Anda di halaman 1dari 7

Laporan Praktikum KI2221

Cara Pemisahan dan Elektrometri


Percobaan 07
Elektrogravimetri
Nama

: Ranis Sinar Ruminten

NIM

: 10513084

Kelompok

: 09

Tanggal Praktikum

: 14 April 2015

Tanggal Pengumpulan : 21 April 2015


Asisten

: Fraulein Intan S

LABORATORIUM KIMIA ANALITIK


PROGRAM STUDI KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
2015

I.

Judul
Elektrogravimetri

II.

Tujuan
Menentukan kadar tembaga secara elektrolisis dan titrasi

III.

Teori Dasar
Analisis gravimetric melibatkan proses pengendapan dan penimbangan
teliti endapan yang terbentuk. Pada metode gravimetric konvensional,
analit diendapkan dari larutan melalui reaksi kimia dengan sebuah reaksi
pengendap. Endapan yang terbentuk harus memiliki rumus molekul yang
diketahui dengan pasti sehingga dapat digunakan sebagai dasar analisis
kuantitatif. Pada elektrogravimetri analit diendapkan pada sebuah
elektroda kerja yang bergantung pada reaksi pengendap yang terjadi.
Pada analisis kadar tembaga, Cu2+ diendapkan pada elektroda dengan
reaksi :

Cu
2++ 2e
Cu

Elektron yang terlibat berasal dari arus listrik. Arus listrik diberikan
sampai ion Cu2+ yang terdapat dalam larutan mengendap.
IV.

Alat dan Bahan


Alat:
1. Alat elektrolisis
2. Elektroda platina
3. Elektroda kasa tembaga
4. Buret 50 mL
5. Pipet seukuran 25 mL
6. Erlenmeyer 250 mL
7. Labu takar 250 mL
8. Gelas piala berbagai ukuran
Bahan:
1. EDTA
2. Sampel garam tembaga
3. Sampel ureum
4. Sampel MgSO4 . 5H2O
5. Sampel HNO3 pekat
6. Sampel H2SO4 pekat
7. Larutan NH4OH
8. Alkohol
9. Aseton
10.Murexide/NaCl
11.EBT/NaCl

V.

Cara Kerja
A. Penyiapan Larutan Sampel

Sampel tembaga ditimbang sebanyak 1,5 gram kedalam gelas kimia


100 mL. Sampel tersebut dilarutkan dengan air secukupnya, lalu
ditambahkan 10 tetes asam sulfat pekat. Larutan sampel dipindahkan
secara kuantitatif kedalam labu takar 100 mL, kemudian diencerkan
hingga tanda batas.
B. Elektrolisis
- Penyiapan Elektroda Kerja
Elektroda kasa tembaga dicuci dengan asam nitrat 1:1 untuk
menghilangkan sisa endapan tembaga yang masih menempel pada
elektroda. Segera dibilas dengan aqua DM. Elektroda dibilas dengan
alkohol lalu dengan aseton. Elektroda tersebut ditempatkan diatas
kaca arloji kemudian dikeringkan di dalam oven pada suhu 105 oC.
Setelah kira-kira 15 menit, elektroda dikeluarkan dari dalam oven dan
didinginkan dalam desikator. Setelah dingin, elektroda ditimbang
massanya. Proses pengeringan diulangi sampai berat elektroda
konstan.
-

Elektrolisis
25 mL larutan sampel tembaga dipipet kedalam gelas kimia 100 mL
dan ditambahkan 2 mL larutan asam sulfat pekat dan 1 mL larutan
asam nitrat-ureum. Aqua DM ditambahkan sampai elektroda terendam
secukupnya. Elektrolisis dilakukan dengan potensial antara 3-4 V, arus
2-4 A sampai larutan menjadi bening. Setelah larutan menjadi bening,
katoda dikeluarkan dari dalam larutan, dibilas dengan aqua DM lalu
dicuci dengan alkohol dan aseton. Elektroda dikeringkan dalam oven
selama 1 jam kemudian ditimbang. Elektroda dikeringkan kembali
dalam oven selama 15 menit kemudian ditimbang. Berat tembaga
yang terdapat didalam sampel ditunjukkan oleh selisih antara berat
elektroda setelah dan sebelum hidrolisis. % berat tembaga dalam
sampel dihitung.

