Anda di halaman 1dari 11

KAJIAN PEMANFAATAN OLAHAN AIR IPAL BANTUL

UNTUK MEMENUHI KEBUTUHAN AIR KOTA BANTUL

Siti Fatimah
V.Yenni E. Sulistyawati
JF. Soandrijanie Linggo

ABSTRAKSI
Masalah air akan menjadi masalah besar bagi Indonesia, kalau tidak segera dilakukan usaha
perbaikan kondisi ketersediaan air dari sekarang. Maka perlu dilakukan langkah-langkah
penanganan agar masalah air inidapat teratasi. Tampaknya mulai perlu mempertimbangkan
kemungkinan memanfaatkan air permukaan menjadi air bersih agar pengambilan air tanah yang
terlalu besar tidak menyebabkan intrusi air laut seperti yang telah terjadi di kota-kota besar
yang terletak di dekat pantai.
Khusus untuk wilayah Bantul dapat dilakukan dengan memanfaatkan air dengan hasil olahan
air hasil IPAL Sewon Bantul menjadi air bersih melalui proses pembersihan air.
Pada pemeriksaan air yang keluar dari IPAL Bantul diperoleh 29 parameter yang diperiksa
ditemukan 5 parameter yang tidak memenuhi syarat, yaitu Hg (0,0185mg/l > 0,001 mg/l),
Sianida (0,1070mg/l > 0,05mg/l), Nitrat (18,72mg/l >10), senyawa aktif biru Cmetilen
(0,5212mg/l>0,5mg/l) dan Fenol (0,0445mg/l>0,02 .mg/l).
Dari penelitian ini dapat diperkirakan bahwa ada air selain buangan rumah tangga yang juga
masuk ke IPAL. Karenanya bila air IPAL akan dipakai untuk air bersih, maka air limbah
industri seharusnya tidak diperkenankan dibuang langsung ke pipa limbah ini. Boleh dilakukan
dengan catatan limbah yang mengandung unsur yang berbahaya harus diproses terlebih dahulu.
Untuk saat ini disarankan air IPAL dari kajian kualitatif tidak digunakan untuk air bersih,
karena biaya proses akibat adanya parameter yang tidak memenuhi syarat tidak ekonomis lagi.
Bila akan digunakan untuk air bersih, sebaiknya setelah diatur tidak ada air limbah industri
yang masuk IPAL. Dari kajian kuantitatif jumlah penduduk mengalami kenaikan rerata per
tahun = 0,97%, sehingga jumlah penduduk tahun 2012 menjadi 862420 orang. Dengan jumlah
penduduk tahun 2002 = 783060 orang yang menggunakan hanya 168,1 l/dtk sebagian lain
menggunakan air sumur, maka dengan pemanfaatan air IPAL 179,4 l/dtk untuk air bersih,
jumlah yang dilayani dapat menjadi dua kali lipat.

Kata Kunci: kebutuhan air bersih, IPAL Bantul, kajian kualitatif dan kuantitatif

1. PENDAHULUAN
Ketersediaan air di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta semakin menurun dibanding
kebutuhan air, karena berkurangnya debit air yang selama ini diambil oleh PDAM untuk
pelayanan kepada penduduk Bantul. Umumnya kebutuhan air ini dipenuhi antara lain dengan
mencari mata-air baru, serta mengambil air tanah baik dangkal maupun dalam dengan
pemopaan, yang dapat berakibat turunnya muka air tanah. Sementara air yang terbuang
menjadi air permukaan, tidak diproses yang selanjutnya hanya akan terbuang ke laut.

82
Volume 6 No. 1, Oktober 2005 : 82 - 91
Pertambahan penduduk akan menambah jumlah kebutuhan air bersih antara lain karena
pertambahan kebutuhan untuk:
1) Infrastruktur.
2) Pangan dan air (untuk keperluan masak, cuci, minum).
3) Bertambahnya kendaraan berarti perlu air untuk cuci, Dan lain-lain.
4) Tempat tinggal dengan fasilitasnya yaitu air untuk kamar mandi/wc, dan lain-lain.
5) Pemeliharaan (air glontor) saluran drainasi dan saluran pembuangan limbah cair.
6) Warung, toko, dan fasilitasnya.

