Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PENDAHULUAN

KETUBAN PECAH DINI


A.

DEFINISI
Ketuban pecah dini adalah ketuban yang pecah spontan yang terjadi pada

sembarang usia kehamilan sebelum persalinan di mulai (William,2001).


Ketuban pecah dini adalah keluarnya cairan berupa air dari vagina setelah
kehamilan berusia 22 minggu sebelum proses persalinan berlangsung dan dapat
terjadi pada kehamilan preterm sebelum kehamilan 37 minggu maupun kehamilan
aterm. (Saifudin,2002)
Ketuban dinyatakan pecah dini bila terjadi sebelum proses persalinan
berlangsung. Ketuban pecah dini disebabkan oleh karena berkurangnya kekuatan
membrane atau meningkatnya tekanan intra uterin atau oleh kedua faktor tersebut.
Berkurangnya kekuatan mambran disebabkan adanya infeksi yang dapat berasal
dari vagina serviks. (Sarwono Prawiroharjo, 2002)
Ketuban pecah dini adalah pecahnya ketuban sebelum in partu, yaitu bila
pembukaan primi kurang dari 3 cm dan pada multipara kurang dari 5 cm.
(Sarwono Prawirohardjo, 2005)
B.

ETIOLOGI
Walaupun banyak publikasi tentang KPD, namun penyebabnya masih

belum diketahui dan tidak dapat ditentukan secara pasti. Beberapa laporan
menyebutkan faktor-faktor yang berhubungan erat dengan KPD, namun faktorfaktor mana yang lebih berperan sulit diketahui. Kemungkinan yang menjadi
faktor predesposisi adalah:
a. Infeksi yang terjadi secara langsung pada selaput ketuban maupun
asenderen dari vagina atau infeksi pada cairan ketuban bisa menyebabkan
terjadinya KPD.
b. Servik yang inkompetensia, kanalis servikalis yang selalu terbuka oleh
karena kelainan pada servik uteri (akibat persalinan, curettage)
c. Tekanan intra uterin yang meninggi atau meningkat secara berlebihan
(overdistensi uterus) misalnya trauma, hidramniom, gamelli.
d. Trauma yang didapat misalnya hubungan seksual, pemeriksaan dalam,
maupun amniosintesis menyebabkan terjadinya KPD karena biasanya
disertai infeksi.

e. Kelainan letak, misalnya sungsang, sehingga tidak ada bagian terendah


yang menutupi pintu atas panggul (PAP) yang dapat menghalangi tekanan
terhadap membran bagian bawah.
f. Keadaan sosial ekonomi : kejadian ketuban pecah sebelum waktunya dapat
disebabkan oleh kelelahan dalam bekerja
g. Multigraviditas atau pritas tinggi merupakan salah satu dari penyebab
terjadinya kasus ketuban pecah sebelum waktunya. (kedokteran dan
linux,KPD,2008)
h. Faktor lain:
1. Faktor golongan darah, akibat golongan darah ibu dan anak yang
tidak sesuai dapat menimbulkan kelemahan bawaan termasuk
kelemahan jaringan kulit ketuban
2. Faktor disproporsi antar kepala janin dan panggul ibu
3. Faktor multi graviditas, merokok dan perdarahan antepartum
4. Defisiensi gizi dari tembaga atau asam askorbat (vitamin C)
Beberapa faktor resiko dari KPD:
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

Inkompetensi serviks (leher rahim)


Polihidramnion (cairan ketuban berlebih)
Riwayat KPD sebelumnya
Kelainan atau kerusakan selaput ketuban
Kehamilan kembar
Trauma
Serviks (leher rahim) yang pendek (<25mm) pada usia kehamilan 23

minggu)
h. Infeksi pada kehamilan seperti bacterial vaginosis
C.

