Anda di halaman 1dari 17

PENGENALAN PENYEBAB PENYAKIT TUMBUHAN

Oleh:
Nama
NIM
Rombongan
Kelompok
Asisten

: Moch Iqbal Sufyan A


: B1J013025
:1
:3
: Devi Fatkuljanah

LAPORAN PRAKTIKUM FITOPATOLOGI

KEMENTERIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2015

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Penyakit tanaman merupakan penyimpangan dari sifat normal yang
menyebabkan tanaman tidak dapat melakukan kegiatan fisiologis seperti biasanya.
Ada tiga faktor yang mendukung timbulnya penyakit yaitu tanaman inang, penyebab
penyakit, dan faktor lingkungan. Tanaman inang adalah tanaman yang diserang oleh
patogen. Patogen ada dua macam yaitu fisiopath (bukan organisme) dan parasit
(organisme seperti jamur, bakteri dan virus) (Martoredjo, 1989). Fisiopath
merupakan faktor lingkungan yang tidak tepat bagi tanaman, misalnya suhu yang
terlalu rendah atau terlalu tinggi, adanya gas beracun yang berasal dari pencemaran
atau hasil samping metabolisme tanaman itu sendiri, berkurangnya unsur hara pada
tanah, cuaca yang tidak menguntungkan, kondisi tanah yang kurang baik, serta
kerusakan karena mekanik dan zat-zat kimia (Pyenson, 1979).
Penyebab penyakit dapat dibagi menjadi dua kelompok yaitu biotik atau parasit
dan abiotik atau non parasit. Penyebab penyakit biotik yaitu penyebab penyakit yang
sifatnya menular atau infeksius, contohnya jamur, bakteri, nematoda, virus,
mycoplasma dan tanaman tinggi parasitik. Penyebab penyakit abiotik yaitu penyebab
penyakit yang sifatnya tidak menular atau non infeksius. Penyakit-penyakit karena
penyebab abiotik sering disebut sebagai penyakit fisiologis atau fisiogenis,
sedangkan patogennya disebut fisiopath (Semangun, 1989).
Penyakit tanaman dapat didefinisikan sebagai penyimpangan fungsi dari sel-sel
atau jaringan inang yang diakibatkan oleh gangguan secara terus-menerus oleh
agensia patogenik atau faktor-faktor lingkungan yang mendukung berkembangnya
gejala. Penyebab penyakit tanaman sangat meresahkan jika dibiarkan merajalela,
karena kebutuhan makanan yang berasal dari tanaman sangat diperlukan setiap hari
oleh penduduk di seluruh dunia. Penurunan hasil pangan dari tanaman akan
menyebabkan bencana kelaparan yang dapat berujung pada kematian. Masalah
penyakit ini dapat dicari pemecahannya dengan mengetahui penyebab dari penyakit
tanaman atau patogen terlebih dahulu (Triharso, 1996).
B. Tujuan
Tujuan praktikum kali ini adalah untuk mengetahui berbagai penyebab
penyakit pada tumbuhan.

II. TELAAH PUSTAKA


Patogen merupakan organisme yang mengakibatkan tanaman menderita.
Menderita dalam arti umum adalah berupa perubahan proses fisiologi yang terus
menerus (kontinyu) dan perubahan struktural. Oleh karena itu, tumbuhan yang
mengalami perubahan kontinyu pada proses fisiologi dan strukturalnya dikategorikan
sebagai tumbuhan yang menderita penyakit. Proses perubahan secara umum disebut
dengan gangguan. Penyebab penyakit atau penyebab gangguan disebut dengan
patogen, sedangkan ekspresi perubahan tanamannya disebut dengan gejala. Oleh
karena itu, pemberian nama penyakit secara umum dapat didasarkan kepada nama
patogen, nama gejala, nama bagian tanaman yang bergejala, atau kombinasinya dan
keterangan-keterangan lain (Purnomo, 2006).
Penyakit dapat dikenali dengan mata telanjang hanya dari gejalanya. Penyakit
tumbuhan yang belum ada campur tangan manusia merupakan hasil interaksi antara
patogen, inang dan lingkungan. Konsep ini disebut dengan segitiga penyakit atau
plant disease triangle, sedangkan penyakit tanaman yang terjadi setelah campur
tangan manusia adalah interaksi antara patogen, inang, lingkungan dan manusia.
Konsep ini disebut dengan segi empat penyakit atau plant disease square (Triharso,
1996).
Organisme yang dapat menyebabkan suatu penyakit tanaman disebut patogen
tanaman. Patogen tanaman menurut Purnomo (2006), meliputi organisme-organisme
sebagai berikut :
1. Jamur, ada yang menyebut cendawan atau fungi.
2. Bakteri merupakan mikroorganisme prokariotik bersel tunggal.
3. Virus merupakan kesatuan ultramikroskopik yang hanya mengandung satu atau
dua bentuk asam nukleat yang dibungkus oleh senyawa protein kompleks.
4. Mycoplasma dan MLO (mycoplasma like organism). Mycoplasma juga
merupakan mikroorganisme prokariotik seperti bakteri yang organel-organelnya
tidak bermembran.
5. Nematoda.
6. Tumbuhan tingkat tinggi parasitik.
Patogen dalam menyerang tumbuhan inang dilakukan dengan berbagai macam
cara guna memperoleh zat makanan yang dibutuhkan oleh patogen yang ada pada
inang. Untuk dapat masuk ke dalam inang, patogen mampu mematahkan reaksi
pertahanan

