Anda di halaman 1dari 9

Biaya dan Profit Menurut Konsep Ekonomi dan Akuntansi

Data yang digunakan untuk pengambilan keputusan biasanya diperoleh bukan dari para ahli
ekonomi tetapi dari para akuntan, atau dari bagian pembukuan dalam suatu perusahaan. Data
yang ada mungkin sekali sudah memadai, namun karena data itu dibuat untuk tujuan yang
berbeda-beda, maka data tersebut tidak langsung dapat memenuhi kebutuhan perusahaan untuk
analisis pengambilan keputusan.
Biaya Langsung dan Biaya Tidak Langsung
Dalam suatu aktivitas operasional perusahaan, dikenal dua kelompok biaya yaitu biaya langsung
dan biaya tidak langsung. Biaya langsung (Direct Cost) didefinisikan sebagai semua biaya yang
dapat ditelusuri (dibebankan) kepada produk secara jelas seperti biaya bahan baku, biaya upah
tenaga kerja dan biaya mesin yang dipakai dalam proses produksi. Sedangkan biaya tidak
langsung (Indirect Cost) adalah biaya yang tidak dapat ditelusuri atau sulit dipisahkan dari
produk. Contoh biaya tidak langsung ini adalah gaji manajer, gaji supervisor, biaya administrasi
dan sebagainya. Secara garis besar biaya tidak langsung tersebut, merupakan biaya bersama yang
dapat dibedakan sebagai biaya overhead tetap dan biaya overhead variabel.
Menurut konsep akuntan, biaya langsung bukan hanya terdiri dari biaya tetap (overhead pabrik
tetap) tetapi juga berupa biaya variabel (biaya overhead variabel). Sedangkan menurut konsep
ekonom, biaya langsung adalah biaya tetap.
Di bawah adalah laporan biaya produksi dalam laporan akuntansi dan interpretasi ekonominya
dengan jumlah produksi 10 satuan.
Biaya Produksi
Biaya tenaga kerja
Biaya bahan
Biaya overhead variabel
Biaya variabel total (TVC)
Biaya overhead tetap (TFC)
Biaya Total (TC)

Biaya Eksplisit dan Biaya Implisit

Biaya Total
Rp 100.000
Rp 50.000
Rp 15.000
Rp 165.000
Rp 40.000
Rp 205.000

Biaya Rata-Rata
Rp 10.000
Rp 5.000
Rp 1.500
AVC=Rp 16.500
AFC=Rp 4000
ATC= Rp 20.500

Berdasarkan penggunaan sumberdaya, biaya perusahaan dibedakan menjadi biaya implisit dan
biaya eksplisit. Biaya implisit berkenaan dengan setiap keputusan yang diambil dan jauh lebih
sulit untuk dihitung. Biaya implisit ini tidak memasukkan pengeluaran-pengeluaran tunai, dan
oleh karena itu sering diabaikan dalam analisis pembuatan keputusan.
Menurut ekonom, biaya implisit tidak dimasukkan sebagai unsur yang menentukan untuk dapat
dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan jangka pendek, karena biaya tersebut tidak
berhubungan dengan cash flow perusahaan pada saat pemakaian aktiva tetap pada proses
produksinya. Oleh sebab itu, biaya implisit hanya dihitung sebagai biaya pada saat pembelian
aktiva tetap dan dimasukkan sebagai pengurang pendapatan pada saat itu.
Menurut akuntan, konsep pengambilan keputusan di atas adalah keliru, karena dalam
menghitung biaya haruslah memasukkan bukan hanya biaya-biaya yang langsung mengeluarkan
uang seperti biaya upah, biaya pembelian bahan baku, dll (biaya eksplisit) tetapi juga
memasukkan biaya-biaya yang tidak ada hubungannya dengan pengeluaran uang yang
mempunyai kontribusi terhadap upaya untuk memperoleh penghasilan seperti penyusutan aktiva
tetap. Untuk pengambilan keputusan, biaya implisit harus dikurangkan dari pendapatan agar
diperoleh informasi yang tepat mengenai keuntungan yang diperoleh. Perbedaan antara biaya
implisit dan biaya eksplisit terlihat pada ilustrasi di bawah ini. Tono dan Toni bermaksud
membeli Franchise Frans Pie seharga $25,000, ditambah biaya operasional sebesar $25,000
sehingga total pembelian Franchise menjadi $50,000. Tono membeli Franchise tersebut dengan
seluruh uang tabungannya, dan Toni membiayai investasinya dengan meminjam uang bank dan
dikenai bunga 15% per tahun atau $7,500. Pengeluaran Toni yaitu membayar bunga pinjaman
merupakan biaya implisit, sedangkan pendapatan alternatif yang dapat diperoleh Tono bila
mendepositokan uang tersebut di bank merupakan biaya eksplisit. Selanjutnya, biaya eksplisit
ditambah biaya implicit sama dengan biaya ekonomi.

