Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN
Sistem pencernaan merupakan sistem yang berperan sangat penting dalam
tubuh manusia. agar sistem berperan dengan baik, tentunya harus didukung dengan
organ-organ pencernaan yang harus berfungsi dengan baik juga. Apabila terdapat
gangguan fungsi pada salah salah satu organ tersebut, tentu akan menimbulkan
gangguan fungsi dan bahkan aktivitas. Adapun salah satu dari gangguan pada organ
pencernaan adalah obstruksi duodenum.
Obstruksi duodenum adalah suatu penyempitan dari anastomosis atau segmen
dari usus dua belas jari atau duodenum yang menghalangi perlintasan normal bahan
makanan atau limbah. Obstruksi duodenum merupakan suatu kasus yang cukup
jarang ditemui.
Berdasarkan sumber dari bagian bedah Universitas Hasan nuddin Makassar,
insiden kasus ini diestimasi antara 1 dari 10.000 hingga 1 dari 40.000 kelahiran.
adapun penyebab tersering dari obstruksi intestinum pada bayi yang baru lahir adalah
atresia duodenum dan stenosis. Kebanyakan diperoleh perbandingan antara atresia
dan stenosis adalah 3:2atau 2:2. Obstruksi duodenum dibagi menjadi beberapa tipe,
yaitu baik parsial maupun komplit, ekstrinsik atau instrinsik, atau bahkan keduaduanya.
Atresia dan stenosis duodenum termasuk dalam obstruksi instrinsik. Penyebab
obstruksi yang tidak lazim adalah jaringan windsock, yakni suatu flap jaringan
yang dapat mengembang yang terjadi karena anomali saluran empedu. Bentuk atresia
membranosa adalah yang paling sering, obstruksinya terjadi di sebelah distal ampula
Vateri pada kebanyakan penderita. Obstruksi duodenum dapat juga disebabkan oleh
kompresi ekstrinsik seperti pankreas anulare atau oleh pita-pita Ladd pada penderita
dengan malrotasi. Obstruksi duodenum berkaitan dengan prematuritas (46%) dan
polyhidramnions maternal (33%). Sebagai tambahan, terdapat angka kejadian yang

tinggi hubungan antara obstruksi duodenum dan sejumlah anomali, yaitu down
syndrome (>30%), malrotasi (>20%), kelainan jantung bawaan (20%).
Gejala klinis yang paling sering muncul adalah muntah bilious dan intoleransi
makanan. Pada pemeriksaan fisik, tdak ada temuan yang spesifik untuk menegakkan
diagnosis, dan kemungkinan akan menemukan distensi pada perut bagian atas.
Pada pemeriksaan penunjang dapat dilakukan pemeriksaan foto polos
abdomen. Pada foto polos abdomen akan didapatkan gambaran udara double bubble
yang merupakan patognomonis gambaran pada obstruksi duodenum. Ketepatan dalam
mendiagnosis harus didahulu oleh pemahaman tentang penyakit sehingga dapat
menentukan

kesesuaian dengan anamnesis, pemeriksaan fisik serta pemeriksaan

penunjang sehingga penulis membahas mengenai penyakit obstruksi duodenum.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi Obstruksi
Obstruksi usus dapat di definisikan sebagai gangguan aliran normal isi usus
sepanjang saluran usus. Obstruksi usus dapat bersifat akut maupun kronis, parsial
maupun total. Obstruksi usus kronis biasanya mengenai kolon akibat adanya
karsinoma atau pertumbuhan tumor, dan perkembangannya lambat. Sebagian besar
obstruksi mengenai usus halus. Obstruksi total usus halus merupakan keadaan gawat
yang memerlukan diagnosis dini dan tindakan pembedahan darurat bila penderita
ingin tetap hidup.1
Pengertian obstruksi usus menurut beberapa ahli:
1. Nettina,2001
Obstruksi usus adalah gangguan pada aliran normal isi usus sepanjang traktus
intestinal.
2. Tucker,1998
Obstruksi usus merupakan suatu blok saluran usus yang menghambat pasase
cairan, flatus dan makanan dapat secara mekanis atau fungsional
3. Ester,M,2002:49
Obstruksi usus adalah kerusakan parsial atau komplit aliran isi usus ke arah ke
depan. Yang kebanyakan terjadi di usus halus khususnya di ileum.
4. LongB.C,1996:242
Gangguan yang terjadi ketika terdapat rintangan terhadap aliran normal dari
isi usus, bisa juga karena hambatan terhadap rangsangan syaraf untuk
terjadinya peristaltik atau karena adanya blokkage pada ileus mekanik/organik
Obstruksi duodenum adalah kondisi dimana duodenum (bagian pertama dari
usus halus) tidak berkembang dengan baik, sehingga tidak berupa saluran terbuka
dari lambung yang tidak memungkinkan perjalanan makanan dari lambung ke usus.1

