Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN PENDAHULUAN

FEBRIS / DEMAM

Oleh:
DYAH AYU ANGGRAENI /1301460021
D-IV KEPERAWATAN POLTEKKES MALANG

KEMENTRIAN KESEHATAN RI
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG
JURUSAN KEPERAWATAN
PROGRAM STUDI D-IV KEPERAWATAN MALANG
Oktober 2015

I. KONSEP DASAR PENYAKIT


A. PENGERTIAN
Menurut Suriadi (2001), demam adalah meningkatnya temperatur suhu tubuh
secara abnormal.
Febris (demam) yaitu meningkatnya temperature tubuh secara abnormal
(Asuhan Keperawatan Anak 2001).
Febris (demam) yaitu meningkatnya suhu tubuh yang melewati batas normal
yaitu lebih dari 38 0C (Fadjari Dalam Nakita 2003).
Tipe demam yang mungkin kita jumpai antara lain :
1. Demam septik
Suhu badan berangsur naik ketingkat yang tinggi sekali pada malam hari dan
turun kembali ketingkatdiatas normal pada pagi hari. Sering disertai keluhan
menggigil dan berkeringat. Bila demam yang tinggitersebut turun ketingkat
yang normal dinamakan juga demam hektik.
2. Demam remiten
Suhu badan dapat turun setiap hari tetapi tidak pernah mencapai suhu badan
normal. Penyebab suhuyang mungkin tercatat dapat mencapai dua derajat dan
tidak sebesar perbedaan suhu yang dicatatdemam septik.
3. Demam intermiten
Suhu badan turun ketingkat yang normal selama beberapa jam dalam satu hari.
Bila demam seperti initerjadi dalam dua hari sekali disebut tersiana dan bila
terjadi dua hari terbebas demam diantara duaserangan demam disebut
kuartana.
4. Demam kontinyu
Variasi suhu sepanjang hari tidak berbeda lebih dari satu derajat. Pada tingkat
demam yang terusmenerus tinggi sekali disebut hiperpireksia.
5. Demam siklik
Terjadi kenaikan suhu badan selama beberapa hari yang diikuti oleh beberapa
periode bebas demamuntuk beberapa hari yang kemudian diikuti oleh
kenaikan suhu seperti semula.Suatu tipe demam kadang-kadang dikaitkan
dengan suatu penyakit tertentu misalnya tipe demamintermiten untuk malaria.
Seorang pasien dengan keluhan demam mungkin dapat dihubungkan

segeradengan suatu sebab yang jela seperti : abses, pneumonia, infeksi saluran
kencing, malaria, tetapi kadangsama sekali tidak dapat dihubungkan segera
dengan suatu sebab yang jelas. Dalam praktek 90% daripara pasien dengan
demam yang baru saja dialami, pada dasarnya merupakan suatu penyakit yang
self-limiting seperti influensa atau penyakit virus sejenis lainnya. Namun hal
ini tidak berarti kita tidak harustetap waspada terhadap inveksi bakterial.
B. ETIOLOGI
Penyebab demam selain infeksi juga dapat disebabkan oleh keadaan toksemia,
keganasan atau reaksiterhadap pemakaian obat, juga pada gangguan pusat
regulasi suhu sentral (misalnya: perdarahan otak,koma). Pada dasarnya untuk
mencapai ketepatan
lain:ketelitian

diagnosis

penggambilan

penyebab
riwayat

demam
penyakit

diperlukan

antara

pasien, pelaksanaan

pemeriksaan fisik, observasi perjalananpenyakit dan evaluasi pemeriksaan


laboratorium.serta penunjang lain secara tepat dan holistik.Beberapa hal
khusus perlu diperhatikan pada demam adala cara timbul demam,
lama demam, tinggidemam serta keluhan dan gejala lian yang menyertai
demam.Demam belum terdiagnosa adalah suatu keadaan dimana seorang
pasien mengalami demam terusmenerus selama 3 minggu dan suhu badan
diatas 38,3 derajat celcius dan tetap belum didapatpenyebabnya walaupun
telah diteliti selama satu minggu secara intensif dengan menggunakan
saranalaboratorium dan penunjang medis lainnya.
C. MANIFESTASI KLINIS
1. Anak rewel (suhu lebuh tinggi dari 37,8oc 40oc)
2. Kulit kemerahan
3. Hangat pada sentuhan
4. Peningkatan frekuensi pernafasan
5. Menggigil
6. Dehidrasi
7. Kehilangan nafsu makan
D. PATHWAY

Agen infeksius
mediator
inflamasi
Elevasi pengaturan
termoregulasi

Monosit makrofage
endotel cell other
cell types

Pyrogenic cytokinin
IL I, TNF, IL-6,
IFNs

Peningkatan PGE2

Mempengaruhi
hipotalamus anterior

Memproduksi
panas

HIPERTERMI
Metabolisme
basal meningkat

Aksi
antipiretik
Peningkat
an
evaporasi
RESIKO
KEKURANGAN
VOLUME CAIRAN
KETIDAKEFEKTIF
AN
TERMOREGULA
Kejang
demam
RESIKO
CIDERA