PATOFISIOLOGI
Kantung ketuban adalah sebuah kantung berdinding tipis yang berisi

cairan dan janin selama masa kehamilan. Dinding kantung ini terdiri dari dua
bagian. Bagian pertama disebut amnion, terdapat di sebelah dalam. Sedangkan,
bagian kedua, yang terdapat di sebelah luar disebut chorion.
Cairan ketuban adalah cairan yang ada di dalam kantung amnion. Cairan
ketuban ini terdiri dari 98 persen air dan sisanya garam anorganik serta bahan
organik. Cairan ini dihasilkan selaput ketuban dan diduga dibentuk oleh sel-sel
amnion, ditambah air kencing janin, serta cairan otak pada anensefalus. Pada ibu
hamil, jumlah cairan ketuban ini beragam. Normalnya antara 1 liter sampai 1,5
liter. Namun bisa juga kurang dari jumlah tersebut atau lebih hingga mencapai 3-5

liter. Diperkirakan janin menelan lebih kurang 8-10 cc air ketuban atau 1 persen
dari seluruh volume dalam tiap jam.
Manfaat air ketuban Pada ibu hamil, air ketuban ini berguna untuk
mempertahankan atau memberikan perlindungan terhadap bayi dari benturan yang
diakibatkan oleh lingkungannya di luar rahim. Selain itu air ketuban bisa
membuat janin bergerak dengan bebas ke segala arah. Tak hanya itu, manfaat lain
dari air ketuban ini adalah untuk mendeteksi jenis kelamin, memerikasa
kematangan paru-paru janin, golongan darah serta rhesus, dan kelainan kongenital
(bawaan), susunan genetiknya, dan sebagainya. Caranya yaitu dengan mengambil
cairan ketuban melalui alat yang dimasukkan melalui dinding perut ibu.
Mekanisme terjadinya ketuban pecah dini dapat berlangsung

sebagai

berikut :
a. Selaput ketuban tidak kuat sebagai akibat kurangnya jaringan ikat dan
vaskularisasi Bila terjadi pembukaan serviks maka selaput ketuban sangat
lemah dan mudah pecah dengan mengeluarkan air ketuban.
b. Kolagen terdapat pada lapisan kompakta amnion, fibroblas, jaringan
retikuler korion dan trofoblas. Sintesis maupun degradasi jaringan kolagen
dikontrol oleh sistem aktifitas dan inhibisi interleukin-1 (IL-1) dan
prostaglandin. Jika ada infeksi dan inflamasi, terjadi peningkatan aktifitas
IL-1 dan prostaglandin, menghasilkan kolagenase jaringan, sehingga
terjadi depolimerisasi kolagen pada selaput korion / amnion, menyebabkan
selaput ketuban tipis, lemah dan mudah pecah spontan.
Patofisiologi Pada infeksi intrapartum :
a. ascending infection, pecahnya ketuban menyebabkan ada hubungan
langsung antara ruang intraamnion dengan dunia luar.
b. infeksi intraamnion bisa terjadi langsung pada ruang amnion, atau dengan
penjalaran infeksi melalui dinding uterus, selaput janin, kemudian ke
ruang intraamnion.
c. mungkin juga jika ibu mengalami infeksi sistemik, infeksi intrauterin
menjalar melalui plasenta (sirkulasi fetomaternal).
d. tindakan iatrogenik traumatik atau higiene buruk, misalnya pemeriksaan
dalam yang terlalu sering, dan sebagainya, predisposisi infeksi.

D.

PATHWAY

Klien mengaku sudah merencanakan


kehamilan
sejak lama
Kesiapan
Meningkatkan
Proses Kehamilan-P
KALA 1 PERSALINAN

Gangguan pada kala 1 persalinan

His yang berulang

ingkatan
kontraksiselalu
dan pembukaan
seviks
uteri serviks
Kanalis servikalis
terbuka akibat
kelainan
uteri
(abosrtus
dan riwayat
Kelainan
letak
janin (sungsang)
Infeksikuretase)
genitalia

Serviks inkompeten Gemeli, hidramnion

Ketegangan uterus berlebih


Proses biomekanik bakteri mengeluarkan
Dilatasi
enzimberlebih
proteolitik
serviks
Mengiritasi nervus pudendalis
Tidak ada bagian terendah yang menutupi pintu atas panggul yang menghalangi tekanan terhadap membrane bagian bawah

Selaput ketuban menonjol


dan mudah
pecah tekanan i
Serviks tidak
bisa menahan

Stimulus nyeri
Mudahnya pengeluaran air ketuban

Selaput ketuban mudah pecah

Nyeri akut

Rasa mulas dan ingin mengejan


KETUBAN PECAH DINI
Klien melaporkan tidak nyaman

tidak mengetahui penyebab


akibat
KPD
Air ketuban terlalu banyakKlien
keluar
Tidak dan
adanya
pelindung
dunia luar dengan daerah
Distoksia (partus kering)

Gangguan Rasa Nyaman

Laserasi pada jalan lahir

Mudahnya mikroorganisme masuk secara asen


Defisit Pengetahuan

Kecemasan ibu terhadap keselamatan janin dan dirinya


Ansietas

Resiko Infeksi

E.

