Anda di halaman 1dari 6

Pendahuluan

Kista brankial merupakan kelainan kongenital yang etiologinya diterangkan dalam


beberapa, salah satunya disebabkan oleh karena tidak sempurnanya obliterasi dari aparatus
brankial sehingga sisa-sisa sel akan mencetuskan terbentuknya suatu kista. Pemeriksaan
histologi dan tomografi komputer dapat membantu dalam menegakkan suatu diagnosis kista
brankial dan menyingkirkan diagnosis banding lainnya. Kista brankial sering menimbulkan
gejala benjolan fluktuatif yang muncul pada bagian lateral dari leher dan sering dikeluhkan
pada usia dewasa muda.
Kista celah brankial kedua merupakan suatu masa kistik kongenital pada leher, yang
berada dibawah angulus mandibula dan bagian anterior kista mendorong glandula
submandibular, bagian medial berbatasan dengan arteri karotis eksterna dan vena jugular
interna, dan bagian posterior otot sternokleidomastoideus. Kasus ini sering terjadi pada usia
dewasa muda dengan perbandingan perempuan : laki-laki 3 : 2. Lebih dari 95 % kista celah
brankial berasal dari arkus brankial kedua, 5 % berasal dari arkus brankial pertama dan
ketiga, dan hanya sedikit kasus yang berasal dari arkus brankial ke empat.

Definisi
Kista celeh branchial merupakn sisa aparatus brankial janin yang tertinggal dimana
struktur leher berasal. Kista celah branchial dilapisi oleh campuran epitel skuamosa dan epitel
respiratorius serta dikelilingi oleh dinding jaringan limfoid sehingga mungkin terjadi
kekacauan histologi.
Sebagian besar kista celah branchial (berkembang dari arkus kedua, ketiga dan
keempat) biasanya terdapat sebagai tonjolan atau muara saluran sinus sepanjang batas
anterior otot sternokleidomastoideus. Saluran interna atau muara kista terletak pada derivatif
embriologik sulkus faringeal yang sama, misalnya tonsil (arkus kedua) atau sinus piriformis
(arkus ketiga dan keempat). Letak saluran kista juga ditentukan oleh hubungan embriologik
arkusnya dengan derivat arkus yang terletak proksimal dan kaudal terhadap arkus.

Embriologi
Pada masa embrio awal tidak ada leher yang jelas, memisahkan toraks dari kepala.
Leher dibentuk seperti jantung, dimana berasal dari bawah foregut, yang bermigrasi ke

rongga toraks dan aparatus brankial berkembang menjadi bentuk yang sekarang. Migrasi dari
jantung menrupakan sebab mengapa beberapa struktur dari leher bermigrasi terakhir. Pada
masa embrio awal terdapat beberapa tonjolan sepanjang tepi dari foregut yang juga dapat
dilihat dari luar. Tonjolan ini adalah aparatus brankialis.
Meskipun secara filogenik terdapat enam arkus brankialis, arkus kelima tidak pernah
berkembang pada manusia, dan hanya membentuk ligamentum arteriosum. Hanya empat
arkus yang dapat diligat dari luar. Setiap arkus mempunyai sepotong kartilago, yang
berhubungan dengan kartilago ini adalah arteri, saraf, dan beberapa mesenkim yang akan
membentuk otot. Dibelakang setiap arkus terdapat alur eksternal yang terdiri dari ektodermal
dan kantong yang berisi endodermal. Daerah diantara ektodermal dan endodermal dikenal
dengan lempeng akhir.
Bagian dari struktur yang disebut diatas berkembang menjadi struktur dewasa yang
tetap. Bagian yang seharusnya hilang dapat menetap dan membentuk struktur yang abnormal
pada dewasa. Menetapnya bagian aparatus brankial abnormal dapat menimbulkan berbagai
kista, sinus, dan fistula. Menetapnya ektodermal dari arkus brankialis pertama dapat
menyebabkan kista atau sinus yang terletak sejajar dan bahkan dapat memperbanyak saluran
telinga luar. Jenis yang berbeda dari menetapnya bagian aparatus brankialis dapat
menimbulkan kista, sinus, atau fistula yang terletak pada satu garis bagian dalam teling aluar
melalui kelenjar parotis sampai pada sudut mandibula di depan otot sternokleidomastoideus.
Seperti sisa arkus pertama dapat melalui di depan di belakang, bahkan melalui cabang saraf
kranial.
Ektodermal dan endodermal dari arkus keedua dan ketiga dapat juga menimbulkan
kista, sinus, dan fistula. Normal muara dari arkus kedua, ketiga dan keempat diliputi oleh
pertumbuhan dari daerah yang disebut tonjolan epikardial. Saraf pada derah ini adalah
asesorius spinalis, dan mesenkimnya membentuk otot sternokleiodomastoideus dan trapesius.
Tonjolan epikardial menyatu dengan arkus brankialis kedua, menutupi muara alur brankialis
kedua, ketiga dan keempat sebagai kista ektodermal, sinus servikalis dari His, yang
normalnya menghilang. Juga otot lidah yang berasal dari miotom post-brankhialis, bermigrasi
ke dasar mulut, melalui belakang derivat brankhialis.
Fistula barankhialis kedua terbuka di depan otot sternokleidomastoideus, masuk ke
leher di depan arteri karotis komunis dan interna, biasanya di antara arteri karotis interna dan
eksterna, kemudian diatas glosofaringeus dan hipoglosus ke arah tonsila. Fistula brankhialis