Selain kebutuhan air, kebutuhan saluran drainasi juga meningkat karena banyaknya
pembangunan rumah dan jalan secara tidak langsung telah mengurangi kemungkinan air
meresap ke dalam tanah, sehingga jumlah air yang mengalir di permukaan menjadi lebih
banyak karena tidak tertampung di saluran drainasi/sungai yang ada. Akibatnya terjadi banjir
pada saat hujan deras dalam waktu yang lama, dan akibat lain yang saat ini sangat terasa
adalah pengurangan debit mata-air, serta penurunan muka air tanah.
Dengan adanya Program Kali Bersih, air limbah rumah tangga yang langsung dibuang
ke sungai dan mencemari lingkungan harus dipertimbangkan untuk masuk ke dalam pipa-pipa
saluran limbah. Baru setelah masuk IPAL dan sudah diproses dapat dibuang ke sungai.
Pemerintah untuk keperluan Program Kali Bersih ini kemudian merencanakan pembangunan
instalasi pengolahan limbah rumah tangga Kota Yogyakarta.
Perencanaan teknis dilakukan oleh Japan International Cooperation (JICA). Pada
tahun 1994 dimulai pembangunan Instalasi Pengolah Limbah Cair di Yogyakarta yang
merupakan hibah dari pemeritah Jepang, dana APBD Tingkat I, dan dana APBN.
Pembangunan IPAL ini dilaksanakan dengan memanfaatkan pipa-pipa saluran limbah yang
ada (antara lain yang dibangun pada jaman Belanda sepanjang 110 km). Upaya ini yang
mendukung Program Kali Bersih DIY untuk Sungai Code, Gadjahwong, dan Winongo.
Pelayanan air limbah rumahtangga direncanakan akan ditingkatkan 59% (melayani
273 penduduk kota wilayah perkotaan Yogyakarta) sampai tahun 2012. Debit yang keluar
dari instalasi lebih dari 10.000 m3/hari, cukup besar untuk dimanfaatkan lebih lanjut.
Air buangan IPAL Bantul setelah memenuhi syarat dibuang ke sungai dapat diolah
menjadi air rumah tangga, sehingga disaat kekurangan air pada masa yang akan datang dapat
dipertimbangkan sebagai alternatif pemecahan masalah. Hasil buangan IPAL DIY yang
terletak di Sewon Bantul saat ini 179,4 liter/detik, sebagian besar terbuang ke laut dan bila
dimanfaatkan menjadi air bersih akan mengurangi pengambilan air tanah. Alternatif ini secara
teoritis dapat dipertimbangkan karena proses yang dilakukan serupa dengan proses
pengolahan air sungai menjadi air bersih.

2. TINJAUAN PUSTAKA
Menurut SK Gubernur Kepala Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor:
214/KPTS/1991, air rumah-tangga harus memenuhi syarat baku mutu yang ditentukan, baik
syarat fisika, kimia dan biologi. Apabila air tersebut tidak memenuhi syarat baku mutu
tersebut , harus dilakukan proses pembersihan, sehingga dapat dipenuhi syarat baku mutunya.
Pada jumlah tertentu manusia membutuhkan beberapa zat kimia untuk metabolisme,
tetapi ada beberapa zat kimia yang pada jumlah besar membahayakan, sebagai contoh
beberapa zat-zat terlarut dalam air yang dapat mengganggu kesehatan antara lain (Sutrisno
C.Totok, 2002 ) :

