Anda di halaman 1dari 15

ANALISA STRUKTUR

DISUSUN OLEH :

NAMA

: AGUS ARDIYANTO

NIM

: 5115111026

MOMEN INERSIA
A. LATAR BELAKANG
Dalam gerak lurus, massa berpengaruh terhadap gerakan benda. Massa bisa diartikan
sebagai kemampuan suatu benda untuk mempertahankan kecepatan geraknya. Apabila benda
sudah bergerak lurus dengan kecepatan tertentu, benda sulit dihentikan jika massa benda itu
besar.
Sebuah truk gandeng yang sedang bergerak lebih sulit dihentikan dibandingkan dengan
sebuah taxi. Sebaliknya jika benda sedang diam (kecepatan = 0), benda tersebut juga sulit
digerakan jika massanya besar. Misalnya jika kita menendang bola tenis meja dan bola sepak
dengan gaya yang sama, maka tentu saja bola sepak akan bergerak lebih lambat.
Dalam gerak rotasi, massa benda tegar dikenal dengan julukan Momen Inersia atau MI.
Momen Inersia dalam Gerak Rotasi mirip dengan massa dalam gerak lurus. Kalau massa dalam
gerak lurus menyatakan ukuran kemampuan benda untuk mempertahankan kecepatan linear
(kecepatan linear = kecepatan gerak benda pada lintasan lurus), maka Momen Inersia dalam
gerak rotasi menyatakan ukuran kemampuan benda untuk mempertahankan kecepatan sudut
(kecepatan sudut = kecepatan gerak benda ketika melakukan gerak rotasi. Disebut sudut karena
dalam gerak rotasi, benda bergerak mengitari sudut). Makin besar Momen inersia suatu benda,
semakin sulit membuat benda itu berputar alias berotasi. sebaliknya, benda yang berputar juga
sulit dihentikan jika momen inersianya besar.
1. Tujuan penulisan
Makalah ini dimaksudkan untuk dapat membantu meningkatkan pemahaman mengenai
konsep Momen Inersia sehingga memungkinkan kita untuk menyelesaikan soal-soal yang
berhubungan dengan Momen Inersia.

B. DASAR TEORI
Kekuatan bahan adalah kemampuan bahan menahan gaya yang disebabkan oleh beban.
Perhitungan kekuatan pada struktur rib bodi mobil akan menentukan apakah struktur rib tersebut
mampu menahan beban yang disebabkan oleh berat bodi mobil dan berapa besar ukuran struktur rib
yang diperlukan agar dapat menahan berat bodi tersebut. Umumnya struktur rib terbuat dari baja
karena sifat baja yang kuat sedangkan untuk memperoleh bodi mobil yang ringan digunakan
komposit.
John Crocker dkk (2003) mengadakan penelitian yang bertujuan untuk mengurangi berat bus.
Dari hasil penelitian ditemukan bahwa komponen yang paling potensial untuk direduksi adalah
komponen struktur utama (atap, lantai dan rib). Komponen ini menjadi pilihan utama karena
memiliki berat mencapai 20 persen dari berat total bus, sehingga diperoleh pengurangan berat yang
signifikan. Konsep baru yang dikembangkan adalah mengganti material lama dengan material baru.
Pengurangan berat kendaraan merupakan isu yang sangat penting karena akan berpengaruh
pada konsumsi bahan bakar. Menurut Hayami Nakagawa dkk ( 2007 ) secara umum bodi kendaraan
berasal dari struktur baja monocoque. Untuk mengurangi berat bodi mobil secara drastis sampai
lebih dari 10 % maka dilakukan perubahan bahan bodi mobil dari baja menjadi bahan yang lebih
ringan seperti aluminium maupun komposit.

Taj dkk ( 2007) mendefinisikan komposit adalah material-material yang meliputi material
yang dapat menahan beban kuat ( disebut penguat ) yang diikat material lebih lemah ( disebut
matrik ). Penguat menyediakan kekuatan dan kekakuan membantu untuk mendukung beban
struktural, sedangkan matrik membantu memelihara orientasi dan posisi penguat. Secara
signifikan, unsur-unsur penyusun mempertahankan sifat fisik dan kimia, namun bersama-sama
menghasilkan kombinasi dengan kualitas yang lebih baik
1. Momen Gaya
Momen gaya merupakan salah satu bentuk usaha dengan salah satu titik sebagai titik acuan.
Misalnya anak yang bermain jungkat-jungkit, dengan titik acuan adalah poros jungkat-jungkit.
Pada katrol yang berputar karena bergesekan dengan tali yang ditarik dan dihubungkan dengan
beban. Momen gaya adalah hasil kali gaya dan jarak terpendek arah garis kerja terhadap titik
tumpu. Momen gaya sering disebut dengan momen putar atau torsi, diberi lambang (baca: tau).
=F.d
Satuan dari momen gaya atau torsi ini adalah N.m yang setara dengan joule. Momen gaya
yang menyebabkan putaran benda searah putaran jarum jam disebut momen gaya positif.
Sedangkan yang menyebabkan putaran benda berlawanan arah putaran jarum jam disebut
momen gaya negatif.

