto 2007 : 68) menyatakan bahwa: Model pembelajaran berdasarkan
masalah merupakan suatu pendekatan pembelajaran di mana siswa mengerjakan
permasalahan yang autentik dengan maksud untuk menyusun pengetahuan mereka sendiri,
mengembangkan inkuiri dan keterampilan berpikir tingkat lebih tinggi, mengembangkan
kemandirian dan percaya diri. Model pembelajaran berdasarkan masalah juga mengacu
pada model pembelajaran yang lain seperti yang diungkapkan oleh diungkapkan oleh Trianto
(2007 : 68) : Model pembelajaran berdasarkan masalah) mengacu pada Pembelajaran
Proyek (Project Based Learning), Pendidikan Berdasarkan Pengalaman (Experience Based
Education), Belajar Autentik (Autentic Learning), Pembelajaran Bermakna (Anchored
Instruction).
Berbagai pengembang menyatakan bahwa ciri utama model pembelajaran berdasarkan
masalah ini dalam Trianto (2007 : 68) adalah:

Pengajuan pertanyaan atau masalah. Guru memunculkan pertanyaan yang nyata di


lingkungan siswa serta dapat diselidiki oleh siswa kepada masalah yang autentik ini dapat
berupa cerita, penyajian fenomena tertentu, atau mendemontrasikan suatu kejadian yang
mengundang munculnya permasalahan atau pertanyaan.

Berfokus pada keterkaitan antar disiplin. Meskipun pembelajaran berdasarkan


masalah mungkin berpusat pada mata pelajaran tertentu (IPA, matematika, ilmu-ilmu sosial)
masalah yang dipilih benar-benar nyata agar dalam pemecahannya, siswa dapat meninjau
dari berbagi mata pelajaran yang lain.

Penyelidikan autentik. Pembelajaran berdasarkan masalah mengharuskan siswa


melakukan penyelidikan autentik untuk mencari penyelesaian nyata terhadap masalah yang
disajikan. Metode penyelidikan ini bergantung pada masalah yang sedang dipelajari.

Menghasilkan produk atau karya. Pembelajaran berdasarkan masalah menuntut


siswa untuk menghasilkan produk tertentu dalam bentuk karya dan peragaan yang
menjelaskan atau mewakili bentuk penyelesaian masalah yang mereka temukan. Produk itu
dapat juga berupa laporan, model fisik, video maupun program komputer

Kolaborasi. Pembelajaran berdasarkan masalah dicirikan oleh siswa yang bekerja


sama satu dengan yang lainnya, paling sering secara berpasangan atau dalam kelompok
kecil. Bekerjasama untuk terlibat dan saling bertukar pendapat dalam melakukan
penyelidikan sehingga dapat menyelesaikan permasalahan yang disajikan. Pada Model
pembelajaran berdasarkan masalah terdapat lima tahap utama yang dimulai dengan
memperkenalkan siswa tehadap masalah yang diakhiri dengan tahap penyajian dan analisis
hasil kerja siswa. Kelima tahapan tersebut disajikan dalam bentuk tabel (dalam Nurhadi,
2004:111).

Model Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning)


Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning=PjBL) adalah metoda pembelajaran
yang menggunakan proyek/kegiatan sebagai media. Peserta didik melakukan eksplorasi,
penilaian, interpretasi, sintesis, dan informasi untuk menghasilkan berbagai bentuk hasil
belajar. Pembelajaran Berbasis Proyek merupakan metode belajar yang menggunakan
masalah sebagai langkah awal dalam mengumpulkan dan mengintegrasikan pengetahuan
baru berdasarkan pengalamannya dalam beraktifitas secara nyata. Pembelajaran Berbasis
Proyek dirancang untuk digunakan pada permasalahan komplek yang diperlukan peserta
didik dalam melakukan insvestigasi dan memahaminya. Melalui PjBL, proses inquiry dimulai
dengan memunculkan pertanyaan penuntun (a guiding question) dan membimbing peserta
didik dalam sebuah proyek kolaboratif yang mengintegrasikan berbagai subjek (materi)
dalam kurikulum. Pada saat pertanyaan terjawab, secara langsung peserta didik dapat
melihat berbagai elemen utama sekaligus berbagai prinsip dalam sebuah disiplin yang
sedang dikajinya. PjBL merupakan investigasi mendalam tentang sebuah topik dunia nyata,
hal ini akan berharga bagi atensi dan usaha peserta didik.
Mengingat bahwa masing-masing peserta didik memiliki gaya belajar yang berbeda, maka
Pembelajaran Berbasis Proyek memberikan kesempatan kepada para peserta didik untuk
menggali konten (materi) dengan menggunakan berbagai cara yang bermakna bagi dirinya,
dan melakukan eksperimen secara kolaboratif. Pembelajaran Berbasis Proyek merupakan
investigasi mendalam tentang sebuah topik dunia nyata, hal ini akan berharga bagi atensi
dan usaha peserta didik.
Pembelajaran Berbasis Proyek dapat dikatakan sebagai operasionalisasi konsep Pendidikan
Berbasis Produksi yang dikembangkan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). SMK sebagai

institusi yang berfungsi untuk menyiapkan lulusan untuk bekerja di dunia usaha dan industri
harus dapat membekali peserta didiknya dengan kompetensi terstandar yang dibutuhkan
untuk bekerja dibidang masing-masing. Dengan pembelajaran berbasis produksi peserta
didik di SMK diperkenalkan dengan suasana dan makna kerja yang sesungguhnya di dunia
kerja. Dengan demikian model pembelajaran yang cocok untuk SMK adalah pembelajaran
berbasis proyek.
Pembelajaran Berbasis Proyek memiliki karakteristik sebagai berikut:

Peserta didik membuat keputusan tentang sebuah kerangka kerja;

Adanya permasalahan atau tantangan yang diajukan kepada peserta didik;

Peserta didik mendesain proses untuk menentukan solusi atas permasalahan atau
tantangan yang diajukan;

Peserta didik secara kolaboratif bertanggungjawab untuk mengakses dan mengelola


informasi untuk memecahkan permasalahan;

Proses evaluasi dijalankan secara kontinyu;

Peserta didik secara berkala melakukan refleksi atas aktivitas yang sudah dijalankan;

Produk akhir aktivitas belajar akan dievaluasi secara kualitatif; dan

Situasi pembelajaran sangat toleran terhadap kesalahan dan perubahan.

Peran instruktur atau guru dalam Pembelajaran Berbasis Proyek sebaiknya sebagai
fasilitator, pelatih, penasehat dan perantara untuk mendapatkan hasil yang optimal sesuai
dengan daya imajinasi, kreasi dan inovasi dari siswa. Beberapa hambatan dalam
implementasi metode Pembelajaran Berbasis Proyek antara lain berikut ini:

Pembelajaran Berbasis Proyek memerlukan banyak waktu yang harus disediakan


untuk menyelesaikan permasalahan yang komplek.

Banyak orang tua peserta didik yang merasa dirugikan, karena menambah biaya
untuk memasuki system baru.

Banyak instruktur merasa nyaman dengan kelas tradisional ,dimana instruktur


memegang peran utama di kelas. Ini merupakan suatu transisi yang sulit, terutama bagi
instruktur yang kurang atau tidak menguasai teknologi.

Banyaknya peralatan yang harus disediakan, sehingga kebutuhan listrik bertambah.

Untuk itu disarankan menggunakan team teaching dalam proses pembelajaran, dan akan
lebih menarik lagi jika suasana ruang belajar tidak monoton, beberapa contoh perubahan
lay-out ruang kelas, seperti: traditional class (teori), discussion group (pembuatan konsep
dan pembagian tugas kelompok), lab tables (saat mengerjakan tugas mandiri), circle
(presentasi). Buatlah suasana belajar menyenangkan, bahkan saat diskusi dapat dilakukan
di taman, artinya belajar tidak harus dilakukan di dalam ruang kelas.
PENILAIAN
Penilaian merupakan proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur
pencapaian
hasil
belajar
peserta
didik.
Tujuan
penilaian
adalah:

1.

Memberikan umpan balik mengenai kemajuan belajar peserta didik dalam kaitannya
dengan kompetensi-kompetensinya selama proses belajar-mengajar, dan

2.

Memberikan informasi kepada para guru dan orang tua mengenai capaian
kompetensi peserta didik.
Hakikat pembelajaran tematik terpadu adalah pembelajaran lintas disiplin yang
menghubungkan berbagai gagasan, konsep, keterampilan, sikap, dan nilai, baik antar mata
pelajaran maupun dalam satu mata pelajaran. Karakteristik pembelajaran seperti itu
menuntut penilaian yang holistic dan menyeluruh. Guru harus yakin bahwa semua peserta
didik memperoleh kesempatan untuk memperlihatkan hasil melalui Proses pembelajaran
tematik yang mencakup semua aspek pembelajaran baik sikap, pengetahuan dan
keterampilan. Oleh karena itu, penilaian yang tepat adalah penilaian otentik yang dilakukan
dengan menggunakan berbagai cara dan guru harus mencari informasi dari berbagai
sumber.
Prinsip-prinsip penilaian dalam pembelajaran tematik sama dengan prinsip yang harus
dijadikan landasan dalam pembelajaran terpadu, yaitu prinsip utuh dan menyeluruh,
berkesinambunagn, dan objektif. Disamping itu penilaian harus berbasis unjukkerja murid
(proses dan produk), melibatkan murid, memuat refleksi diri murid, menggunakan penilaian
non konvensional (penelitian alternative), memberi umpan balik kepada guru dan murid,
memperhatikan dampak pengiring pembelajaran (misalnya pendidikan karakter), dan
sistematis. Penilaian berbasis kinerja menuntut murid berpartisipasi aktif, pembelajarannya
memuat sejumlah tugas, dan murid berusaha untuk dapat mencapat tujuan pembelajaran.
Dengan perkataan lain murid harus dapat mendemontrasikan kemampuannya sesuai
dengan target pembelajaran. Penilaian berbasis kinerja adalah suatu prosedur penugasan
kepada murid untuk mengumpulkan informasi sejauhmana murid telah belajar.
Menurut Barton&Smit (2000), penilaian pembelajaran dalam pembelajaran terpadu
menggunakan authentic assessment. Karena pembelajaran tematik pada dasarnya adalah
pembelajaran terpadu maka evaluasinya juga menggunakan authentic assessment. Cara

penilaian ini bersifat kualitatif yang menilai kinerja yang dapat berupa pajangan, hasil
diskusi, hasil tugas kelompok, tugas mandiri, tugas terstruktur, dan tugas proyek. Selain itu,
menggunakan informasi dari portofolio, checklis, analisis reflektif, deskriptif, pengkajian,
pengamatan, pendapat teman, orang tua, dsb. Prosedur penilaian dilakukan melalui
perencanaan, pelaksanaan, penyajian laporan, dant indaklanjut. Penilaian dalam
pembelajaran tematik terpadu dilengkapi dengan berbagai format (observasi, penilaian diri,
portofolio, projek, unjuk kerja, dsb).
Teknik dan instrumen yang digunakan untuk penilaian kompetensi sikap, pengetahuan, dan
keterampilan Penilaian kompetensi sikap. Dilakukan melalui melalui observasi, jurnal,
penilaian diri, penilaian teman sejawat(peer evaluation). Instrumen yang digunakan untuk
observasi, penilaiandiri, dan penilaian antar peserta didik adalah daftar cek atau skala
penilaian (ratingscale) yang disertai rubrik, sedangkan pada jurnal berupa catatan pendidik.
Penilaian Kompetensi Pengetahuan dilakukan melalui tes tulis, tes lisan, dan perbuatan
misalnya berupa pekerjaan rumah dan/atau projek yang dikerjakan secara individu atau
kelompok sesuai dengan karakteristik tugas.
Penilaian Kompetensi Keterampilan dilakukan melalui penilaian kinerja, yaitu penilaian yang
menuntut peserta didik mendemonstrasikan suatu kompetensi tertentu dengan
menggunakan tes praktik, projek, dan penilaian portofolio. Instrumen yang digunakan
berupa daftar cek atau skala penilaian (rating scale) yang dilengkapi rubrik. Tes praktik
adalah penilaian yang menuntut respon berupa keterampilan melakukan suatu aktivitas
atau perilaku sesuai dengan tuntutan kompetensi. Projek adalah tugas-tugas belajar
(learning tasks) yang meliputi kegiatan perancangan, pelaksanaan, dan pelaporan secara
tertulis maupun lisan dalam waktu tertentu. Penilaian portofolio adalah penilaian yang
dilakukan dengan cara menilai kumpulan seluruh karya peserta didik dalam bidang tertentu
yang bersifat reflektif-integratif untuk mengetahui minat, perkembangan, prestasi, dan/atau
kreativitas peserta didik dalam kurun waktu tertentu. Karya tersebut dapat berbentuk
tindakan nyata yang mencerminkan kepedulian peserta didik terhadap lingkungannya.
Pada pembelajaran tematik terpadu penilaian dilakukan untuk mengkaji ketercapaian
Kompetensi Dasar dan Indikator pada tiap-tiap mata pelajaran yang terdapat pada tema
tersebut. Penilaian Kelas merupakan kegiatan guru terkait dengan pengambilan keputusan
terhadap hasil belajar peserta didik yang mencerminkan pencapaian kompetensi selama
proses pembelajaran tertentu. Penilaian dilakukan secara holistik terkait aspek sikap,
pengetahuan dan keterampilan untuk setiap jenjang pendidikan, baik selama pembelajaran
berlangsung (penilaian proses) maupun setelah pembelajaran usai dilaksanakan (penilaian
hasil belajar). Kegiatan pembelajaran sepenuhnya diarahkan pada pengembangan ketiga
aspek yaitu aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan secara utuh/holistik, artinya
pengembangan aspek yang satu tidak bisa dipisahkan dengan aspek lainnya. Dengan
demikian pada saat melakukan proses pembelajaran dengan kegiatan mengamati,
menanya, mengmpulkan informasi, menalar/mengasosiasi, dan mengomunikasikan,
pendidik harus melakukan penilaian proses untuk melihat perkembangan dari ketiga aspek
tersebut. Untuk itu perlu melakukan kegiatan pengamatan terhadap sikap, pengetahuan,
dan dan keterampilan.

