Anda di halaman 1dari 18

REFERAT

DASAR-DASAR PEMILIHAN TERAPI TOPIKAL


DALAM BIDANG DERMATOLOGI
Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Pendidikan Dokter Umum
Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta

DISUSUN OLEH:
Rizma Alfiani Rachmi, S.Ked

J510155024

Nourma Yustia Sari, S.Ked

J510155045

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2015

DASAR-DASAR PEMILIHAN TERAPI TOPIKAL


DALAM BIDANG DERMATOLOGI
REFERAT
Diajukan Oleh :

Rizma Alfiani Rachmi, S.Ked (J510155024)


Nourma Yustia Sari, S.Ked (J510155045)

Telah disetujui dan disahkan oleh Bagian Program Pendidikan Profesi Fakultas Kedokteran
Universitas Muhammadiyah Surakarta
Pada hari

,tanggal

Pembimbing

dr. Hj. Flora Ramona S.P., M.Kes, Sp.KK

(.........................................)

dr. Ratih Pramuningtyas, Sp.KK

(.........................................)

Dipresentasikan dihadapan :
dr. Hj. Flora Ramona S.P., M.Kes,Sp.KK

(.........................................)

dr. Ratih Pramuningtyas, Sp.KK

(.........................................)

Disahkan Ka. Prodi Profesi FK UMS :


dr. D. Dewi Nirlawati

(.........................................)

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2015

BAB I
PENDAHULUAN
Kulit merupakan organ tubuh terbesar dan memiliki banyak fungsi penting, di
antaranya adalah fungsi proteksi, termoregulasi, respons imun, sintesis senyawa biokimia,
dan peran sebagai organ sensoris. Terapi untuk mengkoreksi berbagai kelainan fungsi tersebut
dapat dilakukan secara topikal, sistemik, intralesi, atau menggunakan radiasi ultraviolet.
Terapi topikal didefinisikan sebagai aplikasi obat dengan formulasi tertentu pada kulit yang
bertujuan mengobati penyakit kulit atau penyakit sistemik yang bermanifestasi pada kulit. 4
Keberhasilannya bergantung pada pemahaman mengenai struktur sawar kulit,
mekanisme absorpsi obat melalui kulit, dan pemilihan vehikulum yang sesuai. Perkembangan
teknologi juga membawa perubahan yang besar dalam formulasi obat topikal. Berbagai
vehikulum terbaru yang ditujukan untuk meningkatkan absorpsi obat perkutan telah
ditemukan dan diteliti secara luas efektivitasnya, diantaranya emulsi ganda, nanopartikel, dan
liposom.2
Meskipun demikian, pengobatan topikal juga memiliki berbagai kelemahan misalnya:
1) dapat menimbulkan iritasi dan alergi (dermatitis kontak), 2) permeabilitas beberapa obat
melalui kulit yang relatif rendah, sehingga tidak semua obat dapat diberikan secara topikal,
dan 3) terjadinya denaturasi obat oleh enzim pada kulit.4
Terapi topikal merupakan cara yang sering digunakan dermatologis dalam mengobati
berbagai kelainan/penyakit kulit. Sediaan topikal yang digunakan dapat berupa sediaan jadi
yang diproduksi oleh produsen obat maupun sediaan topikal yang diracik sendiri oleh
dermatologis. Kegagalan terapi topikal dapat disebabkan oleh kesalahan dalam pembuatan
sediaan topikal oleh dermatologis. Berkaitan dengan hal itu, seorang dermatologis perlu
mengetahui prinsip dasar membuat sediaan obat topikal, agar obat topikal yang digunakan
dalam menangani penyakit kulit bekerja dengan baik. 2
Obat topikal terdiri dari vehikulum (bahan pembawa) dan zat aktif. Saat ini,
banyaknya bentuk sediaan topikal yang tersedia ditujukan agar mendapat efikasi maksimal
dari zak aktif obat dan menyediakan alternatif pilihan bentuk sediaan yang terbaik.
Kecermatan memilih bentuk sediaan obat topikal yang sesuai dengan kondisi kelainan kulit
merupakan salah satu faktor yang berperan dalam keberhasilan terapi topikal, di samping