2.2 Anatomi Duodenum


Panjang dari duodenum 25-30 cm. Duodenum merupakan bagian paling
proksimal, paling lebar, paling pendek, dan paling sedikit pergerakannya dari bagian
usus halus lainnya. Duodenum dibagi menjadi 4 bagian:
A. Bagian pertama (duodenal cap)
Bagian ini mempunyai cekungan mukosal longitudinal sementara bagian lain
hanya cekungan transversal. Lapisan anterior dan posterior dari peritoneum yang
meliputi bagian atas dari duodenal cap akan melanjutkan diri menjadi ligamentum
hepatoduodenale , yang berisi Portal Triad ( duktus koledokus , arteri hepatika dan
vena porta). Tepi anterior dari foramen Winslowi terbentuk oleh karena adanya tepi
bebas dari ligamentum ini. Diatas duodenal cap terdapat kantong empedu dan hepar
segmen empat. Dibawah dan dibelakang dari duodenal cap adalah caput pankreas.2
B. Bagian kedua
Dari duodenum adalah retroperitoneal dan terfiksir karena adanya fusi dari
peritoneum visceral disebelah lateral peritoneum parietal lateral dinding abdomen.
Dengan membuka peritoneum pada sisi lateral kanan (manuver Kocher), dapat
memobilisasi duodenum desending sehingga dapat mencapai retroduodenal dan
saluran empedu intrapankreatik. Disebelah belakang dari bagian kedua duodenum ini
terletak ginjal kanan dan struktur hilusnya, kelenjar adrenal dan vena cava. Tepat
dipertengahan duodenum, mesokolon akan melintang secara horizontal, karena
bersatunya peritoneum dari arah atas dan arah bawah. Diatas dari fleksura duodenalis,
duodenum bagian pertama dan duodenum bagian kedua akan membentuk sudut yang
tajam dan berlanjut berkisar 7-8 cm dibawah fleksura duodenalis. Kolon tranversum
akan melintang daerah tersebut di sebelah depannya. Untuk memobilisasi duodenum
secara menyeluruh yang harus dilakukan adalah membuka fleksura hepatis pada sisi
anteromedial kolon. Kurang lebih pertengahan dari bagian kedua duodenum dinding
posteromedial adalah papila vateri, yang terdiri atas gabungan antar duktus koledokus
dan duktus pankreatikus Wirsungi. Letak dari duktus pankreatikus Santorini lebih
proksimal.

Cabang

superior

pankreatikoduodenal

yang

berasal

dari

arteri
4

gastroduodenalis, berjalan didalam cekungan antara kaput pankreas dan duodenum


bagian kedua atau desending.2
C. Bagian ketiga
Dari duodenum yang memiliki panjang sekitar 12-13 cm, terletak horizontal
ke arah kiri di depan dari aorta, vena cava inferior, columna vertebra L2 dan ureter,
dan berakhir pada sebelah kiri pada vertebra L3. Radiks jejunoileum menyilang di
dekat akhir duodenum bagian ketiga. Arteri mesenterika superior terletak dengan
posisi kebawah diatas depan dari duodenum bagian ketiga dan masuk kedalam radiks
mesenteri. Arteri pankreatikoduodenale inferior membatasi pankreas dan tepi atas
dari duodenum bagian ketiga.2
D. Bagian keempat
Dari duodenum terletak kearah atas samping kiri sepanjang 2-3cm disebelah
kiri dari vertebra dan membentuk sudut duodenojejunal pada radiks mesokolon
transversal. Disebelah kiri dari vertebra lumbal II, bagian terakhir dari duodenum
terletak dalam posisi menurun ke arah kiri depan dan membentuk fleksura
duodenojejunalis. Pada daerah ini, ligamentum suspensorium duodenum (ligamentum
Treitz) berawal dan tersusun atas jaringan fibrous dan pita triangular, berjalan ke arah
retroperitoneal, dibelakang pankreas dan vena lienalis, didepan vena renalis, dari arah
kiri atau kanan dari krus diafragma. Fleksura duodenojejunalis dipakai sebagai titik
pertanda untuk mencari obstruksi di daerah usus halus dan menentukan bagian atas
dari jejunum untuk dilakukan gastrojejunostomi. Saat laparotomi, ligamentum ini
dapat ditemukan dengan cara menekan daerah dibawah mesokolon tranversal ke arah
belakang sampai ke dinding abdomen bagian belakang sementara tangan yang satu
mempalpasi kearah atas melalui tepi kiri dari pada tulang belakang sampai fleksura
ini ditemukan dengan tanda adanya perabaan yang keras pada tempat fiksasinya.
Gabungan antara peritoneum visceral dari pankreatikoduodenal dengan peritoneum
parietal posterior yang tersisa akan menutupi semua duodenum kecuali sebagian dari
bagian pertama duodenum. Variasi gabungan tadi ke dinding abdomen bagian
belakang akan menentukan variasi dari mobilitas duodenum. Fleksura kolon kanan,
5