MANIFESTASI KLINIS
Menurut Nugraha (2010), tanda dan gejala ketuban pecah dini antara lain :
a. Tanda yang terjadi adalah keluarnya cairan ketuban merembes melalui
vagina.
b. Aroma air ketuban berbau amis dan tidak seperti bau amoniak, mungkin
KETUBAN PECAH DINI
cairan tersebut masih merembes atau menetes, dengan ciri pucat dan

bergaris
warna
darah.
Biasanya agak keruh dan bercampur dengan
lanugo transport O2
Penurunan
Kondisi paru-paru
fetus
belum
matur
(rambut halus pada janin) serta mengandung verniks caseosa (lemak pada
Kegawatan pada janin
kulit bayi).
c. Cairan ini tidak akan berhenti atau kering karena terus diproduksi sampai
Terjadi rangsangan pernapasan
kelahiran. Tetapi bila ibu duduk atau berdiri, kepala janin Risiko
yang sudah
kematian janin
terletak di bawah biasanya mengganjal atau menyumbat kebocoran

Aspirasi air dan lender


ketuban oleh janin
untuk sementara.
Risiko Gangguan Hubungan Ib
d. Demam, bercak vagina banyak, nyeri perut, denyut jantung janin
bertambah cepat merupakan tanda-tanda infeksi yang terjadi.
F.

Risiko Asfiksia
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Menurut Nugraha (2010), pemeriksaan penunjang untuk ketuban pecah

dini yaitu :
a. Pemeriksaan laboratorium
1. Cairan yang keluar dari vagina perlu diperiksa: warna, konsentrasi,
bau dan pH nya
2. Cairan yang keluar dari vagina ada kemungkinan air ketuban, urine
atau secret vagina
3. Sekret vagina ibu hamil pH: 4-5, dengan kertas nitrazin tidak
berubah warna, tetap kuning.
4. Tes lakmus (tes Nitrazin), jika kertas lakmus merah berubah
menjadi biru menunjukkan adanya air ketuban (alkalis). pH air
ketuban 7-7,5 darah dan infeksi vagina dapat menghasilkan tes
yang positif palsu.
5. Mikroskopik (tes pakis), dengan meneteskan air ketuban pada gelas
objek

dan

dibiarkan

kering.

Pemeriksaan

mikroskopik

menunjukkan gambaran daun pakis.


b. Pemeriksaan ultrasonografi (USG)
1. Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk melihat jumlah cairan ketuban
dalam kavum uteri.

2. Pada kasus KPD terlihat jumlah cairan ketuban yang sedikit.


Namun sering terjadi kesalahan pada penderita oligohidramnion.
G.

PENANGANAN
Macam-macam penatalaksanaan untuk ketuban pecah dini adalah

(Nugraha,2010) :
a. Konservatif:
1. Rawat dirumah sakit
2. Beri antibiotika: bila ketuban pecah > 6 jam berupa: Ampisillin
4x500mg atau Gentamycin 1x80mg.
3. Umur kehamilan <32-34 minggu: dirawat selama air ketuban masih
keluar atau sampai air ketuban tidak keluar lagi.
4. Bila usia kehamilan 32-34 minggu, masih keluar air ketuban, maka
usia kehamilan 35 minggu dipertimbangkan untuk terminasi
kehamilan (hal sangat tergantung pada kemampuan perawatan bayi
premature).
5. Nilai tanda-tanda infeksi (suhu, leukosit, tanda-tanda infeksi
intrauterine).
6. Pada usia kehamilan 32-34 minggu, berikan steroid selama untuk
memacu kematangan paru-paru janin.
b. Aktif:
1. Kehamilan >37 minggu, induksi dengan oksitosin, bila gagal seksio
secarea. Dapat pula diberikan misoprostol 50 ug intravaginal tiap 6
jam maksimal 4 kali.
2. Bila ada tanda-tanda infeksi berikan antibiotika dosis tinggi dan
persalinan diakhiri bila skor pelvik < 5, dilakukan pematangan
serviks kemudian induksi. Jika tidak berhasil, akhiri persalinan
dengan seksio secarea atau bila skor pelvik > 5, induksi persalinan,
partus pervaginam.
c. Cara induksi: 1 ampul syntocinon dalam Dektrose 5% dimulai 4 tetes
/menit, tiap 1/4 jam dinaikkan 4 tetes sampai maksimum 40 tetes/menit.
1. Pada keadaan CPD, letak lintang dilakukan Seksio sesaria.
2. Bila ada tanda-tanda infeksi: beri antibiotika dosis tinggi dan
persalinan diakhiri.
d. Hal-hal yang harus diperhatikan
1. Yang harus segera dilakukan:
Pakai pembalut tipe keluar banyak atau handuk yang bersih.