Laporan penilaian yang memuat diskripsi umum ditulis dalam bentuk narasi meliputi aspek:

Sikap Spiritual. (Diisi oleh guru dengan kalimat positif tentang aspek menerima,
menjalankan dan menghargai ajaran agama yang dianutnya, aspek menunjukkan perilaku
jujur, disiplin, tanggungjawab, santun, peduli, percaya diri, dan cinta tanah air)

Sikap Sosial. (Diisi oleh guru dengan kalimat positif tentang aspek kemampuan
mengurus diri sendiri, rasa keingintahuan, ketepatan melaksanakan tugas, menyelesaikan
masalah bersama dengan benar, sikap percaya diri, menjalankan norma).

Pengetahuan. (Diisi oleh guru dengan kalimat positif tentang aspek mengingat dan
memahami kompetensi per mata pelajaran).

Keterampilan. (Diisi oleh guru dengan kalimat positif tentang aspek melaporkan
tugas yang diberikan, aktif bergaul bersama teman dan guru, menghasilkan karya yang
estetis, menjalankan kegiatan sesuai dengan minat dan bakat, kemampuan menanya
dengan bahasa yang jelas, logis dan sistematis).

MEDIA DAN SUMBER BELAJAR


Pelaksanaan kegiatan pembelajaran tematik terpadu memerlukan berbagai sumber belajar.
Sumber belajar yang dapat digunakan dapat berupa bahan cetak atau media cetak, media
elektronik, lingkungan sosial, lingkungan alam atau lingkungan fisik. Bahan cetak atau
media cetak yang dapat digunakan misalnya buku siswa, buku guru, buku penunjang,
majalah, surat kabar, brosur, buletin majalah, surat kabar, brosur, buletin. Salah satu
sumber belajar yang telah disiapkan ialah buku siswa dan buku guru. Media elektronik dapat
berupa software maupun file dokumen, video, film, radio, internet, dsb. Lingkungan sosial
dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar khususnya untuk pengembangan kepribadian
dan sikap. Lingkungan sosial dapat berupa pasar, mall, sekolah, tempat ibadah, sarana
olahraga, tempat wisata/rekreasi, rumah makan, kantor pemerintahan, terminal bus, stasiun
KA, dsb. Lingkungan alam dan sekitar sangat membantu bagi kualitas pembelajaran tematik
terpadu. Lingkungan alam dapat berupa kebun, sawah, hutan, sungai, laut, pantai, gunung,
waduk, kolam, dsb. Lingkungan fisik dapat membantu pengembangan ketrampilan.
Lingkungan fisik dapat berupa pabrik, bengkel, pusat kerajinan, museum, dsb. Lingkungan
merupakan sumber belajar yang penting dalam pembelajaran tematik terpadu dan
membantu ketercapaian kompetensi yang berkaitan dengan keterampilan, sikap, dan
pengetahuan.
Alat peraga juga sangat membantu pelaksanaan pembelajaran dalam rangka pencapaian
kompetensi berkaitan dengan keterampilan dan pengetahuan. Alat peraga dapat buatan
pabrik, buatan, guru, maupun buatan peserta didik. Bahan-bahan dasar berupa kayu, kaca,
barang-barang bekas, dsb dapat dimanfaatkan untuk membuat alat peraga maupun media
belajar. Pembuatan media maupun alat peraga oleh guru memerlukan kreatifitas.

Pada implementasi Kurikulum 2013, pemerintah telah menyiapkan buku teks untuk peserta
didik yang dilengkapi dengan buku guru. Materi dalam buku yang tersedia bersifat minimal,
jika dalam pemanfaatan memerlukan pengembangan, guru dapat menambahkannya
disesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik sekolah dan daerah.
GURU SEBAGAI PENGEMBANG BUDAYA SEKOLAH
Budaya sekolah adalah tradisi, nilai, norma dan kebijakan yang menjadi acuan dan
keyakinan suatu sekolah yang dikembangkan dan digunakan bersama melalui
kepemimpinan kepala sekolah (Fisher, D, 2012). Budaya sekolah mengatur dan mengikat
hubungan antara pimpinan dengan guru, antarguru, guru dan peserta didik, guru-orang tua
dan masyarakat sebagai kepedulian dan komitmen untuk meningkatkan keberhasilan belajar
peserta didik.
Wujud budaya belajar dalam suatu kelompok kehidupan dapat dilihat pada dua kategori
bentuk.Pertama, perwujudan budaya belajar yang bersifat abstrak yaitu konsekuensi dari
cara pandang budaya belajar sebagai sistem pengetahuan yang diyakini oleh individu atau
kelompok tertentu sebagai pedoman dalam belajar. Perwujudan budaya belajar yang abstrak
berada dalam sistem gagasan atau ide yang bersifat abstrak akan tetapi beroperasi.Kedua,
perwujudan budaya yang bersifat kongkrit. Perwujudan budaya belajar secara konkrit dapat
dilihat dalam bentuk;

Perilaku belajar

Ungkapan bahasa dalam belajar; dan

Hasil belajar berupa material. Budaya belajar dalam bentuk perilaku tampak dalam
interaksi sosial. Perilaku belajar individu atau kelompok yang berlatar belakang status sosial
tertentu mencerminkan pola budaya belajarnya.Perwujudan perilaku belajar individu atau
kelompok sosial dapat juga dilihat dari kondisi resmi dan tidak resmi juga. Perbedaan dalam
kondisi mencerminkan adanya nilai, norma dan aturan yang berbeda. Bahasa adalah salah
satu perwujudan budaya belajar secara kongkrit pada individu atau kelompok sosial.
Kekurangan dalam menggunakan bahasa sedikit banyak akan menghambat percepatan
dalam merealisasikan dan mengembangkan budaya belajar. Hasil belajar berupa material
menjadikan perwujudan konkret dari sistem budaya belajar individu atau kelompok sosial.
Hasil belajar tidak saja berbentuk benda melainkan keterampilan yang mengarahkan pada
keterampilan hidup (life skill).

Di dalam Kurikulum 2013 perkembangan konsep pembelajaran telah mencapai pengertian


dari pembelajaran sebagai suatu sistem, dimana dalam pengertian ini cakupannya sangat
luas, dilihat dari berbagai aspek yang dapat terlibat dalam proses pembelajaran, tidak hanya
adanya interaksi antara seorang pendidik dan peserta didik saja, serta model pembelajaran
yang dikembangkan dalam Kurikulum 2013 ini, yaitu model behavioristik yang lebih
menitikberatkan pada aspek afektif dari peserta didik yang disebabkan karena

perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin canggih, yang menyebabkan
peserta didik mengesampingkan aspek afektif, sehingga dalam Kurikulum 2013 ini, yang
ingin lebih ditonjolkan adalah aspek afektifnya, supaya generasi penerus bangsa mewarisi
budaya-budaya Indonesia yang ramah dan berakhlak mulia. Dalam kerangka menciptakan
budaya belajar sejarah yang baik maka seorang guru sejarah tidak hanya mampu
berinteraksi dengan baik dengan sesam guru, peserta didik, orang tua dan masyarakat,
tetapi juga dapat dijadikan suri tauladan bagi peserta didiknya.
Budaya sekolah adalah sesuatu yang dikembangkan, diarahkan kembali (reshaping), dan
diperkaya agar mampu meningkatkan kinerja dan akuntabilitas sekolah. Untuk itu diperlukan
adanya:
1.

Persamaan pengertian mengenai apa yang disebut dengan budaya sekolah dan apa
komponen budaya sekolah yang dikembangkan dan dijadikan unggulan.

2.

Menentukan kriteria keberhasilan proses pelaksanaan budaya sekolah dan hasil dari
budaya sekolah yang dikembangkan.

3.

Menentukan alat ukur keberhasilan dan cara penilaian keberhasilan.

Untuk menentukan keberhasilan pengembangan dan pelaksanaan budaya sekolah, perlu


ditempuh langkah-langkah berikut:
1.

2.
3.

Merumuskan secara jelas peran dan tugas kepala sekolah, guru, komite sekolah, dan
orangtua peserta didik.
Mengembangkan mekanisme komunikasi antarkomponen yang disebutkan di atas.
Berbagi informasi mengenai pencapaian dan keberhasilan sekolah
koran/majalah dinding sekolah, website, dan selebaran serta bentuk lainnya.

melalui

Peran Kepala Sekolah


Kepala sekolah adalah pemimpin pendidikan suatu sekolah (educational leader). Kepala
sekolah memiliki peran penting dalam manajemen untuk mengembangkan budaya sekolah
sehingga tercipta suasana kerja yang edukatif, berorientasi pada kualitas, peningkatan
kepedulian pemangku kepentingan, dan peningkatan hasil belajar peserta didik.
Hubungan Guru dengan Guru
Hubungan guru dengan guru menentukan keberhasilan pelaksanaan pembelajaran
pendidikan Sejarah dan Kurikulum 2013. Hubungan tersebut adalah hubungan profesional
antara guru yang mengajar Sejarah dengan guru yang mengajar mata pelajaran yang sama

di kelas berbeda, dengan guru yang mengajar mata pelajaran Sejarah Indonesia dan dengan
guru lain yang mengajar mata pelajaran lain baik dalam kelompok peminatan Ilmu-Ilmu
Sosial maupun dalam kelompok peminatan lain bahkan dengan kelompok mata pelajaran
wajib. Kerjasama antara guru tersebut diperlukan dalam mengembangkan ketrampilan
berpikir (sejarah), keterampilan mengembangkan dalam langkah pembelajaran (mengamati,
menanya, mengumpulkan informasi, menalar/mengasosiasi, mengomunikasikan), dalam
mengembangkan nilai, dan penilaian hasil belajar. Tujuan dari kerjasama ini adalah untuk
sinkronisasi pengembangan ketrampilan, dan nilai serta kebiasan yang diiwujudkan dalam
bentuk RPP.
Hubungan Guru dengan Peserta Didik
Tugas utama guru adalah berusaha mengembangkan segenap potensi peserta didiknya
secara optimal, agar mereka dapat mandiri dan berkembang menjadi manusia-manusia
yang cerdas, baik cerdas secara fisik, intelektual, sosial, emosional, moral dan spiritual.
Sebagai konsekuensi logis dari tugas yang diembannya, guru senantiasa berinteraksi dan
berkomunikasi dengan peserta didiknya. Dalam konteks tugas, hubungan diantara keduanya
adalah hubungan profesional, yang diikat oleh kode etik. Berikut ini disajikan nilai-nilai dasar
dan operasional yang membingkai sikap dan perilaku etik guru dalam berhubungan dengan
peserta didik, sebagaimana tertuang dalam rumusan Kode Etik Guru Indonesia (KEGI):

Guru berperilaku secara profesional dalam melaksanakan tugas mendidik, mengajar,


membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi proses dan hasil
pembelajaran.

