Anda di halaman 1dari 9

OP-AMP

Pada awalnya Op-Amp atau penguat operasional digunakan untuk melakukan


operasi matematika linier.Dengan teknologi rangkaian terpadu (IC), Op-Amp dalam
bentuk kemasan IC menjadi lebih murah dan mudah digunakan sehingga penerapannya
menyebar ke berbagai bidang elektronika antara lain : Komunikasi, Audio, Keamanan,
dan beraneka macam peralatan elektronika.
Op-Amp terdiri dari tiga tahapan dasar yaitu :
1. Penguat Differensial Impedansi masukan tinggi.
2. Penguat tegangan dengan penguatan tinggi.
3. Penguat Keluaran Impedansi rendah.

Simbol Op-Amp Standard.


Masukan (-) merupakan masukan membalik atau inverting.Bila suatu sinyal
diberikan kepada masukan ini, maka keluarannya akan terbalik 180.Jadi bila tegangan
masukannya positif maka keluarannya negatif, demikian pula sebaliknya.Bila
masukannya nol, maka akan memberikan keluaran nol juga.
Masukan (+) adalah masukan tak membalik atau non inverting.Bila tegangan
masukannya positif, maka keluarannya positif, demikian juga bila negatif, maka
keluarannya juga negatif.Bila kedua masukan OpAmp dipakai bersama, maka
keluarannya adalah selisih antara kedua masukan dikalikan dengan faktor penguatan.

Sebuah OpAmp yang ideal antara lain mempunyai karakteristik impedansi


masukan tak terhingga sehingga tidak ada daya yang diserap dari sumber yang
dihubungkan, impedansi keluaran nol sehingga tegangan keluaran tetap konstan
meskipun beban terhubung singkat, penguatan tak terhingga, bandwidth tak terhingga,
tidak peka terhadap perubahan catu daya dan temperatur, dan keluarannya tepat nol bila
diberi masukan nol.Tentu saja tidak ada OpAmp praktis yang ideal, yang dapat
dilakukan adalah membuat OpAmp dengan karakteristik yang presisi.
Sebuah OpAmp praktis antara lain mempunyai karakteristik :
1. Impedansi masukan yang sangat tinggi.
2. Impedansi keluaran yang sangat rendah.
3. Penguatan lup terbuka yang sangat tinggi.
4. Bandwidth yang sangat lebar.
5. Relatif tidak terpengaruh oleh perubahan catu daya dan temperatur lingkungan.
6. Bila masukannya nol maka keluarannya mendekati nol.

A = - R2/R1
Tanda negatif diabaikan dalam perhitungan dan hanya menunjukkan bahwa keluarannya
berlawanan fasa terhadap masukan.

Rangkaian Dasar Penguat Membalik.

Sebagai contoh :
Bila R2 = 220 K dan R1 = 10 K, maka penguatan Op-Amp adalah :
A

= - R2/R1 = - 220K/10K
= - 22

Untuk masukan sebesar 10 mV maka keluarannya adalah :


Vout = A x Vin = - 22 x 10 mV = - 220 mV.
Bila R2 lebih kecil dari R1 maka Vout lebih kecil daripada Vin, jadi sinyal
mengalami peredaman .
Impedansi masukan dari rangkaian penguat membalik ditentukan oleh R1,
jadi dalam contoh diatas impedansi masukannya sebesar 10 K.

Gambar berikut ini adalah rangkaian dasar penguat tak membalik.Dalam


rangkaian ini umpan baliknya tetap diberikan ke masukan membalik tetapi masukan yang
dipakai adalah masukan tak membalik.

Rangkaian Dasar Penguat Tak Membalik.

Sebagai contoh:
A

= 1 + R2/R1

Bila R2 = 220 K dan R1 = 10 K, maka penguatannya adalah :


A

= 1 + R2/R1 = 1 + 220 K /10 K = 23

Bila masukannya sebesar 10 mV maka keluarannya :


Vout = A x Vin = 23 x 10 mV = 230 mV.
Pengikut Tegangan.
Pengikut tegangan adalah rangkaian dengan penguatan satu dengan keluaran sama
dengan masukannya.Seperti diperlihatkan dalam gambardi bawah ini, rangkaian tersebut
tidak memiliki resistor-resistor seperti rangkaian sebelumnya sehingga nilai dari R2
adalah nol dan R1 tak terhingga, sehingga akan kita dapatkan penguatan sebesar satu.
A

= 1 + R2/R1 = 1 + 0/~ = 1

Pengikut Tegangan Tak Membalik.


Bila masukan sama dengan keluaran , lalu keuntungan apa yang bisa diperoleh
dari pengikut tegangan ? Karena rangkaian tersebut memiliki impedansi masukan yang
sangat tinggi dan impedansi keluaran yang sangat rendah maka berguna sebagai
penyesuai impedansi dan mengisolasi rangkaian sumber dari rangkaian beban.