C. Titrasi Kompleksometri
- Pembakuan Larutan EDTA
40 mL larutan induk EDTA 0,05 M diencerkan hingga 200 mL didalam
gelas kimia 250 mL untuk menghasilkan larutan baku 0,01 M.
Magnesium sulfat heptahidrat ditimbang sebanyak 0,24 gram dan
dilarutkan dengan air secukupnya didalam gelas kimia 100 mL. larutan
tersebut dipindahkan secara kuantitatif kedalam labu takar 100 mL
dan diencerkan hingga tanda batas. Larutan EDTA 0,01 M dibakukan
dengan larutan baku magnesium sulfat yang telah dibuat dengan
menggunakan indikator EBT/NaCl dan 10 mL buffer pH 10. Titrasi
dilakukan duplo.

Penentuan Kadar Tembaga dalam Larutan Sampel

10 mL larutan sampel tembaga dipipet kedalam labu takar 100 mL dan


diencerkan hingga tanda batas. 25 mL larutan encer ini dipipet
kedalam Erlenmeyer 250 mL, ditambahkan 10 mL basa ammonia, 25
mL aqua DM serta sedikit indikator murexide. Larutan ini dititrasi
dengan larutan baku EDTA 0,01 M yang telah dibakukan sampai warna
biru ungu. Titrasi ini dilakukan duplo. % berat tembaga yang terdapat
didalam sampel dihitung dan dibandingkan dengan hasil yang dipeoleh
secara elektrolisis.
VI.

Data Pengamatan
Massa CuSO4.5H2O = 1.4825 g
Massa MgSO4.7H2O = 0.2384 g
penimbangan kassa sebelum elektrogravimetri
N
o

penimban
gan ke

1 1
2 2
3 3

massa (g)
18.0756
18.0696
18.0702

penimbangan kassa setelah elektrogravimetri


N
o

penimban
gan ke

1 1
2 2

massa (g)
18.1447
18.1427

Volume titrasi pembakuan EDTA


N
o

Volume
(mL)

Titrasi ke

1 1
2 2

23.1
N
o

Titrasi
23.2 ke

1 1
2 2

perubahan
warna
merah mudabiru
merah mudaVolume
perubahan
biru
(mL)
warna
ungu-ungu
14.15
kebiruan
ungu-ungu
14.1
kebiruan

Volume titrasi sampel Cu2+

VII.

Pengolahan Data
1. Elektrolisis

berat tembaga=

massa setelah elektrolisismassa sebelum leketrolisis 100


x
x 100
massa sampel
25

berat tembaga=

18.143718.0718 100
x
x 100
1.4825
25

berat tembaga=19.4
2. Titrasi kompleksometri
Pembakuan larutan
Reaksi

4 MgY

2++ Y

Mg

[ MgSO4 ]

i.

[ MgSO4 ]=

massa MgSO 4 .7 H 2 O 1000


x
Mr MgSO4 .7 H 2 O
100
0.2384

[ MgSO4 ]= 246.31 x
ii.

[ EDTA ] =

1000
=0.0097
100

[EDTA]
mol EDTA = mol MgSO4
MEDTA x VEDTA = Mmgso4 x Vmgso4

0.0097 x 25
=0.01
23.15

3. Menentukan kadar Cu2+ dalam sampel


reaksi
Cu(NH3)4 + Y4-

CuY2-

mol Cu=[ EDTA ] x V EDTA x


mol Cu=0.01 x 23.15 x

100 100
x
25 10

100 100
x
25 10

mol Cu= 9.68 mmol = 0.00968 mol

massa Cu=mol Cu x Ar Cu
massa Cu=0.00968 x 63.55

massa Cu=0.6 g

VIII.

massa Cu=

massa Cu
x 100
massa sampel

massa Cu=

0.6
x 100 =41
1.4825

massa Cu teori=

Ar Cu
x 100
Mr sampel

massa Cu teori=

63.55
x 100 =25
249.61

Pembahasan

IX.

Kesimpulan
Kadar tembaga secara elektrolisis adalah 19.4% dan kadar tembaga
sesuai titrasi adalah 41%

X.

Daftar Pustaka
Skoog, A.;west, D.M.;Holler, F.J. Analytical Chemistry : an introduction,
6th Ed. Saunders college pubhlishing. Philadelphia, 1994, 328-356
Kennedy, J.H. Analytical Chemistry : principles 2 nd Ed.Saunders College
Pubhlishing, New York. 1990.