Guru membimbing peserta didik untuk memahami, menghayati dan mengamalkan


hak-hak dan kewajiban sebagai individu, warga sekolah, dan anggota masyarakat.

Guru mengetahui bahwa setiap peserta didik memiliki karakteristik secara individual
dan masing-masingnya berhak atas layanan pembelajaran.

Guru menghimpun informasi tentang peserta didik dan menggunakannya untuk


kepentingan proses kependidikan.

Guru secara perseorangan atau bersama-sama secara terus-menerus berusaha


menciptakan, memelihara, dan mengembangkan suasana sekolah yang menyenangkan
sebagai lingkungan belajar yang efektif dan efisien bagi peserta didik.

Guru menjalin hubungan dengan peserta didik yang dilandasi rasa kasih sayang dan
menghindarkan diri dari tindak kekerasan fisik yang di luar batas kaidah pendidikan.

Guru berusaha secara manusiawi untuk mencegah setiap gangguan yang dapat
mempengaruhi perkembangan negatif bagi peserta didik.

Guru secara langsung mencurahkan usaha-usaha profesionalnya untuk membantu


peserta
didik
dalam
mengembangkan
keseluruhan
kepribadiannya,
termasuk
kemampuannya untuk berkarya.

Guru menjunjung tinggi harga diri, integritas, dan tidak sekali-kali merendahkan
martabat peserta didiknya.

Guru bertindak dan memandang semua tindakan peserta didiknya secara adil.

Guru berperilaku taat asas kepada hukum dan menjunjung tinggi kebutuhan dan hakhak peserta didiknya.

Guru terpanggil hati nurani dan moralnya untuk secara tekun dan penuh perhatian
bagi pertumbuhan dan perkembangan peserta didiknya.

Guru membuat usaha-usaha yang rasional untuk melindungi peserta didiknya dari
kondisi-kondisi yang menghambat proses belajar, menimbulkan gangguan kesehatan, dan
keamanan.

Guru tidak boleh membuka rahasia pribadi peserta didiknya untuk alasan-alasan
yang tidak ada kaitannya dengan kepentingan pendidikan, hukum, kesehatan, dan
kemanusiaan.

Guru tidak boleh menggunakan hubungan dan tindakan profesionalnya kepada


peserta didik dengan cara-cara yang melanggar norma sosial, kebudayaan, moral, dan
agama.

Guru tidak boleh menggunakan hubungan dan tindakan profesional dengan peserta
didiknya untuk memperoleh keuntungan-keuntungan pribadi.

Dalam budaya Indonesia, hubungan guru dengan peserta didik sesungguhnya tidak hanya
terjadi pada saat sedang melaksanakan tugas atau selama berlangsungnya pemberian
pelayanan pendidikan. Meski seorang guru sedang dalam keadaan tidak menjalankan tugas,
atau sudah lama meninggalkan tugas (purna bhakti), hubungan dengan peserta didiknya
(mantan peserta didik) relatif masih terjaga. Bahkan di kalangan masyarakat tertentu masih
terbangun sikap patuh pada guru (dalam bahasa psikologi, guru hadir sebagai reference
group).
Meski secara formal, tidak lagi menjalankantugas-tugas keguruannya, tetapi hubungan
batiniah antara guru dengan peserta didiknya masih relatif kuat, dan sang peserta didik pun
tetap berusaha menjalankan segala sesuatu yang diajarkan gurunya. Dalam keseharian kita
melihat kecenderungan seorang guru ketika bertemu dengan peserta didiknya yang sudah
sekian lama tidak bertemu. Pada umumnya, sang guru akan tetap menampilkan sikap dan
perilaku keguruannya, meski dalam wujud yang berbeda dengan semasa masih dalam

asuhannya. Dukungan dan kasih sayang akan dia tunjukkan. Aneka nasihat, petatah-petitih
akan meluncur dari mulutnya.
Begitu juga dengan sang peserta didik, sekalipun dia sudah meraih kesuksesan hidup yang
jauh melampaui dari gurunya, baik dalam jabatan, kekayaan atau ilmu pengetahuan, dalam
hati kecilnya akan terselip rasa hormat, yang diekspresikan dalam berbagai bentuk,
misalnya: senyuman, sapaan, cium tangan, menganggukkan kepala, hingga memberi kado
tertentu yang sudah pasti bukan dihitung dari nilai uangnya. Inilah salah satu kebahagian
seorang guru, ketika masih bisa sempat menyaksikan putera-puteri didiknya meraih
kesuksesan hidup. Rasa hormat dari para peserta didiknya itu bukan muncul secara
otomatis tetapi justru terbangun dari sikap dan perilaku profesional yang ditampilkan sang
guru ketika masih bertugas memberikan pelayanan pendidikan kepada putera-puteri
didiknya.
Hubungan Guru dengan Orang tua Peserta didik
Guru dalam pandangan masyarakat adalah orang yang melaksanakan pendidikan di tempattempat tertentu. Guru menempati kedudukan terhormat di masyarakat. Kewibawaanlah
yang membuat mereka dihormati. Para orangtua yakin bahwa gurulah yang dapat mendidik
anak didik mereka agar menjadi orang yang berkepribadian mulia. Jadi guru, adalah sosok
figur yang menempati posisi dan memegang peranan penting dalam pendidikan. Menjadi
guru berdasarkan tuntutan pekerjaan adalah suatu pekerjaan yang mudah, tetapi menjadi
guru berdasarkan panggilan jiwa dan tuntutan hati nurani adalah tidak mudah (Djamarah,
2005).
Orangtua adalah orang yang telah melahirkan kita atau orang yang mempunyai pertalian
darah. Orangtua juga merupakan public figure yang pertama menjadi contoh bagi anakanak. Karena pendidikan pertama yang didapatkan anak-anak adalah dari orangtuanya.
Orangtua dan guru adalah satu tim dalam pendidikan anak, untuk itu keduanya perlu
menjalin hubungan baik. Bagi anak-anak yang sudah masuk sekolah, waktunya lebih banyak
dihabiskan bersama para guru daripada dengan orangtua. Kedengarannya mungkin agak
mengejutkan, tapi memang begitulah kenyataannya. Ketika orangtua pulang dari tempat
bekerja, anak-anak biasanya juga baru tiba dari mengikuti kegiatan setelah jam sekolah.
Hanya tersisa waktu beberapa jam saja untuk makan malam bersama, menyelesaikan
pekerjaan rumah dan mungkin menghadiri acara anak-anak, setelah itu semuanya tidur.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar terjalin hubungan baik antara orangtua dan
guru dengan orangtua peserta didik;

Perkenalkan anak dengan gurunya,

Mendatangi pertemuan orangtua-guru,

Senantiasa berprasangka baik kepada guru,

Berkomunikasilah secara teratur, dan

Berikanlah sumbangan.

Guru dan orangtua peserta didik, sama-sama menginginkan yang terbaik untuk pendidikan
anak-anak. Jika Anda mendengar kabar yang buruk tentang guru, apakah ia galak, jahat,
atau tidak obyektif, maka tetap pertahankan hubungan baik Anda dengan sang guru. Cari
tahu masalah yang sebenarnya dengan menghubungi guru itu secara sopan. Jangan
mengeluarkan kata-kata yang buruk mengenai guru di depan anak Anda. Tetap fokus
terhadap masalah yang dihadapi, jadikan itu latihan bagi Anak bersikap terbuka. Berkaitan
dengan hubungan antara guru dan orangtua, dalam kode etik guru telah disebutkan tentang
hal tersebut, yaitu dalam pasal 6 (Nilai-Nilai Dasar dan Nilai-nilai Operasional) bagian 2
tentang; Hubungan Guru dengan Orangtua/wali Peserta didik:

Guru berusaha membina hubungan kerjasama yang efektif dan efisien dengan
Orangtua/Wali peserta didik dalam melaksanakan proses pendidikan,

Guru memberikan informasi kepada orangtua/wali secara jujur dan objektif mengenai
perkembangan peserta didik,

Guru merahasiakan informasi setiap peserta didik kepada orang lain yang bukan
orangtua/ walinya,

Guru memotivasi orangtua/wali peserta didik untuk beradaptasi dan berpatisipasi


dalam memajukan dan meningkatkan kualitas pendidikan,

Guru berkomunikasi secara baik dengan orangtua/wali peserta didik mengenai


kondisi dan kemajuan peserta didik dan proses kependidikan pada umumnya.

Guru menjunjung tinggi hak orangtua/wali peserta didik untuk berkonsultasi


dengannya berkaitan dengan kesejahteraan kemajuan, dan cita-cita anak atau anak-anak
akan pendidikan,

Guru tidak boleh melakukan hubungan dan tindakan profesional


orangtua/wali peserta didik untuk memperoleh keuntungan-keuntungan pribadi.

dengan

Hubungan Guru dengan Masyarakat


Guru perlu memelihara hubungan baik dengan masyarakat yang lebih luas untuk
kepentingan pendidikan,misalnyamengadakan kerjasama dengan tokoh masyarakat tertentu
yang berorientasi pada peningkatan mutu pembelajaran mata pelajaran yang diampunya.
Beberapa hal yang hendaknya dilakukan guru dalam hubungannya dengan masyarakat;

Menghormati tanggung jawab dasar dari orangtua terhadap anak,

Menciptakan dan memelihara hubungan-hubungan yang ramah dan kooperatif


dengan rumah,

Membantu memperkuat kepercayaan murid terhadap


menghindarkan ucapan yang mungkin merusak kepercayaan itu,

Menghormati masyarakat dimana ia bekerja dan bersikap setia kepada sekolah,


masyarakat, bangsa, dan negara, serta

rumahnya

sendiri

dan

Ikut serta aktif dalam kehidupan masyarakat.

Keteladanan Guru
Dalam dunia pendidikan pada umumnya dan dalam pembelajaran pada khususnya,
keteladanan sangat diperlukan dan memiliki makna yang sangat tinggi. Dengan demikian,
keberhasilan pada dunia pendidikan, khususnya keberhasilan pembelajaran yang dilakukan
seorang guru salah satunya juga ditentukan oleh seberapa besar keteladanan yang
diberikan pendidik dan tenaga kependidikan. Pada usia anak-anak (sebelum anak memasuki
perguruan tinggi) masih sangat labil dan mencari-cari figur yang akan ditiru oleh anak didik
yang sesuai dengan kondisi diri masing-masing. Dalam kondisi sebagaimana dikemukakan,
nampak bahwa karakter anak didik pada tahap awal sangat dipengaruhi oleh bagaimana
kondisi lingkungan yang ada.Untuk dapat memberikan kontribusi yang dapat membentuk
karakter anak didik sebagaimana yang diharapkan bersama, maka seluruh pendidik dan
tenaga kependidikan yang ada harus menciptakan suasana lingkungan yang kondusif.
Pendidik dan tenaga kependidikan harus memberikan dan menciptakan kondisi lingkungan
yang mendukung harapan kita semua kepada anak didik. Ingin kita bentuk seperti apa anak
didik kita, maka seperti keinginan kita itulah lingkungan harus dibentuk oleh pendidik dan
tenaga kependidikan. Lingkungan yang dibentuk oleh pendidik dan tenaga kependidikan
tidak dapat bertentangan (tolak belakang) dengan harapan kita.
Demikianlah, dapat membantu guru untuk melaksanakan Pembelajaran Tematik Terpadu.
Pelaksanaan yang baik akan memberi pembelajaran yang berkualitas bagi peserta didik dan
selanjutnya menghasilkan peserta didik yang memiliki kompetensi sebagaimana dirumuskan
dalam Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar. Pencapaian kompetensi itu akan
menghasilkan peserta didik yang memiliki keseimbangan kompetensi baik antara sikap,
keterampilan, dan pengetahuan, maupun keseimbangan dalam soft skills dan hard skills.
Keberhasilan ini sangat mendukung terlahirnya Generasi Emas Indonesia di tahun 2045

