Anda di halaman 1dari 8

ANALISIS LONGSORAN

1. Kestabilan Lereng

Sumber : matonimous.blogspot.com

Foto 1
Failure di Tambang Terbuka

Kestabilan lereng pada bidang pertambangan adalah salah satu


permasalahan yang sering dihadapai. Adanya kejanggalan atau anomali dari
keadaan permukaan bumi pada suatu daerah yang berpengaruh terhadap
kestabilan

lereng

akan

mengganggu

keselamatan

pekerja,

kerusakan

lingkungan, kerusakan alat penambangan, mengurangi intensitas produksi dan


menggangu kelancaran pelaksanaan penambangan. Oleh karena itu, analisis
kestabilan lereng sangat diperlukan dalam mencegah terjadinya gangguan akibat
bahaya longsor tersebut.
Sehingga dilakukan analisis terhadapa kestabilan lereng, dengan tujuan
untuk menghasilkan suatu rancangan seperti dinding tambang yang aman dan
ekonomis. Selain itu analisis kestabilan lereng juga bertujuan untuk :
1.
2.
3.
4.
5.

Menentukan kondisi kestabilan dan tingkat kerawanan suatu lereng


Memperkirakan bentuk keruntuhan kritis yang mungkin terjadi
Menganalisis penyebab terjadinya longsoran
Mempelajari pengaruh gaya-gaya luar pada kestabilan lereng
Merancang suatu desain lereng galian atau timbunan yang optimal dan
memenuhi kriteri akeamanan dan kelayakan ekonomis

6. Memperkirakan kestabilan lereng, selama konstruksi dilakukan maupun


dalam jangka waktu yang panjang
7. Merupakan dasar bagi rancangan ulang lereng setelah mengalami
longsoran
8. Menentukan metode perkuatan atau perbaikan lereng yang sesuai

2. Jenis Jenis Longsoran


Dalam pengklasifikasian jenis jenis longsoran, bisa ditinjau dari segi
jenis keruntuhannya sehingga jenis longsoran dapat dibedakan menjadi
beberapa bagian, diantaranya adalah :
a. Longsoran Translasi
Longsoran translasi adalah tipe longsoran yang dicirikan dengan
bergeraknya massa tanah dan batuan pada bidang gelincir berbentuk rata
atau menggelombang landai

Sumber : matonimous.blogspot.com

Gambar 1
Longsoran Translasi

b. Longsoran Rotasi
Longsoran rotasi

adalah

tipe

longsoran

yang

dicirikan

dengan

bergeraknya massa tanah dan batuan pada bidang gelincir yang


membentuk cekung.

Sumber : matonimous.blogspot.com

Gambar 2
Longsoran Rotasi

c. Longsoran Translasi Blok (Pergerakan Blok)


Longsoran translasi blok adalah tipe longsoran yang dicirikan dengan
bergeraknya massa tanah dan batuan pada bidang gelincir berbentuk rata

Sumber : matonimous.blogspot.com

Gambar 3
Longsoran Translasi Blok

d. Runtuhan Batu
Longsoran batu adalah tipe longsoran yang dicirikan ketika adanya
sejumlah besar matuan atau material lain bergerak ke bawah dengan
cara jatuh bebas

Sumber : matonimous.blogspot.com

Gambar 4
Longsoran Batu

e. Rayapan Tanah
Rayapan tanah adalah jenis longsoran yag bergerak secara lambat. Jenis
tanah yanag diuji berupa butiran kasar dan halus. Biasanya jenis longsor
ini hampir tidak dapat dikenali. Setelah, selain itu longsor rayapan juga
bisa menyebabkan tiang-tiang telepon , pohon, dan lain sebagainya.

Sumber : matonimous.blogspot.com

Gambar 5

Rayapan Tanah

3. Metode Analisis Longsoran


a. Metode Fellenius
Metode Fellenius ini banyak digunakan untuk menganalisis kestabilan
lereng yang tersusun oleh tanah, dan bidang gelincirnya berbentuk busur
(arc-failure). Berdasarkan metode Fellenius tipe longsorang terbagi
menjadi 3 (tiga) bagian berdasarkan posisi bidang gelincirnya, yaitu :
Longsorang kaki lereng (toe failure)
Longsoran kaki lereng umumnya terjadi pada lereng yang relatif agak
curam (>450) dan tanah penyusunnya relatif mempunyai nilai sudut

geser dalam yang besar (>300).