bagian dari mesokolon tranversalis yang terfiksir, hubungan antara ampulla dan
pembuluh darah dari duodenum dapat dilihat dengan jelas. Pada posisi yang cukup
dalam ini, menunjukkan bahwa duodenum cukup terproteksi dengan baik dari adanya
trauma, tapi kadang-kadang dapat hancur dan bahkan terputus karena adanya
penekanan dengan landasan pada tulang belakang dari adanya trauma tumpul
abdomen yang berat, dan juga karena tidak ditutupi oleh peritoneum.2
Vaskularisasai duodenum berasal dari cabang arteri pankreatikoduodenal
anterior dan posterior. Anastomosis antara arteri ini akan menghubungkan sirkulasi
antara trunkus seliakus dengan arteri mesenterika superior. Arteri ini membagi aliran
darahnya ke kaput pankreas, sehingga reseksi terhadap pankreas atau duodenum
secara terpisah adalah satu hal yang hampir tidak mungkin dan dapat berakibat fatal.
Arteri pankreatikoduodenal superior adalah cabang dari arteri gastroduodenale, dan
arteri pankreatikoduodenal inferior adalah cabang dari arteri mesenterika superior.
Kedua arteri ini bercabang menjadi dua dan berjalan disebalah anterior dan posterior
pada cekungan antara bagian descending dan bagian transversal duodenum dengan
kaput pankreas, kemudian beranastomosis sehingga bagian anterior dan posterior
masing-masing membentuk cabang sendiri. Vena tersusun paralel bersamaan dengan
arteri pankreatikoduodenal anterior dan posterior. Anastomosis cabang psterior
berakhir di atas vena porta, dibawahnya vena mesenterika superior (SMV). Vena
posterosuperiorpankreatikoduodenal mungkin akan mengikuti arterinya disebelah
depan dari saluran empedu, atau mungkin berjalan di belakang saluran tadi. Vena ini
akan berakhir pada tepi kiri sebelah bawah dari SMV. Pada tempat tersebut, vena tadi
akan bergabung dengan vena yeyunalis atau dengan vena pankreatioduodenal
inferior anterior. Sebagian besar aliran vena pada cabang anterior ini berasal dari
Trunkus gastrokolika atau (Henles trunk). Pada saat pankreatikoduodenektomi,
lokasi SMV dapat ditelusuri dari vena kolika media sampai ke hubungannya dengan
SMV tepat dibawah dari collum pankreas. Kadang- kadang identifikasi SMV dapat
dilakukan dengan cara insisi pada daerah avaskuler dari peritoneum sepanjang tepi
bawah dari pankreas. Disebelah atas dari pankreas, vena porta akan terekspos dengan
6

jelas bila arteri gastroduodenal dan duktus koledokus dipisahkan. Kadang-kadang


arteri hepatika aberans salah diidentifikasi dengan arteri gastroduodenal, sehingga
untuk kepentingan tersebut, sebelum dilakukan ligasi pada arteri gastroduodenal,
harus dilakukakan oklusi sementara dengan klem vaskuler atau jari ahli bedah sambil
mempalpasi pulsasi arteri hepatik pada hilus hati. Pembuluh arteri