http://www.jamarismelayu.com/search/label/Pendidikan

Konsep Dasar Pembelajaran Terpadu


Pengertian Pembelajaran Terpadu
Beberapa pengertian dari pembelajaran terpadu yang dikemukakan oleh beberapa orang pakar pembelajaran terpadu diantaranya :
(1) menurut Cohen dan Manion (1992) dan Brand (1991), terdapat tiga kemungkinan variasi pembelajaran terpadu yang berkenaan dengan
pendidikan yang dilaksanakan dalam suasana pendidikan progresif yaitu kurikulum terpadu (integrated curriculum), hari terpadu (integrated
day), dan pembelajaran terpadu (integrated learning). Kurikulum terpadu adalah kegiatan menata keterpaduan berbagai materi mata
pelajaran melalui suatu tema lintas bidang membentuk suatu keseluruhan yang bermakna sehingga batas antara berbagai bidang studi
tidaklah ketat atau boleh dikatakan tidak ada. Hari terpadu berupa perancangan kegiatan siswa dari sesuatu kelas pada hari tertentu untuk
mempelajari atau mengerjakan berbagai kegiatan sesuai dengan minat mereka. Sementara itu, pembelajaran terpadu menunjuk pada
kegiatan belajar yang terorganisasikan secara lebih terstruktur yang bertolak pada tema-tema tertentu atau pelajaran tertentu sebagai titik
pusatnya (center core / center of interest);
(2) menurut Prabowo (2000 : 2), pembelajaran terpadu adalah suatu proses pembelajaran dengan melibatkan / mengkaitkan berbagai
bidang studi. Dan ada dua pengertian yang perlu dikemukakan untuk menghilangkan kerancuan dari pengertian pembelajaran terpadu di
atas, yaitu konsep pembelajaran terpadu dan IPA terpadu.
Menurut Prabowo (2000:2), pembelajaran terpadu merupakan pendekatan belajar mengajar yang melibatkan beberapa bidang studi.
Pendekatan belajar mengajar seperti ini diharapkan akan dapat memberikan pengalaman yang bermakna kepada anak didik kita. Arti
bermakna disini dikarenakan dalam pembelajaran terpadu diharapkan anak akan memperoleh pemahaman terhadap konsep-konsep yang
mereka pelajari dengan melalui pengalaman langsung dan menghubungkannya dengan konsep lain yang sudah mereka pahami.
Pembelajaran terpadu merupakan pendekatan belajar mengajar yang memperhatikan dan menyesuaikan dengan tingkat perkembangan
anak didik (Developmentally Appropriate Practical). Pendekatan yang berangkat dari teori pembelajaran yang menolak drill-system sebagai
dasar pembentukan pengetahuan dan struktur intelektual anak.
Langkah awal dalam melaksanakan pembelajaran terpadu adalah pemilihan/ pengembangan topik atau tema. Dalam langkah awal ini guru
mengajak anak didiknya untuk bersama-sama memilih dan mengembangkan topik atau tema tersebut. Dengan demikian anak didik terlibat
aktif dalam proses pembelajaran dan pembuatan keputusan.
Pembelajaran dengan menggunakan pendekatan terpadu ini diharapkan akan dapat memperbaiki kualitas pendidikan dasar, terutama untuk
mencegah gejala penjejalan kurikulum dalam proses pembelajaran di sekolah. Dampak negatif dari penjejalan kurikulum akan berakibat
buruk terhadap perkembangan anak. Hal tersebut terlihat dengan dituntutnya anak untuk mengerjakan berbagai tugas yang melebihi
kapasitas dan kebutuhan mereka. Mereka kurang mendapat kesempatan untuk belajar, untuk membaca dan sebagainya. Disamping itu
mereka akan kehilangan pengalaman pembelajaran alamiah langsung, pengalaman sensorik dari dunia mereka yang akan membentuk
dasar kemampuan pembelajaran abstrak (Prabowo, 2000:3).
Pembelajaran terpadu sebagai suatu proses mempunyai beberapa ciri yaitu : berpusat pada anak (student centered), proses pembelajaran
mengutamakan pemberian pengalaman langsung, serta pemisahan antar bidang studi tidak terlihat jelas. Disamping itu pembelajaran
terpadu menyajikan konsep dari berbagai bidang studi dalam satu proses pembelajaran. Kecuali mempunyai sifat luwes, pembelajaran
terpadu juga memberikan hasil yang dapat berkembang sesuai dengan minat dan kebutuhan anak.
Pembelajaran terpadu memiliki kelebihan (Depdikbud, 1996) sebagai berikut :
1. Pengalaman dan kegiatan belajar anak relevan dengan tingkat perkembangannya.
2. Kegiatan yang dipilih sesuai dengan minat dan kebutuhan anak.
3. Kegiatan belajar bermakna bagi anak, sehingga hasilnya dapat bertahan lama.

4. Keterampilan berpikir anak berkembang dalam proses pembelajaran terpadu.


5. Kegiatan belajar mengajar bersifat pragmatis sesuai dengan lingkungan anak.
6. Keterampilan sosial anak berkembang dalam proses pembelajaran terpadu. Keterampilan sosial ini antara lain adalah : kerja sama,
komunikasi, dan mau mendengarkan pendapat orang lain.
Seperti yang telah disebutkan di atas, bahwa pembelajaran terpadu mempunyai kelebihan yang dapat dimanfaatkan oleh guru dalam
membantu anak didiknya berkembang sesuai dengan taraf perkembangan intelektualnya. Meskipun demikian pendekatan pembelajaran
terpadu ini masih mengandung keterbatasan-keterbatasan.
Salah satu keterbatasan yang menonjol dari pembelajaran terpadu adalah pada faktor evaluasi. Pembelajaran terpadu menuntut
diadakannya evaluasi tidak hanya pada produk, tetapi juga pada proses. Evaluasi pembelajaran terpadu tidak hanya berorientasi pada
dampak instruksional dari proses pembelajaran, tetapi juga pada proses dampak pengiring dari proses pembelajaran tersebut. Dengan
demikian pembelajaran terpadu menuntut adanya teknik evaluasi yang banyak ragamnya. Oleh karenanya tugas guru menjadi lebih banyak
(Prabowo, 2000:4).
Dalam Prabowo (2000:5) dikatakan bahwa dari kalangan pendidik terdapat berbagai pendapat yang intinya menyatakan bahwa penerapan
pendekatan pembelajaran terpadu akan banyak menimbulkan masalah dan tugas guru menjadi semakin membengkak. Masalah yang
menonjol adalah tentang penyesuaian pola penerapan dan hasil pembelajaran terpadu dikaitkan dengan kurikulum yang sedang berlaku.
Dalam mengatasi masalah ini, pada tahap awal dapat dilakukan dengan memeriksa isi kurikulum dalam satu catur wulan secara fleksibel.
Artinya materi dalam satu catur wulan tersebut dapat diatur urutan pembelajarannya, asal cakupannya tetap tercapai.
Berangkat dari pokok pemikiran tersebut di atas, maka sebelum merancang pembelajaran terpadu, hendaknya guru mengumpulkan dan
menyusun seluruh pokok bahasan dari semua bidang studi dalam satu catur wulan, kemudian dilanjutkan dengan proses perancangan
pembelajaran terpadu.

Konsep Dasar Pembelajaran Terpadu di Sekolah Dasar (3-Habis)


Di bawah ini diuraikan beberapa manfaat yang dapat dipetik dengan pelaksanaan pembelajaran terpadu, antara lain: dengan
menggabungkan berbagai mata pelajaran akan terjadi penghematan karena tumpang tindih materi dapat dikurangi bahkan dihilangkan.
Siswa dapat melihat hubungan hubungan yang bermakna sebab materi pembelajaran lebih berperan sebagai sarana atau alat daripada
tujuan akhir itu sendiri.
Pembelajaran terpadu dapat meningkatkan taraf kecakapan berpikir siswa. Hal ini dapat terjadi karena siswa dihadapkan pada gagasan
atau pemikiran yang lebih besar, lebih luas dan lebih dalam ketika menghadapi situasi pembelajaran.
Kemungkinan pembelajaran yang terpotong- potong sedikit sekali terjadi, sebab siswa dilengkapi dengan pengalaman belajar yang lebih
terpadu sehingga akan mendapat pengertian mengenai proses dan materi yang lebih terpadu. Pembelajran terpadu memebrikan
penerapan- penerapan dunia nyata sehingga dapat mempertinggi kesempatan transfer pembelajaran (transfer of learning).
Dengan pemaduan pembelajran antarmata pelajaran diharapkan penguasaan materi pembelajran akan semakin baik dan meningkat.
Pengalaman belajar antar mata pelajaran sangat positif untuk membentuk pendekatan menyeluruh pembelajaran terhadap pengembangan
ilmu pengetahuan siswa karena lebih aktif dan otonom dalam pemikirannya. Motivasi belajar dapat diperbaiki dan ditingkatkan dalam
pembelajaran antar mata pelajaran. Para siswa akan terlibat dalam konfrontasi yang melibatkan banyak pemikiran dengan pokok bahasan
yang dihadapi.
Pembelajaran terpadu membentuk dan menciptakan struktur kognitif atau pengetahuan awal siswa yang dapat menjembatani pemahaman

yang terkait, pemahaman yang terorganisasi dan pemahaman yang lebih baik.

Karakteristik Pembelajaran Terpadu


Pembelajaran terpadu memiliki beberapa macam karakteristik, seperti menurut Hilda Karli (2003: 53) mengungkapkan bahwa:
Pembelajaran terpadu memiliki beberapa macam karakteristik, diantaranya:
1. Berpusat pada anak (studend centerd).
2. Memberi pengalaman langsung pada anak.
3. Pemisahan antara bidang studi tidak begitu jelas.
4. Menyajikan konsep dari berbagai bidang studi dalam suatu proses pembelajaran.
5. Bersipat luwes.
6. Hasil pembelajaran dapat berkembang sesuai dengan minat dan kebutuhan anak.
7. Holistik, artinya suatu peristiwa yang menjadi pusat perhatian dalam pembelajaran terpadu di amati dan di kaji dari beberapa mata
pelajaran sekaligus, tidak dari sudut pandang yang terkotak-kotak.
8. Bermakna, artinya pengkajian suatu penomena dari berbagai macam aspek memungkinkan terbentuknya semacam jalinan skemata yang
dimiliki siswa.
9. Otentik, artinya informasi dan pengetahuan yang diperoleh sipatnya menjadi otentik.
10. Aktif, artinya siswa perlu terlibat langsung dalam proses pembelajaran mulai dari perencanaan, pelaksanaan hingga proses evaluasi.
Wujud lain dari implementasi terpadu yang bertolak pada tema, yakni kegiatan pembelajaran yang dikenal dengan berbagai nama seperti
pembelajaran proyek, pembelakaran unit, pembelajaran tematik dan sebagainya.
Adapun kelebihan-kelebihan pembelajaran terpadu diantaranya:
1. Pengalaman dan kegiatan belajar anak akan selalu relevan dengan tingkat perkembangan anak.
2. Kegiatan yang dipilih sesuai dengan dan bertolak pada minat dan kebutuhan anak.
3. Seluruh kegiatan belajar lebih bermakna bagi anak sehingga hasil belajar akan dapat bertahan lebih lama.
4. Pembelajaran Terpadu menumbuh kembangkan keterampilan berpikir anak.
5. Menyajikan kegiatan yang bersifat pragmatis sesuai dengan permasalahan yang sering ditemui dalam lingklungan anak.
6. Menumbuh kembangkan keterampilan sosial anak seperti kerja sama, toleransi, komunikasi dan respek terhadap gagasan orang lain.
Selain kelebihan pembelajaran terpadu juga memiliki keterbatasan terutama pada pelaksanaannya, terutama pada aspek evaluasi yang
lebih banyak menuntut guru untuk melakukan evaluasi tidak hanya terhadap hasil tetapi juga terhadap proses.

Prinsip-prinsip Pembelajaran Terpadu


Berikut ini dikemukakan pula prinsip-prinsip dalam pembelajaran terpadu yaitu meliputi : 1) prinsip penggalian tema, 2) prinsip pelaksanaan
pembelajaran terpadu, 3) prinsip evaluasi dan 4) prinsip reaksi.
Prinsip penggalian tema antara lain : 1). Tema hendaknya tidak terlalu luas, namun dengan mudah dapat digunakan memadukan banyak
bidang studi, 2). Tema harus bermakna artinya bahwa tema yang dipilih untuk dikaji harus memberikan bekal bagi siswa untuk belajar
selanjutnya 3). Tema harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan psikologis anak. 4). Tema yang dikembangkan harus mampu
mewadahi sebagian besar minat anak, 5). Tema yang dipilih hendaknya mempertimbangkan penstiwa-peristiwa otentik yang terjadi dalam
rentang waktu belajar, 6) Tema yang dipilih hendaknya mempertimbangkan kurikulum yang berlaku, serta harapan dari masyarakat, 7). Tema
yang dipilih hendaknya juga mempertimbangkan ketersediaan sumber belajar.

