Anda di halaman 1dari 8

SISTEM RESERVOIR KARBONAT SEBAGAI PENYIMPAN HIDROKARBON DI

FORMASI BATURAJA, CEKUNGAN SUMATERA SELATAN


Aidil Falah1
Ilham Atnis Pratama2
Muhammad Ardiansyah3
Muhammad Yusuf4
Rendy Agustiawan5
ABSTRAK
Keterdapatan hidrokarbon di Cekungan Sumatera Selatan sangat didukung oleh kehadiran
batuan sedimen karbonat sebagai reservoir penyimpan hidrokarbon di daerah tersebut, dalam
hal ini Formasi Baturaja yang merupakan salah satu formasi yang terdapat di Cekungan
Sumatera Selatan menjadi titik fokus utama dalam penelitian jurnal ini, daerah Baturaja
diyakini dahulunya merupakan kawasan daerah marine/lautan tetapi karena adanya fenomena
geologi yang terjadi di daerah tersebut sehingga menyebabkan batuan daerah tersebut
tersingkap ke permukaan seperti sekarang ini. Batuan Karbonat memiliki porositas &
permeabilitas yang baik, sehingga dapat dijadikan sebagai reservoir yang ideal.
PENDAHULUAN
Formasi Baturaja dikenal sebagai daerah yang memiliki kelimpahan batuan sedimennya yaitu
terutama batuan sedimen karbonat, sebagaimana yang kita ketahui batuan karbonat memiliki
nilai porositas & permeabilitas yang baik sehingga dapat dikategorikan sebagai penyimpan
hidrokarbon / reservoir.Esai ini bermaksud untuk menjelaskan serta menganalisis mengenai
sistem reservoir karbonat dalam mengakumulasikan hidrokarbon atau yang biasa kita kenal
dengan minyak dan gas / migas. Metode yang digunakan dalam analisis ini yaitu mereferensi
beberapa kajian pustaka dari paper/jurnal Indonesia Petroleum Association IPA, dari tahun
2010 2014.
Daerah Indonesia terutama pada bagian barat yaitu Pulau Sumatera dan Jawa merupakan
zona ring of fire yang menyebabkan banyak terdapat gunung gunung api aktif serta
lempeng lempeng tektonik. Selain dari keterdapatan gunung api serta lempeng lempeng
tektoniknya, daerah Sumatera, khususnya pada sumatera bagian selatan terkenal dengan
cekungan sedimennya. Cekungan ini terdiri dari berbagai formasi salah satu formasinya yaitu
1

03071281419055

03071181419023

03071181419013

03071181419006

03071181419022

Formasi Baturaja. Keterdapatan formasi baturaja pada sistem cekungan tersebut mendukung
akan adanya sistem reservoir dari batuan karbonat dikarenakan pada daerah tersebut terkenal
akan kandungan batugampingnya.
Beberapa peneliti seperti Ardilia dan Kuswinda (1982), Wicaksono et al (1992) dan
Tonkinetal (1992) dalam Wibowo (2010) juga telah mempublikasikan pendapat mereka
mengenai detail dari salah satu formasi yang mengandung sistem reservoir di cekungan
Sumatera Selatan. Sistem dari reservoir karbonat ini mencakup banyak hal seperti source
rock atau biasa dikenal dengan batuan sumber yang merupakan sumber utama dari
hidrokarbon itu sendiri kemudian porositas & permeabilitas suatu lapisan karbonat yang
memang dikenal memiliki porositas & permeabilitas yang baik, setelah itu ada migrasi yang
merupakan proses perpindahan suatu hidrokarbon sampai bagaimana ia bisa terjebak dalam
suatu jebakan atau trap yang membuat hidrokarbon tidak dapat berpindah tempat sehingga
terperangkap dalam suatu lapisan batuan reservoir karbonat.
GEOLOGI REGIONAL
Arsitektur utama dari Cekungan Sumatera Selatan yaitu hasil dari intrusi pada Zaman Jura
Kapur, gaya ekstensi pada Zaman Paleogene dan kompresi pada Zaman Neogene (Hall, 1996
& 1998). Beberapa faktor yang menyebabkan terbentuknya Cekungan Sumatera Selatan yaitu
berada di belakang busur gunung berapi yang menyebabkan proses terbentuknya sangat
dipengaruhi oleh adanya lempeng tektonik dan intrusi magma. Tektonik yang dikemukakan
oleh Taphnier et al. (1986) dalam Wibowo (2010) menyebabkan pertemuan pertemuan
tektonik dengan pengaruh yang ditimbulkan sangatlah besar dalam proses pembentukannya.
Daerah Cekungan Sumatera Selatan secara umum dapat dibagi menjadi 7 formasi yakni
Formasi Kikik, Talang Akar, Baturaja, Gumai, Air Benakat, Muara Enim dan Kasai. Pada
Formasi Baturaja sendiri terdiri dari batugamping atau platform dan reefal dengan ketebalan
sekitar 1700 kaki (Wibowo, 2010).Selain itu bagian bawahnya tersusun atas serpih dengan
lapisan tipis gamping.Menurut Park et al. (1995) dalam Wibowo (2010), Formasi Baturaja
sebagian besar tersingkat ketika mengalami pengangkatan bidang tanah.Pada mulanya
formasi ini diendapkan pada kala Miosen Awal menumpang secara tidak selaras pada batuan
Pra Tersier atau secara selaras diatas Formasi Talang Akar.Formasi Baturaja yang dijumpai
pada batugamping diakibatkan oleh relief topografi yang tidak teratur dari batuan Pra
Tersier (Guttormsen, 2010).