Kajian Pemanfaatan Olahan Air IPAL Bantul Untuk Memenuhi Kebutuhan Air Kota Bantul 83
(Siti Fatimah, V.Yenni E. Sulistyawati, JF. Soandrijanie Linggo)
1) Selenium, diijinkan < 0,01 mg/l, pada jumlah besar (>3-4 mg/l) menyebabkan keracunan
pada anak.
2) Arsen,bila melebihi batas merupakan racun, chronic effect, bersifat karsinogenik pada
kulit, hati, dan saluran empedu melalui kontak dengan makanan (food intake).
3) Barium, yang diijinkan < 1,5 mg/l dan dalam jumlah besar bersifat toksid pada hati,aliran
darah,nervous.
4) Cadmium, dapat menjadi racun, menimbulkan batu ginjal, gangguan lambung, kerapuhan
tulang, berkurangnya haemoglobin dan pigmentasi gigi bagi manusia melalui makanan
5) Chromium, bersifat karsinogenik pada kulit dan pernafasan.
6) Timah hitam, bila melebihi batas menjadi racun, dapat melalui makanan, air, udara, dan
rokok
7) Merkuri (air raksa), dapat menjadi racun bagi sel-sel tubuh, merusak ginjal,hati dan
syaraf. Pada bayi dapat menyebabkan keterbelakangan mental dan celebral palsy.
8) Nitrat, pada kadar 15 – 250 mg/l menyebabkan methemogloinemia (terhalangnya
perjalanan oksigen dalam tubuh) pada bayi melalui air yang dicampur susu.
9) Nitrit, dalam dosis yang besar serupa dengan nitrat, yaitu menghambat perjalanan oksigen
dalam tubuh. Dosis maksimum yang diijinkan adalah 0,5 mg/l.
10) Selenium, bila > 3-4 mg/kg makanan yang masuk dapat menyebabkan keracunan pada
anak, dan dapat menyebabkan kanker hati, ginjal dan limpa.
11) Perak (Ag), dapat menyebabkan penyakit agria, warna kulit kelabu kebiruan dan penyakit
pada mata.
12) Fluor, dibutuhkan untuk mencegah caries pada gigi, tetapi bila jumlah berlebihan akan
menyebabkan penyakit fluoresis.
13) Magnesium merupakan komponen dari kesadahan, dalam jumlah kecil dibutuhkan karena
karena untuk pertumbuhan tulang, tetapi bila > 150 mg/l akan menyebabkan rasa mual.
14) Besi (Fe), merupakan salah satu unsur yang dibutuhkan untuk metabolisme tubuh, tetapi
bila > 1 mg/l menimbulkan bau dan rasa tidak enak, warna air akan kemerah merahan
dan membentuk endapan pada pipa logam (berkarat). Apabila dikonsumsi akan
mempengaruhi kesehatan ginjal.
15) Cyanida (CN)
Cyanida pada dosis tunggal 10 mg dan 3 – 5 mg/hari tidak menimbulkan gangguan
begitu besar, tetapi untuk dosis tunggal 50 mg akan dapat berakibat fatal. Standar
menurut Dep. Kes. adalah harus < 0,05 mg/l atau menurut WHO Internastional < 0,5
mg/l.

Karenanya air limbah rumah tangga yang dibuang dan diambil kembali dari sungai atau
waduk, bila tidak memenuhi syarat harus melalui proses perbaikan mutu dulu baru dapat
digunakan sebagai air rumah tangga.
Menurut Kusnaedi, 2002,beberapa persyaratan yang perlu diperhatikan sehubungan
dengan kualitas air adalah:

1) Persyaratan Fisik:
a. Jernih, tidak keruh oleh butiran-butiran kolloid.
b. Tidak berwarna.
c. Tidak berbau.
d. Temperatur sama dengan temperatur udara.
e. Tidak mengandung zat padatan, baik yang terlarut ataupun yang mengendap.
Jumlah padatan yang besar merupakan bahan pertimbangan karena dapat

84
Volume 6 No. 1, Oktober 2005 : 82 - 91
memberikan rasa tidak enak, rasa mual terutama bila banyak mengandung natrium
sulfat dan magnesium sulfat, dan lain-lain.