Prinsip pelaksanaan terpadu di antaranya : 1) guru hendaknya jangan menjadi single actor yang mendominasi pembicaraan dalam proses
belajar mengajar, 2) pemberian tanggung jawab individu dan kelompok harus jelas dalam setiap tugas yang menuntut adanya kerjasarna
kelompok, 3) guru perlu akomodatif terhadap ide-ide yang terkadang sama sekali tidak terpikirkan dalam poses perencanaan.
Prinsip evaluatif adalah : 1). memberi kesempatan kepada siswa untuk melakukan evaluasi diri di samping bentuk evaluasi lainnya, 2) guru
perlu mengajak siswa untuk mengevaluasi perolehan belajar yang telah dicapai berdasarkan kriteria keberhasilan pencapaian tujuan yang
telah disepakati dalam kontrak.
Prinsip reaksi, dampak pengiring (nuturan efek) yang penting bagi perilaku secara sadar belum tersentuh oleh guru dalam kegiatan belajar
mengajar. Karena itu, guru dituntut agar mampu merencanakan dan melaksanakan pembelajaran sehingga tercapai secara tuntas tujuantujuan pembelajaran. Guru harus bereaksi terhadap reaksi siswa dalam semua event yang tidak diarahkan ke aspek yang sempit tetapi ke
suatu kesatuan utuh dan bermakna.
Waktu pembelajaran terpadu bisa bermacam-macam yaitu : 1) pembelajaran terpadu yang dilaksanakan pada waktu tertentu, yaitu apabila
materi yang dijalankan cocok sekali diajarkan secara terpadu; 2) Pembelajaran terpadu bersifat temporer, tanpa kepastian waktu dan
bersifat situasional, dimana pelaksanaannya tidak mengikuti jadwal yang teratur, pelaksanaan pembalajaran terpadu secara spontan
memiliki karakteristik dengan kegiatan belajar sesuai kurikulum yang isinya masih terkotak-kotak berdasarkan mata pelajaran.
Walaupun demikian guru tetap harus merencanakan keterkaitan konseptual atau antar pelajaran, dan model jaring laba-laba memungkinkan
dilaksanakan dengan pembelajaran terpadu secara spontan (tim pengembang PGSD, 1996); (3) Ada pula yang melaksanakan pembelajaran
terpadu secara periodik, misalnya setiap akhir minggu, atau akhir catur wulan. Waktu-waktunya telah dirancang secara pasti; (4) Ada pula
yang melaksanakan pembelajaran terpadu sehari penuh. Selama satu hari tidak ada pembelajaran yang lain, yang ada siswa belajar dengan
yang diinginkan. Siswa sibuk dengan urusannya masing-masing.
Pembelajaran ini dikenal dengan istilah integrated day atau hari terpadu. Diawali dengan kegiatan pengelolaan kelas yang meliputi
penyiapan aspek-aspek kegiatan belajar, alat-alat, media dan peralatan lainnya yang dapat menunjang terlaksananya pembelajaran terpadu.
Dalam tahap perencanaan guru memberikan arahan kepada murid tentang kegiatan yang akan dilaksanakan, cara pelaksanaan kegiatan,
dan cara siswa memperoleh bantuan guru.
Implikasi dari pembelajaran terpadu, bentuk hari terpadu, guru harus menentukan waktu maupun jumlah hari untuk pelaksanaan kegiatan
tersebut dan dapat diisi dengan kegiatan pembelajaran terpadu model jaring laba-laba; (4) Pembelajaran terpadu yang terbentuk dari tema
sentral.
Implementasinya menuntut dilakukannya pengorganisasian kegiatan yang telah terstruktur. Pengorganisasian pada awal kegiatan mencakup
penentuan tema dengan mempertimbangkan alat, bahan, dan sumber yang tersedia, jenis kegiatan serta cara guru membantu siswa. Untuk
pelaksanaanya guru bekerjasama dengan guru kelas lainnya dalam merancang kegiatan belajar mengajar dengan memilih tema sentral
transportasi dalam kehidupan Dalam tulisan ini, bentuk pembelajaran terpadu dilaksanakan secara periodik.

Model-Model Pembelajaran Terpadu


Prabowo (2000:3) mengatakan bahwa pembelajaran terpadu sebagai suatu proses mempunyai beberapa ciri yaitu : (1) berpusat pada siswa
(student centered), (2) proses pembelajaran mengutamakan pemberian pengalaman langsung, serta (3) pemisahan antar bidang studi tidak
terlihat jelas. Dari beberapa ciri pembelajaran terpadu di atas, menunjukkan bahwa model pembelajaran terpadu adalah sejalan dengan
beberapa aliran pendidikan modern yaitu termasuk dalam aliran pendidikan progresivisme. Aliran pendidikan progresivisme memandang
pendidikan yang mengutamakan penyelenggaraan pendidikan di sekolah berpusat pada anak (child-centered), sebagai reaksi terhadap
pelaksanaan pendidikan yang masih berpusat pada guru dan pada bahan ajar. Tujuan utama sekolah adalah untuk meningkatkan

kecerdasan praktis, serta untuk membuat anak lebih efektif dalam memecahkan berbagai problem yang disajikan dalam konteks
pengalaman (experience) pada umumnya (William F. Oneill, 1981).
Tujuan pendidikan aliran progresivisme adalah melatih anak agar kelak dapat bekerja, bekerja secara sistematis, mencintai kerja, dan
bekerja dengan otak dan hati. Untuk mencapai tujuan tersebut, pendidikan seharusnya dapat mengembangkan sepenuhnya bakat dan minat
setiap anak. Kurikulum pendidikan progresif adalah kurikulum yang mengakomodasi pengalaman-pengalaman (atau kegiatan) belajar yang
diminati oleh setiap siswa (experience curriculum). Sedangkan metode pendidikan progresif lebih berupa penyediaan lingkungan dan
fasilitas yang memungkinkan berlangsungnya proses belajar secara bebas pada setiap anak untuk mengembangkan bakat dan minatnya
(Mudyaharjo, 2001).
Adapun model-model pembelajaran terpadu sebagaimana yang dikemukakan oleh Fogarty, R (1991 : 61 65) yaitu sebanyak sepuluh model
pembelajaran terpadu. Kesepuluh model pembelajaran terpadu tersebut adalah :
1) the fragmented model ( Model Fragmen )
2) the connected model ( Model Terhubung )
3) the nested model ( Model Tersarang )
4) the sequenced model ( Model Terurut )
5) the shared model ( Model Terbagi )
6) the webbed model ( Model Jaring Laba-Laba )
7) the threaded model ( Model Pasang Benang )
8) the integrated model ( Model Integrasi )
9) the immersed model ( Model Terbenam ), dan
10) the networked model ( Model Jaringan )
Dari kesepuluh model pembelajaran terpadu di atas dipilih tiga model pembelajaran yang dipandang layak dan sesuai untuk dapat
dikembangkan dan mudah dilaksanakan di pendidikan dasar (Prabowo, 2000:7). Ketiga model pembelajaran terpadu yang dimaksud adalah
model terhubung (connected), model jaring laba-laba (webbed), model keterpaduan (integrated ).
Berdasarkan karakteristik yang dimiliki oleh masing-masing model pembelajaran tersebut, maka model pembelajaran yang akan digunakan
dalam penelitian ini adalah model terhubung (the connected model), karena model terhubung ini penekanannya terletak pada perlu adanya
integrasi inter bidang studi itu sendiri. Selain itu, Model terhubung ini juga secara nyata menghubungkan satu konsep dengan konsep lain,
satu topik dengan topik lain, satu keterampilan dengan keterampilan lain, tugas yang dilakukan dalam satu hari dengan tugas yang
dilakukan pada hari berikutnya, serta ide-ide yang dipelajari pada satu semester dengan semester berikutnya. Pemanfaatan penerapan
model terhubung (connected) ini sangat relevan dengan konsep Cahaya (dalam fisika) dan konsep Sistem Indera pada manusia (dalam
biologi), agar dapat terwujud pemampatan/ pengurangan waktu dalam pembelajaran pada konsep-konsep tersebut (Reduce Instructional
Time). Hal ini terkait dengan upaya menghindari terjadinya penjejalan kurikulum dalam proses pembelajaran, sebagai akibat dari mengejar
target kurikulum.
Beberapa kelebihan dari model terhubung (connected) adalah sebagai berikut : (1) dampak positif dari mengaitkan ide-ide dalam satu
bidang studi adalah siswa memperoleh gambaran yang luas sebagaimana suatu bidang studi yang terfokus pada suatu aspek tertentu. (2)
siswa dapat mengembangkan konsep-konsep kunci secara terus menerus, sehingga terjadilah proses internalisasi. (3) menghubungkan ideide dalam suatu bidang studi sangat memungkinkan bagi siswa untuk mengkaji, mengkonseptualisasi, memperbaiki, serta mengasimilasi
ide-ide secara terus menerus sehingga memudahkan untuk terjadinya proses transfer ide-ide dalam memecahkan masalah.
Di samping mempunyai kelebihan, model terhubung ini juga mempunyai kekurangan sebagai berikut : (1) masih kelihatan terpisahnya antar

bidang studi, (2) tidak mendorong guru untuk bekerja secara tim, sehingga isi dari pelajaran tetap saja terfokus tanpa merentangkan konsepkonsep serta ide-ide antar bidang studi, dan (3) dalam memadukan ide-ide dalam satu bidang studi, maka usaha untuk mengembangkan
keterhubungan antar bidang studi menjadi terabaikan.
Sintaks (pola urutan) dari model pembelajaran terpadu tipe connected (terhubung) menurut Prabowo (2000:11 14) sebagai berikut :
1. Tahap Perencanaan :
1.1. menentukan tujuan pembelajaran umum
1.2. menentukan tujuan pembelajaran khusus
2. Langkah-langkah yang ditempuh oleh guru :
2.1. menyampaikan konsep pendukung yang harus dikuasai siswa.
(materi prasyarat)
2.2. menyampaikan konsep-konsep yang hendak dikuasai oleh siswa
2.3. menyampaikan keterampilan proses yang dapat dikembangkan
2.4. menyampaikan alat dan bahan yang akan digunakan / dibutuhkan
2.5. menyampaikan pertanyaan kunci
3. Tahap Pelaksanaan, meliputi :
3.1. pengelolaan kelas; dengan membagi kelas kedalam beberapa kelompok
3.2. kegiatan proses
3.3. kegiatan pencatatan data
3.4. diskusi secara klasikal
4. Evaluasi, meliputi :
4.1. evaluasi proses , berupa :
- ketepatan hasil pengamatan
- ketepatan dalam penyusunan alat dan bahan
- ketepatan siswa saat menganalisis data
4.2. evaluasi produk :
- penguasaan siswa terhadap konsep-konsep / materi sesuai dengan tujuan pembelajaran khusus yang
telah ditetapkan.
4.3. evaluasi psikomotor :
- kemampuan penguasaan siswa terhadap penggunaan alat ukur.

Tipe Pembelajaran Terpadu antar Bidang Study


Fogarty memperkenalkan 10 model pembelajaran terpadu yakni: fragmented, connected, nested, seguenced, shaved, webbed, threaded,
integrated, immersed, networked.
Kesepuluh model tersebut dibagi ketiga tipe. Tipe yang pertama adalah tipe pembelajaran terpadu dalam satu disiplin ilmu (fragmented,
connected, nested), tipe kedua yakni pembelajaran terpadu antara bidang studi (seguenced, shaved, webbed, threaded, integrated), tipe
ketiga adalah keterpaduan dalam faktor siswanya (immersed, networked), (Fogarty, 1991: XV).