Titik 0 sebagai titik poros atau titik acuan.


Momen gaya oleh F1 adalah 1 = + F1 . d1
Momen gaya oleh F2 adalah 2 = F2 . d2
Pada sistem keseimbangan rotasi benda berlaku resultan momen gaya selalu bernilai nol,
sehingga dirumuskan:
=0
Pada permainan jungkat-jungkit dapat diterapkan resultan momen gaya = nol.
=0
- F2 . d2 + F1 . d1 = 0
F1 . d1 = F2 . d2
Pada sistem keseimbangan translasi benda berlaku resultan gaya selalu bernilai nol, sehingga
dirumuskan:
F=0
Pada mekanika dinamika untuk translasi dan rotasi banyak kesamaan-kesamaan besaran
yang dapat dibandingkan simbol besarannya.
Perbandingan dinamika translasi dan rotasi
Translasi

Rotasi

Momentum linier

p = mv

Momentum sudut*

L = I

Gaya

F = dp/dt

Torsi

= dL/dt

Benda massa
Konstan

F = m(dv/dt)

Benda momen
inersia konstan*

= I (d/dt)

Gaya tegak lurus


Terhadap momentum

F=xp

Torsi tegak lurus


momentum sudut

=L

Energi kinetik

Ek = mv2

Energi kinetik

Ek = I2

Daya

P=F.v

Daya

P=.

Analogi antara besaran translasi dan besaran rotasi


Konsep

Translasi

Rotasi

Catatan

Perubahan sudut

s = r.

Kecepatan

v = ds/dt

= d/dt

v = r.

Percepatan

a = dv/dt

= d/dt

a = r.

Gaya resultan, momen

= F.r

Keseimbangan

F=0

=0

v = v0 + at

= 0 + t

s = v0t = at2

= 0t + t2

v2 = + 2as

2 = + 2

Massa, momen kelembaman

Hukum kedua Newton

F = ma

= I

Usaha

W = F ds

W = d

Daya

P = F.v

P=I

Energi potensial

Ep = mgy

Energi kinetic

Ek = mv2

Ek = I2

Impuls

F dt

dt

Momentum

P = mv

L = I

Percepatan konstan

I = miri2

Momen Kopel adalah pasangan dua buah gaya yang sejajar, sama besar dan berlawanan
arah. Kopel yang bekerja pada sebuah benda akan menghasilkan momen kopel yang
mengakibatkan benda berotasi. Momen kopel disimbolkan M. Jika pada benda bekerja beberapa
kopel maka resultan momen kopel total benda tersebut adalah
M = M1 + M2 + M3 + + Mn
Jika terdapat beberapa gaya yang bekerja pada bidang XY, maka setiap gaya tersebut dapat
diuraikan atas komponen-komponennya pada sumbu-X dan sumbu-Y. Misalkan, komponenkomponen gaya pada sumbu-X adalah F1x, F2x, F3x,,Fnx, yang jaraknya masing-masing terhadap sumbu-X adalah y1, y2,
y ,,y .
3
n

Komponen gaya pada sumbu-Y adalah F1 y , F 2y , F 3y , ,Fny , yang jaraknya masing-masing

terhadap sumbu-Y adalah x1, x2, x3,,xn . Semua komponen gaya pada sumbu-X dapat
digantikan oleh sebuah gaya resultan F x yang jaraknya yo dari sumbu-X, demikian juga semua
komponen gaya pada sumbu-Y dapat digantikan oleh sebuah gaya resultan F y yang jaraknya xo
dari sumbu-Y.

