Anda di halaman 1dari 30

PENYULUHAN MENGENAI KB IMPLAN SEBAGAI SALAH

SATU METODE KONTRASEPSI JANGKA PANJANG DI


POSYANDU KOKAR DANO, BRANG BARA

Disusun oleh:
dr. Deslia Anggarini Supriyadi

PROGRAM DOKTER INTERNSIP


PUSKESMAS UNIT I SUMBAWA BESAR
NTB, 2015

HALAMAN PENGESAHAN

Nama

: dr. Deslia Anggarini Supriyadi

Judul Laporan : Penyuluhan Mengenai KB Implan Sebagai Salah Satu Metode


Kontrasepsi Jangka Panjang di Posyandu Kokar Dano, Brang Bara

Laporan Penyuluhan Mengenai KB Implan Sebagai Salah Satu Metode

Kontrasepsi

Jangka Panjang di Posyandu Kokar Dano, Brang Bara telah disetujui guna
melengkapi tugas Dokter Internship dalam Pelayanan Kesehatan Masyarakat Primer
(PKMP) dan Usaha Kesehatan Masyarakat (UKM) di bidang Kesehatan Ibu dan Anak
serta Keluarga Berencana.

Sumbawa, Agustus 2015


Mengetahui,
Pendamping Dokter Internship

dr. Lita Feradila Rosa

BAB I
PENDAHULUAN
Negara Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah penduduk yang
besar. Indonesia berada di urutan keempat untuk negara berpopulasi terbesar, setelah
Cina, India, dan Amerika Serikat. Populasi penduduknya mencapai 237,6 juta orang pada
2010. Menurut Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), laju
pertumbuhan penduduk Indonesia sekitar 1,49 persen per tahun. Ini berarti setiap tahun
jumlah populasi membengkak 3,5 juta hingga 4 juta orang. Berdasarkan data Survei
Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2012, total fertility rate (TFR) nasional
cenderung stagnan serta bervariasi antar provinsi dimana secara nasional angkanya
sekitar 2,6 anak per wanita dengan angka terendah di provinsi DI Yogyakarta (2,1) dan
tertinggi di Papua Barat (3,7).

BKKBN, 2013

Karena laju pertumbuhan penduduk Indonesia yang cukup besar, perlu dilakukan
program pembatasan angka kelahiran. Program pembatasan angka kelahiran di Indonesia

dikenal dengan program Keluarga Berencana (KB). Keluarga berencana menurut


Undang-Undang no 10 tahun 1992 (tentang perkembangan kependudukan dan
pembangunan keluarga sejahtera) adalah upaya peningkatan kepedulian dan peran serta
masyarakat melalui pendewasaan usia perkawinan (PUP), pengaturan kelahiran,
pembinaan ketahanan keluarga, peningkatan kesejahteraan keluarga kecil, bahagia dan
sejahtera (Arum, 2008).
Pembatasan kelahiran tersebut bertujuan tidak hanya untuk membatasi angka
kelahiran tetapi juga mengurangi angka morbiditas dan mortalitas ibu dan anak. Gerakan
keluarga berencana nasional Indonesia telah berumur panjang (sejak 1970) dan
masyarakat dunia menganggap Indonesia berhasil menurunkan angka kelahiran dengan
bermakna. Pada dasarnya tujuan KB nasional mencakup dua hal, yaitu kuantitatif dan
kualitatif. Tujuan kuantitatif adalah menurunkan dan mengendalikan pertumbuhan
penduduk dengan cara pengaturan jarak kelahiran (spacing) dan membatasi jumlah
anak (limiting). Sedangkan tujuan kualitatif adalah untuk menciptakan atau
mewujudkan norma keluarga kecil yang bahagia dan sejahtera (NKKBS) dan membentuk
keluarga berkualitas, yaitu keluarga yang harmonis, sehat, tercukupi sandang, pangan,
papan, pendidikan dan produktif dari segi ekonomi (Suratun, 2008; BKKBN, 1994;
Mochtar, 1998).
Secara umum, program pemakaian kontrasepsi sebagai bagian dari program
Keluarga Berencana (KB) di Indonesia dibagi menjadi pemakaian kontrasepsi hormonal
dan kontrasepsi non hormonal. Kontrasepsi hormonal yang banyak dikenal adalah pil
KB, suntik, dan implant. Sedangkan kontrasepsi non hormonal merupakan kontrasepsi
tanpa disertai adanya hormone estrogen, progesteron, dan progrestin seperti pemakaian
kondom pada pria, difragma pada wanita, sterilisasi, dan coitus interruptus (senggama
terputus). Intrauterine Device (IUD) dapat mengandung hormone atau tidak. Adapun
tujuan dari masing-masing jenis kontrasepsi adalah untuk mencegah terjadinya
kehamilan. Upaya tersebut dapat bersifat sementara, dapat pula bersifat permanen.
Namun sampai saat ini belum ada suatu cara kontrasepsi yang 100 % ideal, karena
idealnya suatu kontrasepsi dilihat dari efektivitas, efisiensi, keamanan, harga, estetika,
ketersediaan, dan efek samping minimal.

Berdasarkan statistik rutin BKKBN, terjadi penununan jumlah peserta KB baru dari
9,6 juta pasangan pada tahun 2011 menjadi 9,4 juta peserta pada tahun 2012, dan turun
lagi menjadi 8,5 juta pasangan pada tahun 2013. Apabila dilihat dari jenis alat/obat
kontrasepsi yang digunakan oleh peserta KB baru, Suntikan dan Pil masih menjadi
alat/obat

kontrasepsi

yang

paling

banyak

digunakan.

Walaupun

begitu,

ada

kecenderungan menurun pola pemakaiannya selama tahun 2010 sampai 2012, yaitu
49,0% pada tahun 2010 menjadi 48,2% pada tahun 2011 dan turun lagi menjadi 46,9%
pada 2012 untuk PB Suntikan, sedangkan pada tahun 2013 mengalami peningkatan
menjadi 48,6%. Untuk peserta baru KB Pil terjadi penurunan selama empat tahun terakhir
yaitu mulai 29,2% pada tahun 2010 menjadi 27,9% pada tahun 2011 dan turun menjadi
27,1% sampai akhir tahun 2012, serta 26,6% pada tahun 2013. Sebaliknya, pada periode
sama terjadi kecenderungan menaik untuk peserta baru yang menggunakan metoda
jangka panjang (PB MKJP) seperti IUD, MOW, Implan, dan MOP, yaitu 13,8% pada
tahun 2010, 16,0% pada tahun 2011, 17,8% pada tahun 2012, serta 18,7% sampai akhir
tahun 2013.

