Anda di halaman 1dari 19

PANITIA PEMILIHAN KEPALA DESA

DESA DANDER KECAMATAN DANDER


KABUPATEN BOJONEGORO

KEPUTUSAN
PANITIA PEMILIHAN KEPALA DESA
NOMOR : 01 TAHUN 2007
TENTANG
TATA TERTIB PEMILIHAN KEPALA DESA
Menimbang

bahwa dalam rangka mengatur tata cara pelaksanaan


pemilihan Kepala Desa Dander Kecamatan Dander,
Kabupaten

Bojonegoro,

maka

sebagai

dasar

pelaksanaannya perlu ditetapkan dalam suatu tata tertib


Pemilihan Kepala Desa.
Mengingat

1. Undang-Undang nomor 32 tahun 2004 tentang


Pemerintahan Daerah ;
2. Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 tentang
Desa ;
3. Peraturan Daerah Kabupaten Bojonegoro, Nomor 8
Tahun 2006 tentang Pemerintah Desa ;
4. Peraturan Bupati Bojonegoro, Nomor 28 tahun 2006
tentang Pedoman Pelaksanaan Peraturan Daerah
Kabupaten Bojonegoro Nomor 8 tahun 2006 tentang
Pemerintahan Desa ;
5. Keputusan

Bupati

188/27/KEP/412.11/2007

Bojonegoro
Tahun

2007

Nomor
tentang

Pengesahan Anggota Badan Permusyawaratan Desa


(BPD)

Dander

Kecamatan

Dander

Kabupaten

Bojonegoro Periode Tahun 2007 2013;


6. Peraturan Desa Dander Nomor 01 Tahun 2007 Tentang
Tata Cara Pencalonan, Pemilihan, Pengangkatan,
Pelantikan, Pemberhentian Kepala Desa dan Tata Cara
Pengangkatan Penjabat Kepala Desa

Memperhatikan

Hasil Musyawarah Panitia Pemilihan Kepala Desa Dander


pada hari ..... tanggal .... Juli 2007.
MEMUTUSKAN :

Menetapkan

: Keputusan Panitia Pemilihan Kepala Desa Dander tentang


Tata Tertib Pemilihan Kepala Desa Dander Kecamatan
Dander, Kabupaten Bojonegoro.
BAB I
HAK MEMILIH DAN DIPILIH
Pasal 1

Yang dapat memilih dalam pemilihan Kepala Desa adalah penduduk desa Warga
Negara Republik Indonesia yang :
a. Terdaftar sebagai penduduk desa yang bersangkutan secara sah paling singkat 6
(enam) bulan dengan tidak terputus-putus dan terdaftar dalam Daftar Pemilih
Tetap ;
b. Sudah berusia 17 (tujuh belas) tahun atau sudah pernah kawin ;
c. Tidak dicabut hak pilihnya berdasarkan keputusan pengadilan yang telah
mempunyai kekuatan hukum yang pasti.
d. Daftar pemilih ditetapkan oleh panitia dengan ditandatangani seluruh anggota
panitia dan diketahui oleh Penjabat Kepala Desa, Ketua BPD serta calon Kepala
Desa.

Pasal 2
(1) Yang dapat menjadi Kepala Desa adalah penduduk desa Warga Negara Republik
Indonesia, yang :
a. Bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa ;
b. Setia kepada Pancasila sebagai Dasar Negara, Undang-Undang dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945 dan kepada Negara Kesatuan Republik
Indonesia serta Pemerintah ;
c. Berpendidikan paling rendah tamat Sekolah Lanjutan tingkat Pertama dan
atau sederajat;

d. Berumur paling rendah 25 (dua puluh lima) tahun dan paling tinggi 60 (enam
puluh) tahun, terhitung mulai tanggal pendaftaran ditutup ;
e. Sehat jasmani dan rohani ;
f. Berkelakuan baik dibuktikan dengan surat keterangan Kepolisian ;
g. Tidak pernah dihukum penjara karena melakukan tindak pidana kejahatan
dengan hukuman paling singkat 5 ( lima ) tahun ;
h. Tidak dicabut hak pilihnya berdasarkan keputusan pengadilan yang telah
mempunyai kekuatan hukum yang pasti ;
i. Mengenal daerahnya dan dikenal oleh masyarakat di desa setempat ;
j. Bersedia dicalonkan menjadi Kepala Desa ;
k. Belum pernah menjabat sebagai Kepala Desa paling lama 10 (sepuluh) tahun
atau 2 (dua) kali masa jabatan ;
l. Penduduk desa setempat dan berdomisili di desa tersebut paling singkat 1
(satu) tahun dengan tidak terputus-putus.
(2) Pegawai Negeri yang mencalonkan sebagai Kepala Desa selain harus memenuhi
persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), juga harus memiliki surat
keterangan persetujuan dari atasannya yang berwenang untuk keperluan
dimaksud.
(3) Putra desa dapat mencalonkan diri sebagai Kepala Desa.
(4) Bagi calon Kepala Desa yang terpilih dan ditetapkan menjadi Kepala Desa,
terhitung mulai tanggal pelantikan sebagai Kepala Desa harus bertempat tinggal
di desa yang bersangkutan.

