Anda di halaman 1dari 17

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Audit

2.1.1 Pengertian Audit


Setiap Perusahaan didirikan dengan tujuan utama untuk memperoleh laba
disamping beberapa tujuan lainnya. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka semua
tahap kegiatan yang akan dilaksanakan harus direncanakan, dianalisa dan diteliti
secara seksama terlebih dahulu oleh mereka yang bertanggung jawab. Seiring
berjalannya waktu masalah pada Perusahaan makin luas dan rumit. Tugas yang
dipikul oleh manajemen makin besar, oleh karena itu manajemen memerlukan alat
bantu yang dapat digunakan untuk mengendalikan kegiatan-kegiatan yang
dilaksanakannya. Salah satu alat bantu dalam melaksanakan fungsi utama
manajemen, fungsi pengawasan dan pengendalian adalah aktivitas audit.
Menurut Arens et al (2010:4) audit adalah:
Auditing is the accumulation and evaluation of evidence about
information to determine and report on the degree of correspondence
between the information and established criteria. Auditing should be done
by a competent, independent person.
Menurut Mulyadi (2002) pengertian audit secara umum yaitu:
Auditing adalah suatu proses sistematik untuk memperoleh dan
mengevaluasi bukti secara objektif mengenai pertanyaan-pertanyaan
tentang kegiatan dan kejadian ekonomi, dengan tujuan untuk menetapkan
tingkat kesesuaian antara pernyataan-pernyataan tersebut dengan kriteria
yang telah ditetapkan, serta penyampaian hasil-hasilnya kepada pemakai
yang berkepentingan.
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa audit dilaksanakan oleh
orang yang kompeten dan independen dengan cara mengumpulkan bukti-bukti
8

yang ada serta mengevaluasi bahan bukti tersebut, yang bertujuan agar dapat
memberikan suatu pendapat mengenai kewajaran laporan keuangan. Proses
pelaksanaan audit tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang, auditor harus
mempunyai latar belakang pendidikan dan pengetahuan yang memadai
sehubungan dengan pelaksanaan audit. Selain itu seorang auditor harus dapat
bersikap independen, bertindak sesuai peraturan perundang-undangan yang
berlaku dan menjalankan kode etik profesi.
2.1.2 Jenis-jenis Audit
Arens et al (2010:12-14) mengelompokkan jenis-jenis audit ke dalam tiga
tipe, yaitu:
1. Operational Audits
2. Compliance Audits
3. Financial Statement Audits
Penjelasan dari tiga tipe audit diatas dapat diartikan bahwa:
1. Audit operasional mengevaluasi efisiensi dan efektivitas dari prosedur dan
metode operasi suatu organisasi. Pada saat selesainya audit operasional,
biasanya

manajemen

mengharapkan

rekomendasi

auditor

untuk

meningkatkan kegiatan operasinya.


2. Audit kepatuhan bertujuan untuk menentukan apakah klien telah
mengikuti prosedur atau aturan tertentu yang tlah ditetapkan, seperti
pelaksanaan ketentuan upah minimum, pelaksanaan undang-undang
perpajakan, dan pelaksanaan prosedur yang telah ditetapkan oleh pimpinan
Perusahaan.
3.

Audit laporan keuangan bertujuan untuk menentukan apakah laporan


keuangan secara keseluruhan informasi yang diuji telah disajikan sesuai
dengan kriteria yang telah ditentukan. Pada umumnya kriteria yang telah

ditetapkan tersebut adalah prinsip akuntansi yang berlaku umum yaitu


Standar Akuntasi Keuangan (SAK).
Dari berbagai jenis audit yang dilakukan kecuali audit laporan keuangan,
keseluruhan audit memiliki tujuan yang (hampir) sama yaitu menilai bagaimana
manajemen mengoperasikan Perusahaan, mengelola sumber daya yang dimiliki,
meningkatkan efisiensi proses dalam mencapai tujuan Perusahaan sesuai dengan
Standar Akuntansi Keuangan (SAK).
2.2