Tenangkan diri Jangan bergerak terlalu banyak pada saat ini.

Ambil nafas dan tenangkan diri,.


2. Yang tidak boleh dilakukan:
Tidak boleh berendam dalam bath tub, karena bayi ada resiko

terinfeksi kuman.
Jangan bergerak mondar-mandir atau berlari ke sana kemari,
karena air ketuban akan terus keluar. Berbaringlah dengan
pinggang diganjal supaya lebih tinggi.

H.

PENATALAKSANAAN
KETUBAN PECAH
< 37 Minggu
>37 Minggu
Infeksi
Tidak ada infeksi
Infeksi
Tidak ada infeksi
Amoksisilin +
Lahirkan bayi
Berikan penisilin,
Berikan penisilin,
eritromisin untuk 7
gentamisin dan
gentamisin dan
hari
Metronidazole
metronidasole
Steroid untuk
Berikan penisilin dan
lahirkan bayi
lahirkan bayi
pematangan paru
ampisilin.
ANTIBIOTIKA SETELAH PERSALINAN
Profilaksis
Infeksi
Tidak ada infeksi
Lanjutkan untuk 24
Stop antibiotic
48 jam setelah
Tidak perlu antibiotik
bebas panas.

I.

KOMPLIKASI
Komplikasi yang terjadi pada ketuban pecah dini antara lain:
a. Komplikasi paling sering terjadi pada KPD sebelum usia kehamilan 37
minggu adalah sindrom distress pernafasan (RDS : Respiration Dystress
Syndrome), yang terjadi pada 10-40% bayi baru lahir
b. Resiko infeksi meningkatkan pada kejadian KPD
c. Selain itu kejadian prolapse atau keluarnya tali pusat dapat terjadi pada
KPD
d. Resiko kecacatan dan kematian janin meningkatkan pada KPD preterm
e. Hypoplasia paru merupakan komplikasi fatal yang terjadi pada KPD
preterm. Kejadiannya mencapai hampir 100% apabila KPD preterm ini
terjadi pada usia kehamilan kurang dari 23 minggu.

f. Partus preterm : persalinan preterm atau partus prematur adalah persalinan


yang terjadi pada kehamilan kurang dari 37 minggu ( antara 20 37
minggu ) atau dengan berat janin kurang dari 2500 gram.
J.

KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN


a. Pengkajian
1. Identitas klien dan penanggung jawab
2. Keluhan utama
3. Pemeriksaan umum meliputi keadaan umum dan tanda vital
4. Riwayat obstetric
5. Pemeriksaan head to toe
Kepala
Kulit kepala bersih atau tidak.
Muka
Pucat atau tidak, oedem tidak.
Mata
Apakah pucat atau tidak, oedem atau tidak, konjungtiva
anemis atau tidak, sclera ikterik tidak, penglihatan baik atau

tidak.
Hidung
Bersih atau tidak, penciuman terganggu atau tidak, terdapat

lender atau tidak, ada polip atau tidak.


Telinga
Bersih atau tidak, pendengaran baik atau tidak, terdapat

cairanatau tidak.
Mulut
Bibir kering atau tidak, mulut bersih atau tidak, terdapat

stomatitis atau tidak.


Gigi
Bersih atau tidak, terdapat caries atau tidak, gusi mudah

berdarah atau tidak.


Leher
Terdapat pembesaran kelenjar tyroid atau tidak.
Ketiak
Terdapat pembesaran kelenjar limfe atau tidak.
Dada
Bentuknya bagaimana, terdapat retraksi dinding dada
tidak, pernafasan teratur atau tidak, bunyi jantung bagaimana.
Payudara
Terdapat benjolan atau tidak.
Perut

Terdapat luka bekas operasi atau tidak, terdapat pembesaran

atau nyeri tekan atau tidak.