Pasal 3
(1) yang dimaksud belum pernah menjabat sebagai Kepala Desa paling lama 10
(sepuluh) tahun sebagaimana dimaksud Pasal 2 ayat (1) huruf k adalah Bakal
Calon Kepala Desa yang belum pernah menjabat sebagai Keala Desa selama 10
(sepuluh) tahun, pada saat yang bersangkutan mendaftarkan diri.
(2) Yang dimaksud belum pernah menjabat 2 (dua) kali masa jabatan sebagaimana
dimaksud Pasal 2 ayat (1) huruf k adalah bagi bakal Calon Kepala Desa yang
belum pernah menjabat 2 (dua) kali masa jabatan secara berturut-turut maupun
tidak, pada saat yang bersangkutan mendaftarkan diri.
(3) Bakal calon Kepala Desa yang pernah menjabat 2 (dua) kali masa jabatan secara
berturut-turut maupun tidak atau pernah menjabat 10 (sepuluh) tahun tidak
memenuhi syarat untuk mencalonkan atau dicalonkan dalam pemilihan Kepala
Desa.

Pasal 4
(1) Persyaratan penduduk desa setempat dan berdomisili di desa paling singkat 1
(satu) tahun dengan tidak terputus-putus, tidak diberlakukan bagi calon dari
putra desa.
(2) Calon dari putra desa apabila terpilih, paling lambat 1 (satu) bulan setelah
dilantik wajib berdomisili dan menetap di desa.

Pasal 5
Dalam pemilihan Kepala Desa, setiap penduduk desa yang telah ditetapkan sebagai
calon yang berhak dipilih atau memilih, wajib hadir dan tidak boleh diwakilkan
kepada siapapun dan dengan alasan apapun.

Pasal 6
Apabila Calon Kepala Desa yang berhak dipilih tidak dapat hadir karena sesuatu hal
yang sangat mendadak pada saat pemungutan suara, dapat digantikan dengan sebuah
foto berukuran 10 R, yang ditempatkan diatas tempat duduk calon yang
bersangkutan.

BAB II
PENDAFTARAN PEMILIH DAN BAKAL CALON KEPALA DESA
Bagian Kesatu
Pendaftaran Pemilih
Pasal 7
(1) Dalam pelaksanaan pendaftaran Pemilih, untuk menentukan penduduk yang
telah genap mencapai berusia 17 (tujuh belas) tahun, ditentukan dengan cara
menghitung mundur mulai tanggal pelaksanaan pemungutan suara yang telah
ditetapkan.
(2) Penentuan tangal lahir sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berdasarkan bukti
sah yang dimiliki seperti Akte Kelahiran atau Ijasah atau KTP atau SIM atau
Pasport atau keterangan lain yang dapat dipertanggungjawabkan keabsahannya
yang dikeluarkan instansi berwenang.
(3) Apabila terdapat bukti sah yang tanggal lahirnya berbeda, dipergunakan bukti
sah yang memiliki nilai waktu paling lama.
(4) Apabila terdapat pemilih yang tidak diketahui tanggal dan atau bulan
kelahirannya, ditentukan dengan cara menghitung mulai 31 Desember tahun
kelahiran yang bersangkutan.

(5) Apabila hanya diketahui bulan dan tahun kelahirannya, dihitung mulai tanggal
terakhir bulan kelahiran yang bersangkutan.