tumbuhan

inang.

Patogen

dalam

menyerang

tumbuhan

akan

mengeluarkan sekresi zat kimia yang akan berpengaruh terhadap komponen tertentu

dari tumbuhan dan aktivitas metabolisme tumbuhan inang. Beberapa cara patogen
untuk dapat masuk ke dalam inangnya, diantaranya dilakukan dengan cara mekanis
dan kimia (Triharso, 1996).

III. MATERI DAN METODE

A. Materi
Alat-alat yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah mikroskop cahaya,
alat tulis, dan kamera.
Bahan yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah preparat awetan
jamur patogen tumbuhan, meliputi Ustilago zeae, Erysiphe sp., Fusarium sp.,
Plasmodiophora brassicae, Phytophthora infestans, Puccinia graminis, Puccinia
arachidis, dan Pyricularia sp.
B. Metode
Cara kerja praktikum pengenalan penyebab penyakit tumbuhan adalah
sebagai berikut:
Preparet awetan jamur patogen tumbuhan

Diamati di mikroskop cahaya

difoto

Digambar skematis

diidentifikasi

B. Pembahasan

Menurut Purnomo (2006), organisme yang dapat menyebabkan suatu


penyakit tanaman disebut patogen tanaman. Patogen tanaman meliputi organismeorganisme sebagai berikut :
1. Jamur,

ada

yang

menyebut

cendawan

atau

fungi.

Jamur

merupakan

mikroorganisme yang inti selnya bermembran (eukariotik), tidak mempunyai


klorofil, berkembang biak secara seksual dan atau aseksual dengan membentuk
spora, tubuh vegetatif (somatik) berupa sel tunggal atau berupa benang-benang
halus (hifa, miselium) yang biasanya bercabang-cabang, dinding selnya terdiri
dari sellulosa dan atau khitin bersama-sama dengan molekul-molekul organik
kompleks lainnya. Penyakit rebah semai yang disebabkan oleh jamur patogen
Sclerotium rolfsii merupakan salah satu penyakit penting pada tanaman kedelai
(Abidin et al., 2015).
2. Bakteri. Bakteri merupakan mikroorganisme prokariotik bersel tunggal. Ada
kurang lebih 200 jenis bakteri yang dapat menyebabkan penyakit tanaman.
Contoh spesiesnya adalah Erwinia carotafora yang menyebabkan busuk basah
pada wortel.
3. Virus merupakan kesatuan ultramikroskopik yang hanya mengandung satu atau
dua bentuk asam nukleat yang dibungkus oleh senyawa protein kompleks. Asam
nukleat dan protein disintesis oleh sel inang yang sesuai dengan memanfaatkan
mekanisme sintesis dari sel-sel inang untuk menghasilkan substansi viral (asam
nukleat dan protein).
4. Mikoplasma dan MLO (mycoplasma like organism). Mikoplasma juga merupakan
mikroorganisme prokariotik seperti bakteri yang organel-organelnya tidak
bermembran. Informasi genetiknya berupa rantai DNA yang berbentuk cincin dan
terdapat bebas dalam sitoplasma. Mikoplasma tidak mempunyai dinding sel dan
hanya diikat oleh unit membran berupa triple-layered, mempunyai sitoplasma,
ribosom, dan substansi inti yang tersebar dalam sitoplasma. Mikoplasma dapat
berbentuk ovoid sampai filamen (benang) dan kadang-kadang berbentuk
menyerupai hifa bercabang-cabang dan biasanya dijumpai di dalam jaringan di
luar sel-sel inang. Mycoplasma like organism (MLO) tanaman biasanya terdapat
dalam cairan floem. Berbeda dengan mikoplasma, MLO dapat tumbuh pada
sitoplasma sel-sel parenkim floem. MLO sering dijumpai membentuk koloni.
5. Tumbuhan tingkat tinggi parasittik. Lebih dari 2500 jenis tumbuhan tingkat tinggi
dikenal hidup secara parasitik pada tanaman lain. Tumbuhan parasitik biasanya