Audit Internal

2.2.1 Pengertian Audit Internal


Audit Internal mempunyai peranan yang sangat penting dalam mencapai
tujuan Perusahaan yang telah ditentukan. Perlunya konsep Audit Internal
dikarenakan bertambah luasnya ruang lingkup Perusahaan.
Profesi Audit Internal terus mengalami perkembangan sesuai dengan
tuntutan perkembangan dunia usaha. Semakin besar suatu Perusahaan maka
semakin luas pula rentang pengendalian yang dipikul pimpinan, sehingga
manajemen harus menciptakan suatu pengendalian intern yang efektif untuk
mencapai suatu pengelolaan yang optimal dengan mempertimbangkan manfaat
dan biayanya.
Audit Internal yang dilakukan dalam suatu Perusahaan merupakan
kegiatan penilaian dan verifikasi atas prosedur-prosedur, data yang tercatat
berdasarkan atas kebijakan dan rencana Perusahaan, sebagai salah satu fungsi
dalam upaya mengawasi aktivitasnya. Audit Internal juga merupakan aktivitas
pendukung utama untuk tercapainya tujuan pengendalian internal. Ketika

11

melaksanakan kegiatannya, Audit Internal harus


kedudukannya dalam Perusahaan adalah independen.

bersifat

objektif

dan

Definisi Audit Internal menurut Standar Profesi Audit Internal (SPAI)


tahun 2004:
Audit Internal adalah suatu aktivitas penilaian independen di dalam suatu
organisasi untuk penelitian kegiatan pembukuan, finansial, dan kegiatan
lainnya, sebagai dasar untuk membantu pimpinan Perusahaan.
Pemeriksaan itu mempunyai pengendalian manajerial yang berfungsi
dengan jalan mengukur dan menilai efektivitas sarana pengendalian.
Sedangkan definisi Audit Internal menurut Tugiman (2006:11) adalah:
Internal auditing atau pemeriksaan internal adalah suatu fungsi penilaian
yang independen dalam suatu organisasi untuk menguji dan mengevaluasi
kegiatan organisasi yang dilaksanakan.
Definisi Audit Internal menurut The Institute of Internal Auditors (2011:2)
adalah:
Internal auditing is independent, objective assurance and consulting
activity designed to add value and improve an organizations operations.
It helps an organization accomplish its objectives by bringin a systematic,
disciplined approach to evaluate and improve the effectiveness of risk
management, control, and governance process.
Definisi Audit Internal yang telah disebutkan oleh IIA dapat diartikan
sebagai aktivitas independen yang memberikan jaminan objektif dan konsultasi
yang dirancang untuk memberi nilai tambah dan meningkatkan operasi organisasi.
Aktifitas ini membantu organisasi mencapai tujuannya dengan membawa
pendekatan yang sistematis dan disiplin untuk mengevaluasi dan meningkatkan
efektivitas manajemen risiko, pengendalian, dan proses tata kelola.
Perbandingan konsep inti Audit Internal terdapat pada tabel
sebagai berikut:
Tabel 2.1
Perbandingan Konsep Inti Audit Internal
Lama (1947)
Internal Control
1. Fungsi penilaian

independen yang

Baru (1999)
Risk Management, Control, Governance
Process
1. Suatu aktivitas independen objektif

dibentuk dalam suatu organisasi


2. Fungsi penilaian

2. Aktivitas pemberian jaminan


keyakinan
dan konsultasi
3. Mengkaji dan mengevaluasi aktivitas
3. Dirancang untuk memberikan suatu nilai
organisasi sebagai bentuk jasa yang
tambah serta meningkatkan
kegiatan
diberikan bagi organisasi
organisasi
4. Membantu agar Para
anggota
4. Membantu organisasi dalam usaha
organisasi
dapat
menjalankan
mencapai tujuannya
tanggung jawabnya secara efektif
5. Memberi
hasil analisis, penilaian,
5. Memberikan suatu pendekatan disiplin
rekomendasi,
konseling,
dan
yang sistematis untuk mengevaluasi dan
informasi yang Berkaitan dengan
meningkatkan
keefektivan manajemen
Dikaj
aktivitas
yang
i
dan
risiko,
pengendalian
dan
proses
menciptakan pengendalian efektif
pengaturan dan pengelolaan organisasi
dengan biaya yang wajar
Sumber: (Tugiman, 2008:19)