2. Momen Inersia Benda Tegar


Benda tegar adalah benda padat yang tidak berubah bentuk apabila dikenai gaya luar.
Dalam dinamika, bila suatu benda tegar berotasi, maka semua partikel di dalam benda tegar
tersebut memiliki percepatan sudut yang sama. Momen gaya atau gaya resultan gerak rotasi
didefinisikan sebagai berikut.
Apabila sebuah benda tegar diputar terhadap suatu sumbu tetap, maka resultan gaya
putar (torque, baca torsi) luar terhadap sumbu itu sama dengan hasil kali momen inersia benda
itu terhadap sumbu dengan percepatan sudut.
Dirumuskan sebagai berikut.
= Fi Ri Sin i atau = ( mi R2 i ) .
mi Ri2 disebut momen inersia atau momen kelembaman benda terhadap sumbu putar, yaitu
penjumlahan hasil kali massa tiap partikel dalam suatu benda tegar dengan kuadrat jaraknya dari
sumbu.
Dirumuskan:
I = mi . Ri2
Definisi lain dari momen inersia adalah perbandingan gaya resultan (momen) terhadap
percepatan sudut.
Dirumuskan:
I = maka = I .
= I
Karena = F . R dan = I . maka F . R = I .
Percepatan tangensial adalah juga percepatan linier a, yaitu percepatan singgung tepi
roda.
a=.R
=
persamaan menjadi :
F.R=I.
Momen inersia harus dinyatakan sebagai hasil kali satuan massa dan kuadrat satuan jarak. Untuk
menghitungnya harus diperhatikan bentuk geometri dari benda tegar homogen.
Tabel berikut menunjukkan momen inersia beberapa benda homogen.
Momen inersia berbagai benda yang umum dikenal
I = M (R12 + R22) I = 1/3 MR2 I = MR2 I = 2/5 MR2 I = 2/3 MR2

Contoh:

1. Berapa besar momen gaya harus dikerjakan pada sistem untuk memberikan suatu percepatan
terhadap poros ini ( = 4 )?
2. Ulangi pertanyaan (a) dan (b) untuk poros AA1!
Penyelesaian:
1. I = mi Ri2 = m1 R12 + m2 R22 + m3 R32 + m4 R42
= 3 . 2 2 + 2 . 22 + 1 . 2 2 + 2 . 22
= 12 + 8 + 4 + 8
= 32 kg m2
1. = I . = 32 . 4 = 128 N.m
2. I = m2 R12 + m2 R22 + m2 R22 + m3 R32 + m4R42
3. Momentum Sudut Gerak Rotasi Benda Tegar
Dalam dinamika, bila suatu benda berotasi terhadap sumbu inersia utamanya, maka
momentum sudut total L sejajar dengan kecepatan sudut , yang selalu searah sumbu rotasi.
Momentum sudut (L) adalah hasil kali momen kelembaman I dan kecepatan sudut . Sehingga
dapat dirumuskan :
L=I.
Bagaimana persamaan tersebut diperoleh? Perhatikan gambar berikut. Momentum sudut
terhadap titik 0 dari sebuah partikel dengan massa m yang bergerak dengan kecepatan V
(memiliki momentum P = mv) didefinisikan dengan perkalian vektor,
L = R P atau L = R mV
L = mR V
Jadi momentum sudut adalah suatu vektor yang tegak lurus terhadap bidang yang dibentuk oleh
R dan v.
Dalam kejadian gerak melingkar dengan 0 sebagai pusat lingkaran, maka vektor R dan v saling
tegak lurus.
V=R
Sehingga L = m R v
L = m R R
L = m R2
Arah L dam adalah sama, maka:
L = m R2 atau L = I
karena =

maka : L = m R2
L=I
Momentum sudut sebuah partikel, relatif terhadap titik tertentu adalah besaran vektor, dan secara
vektor ditulis:
L = R P = m (R v)
Bila diturunkan, menjadi:
karena = F R
maka =
Apabila suatu sistem mula-mula mempunyai memontum sudut total L, dan sistem mempunyai
momentum sudut total akhir L, setelah beberapa waktu, maka berlaku hukum kekekalan
momentum sudut. Perhatikan seorang penari balet yang menari sambil berputar dalam dua
keadaan yang berbeda. Pada keadaan pertama, penari merentangkan tangan mengalami putaran
yang lambat, sedangkan pada keadaan kedua, penari bersedekap tangan roknya berkibar-kibar
dengan putaran yang cepat. Momentum sudut total awal = momentul sudut total akhir.
L = L
L1 + L2 = L1 + L2
Hukum Kekekalan momentum rotasi sebagai berikut.
I1 1 + I2 2 = I1 1 + I2 2
4.

Kesetimbangan Benda Tegar


Kesetimbangan adalah suatu kondisi benda dengan resultan gaya dan resultan momen

gaya sama dengan nol.