BAGAN

Tipe Pembelajaran Terpadu antar Bidang Studi


a. Seguenced (bertahap) b. Shaved (berbagi)
c. Webbed (jaring laba-laba) d. Threoded (bergalur)
e. Integrated (terpadu)

Perencanaan Pembelajaran Terpadu Model Integreted


Perencanaan pebelajaran pada hakikatnya adalah rangkaian isi dan kebutuhan pembelajaran yang bersipat menyeluruh dan sistematis yang
digunakan sebagai pedoman dari guru dalam mengelola proses pembelajaran. Keberhasilan pembelajaran terpadu sangat ditentukan oleh
seberapa jauh pembelajaran terpadu itu direncanakan dan dikemas sesuai dengan kondisi peserta didik seperti minat, bakat, kebutuhan dan
kemampuan peserta didik.
BAGAN
Langkah-langkah pembelajaran terpadu
Memberi tanda PB/SPB yang dipadukan dan menghubungkannya
Menentukan jenis mata pelajaran yang akan dipadukan
Membuat satuan pembelajaran/rencana masing-masing mata pelajaran
Menyusun daftar PB/SPB mata pelajaran yang dipaduklan
Menentukan tema pemersatu
Membaca dan mengkaji uraian PB/SPB
Penguraian lanjut PB/SPB yang dipadukan

Pelaksanaan Pembelajaran Terpadu Model Integreted


Untuk model keterpaduan maka proses pembelajaran terpadunya dapat dikemukakan dalam tabel berikut:
Perencanaan Pelaksanaan Kulminasi
Peta konsep berbagai bidang studi
Konsep-konsep berhubungan
Rancangan aktivitas belajar Pelaksanaan tugas
Analisis hasil
Penyusunan laporan Penyajian laporan
Evaluasi
Adapun langkah dan tahapan dalam pembelajaran terpadu model integreted yaitu:
1. Langkah guru merancang program rencana pembelajaran dengan mengadakan penjajakan tema dengan cara curah pendapat (brain
stroming).
2. Tahap pelaksanaan melakukan kegiatan:
1. Proses prengumpulan informasi.
2. Pengelolaan informasi dengan cara analisis komparasi dan sintesis.

3. Penyusunan laporan, dapat dilakukan dengan cara verbal, gravisi, victorial, audio, gerak dan model.
3. Tahap kulmunasi dilakukan dengan:
1. Penyajian laporan (tertulius, oral, unjuk kerja, produk).
2. Penilaian meliputi proses dan produk dengan menggunakan prosedur formal dan informal dengan tekanan pada penilaian produk.
Model ini merupakan pembelajaran terpadu yang menggunakan pendekatan antar bidang studi, yaitu dengan cara menggabungakan bidang
studi dengan cara menetapkan prioritas kurikuler dan menemukan keterampilan, konsep dan sikap yang saling tumpang tindih didalam
beberapa bidang studi.

BAGAN
Integrated (terpadu)
Matematika IPS
-Membandingkan -Penggunaan peta
volume 2 bejana -Transfortasi
- Mengurutkan 3 atau Penerapan / masa lampau
lebih bejana berisi percobaan
air berdasarkan
volumenya
Pemecahan masalah AIR Keterampilan
-membaca wacana -Percobaan
dengan intonasi yang untuk menunjukan
benar Pelaporan bahwa air
-menceritakan isi mempunyai
wacana tekanan
- menyimpulkan isi
wacana

Bahasa Indonesia IPA


Adapun kekuatan dan kelemahan model integreted yaitu:
Kekuatan :
1. Memudahkan siswa untuk mengarahkan keterkaitan dan keterhubungan diantara berbagai bidang studi.
2. Memungkinkan pemahaman antar bidang studi dan memberikan penghargaan terhadap pengetahuan dan keahlian.
3. Mampu membangun motivasi.

Kelemahan:
1. Sulit diterapkan secara penuh.
2. Menuntut keterampilan guru dalam percaya diri dan penguasaan konsep sikap juga keterampilannya.
3. Menghendaki tim antar bidang studi yang kadang-kadang sulit dilakukan baik dalam perencanaan maupun pelaksanaan.
4. Mengintegrasikan kurikulum dengan konsep-konsep dari masing-masing disiplin menuntut komitmen terhadap berbagai sumber.

Model Pembelajaran IPS Terpadu


Bagi siswa Sekolah Dasar (SD), belajar akan lebih bermakna jika apa yang dipelajari berkaitan dengan pengalaman hidupnya sehingga
mereka dapat memandang suatu objek yang ada dl lingkungannya segera.
Pemahaman seperti ini maka pendekatan yang digunakan dalam proses belajar adalah pendekatan kurikulum terpadu dimana berbagai
materi akan dipadukan menjadi sajian materi yang kemudian akan diberikan kepada siswa.
Pembelajaran terpadu merupakan paket pengajaran yang menghubungkan berbagai konsep dari beberapa disiplin ilmu. Metode
pembelajaran terpadu berorientasi pada keaktifan siswa, pengetahuan awal siswa sangat membantu dalam memahami konsep dan
keberhasilan belajar.
Berdasarkan pengamatan dalam mengamati proses pembelajaran di SD, guru masih berorientasi pada siswa yang dijadikan objek bukan
sebagai subjek dalam pembelajaran. Sehingga guru dalam proses ini mendominasi aktivitas belajar sedangkan siswa hanya menerima
informasi dari guru secara pasif.
Keterlibatan siswa dalam proses belajar hanya sekadar mendengarkan dan bertanya apabila tulisarn atau suara guru kurang terdengar,
tanpa dapat dengan aktif ikut mengembangkan materi yang didapatnya di sekolah dan menghubungkan materi tersebut dengan kejadian
yang dialami sehari- hari.
Hal ini seringkali terjadi pada proses pembelajaran materi Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Guru mengajarkan materi dengan metode yang
monoton, tanpa alat peraga, dan berkesan sangat membosankan sehingga siswa tidak tertarik untuk memperhatikannya. Terlebih lagi siswa
terbiasa dengan pandangan bahwa materi dalam pelajaran IPS harus dihafalkan di luar kepala.
Dalam Kurikulum Pendidikan Dasar tahun 2006 dicanangkan fungsi dan tujuan ilmu sosial antara lain mengembangkan nilai dan sikap serta
keterampilan sosial siswa untuk dapat menelaah kehidupan sosial yang dihadapi sehari-hari serta menumbuhkan rasa bangga dan cinta
terhadap perkembangan masyarakat Indonesia sejak masa lalu hingga masa kini.
Berdasarkan fungsi dan tujuan di atas pembelajaran IPS sebaiknya dimulai dari lingkungan terdekat yang ada di sekitar siswa, mulai dari
dirinya sendiri, keluarga, tetangga, lingkungan sekolah, masyarakat setempat kehidupan bernegara sampai menjadi bagian dari dunia.
Tentunya dengan materi yang disesuaikan dengan dunia anak yang memandang dirinya sebagai pusat lingkungan yang merupakan suatu
keseluruhan dengan pemaknaan secara holistik yang berangkat dari hal yang bersifat konkrit.
Untuk itu guru harus kreatif dalam mendesain metode pembelajaran yang disenangi dan bermakna bagi siswa sehingga siswa dapat
menghubungkan konsep yang dipelajarinya dengan dunia anak dalam kehidupannya sehari-hari. Dengan demikian diharapkan siswa dapat
lebih mudah memahami materi yang diberikan.
Model pembelajaran terpadu sebagai suatu konsep dapat dikatakan sebagai pendekatan belajar mengajar yang melibatkan beberapa mata
pelajaran memberikan pengalaman yang bermakna kepada siswa. Dalam pembelajaran terpadu siswa akan memahami konsep-konsep
yang mereka pelajari melalui pengalaman langsung dan menghubungkannya dengan konsep lain yang sudah mereka pahami.
Pelaksanaan pendekatan pembelajaran terpadu bertolak dari suatu topik atau tema yang dipilih dan dikembangkan bersama oleh guru dan
siswanya. Tujuan dari tema ini bukan untuk literasi mata pelajaran akan tetapi sebagai konsep-konsep dari mata pelajaran terkait dan
dijadikan sebagai alat dan wahana untuk mempelajari dan mempelajari materi tertentu.
Menurut Fogarty (1991) pembelajaran terpadu dibedakan atas tiga model yaitu (1) model dalam satu disiplin ilmu yang meliputi tipe
Connected dan Nested, (2) model antar bidang studi yang meliputi tipe Sequenced, Shared, Webbed, Threaded, dan Integrated, (3) model
dalam lintas bidang studi yang meliputi tipe Immersed dan Networked. Metode pembelajaran terpadu memiliki ciri seperti (1) berpusat pada
anak, (2) memberikan pengalaman langsung pada anak, (3) pemisahan antar bidang studi tidak begitu jelas, (4) menyajikan konsep dari

berbagai bidang studi dalam satu proses pembelajaran, (5) hasil pembelajaran dapat berkembang sesuai minat dan kebutuhan anak.
Berdasarkan pemahaman tersebut, metode pembelajaran terpadu menjadi suatu pilihan terbaik dalam memberikan materi pembelajaran
bagi siswa ditingkat SD. Penggunaan metode ini pada tingkat SD membantu siswa membiasakan diri untuk melihat, menanggapi, dan
memecahkan masalah yang dihadapinya secara komprehensif.
Pembelajaran ini dapat dilaksanakan dalam intra mata pelajaran maupun antar mata pelajaran. Perlu suatu penelitian yang dilakukan dalam
bentuk kaji tindakan kelas (action research) bertujuan untuk memperbaiki kegiatan belajar mengajar di kelas dan mengembangkan
pembelajaran terpadu model gabungan dalam pembelajaran IPS di SD dan aktivitas belajar siswa.

Proses Pembelajaran IPS di SD


Pembelajaran menurut Resnik yang dikutip oleh Martorella 1991, dijelaskan sebagai berikut : Pembelajaran tidak dapat diartikan secara
sederhana sebagai alih informasi pengetahuan dan ketrampilan ke dalam benak siswa. Pembelajaran yang efektif seyogyanya membantu
siswa menempatkan diri dalam situasi di mana mereka mampu melakukarn konstruksi-konstruksi pemikirannya dalam situasi wajar, alami,
dan mampu mengekpresikan dirinya secara tepat apa yang mereka rasakan dan mampu melaksanakannya.
Hal tersebut mengandung pengertian bahwa pembelajaran selain harus mampu memotivasi siswa untuk aktif, kreatif dan inovatif, juga hams
disesuaikan dengan tingkat perkembangan siswa itu sendiri. Oleh karena itu dalam kurikulum pendidikan IPS sekolah dasar tahun 1994 butir
9 tentang hal-hal yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan GBPP (Depdikbud, 1993) dijelaskan bahwa dalam melaksanakan kegiatan
pembelajaran guru hendaknya menerapkan prinsip belajar aktif, yakni pembelajaran yang melibatkan siswa secara fisik, mental (pemikiran,
perasaan dan sikap sosial) serta sesuai dengan tingkat perkembangan anak.
Kenyataan di lapangan menunjukkan hal yang berbeda dengan konsep di atas, sehingga Sunal tahun 1990 menyimpulkan bahwa bukubuku teks IPS yang telah ditulis oleh para ahli, tidak menyajikan proses pembelajaran IPS yang dituntut oleh apa yang seharusnya dilakukan
guru dan apa yang diinginkan siswa. Menurut Schug, Todd dan Beery, siswa menghendaki pembelajaran yang bersifat: group projects, field
trips, independent work, less reading, discussions, clear examples, students planning, and challenging, learning experiences. Class
activities, role playing; and stimulation. Proses pembelajaran IPS di sekolah dasar selama ini lebih ditekankan kepada penguasaan
bahan/materi pelajaran sebanyak mungkin, sehingga suasana belajar bersifat kaku, dan terpusat pada satu arah serta tidak memberikan
kesempatan bagi siswa untuk belajar lebih aktif. Budaya belajar lebih ditandai oleh budaya hafalan dari pada budaya berfikir, akibatnya
siswa menganggap bahwa pelajaran IPS adalah pelajaran hapalan saja.
Proses pembelajaran IPS di Sekolah Dasar terutama di kelas VI, tampak semakin kuat pengaruh untuk mempersiapkan siswa supaya
berhasil dalam Ujian Nasional (UN) dengan mendapatkan skor yang tinggi. Kondisi itu tidak hanya tampak pada perilaku siswa, akan tetapi
terutama pada guru dan kebijakan pimpinan sekolah, serta harapan orang tua. Akibatnya proses pembelajaran ditekankan kepada
penguasaan bahan sebanyak-banyaknya, sehingga penggunaan metode ceramah lebih banyak dilakukan dan dipandang lebih efektif untuk
mencapai tujuan tersebut, sedangkan penggunaan metode inkuiri yang dipandang sebagai inovasi dalam pembelajaran IPS terutama di
Sekolah Dasar belum banyak dimasyarakatkan.
Menurut catatan penulis ada beberapa hambatan, mengapa sampai saat ini inovasi dalam pembelajaran IPS belum dapat dilaksanakan
dengan baik. Hambatan-hambatan tersebut antara lain, adalah: 1) Hambatan keahlian dan akademik, 2) Hambatan fasilitas pendidikan, 3)
Hambatan mutu buku pendidikan, dan 4) Hambatan administrasi dan manajemen.
Oleh karena itu, walaupun penggunaan model pembelajaran terpadu dipandang sebagi salah satu inovasi dalam pembelajaran IPS, akan
tetapi guru tetap saja belum dapat melaksanakannya secara optimal.
Adapun keuntungan penggunaan model pembelajaran terpadu dalam pembelajaran IPS khususnya di sekolah dasar menurut Tim

Pengembang PGSD (1996) adalah : (a) Pengalaman dan kegiatan belajar anak akan selalu relevan dengan tingkat perkembangan anak, (b)
Kegiatan yang dipilih sesuai dan bertolak dari minat dan kebutuhan anak, (c) Seluruh kegiatan belajar lebih bermakna bagi anak, sehingga
hasil belajar akan dapat bertahan lebih lama, (d) Menumbuh kembangkan ketrampilan berfikir anak, (e) Menyajikan kegiatan bersifat
pragmatis sesuai dengan permasalahan yang sering ditemui dalam lingkungan anak, (f) Menumbuh kembangkan ketrampilan sosial anak
seperti, kerja sama, toleransi, komunikasi, dan respek terhadap gagasan orang lain. Pendapat di atas mengindikasikan bahwa penggunaan
model pembelajaran terpadu selain sesuai karakteristik siswa sekolah dasar, juga sesuai dengan jati diri IPS dan peranan guru dalam
proses pembelajaran.