STRATIGRAFI REGIONAL
Wilayah sumatera selatan khususnya pada cekungan sumatera selatan tersusun atas beberapa
formasi yang menjadi wadah bagi mayoritas proses sedimentasi berlangsung, proses
sedimentasi yang berlangsung terus berlanjut dengan didominasi oleh sedimentasi tipe klastik
atau disebut juga hasil pecahan material sedimen lainnya dan membentuk sedimen yang baru
(reworking) terutama di Formasi Talang Akar, (Ageng et all. 2014)
Seperti yang telah dijelaskan pada geologi regional sebelumnya bahwa cekungan sumatera
selatan ini tersusun atas beberapa formasi, seperti Formasi Kasai, Formasi Muara Enim,
Formasi Air Benakat, Formasi Gumai, Formasi Baturaja, Formasi Talang Akar dan yang
terakhir Formasi Lahat. Formasi formasi tersebut terbentuk dengan waktu yang berbeda
beda berdasarkan literatur dari Rudd, Tulot dan Siahaan (2013) didapatkan bahwa Formasi
Lahat menjadi formasi yang tertua dimulai dari Eosen Tengah sampai Oligosen Bawah,
selanjutnya adapula Formasi Talang Akar merupakan kelanjutan dari Formasi Lahat dimulai
dari Oligosen bawah sampai Oligosen atas, setelah Formasi Talang Akar terbentuklah
Formasi Baturaja pada miosen bawah diikuti dengan Formasi Gumai pada miosen bawah
sampai miosen tengah. Formasi Muara Enim terbentuk Kala Miosen atas serta yang terakhir
Formasi Kasai tebentuk pada Kala Pliosen seperti yang terlihat juga pada Gambar 1
mengenai kolom stratigrafi Cekungan Sumatera Selatan.
KARBONAT SEBAGAI SISTEM RESERVOIR IDEAL
Batuan karbonat atau biasa disebut juga batuan sedimen karbonat, merupakan batuan sedimen
yang pembentukannya berada dilaut terutama pada laut dangkal, biasanya pembentukan
batuan sedimen karbonat ini memiliki batas CCD (Carbonat Compensation Depth) yang tiaptiap laut memiliki nilai batas CCD yang berbeda-beda. Daerah Baturaja terkenal dengan
kandungan batugampingnya Rudd, Tulot & Siahaan.(2013) melalui gambarnya menyatakan
bahwa Daerah Baturaja dahulunya memang merupakan daerah sungai sampai laut dangkal.
Batuan karbonat ini sangat unik karena batuan karbonat ini merupakan sebagai penyusun dari
terumbu karang, berbagai cangkang hewan laut, seperti Foraminifera baik Foraminifera kecil
maupun besar akan tetapi yang menjadi fokus utama pada Paper ini adalah membahas fungsi
batuan karbonat sebagai sistem reservoir ideal tersebut.