BKKBN, 2013

Dalam pemilihan KB, perlu dipertimbangkan keuntungan/kerugian dari penggunaan

tiap macam KB untuk mendapat metode yang paling cocok. Oleh karena itu, tenaga
kesehatan sangat diperlukan untuk dapat memberikan edukasi dan penjelasan pada calon
penerima KB tentang pilihan KB yang paling tepat untuk si calon penerima, baik dari sisi
kesehatan, sosial ekonomi, maupun kehidupan sosialnya. Sehingga pada akhirnya,
program Keluarga Berencana di Indonesia dapat berjalan dengan baik dan jumlah
penduduk Indonesia juga bisa berkurang.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Definisi Kontrasepsi
Menurut BKKBN (1995), kontrasepsi berasal dari kata kontra berarti mencegah

atau melawan dan konsepsi yang berarti pertemuan antara sel telur yang matang dan sel
sperma yang mengakibatkan kehamilan. Sehingga kontrasepsi secara definisi adalah
upaya untuk mencegah kehamilan. Untuk itu, berdasarkan maksud dan tujuan
kontrasepsi, maka yang membutuhkan kontrasepsi adalah pasangan yang aktif melakukan
hubungan seks dan kedua-duanya memiliki kesuburan normal namun tidak menghendaki
kehamilan (Suratun, 2008). Upaya kontrasepsi dapat bersifat sementara, dapat pula
bersifat permanen (Prawirohardjo, 2005).
Akseptor KB menurut sasarannya terbagi menjadi tiga fase yaitu
1. Fase menunda kehamilan
Masa menunda kehamilan pertama, sebaiknya dilakukan oleh pasangan yang
istrinya belum mencapai usia 20 tahun. Kriteria kontrasepsi yang diperlukan yaitu
kontrasepsi dengan pulihnya kesuburan yang tinggi serta efektifitas tinggi. Kontrasepsi
yang cocok dan yang disarankan adalah pil KB, AKDR dan cara sederhana.
2.

Fase mengatur/menjarangkan kehamilan


Periode usia istri antara 20-30 tahun merupakan periode usia paling baik untuk

melahirkan, dengan jumlah anak 2 orang dan jarak antara kelahiran adalah 24 tahun.
Kriteria kontrasepsi yang perlukan yaitu: efektifitas tinggi, reversibilitas tinggi karena
pasangan masih mengharapkan punya anak lagi, dapat dipakai 34 tahun sesuai jarak
kelahiran yang direncanakan, serta tidak menghambat produksi air susu ibu (ASI).
Kontrasepsi yang cocok dan disarankan menurut kondisi ibu yaitu AKDR, suntik KB, pil
KB atau Implan
3. Fase mengakhiri kesuburan/tidak hamil lagi
Sebaiknya dilakukan pada keluarga yang mempunyai 2 anak, umur istri lebih dari
30 tahun, dan tidak ingin hamil lagi. Kondisi keluarga seperti ini dapat menggunakan
kontrasepsi yang mempunyai efektifitas tinggi, karena jika terjadi kegagalan hal ini dapat
menyebabkan terjadinya kehamilan dengan resiko tinggi bagi ibu dan anak (Suratun,

2008).
Sampai sekarang cara kontrasepsi yang ideal belum ada. Kontrasepsi ideal itu harus
memenuhi syarat-syarat sebagai berikut (Mochtar, 1998):

Aman dan dapat dipercaya

Tidak menimbukan efek yang mengganggu kesehatan

Lama kerjanya dapat diatur menurut keingingan

tidak menimbulkan gangguan sewaktu melakukan koitus

tidak memerlukan control yang ketat

mudah pelaksanaannya

murah harganya sehingga dapat dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat

dapat diterima penggunaanya oleh pasangan yang bersangkutan

2.2 Klasifikasi Kontrasepsi


2.2.1 Pembagian menurut efek kerjanya
Tidak mempengaruhi fertilitas
Menyebabkan infertilitas temporer (sementara)
Kontrasepsi permanen dengan infertilitas menetap
2.2.2

2.2.3

Pembagian menurut jenis kelamin


Cara atau alat yang dipakai oleh suami (pria)
Cara atau alat yang dipakai oleh isteri (wanita)
Pembagian menurut cara kerja/cara kontrasepsi

Menurut keadaan biologis: metode amenorea laktasi (MAL), sanggama

terputus, metode kalender, suhu badan, dan lain-lain


Memakai alat barier: kondom, diafragma
Obat kimiawi: spermisida
Kontrasepsi intrauterin: IUD (Intra Uterine Device)
Hormonal: Pil KB, suntikan KB, dan implant
Operatif: tubektomi dan vasektomi

2.3 Jenis-jenis Kontrasepsi


Senggama Terputus
Merupakan cara kontrasepsi yang paling tua. Senggama dilakukan sebagaimana

biasa, tetapi pada puncak senggama, alat kemaluan pria dikeluarkan dari liang vagina dan
sperma dikeluarkan di luar. Cara ini tidak dianjurkan karena sering gagal, karena suami
belum tentu tahu kapan spermanya keluar.
Pantang berkala
Syarat utama pantang berkala adalah menstruasi teratur dan kerja sama dengan
suami harus baik. Menstruasi yang teratur merupakan syarat penting karena dapat
memberikan petunjuk masa subur. Perhitungan masa subur dpaat dilakukan bersama
suami sehingga suami istri mempunyai pengertian yang sama. Hidup ovum terbatas
sekitar 48 jam, spermatozoa di dalam tubuh wanita dapat hidup selama 72 jam.
Metode pantang berkala dikenal 2 sistem, yaitu menggunakan sistem kalender dan
menggunakan penilaian suhu basal.
Pantang berkala dengan sistem kalender
Metode ini memerlukan sistem menstruais yang teratur sehingga dapat
memperhitungkan masa subur untuk menghindari kehamilan dengan tidak melakukan
hubungan seks pada masa tersebut.
Masa subur wanita dapat dihitung dengan melakukan perhitungan minggu subur
sebagai berikut:
Menstruasi wanita teratur antara 26 sampai 30 hari.
Masa subur dapat diperhitungkan, yaitu menstruasi hari pertama ditambah 12
yang merupakan hari pertama minggu subur dan akhir minggu subur adalah hari
pertama menstruasi ditambah 19.
Puncak minggu subur adalah hari pertama menstruasi ditambah 14.
Pantang berkala dengan sistem suhu basal tubuh
Suhu basal yaitu suhu yang diukur di waktu pagi segera sesudah bangun tidur dan
sebelum melakukan aktifitas apapun. Menjelang ovulasi suhu basal badan akan turun.
Kurang lebih 24 jam sesudah ovulasi suhu basal badan akan naik lagi sampai lebih tinggi
daripada suhu sebelum ovulasi, sehingga dapat digunakan untuk menentukan saat
ovulasi. Suhu basal badan dicatat dengan teliti setiap hari. Pada beberapa keadaan,
seperti: infeksi, ketegangan, dan waktu tidur tidak teratur dapat pula meninggikan suhu
basal badan. Karena itu maka, dianjurkan jangan melakukan senggama sampai terlihat
suhu tetap tinggi 3 hari berturut-turut.
Obat Spermatisida