Tujuan Pembelajaran terpadu


Pembelajaran terpadu dikembangkan selain untuk mencapai tujuan
pembelajaran yang telah ditetapkan, diharapkan siswa juga dapat:
1.meningkatkan pemahaman konsep yang dipelajarinya secara lebih bermakna.
2.mengembangkan ketrampilan menemukan, mengolah dan memanfaatkan informasi.
3.menumbuhkembangkan sifat positif, kebiasaan baik dan nilai nilai luhur yang diperlukan dalam kehidupan
4.menumbuhkembangkan ketrampilan sosial seperti kerjasama, toleransi, komunikasi, serta menghargai pendapat orang lain.
5.meningkatkan gairah dalam belajar.

http://el-shalih.blogspot.co.id/2010/03/konsep-dasar-pembelajaran-terpadu.html

Model Pembelajaran Tematik Pada Kelas Awal SD/MI


10:49 PM Diposkan oleh Sahrotul Fitria
P
eserta didik yang berada pada sekolah dasar kelas satu, dua dan tiga berada pada
rentangan usia dini. Pada usia tersebut seluruh aspek perkembangan kecerdasan
IQ, EQ dan SQ tumbuh dan berkembang sangat luar biasa. Pada umumnya tingkat
perkembangan masih melihat segala sesuatu sebagai satu keutuhan (holistik) serta
mampu memahami hubungan antara konsep secara sederhana. Proses
pembelajaran masih bergantung kepada objek-objek konkrit dan pengalaman yang
dialami secara langsung.

Saat ini pelaksanaan kegiatan pembelajaran di SD kelas I III untuk setiap mata
pelajaran dilakukan secara terpisah, misalnya IPA 2 jam pelajaran, IPS 2 jam
pelajaran dan bahasa Indonesia 2 jam pelajaran. Dalam pelaksanaan kegiatannya
dilakukan secara murni mata pelajaran yaitu hanya mempelajari standar
kompetensi dan kompetensi dasar yang berhubungan dengan mata pelajaran itu.
sesuai dengan tahapan perkembangan anak masih melihat segala sesuatu sebagai
suatu keutuhan (holistik), pembelajaran yang menyajikan mata pelajaran secara
terpisah akan menyebabkan kurang mengembangkan anak untuk berpikir holistik
dan membuat kesulitan bagi peserta didik.
Selain itu dengan pelaksanaan pembelajaran yang terpisah, muncul permasalahan
pada kelas awal (I III) antara lain adalah tingginya angka mengulang kelas dan
putus sekolah. Angka mengulang kelas dan putus sekolah peserta didik kelas I SD
jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kelas yang lain. Data tahun 1999/2000
memperlihatkan bahwa angka mengulang kelas I sebesar 11,6% sementara pada
kelas II 7,51%, kelas III 6,13%, kelas IV 4,64%, kelas V 3,1% dan kelas VI 0,37%.
Pada tahun yang sama angka putus sekolah kelas I sebesar 4,22%, masih jauh lebih
tinggi jika dibandingkan dengan kelas II 0,83%, kelas III 2,27%, kelas IV 2,71%, kelas
V 3,79% dan kelas VI 1,78%.
Angka nasional tersebut semakin memprihatinkan jika dilihat dari data dimasingmasing propinsi terutama yang hanya memiliki sedikit Taman Kanak-Kanak. Hal itu
terjadi terutama di daerah terpencil. Pada saat ini hanya sedikit peserta didik kelas I
SD yang mengikuti pendidikan prasekolah sebelumnya. Tahun 1999/2000 tercatat
hanya 12,61 atau 1.583.467 peserta didik usia 4-6 tahun yang masuk Taman KanakKanak, dan kurang dari 5% peserta didik berada pada pendidikan prasekolah lain.
Permasalahan tersebut menunjukkan bahwa kesiapan sekolah sebagian besar
peserta didik kelas awal sekolah dasar di Indonesia cukup rendah. Sementara itu

hasil penelitian menunjukkan bahwa peserta didik yang telah masuk Taman KanakKanak memiliki kesiapan bersekolah lebih baik dibandingkan dengan peserta didik
yang tidak mengikuti pendidikan Taman Kanak-Kanak. Selain itu perbedaan
pendekatan, model dan prinsip-prinsip pembelajaran antara kelas I dan II SD
dengan pendidikan prasekolah dapat juga menyebabkan peserta didik yang telah
mengikuti pendidikan prasekolah pun dapat saja mengulang kelas atau bahkan
putus sekolah.
Atas dasar pemikiran di atas dan dalam rangka implementasi standar isi yang
termuat dalam Standar Nasional Pendidikan, maka pembelajaran pada kelas I, II
dan III lebih sesuai jika dikelola dalam pembelajaran terpadu melalui pendekatan
pembelajaran tematik. Untuk memberikan gambaran tentang pembelajaran tematik
yang dapat menjadi acuan dan contoh konkret, disiapkan model pelaksanaan
pembelajaran tematik untuk SD/MI kelas I hingga kelas III.
A. Pengertian Pembelajaran Tematik
Sesuai dengan tahapan perkembangan anak, karakteristi cara anak belajar, konsep
belajar dan pembelajaran bermakna, maka kegiatan pembelajaran bagi anak kelas
awal SD sebaiknya dilakukan dengan pembelajaran tematik. Pembelajaran tematik
adalah pembelajaran terpadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan
beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna
kepada siswa. Tema adalah pokok pikiran atau gagasan pokok yang menjadi pokok
pembicaraan (Poerwadarminta, 1983). Dengan tema diharapkan akan memberikan
banyak keuntungan, di antaranya:
1. Siswa mudah memusatkan perhatian pada suatu tema tertentu.
2. Siswa mampu mempelajari pengetahuan dan mengembangkan berbagai
kompetensi dasar antar mata pelajaran dalam tema yang sama.
3. Pemahaman terhadap materi pelajaran lebih mendalam dan berkesan.
4. Kompetensi dasar dapat dikembangkan lebih baik dengan mengaitkan mata
pelajaran lain dengan pengalaman pribadi siswa.
5. Siswa mampu lebih merasakan manfaat dan makna belajar karena materi
disajikan dalam konteks tema yang jelas.
6. Siswa lebih bergairah belajar karena dapat berkomunikasi dalam situasi nyata,
untuk mengembangkan suatu kemampuan dalam satu mata pelajaran sekaligus
mempelajari mata pelajaran lain.
7. Guru dapat menghemat waktu karena mata pelajaran yang disajikan secara
tematik dapat dipersiapkan sekaligus dan diberikan dalam dua atau tiga
pertemuan, waktu selebihnya dapat digunakan untuk kegiatan remidial,
pemantapan atau pengayaan.
B. Tujuan
Tujuan penyusunan dokumen model pengembangan silabus tematik pada kelas
awal Sekolah Dasar adalah sebagai berikut:
1. Memberikan pengetahuan dan wawasan tentang pembelajaran tematik.

2. Memberikan pemahaman kepada guru tentang pembelajaran tematik yang


sesuai dengan perkembangan peserta didik kelas awal Sekolah Dasar.
3. Memberikan ketrampilan kepada guru dalam menyususn perencanaan,
melaksanakan dan melakukan penilaian dalam pembelajaran tematik.
4. Memberikan wawasan, pengetahuan dan pemahaman bagi pihak terkait,
sehingga diharapkan dapat memberikan dukungan terhadap kelancaran
pelaksanaan pembelajaran tematik.
C. Ruang Lingkup
Ruang lingkup pengembangan pembelajaran tematik meliputi seluruh mata
pelajaran pada kelas I III Sekolah Dasar, yaitu Pendidikan Agama, Bahasa
Indonesia, Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam, Pendidikan Kewarganegaraan, Ilmu
Pengetahuan Sosial, Seni Budaya dan Ketrampilan, serta Pendidikan Jasmani, Olah
Raga dan Kesehatan.
D. Karakteristik Perkembangan Anak Usia Kelas Awal SD
Anak yang berada di kelas awal SD adalah anak yang berada pada rentangan usia
dini. Masa usia dini ini merupakan masa yang pendek tetapi merupakan masa yang
sangat penting bagi kehidupan seseorang. Oleh karena itu, pada masa ini seluruh
potensi yang dimiliki anak perlu didorong sehingga akan berkembang secara
optimal.
Karakteristik perkembangan anak pada kelas I, II dan III SD biasanya pertumbuhan
fisiknya telah mencapai kematangan, mereka telah mampu mengontrol tubuh dan
keseimbangannya. Mereka telah dapat melompat dengan kaki secara bergantian,
dapat menangkap bola, dapat mengendarai sepeda roda dua dan telah berkembang
koordinasi tangan dan mata untuk dapat memegang pensil maupun memegang
gunting. Selain itu, perkembangan sosial anak yang berada pada usia kelas awal SD
antara lain mereka telah dapat menunjukkan kelakuannya tentang jenis
kelaminnya, mulai berkopetisi dengan teman sebaya, mempunyai sahabat, mampu
berbagi dan mandiri.
Perkembangan emosi anak usia 6 8 tahun antara lain anak telah dapat
mengekspresikan reaksi terhadap orang lain, telah dapat mengontrol emosi, sudah
mampu berpisah dengan orang tua dan telah mulai belajar tentang benar dan
salah. Untuk perkembangan kecerdasannya anak usia kelas awal SD ditunjukkan
dengan kemampuannya dalam melakukan seriasi, mengelompokkan obyek,
berminat terhadap angka dan tulisan, meningkatkan perbendaharaan kata, senang
berbicara, memahami sebab akibat dan berkembangnya pemahaman terhadap
ruang dan waktu.
E. Cara Anak Belajar
Piaget (1950) menyatakan bahwa setiap anak memiliki cara tersendiri dalam
mengintepretasikan dan beradaptasi dengan lingkngannya (teori perkembangan
kognitif). Menurutnya, setiap anak memiliki struktur kognitif yang disebut schemata,
yaitu sistem konsep yang ada dalam pikiran sebagai hasil pemahaman terhadap
objek yang ada dalam lingkungannya. Pemahaman tentang objek tersebut