Pasal 8
(1) Paling lambat 7 (tujuh) hari sebelum dilaksanakan pendaftaran pemilih, Panitia
Pemilihan Kepala Desa memberitahukan / mengumumkan kepada masyarakat
jadwal waktu pendaftaran pemilih pada tempat-tempat umum, seperti Balai Desa
atau tempat lain yang mudah diketahui oleh masyarakat Desa, sesuai cara yang
lazim dilakukan masyarakat Desa setempat.
(2) Tenggang waktu tata cara pendaftaran pemilih ditentukan oleh Panitia Pemilihan
Kepala Desa.
(3) Setelah pelaksanaan pendaftaran pemilih, Panitia menyusun Daftar Pemilih
Sementara yang ditetapkan oleh Panitia dan diketahui oleh Kepala Desa atau
Penjabat Kepala Desa dan Ketua BPD, serta harus diumumkan kepada
masyarakat di tempat umum, seperti Balai Desa atau tempat lain yang mudah
diketahui oleh masyarakat selama 7 (tujuh) hari secara berturut-turut.
(4) Sejak Daftar Pemilih Sementara diumumkan jika terdapat penduduk yang
berhak memilih tetapi belum terdaftar, maka kepada yang bersangkutan
diberikan kesempatan mendaftarkan diri sampai dengan 7 (tujuh) hari setelah
berakhirnya pengumuman Daftar Pemilih Sementara, untuk dimasukkan dalam
Daftar Pemilih Tambahan.
(5) Daftar Pemilih Tambahan sebagaiamana dimaksud pada ayat (4) diumumkan
selama 3 (tiga) hari terhitung sejak Pendaftaran Pemilihan Tambahan ditutup.
(6) Setelah masa waktu pengumuman pemilih tambahan berakhir apabila terdapat
kesalahan penulisan nama atau belum tercatat dalam daftar pemilih atau terdapat
nama pemilih bukan penduduk desa setempat dalam Daftar Pemilih Sementara
dan Tambahan, maka diberikan kesempatan untuk melaporkan kepada Panitia
selama 3 (tiga) hari.
(7) Setelah laporan-laporan tersebut dilaksanakan oleh Panitia, maka Daftar Pemilih
Sementara dan tambahan ditetapkan menjadi Daftar Pemilih Tetap oleh Panitia
dan diketahui Kepala desa atau Penjabat Kepala Desa, Ketua BPD dan Calon
Kepala Desa.
(8) Daftar Pemilih Tetap diumumkan kepada masyarakat di tempat umum.

Bagian Kedua
Pendaftaran Bakal Calon Kepala Desa
Pasal 9

(1) Dalam pelaksanaan pendaftaran Bakal Calon Kepala Desa, untuk menentukan
usia telah genap berusia 25 (dua puluh lima) tahun, ditentukan dengan cara
menghitung mundur, pada saat pendaftaran ditutup.
(2) Untuk mengetahui pendaftar berusia tidak melebihi usia 60 (enam puluh)
ditentukan dengan cara menghitung mundur sejak yang bersangkutan
mendaftarkan diri.
(3) Penentuan tanggal lahir sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berdasarkan bukti
sah Ijasah dan atau Akte Kelahiran yang dimiliki yang bersangkutan.
(4) Apabila terdapat bukti sah yang tanggal lahirnya berbeda, dupergunakan bukti
sah yang memiliki nilai waktu paling lama.
(5) Apabila terdapat Bakal Calon Kepala Desa yang tidak diketahui tanggal dan
atau bulan kelahirannya, ditentukan dengan cara menghitung mulai 31
Desember tahun kelahiran yang bersangkutan.
(6) Apabila hanya diketahui bulan dan tahun kelahirannya, dihitung mulai tanggal
terakhir bulan kelahiran yang bersangkutan.

Pasal 10
(1) Pengumuman pendaftaran Bakal calon Kepala Desa diumumkan secara terbuka
oleh Panitia Pemilihan Kepala Desa di tempat-tempat umum yang mudah
diketahui oleh masyarakat Desa.
(2) Pengumuman pendaftaran Bakal Calon Kepala Desa sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dibuka selama 14 ( empat belas ) hari.
(3) Pelaksanaan pendaftaran Bakal Calon Kepala Desa dilaksanakan mulai pukul
08.00 WIB sampai dengan pukul 14.00 WIB,setiap hari, mulai hari Senin sampai
dengan hari Sabtu kecuali hari Jumat pukul 08.00 WIB sampai dengan pukul
11.00 WIB pertama hingga hari terakhir masa pengumuman pendaftaran Bakal
Calon Kepala Desa.
(4) Apabila sampai dengan berakhirnya masa pendaftaran Bakal Calon Kepala Desa
sebagaimana dimaksud ayat (2), belum diperoleh Bakal Calon Kepala Desa atau
hanya terdapat 1 (satu) Bakal Calon yang mendaftarkan diri, maka pendaftaran
ditutup dan dibuka pengumuman pendaftaran tahap II (kedua) dengan masa
waktu selama 7 (tujh) hari.
(5) Apabila setelah tenggang waktu pendaftaran yang kedua, ternyata belum
diperoleh Bakal Calon Kepala Desa atau hanya terdapat 1 (satu) Bakal Calon
yang mendaftarkan diri, maka pendaftaran ditutup dan dibuka pengumuman
pendaftaran tahap III (ketiga) selama 3 (tiga) hari.

Pasal 11
(1) Setelah berakhirnya pendaftaran Calon Kepala Desa tahap III (ketiga),
ditentukan sebagai beirikut :
a. Apabila tidak terdapat Bakal Calon yang mendaftarkan diri atau Bakal Calon
tidak memenuhi syarat, maka Panitia Pemilihan melaporkan kepada BPD
untuk selanjutnya dilaporkan kepada Bupati melalui Camat.
b. Apabila hanya terdapat 1 (satu) Bakal Calon Kepala Desa, maka dapat
dilaksanakan Pemilihan Kepala Desa dengan Calon Tunggal dan bumbung
kosong.
(2) Setiap tahapan pengumuman pendaftaran Bakal calon Kepala Desa berakhir,
diikuti dengan berita acara penutupan.