Spermisida adalah zat kimia yang dapat melumpuhkan hingga mematikan


spermatozoa

dengan

cara

menyebabkan

sel

membran

sperma

terpecah

dan

memperlambat gerakan sperma. Spermatisida dikemas dalam bentuk aerosol (busa),


tablet vaginal supositoria, disolvable film dan krim. Spermatisida diletakkan dalam
vagina di dekat serviks sekitar 5 sampai 10 menit sebelum berhubungan. Kekurangan
spermatisida antara lain dapat menimbulkan iritasi atau alergi, efektifitas hanya 1-2 jam,
dan kejadian hamil tinggi sekitar 30 sampai 35% karena pemasangan tidak sempurna atau
terlalu cepat melakukan senggama.
Kondom
Cara kerja kondom adalah menampung spermatozoa sehingga tidak masuk ke
dalam kanalis serviks. Keuntungan kontrasepsi kondom adalah murah, mudah
didapatkan, tidak memerlukan pengawasan medis, dan mengurangi kemungkinan
penularan penyakit kelamin. Sedangkan kerugiannya adalah kenikmatan terganggu,
mungkin alergi terhadap karet atau jelinya yang mengandung spermisid, dan sulit
dipasarkan kepada masyarakat dengan pendidikan rendah.
Diafragma
Adalah cup berbentuk bulat cembung dari latex yang diinsersikan ke dalam vagina
sebelum berhubungan seksual dan menutup serviks. Cara kerja diafragma adalah dengan
menahan sperma agar tidak mencapai saluran reproduksi bagian atas (uterus, tuba fallopi)
dan sebagai alat tempat spermisida. Keuntungannya berupa tidak menyebabkan gangguan
sistemik, sedangkan keterbatasannya berupa efektifitas sedang (bila digunakan dengan
spermisida angka kegagalan 6-18 kehamilan per 100 wanita pertahun pertama),
keberhasilan sebagai kontrasepsi bergantung pada kepatuhan, dan dapat menyebabkan
infeksi atau reaksi alergi.
Kontrasepsi Oral
Kontrasepsi oral adalah kontrasepsi untuk wanita yang berbentuk tablet dan
mengandung hormon estrogen dan progestrone yang digunakan untuk mencegah hamil.
Melalui hipotalamus dan hipofisis, estrogen dapat menghambat pengeluaran folikel
stimulating hormone (FSH) sehingga perkembangan dan kematangan folikel de graaf

tidak terjadi. Di samping itu progesteron dapat menghambat pengeluaran hormone


Luteizing (LH). Kontrasepsi oral terdiri dari:

Pil kombinasi. Sejak semula telah terdapat kombinasi komponen progesteron


dan estrogen. 21 tablet mengandung hormone aktif estrogen dan progesterone

dengan 7 tablet tanpa hormon aktif, dengan total 28 tablet untuk 1 siklus.
Pil sekuensial. Pil ini mengandung komponen yang disesuaikan dengan system
hormonal tubuh. Dua belas pil pertama hanya mengandung estrogen, pil ketiga

belas dan seterusnya merupakan kombinasi.


Mini pil. Pil ini hanya mengandung progesteron dan digunakan ibu postpartum.
Morning after pill. Pil ini merupakan pil hormon yang mengandung estrogen
dosis tinggi yang hanya diberikan untuk keadan darurat saja setelah
berhubungan tanpa menggunakan kontrasepsi.

Keuntungan pil KB antara lain: efektivitasnya tinggi bila diminum secara rutin,
nyaman, mudah digunakan, dan tidak mengganggu senggama, reversibilitas tinggi,
mudah didapatkan, dan relative murah. Kekurangnya berupa efektivitas tergantung
motivasi akseptor untuk meminum secara rutin tiap hari, dapat terjadi efek samping
seperti berat badan bertambah, tumbuh akne, mual sampai muntah, pusing, dll,
kemungkinan untuk gagal sangat besar karena lupa, dan tidak dapat melindungi dari
resiko tertularnya Penyakit Menular Seksual. Kontraindikasi penggunaan pil KB antara
lain tromboflebitis, keganasan payudara atau organ lainnya, pada kehamilan, penyakit
hati, kencing manis, gangguan mental, dan perdarahan yang tidak jelas.

KB Suntik
Depomedroxyprogesterone Asetat (DMPA)/Depo-Provera
DMPA adalah suatu suspensi mikrokristal dari progestin sintetis yang disuntikkan
intramuskular. Tingkat aktif farmakologi dicapai dalam waktu 24 jam setelah injeksi, dan
konsentrasi serum 1 ng/mL dipertahankan selama 3 bulan. Selama lima atau enam bulan
setelah injeksi, konsentrasi menjadi 0,2 ng/mL, dan menjadi tidak terdeteksi 7-9 bulan
setelah injeksi.

Cara mekanisme kerja dari DMPA adalah dengan cara:

Mengganggu pelepasan LH sehingga menghambat ovulasi.


Progesteron mengubah endometrium, sehingga kapasitas spermatozoa tidak

berlangsung.
Mengentalkan lendir serviks sehingga sulit ditembus spermatozoa.
Menghambat peristaltik tuba sehingga menyulitkan konsepsi.
Menghindari implantasi melalui perubahan struktur endometrium.