mampu menghasilkan biji dan bunga yang mirip dengan biji dan bunga yang
dihasilkan tanaman inangnya.
6. Nematoda. Aktivitas nematoda dalam tubuh tanaman berpengaruh secara kontinyu
terhadap fisiologi inang. Oleh karena itu, nematoda merupakan satu-satunya
kelompok hewan yang dikategorikan ke dalam patogen. Nematoda berbentuk
cacing tetapi dalam taksonomi bukan merupakan cacing (Vermes). Contoh
nematoda patogen adalah Meloidogyne sp., yang menyebabkan bengkak akar pada
tanaman.
Patogen menyerang tumbuhan inang dengan berbagai macam cara guna
memperoleh zat makanan yang dibutuhkan oleh patogen yang ada pada inang. Untuk
dapat masuk ke dalam inang, patogen mampu mematahkan reaksi pertahanan
tumbuhan inang. Patogen mengeluarkan sekresi zat kimia yang akan berpengaruh
terhadap komponen tertentu dari tumbuhan dan juga berpengaruh terhadap aktivitas
metabolisme tumbuhan inang (Triharso, 1996).
Beberapa cara patogen untuk dapat masuk ke dalam inang menurut Triharso
(1996), diantaranya dengan cara mekanis dan cara kimia.
1. Cara Mekanis
Cara mekanis yang dilakukan oleh patogen yaitu dengan cara penetrasi
langsung ke tumbuhan inang. Proses penetrasi ini seringkali dibantu oleh enzim yang
dikeluarkan patogen untuk melunakkan dinding sel. Jamur dan tumbuhan tingkat
tinggi parasit sebelum melakukan penetrasi, diameter sebagian hifa atau radikel yang
kontak dengan inang tersebut membesar dan membentuk semacam gelembung pipih
yang biasa disebut dengan appresorium, yang akhirnya dapat masuk ke dalam lapisan
kutikula dan dinding sel.
2. Cara Kimia
Pengaruh patogen terhadap tumbuhan inang hampir seluruhnya karena proses
biokimia akibat dari senyawa kimia yang dikeluarkan patogen atau karena adanya
senyawa kimia yang diproduksi tumbuhan akibat adanya serangan patogen.
Substansi kimia yang dikeluarkan patogen diantaranya enzim, toksin, zat tumbuh dan
polisakarida. Substansi kimia tersebut memiliki peranan yang berbeda-beda terhadap
kerusakan inang. Misalnya, enzim sangat berperan terhadap timbulnya gejala busuk
basah, sedangkan zat tumbuh sangat berperan pada terjadinya bengkak akar atau
batang. Selain itu, toksin berpengaruh terhadap terjadinya hawar.