2) Persyaratan Kimia
a. PH netral (tidak terlalu asam atau basa) ditandai dengan pH = 7. Syarat ini diberikan
karena berpengaruh pada aktivitas pengolahan yang akan dilakukan seperti koagulasi
kimiawi, desinfeksi, pelunakan air, dan pencegahan korosi. Untuk memenuhi syarat
lingkungan, disyaratkan pH = 6 – 8, karena kebanyakan mikro-organisme dapat hidup
baik pada pH = 6 – 8.
b. Tidak mengandung bahan kimia beracun (sianidasulfida,fenolik, arsenik,san lain-lain).
c. Tidak mengandung garam dan ion-ion logam (Fe, Mg, Ca, K, Hg, Zn, Mn, Cl, Cr, dan
lain-lain) yang melebihi batas ambang:
d. Kesadahan rendah.
e. Tidak mengandung bahan organik.

3) Persyaratan Mikrobiologis
a. Tidak mengandung bakteri patogen
b. Tidak mengandung bakteri non patogen (coliform, dan lain-lain).

Bagi Daerah Istimewa Yogyakarta, telah ada SK Gubernur Kepala Daerah Istimewa
Yogyakarta Nomor: 214/KPTS/1991 untuk kualitas baku mutu air bersih rumah tangga
seperti pada lampiran. Bila salah satu persyaratan di atas tidak terpenuhi, maka perlu
dilakukan suatu pengolahan agar persyaratan baku mutu air dapat dipenuhi. Pada hakekatnya
pengolahan lengkap dibagi dalam tiga tingkatan pengolahan:
(1) Pengolahan secara fisika
(2) Pengolahan secara kimia
(3) Pengolahan secara biologi

(1) Pengolahan secara Fisik


a. Penyaringan ( filtrasi)
Penyaringan merupakan suatu tingkat pengolahan yang bertujuan untuk
mengurangi/menghilangkan kotoran-kotoran yang kasar, penyisihan lumpur dan pasir
serta mengurangi kadar zat-zat organik yang ada dalam air yang akan diolah dengan
menyaring (dapat dengan saringan kasar/barscreen, saringan-pasir, san lain-lain).
b. Sedimentasi (pengendapan)
Pada prinsipnya benda yang bukan merupakan kolloid akan mengendap dan benda
yang berat akan mengendap terlebih dahulu. Setelah pengendapan, endapan dapat
dipisahkan/dikeluarkan dari bak sedimentasi.
c. Absorbsi (penyerapan) dan adsorpsi (pengikatan ion bebas)

(2) Pengolahan secara Kimia:


a. Koagulasi
Koagulasi merupakan proses penggumpalan melalui reaksi kimia. Reaksi
koagulasi dapat berjalan dengan membubuhkan zat perereaksi (koagulan) sesuai dengan
zat terlarut. Koagulan yang dapat digunakan antara lain kapur, tawas dan kaporit, karena
garam Ca, Fe, dan Al bersifat tidak larut dalam air sehingga mampu mengendap bila
bertemu dengan sisa-sisa basa. Banyaknya koagulan tergantung pada jenis dan
konsentrasi ion-ion yang larut dalam air olahan serta konsentrasi yang diharapkan sesuai

Kajian Pemanfaatan Olahan Air IPAL Bantul Untuk Memenuhi Kebutuhan Air Kota Bantul 85
(Siti Fatimah, V.Yenni E. Sulistyawati, JF. Soandrijanie Linggo)
dengan standar baku. Untuk mempercepat proses koagulasi dalam air limbah perlu
dilakukan pengadukan.

b. Aerasi
Aerasi merupakan suatu sistem oksigenasi melalui penangkapan O2 dari udara
pada air olahan yang akan diproses. Pemasukan oksigen ini bertujuan agar O2 di udara
dapat bereaksi dengan kation yang ada dalam air olahan. Reaksi kation dan oksigen
menghasilkan oksidasi logam yang sukar larut dalam air sehingga dapat mengendap.
Proses aerasi terutama untuk menurunkan kada besi (Fe) dan magnesium (Mg). Kation
Fe2+ atau Mg2+ bila disemburkan ke udara akan membentuk oksida Fe2O3 dan MgO.
Proses aerasi harus diikuti filtrasi atau pengendapan.