Injeksi Lunelle (Cyclofem/Cyclo Provera)


Lunelle (Cyclofem/CycloProvera) adalah kontrasepsi injeksi kombinasi yang
diberikan bulanan (setiap 28 sampai 30 hari). Lunelle berisi hormon progestin dan
estrogen (5,0 mg estradiol cypionate dan 25 mg medroksiprogesteron asetat).
Ovulasi (pelepasan telur yang matang) biasanya terjadi dalam waktu 60 hari dari
suntikan Lunelle terakhir, sekitar dua kali lebih cepat setelah penggunaan Depo-Provera.
Juga, karena merupakan gabungan hormon sangat kecil kemungkinannya menyebabkan
menstruasi tidak teratur atau tidak ada. Satu keuntungan dari Lunelle, adalah bahwa
efeknya hilang lebih cepat daripada Depo-Provera.
Keuntungan KB suntik antara lain: tingkat efektivitasnya tinggi, dapat diberikan
pasca operasi, pasca keguguran atau pasca mentruasi, tidak mengganggu laktasi, dll.
Kerugiannya dapat berupa terjadinya perdarahan yang tidak menentu, dapat terjadi
amenorrhea berkepanjangan, dll.
IUD (Intra Uterine Device) atau Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR)
Sekarang ini di pasaran terdapat berpuluh-puluh jenis IUD. Dari bahan bakunya
IUD yang beredar terdiri dari tiga tipe. Ada yang terbuat dari plastik, mengandung
tembaga, dan ada yang mengandung hormon progesterone. Dari segi bentuknya, IUD
terbagi ke dalam bentuk yang terbuka dan tertutup seperti cincin. Tipe-tipe IUD berupa
Copper-T, Lippes Loop, dan lain-lain.
Dibandingkan dengan alat dan obat kontrasepsi yang lain, IUD mempunyai
keunggulan karena hanya memerlukan satu kali pemasangan, tidak menimbulkan efek
sistemik, ekonomis dan cocok untuk penggunaan secara masal, efektivitasnya cukup

tinggi, dan mudah dilepas jika menginginkan anak (reversibel). Namun demikian, IUD
bisa menimbulkan efek samping seperti pendarahan, leucorrhea, rasa nyeri, kejang perut,
dan gangguan atau ketidaknyamanan pada suami. Bahkan bisa menimbulkan infeksi
pelvik dan endometritis.
Kontraindikasi AKDR antara lain: adanya kelainan uterus seperti perdarahan yang
tidak normal dari uterus, kanker rahim, kelainan bentuk uterus; dan adanya infeksi
genitalia. Mekanisme kerja IUD:

Meningkatkan getaran saluran telur sehingga pada waktu blastokista sampai


ke rahim, endometrium belum siap untuk menerima nidasi hasil konsep
(blastokista).

Menimbulkan reaksi jaringan, sehingga terjadi serbukan leukosit, makrofag dan


limfosit yang dapat merusak blastokista.

Lilitan logam menyebabkan reaksi anti fertilitas.

Meningkatkan kadar prostaglandin intrauterin sehingga menghalagi kapasitas


spermatozoa.

Efek mekanik menimbulkan kontraksi-kontraksi rahim yang menghalangi


kenaikan sperma.

Ion copper IUD menyebabkan gangguan gerak spermatozoa sehingga


mengurangi kemampuan untuk melaksanakan konsepsi.

Sterilisasi/Kontrasepsi Mantap
Tubektomi
Adalah suatu tindakan oklusi/pengambilan sebagian saluran telur wanita untuk
mencegah proses fertilisasi. Setelah dilakukan tubektomi, fertilitas dari pasangan tersebut
akan terhenti secara permanen. Waktu yang terbaik untuk melakukan tubektomi
pascapersalinan ialah tidak lebih dari 48 jam sesudah melahirkan karena posisi tuba
mudah dicapai dari subumbilikus dan rendahnya resiko infeksi. Bila masa 48 jam
pascapersalinan telah terlampaui maka dilakukan 6-8 minggu persalinan atau pada masa
interval.
Keuntungan tubektomi adalah tingkat efektivitas hampir 100% karena kegagalan

dari pihak pasien tidak ada, dan tidak mempengaruhi libido seksualis wanita. Sedangkan
kelemahannya adalah tindakan ini bersifat irreversibel, walaupun ada kemungkinan untuk
membuka tuba kembali pada mereka yang masih menginginkan anak lagi dengan operasi
rekanalisasi.
Vasektomi
Adalah suatu tindakan oklusi/pengambilan saluran vas deferens pada laki-laki untuk
menghilangkan tempat pematangan sperma. Di Indonesia, vasektomi tidak termasuk
dalam program keluarga berencana nasional. Dan masih banyak pria di Indonesia
menganggap vasektomi tersebut identik dengan dikebiri dan dapat menimbulkan
impotensi. Keuntungan vasektomi yang paling utama adalah tidak mengganggu libido
seksualitas dan lamanya operasi hanya sekitar 10 - 15 menit jika tanpa disertai adanya
penyulit (seperti infeksi pada tempat sayatan, rasa nyeri, terbentuknya hematom atau
bahkan granuloma).
Kegagalan dari tindakan vasektomi dapat terjadi karena adanya rekanalisasi
spontan, atau gagal mengenal dan memotong vas deferens, tidak diketahui adanya
anomali vas deferens, atau jika koitus dilakukan sebelum kantong seminalnya betul-betul
kosong. Sehabis operasi, peserta vasektomi baru boleh melakukan hubungan intim
dengan pasangannya setelah enam hari. Itupun harus wajib menggunakan kondom selama
12 kali hubungan demi pengamanan.
2.4 Alat Kontrasepsi Implan
2.4.1 Definisi
Kontrasepsi implan adalah metode kontrasepsi yang diinsersikan pada bagian
subdermal, yang hanya mengandung progestin dengan masa kerja panjang, dosis rendah,
dan reversibel untuk wanita (Speroff & Darney, 2005).
2.4.2 Mekanisme Kerja
Lendir serviks menjadi kental
Kadar levonorgestrel yang konstan mempunyai efek nyata terhadap mucus serviks.
Mukus tersebut menebal dan jumlahnya menurun, sehingga menghambat pergerakan
sperma dan mencegah fertilisasi.
Mengganggu proses pembentukan endometrium