ketiga terbuka di depan otot sternokleidomatoideus, melalui bagian belakang arteri karotis
komunis dan interna di atas saraf hipoglosus tetapi di bawah saraf glosofaringeus dan
stilofaringeus, masuk ke faring di atas derah yang dipersarafi oleh saraf laringeus superior.
Tanda-tanda sisa kantong brankhialis keempat dapat menetap sebagai saluran dari faring
bagian bawah sampai derah tiroid dan kadang-kadang dapat menyebabkan tiroiditis supuratif.

Klasifikasi
Kista brankhialis diklasifikasikan menjadi 4 tipe, yaitu:
a. Kista Celah Brankhial Pertama (First Brankhial Cleft Cyst)
dibagi menjadi 2 tipe, yaitu tipe I dan II. Kista tipe I berlokasi dekat kanalis auditorius
eksterna. Umunya, kista ini berada di inferior dan posterior dari tragus, tetapi bisa saja
berada di glandula parotis atau angulus mandibula. Kista ini sangat sulit dibedakan dengan
masa padat parotis daalam pemeriksaan klinis. Kista tipe II berhubungan dengan glandula
submandibula atau ditemukan dianterior trigonum servikalis.
b. Kista Celah Brankhial Kedua (Second Branchial Cleft Cyst)
kista celah brankial kedua dilaporkan sebanyak 90% dari kelainan brankhialis.
Kebanyakan, kista ini ditemukan disepanjanh pinggir anterior sepertiga atas otot
sternokleidomastoideus. Bagaimanapun, kista ini bisa terlihat dimanapun disepanjang
saluran fistula brankhialis kedua, yang berjalan dari kulit lateral leher, di antara arteri
karotis eksterna dan interna, dan sampai tonsil palatina. Oleh karena itu, kista celah
brankhial sebagai diagnosa pembanding dari masa parafaringeal.
c. Kista Celah Brankhial Ketiga (Third Branchial Cleft Cyst)
kista celah brankhial ketiga dan keempat jarang terjadi. Kista celah brankhial ketiga
terlihat di anterior otot sternokleidomastoideus dan di leher lebih rendah dibandingkan
kista celah brankialis pertama dan kedua. Kista ini berada lebih dalam ke lengkungan
derivatif ketiga dan superfisial ke lengkungan derivatif keempat. Kelainan ini berakhir di
faring pada membran tirohyoid atau sinus piriformis.

d. Kista Celah Brankhial Keempat (Fourth Branchial Cleft Cyst)


kista celah brankial keempat memiliki manifestasi klinis yang sama dengan kista celah
ketiga. Biasanya didapatkan pada anak-anak dan dewasa muda yang sering ditemukan
sebagai abses leher lateral yang telah resisten terhadap pengobatan antibiotik.

Etiologi
Penyebab terjadinya kista brankial masih belum jelas, terdapat 4 teori terjadinya kista
brankial:
1) Teori aparatus brankial
kista terjadi karena tidak selesainya obliterasi dari celah brankial, arkus brankial, dan
kantong brankial. Hal tersebut menyebabkan sisa-sisa sel yang tidak aktif terpacu
tumbuh kemudian membentuk terjadinya suatu kista dan terjadi pada minggu ketiga
sampai minggu ke delapan masa kehamilan.
2) Teori sinus servikal.
Terjadi dikarenakan sisa sel dari sinus servikal, yang mana terbentuk dari
pertumbuhan arkus brankial kedua menuju arkus brankial lima.
3) Teori duktus thimopharingeal.
Kista terjadi karena adanya sisa hubungan antara thimus dan kantong brankial ketiga.
4) Teori inklusi.
Kista ini merupakan inklusi epitel pada kelenjar limfe, banyak mengandung jaringan
limfoid pada dindingnya dan dapat ditemukan pada glandula parotis dan faring.