faktor lain seperti: konsentrasi zat aktif obat, efek fisika dan kimia, cara pakai, lama
penggunaan obat agar diperoleh efikasi yang maksimal dan efek samping minimal.1
Obat-obatan topikal yang dipakai untuk pengobatan hendaknya yang mudah diserap
tetapi tetap terbatas pada permukaan kulit untuk menghindari kemungkinan terjadinya
gangguan sistemik. Stratum korneum membentuk penghalang ilmiah terhadap terjadinya
penetrasi dari bahan-bahan secara topikal. Oleh karena itu untuk memfasilitasi penetrasi suatu
obat haruslah dengan merusak suatu jalan penghalang ini dan hal ini dapat dilakukan dengan
cara hidrasi pada stratum korneum.3
Terapi topikal merupakan metode yang nyaman, namun keberhasilannya bergantung
pada pemahaman klinisi mengenai fungsi sawar kulit. Keuntungan utamanya adalah dapat
memintas jalur metabolisme obat pertama (first-pass metabolism) di hati. Terapi topikal juga
dapat menghindari risiko dan ketidaknyamanan seperti pada terapi yang diberikan secara
intravena, serta berbagai hal yang mempengaruhi penyerapan obat pada terapi peroral,
misalnya perubahan pH, aktivitas enzim, dan pengosongan lambung. Keuntungan lain, yaitu
karena penyerapan sistemik pada terapi topikal dapat diabaikan maka efek samping maupun
interaksi obat pada terapi topikal jarang terjadi.2
Dalam penulisan referat kali ini, penulis bertujuan untuk megangkat tema dasar-dasar
pemilihan terapi topikal dalam bidang dermatologi.
Dengan demikian diharapkan akan diperoleh berbagai manfaat, yaitu:
1. Mengenal berbagai macam bentuk sediaaan topikal dalam bidang dermatologi
2. Mengetahui dasar-dasar pemilihan terapi dalam bentuk sediaan topikal agar mendapat
keefektifan dalam pengobatan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi
Kata topikal berasal dari bahasa Yunani topikas yang artinya berkaitan dengan daerah
permukaan tertentu. Dalam literatur lain disebutkan kata topikal berasal dari kata topas yang
berarti lokasi atau tempat. Secara luas, obat topikal dapat diartikan sebagai obat yang dipakai
ditempat lesi.1
B. Struktur dan fungsi kulit
Kulit terdiri atas lapisan epidermis dan dermis. Kulit, terutama epidermis, berperan
penting dalam penyerapan obat melalui kulit. Epidermis tersusun oleh keratinosit, melanosit,
sel Langerhans, dan sel Merkel. Keratinosit, merupakan sel yang memiliki kemampuan
berproliferasi dan mengandung keratin yang diperlukan sebagai penunjang struktur internal
epidermis. Tiap lapisan pada epidermis mengekspresikan keratin yang berbeda. Keratinosit
yang matang dan mengalami diferensiasi bertambah besar dan kemudian bentuknya makin
gepeng sampai akhirnya inti selnya menghilang. Hasil akhir dari proses diferensiasi ini
adalah terbentuknya stratum korneum. 2
Pembentukan stratum korneum merupakan fungsi yang sangat penting dari epidermis.
Stratum korneum, atau juga sering disebut sebagai lapisan tanduk mencegah terjadinya
kehilangan air, dan mencegah penyerapan zat / agen infeksi yang berbahaya bagi tubuh.
Strukturnya dapat disamakan dengan susunan batu bata dan campuran semen, dengan
korneosit sebagai batu bata dan sawar lipid sebagai campuran semennya. Korneosit tersusun
di bagian atas epidermis dan mengandung protein.2
Di bawah lapisan tanduk terdapat lapisan granular yang mengandung struktur
basofilik yang disebut granula keratohialin. Granula tersebut mengandung prekursor protein
profilagrin yang masih inaktif. Melalui proses defosforilasi dan proteolisis profilagrin diubah
menjadi filagrin yang memiliki fungsi seperti lem yang merekatkan filamen keratin untuk
membentuk makrofibril. Degradasi dari filagrin akan menghasilkan asam amino bebas yang
berperan dalam perlindungan terhadap radiasi sinar ultraviolet dan hidrasi kulit. Dalam
granula keratohialin juga terdapat berbagai prekursor protein lain, yaitu involukrin, lorikrin,