Levonorgestrel menyebabkan supresi terhadap maturasi siklik endometrium yang


diinduksi estradiol, dan akhirnya menyebabkan atrofi. Perubahan ini dapat mencegah
implantasi zygote sekalipun terjadi fertilisasi; meskipun demikian, tidak ada bukti
mengenai fertilisasi yang dapat dideteksi pada pengguna implan.
Menekan ovulasi
Levonorgestrel menyebabkan supresi terhadap lonjakan luteinizing hormone (LH),
baik pada hipotalamus maupun hipofisis, yang penting untuk ovulasi.
2.4.3 Jenis-Jenis Implan
Norplant
Norplant adalah suatu alat kontrasepsi yang mengandung levonorgestrel yang
dibungkus dalam kapsul silastic-silicone (polydimethylsiloxane) dan disusukkan di
bawah kulit. Jumlah kapsul yang disusukkan dibawah kulit adalah sebanyak 6 kapsul dan
masing-masing kapsul panjangnya 34 mm dengan diameter 2,4 mm dan berisi 36 mg
levonorgestrel.
Implant melepas sekitar 80 mcg levonorgestrel per 24 jam selama tahun pertama
penggunaan, dan efektif mencapai konsentrasi serum 0,4-0,5 ng/mL dalam 24 jam
pertama. Laju pelepasan menurun hingga rata-rata 30 mikrogram/hari pada akhir tahun
digunakan. Pelepasan dari agen progesteron secara difusi menyediakan kontrasepsi yang
efektif selama 5 tahun. Perlindungan kontrasepsi dimulai dalam waktu 24 jam dari
pemasangan jika terpasang pada minggu pertama siklus menstruasi. Batang dimasukkan
subkutaneus, biasanya di lengan atas wanita, yang dapat terlihat di bawah kulit dan
mudah diraba.
Mekanisme kerjanya adalah kombinasi dari penekanan LH sehingga menghalangi
terjadinya ovulasi, meningkatkan kekentalan lendir serviks uteri sehingga menyulitkan
penetrasi sperma, dan norplant ini juga menimbulkan perubahan-perubahan pada
endometrium, sehingga tidak cocok untuk implantasi zygote.
Implanon
Implant ini terdiri dari satu batang tipis dengan panjang 40 mm dan diameter 2 mm.

Implanon terbuat dari plastik yang fleksibel dan disisipkan tepat di bawah kulit di bagian
dalam lengan atas. Implanon hanya mengandung progestin dan mencegah kehamilan
sekitar 3 tahun.
Cara kerja Implanon adalah terus-menerus melepaskan etonogestrel dalam dosis
rendah (suatu progestin) untuk mencegah kehamilan selama 3 tahun. Implanon berisi 68
miligram etonogestrel, dirilis selama periode 3 tahun, sekitar 60-70 mikrogram per hari
yang dirilis di tahun pertama, dan jumlah menurun dari waktu ke waktu menjadi 30 mcg
per hari. Setelah tahun ketiga, implanon masih merilis sedikit hormon, tetapi tidak akan
cukup untuk mencegah kehamilan.
Jadena dan Indoplant
Terdiri dari 2 batang yang diisi dengan 75 mg levonorgestrel dengan lama kerja 3
tahun.
Uniplant
Terdiri dari 1 batang putih silastic dengan panjang 4 cm, yang mengandung 38 mg
nomegestrol asetat dengan kecepatan pelepasan sebesar 100 g per hari dan lama kerja 1
tahun.
Capronor
Terdiri dari 1 kapsul biodegradable. Biodegradable implan melepaskan progestin
dari bahan pembawa/pengangkut yang secara perlahan-lahan larut dalam jaringan tubuh.
Bahan pembawanya sama sekali tidak perlu dikeluarkan lagi misal pada norplant. Tetapi
sekali bahan pembawa tersebut mulai larut, ia tidak mungkin dikeluarkan lagi. Kapsul ini
mengandung levonorgestrel dan terdiri dari polimer E-kaprolakton dan mempunyai
diameter 0,24 cm. Implan ini terdiri dari dua ukuran dengan panjang 2,5 cm yang
mengandung 16 mg levonorgestrel, dan kapsul dengan panjang 4 cm yang mengandung
26 mg levonorgestrel. Lama kerja implant capronor 12 18 bulan. Kecepatan pelepasan
levonorgestrel dari kaprolakton adalah 10 kali lebih cepat dibandingkan silastic.
2.4.4 Keuntungan Kontrasepsi Implant
Daya guna tinggi
Kontrasepsi implan merupakan metode kontrasepsi berkesinambungan yang aman
dan sangat efektif dengan efektifitas 0,2-1 kehamilan per 100 perempuan per tahun.

Perlindungan jangka panjang


Kontrasepsi implan memberikan perlindungan jangka panjang. Masa kerja paling
pendek yaitu satu tahun pada jenis implan tertentu (contoh: uniplant) dan masa kerja
paling panjang pada jenis norplant yang mempunyai masa kerja 5 tahun.
Pengembalian kesuburan yang cepat
Kadar levonorgestrel yang bersirkulasi menjadi terlalu rendah untuk dapat diukur
dalam 48 jam setelah pengangkatan implan. Kembalinya kesuburan setelah pengangkatan
implan terjadi tanpa penundaan dan sebagian besar wanita memperoleh kembali siklus
ovulatorik normalnya dalam bulan pertama setelah pengangkatan. Angka kehamilan pada
tahun pertama setelah pengangkatan sama dengan angka kehamilan pada wanita yang
tidak menggunakan metode kontrasepsi. Tidak ada efek pada kesuburan jangka panjang
di masa depan.
Tidak memerlukan pemeriksaan dalam
Implan diinsersikan pada bagian subdermal di bagian dalam lengan atas.
Bebas dari pengaruh estrogen
Implan tidak mengandung hormon estrogen, hanya mengandung hormon progestin
dosis rendah. Wanita dengan kontraindikasi hormon estrogen dapat menggunakan
kontrasepsi implan.
Tidak mengganggu kegiatan sanggama
Kontrasepsi implan tidak mengganggu kegiatan sanggama, karena diinsersikan pada
bagian subdermal di bagian dalam lengan atas.
Tidak mengganggu ASI
Implan merupakan metode yang paling baik untuk wanita menyusui. Tidak ada efek
terhadap kualitas dan kuantitas air susu ibu, dan bayi tumbuh secara normal.
Tidak memerlukan perawatan lanjutan
Dapat dicabut setiap saat
Mengurangi nyeri haid
Mengurangi jumlah darah haid
Terjadi penurunan dalam jumlah rata-rata darah haid yang hilang.
Mengurangi/memperbaiki anemia
Meskipun terjadi peningkatan dalam jumlah spotting dan hari perdarahan