Toksin merupakan substansi yang sangat beracun dan efektif pada


konsentrasi yang sangat rendah. Toksin dapat menyebabkan kerusakan pada sel inang
dengan merubah permeabilitas membran sel, inaktivasi atau menghambat kerja
enzim sehingga dapat menghentikan reaksi-reaksi enzimatis. Toksin tertentu juga
bertindak sebagai antimetabolit yang mengakibatkan defisiensi faktor pertumbuhan
esensial. Toksin yang dikeluarkan oleh patogen dapat dikelompokkan menjadi tiga,
yaitu patotoksin, vivotoksin dan fitotoksin (Triharso, 1996).
Zat tumbuh yang terpenting yaitu auksin, giberellin dan sitokinin. Selain itu
etilen dan penghambat tumbuh juga memegang peranan dalam kehidupan tumbuhan.
Patogen tumbuhan dapat memproduksi beberapa macam zat tumbuh atau zat
penghambat yang sama dengan yang diproduksi oleh tumbuhan, dapat memproduksi
zat tumbuh lain atau zat penghambat yang berbeda dengan yang ada dalam
tumbuhan, atau dapat memproduksi substansi yang merangsang atau menghambat
produksi zat tumbuh atau zat penghambat oleh tumbuhan (Triharso, 1996).
Patogen seringkali menyebabkan ketidakseimbangan sistem hormonal pada
tumbuhan dan mengakibatkan pertumbuhan yang abnormal sehingga pada tumbuhan
yang terinfeksi oleh patogen tersebut akan timbul gejala kerdil, pertumbuhan
berlebihan, terlalu banyaknya akar-akar cabang dan berubahnya bentuk batang.
Beberapa patogen juga mungkin dapat mengeluarkan substansi lendir yang
menyelubungi tubuh patogen tersebut untuk melindungi diri dari faktor lingkungan
luar yang tidak menguntungkan. Peranan polisakarida pada penyakit tumbuhan
hanya terbatas pada layu. Polisakarida dalam jumlah yang cukup banyak akan
terakumulasi pada xilem yang akan menyumbat aliran air pada tanaman (Triharso,
1996).
Praktikum kali ini menggunakan preparat awetan jamur patogen tumbuhan,
meliputi Ustilago zeae, Erysiphe sp., Fusarium sp., Plasmodiophora brassicae,
Phytophthora infestans, Puccinia graminis, Puccinia arachidis, dan Pyricularia sp.
Adapun deskripsi dari masing-masing spesies tersebut adalah sebagai berikut:
1. Ustilago zeae
Ustilago zeae merupakan jamur yang tergolong patogen terhadap tanaman.
Patogen ini menyebabkan penyakit gosong (smut) pada biji jagung yang ditandai
dengan timbulnya spora yang lama kelamaan menjadi berwarna kehitaman. Menurut
Warisno (1998), penyakit gosong bengkak (corn smut) disebabkan oleh cendawan
Ustilago zeae. Penyakit ini seringkali menyerang tongkol jagung. Cendawan masuk

ke dalam biji ditandai dengan pembengkakan dan timbulnya kelenjar (gall). Karena
pembengkakan tersebut, klobot jagung terdesak keluar dan rusak. Pembengkakan ini
dapat menyebabkan kelenjar pecah dan spora menyebar kemana-mana.
Klasifikasi Ustilago zeae menurut Semangun (1989) adalah sebagai berikut:
Kingdom

: Fungi

Divisi

: Basidiomycota

Classis

: Ustilaginomycetes

Ordo

: Ustilaginales

Familia

: Ustilaginaceae

Genus

: Ustilago

Spesies

: Ustilago zeae

2. Erysiphe sp.
Erysiphe sp. merupakan jamur yang tergolong patogen terhadap tanaman.
Patogen ini menyebabkan penyakit embun tepung pada tanaman kacang-kacangan
yang ditandai dengan timbulnya tepung putih seperti miselium yang tidak terlalu
tebal yang menutupi permukaan bawah daun. Menurut Hardaningsih dan Yusmani
(2001), penyakit embun tepung (Erysiphe polygoni) dan penyakit tular tanah
(Sclerotium rolfsii, Rhizoctonia solani, Fusarium, Pythium) merupakan gangguan
utama pada tanaman kacang hijau di Indonesia.
Klasifikasi Erysiphe sp. menurut Semangun (1989) adalah sebagai berikut:
Kingdom
: Fungi
Phylum
: Ascomycota
Classis
:Leotiomycetes
Subclassis
: Leotiomycetidae
Ordo
: Erysiphales
Familia
: Erysiphaceae
Genus
: Erysiphe
Spesies
: Erysiphe sp.
3. Fusarium sp.
Jamur Fusarium sp. merupakan jamur yang tersebar luas baik pada tanaman
maupun dalam tanah. Beberapa spsesies dari jamur ini dapat memproduksi
mycotoxin dalam biji-bijian yang dapat mempengaruhi kesehatan manusia maupun
hewan jika memasuki rantai makanan. Toksin utama yang dihasilkan oleh jamur ini
adalah fumonisin dan trichothecenes. Jamur ini juga dapat menyebabkan penyakit
pada tanaman, yang disebut dengan penyakit layu fusarium. Peyakit layu fusarium
adalah penyakit sistemik yang menyerang tanaman mulai dari perakaran sampai titik
tumbuh (Sunarmi, 2010).