BAB III
PENJARINGAN, PENYARINGAN DAN
PENETAPAN CALON KEPALA DESA YANG BERHAK DIPILIH
Bagian Kesatu
Penjaringan
Pasal 12
(1) Panitia Pemilihan Kepala Desa membuka pendaftaran Bakal Calon Kepala Desa.
(2) Bersamaan dengan pelaksanaan pendaftaran sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) panitia pemilihan juga melakukan penjaringan Bakal Calon Kepala Desa.
(3) Penjaringan Bakal Calon Kepala Desa dilakukan oleh Panitia Pemilihan melalui
penelitian dan pemeriksaan berkas administrasi Bakal Calon Kepala Desa yang
telah mendaftarkan diri.
(4) Hasil penjaringan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) setelah dilengkapi
dengan persyaratan administrasi kemudian dilakukan penyaringan melalui
seleksi ujian tertulis untuk menetapkan Calon yang berhak dipilih.

Bagian Kedua
Penyaringan
Pasal 13
(1)

Dalam hal menetapkan Bakal Calon menjadi Calon Kepala Desa, Panitia
Pemilihan menyelenggarakan ujian tertulis meliputi materi :
a. Pengetahuan Agama ;
b. PPKN ;
c. Bahasa Indonesia ;
d. Berhitung ;
e. Pengetahuan Umum.

(2)

Materi ujian tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) distandartkan dengan
oendidikan setingkat SLTP.

(3)

Bakal Calon yang dinyatakan lulus seleksi ujian tertulis dalah calon yang
memperoleh nilai rata-rata 60 (enam puluh), dan nilai pengetahuan agama tidak
boleh kurang dari 60 (enam puluh).

(4)

Apabila terjadi, semua bakal calon tidak mencapai standart nilai kelulusan yang
ditetapkan sebagaimana dimaksud pada ayat (3), Panitia menurunkan standart
nilai kelulusan menjadi rata-rata 50 (lima puluh) termasuk nilai pengetahuan
agama.

(5)

Apabila tidak terdapat calon yang memperoleh nilai standart kelulusan rata-rata
50 (lima puluh) termasuk nilai pengetahuan agama sebagaimana dimaksud
pada ayat (4), maka Panitia mengumumkan tidak terdapatnya calon yang lulus
ujian serta membuka pendaftaran ulang Bakal Calon Kepala Desa paling lama
dengan tenggang waktu 1 (satu) bulan setelah pengumuman tersebut
diumumkan.

(6)

Tata tertib ujian tertulis dan tata cara pengumuman hasil penyaringan Bakal
Calon Kepala Desa diatur lebih lanjut dalam tata tertib yang ditetapkan oleh
Panitia.

Pasal 14
(1) dalam penyusunan soal dan koreksi hasil ujian tertulis, Panitia Pemilihan Kepala
Desa membentuk tim Khusus paling banyak 5 (lima) orang personil dari Panitia
yang dipandang mampu, dan ditetapkan dengan Keputusan Ketua Panitia.
(2) Pelaksanaan ujian yang meliputi tempat, tanggal, waktu dan tata tertib ujian
ditentukan dalam Keputusan Ketua Panitia serta dilaporkan kepada BPD untuk
disampaikan ke Bupati melalui Camat.

Bagian Ketiga
Penetapan
Pasal 15
(1) Bakal Calon Kepala Desa yang dinyatakan lulus dalam seleksi ujian tertulis
ditetapkan sebagai Calon Kepala Desa yang berhak dipilih oleh BPD atas usul
Panitia Pemilihan.
(2) Calon Kepala Desa yang berhak dipilih diumumkan kepada masyarakat di
tempat-tempat yang terbuka sesuai dengan kondisi sosial budaya masyarakat
setempat.
BAB IV
KAMPANYE CALON
Pasal 16
(1)

Calon Kepala Desa dapat melakukan kampanya sesuai dengan kondisi sosial
budaya masyarakat setempat.

(2)

Tata tertib kampanya ditetapkan oleh Panitia Pemilihan, yang memuat


ketentuan paling sedikit :
a. Waktu dan tempat ;
b. Materi dan naskah kampanya ;
c. Bentuk kampanye ;
d. Larangan-larangan dalam kampanye ;
e. Kesopanan ;
f. Keamanan.

(3)

Waktu dan tempat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a, hanya dapat
dilakukan pada siang hari dan tidak boleh menggunakan tempat ibadah dan
tempat pendidikan.

(4)

Biaya pelaksanan kampanye sebagimana dimaksud pada ayat (1) dibebankan


kepada calon masing-masing.