elafin, envoplakin, sistatin A dan protein lain yang berperan dalam pembentukan selubung sel
yang terkornifikasi.2
Selain granula keratohialin, sel pada lapisan granular juga mengandung granula
lamelar, yang merupakan organel yang terikat pada membran sel yang mengandung
glikolipid, glikoprotein, dan fosfolipid. Molekul yang terkandung dalam granula lamelar
tersebut disekresikan di antara lapisan granular dan lapisan tanduk untuk membentuk
mortar/campuran semen yang mengikat korneosit di lapisan tanduk.2
Dermis merupakan lapisan yang berfungsi menyokong epidermis. Ketebalannya 2-3
mm. Pada lapisan tersebut terdapat pembuluh darah, saraf dan struktur lain, yaitu folikel
rambut, kelenjar keringat, dan kelenjar sebum yang juga berperan penting dalam proses
penyerapan obat melalui kulit.2

C. Bahan dasar
Bahan dasar antara lain berbentuk krim,krim berminyak, salep, losio (losiom,lotion),
jeli dan pasta. Bahan dasar merupakan campuran dariu beberapa komponen, yang
diformulasikan agar stabil dan bebas dari kontaminasi mikroba. Pengenceran secara acak
suatu preparat topikal akan mengencerkan bahan pengawet yang ada didalamnya dan jelas
akan memperpendek masa kerjanya secara signifikan. 3
1. Krim
Krim adalah emulsi minyak-dalam-air, relatif tidak berminyak dan mempunyai
aktifitas sebagai emolien yang terbatas. Bentuk krim dapat diterima secara kosmetik
dan dapat dipakai pada keadaan kulit yang lembap maupun kering.
2. Krim Berminyak
Krim berminyak merupakan emulsi air-dalam-lemak yang menggabungkan fungsi
sebagai emolien yang baik, dapat diterima secara kosmetik dan karenanya juga
bermanfaat untuk kulit yang kering.
3. Salep
Bentuk salep merupakan bahan yang berminyak yang mempunyai fungsi sebagai
emolien dan penutup kulit. Adanya efek menutupi dari salep menyebabkan terjadinya
hidrasi pada stratum korneum dan meningkatkan penetrasi bahan aktif yang

dikandungnya. Kekurangan dari bentuk salep adalah secara kosmetik. Salep dapat
menyebabkan pakaian menjadi kotor dan menimbulkan noda yang sulit hilang. Bila
digunakan pada tangan, maka salep akan menempel pada benda apapun nyang
disentuh. Hal ini merupakanm suatu kerugian yang jelas contohnya pada orang-orang
yang bekerja pada bagian administrasi.
4. Losio
Losio merupakan preparat cair yang mempunyai efek sebagai pendingin akibat
terjadinya evaporasi. Bentuk larutan ini bermanfaat untuk mengatasi lesi kulit yang
eksudatif dan lembap dan juga pada dermatosis yang menyerang kulit kepala.
5. Jeli
Bentuk jeli yang tidak berminyak dan jernih dirancang untuk dipakai pada bagianbagian tubuh yang berbulu. Dimana bentuk tersebut secara kosmetik dapat diterima.
6. Pasta
Bentuk pasta terdiri dari bubuk yang biasanya dicampur dengan parafin lunak
dan berfungsi sebagai pelindung, sebagai contoh, dalam pencegahan terjadinya
maserasi pada kulit disekitar ulkus yang mengeluarkan sekret.