yang

memperdarahi separuh bagian atas duodenum adalah arteri pancreatikoduodenalis


superior yang merupakan cabang dari arteri gastroduodenalis. Separuh bagian bawah
duodenum diperdarahi oleh arteri pancreatikoduodenalis inferior yang merupakan
cabang dari arteri mesenterika superior. Vena-vena duodenum mengalirkan darahnya
ke sirkulasi portal. Vena superior bermuara langsung pada vena porta dan vena
inferior bermuara pada vena mesenterikasuperior.2,4
Aliran limfe pada duodenum umumnya berjalan bersama-sama dengan
vaskularisasinya. Pembuluh limfe duodenum mengikuti arteri dan mengalirkan cairan
limfe keatas melalui noduli lymphatici pancreatikoduodenalis ke noduli lymphatici
gastroduodenalis dan kemudian ke noduli lymphatici coeliacus dan ke bawah melalui
noduli lymhaticipancreatico duodenalis ke noduli lymphatici mesentericus superior
sekitar pangkal arteri mesenterika superior. Karsinoma duodenum primer mungkin
menyebar ke pankreas secara langsung atau melalui infiltrasi limfatik, tetapi biasanya
karsinoma ini biasanya menyebar pertama kali ke limfonodus periduodenal dan hati.
Nodus pada fleksura duodenalis superior serta nodul pada retroduodenal biasanya
berhubungan dengan adanya metastasis karsinoma pankreas.1,2,4
Persarafan GI tract diinervasi oleh sistem saraf otonom, yang dapat dibedakan
menjadi ekstrinsik dan intrinsik (sistem saraf enterik ). Inervasi ekstrinsik dari
duodenum adalah parasimpatis yang berasal dari nervus Vagus ( anterior dan cabang
celiac ) dan simpatis yang berasal dari nervus splanikus pada ganglion celiac. Inervasi
intrinsik dari plexus myenterikus Aurbachs dan dan plexus submucosal Meissner.
Sel-sel saraf ini menginervasi terget sel seperti sel-sel otot polos, sel-sel sekretorik
dan sel- sel absorptive, dan juga sel-sel saraf tersebut berhubungan dengan reseptorreseptor sensoris dan interdigitatif yang juga menerima inervasi dari sel-sel saraf lain
7

yang terletak baik didalam maupun di luar plexus. Sehingga pathway dari sistim saraf
enterik bisa saja multisinaptik, dan integrasi aktifitasnya dapat berlangsung
menyeluruh bersamaan dengan sistim saraf enterik.1,2,4

2.3 Histologi
Dinding duodenum tersusun atas 4 lapisan:
1. Lapisan paling luar yang dilapisi peritoneum, disebut serosa. Merupakan
kelanjutan dari peritoneum, tersusun atas selapis pipih sel-sel mesothelial diatas
jaringan ikat longgar.
2. Lapisan muskuler (tunika muskularis) tersusun atas serabut otot longitudinal ( luar)
& sirkuler (dalam). Pleksus myenterikus Aurbach terletak diantara kedua lapisan ini.
Pleksus Meissners ditemukan didalam submukosa di antara jaringan ikat longgar
yang kaya akan pembuluh darah dan limfe.
3. Submukosa, dimana terdapat kelenjar Brunner yang bermuara ke krypta
Lieberkuhn melalui duktus sekretorius. Sekresi kelenjar Brunner bersifat visceus ,
jernih, dengan pH alkali ( pH 8,2 9,3 ), berguna melindungi mukosa duodenum
terhadap sifat korosif dari gastric juice. Epitel kollumnernya mengandung 2 jenis sel:
mucus secreting suface cell HCO3- secreting surface cell dan absorptive cell.
8

4. Mukosa, yang merupakan lapisan dinding yang paling dalam. Terdiri dari 3
lapisan: lapisan dalam adalah muskularis mukosa , lapisan tengah adalah lamina
propria, lapisan terdalam terdiri dari selapis sel-sel epitel kolumnar yang melapisi
krypte dan villi-villinya. Fungsi utama krypte epitelum ialah (1) pertumbuhan sel ;
(2) fungsi eksokrin, endokrin, dan fungsi sekresi ion dan air ; (3) penyerapan garam,
air dan nutrien spesifik. Krypte epitelium paling sedikit tersusun atas 4 jenis sel yang
berbeda ; Paneth, goblet, undefferentieted cell dan sel-sel endokrin. Pada bagian
pertama duodenum ditutupi oleh banyak lipatan sirkuler yang di namakan plica
circularis, tempat saluran empedu & duktus pancreatikus mayor menembus dinding
medial bagian ke dua duodenum. Duktus pankreatikus accesorius (bila ada) bermuara
ke duodenum pada papila yang kecil yang jaraknya sekitar 1,9 cm di atas papilla
duodeni mayor. Dinding duodenum sebelah posterior dan lateral letaknya
retoperitoneal

sehingga

tidak

ditemukan

lapisan

serosa.2,4,5

2.4 Etiologi
Obstruksi usus dapat disebabkan oleh tiga macam faktor (Ester, M, 2002:49) yaitu:
9

a. Faktor Mekanis
Suatu penyebab fisik menyumbat usus dan tidak dapat diatasi oleh peristaltik
1) Perlekatan atau adhesi, yaitu lengkung usus menjadi melekat pada area
yang sembuh secara lambat atau pada jaringan parut setelah pembedahan
abdomen (Brunner & Suddarth, 2002:1121). Pada perlekatan usus halus
adhesi pita-pita jaringan ikat mungkin terbentuk dari organ ke organ ke
dinding peritoneum sebagai hasil penyembuhan dari peritonitis atau setelah
setiap operasi abdominal (Robbins & Kumar, 1995:266).
2) Hernia : Protrusi usus melalui area yang lemah dalam usus atau dinding dan
otot abdomen
3) Volvulus yaitu usus memutar dan kembali kekeadaan semula, akibatnya
lumen