Dari beberapa definisi tentang Audit Internal di atas, dapat disimpulkan


beberapa poin penting yaitu:
1. Audit Internal merupakan suatu fungsi penilaian independen dalam
suatu organisasi. Hal Ini menunjukkan bahwa orang yang melakukan
penilaian tersebut adalah anggota dari organisasi tersebut.
2. Dalam pengukuran yang dilakukan auditor internal, independensi dan
objektivitas harus dipegang.
3. Memberikan
mengevaluasi

suatu
dan

pendekatan
meningkatkan

disiplin

yang

efektivitas

sistematis

untuk

manajemen

risiko

pengendalian dan proses pengelolaan organisasi.


4. Auditor internal memeriksa dan mengevaluasi seluruh kegiatan baik
finansial maupun non finansial.
5. Menentukan apakah kebijakan dan prosedur yang telah ditetapkan
dijalankan sesuai target dalam mencapai tujuan organisasi.
2.2.2 Fungsi, Tujuan, dan Tanggung Jawab Audit Internal
Fungsi Audit Internal adalah membantu manajemen memberi landasan
tindakan manajemen yang selanjutnya. Konsorium Organisasi Profesi Audit
Internal (2004:19) menyataan bahwa penanggung jawab fungsi Audit Internal
harus mengelola fungsi audit intenal secara efektif dan efisien untuk memastikan

bahwa kegiatan fungsi tersebut dapat disimpulkan, bahwa fungsi Audit Internal
adalah sebagai alat bantu bagi manajemen untuk menilai efisien dan keefektifan
pelaksanaan struktur pengendalian intern Perusahaan, kemudian memberikan hasil
yang serupa berupa saran atau rekomendasi dan memberi nilai tambah bagi
manajemen yang akan dijadikan landasan untuk mengambil keputusan atau
tindakan yang selanjutnya.
Konsorium Organisasi Profesi Audit Internal (2004:15) menyatakan
bahwa:
Tujuan, wewenang, dan tanggung jawab fungsi Audit Internal harus
dinyatakan secara formal dalam Charter Audit Internal, konsisten dengan
Standar Profesi Audit Internal dan mendapat persetujuan dari Pimpinan
dan Dewan Pengawas Organisasi.
Selain memiliki fungsi, Audit Internal juga memiliki tujuan. Audit Internal
bertujuan untuk membantu seluruh anggota manajemen agar dapat melaksanakan
tanggung jawab secara efektif dengan jalan memberikan analisis, penilaian,
rekomendasi, saran, dan keterangan dari kegiatan operasional Perusahaan yang
diperiksanya.

Menurut Tugiman (2008:2) tujuan dari Audit Internal adalah:


Membantu para anggota organisasi agar dapat menyelesaikan tanggung
jawabnya secara efektif. Untuk tujuan tersebut, Audit Internal
menyediakan bagi mereka analisis, penilaian rekomendasi, nasihat, dan
informasi sehubungan dengan aktivitas yang diperiksa.
Tujuan Audit Internal dapat tercapai apabila fungsi dari Audit Internal
berjalan dengan baik. Untuk itu, Audit Internal harus mengetahui tugas dan
tanggung jawabnya secara jelas.
Tanggung jawab seorang Audit Internal menurut Komite SPAP Ikatan
Akuntansi Indonesia dalam Standar Profesi Akuntan Publik (2001:322) yaitu:
Auditor Internal bertanggungjawab untuk menyediakan jasa analisis dan
evaluasi, memberikan keyakinan dan rekomendasi dan informasi lain
kepada manajemen entitas dan bagian komisaris atau pihak lain yang
setara wewenang dan tanggung jawabnya. Untuk memenuhi tanggung
jawabnya tersebut Auditor Internal mempertahankan objektivitasnya yang
berkaitan dengan aktiivitas yang diauditnya.
Tujuan akhir dan tanggung jawab Audit Internal adalah untuk melindungi
harta Perusahaan, menjamin bahwa laporan keuangan dan non keuangannya dapat
dipercaya, ditaatinya kebijakan dan prosedur serta menjamin apakah aktivitas di
Perusahaan sudah berjalan secara efektif dan efisien. Untuk itu ruang lingkup dan
tanggung jawab dari Audit Internal tidak boleh dibatasi pada akuntansi dan
keuangan saja, namun harus mencakup segala aspek Perusahaan.
2.2.3 Ruang Lingkup Audit Internal
Ruang lingkup Audit Internal mencakup bidang yang sangat luas dan
kompleks meliputi seluruh tingkatan manajemen, yaitu mencakup segala aspek
Perusahaan, meliputi finansial dan non-finansial. Audit Internal membantu
manajemen dalam mengawai berjalannya roda organisasi.
Menurut IIA dalam buku Standar & Guidelines For the Professional
Practices of Internal Auditing (1998:23) ruang lingkup Audit Internal adalah
sebagai berikut:

The scope of internal auditing should encompass the examination and


evaluation of the adequacy and effectiveness if the organizations system of
interna control and the quality of performance in carrying out assigned
responsibilities.
Pendapat IIA di atas dapat diartikan bahwa ruang lingkup Audit Internal
harus mencakup pemeriksaan dan evaluasi terhadap kecukupan dan efektivitas
sistem organisasi pengendalian intern dan kualitas kinerja dalam melaksanakan
tanggung jawab yang diberikan.
Perkembangan terbaru berdasarkan standar 2100 kode etik profesional
audit internal mengenai nature of work menurut IIA (2011:29) yaitu:
The internal audit activity must evaluate and contribute to the
improvement of governanc, risk management, and control processes using
a systematic disclipined approach.
Pendapat tersebut

artinya bahwa

kegiatan

audit

internal

harus

mengevaluasi dan memberikan kontribusi pada perbaikan tata kelola, manajemen


risiko, dan proses pengendalian menggunakan pendekatan disiplin ilmu yang
sistematis.
2.2.4 Standar dan Pedoman Praktik Audit Internal
Konsorium Organisasi Profesi Audit Internal menerbitkan Standar Profesi
Audit Internal (SPAI). SPAI ini diharapkan dapat menjadi pedoman bagi auditor
internal dalam melaksanakan tugasnya.
Menurut Konsorium Organisasi Profesi Audit Internal (2004:5) SPAI
terdiri dari 3 standar, yaitu:

16

1. Standar Atribut
Standar atribut berkenaan dengan karakteristik organisasi, individu, dan
pihak-pihak yang melakukan kegiatan Audit Internal.
2. Standar Kinerja
Standar kinerja menjelaskan sifat dan kegiatan Audit Internal dan
merupakan ukuran kualitas pekerjaan audit, juga memberikan praktikpraktik terbaik pelaksanaan audit mulai dari perencanaan sampai dengan
pemantauan tindak lanjut.
3. Standar Implementasi
Standar implementasi hanya berlaku untuk satu penugasan tertentu.
Standar implementasi yang akan diterbitkan di masa mendatang adalah
standar implementasi untuk kegiatan assurance, standar implementasi
untuk

kegiatan

consulting,

standar

implementasi

untuk

kegiatan

investigasi, dan standar implementasi Control Self Assessment (CSA).


2.3

Auditor Internal

2.3.1 Pengertian Auditor Internal


Auditor internal ialah orang yang melaksanakan aktivitas pemeriksaan.
Seorang auditor internal berusaha untuk menyempurnakan dan melengkapi setiap
kegiatan dengan penialaian langsung atas setiap bentuk pengawasan untuk dapat
mengikuti perkembangan dunia usaha yang semakin kompleks.
Definisi auditor internal menurut Mulyadi (2010:29) auditor internal
adalah:
Auditor internal adalah auditor yang bekerja dalam Perusahaan
(Perusahaan negara maupun Perusahaan swasta) yang tugas pokoknya
adalah menentukan apakah kebijakan dan prosedur yang ditetapkan oleh
mnajemen puncak telah dipatuhi, menentukan baik atau tidaknya
penjagaan terhadap kekayaan organisasi, menentukan efisiensi dan
efektivitas prosedur kegiatan organisasi, serta menentukan keandalan
informasi yang dihasilkan oleh berbagai bagian organisasi.
Audit Internal membantu manajemen dalam merancang dan memelihara
kecukupan dan efektivitas struktur pengendalian intern. Audit Internal juga

bertanggungjawab untuk meningkatan operasi organisasi serta menilai kecukupan


dan keefektifan dari masing-masing sitem pengendalian yang memberikan
jaminan kualitas dari proses pelaporan keuangan.
2.3.2 Kompetensi Auditor Internal
Fungsi Audit Internal tidak hanya terbatas kepada masalah keuangan saja,
melainkan juga meliputi seluruh aspek dan aktivitas yang ada di dalam
Perusahaan. Dengan dasar ini, maka auditor internal dituntut untuk memiliki
kompetensi

yang

tinggi,

yaitu

dengan

mengembangkan

kemampuan

profesionalnya secara berkelanjutan.