D. Bentuk sediaan obat topikal


Obat topikal adalah obat yang mengandung dua komponen dasar yaitu zat pembawa
(vehikulum) dan zat aktif. Zat aktif merupakan komponen bahan topikal yang memiliki efek
terapeutik, sedangkan zat pembawa adalah bagian inaktif dari sediaan topikal dapat berbentuk
cair atau padat yang membawa bahan aktif berkontak dengan kulit. Idealnya zat pembawa
mudah dioleskan, mudah dibersihkan, tidak mengiritasi serta menyenangkan secara kosmetik.
Selain itu, bahan aktif harus berada di dalam zat pembawa dan kemudian mudah dilepaskan. 1
1. Bahan pembawa
Bahan pembawa yang banyak dipakai:

a. Lanolin
Disebut juga adeps lanae,merupakan lemak bulu domba. Banyak
digunakan pada produk kosmetik dan pelumas. Sebagai bahan dasar salep
lanolin bersifat hipoalergik diserap oleh kulit, memfasilitasi bahan aktif obat
yang dibawa.
b. Paraben
Paraben (para-hidroksibenzoat) banyak digunakan sebagai pengawet
sediaan topikal. Paraben dapat juga bersifat fungisid dan bakterisid lemah.
Paraben banyak dipakai pada shampo, sediaan pelembab,gel, pelumas, pasta
gigi.
c. Petrolatum
Merupakan sediaan semisolid yang terdiri dari hidrokarbon (jumlah
karbon lebih dari 25). Petrolatum (vaselin), misalnya vaselin album, diperoleh
dari minyak bumi. Titik cair 10-50C, dapat mengikat kira-kira 30% air.
d. Gliserin
Berupa senyawa cairan kental, tidak berwarna, tidak berbau. Gliserin
memiliki 3 kelompok hidroksil hidrofi lik yang berperan sebagai pelarut dalam
air. Secara umum, zat pembawa dibagi atas 3 kelompok, cairan, bedak, dan
salep. Ketiga pembagian tersebut merupakan bentuk dasar zat pembawa yang
disebut juga sebagai bentuk monofase. Kombinasi bentuk monofase ini berupa
krim, pasta, bedak kocok dan pasta pendingin.
e. Cairan
Cairan adalah bahan pembawa dengan komposisi air. Jika bahan
pelarutnya murni air disebut sebagai solusio. Jika bahan pelarutnya alkohol,
eter, atau kloroform disebut tingtura. Cairan digunakan sebagai kompres dan
antiseptik. Bahan aktif yang dipakai dalam kompres biasanya bersifat
astringen dan antimikroba.
Indikasi cairan
Penggunaan kompres terutama kompres terbuka dilakukan pada :

Dermatitis eksudatif :

Pada dermatitis akut atau kronik yang mengalami eksaserbasi.

Infeksi kulit akut dengan eritema yang mencolok

Efek kompres terbuka ditujukan untuk vasokontriksi yang berarti


mengurangi eritema seperti eritema pada erisipelas.

Ulkus yang kotor

Ditujukan untuk mengangkat pus atau krusta sehingga ulkus menjadi


bersih.
f. Bedak
Merupakan sediaan topikal berbentuk pa-dat terdiri atas talcum
venetum dan oxydum zincicum dalam komposisi yang sama. Bedak
memberikan efek sangat superfi sial karena tidak melekat erat sehingga
hampir tidak mempunyai daya penetrasi.
Oxydum zincicum merupakan suatu bubuk halus berwarna putih
bersifat hidrofob. Talcum venetum merupakan suatu magnesium polisilikat
murni, sangat ringan. Dua bahan ini dipakai sebagai komponen bedak, bedak
kocok dan pasta.
Indikasi bedak
Bedak dipakai pada daerah yang luas, pada daerah lipatan.
g. Salep
Salep merupakan sediaan semisolid berbahan dasar lemak ditujukan
untuk kulit dan mukosa. Dasar salep yang digunakan sebagai pembawa dibagi
dalam 4 kelompok yaitu: dasar salep senyawa hidrokarbon, dasar salep serap,
dasar salep yang bisa dicuci dengan air dan dasar salep yang larut dalam air.
Setiap bahan salep menggunakan salah satu dasar salep tersebut.
Dasar salep hidrokarbon
Dasar salep ini dikenal sebagai dasar salep berlemak seperti vaselin
album (petrolatum), parafi n liquidum. Vaselin album adalah golongan
lemak mineral diperoleh dari minyak bumi. titik cair sekitar 10-50C,
mengikat 30% air, tidak berbau, transparan, konsistensi lunak.
Hanya sejumlah kecil komponen air dapat dicampurkan ke dalamnya. Sifat
dasar salep hidrokarbon sukar dicuci, tidak mengering dan tidak berubah
dalam waktu lama. Salep ini ditujukan untuk memperpanjang kontak

bahan obat dengan kulit dan bertindak sebagai penutup. Dasar salep
hidrokarbon terutama digunakan sebagai bahan emolien.