Penyakit layu fusarium ini ditandai dengan daun menguning, daun terpelintir,
dan pangkal batang membusuk. Asam fusarat yang dihasilkan oleh Fusarium sp.
merupakan racun yang larut dalam air. Toksin ini menggangu permeabilitas membran
dan akhirnya mempengaruhi aliran air pada tanaman. Adanya hambatan pergerakan
air dalam tubuh tanaman menyebabkan terjadinya layu patologis yang tidak bisa
balik (irreversibel) yang berakibat kematian tanaman, seperti kasus-kasus penyakit
layu pada cabai, kentang dan tomat (Sunarmi, 2010).
Menurut Harizon (2009), penyakit layu fusarium pada tomat merupakan
masalah penting bagi petani. Penyakit ini dapat terjadi pada semua umur tanaman
tomat dan menjadi penyakit utama di hampir semua daerah sentra produksi tomat di
Indonesia. Selama ini para petani menggunakan fungisida sintetis dalam
mengendalikan Fusarium oxysporum. Pemakaian fungisida sintetis secara terusmenerus selain mempercepat timbulnya ras-ras patogen yang resisten, juga dapat
menyebabkan keracunan terhadap manusia sebagai pemakainya.
Klasifikasi Fusarium sp. menurut Sunarmi (2010) adalah sebagai berikut:
Kingdom

: Fungi

Divisi

: Eumycota

Subdivisi

: Deutromycotina

Classis

: Hypomycetes

Ordo

: Moniliales

Familia

: Tuberculariaceae

Genus

: Fusarium

Spesies

: Fusarium sp.

4. Plasmodiophora brassicae
Plasmodiophora brassicae merupakan jamur yang tergolong patogen
terhadap tanaman. Patogen ini menyebabkan penyakit akar gada pada tanaman famili
Brassicaceae yang ditandai dengan pembesaran sel yang abnormal sehingga
mengakibatkan terbentuknya tumor yang menyerupai bonggol pada akar tanaman.
Penyakit akar gada (clubroot) yang disebabkan oleh Plasmodiophora brassicae Wor.
merupakan salah satu penyakit tular tanah yang sangat penting pada tanaman kubiskubisan (Brassica spp.) di seluruh dunia (Karling, 1968). Penyakit ini juga sering
disebut penyakit akar pekuk (Semangun, 1989). Tingkat produksi tanaman kubis
kubisan sering kali dipengaruhi oleh serangan patogen P. brassicae yang
menyebabkan bengkak pada akar. Pembengkakan pada jaringan akar dapat

mengganggu fungsi akar seperti translokasi zat hara dan air dari dalam tanah ke
daun. Keadaan ini mengakibatkan tanaman layu, kerdil, kering, dan akhirnya mati
(Karling, 1968).
Klasifikasi Plasmodiophora brassicae menurut Semangun (1989) adalah
sebagai berikut:
Kingdom

: Fungi

Filum

: Myxomicota

Classis

: Myxomicetes

Ordo

: Plasmodiophorales

Familia

: Plasmodiophoraceae

Genus

: Plasmodiophora

Spesies

: Plasmodiophora brassicae

5. Phytophthora infestans
Phytophtora infestans memiliki ciri-ciri yaitu miseliumnya yang tidak
bersekat-sekat. Warna miseliumnya putih, jika tua mungkin agak coklat kekuningkuningan, kebanyakan sporangium berwarna kehitam-hitaman. Hifanya berkembang
sempurna. Cendawan ini memiliki sporangium yang berbentuk bulat telurdan mampu
memproduksi spora aseksual yang disebut sporangia (Istiarini, 2009 dalam Sunarmi,
2010). Phytophthora infestans merupakan patogen perusak tumbuhan yang sangat
dikenal sebagai pemicu kerusakan (Late Blight) pada kentang (Goss et al., 2014).
Phytophthora infestans merupakan jamur yang tergolong patogen terhadap
tanaman. Patogen ini menyebabkan penyakit hawar pada daun tanaman kentang yang
ditandai dengan adanya bercak nekrotik, kering dan busuk di tepian daun kentang.
Jika suhu tidak telalu rendah dan kelembaban cukup tinggi, bercak-bercak tadi akan
meluas dengan cepat dan mematikan seluruh daun. Gejala awalnya tampak berupa
bercak-bercak hijau kelabu pada permukaan bawah daun, kemudian berubah menjadi
coklat tua. Semula serangannya hanya terjadi pada daun-daun bawah, lambat laun
merambat ke atas dan menjalar ke daun-daun yang lebih muda. Bila udara kering,
jaringan yang sakit akan mengkerut, melengkung, dan memutar. Jika udara lembab,
akibatnya akan semakin parah. Jaringan daun akan segera membusuk dan tanaman
akan mati (Trubus, 2004 dalam Sunarmi, 2010).
Penyakit hawar daun yang disebabkan oleh jamur Phytophthora infestans ini
menjadi salah satu penyakit penting pada tanaman kentang di Indonesia. Penyakit
hawar daun sangat merusak dan sangat sulit dikendalikan karena Phytophthora
infestans merupakan jamur patogen yang memiliki patogenitas yang beragam.