Kompetensi menurut Tugiman (2006:18) adalah sebagai berikut:
Kompetensi adalah kemampuan profesional yang merupakan tanggung
jawab dari bagian Audit Internal dan masing-masing pemeriksa internal.
Kompetensi setiap auditor internal merupakan tanggung jawab dari bagian
Audit Internal. Pimpinan Audit Internal dalam setiap pemeriksaan harus
menugaskan orang-orang yang secara bersama atau keseluruhan memiliki
pengetahuan, kemampuan, dan berbagai disiplin ilmu yang diperlukan untuk
melaksanakan pemeriksaan secara tepat dan pantas.
Melihat banyak beban yang harus dipikul oleh tim Audit Internal, maka
dapat diidentifikasi kebutuhan yang sesuai akan kompetensi dasar (basic
competency) yang sama bagi para auditor. Menurut Valery G. Kumaat (2011: 2527) dijelaskan kompetensi Audit Internal mulai dari head of department hingga
para pelaksana sebagai berikut:
1. Soft Competency Audit Internal: Menentukan Sosok Audit yang Ideal
Kepribadian atau karakter positif yang kuat sekarang ini diakui sebagai penentu
keberhasilan seseorang dalam meniti karir, lebih dari bekal pengetahuan dan
keterampilan yang dimiliki. Sosok Audit Internal yang ideal harus memiliki
keunikan tersendiri, yaitu perpaduan karakter yang jarang dijumpai pada posisi
atau profesi lain. Karena harus independen dalam mengidentifikasi, menganalisis,

menetapkan akar masalah hingga mengeluarkan rekomendasi solusi, integritas


menjadi hal yang tidak dapat ditawar.
2. Hard Competency Audit Internal: Menentukan Bobot Auditor
Meskipun Soft Competency memegang peranan penting, auditor
juga dituntut memiliki tingkat berpikir, pengetahuan, dan keterampilan
(Hard Competency) di atas rata-rata, tepatnya sebuah kombinasi
kompetensi yang terdiri dari Analytical Thinking, Multi-Dimensional
Knowledge, dan Advisory Skill.
2.3.3 Standar Profesional Audit Internal
Menurut Hery (2010:73) standar profesional Audit Internal terbagi atas
empat macam diantaranya yaitu:
1. Independensi
2. Kemampuan Profesional
3. Lingkup Pekerjaan
4. Pelaksanaan Kegiatan Pemeriksaan

Adapun penjelasan dari keempat standar profesional Audit Internal


tersebut adalah :
1. Independensi
Audit Internal harus mandiri dan objektif. Audit Internal harus mandiri
dan terpisah dari berbagai kegiatan yang diperiksa. Auditor inernal
dianggap mandiri apabila dapat melaksanakan pekerjaannya secara bebas
dan objektif. Kemandirian Audit Internal sangat penting terutama dalam
memberikan penilaian yang tidak memihak (netral). Hal ini hanya dapat
diperoleh melalui status organisasi dan sikap objektif dari para audit
interrnal. Status organisasi Audit Internal harus dapat memberikan
keleluasaan bagi Audit Internal dalam menyelesaikan tanggung jawab
pemeriksaan secara maksimal.
2. Kemampuan Profesional
a. Pengetahuan dan Kemampuan
Kemampuan profesional wajib dimiliki oleh Audit Internal. Dalam
setiap pemeriksaan, pimpinan Audit Internal haruslah menugaskan
orang-orang yang secara bersama-sama atau keseluruhan memiliki
pengetahuan dan kemampuan dari berbagai disiplin ilmu, seperti
akuntansi, ekonomi, keuangan, statistik, pemrosesan data elektronik,
perpajakan, dan hukum yang memang diperlukan unutk melaksanakan
pemeriksaan secara tepat dan pantas.