Biaya Alternatif dan Biaya Historis

Biaya kesempatan/alternatif (Opportunity Cost) mengandung pengertian bahwa semua keputusan


didasarkan pada pilihan-pilihan di antara tindakan-tindakan alternatif. Namun demikian, antara
ekonom dan akuntan sepakat bahwa dalam pengambilan keputusan mengenai harga (nilai)
barang, yang dipertimbangkan bukan harga pada saat barang tersebut dibeli, tetapi harga barang
itu pada saat sekarang atau pada masa yang akan datang (biaya histori).
Contoh. Rudi mendapat hadiah uang sebesar $ 5,000 (lihat gambar 6.1). Rudi sudah lama ingin
memiliki usaha sendiri, dan bermaksud menginvestasikan hadiah tersebut untuk membuka rumah
makan. Usaha rumah makan ini akan memberikan pengahasilan sebesar $ 800 per tahun. Ibunya
menyarankan agar uang tersebut dibelikan rumah dan dikontrakkan dengan pendapatan $ 725 per
tahun. Bila uang tersebut didepositokan dengan bunga 15 % , Rudi tanpa bekerja akan
memperoleh pendapatan $ 750 per tahun tanpa harus bekerja keras. Andaikan Rudi memilih
mendepositokan uangnya, maka Rudi kehilangan $ 50 yang semestinya dia dapatkan bila
membuka usaha rumah makan. Jika Rudi justru memilih membeli rumah dan dikontrakkan,
maka Rudi kehilangan $ 75. Dari alternatif ini, harusnya Rudi memilih investasi rumah makan
karena memberikan nilai yang lebih tinggi (dengan asumsi bahwa $ 800 adalah net profit).
Biaya kesempatan dari sebuah sumber dapat ditentukan oleh nilai penggunaan alternatif yang
terbaru dari sumber tersebut. Biaya opportunity sama dengan nol bila antara alternatif-alternatif
yang terbaik mempunyai nilai yang sama, dan akan digunakan bila salah satunya lebih
menguntungkan.

Biaya dan Laba


Konsep laba yang dianut oleh akuntan berbeda dengan konsep laba yang dipakai oleh para
ekonom. Memang keduanya menanggap bahwa laba merupakan kelebihan penerimaan diatas
biaya produksi. Tetapi bedanya ialah akuntan menghitung laba dengan mengurangi penerimaan
total dengan biaya yang sungguh-sungguh dikeluarkan oleh perusahaan termasuk depresiasi;
sedangkan ekonom menghitung laba sebagai selisih antara penerimaan total dengan biaya
produksi sesuai dengan tingkat efisiensi penggunaan faktor produksi pada penggunaanya yang
terbaik (opportunity cost).