Dasar salep serap


Dasar salep serap dibagi dalam 2 tipe, yaitu bentuk anhidrat

(paraffin) hidrofilik dan lanolin anhidrat.


Adeps lanae dan bentuk emulsi (lanolin dan cold cream) yang
dapat bercampur dengan sejumlah larutan tambahan. Adeps lanaeialah
lemak murni dari lemak bulu domba, keras dan melekat sehingga sukar
dioleskan, mudah mengikat air. Adeps lanae hydrosue atau lanolin ialah
adeps lanae dengan akua 25-27%.
Salep ini dapat dicuci namun kemungkinan bahan sediaan yang
tersisa masih ada walaupun telah dicuci dengan air, sehingga tidak cocok
untuk sediaan kosmetik.
Dasar salep serap juga bermanfaat sebagai emolien.

Dasar salep yang dapat dicuci dengan air


Dasar salep ini adalah emulsi minyak dalam air misalnya salep

hidrofi lik. Dasar ini dinyatakan dapat dicuci dengan air karena mudah
dicuci dari kulit, sehingga lebih dapat diterima untuk dasar kosmetik.
Dasar salep ini tampilannya menyerupai krim karena fase terluarnya
adalah air. Keuntungan lain dari dasar salep ini adalah dapat diencerkan
dengan air danmudah menyerap cairan yang terjadi pada kelainan
dermatologi.

Dasar salep larut dalam air.


Kelompok ini disebut juga dasar salep tak berlemak terdiri dari

komponen cair. Dasar salep jenis ini memberikan banyak keuntungan


seperti halnya dasar salep yang dapat dicuci dengan air karena tidak
mengandung bahan tak larut dalam air seperti parafin, lanolin anhidrat.
Contoh dasar salep ini ialah polietilen glikol.
Pemilihan dasar salep untuk dipakai dalam formulasi salep
bergantung pada beberapa faktor, seperti kecepatan pelepasan bahan obat
dari dasar salep, absorpsi obat, kemampuan mempertahankan kelembaban
kulit oleh dasar salep, waktu obat stabil dalam dasar salep, pengaruh obat
terhadap dasar salep.

Pada dasarnya tidak ada dasar salep yang ideal. Namun, dengan
pertimbangan faktor di atas diharapkan dapat diperoleh bentuk sediaan
yang paling baik.
Indikasi salep
Salep dipakai untuk dermatosis yang kering dan tebal (proses
kronik), termasuk likenifi kasi, hiperkeratosis. Dermatosis dengan
skuama berlapis, pada ulkus yang telah bersih.
Kontraindikasi salep
Salep tidak dipakai pada radang akut, terutama dermatosis
eksudatif karena tidak dapat melekat, juga pada daerah berambut
dan lipatan karena menyebabkan perlekatan.
h. Krim
Krim adalah bentuk sediaan setengah padat yang mengandung satu
atau lebih bahan obat terlarut atau terdispersi dalam bahan dasar yang sesuai.
Formulasi krim ada dua, yaitu sebagai emulsi air dalam minyak (W/O),
misalnya cold cream, dan minyak dalam air (O/W), misalnya vanishing
cream.
Contoh krim W/O11:
R/ Cerae alba 5
Cetacei 10
Olei olivarum 60
Aquae ad 100
Contoh krim O/W11:
R/ Cerae lanett N
Olei sesami aa 15
Aquae ad 100
Dalam praktik, umumnya apotek tidak bersedia membuat krim karena
tidak tersedia emulgator dan pembuatannya lebih sulit dari salep. Jadi, jika
hendak menulis resep krim dan dibubuhi bahan aktif, dapat dipakai krim yang
sudah jadi, misalnya biocream. Krim ini bersifat ambifi lik artinya berkhasiat
sebagai W/O atau O/W. Krim dipakai pada kelainan yang kering, superfi sial.
Krim memiliki kelebihan dibandingkan salep karena nyaman, dapat dipakai di
daerah lipatan dan kulit berambut.