Pasal 17
(1) Tata cara kampanye dapat dilakukan dalam bentuk :
a. Rapat umum dan tatap muka ;
b. Pemasangan, penyebaran tanda gambar dan program masing-masing calon
Kepala Desa ;

c. Pemasangan spanduk, baliho, pamflet, leaflet dan lain-lain.


(2) Tata cara kampanye, pemasangan dan pembersihan alat peraga diatur lebih lanjut
dalam tata tertib yang ditentukan oleh Panitia.
(3) Naskah kampanye meupakan pemaparan program masing-masing Calon Kepala
Desa, dan harus diserahkan kepada Panitia Pemilihan Kepala Desa paling lambat
1 (satu) kali 24 (dua puluh empat) jam sebelum pelaksanaan kampanye dalam
bentuk Rapat terbuka.
(4) Panitia Pemilihan Kepala Desa harus melakukan penelitian terhadap naskah
kampanye Calon Kepala desa dan berhak untuk melakukan koreksi terhadap
naskah kampanye, tanda gambar, spanduk, baliho, pamflet dan lain-lain alat
perga kampanye yang dapat mengakibatkan terganggunya ketertiban dan
ketentraman umum.
(5) Dalam penyampaian kampanye secara terbuka dilarang menyimpang dari naskah
kampanye.

BAB V
PEMUNGUTAN SUARA
Pasal 18
(1) Setelah BPD menetapkan calon yang berhak dipilih sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 15 ayat (1), paling singkat 7 (tujuh) hari sebelum pemungutan suara
dilaksanakan, Panitia Pemilihan memberitahukan kepada masyarakat desa
tentang tempat dan waktu pelaksanan pemilihan Calon Kepala Desa.
(2) Pemberitahuan tentang pelaksanaan pemungutan suara pemilihan Calon Kepala
Desa sebagimana dimaksud ayat (1) dapat dilaksnakan dengan memasang
spanduk, atau dalam bentuk pengumuman terbuka sesuai dengan tata cara di
desa.
Pasal 19
Pemilihan Calon Kepala Desa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 dihadiri oleh
BPD, Panitia Pemilihan dan Calon yang berhak dipilih.

Pasal 20
Bentuk dan model surat suara, ditetapkan sebagi berikut :
a. Surat suara berwarna putih dengan tulisan hitam ;
b. Memuat nama desa, Kecamatan dan Kabupaten ;

c. Foto terbaru Calon Kepala Desa dengan mengenakan pakaian bebas, rapi dan
sopan berwarna atau hitam putih dengan ukuran disesuaikan jumlah Calon
Kepala Desa yang berhak dipilih.
d. Nomor urut ditentukan berdasarkan abjad nama Calon Kepala Desa berada diatas
foto calon, berurutan mulai nomor terkecil dari kiri ke kanan ;
e. Pada bagian atas sebelah kanan disediakan tempat untuk tanda tangan ketua
panitia Pemilihan Kepala Desa atau anggota Panitia yang mendapatkan mandat
dari ketua apabila ketua berhalangan ;
f. Ukuran kertas kartu suara ditentukan berdasarkan jumlah Calon Kepala Desa
yang akan dipilih.

Pasal 21
Penentuan tempat duduk Calon Kepala Desa didasarkan urutan nomor yang
tercantum dalam surat suara.

Pasal 22
(1) Pembuatan bilik tempat pemungutan suara, kotak suara dan alat pencoblos dan
alas alat pencoblos disiapkan Panitia Pemilihan Kepala Desa dengan bentuk dan
ukuran sebagaimana ditetapkan dalam Peraturan Bupati Bojonegoro Nomor 8
Tahun 2006 tentang Pemerintahan desa.
(2) Pengaturan lokasi bilik dan kotak suara diatur sedemikian rupa agar
memudahkan lalu lintas Pemilih dan pengawasan dari Petugas Panitia.

Pasal 23
(1) Pemilihan calon Kepala Desa dilakukan dengan mencoblos kertas suara yang
memuat foto calon yang berhak dipilih, yang dihadiri paling sedikit 2/3 (dua
pertiga) dari jumlah pemilih yang telah disahkan oleh panitia pemilihan.
(2) Apabila pada saat berakhirnya pemungutan suara quorum sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) belum tercapai, penghitungan suara dapat diundur paling
lama 3 (tiga) jam dengan ketentuan quorum (satu perdua) dari jumlah pemilih
yang telah disahkan oleh panitia pemilihan dan dimuat dalam Berita acara.
(3) Apabila sampai batas waktu pengunduran sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
quorum belum juga tercapai, proses pemilihan calon Kepala Desa diulang
dengan membuka kembali pendaftaran bakal calon paling singkat 3 (tiga) bulan.

(4) Apabila ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) telah dilaksanakan dan
quorum belum juga tercapai, maka ditunjuk penjabat Kepala Desa oleh pejabat
yang berwenang atas usul Camat dengan memperhatikan aspirasi masyarakat.