berlangsung melalui proses asimilasi (menghubungkan objek dengan konsep yang


sudah ada dalam pikiran) dan akomodasi (proses memanfaatkan konsep-konsep
dalam pikiran untuk menafsirkan objek). Kedua proses tersebut jika berlangsung
terus menerus akan membuat pengetahuan baru menjadi seimbang. Dengan cara
seperti itu secara bertahap anak dapat membangun pengetahuan melalui interaksi
dengan lingkungannya. Berdasarkan hal tersebut, maka perilaku belajar anak
sangat dipengaruhi oleh aspek-aspek dari dalam dirinya dan lingkunngannya. Kedua
hal tersebut tidak mungkin dipisahkan karena memang proses belajar terjadi dalam
konteks interaksi diri anak dengan lingkungannya.
Anak usia sekolah dasar berada pada tahapan operasi konkret. Pada rentang usia
tersebut anak mulai menunjukkan perilaku balajar sebagai berikut: (1) mulai
memandang dunia secara objektif, bergeser dari satu aspek situasi ke aspek situasi
lain secara reflektif dan memandang unsur-unsur secara serentak, (2) mulai berfikir
secar operasional, (3) mempergunakan cara berpikir operasional untuk
mengklasifikasikan benda-benda, (4) membentuk dan mempergunakan
keterhubungan aturan-aturan, prinsip ilmiah sederhana dan mempergunakan
hubungan sebab akibat, (5) memahami konsep substansi, volume zat cair, panjang,
lebar, luas dan berat.
Memperhatiakan tahapan perkembanngan berpikir tersebut, kecenderungan belajar
anak usia sekolah dasar memiliki tiga ciri, yaitu:
1. Konkrit. Konkrit mengandung makna proses belajar beranjak dari hal-hal yang
konkrit yakni yang dapat dilihat, didengar, dibaui, diraba dan diotak-atik, dengan
titik penekanan pada pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar.
Pemanfaatan lingkungan akan menghasilkan proses dan hasil belajar yang lebih
bermakna dan bernilai, sebab siswa dihadapkan dengan peristiwa dan keadaan
yang sebenarnya, keadaan yang alami, sehingga lebih nyata, lebih faktual, lebih
bermakna dan kebenarannya lebih dapat dipertanggungjawabkan.
2. Integratif. Pada tahap usia sekolah dasar anak memandang sesuatu yang
dipelajari sebagai suatu keutuhan, mereka belum mampu memilah-milah konsep
dari berbagai disiplin ilmu, hal ini melukiskan cara berpikir anak yang deduktif yakni
dari hal umum ke bagian khusus.
3. Hierarkis. Pada tahapan usia sekolah dasar, cara anak belajar berkembang
secara bertahap mulai dari hal-hal yang sederhana ke yang lebih kompleks.
Sehubungan dengan hal tersebut, maka perlu diperhatikan mengenai urutan logis,
keterkaitan antar materi dan cakupan keluasaan serta kedalaman materi.
F. Belajar dan Pembelajaran Bermakna
Belajar pada hakekatnya merupakan proses perubahan di dalam kepribadian yang
berupa kecakapan, sikap, kebiasaan dan kepandaian. Perubahan ini bersifat
menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau
pengalaman. Pembelajaran pada hakekatnya adalah suatu proses interaksi antar
anak dengan anak, anak dengan sumber belajar dan anak dengan pendidik.
Kegiatan pembelajaran ini akan menjadi bermakna bagi anak jika dilakukan dalam

lingkungan yang nyaman dan memberikan rasa aman bagi anak. Prose belajar
terjadi dalam diri individu sesuai dengan perkembangan dan lingkungannya.
Belajar bermakna (meaningful learning) merupakan suatu proses dikaitkannya
informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif
seseorang. Kebermaknaan belajar sebagai hasil dari peristiwa mengajar ditandai
oleh terjadinya hubungan antara aspek-aspek, konsep-konsep, informasi atau
situasi baru dengan komponen-komponen yang relevan di dalam struktur kognitif
siswa. Proses belajar tidak sekedar menghafal konsep-konsep atau fakta-fakta
belaka, tetapi merupakan kegiatan menghubungkan konsep-konsep untuk
menghasilakan pemahaman yang utuh, sehingga konsep yang dipelajari akan
dipahami secara baik dan tidak mudah dilupakan. Dengan demikian, agar terjadi
belajar bermakna maka guru harus selalu berusaha mengetahui dan menggali
konsep-konsep yang telah dimiliki siswa dan membantu memadukannya secara
harmonis konsep-konsep tersebut dengan pengetahuan baru yang akan diajarkan.
Dengan kata lain belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami langsung apa
yang dipelajarinya dengan mengaktifkan lebih banyak indera dari pada hanya
mendengarkan orang/guru menjelaskan.
G. Landasan Pembelajaran Tematik
Landasan pembelajaran tematik mencakup:
1. Landasan filosofis dalam pembelajaran tematik sangat dipengaruhi oleh tiga
aliran filsafat yaitu:
a. Aliran progresivisme, memandang proses pembelajaran perlu ditekankan pada
pembentukan kreatifitas, pemberian sejumlah kegiatan, suasana yang alamiah
(natural) dan memperhatikan pengalaman siswa.
b. Aliran konstruktivisme, melihat pengalaman langsung siswa (direct
experiences) sebagai kunci dalam pembelajaran. Menurut aliran ini, pengetahuan
adalah hasil konstruksi atau bentukan manusia. Manusia mengkonstruksi
pengetahuannya melalui interaksi dengan obyek, fenomena, pengalaman dan
lingkungannya. Pengetahuan tidak dapat ditransfer begitu saja dari seorang guru
kepada anak, tetapi harus diintrepetasikan sendiri oleh masing-masing siswa.
Pengetahuan bukan sesuatu yang sudah jadi, melainkan suatu proses yang
berkembang terus menerus. Keaktifan siswa yang diwujudkan oleh rasa ingin
tahunya sangat berperan dalam perkembangan pengetahuannya.
c. Aliran humanisme, melihat siswa dari segi keunikan kekhasannya, potensinya
dan motivasi yang dimilikinya.
2. Landasan psikologis dalam pembelajaran tematik terutama berkaitan dengan
psikologi perkembangan peserta didik dan psikologi belajar. Psikologi
perkembanngan diperlukan terutama dalam menentukan isi/materi pembelajaran
tematik yang diberikan kepada siswa agar tingkat keluasaan dan kedalamannya
sesuai dengan tahap perkembangan peserta didik. Psikologi belajar memberikan
kontribusi dalam hal bagaimana isi/materi pembelajaran tematik tersebut
disampaikan kepada siswa dan bagaimana pula siswa harus mempelajarinya.

3. Landasan yuridis dalam pembelajaran tematik berkaitan dengan berbagai


kebijakan atau peraturan yang mendukung pelaksanaan pembelajaran tematik di
sekolah dasar. Landasan yuridis tersebut adalah UU, No. 23 Tahun 2002 tentang
perlindungan anak yang menyatakan bahwa setiap anak berhak memperoleh
pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat
kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakatnya (pasal 9). UU No. 20 Tahun 2003
tentang sistem pendidikan nasional menyatakan bahwa setiap peserta didik pada
setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai
dengan bakat, minat dan kemampuannya (Bab V Pasal 1-b).
H. Arti Penting Pembelajaran Tematik
Pembelajaran tematik lebih menekankan pada ketertiban siswa dalam proses
belajar secara aktif dalam proses belajar secara aktif dalam proses pembelajaran,
sehingga siswa dapat memperoleh pengalaman langsung dan terlatih untuk dapat
menemukan sendiri berbagai pengetahuan yang dipelajarinya. Melalui pengalaman
langsung siswa akan memahami konsep-konsep yang mereka pelajari dan
menghubungkannya dengan konsep lain yang telah dipahaminya. Teori
pembelajaran ini dimotori oleh para tokoh psikologi Gestalt, termasuk Piaget yang
menekankan bahwa pembelajaran haruslah bermakna dan berorientasi pada
kebutuhan dan perkembangan anak.
Pembelajaran tematik lebih menekankan pada penerapan konsep belajar sambil
melakukan sesuatu (learning by doing). Oleh karena itu, guru perlu mengemas atau
merancang pengalaman belajar yang akan mempengaruhi kebermaknaan belajar
siswa. Pengalaman belajar yang menunjukkan kaitan unsur-unsur konseptual
menjadikan proses pembelajaran lebih efektif. Kaitan konseptual antar mata
pelajaran yang dipelajari akan membentuk skema, sehingga siswa akan
memperoleh keutuhan dan kebulatan pengetahuan. Selain itu, dengan penerapan
pembelajaran tematik di sekolah dasar akan sangat membantu siswa, karena sesuai
dengan tahap perkembangannya siswa yang masih melihat segala sesuatu sebagai
satu keutuhan (holistik).
Beberapa ciri khas dari pembelajaran tematik antara lain:
1. Pengalaman dan kegiatan belajar sangat relevan dengan tingkat
perkembangan dan kebutuhan anak usia sekolah dasar.
2. Kegiatan-kegiatan yang dipilih dalam pelaksanaan pembelajaran tematik
bertolak dari minat dan kebutuhan siswa.
3. Kegiatan belajar akan lebih bermakna dan berkesan bagi siswa sehingga hasil
belajar dapat bertahan lebih lama.
4. Membantu mengembangkan ketrampilan berpikir siswa.
5. Menyajikan kegiatan belajar yang bersifat pragmatis sesuai dengan
permasalahan yang sering ditemui siswa dalam lingkungannya.
6. Mengembangkan ketrampilan sosial siswa, seperti kerjasama, toleransi,
komunikasi dan tanggap terhadap gagasan orang lain.
Pelaksanaan pembelajaran dengan memanfaatkan tematik ini akan diperoleh
beberapa manfaat, yaitu:

1. Dengan menggabungkan beberapa kompetensi dasar dan indikator serta isi


mata pelajaran akan terjadi penghematan, karena tumpang tindih meteri dapat
dikurangi bahkan dihilangkan.
2. Siswa mampu melihat hubungan-hubungan yang bermakna sebab isi/materi
pembelajaran lebih berperan sebagai sarana atau alat, bukan tujuan tujuan akhir.
3. Pembelajaran menjadi utuh sehingga siswa akan mendapat pengertian
mengenai proses dan materi yang tidak terpecah-pecah.
4. Dengan adanya pemaduan antar mata pelajaran maka penguasaan konsep
akan semakin baik dan meningkat.
I.
Karakteristik Pembelajaran Tematik
Sebagai suatu model pembelajaran di sekolah dasar, pembelajaran tematik
memiliki karakteristi-karakteristik sebagai berikut:
1. Berpusat pada siswa
Pembelajaran tematik berpusat pada siswa (student centered), hal ini sesuai
dengan pendekatan belajar modern yang lebih banyak menempatkan siswa sebagai
subyek belajar sedangkan guru lebih banyak berperan sebagai fasilitator yaitu
memberikan kemudahan-kemudahan kepada siswa untuk melakukan aktivitas
belajar.
2. Memberikan pengalaman langsung.
Pembelajaran tematik dapat memberikan pengalaman langsung pada siswa (direct
experiences). Dengan pengalaman langsung ini, siswa dihadapkan pada sesuatu
yang nyata (konkrit) sebagai dasar untuk memahami, hal-hal yang lebih abstrak.
3. Pemisahan mata pelajaran, tidak begitu jelas.
Dalam pembelajaran tematik pemisahan antar mata pelajaran menjadi tidak begitu
jelas. Fokus pembelajaran diarahkan kepada pembahasan tema-tema yang paling
dekat berkaitan dengan kehidupan siswa.
4. Menyajikan konsep dari berbagai mata pelajaran.
Pembelajaran tematik menyajikan konsep-konsep dari berbagai mata pelajaran
dalam suatu proses pembelajaran. Dengan demikian, siswa mampu memahami
konsep-konsep tersebut secara utuh. Hal ini diperlukan untuk membantu siswa
dalam memecahkan masalah-masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.
5. Bersifat fleksibel.
Pembelajaran tematik bersifat luwes (flesibel) dimana guru dapat mengaitkan
bahan ajar dari satu mata pelajaran dengan mata pelajaran yang lainnya, bahkan
mengaitkannya dengan kehidupan siswa dan keadaan lingkungan dimana sekolah
dan siswa berada.
6. Hasil pembelajaran sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa.
Siswa diberi kesempatan untuk mengoptimalkan potensi yang dimilikinnya sesuai
dengan minat dan kebutuhannya.
7. Menggunakan prinsip belajar sambil bermain dan menyenangkan.
J.
1.

Rambu-Rambu
Tidak semua mata pelajaran harus dipadukan.

2. Dimungkinkan terjadi penggabungan kompetensi dasar lintas semester.


3. Kompetensi dasar yang tidak dapat dipadukan, jangan dipaksakan untuk
dipadukan. Kompetensi dasar yang tidak diintegrasikan dibelajarkan secara
tersendiri.
4. Kompetensi dasar yang tidak tercakup pada tema tertentu harus tetap
diajarkan baik melalui tema lain maupun disajikan secara tersendiri.
5. Kegiatan pembelajaran ditekankan pada kemampuan membaca, menulis dan
berhitung serta penanaman nilai-nilai moral.
6. Tema-tema yang dipilih disesuaikan dengan karakteristik siswa, minat,
lingkungan dan daerah setempat.

An-Nida No. 9, edisi September 2008


http://kalidanastiti-space.blogspot.co.id/