b. Pengawasan
Pimpinan Audit Internal bertanggung jawab dalam melakukan
pengawasan terhadap segala aktivitas pemeriksaan yang dilakukan oleh
para stafnya. Pengawasan yang dilakukan sifatnya berkelanjutan, yang
dimulai dengan perencanaan dan diakhiri dengan penyimpulan hasil
pemeriksaan yang dilakukan.
c. Ketelitian Profesional
Audit Internal harus dapat bekerja secara teliti dalam melaksanakan
pemeriksaan. Audit Internal harus mewaspadai berbagai kemungkinan
terjadinya pelanggaran yang dilakukan dengan sengaja, kesalahan,
kelalaian, ketidakefektifan, pemborosan (ketidakefesienan), dan konflik
kepentingan.
3.

Lingkup Pekerjaan
a. Keandalan informasi
Audit Internal haruslah menguji sistem informasi tersebut, dan
menentukan apakah berbagai catatan, laporan finansial dan laporan
operasional Perusahaan mengandung informasi yang akurat, dapat
dibuktikan kebenarannya, tepat waktu, lengkap, dan berguna.
b. Kesesuaian

dengan

kebijakan,

rencana,

prosedur,

dan

ketentuan

perundang-undangan
Manajemen bertanggung jawab untuk menetapkan sistem, yang dibuat
dengan tujuan memastikan pemenuhan berbagai persyaratan, seperti
kebijakan, rencana, prosedur, dan peraturan perundang-undangan. Audit
Internal bertanggung jawab untuk menentukan apakah sistem tersebut telah
cukup efektif dan apakah berbagai kegiatan yang diperiksa telah sesuai
dengan kebijakan yang ditetapkan.

c. Perlindungan aktiva
Audit Internal harus meninjau berbagai alat atau cara yang digunakan
untuk melindungi aktiva Perusahaan terhadap berbagai jenis kerugian, seperti
kerugian yang diakibatkan oleh pencurian, dan kegiatan yang ilegal. Pada saat
memverifikasi keberadaan suatu aktiva, Audit Internal harus menggunakan
prosedur pemeriksaan yang sesuai dan tepat.
d. Penggunaan sumber daya
Audit Internal harus dapat memastikan keekonomisan dan keefesienan
penggunaan sumber daya yang dimiliki oleh Perusahaan. Audit Internal
bertanggung jawab untuk menetapkan suatu standar operasional untuk
mengukur keekonomisan dan efesiensi. Standar operasional tersebut harus
dipahami dan dipenuhi agar berbagai penyimpangan dari standar operasional
yang telah diidentifikasi, dianalisis, dan diberitahukan kepada berbagai pihak
yang bertanggung jawab untuk dilakukan tindakan perbaikan.
e. Pencapaian tujuan
Audit Internal harus dapat memberikan kepastian bahwa semua
pemeriksaan yang dilakukan sudah mengarah kepada pencapaian tujuan dan
sasaran yang telah ditetapkan oleh perusahan.
4.

Pelaksanaan kegiatan pemeriksaan


a. Perencanaan kegiatan pemeriksaan
Audit Internal harus terlebih dahulu melakukan perencanaan
pemeriksaan dengan meliputi penetapan tujuan pemeriksaan dan lingkup
pekerjaan, memperoleh informasi dasar tentang objek yang akan diperiksa
lalu

menentukan

tenaga

yang

diperlukan

untuk

melaksanakan

pemeriksaan. Selanjutnya melakukan survei secara tepat untuk lebih


mengenali bidang atau area yang akan diperiksa untuk penetapan program
pemeriksaan.

b. Pengujian dan Pengevaluasian


Audit Internal harus melakukan pengujian dan pengevaluasian
terhadap semua informasi yang ada guna memastikan ketepatan dari
informasi tersebut. Informasi inilah yang nantinya akan digunakan untuk
pemeriksaan.
c. Pelaporan Hasil Pemeriksaan
Audit