Pasal 24
(1) anggota BPD dan panitia pemilihan yang mempunyai hak pilih serta calon yang
berhak dipilih dalam pemilihan calon Kepala Desa tetap mempunyai hak untuk
menggunakan hak pilihnya.
(2) Calon Kepala Desa yang berasal dari putra desa tidak mempunyai hak pilih.
Pasal 25
(1) Pemilihan Calon Kepala Desa dilaksnakan secara langsung, umum, bebas,
rahasia, jujur dan adil oleh penduduk desa yang telah terdaftar sebagi pemilih
yang memenuhi syarat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24.
(2) Pemberian suara dilakukan dengan mencoblos foto calon yang berhak dipilih
dalam bilik suara yang telah disediakan oleh panitia pemilihan.
(3) Seorang pemilih hanya memberikan suaranya kepada 1 (satu) orang calon yang
berhak dipilih.
(4) Seorang pemilih yang berhalangan hadir karena sesuatu alasan, tidak dapat
diwakilkan dengan cara apapun.

Pasal 26
Untuk kelancaran pelaksanaan pemilihan Calon Kepala Desa, Panitia Pemilihan
menyediakan :
a. Papan pengumuman yang memuat nama-nama calon yang berhak dipilih sesuai
penetapan BPD ;
b. Surat suara yang memuat foto calon yang berhak dipilih yang telah
ditandatangani oleh Ketua Panitia Pemilihan sebagai tanda surat suara yang sah ;
c. Sebuah kotak suara atau lebih yang besarnya disesuaikan kebutuhan berikut
kuncinya ;
d. Bilik suara atau tempat khusus untuk pelaksanan pemberian suara ;
e. Alat pencoblos di dalam bilik suara ;
f. Papan tulis untuk menghitung suara.

Pasal 27
(1) Paling lambat 2 (dua) hari sebelum pelaksanaan pemungutan suara, panitia
pemilihan sudah harus menyampaikan undangan kepada para pemilih yang
memuat tentang waktu dan tempat pemilih menggunakan hak pilihnya.
(2) Sebelum melaksanakan pemungutan suara, panitia pemilihan membuka kotak
suara dan memperlihatkannya kepada para pemilih bahwa kotak suara dalam
keadaan kosong serta menutupnya kembalai, mengunci dan menyegel dengan
menggunakan kertas yang dibubuhi cap atau stempel panitia pemilihan.

Pasal 28
(1)

Pemilih yang hadir diberikan selembar surat suara oleh panitia pemilihan
melalui pemanggilan berdasarkan urutan daftar hadir.

(2)

Setelah menerima surat suara, pemilih memeriksa atau meneliti dan apabila
surat suara dimaksud dalam keadaan cacat kepada panitia pemilihan dan
diganti dengan surat suara yang baru.

(3)

Penggantian surat suara yang baru harus dibuka dan diteliti Panitia Pemilihan
sebelum diserahkan kepada pemilih.

Pasal 29
(1) Pencoblosan surat suara dilaksanakan dalam bilik suara dengan menggunakan
alat coblos yang telah disediakan oleh panitia pemilihan.
(2) Pemioih yang masuk ke dalam bilik suara adalah pemilih yang akan
menggunakan hak suaranya.
(3) Pemilih yang keliru mencoblos surat suara, dapat meminta surat suara baru,
setelah menyerahkan surat suara yang keliru kepada panitia pemilihan dan hanya
diberi kesempatan 1 (satu) kali.
(4) Setelah surat suara dicoblos, pemilih memasukkan surat suara kedalam kotak
suara yang telah disediakan dalam keadaan terlipat.

Pasal 30
(1) Pada saat pemungutan suara dilaksanakan, panitia pemilihan berkewajiban
untuk:
a. Menjamin agar tata demokrasi berjalan dengan lancar, tertib, aman dan
teratur ;
b. Menjamin pelaksanaan pemungutan suara berjalan dengan tertib.

(2) Pada saat pemungutan suara dilaksanakan, para calon yang berhak dipilih harus
berada di tempat yang telah ditentukan untuk mengikuti pelaksanaan
pemungutan suara.
(3) Panitia pemilihan menjaga agar setiap orang yang berhak memilih hanya
memberikan satu suara dan menolak pemberian suara yang diwakilkan dengan
alasan apapun.