Kesetimbangan biasa terjadi pada :
1. Benda yang diam (statik), contoh : semua bangunan gedung, jembatan, pelabuhan, dan
lainlain.
2. Benda yang bergerak lurus beraturan (dinamik), contoh : gerak meteor di ruang hampa,
gerak kereta api di luar kota, elektron mengelilingi inti atom, dan lain-lain.
Benda tegar adalah benda yang tidak berubah bentuknya karena pengaruh gaya dari luar.
Kesetimbangan benda tegar dibedakan menjadi dua:
1. Kesetimbangan partikel
2. Kesetimbangan benda
1. Kesetimbangan Partikel
Partikel adalah benda yang ukurannya dapat diabaikan dan hanya mengalami gerak
translasi (tidak mengalami gerak rotasi).
Syarat kesetimbangan partikel F = 0 Fx = 0 (sumbu X)

Fy = 0 (sumbu Y)
2. Kesetimbangan Benda
Syarat kesetimbangan benda: Fx = 0, Fy = 0, = 0
Momen gaya merupakan besaran vektor yang nilainya sama dengan hasil kali antara gaya
dengan jarak dari titik poros arah tegak lurus garis kerja gaya.
Dirumuskan: = F . d
Putaran momen gaya yang searah dengan putaran jarum jam disebut momen gaya positif,
sedang yang berlawanan putaran jarum jam disebut momen gaya negatif.
Momen kopel adalah momen gaya yang diakibatkan pasangan dua gaya yang sama
besarnya dan arahnya berlawanan tetapi tidak segaris kerja.
Benda yang dikenai momen kopel akan bergerak rotasi terus menerus.
3. Titik Berat
Titik berat adalah titik pusat atau titik tangkap gaya berat dari suatu benda atau sistem
benda. Titik berat atau pusat berat benda berfungsi sebagai titik yang terhadapnya gaya-gaya
berat bekerja pada semua partikel benda itu sehingga akan menghasilkan resultan momen gaya
nol. Titik berat merupakan titik di mana gaya berat bekerja secara efektif.
Titik berat menurut bentuk benda dibedakan menjadi 3 antara lain:
1. Benda berbentuk garis/kurva, contoh : kabel, lidi, benang, sedotan, dan lain-lain.
2. Benda berbentuk bidang/luasan, contoh : kertas, karton, triplek, kaca, penggaris, dan
lain-lain.
3. Benda berbentuk bangunan/ruang, contoh : kubus, balok, bola, kerucut, tabung, dan lainlain
Tabel titik berat bentuk teratur linier
Nama benda

Gambar benda

letak titik berat

keterangan

1. Garis lurus

x0 = l

z = titik tengah garis

2. Busur lingkaran

R = jari-jari lingkaran

3. Busur setengah
lingkaran
Tabel titik berat benda teratur berbentuk luas bidang homogen
Nama benda

Gambar benda

Letak titik

Keterangan

berat
1. Bidang segitiga

y0 = t

t = tinggi
z = perpotongan
garis-garis berat
AD & CF

2.Jajaran genjang,
Belah ketupat,
Bujur sangkar
Persegi panjang

y0 = t

t = tinggi
z = perpotongan
diagonal AC dan
BD

3. Bidang juring lingkaran

R = jari-jari lingkaran

4.Bidang setengah
lingkaran

R = jari-jari lingkaran

Tabel titik berat benda teratur berbentuk bidang ruang homogen


Nama benda

Gambar benda

Letak titik berat

Keterangan

1. Bidang kulit
prisma

z pada titik
tengah garis z1z2 y0 =
l

z1 = titik berat
bidang alas
z2 = titik berat
bidang atas
l = panjang sisi
tegak.

2. Bidang kulit
silinder.
( tanpa tutup )

y0 = t
A = 2 R.t

t = tinggi
silinder
R = jari-jari
lingkaran alas
A = luas kulit
silinder

3. Bidang Kulit
limas

Tz = T T

TT = garis
tinggi ruang

4. Bidang kulit
kerucut

zT = T T

T T = tinggi
kerucut
T = pusat
lingkaran alas

5. Bidang kulit
setengah bola.

y0 = R

R = jari-jari

Tabel titik berat benda teratur berbentuk ruang, pejal homogen


Nama benda

Gambar benda

Letak titik berat

Keterangan

4.