Diagnosa dan Pemeriksaan


Anamnesis
Untuk mendiagnosa berbagai massa pada leher dimulai dengan anamnesis yang teliti.
Beberapa hal yang perlu ditanyakan diantaranya adalah umur penderita, lesi kongenital jauh
lebih sering terjadi pada individu yang lebih muda, sedangkan lesi keganasan lebih sering
pada yang lebih tua. Kista celah brankhial biasanya terdapat diantara 20-30 tahun. Tidak
adanya tanda-tanda infeksi, lesi keganasan jauh lebih mungkin mengalami pertumbuhan yang
lebih cepat dibandingkan yang jinak. Kista celah brankhial membesarnya lambat dan terletak
pada leher lateral.
Sementara massa di leher dapat menjadi infeksi, massa-massa tersebut yang tampak
meradang atau terinfeksi jauh lebih mungkin menunjukkan lesi yang jinak. Kista celah
brankhial merupakan massa jinak kongenital. Seperti kista duktus tiroglosus, ia sering

membesar dan menjadi sangat nyeri tekan pada infeksi saluran pernapasan atas, kista celah
branchial sering ditemukan sebagai abses leher lateral.
Letak massa sebaiknya digambarkan secara teliti dengan istilah terletak pada garis
tengah atau lateral. Bentuk masa padat atau kistik, massa kistik seringkali merupakan lesi
kongenital seperti kista celah brankhial dan kista tiroglosus.
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik dapat dimulai dengan inspeksi leher untk melihat adanya benjolan
yang nyata. Benjolan ini kadang-kadang lebih baik dilihat daripada diraba. Suruh pasien
menelan dan perhatikan gerakan kartilago tiroidea dan ada atau tidaknya gerakan massa yang
dapat ditentukan. Benjolan lateral bukan kelenjar limfe mencakup aneurisma arteri karotis,
higroma kistik, dan kista celah brankhhial. Aneurisma akan berdenyut, higroma kistik
terutama ditemukan pada anak-anak dan tampak terang pada transluminasi. Kista celah
brankhial biasanya timbul pada orang dewasa sebagai pembengkakan kistik yang keras
dibawah otot sternokleidomastoideus, dekat angulus mandibula.
Palpasi suatu massa dilakukan untuk menentukan letak, konsistensi, ukuran dan
mobilitasnya. Kelenjar limfe yang terpisah-pisah atau menyatu, seperti karet atau keras
seperti batu, bebas atau terfiksir, tidak nyeri atau nyeri tekan. Sedikit banyaknya fluktuansi
massa kistik pada leher, tergantung pada tebal dinding kista, viskositas di dalamnya, dan
tekanan dalam kista. Demikian pula pada transluminasi memberikan hasil yang berbeda-beda
pula.
Auskultasi hanya dilakukan bila diperlukan saja. Bila pasien berusia lebih dari 50
tahun, dengarlah di atas tiap sinus karotikus kemungkinan adanya aliran turbulensi pada
pembuluh darah atau bising karotis.
Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaan diagnostik untuk massa leher dapat dikelompokan menjadi 2 kelompok,
yaitu:
1. Pemeriksaan yang memberikan keterangan tentang sifat-sifat kistik yang khas atau letak
massa. Ultrasonografi, CT scan, MRI scan dan angiografi mmerupakan contoh
pemeriksaan tidak langsung.
a. USG membedakan lesi padat dari lesi kistik dan sebaiknya digunakan pada keadaan
yang jarang dimana hanya ada keterangan yang dibutuhkan.

b. angiografi berguna untuk menilai pembuluh darah, alran darah spesifik dari massa,
atau keadaan arteri karotis tetapi memberikan sedikit keterangan tentang sifat-sifat
fisik yang khas dari massa tersebut.
c. CT scan/MRI scan berguna dalam memberikan keterangan mengenai sifat-sifat yang
khas maupun pembuluh darah massa dan disamping itu juga menjelaskan
hubungannya dengan struktur-struktur yang berdekatan. Karena itu, pemeriksaan
tersebut merupakan pemeriksaan tidka langsung yang sangat berguna dan paling
sering diminta.
d. X-ray dengan menggunakan kontras untuk mengidentifikasi fistula.
2. Pemeriksaan yang mencari diagnosis histologik (pemeriksaan langsung)
Pemeriksaan langsung melibatkan pemeriksaan histologik jaringan dari massa. Jaringan
ini dapat diperoleh pada satu dari tiga jalan yang berbeda yaitu (1) aspirasi jarum halus
(fine needle aspiration), (2) biopsi jarum, dan (3) biposi terbuka.

Penatalaksanaan
Pengobatan terdiri dari pengangkatan pembedahan yang sempurna dari kista dan
salurannya (pembedahan eksisi). Jika terdapat infeksi atau peradangan, sebaiknya diobati dan
dibiarkan sampai tenang sebelum dilakukan pengangkatan. Insisi dan drainase sebaiknya
dihindari. Insisi dan drainase sebaiknya dihindari. Insisi dan drainase karena salah
didiagnosis sebagai abses adenitis servikalis mengakibatkan drainase persisten dan
menyulitkan usaha pengangkatan menyeluruh nantinya. Terapi elektif kista celah brankhial
dengan eksisi teliti, dan mempertahankan struktur disekitarnya. Nervus hipoglosus dan
asesorius terletak dengan dinding kista.

Prognosis
Kista celah brankial umunya memiliki prognosis yang baik jika kista/fistula ini
ditanggulangi secara terampil dan cermat maka hasilnya akan memusakan dan kecil
kemungkinan untuk residif.