Internal

harus

melaporkan

hasil

pemeriksaan

yang

dilakukannya. Laporan yang dibuat haruslah objektif, jelas, singkat,


konstruktif dan tepat waktu. Objektif adalah laporan yang faktual, tidak
berpihak, dan terbebas dari distorsi. Laporan yang jelas adalah laporan
yang mudah dimengerti dan logis. Laporan yang singkat adalah laporan
yang diringkas langsung membicarakan pokok permasalahan dan
menghindari berbagai perincian yang tidak diperlukan. Laporan yang
konstruktif adalah laporan yang berdasarkan isi dan sifatnya akan
membantu pihak yang diperiksa dan organisasi serta menghasilkan
berbagai perbaikan yang diperlukan. Laporan yanng tepat waktu adalah
laporan yang pemberitaanya tidak ditunda dan mempercepat kemungkinan
pelaksanaan berbagai tindakan yang koreksi dan efektif. Audit Internal
juga harus langsung melaporkan hasil pemeriksaannya kepada pimpinan
dan karyawan lain apabila membutuhkan.
d. Tindak lanjut pemeriksaan
Audit Internal harus secara terus menerus meninjau dan melakukan
tindak lanjut untuk memastikan apakah suatu tindakan perbaikan telah
dilakukan dan memberikan berbagai hasil yang diharapkan. Tindak
lanjut Audit Internal didefinisikan sebagai suatu proses untuk
menentukan kecukupan, keefektifan, dan ketepatan waktu dari berbagai

tindakan yang dilakukan oleh manajemen terhadap berbagai temuan


pemeriksaan yang dilaporkan.
2.5

Kerangka Pemikiran dan Hipotesis Penelitian

2.5.1 Kerangka Pemikiran


Audit Internal sebagai suatu cara yang digunakan untuk mencegah
kecurangan dalam suatu organisasi yang kegiatannya meliputi pengujian dan
penilaian efektivitas serta kecukupan sistem pengendalian internal organisasi.
Fungsi Audit Internal dapat berupa layanan informasi, sistem atau proyek. Tanpa
Audit Internal, kepala instansi tidak akan memiliki sumber informasi internal yang
bebas mengenai kinerja dalam organisasi.
Audit Internal sangat erat berkaitan dengan masalah pendeteksian
kecurangan di dalam Perusahaan. Adanya Audit Internal dalam suatu Perusahaan

diyakini bermanfaat dalam membantu mencegah terjadinya kecuranan. Namun


demikian, Audit Internal tidak bertanggung jawab atas terjadinya kecurangan,
meskipun Audit Internal merupakan pihak yang memiliki kewajiban yang paling
besar dalam masalah pendeteksian kecurangan.
Audit Internal harus bisa memastikan apakah kecurangan tersebut memang
ada atau tidak. Untuk memastikannya, Audit Internal akan melakukan evaluasi
terhadap Sistem Pengendalian Intern yang dibuat manajemen dan aktivitas
karyawan Perusahaan berdasarkan kriteria yang tepat untuk merekomendasikan
suatu rangkaian tindakan kepada pihak manajemen. Disamping itu, Audit Internal
harus mempunyai alat pengendalian yang efektif sehingga setiap kecurangan
dapat dideteksi dan dicegah sedini mungkin.
Dengan demikian, jelas bahwa Audit Internal membantu manajemen
dalam

memberikan

saran

dan

nasehatnya

sehubungan

dengan

Sistem

Pengendalian yang dibuat oleh manajemen. Bukan menindaknya tapi sekedar


menilai dan mengevaluasinya, karena tindakan lebih lanjut sepenuhnya ada
ditangan manajemen.
Menurut Valery G. Kumat (2011:35) mendefinisikan Audit Internal adalah
sebagai berikut:
Audit Internal adalah agen yang paling pas untuk mewujudkan Internal
Control, Risk Management dan Good Corporate Governance yang
pastinya akan memberi Nilai Tambah bagi Sumber Daya dan Perusahaan.
Berdasarkan pengertian di atas diketahui bahwa Audit Internal merupakan
suatu fungsi penilaian yang bebas dalam suatu organisasi guna menelaah atau
mempelajari dan menilai kegiatan-kegiatan Perusahaan untuk memberikan saran
kepada manajemen.