Pasal 31
(1) Pemungutan suara mulai dilaksnakan mulai pagi hari, setelah dibuka oleh Ketua
Panitia Pemilihan Kepala Desa.
(2) Batas waktu pemungutan suara ditetapkan oleh Panitia dalam Tata tertib Panitia
dengan mempertimbangkan jumlah hak pilih dan luas Wilayah desa.
(3) Pemilih yang telah hadir dilokasi tempat pemungutan suara dan telah
mendaftarkan diri kepada Panitia, meskipun waktu pemungutan suara telah
berakhir, tetap diberikan kesempatan untuk menggunakan hak pilihnya.
(4) Pemilih yang cacat, dalam menggunakan hak pilihnya dapat dibantu oleh Panitia
didampingi oleh petugas keamanan.
(5) Setelah semua Pemilih sebagaimana dimaksud pada ayat (3) selesai
menggunakan hak pilihnya, Ketua Panitia segera menyatakan pemungutan suara
ditutup dan dilanjutkan dengan penghitungan suara.
(6) Penutupan pemungutan suara dituangkan dalam Berita Acara pemungutan Suara
yang ditanda tangani oleh Panitia dan Calon Kepala Desa.

BAB VI
PENGHITUNGAN SUARA
Pasal 32
(1) Setelah semua pemilih menggunakan hak pilihnya untuk memberikan suaranya,
panitia pemilihan meminta kepada masing-masing calon yang berhak dipilih
untuk menugaskan 1 (satu) orang pemilih untuk menjadi saksi dalam
penghitungan suara.
(2) Saksi yang ditunjuk oleh calon adalah salah satu pemilih yang benar-benar
memahami ketentuan sah dan tidaknya kartu suara yang dicoblos.
(3) Dalam hal calon tidak menunjuk saksi tidak mengurangi keabsahan hasil
pemilihan Kepala Desa.

Pasal 33
(1) Panitia Pemilihan membuka kotak suara dan menghitung surat suara.
(2) Setiap lembar surat suara diambil dan diteliti satu demi satu untuk mengetahui
suara yang diberikan kepada calon yang berhak dipilih.
(3) Penghitungan Suara yang dilakukan oleh Panitia Pemilihan Kepala Desa dengan
menyebutkan nama Calon Kepala desa dan apabila terdapat nama calon yang
sama disebutkan nomor urut yang bersangkutan.
(4) Panitia Pemilihan membaca dan menyebutkan nama calon yang mendapat suara
tersebut serta mencatatnya di papan tulis yang dapat dilihat dengan jelas oleh
semua pemilih yang hadir.
(5) Dalam menyebutkan nama Calon Kepala Desa, dengan suara yang jelas dan
tekanan suara yang sama.
(6) Bila terjadi kekeliruan pengucapan nama Calon yang memperoleh suara,
sehingga mengakibatkan perbedaan pencatatan perolehan suara atau
menimbulkan keraguan pencatatan suara, Panitia menghitung ulang perolehan
kartu suara yang telah dicoblos pada saat diketahui kekeliruan.

Pasal 34
(1) Surat suara dianggap tidak sah, apabila :
a. Tidak menggunakan surat suara yang telah ditentukan oleh panitia ;
b. Tidak terdapat tanda tangan ketua panitia dan stempel panitia pemilihan ;
c. Ditanda tangani atau memuat tanda yang menunjukkan identitas pemilih ;
d. Memberikan suara untuk lebih dari satu calon yang berhak dipilih ;
e. Menentukan calon lain, selain dari calon yang berhak dipilih yang telah
ditentukan ;
f. Mencoblos tidak tepat pada kota foto yang disediakan ;
g. Mencoblos tidak menggunakan alat coblos yan gdisediakan panitia.
(2) Alasan-alasan yang menyebabkan surat suara tidak sah diumumkan kepada
pemilih pada saat itu juga.

Pasal 35
(1)

Setelah penghitungan suara selesai, diumumkan perolehan suara masing-masing


Calon Kepala Desa.

(2)

Hasil pelaksanaan penghitungan suara dituangkan dalam Berita Acara


penghitungan suara yang ditandatangani oleh Panitia Pemilihan Kepala Desa
dan Calon Kepala Desa serta saksi yang ditunjuk.

(3)

Dalam hal Calon Kepala Desa atau Saksi yang ditunjuk meninggalkan tempat
sebelum berakhirnya penghitungan suara dan tidak bersedia tanda tangan dalam
Berita Acara tidak mengurangi keabsahan Berita Acara penghitungan suara.

(4)

Berita Acara tahapan-tahapan pelaksanaan Pemilihan Kepala Desa ditanda


tangani oleh Panitia.