Longsorang muka lereng (face failure)
Longsoran muka lereng biasa terjadi pada lereng yang mempunyai
lapisan keras (hard layer), dimana ketinggian lapisan keras ini melebihi
ketinggian kaki lerengnya, sehingga lapisan lunak yang berada diatas

lapisan keras berbahaya untuk longsor.


Longsoran dasar lereng (base failure)
Longsoran dasar lereng biasa terjadi pada lereng yang tersusun oleh
tanah lempung, atau bisa juga terjadi pada lereng yang tersusun oleh
beberapa lapisan lunak (soft seams).

Sumber : matonimous.blogspot.com

Gambar 6
Gaya yang Bekerja pada Longsoran Lingkaran

Sumber : matonimous.blogspot.com

Gambar 7
Sistem Gaya Pada Metode Fellenius

b. Metode Bishop
Metode Bishop

merupakan

metode

analisis

lereng

dengan

memperhitungkan gaya-gaya antar irisan yang ada. Metode Bishop


mengasumsikan bidang longsor berbentuk menyerupai busur lingkaran.
Metode

Bishop

sendiri

memperhitungkan

komponen

gaya-gaya

(horizontal dan vertikal) dengan memperhatikan keseimbangan momen


dari masing-masing potongan.

Sumber : matonimous.blogspot.com

Gambar 8
Metode Bishop

c. Metode Janbu
Metode Janbu ini digunakan untuk menganalisis lereng yang bidang
longsornya tidak berbentuk busur lingkaran. Bidang longsor pada analisa
metode janbu ditentukan berdasarkan zona lemah yang terdapat pada
massa batuan atau tanah.

Sumber : matonimous.blogspot.com

Gambar 9
Metode Janbu

Tedapat beberapa ciri dari kawasan yang rawan terjadinya longsoran,


diantaranya adalah :

Kawasan mempunyai lereng >20%


Tanah mempunyai pelapukan tebal
Sedimen berlapis (lapisan permiabel
impermeabel

menumpang

pada

lapisan

Tingkat curah hujan tinggi sehingga tingkat kebasahan tanah tinggi


Terjadinya erosi yang menyebabkan terjadinya penggerusan dibagian

kaki lereng yang berakibat lereng makin curam


Adanya penurunan lahan
Adanya patahan yang mengarah keluar lereng
Makin curam lereng makin tidak stabil

DAFTAR PUSTAKA

Boby Hertanto, Hendrik, 2012,

Analisis Longsoran, Aqdhianti Blog,

http://geoenviron.blogspot.com/2012/01/Klasifikasi-sumberdaya.html.
Diakses tanggal 22 Mei 2015 (online)
Erwyne, 2011, Jenis-Jenis Longsoran, Geologi Ilmu Bumi. http://erwynedc.blogspot.com/2011/12/cadangan-sumberdaya.html. Diakses tanggal
22 Mei 2015 (online)

KESIMPULAN

Kestabilan lereng pada bidang pertambangan merupakan salah satu


permasalahan yang sering dihadapai. Adanya kejanggalan yang berpengaruh
terhadap kestabilan lereng akan mengganggu terhadap proses penambangan.
Oleh karena itu, analisis kestabilan lereng sangat diperlukan dalam mencegah
terjadinya gangguan akibat bahaya longsor tersebut. Terdapat beberapa analisis
longsoran, diantaranya adalah metode fellenius, metode bishop, metode janbu.
Terdapat beberapa tipe longsoran, berdasarkan segi keruntuhannya,
diantaranya adalah longsoran translasi, longsoran rotasi, longsoran translasi blok
(pergerakan blok), longsoran atau runtuhan batu, rayapan tanah. serta ciri dari
kawasan yang rawan terjadinya longsoran, diantaranya adalah kawasan
mempunyai lereng >20%, tanah mempunyai pelapukan tebal, tingkat curah hujan
tinggi sehingga tingkat kebasahan tanah tinggi, terjadinya erosi yang
menyebabkan terjadinya penggerusan dibagian kaki lereng yang berakibat
lereng makin curam, adanya penurunan lahan, serta adanya patahan yang
mengarah keluar lereng.