(3) Pengolahan air secara Biologi


Bakteri yang ada dalam air limbah dapat diatasi dengan bahan pengurai bakteri atau
memelihara tanaman yang dapat menurunkan populasi bakteri.
Contoh :
a. Fe yang terkandung di dalam air melebihi batas ambang, maka harus dilakukan
pengendapan atau aerasi terlebih dahulu, sehingga Fe dapat dipisahkan dari air
sampai memenuhi syarat baku mutu. Dapat pula dilewatkan besi karat dan kemudian
menyaringnya menggunakan saringan pasir.
b. Adanya bakteri , dapat diatasi dengan bahan desinfektan

Selain masalah kualitas, juga harus dipenuhi syarat kuantitas, secara umum kebutuhan
air bersih = 1 liter/detik/ 1000 orang.

3. DATA
Data yang diperoleh dibagi sesuai pembahasan yang dilakukan, yaitu data kuantitas
dan data kualitas.

Gambar 1. Skema Proses IPAL Sewon Bantul

86
Volume 6 No. 1, Oktober 2005 : 82 - 91
Data Teknis
1. Kapasitas Instalasi 15.500 M3/hari 4 Kolam Fakultatif
179,4 lt/dt 2 Kolam Pematangan
2. Rumah Pompa 2 Unit operasional
10,7 m3/det x 3 unit
1 Unit cadangan
3. Bak pengendap pasir 2 m x 9 m x 1,2 m x 2 bak 60 detik (waktu penyimpanan)
4. Kolam Fakultatif 77 m x 70 m x 4 m x 4 kolam 5,5 hari (waktu penyimpanan)
5. Kolam Pematangan 78 m x 70 m x 4 m x 2 kolam 1,3 hari (waktu penyimpanan)
6. Bak Pengering lumpur 34 m x 232 m x 0,5 m 4000 m3
7. Fasilitas gedung 390 m2 Laboratorium dan lain-lain
(Sumber : Brosur IPAL Sewon Bantul)

Gambar 2. Tata letak kolam-kolam stabilisasi


1). Data Kuantitas
Jumlah penduduk tahun 2002 = 783.060 orang.
Data Jumlah Mata air dan Debit Produksi disampaikan dalam tabel 1.

2). Data Kualitas :


Dari hasil penelitian kualitas air dan membandingkan dengan persyaratan air bersih yang
ditentukan Gubernur Kepala Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor: 214/KPTS/1991,
terdapat pada tabel 2.

Tampak dari data dalam tabel 2, ada beberapa unsur yang tidak memenuhi syarat yaitu:
1. Merkuri (Hg) = 0,0185 mg/l > 0,001 mg/l
2. Sianida (Cn) = 0,107 mg/l > 0,05 mg/l
3. Nitrat (NO3)= 18,72 mg/l > 10 mg/l
4. BOD =16 mg/l > 5 mg/l
5. COD = 40 mg/l > 10 mg/l
6. Senyawa aktif biru metilen = 0,5212 mg/l > 0,50 mg/l
7. Phenol = 0,0445 mg/l > 0,02 mg/l
Kajian Pemanfaatan Olahan Air IPAL Bantul Untuk Memenuhi Kebutuhan Air Kota Bantul 87
(Siti Fatimah, V.Yenni E. Sulistyawati, JF. Soandrijanie Linggo)
Tabel 1. Jumlah Mata air dan Debit Produksi
Jumlah Produksi
Nama Desa
Mata air (liter/detik)
Sedayu/Argorejo 1 15,0
Kasihan 3 21,6
Bangunjiwo/T.Tirto/Gunung Sempu 2 16,5
Sewon/Bangunhardjo 1 19,0
Banguntapan 1 10,0
Piyungan 1 5,0
Guosari 1 23,0
Bantul 1 14,0
Imogiri/Jetis 1 10,5
Trimulyo 1 7,5
Srandakan/Sanden 1 6,0
Bambanglipuro/Pandak 1 6,0
Dlingo 1 14,0
JUMLAH 168,1
Sumber: PDAM Kabupaten Bantul