Bila diperlukan pengikut tegangan dengan fasa yang terbalik maka dapat
digunakan rangkaian penguat membalik dengan nilai R1 dan R2 yang sama.Tetapi
rangkaian tersebut memiliki kelemahan, yaitu impedansi masukan menjadi berkurang
karena impedansi masukannya sama dengan R1.
Penguat Penjumlah.
Dengan menggunakan rangkaian membalik dan menambahkan resistor pada
masukan, kita dapat membuat penguat penjumlah seperti diperlihatkan pada gambar di
bawah. Tegangan keluarannya terbalik dan merupakan jumlah dari masing-masing
perkalian tegangan masukan dengan penguatannya, atau dapat dinyatakan :
Vout = - {( V1 x R2/R1a) + (V2 x R2/R1b) + (V3 x R2/R1c)}
Bila nilai semua resistor sama maka penguatannya satu sehingga keluarannya :
Vout = - (V1 + V2 + V3)

Penguat Penjumlah.
Di bawah ini diberikan contoh perhitungan bila semua resistor bernilai 10 K :

V1

= 0,5 Volt

V2

= 0,75 Volt

V3

= 1,2 Volt

Vout = - (0,5 + 0,75 + 1,2)


= - 2,45 Volt

V1

= 1,5 Volt

V2

= - 0,8 Volt

V3

= 0,3 Volt

Vout = - (1,5 + (-0,8) + 0,3)


= - 1 Volt
Penguat Pengurang.
Kebalikan dari penjumlahan adalah pengurangan.Op-Amp juga dapat
melaksanakan fungsi tersebut, seperti diperlihatkan gambar berikut ini. Kedua masukan
dalam Op-Amp digunakan dalam rangkaian penguat pengurang.Bila R1 = R3 dan R2 =
R4, maka tegangan keluaran dapat dihitung dengan rumus :
Vout = (V2 V1) x R2/R1
Bila nilai semua resistor sama, maka :
Vout = V2 V1.

Penguat Pengurang.

Berikut ini beberapa contoh perhitungan bila resistor-resistor bernilai :


R1 = R3 = 10 K
R2 = R4 = 100 K
V1

= 4 Volt

V2

= 5 Volt

Vout = (5 4) x 100.000/10.000
= 10 Volt
V1

= 5 Volt

V2

= 4 Volt

Vout = (4 5) x 100.000/10.000
= - 10 Volt
V1

= 4 Volt

V2

= - 3 Volt

Vout = (4 (-3)) x 100.000/10.000


= 70 Volt.
Untuk contoh perhitungan yang terakhir, dalam kenyataannya tidak akan
memberikan tegangan sebesar itu.Pada Op-Amp praktis keluarannya akan terpotong
karena keterbatasan catu daya.
Pembanding (Komparator).
Seperti namanya, pembanding adalah rangkaian untuk membandingkan dua buah
tegangan masukan.Rangkaian pembanding dasar diperlihatkan pada gambar di bawah
ini.Rangkaian tersebut serupa dengan rangkaian penguat pengurang tetapi menggunakan
modus lup terbuka.Tanpa lup umpan balik, sebuah Op-Amp ideal mempunyai penguatan
yang tak terhingga, sehingga tegangan keluarannya adalah :
Vout = (V2 V1) x ~

Rangkaian Pembanding Dasar.


Tentu saja Op-Amp tidak mampu memberikan tegangan sebesar itu, tetapi akan
terpotong sedikit dibawah tegangan catu daya.Sehingga sedikit perbedaan tegangan di
kedua masukan akan mengayunkan Op-Amp ke dalam saturasi.Arah saturasi keluaran
tergantung dari tegangan di kedua masukannya.Bila tegangan di masukan V1 lebih positif
dibandingkan V2 maka keluarannya menuju saturasi negatif (-Vsat), tetapi bila
sebaliknya maka keluarannya menuju saturasi positif (+Vsat) seperti dijelaskan dalam
perhitungan dibawah ini:
V1

= 1 Volt

V2

= 2 Volt

Vout = ( 2 - 1 ) x ~
= + Vsat

V1

= 2 Volt

V2

= 1 Volt

Vout = ( 1 - 2 ) x ~
= - Vsat
Catu Daya Tunggal
Pada umumnya Op-Amp membutuhkan catu daya ganda () sehingga keluaran
Op-Amp dapat berayun positif atau negatif terhadap bumi (Ground).Dalam beberapa hal

dikehendaki untuk mengoperasikan Op-Amp dengan catu daya tunggal.Untuk itu


diperlukan pembagi tegangan resistif untuk menghasilkan setengah tegangan catu daya.
Dalam gambar berikut ini diberikan contoh rangkaian Op-Amp yang dioperasikan dengan
catu daya tunggal.