dibandingkan dengan pola haid pra-pemasangan, konsentrasi hemoglobin para pengguna


implan meningkat karena terjadi penurunan dalam jumlah rata-rata darah haid yang
hilang.
Melindungi terjadinya kanker endometrium
2.4.5 Kerugian Kontrasepsi Implan
Adanya resiko infeksi, hematoma, dan perdarahan pada tempat pemasangan
Perubahan pola haid
Sejumlah perubahan pola haid akan terjadi pada tahun pertama penggunaan pada
kira-kira 80% pengguna. Perubahan tersebut meliputi perubahan pada interval antar
perdarahan, durasi dan volume aliran darah, serta spotting (bercak-bercak perdarahan).
Oligomenore dan amenore juga dapat terjadi pada kurang dari 10% pengguna setelah
tahun pertama. Perdarahan yang tidak teratur dan memanjang biasanya terjadi pada tahun
pertama. Walaupun terjadi jauh lebih jarang setelah tahun kedua, masalah perdarahan
dapat terjadi pada waktu kapan pun.
Nyeri kepala
Sebagian besar efek samping yang dialami oleh pengguna adalah nyeri kepala; kirakira 20% wanita menghentikan penggunaan karena nyeri kepala.
Mual
Perubahan perasaan (mood) atau kegelisahan (nervousness)
Peningkatan berat badan
Wanita yang meggunakan implan lebih sering mengeluhkan peningkatan berat
badan dibandingkan penurunan berat badan. Peningkatan nafsu makan dapat
dihubungkan dengan aktivitas androgenik levonorgestrel.
Jerawat
Jerawat, dengan atau tanpa peningkatan produksi minyak, merupakan keluhan kulit
yang paling umum di antara pengguna implan. Jerawat disebabkan oleh aktivitas
androgenik levonorgestrel yang menghasilkan suatu dampak langsung dan juga
menyebabkan penurunan dalam kadar globulin pengikat hormon seks (SHBG, sex
hormonne binding globulin) sehingga menyebabkan peningkatan kadar steroid bebas
(baik levonorgestrel maupun testosteron). Terapi umum untuk keluhan jerawat mencakup
pengubahan makanan, praktik higiene kulit yang baik dengan menggunakan sabun atau

pembersih kulit, dan pemberian antibiotik topikal (misalnya larutan atau gel klindamisin
1%, atau reitromisin topikal).
Membutuhkan tindak pembedahan minor untuk insersi dan pencabutan
Implan harus dipasang (diinsersikan) dan diangkat melalui prosedur pembedahan
yang dilakukan oleh personel terlatih. Wanita tidak dapat memulai atau menghentikan
metode tersebut tanpa bantuan klinisi. Insiden pengangkatan yang mengalami komplikasi
adalah kira-kira 5%, suatu insiden yang dapat dikurangi dengan cara pelatihan yang baik
dan pengalaman dalam melakukan pemasangan serta pencabutan implan.
Tidak memberikan efek protektif terhadap infeksi menular seksual termasuk AIDS
Implan tidak memberikan perlindungan terhadap penyakit menular seksual seperti
herpes, human papiloma virus, HIV AIDS, gonore atau clamydia. Pengguna yang
berisiko menderita penyakit menular seksual harus mempertimbangkan untuk
menambahkan metode perintang (kondom) guna mencegah infeksi.
Klien tidak dapat menghentikan sendiri pemakaian kontrasepsi.
Dibutuhkan klinisi terlatih dalam melakukan pengangkatan implan.
Efektivitas menurun bila menggunakan obat-obat tuberculosis (rifampisin) atau obat
epilepsy (fenitoin dan barbiturat).
Obat-obat ini sifatnya menginduksi enzim mikrosom hati. Pada kasus ini,
penggunaan implan tidak dianjurkan karena cenderung meningkatkan risiko kehamilan
akibat kadar levonorgestrel yang rendah di dalam darah.
Insiden kehamilan ektopik sedikit lebih tinggi.
Angka kehamilan ektopik selama menggunakan kontrasepsi implan adalah 0,28 per
1000 wanita per tahun penggunaan. Walaupun risiko terjadinya kehamilan ektopik selama
menggunakan implan rendah, jika kehamilan memang terjadi, kehamilan ektopik harus
dicurigai karena kira-kira 30% kehamilan pada saat menggunakan implan merupakan
kehamilan ektopik.
2.4.6

Indikasi Penggunaan Kontrasepsi Implan (Saifuddin, 2006)


Wanita dalam usia reproduksi
Wanita yang telah memiliki anak ataupun yang belum
Pemakaian KB jangka waktu lama
Masih berkeinginan punya anak lagi, tapi jarak antara kelahirannya tidak terlalu

dekat
Tidak dapat memakai jenis KB yang lain
Menyusui dan membutuhkan kontrasepsi
Pasca persalinan dan tidak menyusui
Pasca keguguran
Tidak menginginkan anak lagi, tetapi menolak kontrasepsi mantap
Wanita yang sering lupa menggunakan pil KB

2.4.7 Kontraindikasi Pengunaan Kontrasepsi Implant (Saifuddin, 2006):

Hamil atau diperkirakan hamil


Adanya perdarahan uterus abnormal yang tidak diketahui penyebabnya
Mempunyai mioma uteri atau tumor/keganasan payudara
Mempunyai penyakit kardiovaskuler seperti hipertensi
Mempunyai penyakit diabetes mellitus atau penyakit endokrin lainnya
Mempunyai penyakit hati
Adanya riwayat mola hidatidosa
Adanya riwayat kehamilan ektopik
Mempunyai gangguan pembekuan darah dan riwayat penyakit thromboembolik
Adanya varices berat

2.4.8 Waktu Pemasangan Implant


Kapsul implan dapat dipasang setiap saat selama siklus haid dan dipastikan klien
tidak hamil. Waktu optimal untuk memasang implant adalah:
Setiap saat selama siklus haid hari ke-2 sampai hari ke-7. Tidak diperlukan
metode kontrasepsi tambahan. Bila di insersi setelah hari ke-7 siklus haid, klien
jangan melakukan hubungan seksual, atau gunakan kontrasepsi lain untuk 7 hari
saja.
Bila klien tidak haid, insersi dapat dilakukan setiap saat, asal diyakini tidak
terjadi kehamilan. Jangan melakukan hubungan seksual, atau gunakan
kontrasepsi lain untuk 7 hari saja.
Bila menyusui 6 minggu sampai 6 bulan pasca persalinan, insersi dapat
dilakukan setiap saat. Bila menyusui penuh klien tidak perlu menggunakan
metode kontrasepsi lain.
Bila setelah 6 minggu melahirkan dan telah terjadi haid kembali, insersi dapat
dilakukan setiap saat, tetapi jangan melakukan hubungan seksual, atau gunakan

kontrasepsi lain untuk 7 hari saja.