4. PEMBAHASAN
1). Kajian Kuantitas Air
Perlu dilakukan perhitungan sampai dengan tahun 2012, maka berdasar data penduduk
(Bantul Dalam Angka) dari tahun 1981 sampai dengan 2002 dilakukan perhitungan jumlah
penduduk, dengan rumus :
pt = po (1 + r ) t
Dari perhitungan, diperoleh bahwa hitungan r = 0,97 % , sehingga:
pt = 783060(1 + 0.97%)10 = 862420 orang
Berarti kebutuhan air untuk tahun 2012 dengan jumlah air 1 liter/detik/1000 orang =
862,42 liter/detik. Tetapi dari data kuantitas terlihat bahwa tidak semua penduduk akan
menggunakan air dari PDAM dan dari data pelayanan yang diberikan = 168,1 liter/ detik
melayani 168.100 orang. Sisanya menggunakan sumur, mata air, dan lain-lain.
Jadi dari data tersebut diperoleh bahwa dengan tambahan dari proses air bersih dari
IPAL sejumlah = 179,4 l/dtk berarti jumlah penduduk yang dapat dilayani menjadi dua kali
lipat.

2). Kajian Kualitas Air


Tampak dari hasil di atas dijumpai beberapa kejanggalan dari bahan kimia yang
terkandung di dalamnya, karena kalau hanya air buangan rumah tangga umumnya tidak
dijumpai beberapa bahan kimia yang ada di atas, dapat dimungkinkan ada beberapa industri
kecil yang mungkin ikut membuang limbahnya ke riool kota.
Beberapa hal yang dapat dilakukan dalam mengatasi atau mengurangi pengaruh dari
bahan kimia tersebut di atas, antara lain sebagai berikut :
a) Merkuri dapat diendapkan antara lain dengan diberi NaCl, tetapi hasil endapannya
tetap tidak boleh dibuang, karena akan meracuni lingkungan.
b) Cyanida, dapat di oksidasi dan dipanaskan
88
Volume 6 No. 1, Oktober 2005 : 82 - 91
Tabel 2. Hasil Pemeriksaan Unsur yang Terkandung Dalam Air
dan Syarat Baku mutunya
No. Parameter Satuan Hasil Syarat Keterangan
FISIKA
o
1 Temperatur C 27 Temperatur air normal
2 Residu terlarut mg/l 175,6 1000
KIMIA
1 PH mg/l 7 5–9
2 Barium (Ba) mg/l 0,050
3 Besi terlarut (Fe) mg/l 0,25 1,000
4 Mangan terlarut (Mn) mg/l 0 0,500
5 Tembaga (Cu) mg/l <0,0054 1,000
6 Seng (Zn) mg/l 0.0216 5,000
7 Crom hexevalent (Cr6+) mg/l <0,005 0,050
8 Cadmium (Cd) mg/l <0,0019 0,005
9 Air raksa (Hg) mg/l 0,0185 0,001 tidak
memenuhi
10 Timbel (Pb) mg/l <0,005 0,050
11 Arsen (As) mg/l - 0,050
12 Selenium (Se) mg/l 0,010
13 Sianida (Cn) mg/l 0,107 0,050 tidak
memenuhi
14 Sulfida (S) mg/l - 0,050
15 Fluorida (F) mg/l 0,23 1,500
16 Sulfat (SO4) mg/l 27 300
17 Chlorida (Cl) mg/l 52 500
18 Amonia bebas (NH3) mg/l 0,006 0,500
19 Nitrat (NO3) mg/l 18,72 10 tidak
memenuhi
20 Nitrit (NO2) mg/l 0,200 0,500
21 Oksigen terlarut (DO) mg/l 9,20 >6
22 BOD mg/l 16 5 tidak
memenuhi
23 COD mg/l 40 10 tidak
memenuhi
24 Senyawa aktif biru metilen mg/l 0,5212 0,500 tidak
memenuhi
25 Fenol mg/l 0,0445 0,020 tidak
memenuhi
26 Minyak dan lemak mg/l Nihil
27 Karbon Chloroform ekstrak mg/l 0,500
28 PCB mg/l Nihil
BAKTERIOLOGI
1 Coliform Per 100ml 2400 10.000
2 Coliform tinja Per 100ml 800 2000