Umumnya patogen ini berkembang biak secara aseksual dengan zoospora, tetapi
dapat juga berkembang biak secara seksual dengan oospora. Jamur ini bersifat
heterolik,

artinya

perkembangbiakannya

secara

seksual

atau

pembentukan

oosporanya hanya terjadi bila adanya perkawinan silang antara dua isolat
Phytophthora infestans yang mempunyai tipe perkawinan berbeda.
Phytophthora infestans merupakan patogen utama perusak tanaman kentang.
Phytophthora infestans merupakan golongan Oomycetes, garis keturunan yang
berbeda dari eukariota menyerupai jamur yang berhubungan erat dengan organisme
seperti alga coklat dan diatom. Sebagai agen dari kelaparan kentang di Irlandia pada
pertengahan abad kesembilan belas, Phytophthora infestans telah memberikan
pengaruh besar pada sejarah manusia yang mengakibatkan kelaparan dan pergeseran
populasi. Sampai saat ini, Phytophthora infestans mempengaruhi pertanian dunia
dengan menyebabkan penyakit kentang yang merupakan tanaman pangan terbesar
keempat dan sekaligus alternatif kritis pengganti tanaman sereal sebagai bahan
pangan utama manusia di seluruh dunia ( Haas et al., 2009).
Klasifikasi Phytophthora infestans menurut Sunarmi (2010) adalah sebagai
berikut:
Kingdom

: Fungi

Divisi

: Eumycota

Classis

: Oomycetes

Ordo

: Peronosporales

Familia

: Pythiaceae

Genus

: Phytophthora

Spesies

: Phytophthora infestans

6. Puccinia graminis
Puccinia graminis merupakan jamur yang tergolong patogen terhadap
tanaman. Patogen ini menyebabkan penyakit karat daun pada tanaman serealia.
Jamur ini memiliki empat fase perkembangan yaitu picnia, aecia, uredia, dan telia.
Menurut Zuroaidah (2012), cendawan karat batang, karat hitam atau karat sereal
disebabkan oleh cendawan Puccinia graminis dan merupakan penyakit yang
signifikan efektif menyerang tanaman sereal.
Disebut karat karena digunakan untuk menunjukkan kepada sekelompok
cendawan yang gejalanya seperti berwarna karat yang penyakitnya disebabkan oleh
cendawan. Karat merupakan salah satu penyakit tanaman yang paling merusak
dengan beberapa parasit yang khusus menyerang tanaman inang tertentu. Beberapa

bentuk khusus dari karat (disebut ras) menyerang varietas tertentu dalam spesies
tanaman. Contohnya ras Puccinia graminis yang hanya menyerang gandum
sementara ras lain dari P. graminis hanya menyerang barley (Zuroaidah, 2012).
Karat dikenal menjadi sangat merusak pada tanaman biji-bijian seperti
gandum, oat dan barley dengan menyebabkan kekurangan produksi yang
mengakibatkan kelaparan dan merusak perekonomian seluruh negara. Karat juga
menyerang sayuran, kapas, kedelai, bunga, kopi, apel dan pohon pinus. Potensial
kerusakan disebabkan oleh jenis organisme penyebab penyakit yang tidak dapat
diperkirakan karena spesies jamur karat mencapai 4000 spesies (Zuroaidah, 2012).
Pycnia (atau spermagonia) dihasilkan dari infeksi pada daun muda barberry
oleh basidiospores yang terjadi pada tahap seksual dari siklus hidup cendawan
tersebut. Ketika hifa diterima dari satu pycnidium yang telah dibuahi oleh
pycniospores (atau spermatia) dari tipe perkawinan pycnidium yang compatible, selsel haploid tersebut menjadi dikaryotik. Hifa yang dibuahi membentuk aecium, pada
bagian bawah daun barberry, yang menghasilkan rantai aeciospores yang dikelilingi
tampak seperti bentuk dari sel cendawan. Setiap aeciospores berisi 2 inti yang
tampak seperti urediniospores dan tampak seperti sel-sel aecium. Aeciospores yang
dibawa oleh angin, dan menginfeksi sereal yang menembus melalui stomata. Setelah
tanaman sereal terinfeksi, aeciospores berkembang dan membentuk uredia dibawah
epidermis tanaman, kemudian menghasilkan urediniospores dikaryotik. Uredia ini
akhirnya pecah pada epidermis tanaman dan kembali menyebar oleh angin ke sekitar
tanaman sereal, melanjutkan siklus hidupnya (Zuroaidah, 2012).
Klasifikasi Puccinia graminis menurut Semangun (1989) adalah sebagai
berikut:
Kingdom