Pasal 36
(1) Calon Kepala Desa yang berhak dipilih yang mendapatkan dukungan suara sah
terbanyak dinyatakan sebagai Calon Kepala Desa yang terpilih.
(2) Apabila Calon Kepala Desa yang berhak dipilih yang memperoleh suara
terbanyak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) lebih dari satu orang dengan
jumlah yang sama, maka untuk menentukan calon yang berhak menjadi Kepala
Desa diadakan pemilihan ulang.
(3) Pemilihan ulang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan hanya untuk
calon-calon yang mendapatkan suara terbanyak dalam jumlah yang sama, paling
lambat 15 (lima belas) hari sejak penandatanganan Berita Acara Pemilihan.
(4) Dalam hal pemilihan ulang sebagaimana dimaksud pada ayat (3) hasilnya tetap
sama, maka untuk menetapkan calon terpilih diadakan pemilihan ulang kedua,
dengan ketentuan sebagaimana pemilihan ulang yang pertama.
(5) Apabila dalam pemilihan ulang kedua tidak diperoleh calon terpilih maka
dibuka pendaftaran kembali pencalonan Kepala Desa, dengan tahapan dan
mekanisme sebagaimana ditetapkan dalam Peraturan Desa ini.

BAB VII
PENETAPAN CALON TERPILIH
Pasal 37
(1) Setelah penghitungan suara selesai, Panitia Pemilihan
menandatangani dan membacakan Berita Acara Pemilihan.

menyusun,

(2) Laporan pelaksanaan pemilihan calon Kepala Desa dan Berita Acara pemilihan
disampaikan oleh Panitia Pemilihan kepada BPD.

Pasal 38
(1) Calon Kepala Desa yang memperoleh suara sah terbanyak ditetapkan sebagai
Calon Terpilih dengan Keputusan BPD berdasarkan laporan pelaksanaan
pemilihan sebagaimana dimaksud dalam pasal 37 dari Panitia Pemilihan.
(2) BPD mengusulkan pengesahan dan pengangkatan Calon Kepala Desa terpilih
kepada Bupati melalui Camat untuk ditetapkan dan dilantik sebagai Kepala Desa,
paling lama 7 (tujuh) hari setelah menerima laporan dari Panitia Pemilihan.
(3) Pengusulan pengesahan dan pengangkatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
dilampiri :
a. Berita Acara pemungutan suara.
b. Berita Acara hasil penghitungan suara ;
c. Keputusan BPD tentang penetapan Calon yang berhak dipilih ;
d. Keputusan BPD tentang penetapan Calon Terpilih ;
e. Berita Acara penelitian berkas persyaratan administrasi Calon ;
f. Berita Acara pelaksanaan ujian penyaringan ;
g. Berkas permohonan dan persyaratan administrasi Calon Terpilih.
h. Surat-surat lain yang berkaitan dengan Pemilihan Kepala Desa terdiri dari
Tata Tertib, susunan Panitia, Kartu suara, dan Surat Undangan Pemilih.

BAB VIII
BIAYA PEMILIHAN
Pasal 39
(1) Biaya pemilihan Kepala Desa berasal dari :
a. APBD Kabupaten ;
b. APBDes ;
c. Swadaya Masyarakat ;
d. Bantuan sumbangan dari pihak ketiga yang tidak mengikat.
(2) Biaya pemilihan Kepala Desa yang bersumber dari Pemerintah Desa diatur lebih
lanjut dalam APBDes.
(3) Biaya Pemilihan Kepala Desa yang bersumber dari APBD Kabupaten
dipergunakan untuk :
a. Administrasi ( pengumuman, undangan, pembuatan kotak dan surat suara,
pembuatan tanda gambar calon dan sebagainya ) ;
b. Pendaftaran pemilih ;

c. Pembuatan bilik / kamar tempat pemilihan ;


d. Penelitian persyaratan calon ;
e. Honorarium panitia, konsumsi dan biaya rapat ;
f. Honorarium petugas.

BAB IX
PENUTUP
Pasal 40
Keputusan Panitia Pemilihan Kepala Desa tentang Tata Tertib Pemilihan Kepala
Desa ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan.
Ditetapkan di
Pada tanggal

: DANDER
: 04 02 - 2008

PANITIA PEMILIHAN KEPALA DESA


DESA DANDER
KETUA,

SUJITNO, S.P.

PANITIA PEMILIHAN KEPALA DESA


DESA DANDER KECAMATAN DANDER

DAFTAR HADIR
MUSYAWARAH PANITIA PEMILIHAN KEPALA DESA
DESA DANDER KEC. DANDER KAB. BOJONEGORO

NO

NAMA

JABATAN

SUJITNO, S.P.

KETUA

SUTARKO

Drs. AHMAD PRIYADI

SEKRETARIS

SUTIYONO, S.Pd.

WAKIL
SEKRETARIS

SUTIKNO

BENDAHARA

M. HUZEIN, S.Pd.

WAKIL
BENDAHARA

NJAIMIN

ANGGOTA

LASTIKNO

ANGGOTA

ALI WINOTO

ANGGOTA

10

DIDIK ADI SUSANTO

ANGGOTA

11

SUKIRNO

ANGGOTA

TANDA - TANGAN
1.

WAKIL KETUA

2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10
11.

DANDER, TANGGAL ............... 2007


PANITIA PEMILIHAN KEPALA DESA
DESA DANDER
KETUA,

SUJITNO, S.P.