Laba Normal dan Laba Murni


Diantara biaya-biaya implisit perusahaan, laba normal merupakan biaya yang paling penting
yang harus dipenuhi. Biaya normal adalah pendapatan yang akan diterima pemilik perusahaan,
atau pengusaha, apabila dia terlibat dalam suatu kegiatan lain atau pekerjaan. Dengan demikian,
jika pemilik perusahaan tidak memperoleh apa yang dia rasa patut dapatkan, maka dia mungkin
bisa menutup perusahaan tersebut.
Laba murni, juga dikenal sebagai laba ekonomi, adalah kelebihan pendapatan terhadap seluruh
biaya perusahaan, baik eksplisit maupun implisit (yaitu biaya kesempatan) (salah satunya adalah
laba normal). Dengan demikian, laba murni atau ekonomi berbeda dari laba akuntansi karena
laba akuntansi hanya mempertimbangkan biaya eksplisit yang keluar dari kantong.

Analisis Biaya Inkremental

Biaya inkremental adalah biaya yang timbul sebagai akibat dari adanya suatu pengambilan
keputusan. Biaya ini diukur melalui perubahan dari total cost sebagai akibat dari suatu keputusan
tertentu. Biaya inkremental bisa bersifat tetap dan variabel karena suatu keputusan yang baru
mungkin membutuhkan pembelian fasilitas/modal tambahan, tenaga kerja tambahan dan bahan
baku ekstra lainnya. Dengan definisi tersebut, maka dalam proses pengambilan keputusan,
terdapat biaya-biaya yang berkaitan dengan pengambilan keputusan yang dikenal dengan
relevant cost, dan biaya-biaya yang sama sekali tidak berkaitan dengan pengambilan keputusan
atau irrelevant.

Biaya Relevan dan Biaya Tidak Relevan


Biaya relevan adalah biaya inkremental terhadap pengambilan keputusan atau dengan kata lain
biaya yang harus dikeluarkan setelah keputusan diambil. Misalnya biaya implisit, biaya eksplisit,
biaya tetap, biaya variabel dan biaya-biaya lain yang harus dikeluarkan sebagai akibat adanya
pengambilan keputusan.
Biaya tidak relevan adalah biaya yang dikeluarkan sebelum keputusan diambil atau biaya yang
harus dikeluarkan di masa depan yang tidak tergantung pada keputusan yang diambil, misalnya
sunk costs (misal pembelian peralatan, gedung, pabrik) dan commited costs (misal gaji manajer,
biaya leasing, pembayaran hutang).
Contoh: Suatu perusahaan ditawari sebuah kontrak seharga $ 12,000 untuk membangun dan
memasang saluran pemanas dan pengatur suhu udara di sebuah bangunan baru. Biaya tenaga
kerja dan operasional untuk pekerjaan tersebut diperkirakan $ 7,000. Diasumsikan perusahaan
memiliki persediaan bahan baku untuk pekerjaan itu, di mana untuk memperolehnya semula
memerlukan biaya $ 4,000. Penurunan harga telah menghasilkan nilai pasar bahan baku tersebut
saat ini sebesar $ 3,000. Pasar untuk bahan baku tidak akan berubah dalam waktu dekat,
sehingga tidak ada keuntungan apapun yang diharapkan dari penahanan bahan baku tersebut dari
sediaan. Pertanyaannya adalah apakah perusahaan tersebut sebaiknya menerima kontrak
tersebut?

Pertama perlu kita perhatikan bahwa nilai sediaan $ 4,000 merupakan biaya hangus karena biaya
ini tidak dipengaruhi oleh keputusan perusahaan. Hal ini dikarenakan perusahaan menderita
kerugiaan sebesar $ 1,000 atas nilai sediaannya baik perusahaan itu menerima maupun menolak
kontrak tersebut. Biaya bahan yang relevan adalah nilai pasar saat ini untuk bahan baku yang
dibutuhkan tersebut ($ 3,000). Memasukkan biaya ini dalam analisis akan mengarahkan pada
keputusan yang tepat yaitu menerima kontrak tersebut karena menghasilkan keuntungan sebesar
$ 2,000.
Misalkan:
Mempertahankan atau Penggantian Aktiva
PT Wanodya akan mengganti mesin lama dengan mesin baru. Data mesin lama dan mesin baru
sbb :
Mesin Lama
Harga Beli
Nilau buku
Sisa umur ekonomis
Nilai jual saat ini
Biaya variable per tahun
Penjualan Tahunan