: Fungi

Divisi

: Basidiomycota

Classis

: Pucciniomycetes

Ordo

: Pucciniales

Familia

: Pucciniaceae

Genus

: Puccinia

Spesies

: Puccinia graminis

7. Puccinia arachidis
Puccinia arachidis merupakan jamur yang tergolong patogen terhadap
tanaman. Patogen ini menyebabkan penyakit karat daun pada tanaman kacangkacangan yang disertai dengan mencokelatnya warna daun. Menurut Pitojo (2005),

penyakit karat daun disebabkan oleh cendawan Puccinia arachidis. Cendawan


tersebut dapat menyerang tanaman kacang tanah sejak saat berbunga hingga tanaman
tersebut tua. Gejala serangan awal berupa bintik-bintik kuning pada permukaan
bawah daun-daun tua, semakin lama warna bintik menjadi cokelat tua dan akan
keluar spora berupa tepung halus. Spora ini dapat disebarkan melalui angin. Daun
yang terserang karat akan mengering dan rontok sebelum waktunya. Serangan karat
banyak terjadi pada musim hujan (Martoredjo, 1989).
Klasifikasi Puccinia arachidis menurut Semangun (1989) adalah sebagai
berikut:
Kingdom

: Fungi

Divisi

: Basidiomycota

Classis

: Pucciniomycetes

Ordo

: Pucciniales

Familia

: Pucciniaceae

Genus

: Puccinia

Spesies

: Puccinia arachidis

8. Pyricularia sp.
Pyricularia sp. merupakan jamur yang tergolong patogen terhadap tanaman.
Patogen ini menyebabkan penyakit bercak daun pada tanaman jagung yang ditandai
dengan menguningnya daun dan munculnya bintik-bintik pada permukaan daun
jagung (blast). Inang utama Pyricularia sp yaitu padi dengan inang alternatif adalah
rerumputan (Digitaria cilaris, Echinochloa colona) (Teng et al., 1991 dalam
Sudiadnyana, 2012) serta dapat juga memanfaatkan jagung untuk mempertahankan
hidupnya. Miselia patogen tersebut dapat bertahan selama setahun pada jerami sisasisa panen. Spora yang berasal dari tanaman terinfeksi atau yang disebarkan angin
ditemukan sekitar 2 km dari sumber inokolum awal, masih dapat menginfeksi pada
tanaman sehat (Ou, 1985 dalam Sudiadnyana, 2012). Temperatur 24C - 28C adalah
kondisi optimum untuk perkembangan blast. Fase penetrasi spora cendawan ini
hanya membutuhkan waktu yang singkat yaitu 6-8 jam, menginfeksi melalui
stomata, dan periode laten untuk memproduksi kembali spora juga tergolong singkat
sekitar 4 hari (Hashioka, 1985 dalam Sudiadnyana, 2012).
Klasifikasi Pyricularia sp. menurut Dwidjoseputro (1975) adalah sebagai
berikut:
Kingdom

: Fungi

Divisi
Subdivisi
Classis
Subclassis
Ordo
Familia

: Mycota
: Eumycotina
: Deuteromycetes
: Sordariomycetidae
: Moniliales
: Moniliaceae

Genus

: Pyricularia

Spesies

: Pyricularia sp.

V. KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil praktikum penyebab penyakit tumbuhan dapat diperoleh
kesimpulan yaitu Phytophthora infestant menyebabkan penyakit hawar daun pada
kentang, Ustilago zeae menyebabkan penyakit gosong pada buah jagung,
Plasmodhiphora brassicae menyebabkan penyakit akar gada pada kubis-kubisan,
Erysiphe sp. menyebabkan penyakit embun tepung pada kacang, Pyricularia sp.
menyebabkan penyakit bercak pada daun jagung, Fusarium sp. menyebabkan
penyakit layu pada sayur-sayuran, Puccinia graminis menyebabkan penyakit karat
daun pada serealia, serta Puccinia arachidis menyebabkan penyakit karat daun pada
kacang-kacangan.
B. Saran
Sebaiknya preparat yang digunakan lebih baik lagi sehingga mudah diamati
dan tidak hanya patogen dari jamur saja, tetapi mewakili patogen yang lain juga.

Selain itu, hendaknya asisten lebih tegas lagi dalam proses praktikum agar praktikum
berjalan lebih tertib.

DAFTAR REFERENSI
Abidin, Z., Aini, Q., Abadi, A, L. 2015. Pengaruh Bakteri Bacillus sp. dan
Pseudomonas sp. Terhadap Pertumbuhan Jamur Patogen Sclerotium rolfsii
Sacc. Penyebab Penyakit Rebah Semai Pada Tanaman Kedelai. Jurnal HPT,
3(1), pp. 1-10.
Dwidjoseputro, D. 1975. Pengantar Mikologi. Malang : Alumni.
Goss, E, M., Tabima, J, F., Cooke, D, L., Silvia Restrepo, et al., 2014. The Irish
potato famine pathogen Phytophthora infestans originated in central Mexico
rather than the Andes. PNAS, 111(24), pp. 87918796.
Haas, B. J., S. Kamoun., M. C. Zody., R. H. Y. Jiang., R. E. Handsaker., L. M.
Cano., M. Grabherr., C. D. Kodira., S. Raffaele., T. T. Alalibo., T. O.
Bozkurt., A. M. V. Ah-Fong., L. Alvarado., V. L. Anderson., M. R.
Armstrong, A. Avrova., Laura B., F. Govers., P. R. J. Birch., S. C. Whisson.,
H. S. Judelson and C. Nusbaum1. 2009. Genome Sequence and Analysis of
the Irish Potato Famine Pathogen Phytophthora infestans. Nature. 461: 393398.
Hardaningsih, S. dan Yusmani. 2001. Identifikasi Jamur Antagonis untuk
Pengendalian Jamur Tular Tanah pada Tanaman Kedelai. Laporan Teknik
Tahun 2000. Balitkabi.
Harizon. 2009. Biofungisida Berbahan Aktif Eusiderin I Untuk Pengendalian Layu
Fusarium Pada Tomat. Biospecies. 2(1): 30-41.
Karling, J. S. 1968. The Plasmodiophorales. 2nd edition. New York and London :
Hafner Publishing Co.
Martoredjo, T. 1989. Pengantar Ilmu Penyakit Tumbuhan Bagian Dari Perlindungan
Tanaman. Yogyakarta : Andi Offset.
Pitojo, Setijo. 2005. Benih Kacang Tanah. Yogyakarta : Kanisius.

Purnomo, B. 2006. Dasar-Dasar Perlindungan Tanaman. Penggolongan Penyakit


dan Patogen Tumbuhan.
Pyenson, L. 1979. Fundamental Of Entomology and Plant Patology. Avi Publishing
Co. Yogyakarta : Wasport Press.
Semangun, H. 1989. Penyakit-penyakit Tanaman Hortikultura di Indonesia.
Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.
Sudiadnyana, I. K. A. 2012. Penyakit Blas (Pyricularia Grisea) dan Strategi
Pengendaliannya pada Tanaman Padi. http://aryasudiadnyana.blogspot.com.
Diakses tanggal 24 Oktober 2015.
Sunarmi, N. 2010. Isolasi dan Identifikasi Jamur Endofit dari Akar Tanaman Kentang
sebagai Anti Jamur (Fusarium sp., Phytophthora infestans) dan Anti Bakteri
(Ralstonia solanacaerum). Malang : Fakultas Sains dan Teknologi.
Universitas Negeri Malang Maulana Malik Ibrahim.
Triharso. 1996. Dasar-Dasar Perlindungan Tanaman. Yogyakarta : Gadjah Mada
University Press.
Warisno. 1998. Jagung Hibrida seri budidaya. Yogyakarta : Kanisius.
Zuroaidah. 2012. Penyakit Karat Daun (Puccinia spp.). Cilegon : Balai Karantina
Pertanian kelas II.