Contoh emulsi O/W16:


R/ Acid salicyl 5%
Liq carb deterg 5%
Biocream 20
Aqua 40
Contoh emulsi W/O16:
R/ Acid salicyl 5%
Liq carb deterg 5%
Biocream 20
Ol. oliv 20
Indikasi krim
Krim dipakai pada lesi kering dan superfisial, lesi pada rambut, daerah
intertriginosa.1
i. Pasta
Pasta ialah campuran salep dan bedak sehingga komponen pasta terdiri
dari bahan untuk salep misalnya vaselin dan bahan bedak seperti talcum,
oxydum zincicum. Pasta merupakan salep padat, kaku yang tidak meleleh pada
suhu tubuh dan berfungsi sebagai lapisan pelindung pada bagian yang diolesi.
Efek pasta lebih melekat dibandingkan salep, mempunyai daya
penetrasi dan daya maserasi lebih rendah dari salep.
Indikasi pasta
Pasta digunakan untuk lesi akut dan superfisial.
j. Bedak kocok
Bedak kocok adalah suatu campuran air yang di dalamnya
ditambahkan komponen bedak dengan bahan perekat seperti gliserin. Bedak
kocok ini ditujukan agar zat aktif dapat diaplikasikan secara luas di atas
permukaan kulit dan berkontak lebih lama dari pada bentuk sediaan bedak
serta berpenetrasi kelapisan kulit.

Indikasi bedak kocok


Bedak kocok dipakai pada lesi yang kering, luas dan superfi sial seperti
miliaria. Beberapa contoh komposisi bedak kocok:
R/ Oxidi zincici
Talci aa 20
Glycerini 15
Aguae ad 100
R/ Oxidi zincici
Talci aa 20
Gliserini 15
Aquae
Spirit dil. Aa ad 100
Keuntungan penambahan spritus dilitus ialah : Memberikan efek pendingin
karena akan menguap, dapat melarutkan bahan aktif yang tidak larut dalam air, tetapi
larut dalam alkohol, misalnya mentholium dan camphora. Kedua zat tersebut bersifat
antipruritik. Jika hendak menambahkan bahan padat berupa bubuk hendaknya
diperhitungkan sehingga berat bahan padat tetap 40%. Misalnya, jika ditambahkan
sulfur precipitatum 20 gram, maka berat oxydum zincicum dan talcum harus
dikurangi.
R/ Sulfuris precipitatum 20
Oxidi zincici
Talci aa 10
Glycerini 15
Aquae
Spiritus dil aa ad 100

k. Pasta pendingin
Pasta pendingin disebut juga linimen merupakan campuran bedak,
salep dan cairan. Sediaan ini telah jarang digunakan karena efeknya seperti
krim.
Indikasi
Pasta dipakai pada lesi kulit yang kering. Beberapa vehikulum yang
merupakanpengembangan dari bentuk dasar monofase sediaan lain,
yaitu gel, aerosol foam, cat, jelly,losion.
l. Gel
Gel merupakan sediaan setengah padat yang terdiri dari suspensi yang
dibuat dari partikel organik dan anorganik. Gel dikelompokkan kedalam gel
fase tunggal dan fase ganda. Gel fase tunggal terdiri dari makromolekul
organik yang tersebar dalam suatu cairan sedemikian hingga tidak terlihat
adanya ikatan antara molekul besar yang terdispersi dan cairan. Gel fase
tunggal dapat dibuat dari makromolekul sintetik (misalnya karbomer) atau dari
gomalam (seperti tragakan). Karbomer membuat gel menjadi sangat jernih dan
halus. Gel fase ganda yaitu gel yang terdiri dari jaringan partikel yang terpisah
misalnya gel alumunium hidroksida. Gel ini merupakan suatu suspensi yang
terdiri dari alumunium hidroksida yang tidak larut dan alumunium oksida
hidrat. Sediaan ini berbentuk kental, berwarna putih, yang efektif untuk
menetralkan asam klorida dalam lambung.
Gel segera mencair jika berkontak dengan kuli dan membentuk satu
lapisan. Absorpsi pada kulit lebih baik daripada krim. Gel juga baik dipakai
pada lesi di kulit yang berambut.
Berdasarkan

sifat

dan

komposisinya,

keistimewaan:
Mampu berpenetrasi lebih jauh dari krim.
Sangat baik dipakai untuk area berambut.