usus

menjadi

tersumbat,

menunjukkan

adanya

pemelintiran

(pemutaran) dari saluran usus, kira-kira pada dasar pelekatan mesenterik. Hal
ini sering terjadi pada usus halus, tapi saluran sigmoid yang sangat berlebihan
munkin dapat terkena. Obstruksi dan infrak sering terjadi pada kasus ini
(Robbins dan Kumar, 1995:266).
4) Tumor yang ada dalam dinding usus meluas ke lumen usus atau tumor
diluar usus menyebabkan tekanan pada dinding usus.
b. Faktor Neurogenik/Fungsional : Obstruksi yang terjadi karena suplai saraf
otonom mengalami paralisis dan peristaltik usus terhenti sehingga tidak mampu
mendorong isi sepanjang usus.
c. Faktor vaskuler yaitu obstruksi aliran darah yang dapat timbul sebagai akibat
dari okulasi komplet (infark mesentrika) atau oklusi proksimal (angina
abdominal).
Obstruksi duodenum lengkap pada neonatus biasanya disebabkan oleh atresia
duodenum, yang disebabkan kegagalan rekanalisasi bawaan yang biasanya terjadi
selama 9-11 minggu usia kehamilan. Berbeda dengan atresia usus kecil yang lebih
distal, atresia duodenum tampaknya tidak berhubungan dengan gangguan vaskular
intrauterin. Atresia duodenum sering dikaitkan dengan anomali kongenital lainnya,

10

seperti atresia usus, penyakit jantung bawaan, atau sebagai bagian dari asosiasi
VACTERL (yaitu, anomali vertebra, anorektal, cardiac, trakeobronkial, renal, dan
limb). Sekitar 30% kasus terjadi pada pasien dengan diagnosis trisomi 21 (sindrom
Down). Neonatus dengan atresia duodenum biasanya tampak dengan muntah selama
beberapa jam pertama kehidupan. Pada sekitar 80% neonatus yang terkena, lokasi
atresia duodenum adalah postampullary, sehingga pasien dapat tampak dengan
emesis empedu. Temuan radiografi perut atresia duodenum termasuk pembesaran
lambung dan duodenum yang berisi gas, yang dikenal sebagai klasik " double bubble
sign".1,4
Penyebab obstruksi yang tidak lazim adalah jaringan windsock, yaitu suatu
flap jaringan yang dapat mengembang yang terjadi karena anomali saluran empedu.
Obstruksi duodenum juga dapat disebabkan oleh kompresi ekstrinsik seperti pankreas
anulare atau pita-pita ladd pada penderita dengan malrotasi.4,5,6
2.5 Patofisiologi
Gangguan perkembangan duodenum terjadi akibat proliferasi endodermal
yang tidak adekuat (elongasi saluran cerna melebihi proliferasinya) atau kegagalan
rekanalisasi pita padat epithelial (kegagalan proses vakuolisasi). Banyak peneliti telah
menunjukkan bahwa epitel duodenum berproliferasi dalam usia kehamilan 30-60 hari
lalu akan terhubung ke lumen duodenal secara sempurna. Proses selanjutnya yang
dinamakan vakuolisasi terjadi saat duodenum padat mengalami rekanalisasi.
Vakuolisasi dipercaya terjadi melalui proses apoptosis, atau kematian sel terprogram,
yang timbul selama perkembangan normal di antara lumen duodenum.3
Obstruksi duodenum kadang berkaitan dengan pankreas anular (jaringan
pankreatik yang mengelilingi sekeliling duodenum). Hal ini diakibatkan gangguan
perkembangan duodenal daripada suatu perkembangandan/atau berlebihan dari
pancreatic buds.Pada tingkat seluler, traktus digestivus berkembang dari embryonic
gut, yang tersusun atas epitel yang merupakan perkembangan dari endoderm,
dikelilingi sel yang berasal dari mesoderm. Pensinyalan sel antara kedua lapisan
11