1. Prisma
beraturan.

z pada titik tengah


garis z1z2
y0 = l
V = luas alas x tinggi

z1 = titik berat
bidang alas
z2 = titik berat
bidang atas
l = panjang sisi
tegak
V = volume prisma

2. Silinder Pejal

y0 = t
V = R2 t

t = tinggi silinder
R = jari-jari
lingkaran alas

3. Limas pejal
beraturan

y0 = T T
=t
V = luas alasxtinggi
3

T T = t = tinggi
limas beraturan

4. Kerucut pejal

y0 = t
V = R2 t

t = tinggi kerucut
R = jari-jari lingkaran
alas

5. Setengah bola
pejal

y0 = R

R = jari-jari bola.

Macam-macam Kesetimbangan

a. Kesetimbangan labil/goyah
Adalah

keseimbangan

pada

suatu

benda

di

mana

setelah

gangguan

yang

diberikan/dialami benda dihentikan, maka benda tidak kembali ke posisi keseimbangan semula,
tetapi bahkan memperbesar gangguan tersebut.
Contoh: Keseimbangan pada suatu benda dipandang sebagai keseimbangan yang dimiliki benda
jika gangguan yang dialaminya menurunkan titik beratnya (energi potensialnya).
b. Kesetimbangan stabil/mantap
Adalah keseimbangan suatu benda di mana setelah gangguan yang diberikan pada benda
dihentikan, benda akan kembali ke posisi keseimbangan semula.
Contoh: Keseimbangan stabil dapat dipandang sebagai keseimbangan yang dimiliki benda jika
gangguan yang dialaminya menaikkan titik beratnya (energi potensialnya).
c.

Kesetimbangan indeferen/netral
Adalah keseimbangan pada suatu benda di mana setelah gangguan yang diberikan tidak

mengubah posisi benda.

Contoh : Keseimbangan indiferen dapat dipandang sebagai keseimbangan yang dimiliki benda
dimana jika gangguan yang dialaminya tidak menyebabkan perubahan titik beratnya (energi
potensialnya)

C. STUDI KASUS

II

10

Penampang I
A=bxh
= 25 x 15
= 375 cm2
x=b

15

20

15

= . 25
= 12.5cm
y = h + 15
= . 15+ 15
= 22.5 cm

Penampang II
A=bxh
= 10 x 20
= 200 cm2
x=b
= . 10
= 5 cm
y=h
= . 20
= 10 cm

Penampa

luas

ng

(cm2)

Axi
4687,

Ayi

I
II

375
200

12.5
5

22.5
10

5
1000
5687,

8437.5
2000
10.437

Jumlah

575

,5

Jumlah

x = (Axi)/(A)
= 5687,5/575
= 9,891 cm

y = (Ayi)/(A)
= 10.437,5/575
= 18,152 cm

Ixy = A1 (x1 - x ) (y1 - y ) + A2 (x2 - x ) (y2 - y )


= 375 (12,5 9,891)(22,5 18,152) + 200 (5 9,891)(10 - 18,152)
= 375 (2,609)(4,348) + 200 (-4,891)(-8,152)

= 4.253,9745 + 7.974,2864
= 12.228,2614 cm

D. Kesimpulan
Berdasarkan penghitungan dan analisa yang telah dilakukan, maka dapat ditarik beberapa
kesimpulan, sebagai berikut :
1. Output atau keluaran dari penelitian ini berupa nilai defleksi, gaya ( aksial dan geser ), momen
lentur dan tegangan ( aksial, geser dan lentur ).
2. Beban kritis yang diterima oleh struktur rib bodi angkutan publik adalah 2759,06 N.
3. Semakin tebal rib, maka nilai luasnya juga akan semakin besar sehingga nilai defleksi dan
tegangannya akan semakin kecil.
4. Rib dengan bentuk O mempunyai nilai defleksi dan tegangan yang paling kecil.
5. Hasil penghitungan dan analisa didapatkan kesimpulan bahwa rib yang paling baik dan aman
digunakan untuk membuat rib adalah rib yang berbentuk O.

E. SARAN
Untuk lebih mengembangkan penelitian ini, maka penulis memberikan saran sebagai berikut agar
dilakukan penelitian lebih lanjut dengan variasi bentuk, tebal dan bahan rib yang lebih banyak lagi
untuk mendapatkan bentuk rib yang lebih baik dan aman untuk membuat rib.

DAFTAR PUSTAKA

http://mulkankautsar.blogspot.com/2012/04/momen-inersia.html
http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=5&ved=0CDIQFjAE&url=http
%3A%2F%2Fzhuldyn.wordpress.com%2F2011%2F09%2F06%2Fmakalah-surat-menyurat
%2F&ei=pWKLUK6CHIHOrQfk1IHQDg&usg=AFQjCNFnYrglQ36FfcVkf66l1e_-yNKxVg