Vulva
Dari faktor predisposisi ketuban pecah dini adalah infeksi
pada genetalia.
Anus
Terdapat hemoroid atau tidak.
Ekstremitas atas dan bawah
Bentuk simetris atau tidak, terdapat kelainan anatomi

fisiologi tidak, kaki oedem tidak, varices atau tidak.


6. Temukan kajian yang lain
Keluar cairan bening dari vagina secara mendadak, dengan di
ikuti sedikit drainase.
Vagina penuh dengan cairan pada pemeriksaan speculum.
b. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri berhubungan dengan dilatasi serviks dan kontraksi uterus
2. Ansietas berhubungan dengan krisis situasi dan kurangnya
pengetahuan
3. Resiko infeksi berhubungan dengan terbukanya jalan lahir dengan
ekstrauteri
4. Defisiensi Pengetahuan b.d keterbatasan kognitif dalam hal
mengenal tanda dan gejala penyakit
Diagnosa Keperawatan/ Masalah
Kolaborasi
Nyeri akut berhubungan dengan:
Agen injuri (biologi, kimia,
psikologis), kerusakan jaringan

Rencana keperaw

Tujuan dan Kriteria Hasil


NOC :
fisik,

Pain Level,

pain control,

comfort level

NIC :
Lakukan pe

DS:
Setelah
dilakukan
tinfakan
- Laporan secara verbal

DO:
keperawatan selama . Pasien tidak
- Posisi untuk menahan nyeri
mengalami nyeri, dengan kriteria
- Tingkah laku berhati-hati

- Gangguan tidur (mata sayu, tampak hasil:


capek, sulit atau gerakan kacau, Mampu mengontrol nyeri (tahu
-

menyeringai)
Terfokus pada diri sendiri
Fokus menyempit (penurunan persepsi
waktu,

kerusakan

proses

berpikir,

penyebab
menggunakan

nyeri,

mampu

tehnik

nonfarmakologi untuk mengurangi

nyeri, mencari bantuan)

termasuk lo

kualitas dan
Observasi re
Bantu pasie

menemukan
Kontrol ling

nyeri sepert

kebisingan
Kurangi fakt
Kaji tipe da

intervensi
Ajarkan ten

penurunan interaksi dengan orang dan


-

lingkungan)
Tingkah laku distraksi, contoh : jalanjalan, menemui orang lain dan/atau

aktivitas, aktivitas berulang-ulang)


Respon autonom (seperti diaphoresis,
perubahan

tekanan

darah,

perubahan

nafas, nadi dan dilatasi pupil)


Perubahan autonomic dalam tonus otot

kaku)
Tingkah laku ekspresif (contoh : gelisah,

(mungkin dalam rentang dari lemah ke

merintih, menangis, waspada, iritabel,


-

nafas panjang/berkeluh kesah)


Perubahan dalam nafsu makan
minum

dan

Melaporkan bahwa nyeri berkurang

dengan menggunakan manajemen

nyeri

Mampu mengenali nyeri (skala,


intensitas,

frekuensi

dan

tanda

nyeri)
Menyatakan rasa nyaman setelah
nyeri berkurang
Tanda vital dalam rentang normal
Tidak mengalami gangguan tidur

dala, relaksa
Berikan anal
Tingkatkan i
Berikan info

nyeri, berap

antisipasi ke
Monitor vita

analgesik pe

Diagnosa Keperawatan/ Masalah

Rencana keperaw

Tujuan dan Kriteria Hasil


Kolaborasi
Ansietas berhubungan dengan
NOC :
Faktor keturunan, Krisis situasional, Stress, - Kontrol kecemasan
- Koping
perubahan status kesehatan, ancaman