sediaan

gel

memilliki

Disukai secara kosmetika.


m. Jelly
Jelly merupakan dasar sediaan yang larut dalam air, terbuat dari getah
alami seperti tragakan, pektin, alginate, borak gliserin.
n. Losion
Losion merupakan sediaan yang terdiri dari komponen obat tidak dapat
larut terdispersi dalam cairan dengan konsentrasi mencapai 20%. Komponen
yang tidak tergabung ini menyebabkan dalam pemakaian losion dikocok
terlebih dahulu. Pemakaian losion meninggalkan rasa dingin oleh karena
evaporasi komponen air.
Beberapa keistimewaan losion, yaitu mudah diaplikasikan, tersebar
rata, favorit pada anak. Contoh losion yang tersedia seperti losion calamin,
losion steroid, losion faberi.
o. Foam aerosol
Aerosol merupakan

sediaan

yang

dikemas

dibawah tekanan,

mengandung zat aktif yang dilepas pada saat sistem katup yang sesuai ditekan.
Sediaan ini digunakan untuk pemakaian lokal pada kulit, hidung, mulut, paru.
Komponen dasar aerosol adalah wadah, propelen, konsentrat zat aktif, katup
dan penyemprot.
Foam aerosol merupakan emulsi yang mengandung satu atau lebih zat
aktif menggunakan propelen untuk mengeluarkan sediaan obat dari wadah.
Foam aerosol merupakan sediaan baru obat topikal. Foam dapat berisi zat aktif
dalam formulasi emulsi dan surfaktan serta pelarut. Sediaan foam yang
pernahdilaporkan antara lain ketokonazol foam dan betametasone foam.
Keistimewaan foam:
Foam saat diaplikasikan cepat mengalami evaporasi, sehingga zat
aktif tersisa cepat berpenetrasi.
Sediaan foam memberikan efek iritasi yang minimal.

p. Cat
Pada dasarnya, cat merupakan bentuk lain solusio yang berisi
komponen air dan alkohol. Penggabungan komponen alkohol dan air
menjadikan sediaan ini mampu bertahan lama. Sediaan baru pernah dilaporkan
berupa solusio ciclopirox 8% sebagai cat kuku untuk terapi onikomikosis.1

DAFTAR PUSTAKA
1.

Berbagai Bentuk Sediaan Topikal

dalam Dermatologi
Yanhendri, Satya Wydya Yenny
Bagian Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Andalas,
RS Dr. M. Djamil, Padang, Indonesia

2.

VEHIKULUM DALAM DERMATOTERAPI TOPIKAL

Anjas Asmara, Sjaiful Fahmi Daili, Tantien Noegrohowati, Ida Zubaedah*


Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin
*Departemen Ilmu Farmasi Kedokteran FKUI/ RSCM
FK Universitas Indonesia/RS. dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta
3. 3.Lecture notes Robin graham-brownTony burnsDermatologi Ed. 8Penerbit
Erlanggahalaman 208
4. 4.VEHIKULUM DALAM DERMATOTERAPI TOPIKAL
Anjas Asmara, Sjaiful Fahmi Daili, Tantien Noegrohowati, Ida Zubaedah*
Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin
*Departemen Ilmu Farmasi Kedokteran FKUI/ RSCM
FK Universitas Indonesia/RS. dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta

5.

Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin FKUI

SARAN NORMA COBA BUKA LINK INI : (BOLEH DIPAKE GAK? BLUM TAK MASUKIN
TAPI)
http://www.medicine.uodiyala.edu.iq/uploads/lectures/dermatology/DRUGS%20THERAPY
%20IN%20DERMATOLOGY.pdf

http://www.merckmanuals.com/professional/dermatologic-disorders/principles-of-topicaldermatologic-therapy/principles-of-topical-dermatologic-therapy