POROSITAS & PERMEABILITAS


Reservoir yang baik merupakan reservoir yang memiliki system porositas dan permeabilitas
yang baik.Dalam Formasi Baturaja terdapat batuan karbonat yang dapat dijadikan sebagai
reservoir.Suatu system reservoir wajib memiliki tingkat porositas & permeabilitas yang baik.
Dalam proses pembentukan suatu model dari reservoir, tipe batuan sangatlah berperan dalam
mengontrol populasi pori dan prediksi permeabilitas sebagaimana penentuan saturasi air
(Wibowo, 2010). Lucia (1983, 1995) dalam Wibowo (2010) mengenai kontrol hubungan pori
porositas dan permeabilitas.
Ageng et al. (2014) mengatakan metode stochastic merupakan penggunaan distribusi dari
porositas dengan prosedur menggunakan distribusi probabilitas.Dengan metode ini kita dapat
mengetahui potensial suatu reservoir.Metode stochastic dengan data simulasi, yaitu titik
(grid) acak (Munadi, 2005 dalam Ageng, 2010).Hasil dari distribusi data probabilitas
porositas yang normal yaitu 15 20 %.
Jika porositas menggunakan metode stochastic, permeabilitas diubah menjadi angka
logaritma.Ageng et al. (2010) mengatakan persamaan tipe batuan dapat dihitung.Kebenaran
distribusi dari permeabilitas dikonfirmasi dari data histogram dalam hasilnya. Permeabilitas
sangat berkaitan dengan porositas . Formasi Baturaja model pendistribusian ini akan
digunakan untuk simulasi dinamik sebelum dikonfirmasi dan menjadi referensi dasar model
reservoir untuk fase pengembangan selanjutnya serta skenario injeksi air (Ageng et al. 2014)
BATUAN SUMBER (SOURCE ROCK) DAN MIGRASI
Dalam dunia eksplorasi, hidrokarbon masih menjadi titik pusat sebagai sumber daya alam
yang terus diambil dengan pemanfaatan yang begitu banyak membuat Eksplorer hidrokarbon
terus mengembangkan system pencarian baru. Pada dasarnya hidrokarbon merupakan bagian
dari organisme yang mati kemudian terendapkan hingga pada kurun berjuta tahun kemudian
akan terbubar menjadi Source Rock. Secara garis besar Source Rock merupakan batuan yang
kaya akan hidrokarbon. Dan ketika telah matang membuat hidrokarbon mengalami migrasi.
Ariyanto et al. (2014) menyatakan hidrokarbon dapat bermigrasi ketempat yang lebih tinggi,
dari barat dan timur pada bagian cekungan.Hal ini dikarenakan perbedaan densitas dari
hidrokarbon yang berbeda.Migrasi di dominasi oleh hidrokarbon dalam bentuk cair dan
berubah menjadi uap hydrocarbon berasosiasi dengan peningkatan kematangannya (Ariyanto
et al. 2014). Penelitian Ariyanto et al. (2014) menjelaskan bahwa untuk migrasi memerlukan

16 12 ma. Selain faktor waktu, litologi, diatasnya juga sangat berpengaruh jika litologi
diatasnya batuan dengan permeabilitas dan porositas rendah, hidrokarbon akan tertahan
namun bermigrasi secara horizontal
SISTEM JEBAKAN PADA RESERVOIR KARBONAT FORMASI BATURAJA
Formasi Baturaja sangat terkenal akan batuan karbonatnya seperti yang telah dijelaskan
sebelumnya bahwa batuan karbonat ini memiliki nilai porositas dan permeabilitas yang baik.
Dalam dunia perminyakan sistem jebakan (trap) ini sangat dicari oleh para eksplorer
hidrokarbon. Untuk sistem dari jebakan (trap) ini dibagi menjadi dua yaitu sistem jebakan
struktur dan sistem jebakan stratigrafi. Pada Formasi Baturaja ini trap yang digunakan adalah
struktur jebakan dengan jenis stratigrafi dari batuan sedimen karbonat yang terdapat pada
Formasi Baturaja itu sendiri (Ariyanto et al. 2014)
KESIMPULAN
Formasi Baturaja memiliki kelimpahan kandungan sedimen karbonat yang dapat
dimanfaatkan sebagai reservoir hidrokarbon karena memiliki sifat porositas & permeabilitas
yang baik sehingga dapat dikatakan sebagai reservoir ideal, selain itu pada Formasi Baturaja
ini dapat diketahui bahwa sistem jebakan (trap) yang digunakan adalah berupa sistem
stratigrafi yang melibatkan batuan sedimen karbonat sebagai batuan yang paling terlibat pada
sistem tersebut.

DAFTAR PUSTAKA
Agung et all. 2014. Facies Analysis, Rock Type, and Property Distribution In Upper Interval
Of Baturaja Formation, Krisna Field, Sunda Basin. IPA Proceeding (IPA14-G-055).
Ariyanto & Kusdiantoro. Secondary Hydrocarbon Migration and Entrapment Evaluation In
Lematang Area, South Sumatra. IPA Proceeding (IPA14-G-337).
Guttormsen. 2010. Naturally Fractured Basement Reservoirs: Using South Sumatra To
Characterize The Challenges of Exploring and Exploiting Fracture Basement
Reservoirs. IPA Proceeding (IPA10-G-183).
Kesumajanaet all. 2010. The Role of Hydrocarbon Maturation Modeling, A Case Study :
South Sumatera Basin. IPA Proceeding (IPA10-G-147).
Rudd, Tulot & Siahaan. 2013. Rejuvenating Play Based Exploration Concept In South
Sumatera Basin. IPA Proceeding (IPA13-G-068).
Wibowo, 2010. Petrophysical Rock Typing Of Muddy Carbonate Reservoirs: An Example
From Early Miocene Baturaja Formation, Sunda Basin. IPA Proceeding (IPA10-G065).

Gambar 1. Kolom Stratigrafi Cekungan Sumatera Selatan (Rudd, Tulot & Siahaan 2013)

Gambar 2. Kondisi Geografi Formasi Baturaja dan Sekitarnya Pada Zaman Dahulu
(Rudd, Tulot & Siahaan 2013)