embrionik ini tampaknya memainkan peranan yang sangat penting dalam


mengkoordinasikan pembentukan pola dan organogenesis dari duodenum.3,4

2.6 Diagnosis
Evaluasi diagnostik obstruksi usus harus cepat karena beberapa penyebab
dapat menimbulkan iskemi (obstruksi strangulasi) yang kemudian potensial untuk
terjadi nekrosis dan gangren usus. Gejala kardinal obstruksi usus terdiri dari muntah,
distensi abdominal, nyeri abdomen yang bersifat kolik dan obstipasi.4
Pada neonatus polihidramion maternal dan tidak keluarnya mekonium pada
neonatus merupakan tanda kardinal lain yang penting. Gejala tersebut dapat
bermanifestasi dalam berbagai tingkat berat gejala. Kadang-kadang tanda dan gejala
dapat tidak jelas dan tidak spesifik terutama pada neonatus. Kebanyakan penyebab
obstruksi usus dapat didiagnosa dengan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan radiologis
sederhana.5
Muntah atau aspirat lambung dapat memberikan informasi yang penting bagi
dokter anak / Bedah Anak dalam diagnosa kelainan gastrointestinal. Warna muntah
yang tidak bersifat bilious bila dicurigai disebabkan kelainan bedah menggambarkan
obstruksi diatas level ampula Vater. Muntah yang bersifat bilious tidak selalu
disebabkan oleh obstruksi, tetapi bila ada kecurigaan obstruksi gejala tersebut
menunjukan level obstruksi distal dari ampula Vater. Kira-kira 85% atresia jejunum
memperlihatkan muntah bilious. Sebagai pegangan, anak yang mengalami muntah
bilious harus dipertimbangkan adanya obsruksi usus sampai terbukti tidak.4,5
2.7 Pemeriksaan Fisik
Distensi abdomen yang terlokalisir pada epigastrium menggambarkan level
obstruksi pada usus proksimal misalnya volvulus gaster, volvulus midgut,
Hypertropic pyloric stenosis atau atresia duodenum. Sedangkan distensi abdomen

12

menyeluruh menggambarkan level obstruksi yang lebih distal seperti atresia ileum,
atresia kolon, morbus Hirschsprung dan lain lain.1,6
Pada inspeksi kadang-kadang dapat terlihat kontur usus dengan atau tanpa
terlihatnya peristaltik. Adanya parut bekas operasi pada abdomen dapat mengarahkan
kita pada kecurigaan adhesi usus sebagai penyebab Inspeksi daerah inguinal atau
perineal mungkin dapat menemukan adanya hernia atau malformasi anorektal sebagai
penyebab. Palpasi kadang dapat membantu diagnosa misalnya olive sign pada 62 %
pasien dengan Hypertropic Pyloric Stenosis, massa pada intususepsi, infiltrat pada
inflamasi intra abdomen, tumor intra abdomen dan lain-lain.1,6
2.8 Pemeriksaan Penunjang
A. Pemeriksaan Rontgen
Foto polos abdomen datar dan tegak harus dibuat untuk mencari penyebab
obstruksi. Pada anak yang sakit berat dan lemah dapat dilakukan foto left lateral
decubitus sebagai pengganti posisi tegak. Pola distribusi gas abdomen dapat
digunakan untuk membedakan antara obstruksi usus proksimal dan distal. Makin
distal letak obstruksi, makin banyak jumlah loop usus yang distensi dan air fluid level
akan tampak.
Foto kontras barium enema dapat memperlihatkan perbedaan antara distensi
ileum dan kolon, melihat apakah kolon pernah terpakai atau tidak/ unused
(mikrokolon) dan dapat pula mengevaluasi lokasi sekum untuk kemungkinan
kelainan rotasi usus. Pemeriksaan kontras oral mungkin bermanfaat pada kondisi
obstruksi usus parsial. Tetapi pada kondisi obstruksi total pemeriksaan ini merupakan
kontra indikasi. Atresia duodenum merupakan penyebab tersering obstruksi usus
proksimal memperlihatkan gambaran spesifik double bubble dengan air fluid level
tanpa udara di bagian distal.
B. Ultrasonogafi
Ultrasonografi dapat membantu menegakkan diagnosa pasien dengan massa
di abdominal. Dengan USG intussusepsi ditegakkan bila terlihat target sign pada
13