$
$
$
$
$

175.000
140.000
4 tahun
90.000
345.000
500.000

Mesin Baru
Harga mesin baru

200.000

Perkiraan umur ekonomis


Nilai jual setelah 4 tahun

4 tahun
0

Penjualan tahunan

500.000

Jawab :
Dengan

Dengan

Biaya

Mesin Lama

Mesin Baru

Penjualan
Biaya Variabel

$ 2.000.000 $
$ (1.380.000) $

Penyusutan mesin baru


Penyusutan mesin lama
Nilai jual mesin lama
Total Laba selama 4 tahun

$
$
$
$

0
(140.000)
0
480.000

Diferensial

2.000.000 $
(1.200.000 $

$
$
$
$

)
(200.000)
(140.000)
90.000
550.000

$
$
$
$

0
180.000
(200.000)
0
90.000
70.000

Analisis Kontribusi
Contribution dari suatu keputusan didefinisikan sebagai pendapatan inkremental (incremental
revenues) dikurangkan dengan biaya inkremental (incremental costs). incremental revenues
adalah pendapatan yang diperoleh sebagai akibat adanya suatu keputusan. Analisis kontribusi
mencerminkan kontribusi atas biaya overhead variabel dan profit yang diperoleh dari adanya
keputusan yang diambil. Apabila keputusan yang diambil memberikan kontribusi yang positif,
maka perusahaan dapat menutupi biaya overheadnya dan akan memperoleh keuntungan pada
akhirnya. Analisis kontribusi menggunakan konsep inkremental dalam masalah pengambilan
keputusan yang dibedakan antara biaya relevan dan biaya tidak relevan.
Adapun pertimbangan-pertimbangan di masa mendatang yang dievaluasi serta dimasukkan
dalam analisis kontribusi adalah:
a. Biaya eksplisit dan penerimaan yang muncul akibat pengambilan keputusan.
b. Biaya kesempatan dan penerimaan yang berkaitan dengan pengambilan keputusan
c. Nilai harapan dari nilai sekarang dari biaya dan penerimaan yang muncul di masa
mendatang sebagai bagian dari pengambilan keputusan.
Tiga jenis pengambilan keputusan umum yang sering menggunakan analisis kontribusi adalah
keputusan dalam memilih proyek, keputusan untuk membeli atau membuat produk, dan
keputusan untuk mengambil atau meninggalkan produk.

Analisis Titik Pulang Pokok

Analisis break even point digunakan untk menentukan berapa produk ( dalam rupiah atau unit
keluaran) yang harus dihasilkan, agar perusahaan minimal tidak akan menderita kerugian.
Analisis ini merupakan peralatan yang berguna untuk menjelaskan hubungan antara biaya,
pendapatan dan volume penjualan (jumlah produksi), sehingga banyak digunakan dalam
menganalisis masalah ekonomi manajerial.
Titik break even merupakan titik dimana pendapatan total sama dengan biaya total (pengeluaran)
atau dalam rumusan dapat diperlihatkan sbb :
Pendapatan = Biaya total (pengeluaran)
P . Q = F + (V. Q)

Karena Q, kuantitas produksi atau jumlah produksi merupakan variabel yang dicari, maka :
P . Q = F + ( V. Q)
F = (P - V.) . Q
Maka Q = F / ( P V )
Dimana :
P = Harga per-unit
Q = Kuantitas yang dihasilkan.
F = biaya tetap total.
V = biaya variabel -per-unit

Gambar berikut menunjukkan laba atau kerugian pada berbagai tingkat volume kegiatan, yang
juga menunjukkan hubungan antara biaya volume laba (keuntungan).