KETIDAKSEIMBAN
GAN NUTRISI
KURANG DARI
KEBUTUHAN
TUBUH

O2 ke otak
menurun
TIK
meningkat
KRTIDAK
EFEKTIFAN
PERFUSI
JARINGAN

RESIKO
KETERLAMBATA
N
PERKEMBANGA

E. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Uji coba darah
Contoh pada demam dengu terdapat leucopenia pada hari ke dua atau
hari

ketiga.Pada

dbd

dijumpai

trombosito

penia

dan

hemokonsentrasi.MAsa pembekuan masih normal,masa perdarahan


biasanya memanjang,dapat ditemukan penurunan factor II,V,VII,IX
dan

XII.Pada

pemeriksaan

kimia

darah

hipoproteinemia,hiponatremia,hipokloremia.Sgot,serum

tampak
glutamit

piruvat(sgpt),ureum dan ph darahg mungkin meningkat,referse alkali


menurun
2. Pembiakan kuman dari cairan tubuh atau lesi permukaan atau sinar
tembus rutin.Contoh pada dbd air seni mungkin ditemukan
albuminorial ringan.
3. Dalam tahap melalui biopsy pada tempat-tempat yang dicurigai.Juga
dapat dilakukan pemeriksaan seperti anginografi,aortografi atu
limfangeografi
4. Ultrasonografi,endoskopi atau scaning masih dapat diperiksa
F. PENATALAKSANAAN

Pada dasarnya menurunkan demam dapat dilakukan secara fisik, obatobatan, maupun kombinasi keduanya
1. Secara fisik
- Tempatkan anak dalam ruangan bersuhu normal
- Pakaikan anak pakaian yang tidak tebal
- Memberikan minuman yang banyak karena kebutuhan air
meningkat
- Memberikan kompres
2. Obat-obatan
- Pemberian obat antipiretik, analgetik, dan anti inflamasi
- Pemberian antibiotic sesuai indikasi

II. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN


A. PENGKAJIAN
1. Melakukan anamnese riwayat penyakit meliputi: sejak kapan timbul
demam, gejala lain yangmenyertai demam (miasalnya: mual muntah,
nafsu makan, diaforesis, eliminasi, nyeri otot dan sendidll), apakah
anak menggigil, gelisah atau lhetargi, upaya yang harus dilakukan.
2. Melakukan pemeriksaan fisik.
3. Melakukan pemeriksaan ensepalokaudal: keadaan umum, vital sign.
4. Melakukan pemeriksaan penunjang lain seperti: pemeriksaan
laboratotium, foto rontgent ataupun USG
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNGKIN MUNCUL
1. Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi
2. Ketidakefektifan thermoregulasi berhubungan dengan proses penyakit,
fluktuasi suhu lingkungan
3. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan intake yang kurang dan diaporesis
4. Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer

berhubungan

dengan

peningkatan TIK
5. Resiko cidera berhubungan dengan infeksi mikroorganisme
6. Resiko keterlambatan perkembangan berhubungan kejang demam
C. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN
NO

DIAGNOSA

1.

KEPERAWATAN
Hipertermi b/d
infeksi

TUJUAN

DAN INTERVENSI

KRITERIA HASIL
proses Tujuan:
Setelah
dilakukan

1. Monitor

tanda-tanda

vital setiap 2 jam atau

tindakan
keperawatan selama
x24
diharapkan

jam
suhu

tubuh paien dalam


batas normal
KH :
- Suhu tubuh dalam
rentang

sesuai indikasi
2. Anjurkan anak

untuk

tidak memakai selimut


dan pakaian tebal
3. Anjurkan anak banyak
minum
4. Berikan kompres hangat
5. Kolaborasi pemberian
antipiretik

normal

(36o-37oc)
- Nadi dan RR dalam
batas normal
- Tidak ada perubahan
warna kulit tidak
2.

ada pusing
Ketidakseimbangan nutrisi Tujuan:
Setelah
dilakukan
kurang dari kebutuhan
tindakan
tubuh b/d intake yang
keperawatan selama
kurang dan diaphoresis
x24
jam
pemenuhan
adekuat
KH :
- Tidak

nutrisi

ada

penurunan berat

3.

badan
Tidak ada tanda

tanda malnutrisi
Nafsu
makan

meningkat
resiko kekurangan volume Tujuan :
Setelah
dilakukan
cairan b/d peningkatan
tindakan
evaporasi
keperawatan selama
x24
diharapkan

jam
volume

1. Tanyakan
kesukaan

makanan
anak

bukan

yang

merupakan

kontraindikasi
2. Anjurkan anak makan
sedikit tapi sering
3. Anjurkan
makan
makanan selagi hangat
4. Berikan makanan lunak
5. Timbang berat badan
setiap hari
6. Kolaborasi dengan ahli
gizi tentang diet yang
sesuai
1. Kaji adanya tandatanda dehidrasi
2. Monitor tanda tanda
vital
3. Anjurkan
banyak minum
4. Catat intake

pasien
dan

cairan adekuat
KH :
- Tidak

output cairan
5. Perhatikan keluhan
ada

tanda-tanda
-

dehidrasi
TTV
dalam

batas normal
Intake
dan
output

pasien seperti mata


kunang-kunang,
pusing,

ekstrimitas, dan sesak


nafas

cairan

seimbang

DAFTAR PUSTAKA
Komite medik RSUP Dr. Sardjito, 2000. Standar Pelayanan Medis, Edisi 2,
Cetakan I, Medika FK UGM, Yogyakarta
Amin, Hardi. 2015. Asuhan Keperawatan Nanda NIC NOC. Mediaction:
Jogjakarta
Taylor, C & Ralph, S. 2013. Diagnosis keperawatan dengan rencana asuhan.
Jakarta: EGC

lemah,