penampang melintang dan pseudokidney sign pada penampang longitudinal. USG


dapat pula membantu menegakkan diagnosa obstruksi usus yang disebabkan tumor
intra abdomen, atau proses inflamasi seperti abses apendiks yang menyebabkan
obstruksi. Pemeriksaan foto kontras barium (Upper GI) dapat memperlihatkan
elongasi kanal pilorus dan indentasi garis antrum (shoulders sign).6
2.9 Manifestasi Klinis
Tanda obstruksi duodenum adalah muntah yang mengandung empedu tanpa
perut kembung, biasanya terjadi pada hari pertama kelahiran. Gelombang peristaltik
mungkin terlihat pada awal proses penyakit ini. Ada riwayat polihidroamnion pada
pertengahan kehamilan dan ini disebabkan oleh kegagalan penyerapan cairan amnion
di bagian distal usus. Ikterik tampak pada sepertiga bayi. Diagnosis pada foto rontgen
polos terlihat adanya gambaran tanda gelembung ganda. Gambaran ini disebabkan
oleh karena lambung dan duodenum proksimal mengembang terisi udara.3,5
2.10 Tatalaksana
Penatalaksanaan pada obstruksi duodenum secara spesisifik adalah sebagai
berikut:
A. Tatalaksana Pra-Operasi
Secara umum tatalaksana awal pasien dengan obstruksi usus adalah mengatasi
dehidrasi dan gangguan elektrolit, dekompresi nasogastrik atau orogastrik dengan
ukuran yang adekuat, pemberian antibiotik intravena. Termoregulasi, pencegahan
terhadap hipotermi penting sekali pada pasien pediatrik khususnya pasien neonatus.
Tidak boleh dilupakan untuk identifikasi kemungkinan adanya kelainan penyerta bila
penyebab obstruksi adalah kelainan kongenital. Harus selalu diingat bahwa setiap
kelainan kongenital dapat disertai kelainan kongenital lain (VACTER), sehingga
perlu dicari karena mungkin memerlukan penanganan secara bersamaan. Perkiraan
dehidrasi baik dari muntah atau sekuestrasi cairan akibat obstruksi usus perlu dihitung
dan diganti. Dengan sedikit pengecualian, dehidrasi yang ditimbulkan obstruksi usus
14

biasanya berupa dehidrasi isotonik, sehingga cairan pengganti yang ideal yang mirip
cairan ekstraselular adalah Ringer asetat.
Nasogastic tube (NGT) atau orogastrik tube(OGT) dengan ukuran yang
adekuat sangat bermanfaat untuk dekompresi dan mencegah aspirasi. Orogastric tube
lebih dipilih untuk pasien neonatus karena neonatus bernapas lebih dominan melalui
lubang hidung. Dekompresi dengan NGT / OGT kadang dapat menolong dan
menghindarkan pembedahan pada pasien obstruksi usus parsial karena adhesi pasca
pembedahan. Antibiotik intravena untuk bakteri-bakteri usus hampir selalu perlu
diberikan pada pasien-pasien yang mengalami obstruksi usus. Antibiotik ini dapat
bersifat profilaktif atau terapeutik bila lamanya obstruksi usus telah memungkinkan
terjadinya translokasi flora usus.
B. Tatalaksana Operatif
Secara umum tatalaksana pasien obstruksi usus adalah tindakan pembedahan.
Operasi perbaikan obstruksi duodenum yang biasa adalah duodenoduodenostomi.
Usus proksimal yang melebar dapat diperkecil secara perlahan dalam upaya
memperbaiki peristaltik. Pipa gastrostomi dipasang untuk mengalirkan lambung dan
melindungi

jalan

nafas.

Dukungan

nutrisi

intravena

atau

pipa

jejunum

transanastomosis diperlukan sampai bayi mulai makan per oral. Prognosis terutama
tergantung pada adanya anomali penyerta.
Setelah prosedur tersebut jangan lupa untuk menilai ulang kemungkinan
adanya obstruksi tambahan lainnya dengan cara melewatkan kateter 8 fr ke proksimal
dan distal. Bila telah yakin tidak ada obstruksi lainnya maka duodenotomi segera
dijahit kembali. Prosedur dikerjakan pada obstruksi duodenum dikerjakan dengan
cara memotong adhesinya, melepaskan adhesi antara usus dan peritoneum parietal
dan antara usus dan usus, mobilisasi sekum dan menempatkan kolon pada abdomen
kiri.
C. Tatalaksana Pasca Operatif
Meskipun laparotomi pada bayi atau anak memberikan stres yang signifikan
kepada pasien, kebanyakan pasien berangsur membaik setelah koreksi bedah terhadap
15

penyebab obstruksi ususnya. Pada periode pasca operatif awal, gangguan


keseimbangan cairan dan elektrolit, metabolisme glukosa dan gangguan respirasi
biasa terjadi. Kebanyakan bayi yang menjalani operasi laparotomi biasanya
mengalami sekuestrasi cairan ke rongga ketiga dan ini memerlukan tambahan jumlah
cairan pada periode pasca operatif. Kebutuhan pemeliharaan disesuaikan dengan
kondisi

pasien.

Semua

kehilangan

cairan

tubuh

harus

diperhitungkan.