NIC :
Anxiety Redu

kematian, perubahan konsep diri, kurang Setelah dilakukan asuhan selama


pengetahuan dan hospitalisasi
DO/DS:
- Insomnia
- Kontak mata kurang
- Kurang istirahat
- Berfokus pada diri sendiri
- Iritabilitas
- Takut
- Nyeri perut
- Penurunan TD dan denyut nadi
- Diare, mual, kelelahan
- Gangguan tidur
- Gemetar
- Anoreksia, mulut kering
- Peningkatan TD, denyut nadi, RR
- Kesulitan bernafas
- Bingung
- Bloking dalam pembicaraan
- Sulit berkonsentrasi

klien kecemasan teratasi


dgn kriteria hasil:
Klien mampu mengidentifikasi
dan

mengungkapkan

gejala

cemas
Mengidentifikasi,
mengungkapkan
menunjukkan

dan
tehnik

untuk

mengontol cemas
Vital sign dalam batas normal
Postur tubuh, ekspresi wajah,
bahasa
aktivitas

tubuh

dan

tingkat

Gunakan
Nyatakan

pasien
Jelaskan

dirasakan
Temani p

dan meng
Berikan i

tindakan
Libatkan
Instruksik

tehnik rel
Dengarka
Identifika
Bantu

menimbu
Dorong

perasaan,
Kelola pe

menunjukkan

berkurangnya kecemasan

Diagnosa Keperawatan/ Masalah


Kolaborasi
Risiko infeksi
Faktor-faktor risiko :
- Prosedur Infasif
- Kerusakan jaringan dan peningkatan
paparan lingkungan
- Malnutrisi
- Peningkatan paparan lingkungan patogen
- Imonusupresi
- Tidak adekuat pertahanan sekunder
(penurunan Hb, Leukopenia, penekanan
respon inflamasi)
- Penyakit kronik
- Imunosupresi
- Malnutrisi
- Pertahan primer tidak adekuat (kerusakan
kulit, trauma jaringan, gangguan
peristaltik)

Rencana keperaw
Tujuan dan Kriteria Hasil
NOC :
Immune Status
Knowledge : Infection control
Risk control
Setelah
keperawatan

dilakukan
selama

tindakan
pasien

NIC :
Pertahanka
Batasi peng
Cuci tangan

tidak mengalami infeksi dengan


kriteria hasil:
Klien bebas dari tanda dan gejala

infeksi
Menunjukkan kemampuan untuk

mencegah timbulnya infeksi

Jumlah leukosit dalam batas


normal
Menunjukkan
sehat
Status

imun,

genitourinaria
normal

perilaku

hidup

gastrointestinal,
dalam

keperawata
Gunakan

pelindung
Ganti letak

petunjuk um
Gunakan k

infeksi kan
Tingkatkan
Berikan ter
Monitor ta

lokal
Pertahanka
Inspeksi k

batas

kemerahan
Monitor ad
Dorong ma
Dorong isti
Ajarkan pa

infeksi
Kaji suhu b
jam

Diagnosa Keperawatan/ Masalah

Rencana keperaw

Tujuan dan Kriteria Hasil


NOC:
keterbatasan Kowlwdge : disease process
kognitif, interpretasi terhadap informasi Kowledge : health Behavior
Kolaborasi
Kurang Pengetahuan
Berhubungan dengan :

yang salah, kurangnya keinginan untuk Setelah


mencari

informasi,

tidak

sumber-sumber informasi.

mengetahui keperawatan

dilakukan
selama

NIC :

tindakan

bagaimana

pasien

dan fisiolo
Gambarka

menunjukkan pengetahuan tentang

DS: Menyatakan secara verbal adanya proses penyakit dengan kriteria hasil:
Pasien dan keluarga menyatakan
masalah
pemahaman tentang penyakit,
DO: ketidakakuratan mengikuti instruksi,

kondisi,
prognosis
dan
program
perilaku tidak sesuai
pengobatan

Pasien dan keluarga mampu


melaksanakan

prosedur

dijelaskan secara benar


Pasien dan keluarga

Kaji tingka
Jelaskan

yang

mampu

menjelaskan kembali apa yang


dijelaskan perawat/tim kesehatan
lainnya

pada penya
Gambarka

tepat
Identifikas

yang tepat
Sediakan i

dengan car
Sediakan

kemajuan
Diskusikan
Dukung

mendapatk

tepat atau d
Eksplorasi

dengan car

DAFTAR PUSTAKA
Herdman, Heather T. 2010. Diagnosis Keperawatan Definisi dan Klasifikasi 20092011. Jakarta : EGC.
Wilkinson, M. Judith. 2007. Buku Saku Diagnosis Keperawatan edisi 7. Jakarta:
EGC.
Prawirohajo, Sarwono. 2008. Ilmu Kebidanan. Jakarta: PT bina pustaka.
Manjoer, arif. 2000. Kapita selekta kedokteran. Jakarta: Aesculapius.

Anda mungkin juga menyukai