Kajian Pemanfaatan Olahan Air IPAL Bantul Untuk Memenuhi Kebutuhan Air Kota Bantul 89
(Siti Fatimah, V.Yenni E. Sulistyawati, JF. Soandrijanie Linggo)
1.4
800000
1.2
780000
760000 1
740000

Angka (%)
720000 0.8
Ju m lah

700000 0.6
680000 Trend Jumlah
0.4 Trend Persentas e kenaikan
660000 Penduduk
640000 Angka Jumlah 0.2
Pers entase kenaikan
620000 Penduduk populasi
600000 0
19 19 19 19 19 19 19 20

81

84

87

90

93

96

99

02
81 84 87 90 93 96 99 02

19

19

19

19

19

19

19

20
Tahun
Tahun

Gambar 3. Grafik dan fungsi regresi Gambar 4. Grafik trend persentase


jumlah populasi penduduk pertumbuhan penduduk
(Diolah : tim peneliti) (Diolah : tim peneliti)

c) Phenol antara lain dijumpai pada buangan industri batubara, minyak tanah atau
industri yang menggunakan phenol sebagai bahan dasar. Untuk pembersihan phenol
air dapat dilewatkan dalam karbon aktif dengan proses absorbsi.
d) Nitrat antara lain disebabkan oleh pupuk yang tidak terserap oleh tanah, menurut
standar Dep.Kes maksimum 20 mg/l jadi sebenarnya tidak terlalu bermasalah kalau
jumlah < standar tersebut.
Apabila saat ini air IPAL Bantul akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan air
bersih rumah tangga, maka perlu dilakukan perbaikan kualitas terhadap kandungan unsur
yang melebihi syarat batas, maka perlu pertimbangan hal-hal sebagai berikut :
a) Laboratorium yang ada di Yogyakarta antara lain BTKL (Balai Teknik Kesehatan
Lingkungan), UPN (Universitas Pembangunan Nasioal), UGM (Universitas Gajah
Mada), dan Lab. Rekayasa Lingkungan, FT UAJY tidak memiliki peralatan/bahan
pemeriksaan unsur-unsur radiologis secara lengkap. BATAN (Badan Tenaga Atom
Negara) dapat memeriksa tetapi karena biaya pemeriksaan tinggi proses pemeriksaan
laboratorium baru akan dikerjakan setelah memenuhi syarat jumlah minimal tertentu.
Sampai penelitian ini mundur 2 bulan, masih belum ada kepastian kapan akan
diperiksa. Karena terbatasnya waktu penelitian radiologis belum dapat dilakukan.
b) Secara teknis pencemaran yang terjadi pada IPAL ini ini dapat dilakukan, tetapi
dengan biaya mahal pada perbaikan kualitas merkuri dan cyanida. Perlu diingat bahwa
seandainya kandungan merkuri sudah dapat diendapkan merkutri tetap akan berbahaya
bila dibuang pada sembarang tempat.
c) Adanya zat pencemar ini juga tampak dari ikan yang ada di kolam pematangan dan
kolam fakultatif, walau[un bisa tetap hidup, apabila diambil dan sudah mati cepat
membusuk dan berwarna kehitaman.
d) Hasil yang diperoleh dari pemeriksaan laboratorium BTKL, BATAN dan Lab.
Rekayasa Lingkungan FT. UAJY, secara umum dapat dilihat bahwa seandainya tidak
ada industri (misal: kerajinan perak, batik, kulit) yang ikut membuang limbah ke riool
kota dapat dipastikan bahwa air IPAL Bantul ini dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan
air rumah tangga hanya dengan proses yang murah. Tambahan air bersih dari IPAL
sejumlah 179,4 l/dtk. Hal ini akan sangat menolong pemerintah untuk mengatasi

90
Volume 6 No. 1, Oktober 2005 : 82 - 91
masalah air jernih, walau hanya untuk air MCK, menyiram tanaman, cuci mobil atau
untuk glontor, sambil menunggu perbaikan lingkungan untuk memperbaiki recharge
air tanah.