Bila klien menggunakan pil KB atau kontrasepsi non hormonal (kecuali AKDR)
dan ingin menggantinya dengan implant, insersi dapat dilakukan setiap saat,
asal diyakini tidak terjadi kehamilan, atau klien menggunakan kontrasepsi
terdahulu dengan benar.
Bila kontrasepsi sebelumnya adalah kontrasepsi suntikan, implant dapat
diberikan pada saat jadwal kontrasepsi suntikan tersebut. Tidak diperlukan
metode kontrasepsi lain.
Bila kontrasepsi sebelumnya adalah AKDR, implant dapat diinsersikan pada
hari ke-7 dan klien jangan melakukan hubungan seksual selama 7 hari atau
gunakan metode kontrasepsi lain untuk 7 hari saja. AKDR segera dicabut.
Pasca keguguran implant dapat segera diinsersikan.

2.4.9 Alat-alat yang dipergunakan untuk pemasangan implant


1. Bak steril berisi:
a. Spuit 5cc dan jarum
b. Skalpel no 11 atau 15
c. Implan 1 set
d. Trocar no 10
e. Pinset
f. Duk berlubang
g. Sarung tangan
h. Kasa steril
2. Betadine
3. Lidocaine 2%
4. Verban
5. Larutan chlorine 0,5%
2.4.10 Prosedur Pemasangan Implan
1. Gambar tempat pemasangan dengan tepat seperti kipas terbuka, biasanya pada 3 jari
diatas lipatan siku kiri.

2.
3.
4.
5.
6.

Cuci tangan dan menggunakan sarung tangan steril.


Bersihkan daerah tempat pemasangan dengan betadine.
Pasang duk berlubang.
Diberikan anestesi pada tempat pemasangan dengan injeksi lidokain 2% subkutan.
Dibuat insisi kecil dengan scalpel secara tegak lurus selebar 2-3mm, sehingga trokar

dapat masuk.
7. Trokar ditusukkan subkutan sampai batasnya.
8. Kapsul dimasukkan ke dalam trokar, dan didorong dengan alat pendorong sampai
terasa tertahan.
9. Untuk menempatkan kapsul, trokar ditarik keluar.
10. Setelah kapsul dipasang, bersihkan dan bekas insisi ditutup dengan kasa steril dan
plester serta dibalut. Balutan jangan dibuka dan jangan sampai basah selama 2 hari.
11. Dekontaminasi instrument dengan direndam dalam larutan chlorine 0,5%.
Jadwal pemeriksaan ulang :

Satu minggu setelah pemasangan

Satu bulan setelah pemasangan

Bila ada keluhan

Setiap tahun

2.4.11 Prosedur Pencabutan Implan


1. Tentukan posisi implan dengan palpasi.
2. Cuci tangan dan menggunakan sarung tangan steril
3. Bersihkan daerah pencabutan implant dengan antiseptic setelah itu lakukan anastesi
lokal pada tempat insersi.
4. Lakukan sayatan 2-3 mm, agar luka tidak perlu dijahit dan mengurangi kemungkinan
terjadi infeksi.
5. Tekan implan dengan jari kearah sayatan, setelah ujung inplan tampak jepit dengan
klam mosquito dan tarik.
6. Bersihkan implant dari

jaringan

yang

menutupi

ujungnya

dengan

menggunakan scalpel.
7. Tarik implan perlahan lahan sampai terlepas seluruhnya.
8. Lakukan hal yang sama sampai semua implant dikeluarkan, bersihkan luka dan tutup
dengan plestar dan kasa steril dan balut dengan verban.

BAB III
PERMASALAHAN
120
100
80
IUD

60

Implant
Suntik

40

Pil

20

Kondom

Metode Kontrasepsi pada Peserta KB Aktif di Puskesmas Unit 1 Sumbawa Tahun


2014

Berdasarkan data tersebut, pada tahun 2014 di Puskesmas Unit 1 Sumbawa


penggunaan alat kontrasepsi tertinggi berupa KB suntik dan pil KB dan terendah berupa
kondom. Penggunaan implant oleh peserta KB aktif tergolong masih rendah.

Juli
Juni
Mei

IUD

April

Implant
Suntik

Maret

Pil

Februari
Januari
0

10

15

20

25

30

Metode Kontrasepsi yang digunakan Peserta KB baru di Puskesmas Unit 1


Sumbawa bulan Januari-Juli 2015

Metode Kontrasepsi pada Peserta KB Baru di Puskesmas Unit 1 Sumbawa Januari-Juli 2015
IUD
Implant
Suntik
Pil

Dari data tersebut dapat diketahui bahwa jumlah kunjungan peserta KB baru pada
bulan Januari hingga Juli tahun 2015 sebanyak 234 orang. Dari peserta tersebut,
penggunaan metode kontrasepsi terbanyak adalah implant dengan jumlah 93 orang,
diikuti IUD dengan 79 peserta, KB suntik dengan 60 peserta, dan pil KB dengan 2 orang.
Ini sangat berbeda dengan data tahun 2014 dimana alat kontrasepsi yang paling sering
digunakan pada peserta KB adalah KB suntik dan pil KB. Ini menunjukkan bahwa terjadi

peningkatan peminat alat kontrasepsi jangka panjang seperti implant dan IUD.