Kehilangan cairan melalui muntah, NGT, ileostomi, atau jejenostomi harus


diganti sesuai volume yang hilang. Swenson menyebutkan untuk berhati-hati dalam
instruksi pasca operasi. Semua dosis obat, elektrolit atau cairan untuk terapi harus
dikalkulasi secara individual dengan mempertimbangkan berat badan, umur atau
kebutuhan metabolik.
Pada atresia duodenum, ileus yang memanjang dapat terjadi lebih dari 5 hari.
Swenson menyebutkan pulihnya fungsi duodenum dapat lambat sekali bila duodenum
sangat berdilatasi. Cairan berwarna hijau dapat keluar dari nasogastrik dalam periode
waktu yang memanjang. Hal ini disebabkan bukan hanya karena edema di daerah
anastomosis tetapi juga karena terganggunya peristaltik pada segmen duodenum
proksimal yang mengalami dilatasi hebat.
Permulaan asupan melalui oral dengan air gula / dextrose dapat dimulai bila drainase
gaster mulai berkurang atau warnanya mulai kecoklatan atau jernih yang kemudian
diikuti oleh susu formula (progestimil, isomil) secara bertahap. Bila program feeding
tersebut tidak bisa diterima pasien ,maka nutrisi parenteral perlu dipertimbangkan
dalam menjaga kecukupan asupan nutrisi pasca operasi. 7,8
2.11 Komplikasi
Komplikasi yang paling sering terjadi akibat kegagalan melakukan koreksi terhadap
keseimbangan cairan tubuh dan elektrolit sehingga pasien metabolik asidosis berat
dengan segala konsekuensinya. Pada saat pembedahan untuk eksisi sekat duodenum
sering kali terjadi trauma pada muara ampula vater sehingga terjadi ikterus pasca
bedah. Striktur anastomis duodenum pascabedah juga terlihat dari lambatnya

16

pengosongan duodenum pascabedah setelah 3 minggu kemudian, sehingga harus


dibuktikan dengan pemeriksaan kontras saluran pencernaan bagian atas.9
2.12 Prognosis
Prognosis umumnya baik sekitar 90% kelainan ini dapat diperbaiki dengan
pembedahan, adanya kelainan kongenital yang menyertai serta keterlambatan
penanganan akan mempertinggi angka mortalitas akibat obstruksi duodenum
kongenital.9
2.13 Evaluasi
Dilakukan evaluasi terhadap fungsi defekasi, pasase usus, gejala muntah dan distensi
abdomen. Evaluasi lanjut dilakukan terhadap patensi duodenum karena kemungkinan
terdapat penyempitan atau stenosis di daerah anastomosis sering terjadi.9

17

BAB III
SIMPULAN
Obstruksi duodenum adalah kondisi dimana duodenum (bagian pertama dari usus
halus) tidak berkembang dengan baik, sehingga tidak berupa saluran terbuka dari
lambung yang tidak memungkinkan perjalanan makanan dari lambung ke usus.
Tanda obstruksi duodenum adalah muntah yang mengandung empedu tanpa perut
kembung, biasanya terjadi pada hari pertama kelahiran.yang dapat menyebabkan
obstruksi duodenum. Obstruksi duodenum lengkap pada neonatus biasanya
disebabkan oleh atresia duodenum, yang disebabkan kegagalan rekanalisasi bawaan
yang biasanya terjadi selama 9-11 minggu usia kehamilan.
Diperlukan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang untuk menegakkan
diagnosis. Tanda obstruksi duodenum adalah muntah yang mengandung empedu
tanpa perut kembung, biasanya terjadi pada hari pertama kelahiran.
Penatalaksanaan pada obstruksi duodenum dapat dibagi menjadi tiga, yaitu pra
operatif, operatif dan pasca operatif.

18

DAFTAR PUSTAKA

1. Hakan Demirtas, Mehmet S. Durmaz, Cem Boneval, Kamil Karnall.


Congenital Duodenal Web Leading to Partial Obstruction. 2013.
2. B.J Selena, R.H Hunt. The Stomach and Duodenum. Vol 5. pp138-174
3. Price, Sylvia Anderson. Pathophysiology: Clinical Concepts of Disease
Processes. Vol. 6.
4. Heller JL. Intestinal Obstruction. Medline Plus; 2008 Jul 23. Available from:
http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/000260.htm. (Diakses April
2014).
5. Nobie BA. Obstruction, Small Bowel. eMedicine; 2009 Nov 12. Available
from:http://emedicine.medscape.com/article/774140-overview. (Diakses April
2014).
6. Yoon CH, et al. Sonographic windsock sign of a duodenal web. Pediatr Radiol
2001; 31: 856-857.
7. Qiang Huang, Ding-Ke Dai, Xiao-Jun Qian, Ren-You Zhai. Treatment of
gastric outlet and duodenal obstructions with uncovered expandable metal
stents. 2007. pp 5376-5379
8. C. A. Hajlvassillou. Intestinal Obstruction in Neonatal/Pediatric Surgery. Vol
12, No 4. 2003. pp 241-253
9. Prof. Dr. Ketut Budha, Sp.B-KBD, et al. Standar Pelayanan Medis Bedah
Emergency. 2008. pp 101-102

19