5. KESIMPULAN DAN SARAN


1) Berdasarkan data pemeriksaaan laboratorium, diperkirakan ada buangan limbah
industri yang masuk ke riool kota. Hal ini juga dapat ditandai dengan ikan yang ada di
kolam pematangan dan kolam fakultatif.
1) Untuk saat ini tidak disarankan menggunakan air hasil olahan IPAL sebagai
pemenuhan kebutuhan air bersih, karena memerlukan biaya pengolahan yang cukup
tinggi.
2) Pemeriksaan terhadap unsur radiologis ternyata memerlukan waktu tunggu yang lama
dan biaya yang sangat besar, sedangkan waktu dan biaya penelitian sangat terbatas.
untuk itu dalam penelitian ini hal tersebut belum dapat dilakukan.
3) Diharapkan kontrol lebih baik agar industri yang ada tidak membuang air limbahnya
ke riool kota, tetapi harus melalui pengolahan limbah terlebih dahulu.
4) Hasil dari pemeriksaan laboratorium, air yang keluar dari kolam fakultatif IPAL
langsung dibuang ke Sungai Bedog masih mengandung unsur merkuri dan pencemar
lain yang berbahaya. Hal ini akan berbahaya bagi pengguna air sungai di hilir IPAL.
Berdasarkan penelitian merkuri dapat diendapkan, tetapi waktu pengendapan lama dan
perlu menambah zat kimia yang setelah itu endapannya tetap akan berbahaya.
5) Selama ini hasil sedimentasi pada kolam pematangan, langsung disedot dan
dimasukkan dalam kolam pengering lumpur (drying bed), yang selanjutnya
dimanfaatkan untuk pupuk. Agar diperhatikan agar tidak digunakan sebagai pupuk
tanaman yang dikonsumsi, karena masih belum aman dari unsur pencemar seperti
mercuri,san lain-lain.
6) Tambahan air bersih dari IPAL cukup besar = 179,4 l/dtk (lebih kurang untuk 179400
orang), berarti dapat melayani dua kali jumlah penduduk terlayani saat ini.

DAFTAR PUSTAKA
Kep. Gubernur Kepala Daerah Istimewa Yogyakarta Baku Mutu Lingkungan Daerah untuk
Wilayah Propinsi DIY, , Yogyakarta.
Kusnaedi,2002,Mengolah Gambut dan Air Kotor untuk Air Minum, Penebar Swadaya,
Jakarta.
Sutrisno C.Totok, dkk, 2002, Teknologi Penyediaan Air bersih, PT.Rineka Cipta,
Jakarta

RIWAYAT HIDUP
Ir. Siti Fatimah, MS, adalah staf pengajar Program studi Teknik Sipil Fakultas Teknik
Universitas Atma Jaya Yogyakarta.
Ir. V.Yenni E. Sulistyawati, MT. adalah staf pengajar Program studi Teknik Sipil Fakultas
Teknik Universitas Atma Jaya Yogyakarta.
Ir. JF. Soandrijanie Linggo, MT, adalah staf pengajar Program studi Teknik Sipil Fakultas
Teknik Universitas Atma Jaya Yogyakarta.
Kajian Pemanfaatan Olahan Air IPAL Bantul Untuk Memenuhi Kebutuhan Air Kota Bantul 91
(Siti Fatimah, V.Yenni E. Sulistyawati, JF. Soandrijanie Linggo)
92
Volume 6 No. 1, Oktober 2005 : 82 - 91

Beri Nilai