Dalam upaya pemakaian alat kontrasepsi implan sebagai metode KB jangka


panjang yang dilakukan di Puskesmas Unit I Sumbawa, terdapat beberapa permasalahan
yang terjadi di lapangan, antara lain:
1. Kurangnya tingkat pengetahuan warga mengenai implant seperti cara kerja,
keuntungan dan kerugian implant.
2. Faktor psikis memegang peranan penting dalam permasalahan yang terjadi
dalam rendahnya keminatan penggunaan implant sebagai metode kontrasepsi.
Karena pemasangan dan pencabutan memerlukan tindakan pembedahan minor,
seringkali pasien merasa takut sehingga menolak metode kontrasepsi ini.
3. Kurangnya edukasi dan kounseling mengenai efek samping yang dapat terjadi
yang disebabkan oleh implant, sehingga pasien bingung dan takut bila terjadi
keluhan-keluhan tersebut dan seringkali meminta untuk melepaskan implant
sebelum waktunya.
BAB IV
PEMECAHAN MASALAH
Untuk mengatasi permasalahan yang ditemukan di lapangan, dilakukan penyuluhan
di posyandu mengenai alat-alat kontrasepsi terutama implant dengan target ibu-ibu
terutama yang sudah memiliki anak lebih dari 2. Penyuluhan mencakup definisi implant
sebagai alat kontrasepsi jangka panjang, cara kerjanya, jenis-jenis yag tersedia, indikasi
dan kontraindikasi pemasangan, keuntungan dan kerugian serta cara pemasangan dan
pelepasan implant secara garis besar. Yang paling penting untuk ditekankan adalah efek
samping implant yang dapat terjadi, yang biasanya hanya terjadi selama beberapa bulan
pertama pemasangan dan sebagian besar tidak membahayakan kesehatan. Setelah
penyuluhan juga dilakukan sesi tanya jawab dimana peserta dapat menanyakan hal yang
masih belum jelas atau kekhawatiran yang dimilikinya.
Selain penyuluhan, konseling juga perlu dilakukan seperti saat ibu hamil datang ke
poliklinik untuk memeriksa kehamilan. Konseling perlu dilakukan secara menyeluruh

dan komprehensif sehingga pasien benar-benar paham akan metode kontrasepsi implant
dan dapat merubah persepsi masyarakat mengenai implant yang merupakan suatu metode
yang menakutkan bagi banyak wanita.
Pembuatan media informasi seperti leaflet atau poster ringkas mengenai implant
dan metode kontrasepsi lain juga dapat dilakukan untuk menambah pengetahuan
masyarakat. Pemberian edukasi kepada kader kesehatan juga penting.

BAB V
KESIMPULAN
1. Kontrasepsi implan adalah kontrasepsi hormonal jangka panjang yang hanya
mengandung progestin dosis rendah dan diinsersikan subdermal dengan masa kerja
panjang.
2. Kontrasepsi implan mencegah terjadinya kehamilan dengan cara membuat lendir
serviks menjadi kental, mengganggu proses pembentukan endometrium sehingga
mencegah implantasi, mengurangi transportasi sperma dan menekan ovulasi.
3. Terdapat enam jenis kontrasepsi implan yaitu norplant, implanon, jadena, indoplant,
uniplant dan capronor.
4. Beberapa keuntungan kontrasepsi implan antara lain efektivitas implan sangat tinggi,
metode yang baik untuk wanita menyusui serta kembalinya kesuburan setelah
pengangkatan terjadi cepat. Beberapa kerugian yang berhubungan dengan
penggunaan implan, diantaranya menyebabkan perubahan pola perdarahan terutama
selama tahun pertama penggunaan.
5. Lama kerja implant bervariasi menurut jenis implant yang digunakan, antara 1-5
tahun.

6. Di Puskesmas Unit 1 Sumbawa, pada bulan Januari-Juli 2015 metode kontrasepsi


yang paling sering digunakan oleh peserta KB baru adalah implant diikuti IUD.
Sedangkan pada tahun 2014 dari semua peserta KB aktif, kontrasepsi yang paling
sering digunakan adalah KB suntik dan pil KB, dimana penggunaan implant masih
sangat rendah.
7. Permasalahan yang banyak dijumpai mengenai penggunaan implant adalah rendahnya
pengetahuan masyarakat mengenai metode KB implant serta faktor psikis.
8. Pemberian penyuluhan dan konseling kepada wanita usia reproduktif sangat penting
untuk menambah pengetahuan mengenai implant serta meningkatkan jumlah
pengguna implant.

DAFTAR PUSTAKA
1. Mansur Arief. Kontrasepsi Ilmu Kandungan Kebidanan. Kapita Selekta Kedokteran
Universitas Indonesia. Jakarta. 2001
2. Cunningham F G, Gant NF. Williams Obstetri. Edisi ke-21.Volume 2. Jakarta.
Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2006
3. Wiknjosastro H. Ilmu Kandungan. Edisi kedua cetakan ketiga. Jakarta, Yayasan Bina
Pustaka Sarwono Prawirohardjo. 2002
4. Kusumaningrum,
Pemilihan

Radita.
Jenis

2009.

Faktor-Faktor

Kontrasepsi

yang

Mempengaruhi

yang

Digunakan

pada Pasangan Usia Subur.


5. DEPKES. RI. 2004. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi, Jakarta
6. Hartanto, Hanafi.2004. Keluarga Berencana dan Kontrasepsi. Jakarta:Muliasari
7. Saifuddin, Abdul Bari. 2006. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi. Jakarta:
yayasan bina pustaka sarwono prawirohardjo.

8. Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional.2011. Buku Panduan Praktis


Pelayanan Kontrasepsi. Jakarta: PT. Bina Pustaka Sarwono Prawiohardjo
9. Suherman, Suharti K. 2008. Farmakologi dan Terapi (Edisi 5). Jakarta: Departemen
Farmakologi dan Terapeutik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
10. Sarwono Prawirohardjo. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi. Yayasan Bina
Pustaka. Jakarta. 2010.
11. Glasier Anna, Alisa Baggle. 2005. Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi.
Jakarta: EGC
12. Mochtar, Rustam. 2008. Sinopsis Obstetri Jilid 2. Jakarta : EGC.
13. Manuaba. 2009. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana
untuk Pendidikan Bidan. Jakarta : EGC.
14. Saifuddin Bari Abdul. 2006. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi. Jakarta:
Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
15. Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional. 2014. Profil Hasil
Pendataan Keluarga Tahun 2013. Jakarta.
16. Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional. 2014. Analisis dan Evaluasi
Pelaksanaan Program KB. Jakarta.

DOKUMENTASI
Penyuluhan dilakukan pada hari Selasa tanggal 25 Agustus 2015 di Posyandu Kokar
Dano, Brang Bara jam 9.00-10.00 dan diikuti oleh 13 wanita.